Tidak Kapok Berbisnis, Itulah Saya

Satu-satunya kegelisahan yang masih membuncah dari dada saya adalah kegagalan untuk membangun bisnis yang mapan sebelum usia 30 tahun. Ya, sudah 30 tahun usiaku, dan rasanya belum berhasil juga membangun bisnis yang dapat diandalkan.

Bisnis yang pernah saya lakukan paling sebatas “berjualan”. Ketika di Sumbawa, saya sempat berjualan ponsel blackberry murah dari Batam. Namun, karena tren android yang tak bisa dibendung, saya pun tak berjualan lagi. Selain itu, saya juga sempat jualan mutiara. Selama beberapa bulan, omset saya cukup menjanjikan. Namun, pada satu titik, saya merasa lelah, dan akhirnya berhenti karena harus bolak-balik Lombok-Sumbawa.

Salah satu produk mutiaraku dulu

Selepas dari Sumbawa, saya melanjutkan kuliah lagi ke Bintaro, Istri di Bandung. Selain jualan apa saja (buku, gamis, dll), dia sempat membuka daily homecare buat anak-anak yang ibunya juga melanjutkan S2 seperti dia. Jadi, daripada menitipkan anak ke tempat lain, kami buka tempat penitipan di rumah sendiri. Sayangnya, usaha itu pun tak berlanjut.

Sekian tahun berlalu, begitu-begitu saja. Himpitan pekerjaan menyisakan ruang gerak yang terbatas. Bahkan keinginan mengembangkan penerbitan indie pun jalan sekadarnya. Hanya sesekali menerima orderan. Sampai awal Januari lalu, saya merealisasikan keseriusan bisnis di tahun 2019 dengan menerbitkan sebuah buku puisi karya Pilo Poly, berjudul Arakundoe.

Arakundoe merujuk pada sejumlah tragedi di Aceh mulai dari tragedi Beutong Ateuh hingga Arakundoe. Arakundoe sendiri merupakan tragedi di Aceh yang terjadi di Idi Cut, sebuah peristiwa pembantaian sipil yang terjadi pada 4 Februari 1999. Sebuah buku puisi yang menurut saya, penting sekali dibaca oleh kita semua.

Namun, ada rencana bisnis lain yang hendak kuwujudkan tahun ini. Pertama, bikin kos-kosan. Saat ini, rencana itu masih dalam tahap pengajuan IMB. Awal Maret rencananya, pembangunan akan dimulai sehingga tahun ajaran baru, sudah bisa disewakan. Tidak banyak, hanya sekitar 4 kamar saja dulu.

Rencana bisnis lainnya harus dimulai dengan langkah pulang ke Palembang. Pertama, keinginan memiliki butik ingin kurealisasikan tahun ini. Tempat sudah ada. Mini butik. Hanya semacam tempat bahwa kami punya tokonya. Sebab, penjualan selama ini sudah cukuplah lewat daring. Kemudahan digital mempermudah usaha jual-beli semacam ini. Kedua, kami ingin membuka gerai makanan. Perpaduan konsep antara warmindo (warung Indomie) dengan ayam krispi. Kalau rencana kedua, masih bayang-bayang. Tapi dari segi konsep, menu, kami sudah siapkan. Tinggal menunggu pulang terealisasi. Semoga permintaan pindah dikabulkan.

Kenapa sih aku kepengen banget berbisnis? Bukannya cukup jadi pegawai Kementerian Keuangan?

Soalnya, ketika SMA, ada satu hal yang kuingat banget. Ternyata, 9 dari 10 sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk surga adalah PENGUSAHA/PEDAGANG.

Selain itu, aku tak ingin kalah dengan orang tuaku. Ayahku dulu seorang PNS juga. Tapi, beliau bisa mengembangkan bisnisnya sampai memiliki ratusan hektar kebun karet dan sawit. Meski secara kekinian, diversifikasi produk bisnisnya bisa dibilang kurang sekali, tetap saja aku kagum padanya. Dengan tujuan untuk memberi manfaat sosial, beliau pun mendirikan dua sekolah. Meski ada unsur bisnisnya juga.

Aku tak tahu apakah aku sudah terlambat untuk memulai sesuatu yang besar atau belum. Yang pasti rencana bisnisku tahun ini, sambil mempertimbangkan prinsip dont put your ball into one basket, kuharap ada yang berjalan dengan baik. Kalau kos-kosan bisa berjalan lancar, aku mengharapkan RoA-nya bisa menghasilkan aset baru. Kalau Arakundoe lancar, aku akan mencari naskah baru yang kuterbitkan. Kalau bisa pulang, butik bisa dikembangkan. Kalau masih ada kekuatan, kita bukan warung makan!

Bagaimana dengan rencanamu?

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *