Tentang Kesedihan

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta

~ W.S. Rendra

Saya lega, namun saya sedih. Saya lega setelah Mita Handayani akhirnya memberikan klarifikasi dan membuka kembali gembok tulisan Agama Kasih miliknya. Namun, saya sedih, karena banyak hal. Utamanya sedih karena kasihan pada Afi. Seharusnya dia mengakui ketika sudah diperingatkan beberapa orang secara pribadi, bukan malah mengabaikan dan kemudian memblokir mereka. Sampai entah apa yang menggerakkan saya menulis catatan itu.

Sedih selanjutnya, aku melihat sebuah kenyataan baru. Kenyataan yang harus kuhadapi dengan hati merungrung kesedihan. Pada fase ini, saya mempertanyakan arti teman.

Sebagai penulis, saya punya banyak teman penulis dan pegiat bahasa. Saya tahu preferensi politik mereka karena kami sering berinteraksi, dan kami tak pernah mempermasalahkan perbedaaan apapun, termasuk agama dan preferensi politik. Kami berteman karena suatu kesamaan, setidaknya karena kami sama-sama mencintai bahasa dan menulis.

Salah seorang teman, dulu karyanya pernah dijiplak. Sebelum itu, ia adalah orang yang paling semangat memerangi penjiplakan. Terutama saat kasus Dadang Ari Murtono yang karyanya dimuat di Kompas dan Horison. DAM dianggap mencuri beberapa paragraf Ryunosuke Akutagawa dan kemudian dua karya tersebut dinyatakan oleh Kompas dan Horison sebagai tak pernah dimuat di kedua media tersebut.

Manakala karyanya dijiplak oleh Yessi Sinubulan, saya termasuk yang paling keras bersama kawan ini. Karena pada awalnya, sang penjiplak tidak mau mengaku apalagi meminta maaf. Saya yang saat itu masih muda dan emosional, bahkan memisuh-misuh seorang penyair Lampung dengan pisuhan khas Palembangan, menantang berkelahi, dan sebagainya.

Kita boleh berbeda dalam banyak hal, namun kita satu sikap pada penjiplakan.

Tapi, teman yang biasanya bersuara keras ini melempem kali ini, dan menyalahkan saya. Saya tak tahu jika cinta dan benci yang berlebihan terhadap sesuatu membuat nurani kita hilang, standar nilai kita berubah. Saya tak pernah menyangka preferensi politik bisa membiaskan diri manusia.

Pada itu, saya jadi berburuk sangka. Jangan-jangan benar pendukung DAM di masa lalu, kegigihannya menjatuhkan DAM hanyalah karena iri karya DAM dimuat di Kompas dan Horison yang tak pernah memuatnya.

Sedih yang kedua adalah kata keroyokan. Saya ingin tegaskan, saya benar-benar sendirian dan pasrah menerima segala risiko atas suara yang saya tuliskan. Narasi besar ini bisa mengancam saya dalam bentuk apa pun sementara saya tak punya apa-apa dan tak punya siapa-siapa. Saya hanya berharap saya punya teman.

Namun, teman-teman penulis saya yang biasa berkumpul bersama saya, hanya hitungan jari yang meninggalkan dukungan, seenggaknya berupa jempol. Mereka bikin status sendiri mengenai ketidakpercayaan dan sebagainya. Ayolah, tanpa bukti pun, bila kita jujur dengan skill dan pengetahuan yang kita miliki, kita akan tahu kebenarannya. Setiap penulis punya DNA, mim, bukan? Kalian juga bisa lakukan uji sintaksis, yang pasti tak akan menarik dibahas oleh awam….

Ada lagi seorang teman sekantor. Ia melakukan justifikasi kepada saya, it’s just who is he. Saya hanya ingin populer dan sebagainya. Hello, seberapa kenal kamu dengan saya? Kita baru berkenalan setelah kita sama-sama ditempatkan. Kita tak pernah sekelompok magang. Kita tak sekelas ketika D4. Kita tak pernah sepenempatan sebelumnya. Kita hanya baru satu gedung tahun ini dan sekali-kali berpapasan, mengobrol ketika sedang makan bakso atau makan siang. Lalu ia menjustifikasi saya sedemikian rupa dengan bahasa Inggris dalam kalimat-kalimat panjangnya. Seberapa susah sih ngomong pake bahasa Indonesia?

Tadinya, saya berharap, saya bisa mewakili untuk mengarahkan narasi besar itu ke narasi teks semata. Ini adalah pelanggaran teks. Kita harus memberikan edukasi kepada generasi muda mana yang boleh dan tidak. Dulu, ketika ada penulis remaja di Medan yang menjiplak beberapa karya, kalian juga begitu sangar, bukan? Ini literasi kita, demi ketahanan literasi kita!

Pengabaian para aktivis linguistik akan membuat salah persepsi masyarakat. Sekarang selain isunya akan diarahkan bahwa Mita adalah fake, dikatakan bahwa copy paste tulisan adalah sah-sah saja. Itu kan status facebook. Lalu buat apa tombol share/ bagikan?

Tak terduganya, saya malah dapat support dari seorang teman, linguis, yang tidak akrab, yang biasanya berdebat dengan saya. Ketika saya berterima kasih sudah membantu meski berseberangan, dia malah bilang, kamu penulis, bukan linguis, jadi tak pernah menganggapmu berseberangan dengannya. Asem.

Pada saat kita butuh dukungan, saat itulah Tuhan akan menunjukkan kita teman sebenarnya, teman dalam prinsip. Ada yang bilang, apa beda teman dengan pacar? Pacar ada mantan pacar. Sementara teman tidak ada mantan teman. Tadinya saya percaya. Saya sangat sulit berteman dengan orang lain. Sekali berteman, akan bertahan selamanya. Seharusnya. Namun kini saya tahu, cukup tahu, teman bisa digeser jadi cuma kenalan. From friends to acquintances.

Dapatkah kau mengerti kesedihan ini?

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *