Tiga Sebab Tax Amnesty “Berhasil”

img-20160929-wa0004

Program Tax Amnesty untuk harga tebusan termurah sudah menemu ujungnya hari ini. Program yang diluncurkan sebagai salah satu solusi jangka pendek untuk mendapatkan dana segar penerimaan negara itu berjalan di luar dugaan.

Sejumlah pihak, baik dari dalam maupun luar negeri sempat meragukan program Tax Amnesty ini. Dari dalam negeri, BI bahkan sempat memprediksikan bahwa dana tebusan yang akan didapatkan hanya berkisar belasan triliun. Pengamat asing pun pesimis dengan program ini melihat program Tax Amnesty di beberapa negara menemui kegagalan. Apalagi jika melihat upaya yang dilakukan oleh Singapura dan Australia dalam menghalangi uang keluar dari negaranya. Singapura yang menerapkan Corporate Tax terendah 17% bahkan sebenarnya hanya menerapkan tarif 8,4% nett melakukan upaya-upaya untuk menggagalkan Tax Amnesty mulai dari membebaskan pajak sampai mengancam agar menyelidiki orang-orang yang ikut Tax Amnesty ini. Dan sejumlah cara lain yang mencegah repatriasi dana.

Repatriasi memang lebih memiliki efek untuk perekonomian jangka panjang. Masuknya dana repatriasi itu akan digunakan untuk investasi dan akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Pergerakan Tax Amnesty di bulan September memang diprediksi menjadi puncak karena pada bulan-bulan sebelumnya perusahaan sedang sibuk menghitung cost benefitnya. Wajib pajak perlu waktu untuk mengambil keputusan. Namun, hari ini, uang tebusan yang masuk telah mencapai 80 T! (Sumber)

Setidaknya ada 3 hal yang menyebabkan Tax Amnesty bisa dikatakan berhasil itu:

  1. Faktor Sri Mulyani

Kembalinya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan disambut positif oleh pasar. IHSG Menguat, nilai tukar pun menguat. Kepercayaan publik terhadap pemerintah Indonesia juga menguat.

Sampai awal September, dana tebusan yang masuk sebenarnya tidak menggembirakan. Faktor negara lain yang menghalang-halangi itu menjadi salah satu faktor terbesar. Sejumlah langkah pun telah disiapkan bila Tax Amnesty ini gagal. Postur APBN dijaga agar tetap realistis. Ada pemotongan anggaran. Ada anjuran self-blocking. Kerangka defisit harus di bawah angka 3% sesuai amanat UU pun jadi ancang-ancang.

Kemudian, ya, salah satu wanita paling berpengaruh di dunia itu mengambil langkah besar. Sri Mulyani dikabarkan menelepon Singapura. SMI menelepon Deputi Prime Minister Singapura. Entah apa yang dibicarakannya, setelah telepon itu (dan usaha-usaha lain yang mengajak langsung para pengusaha), keikutsertaan Tax Amnesty menjadi seperti air bah. Deras sekali.

2. Peran Perbankan

Peran bank-bank dalam menyosialisasikan Tax Amnesty ini begitu beragam dan sangat menarik. Perbankan memang memiliki kepentingan terhadap Tax Amnesty. Bayangkan dana segar yang masuk ke Indonesia melalui bank-bank itu adalah berkah buat mereka. Jadinya, mereka juga sangat kreatif dan berebut perhatian dari para wajib pajak dalam mengampanyekan Tax Amnesty.

3. Perubahan Sikap Ditjen Pajak

Di awal, Tax Amnesty menuai banyak kritik dari sisi pelaksanaannya. Di lapangan terdapat banyak keluhan gaya sosialisasi yang seperti ancaman kepada wajib pajak. Di Kompasiana bahkan soal kesalahan branding yang dilakukan beberapa kali menjadi headline. Hal ini dengan cepat melahirkan antipati yang harus segera diatasi oleh pemerintah.

Untungnya, Ditjen Pajak menyadari hal itu. Tax Amnesty adalah hak. Bukan kewajiban. Dengan pernyataan itu, aparatur sipil negara DJP kemudian merealisasikan bahwa sebagai hak, maka ada pelayanan terhadap hak. Momentumnya adalah penambahan jam pelayanan Tax Amnesty, baik itu penambahan jam kerja dan penerimaan pelayanan bukan di hari kerja.

Soal jam pelayanan ini adalah bahasa terbaik yang dimiliki DJP. Ini menegaskan konsep NPS, New Public Service. Pemerintah adalah pelayan masyarakat. Pemerintah yang butuh Tax Amnesty ini berhasil. Karena itu, tak ada salahnya pemerintah meletakkan tangannya di bawah kepada CEO Republik Indonesia, yakni rakyat.

Akhir kata, keberhasilan Tax Amnesty ini perlu disukseskan. Tahap 1 berakhir hari ini. Dan masih ada tahap selanjutnya dengan kenaikan tarif tebusan. Tidak tinggi. Semoga saja antusiasme itu tetap terjaga dan pada tahun ini khususnya, kita bisa terbebas dari ancaman cash flow shortage yang sempat begitu menghantui.

 

Comments

comments