Tak Takut Naik Pesawat Lagi

Di dalam diriku terdapat seorang anak kecil
yang takut naik pesawat

Pesawat Trans Nusa yang kunaiki sudah berada di atas pulau Sumbawa. Sebentar lagi, ia akan mendarat. Namun, pemandangan yang semula cerah itu dengan cepat berganti dengan gumpalan awan hitam pekat. Angin kencang disertai rintik air hujan menerpa badan pesawat. Dengan segera, awak maskapai itu mengumumkan pendaratan tak jadi dilakukan, pesawat pun harus kembali ke Lombok.

Pekerjaanku sebagai pegawai vertikal Kementerian Keuangan memang membuatku ditempatkan jauh dari kampung halaman. Penempatan pertamaku di Sumbawa Besar. Kampung halamanku di Banyuasin, Sumatra Selatan. Kampung halaman istriku di Solok, Sumatra Barat. Kondisi ini membuat kami sekeluarga jadi cukup sering naik pesawat.

Setiap lebaran, kami agak berdebat, harus mudik ke mana. Maka, kami bersepakat untuk ganti-gantian. Tahun ini ke Palembang. Tahun depan ke Padang. Begitulah yang terjadi.

Dari Sumbawa Besar ke Sumatra itu membutuhkan waktu, biaya, dan tenaga yang tak sedikit. Rutenya adalah naik travel dari Sumbawa ke Mataram (2 jam dari Sumbawa ke Pelabuhan, disambung 2 jam naik kapal laut, lalu jalan darat lagi 2 jam ke Mataram), naik taksi 40 menit dari Mataram ke bandara Praya, lalu naik pesawat Lombok transit di Jakarta, sebelum ke kota tujuan (Padang/Palembang), dan disambung perjalanan darat lagi. Melelahkan? Ya!

Pikiran pendek kami kadang ingin tidak pulang. Berhemat. Namun, ada satu nilai yang ingin kami pegang. Orang tua kami masih ada. Sungguh sia-sia, bila mereka masih ada, kami tak pulang menemui. Kami akan menyesal suatu saat nanti jika menunda-nunda kepulangan, pada suatu hari ketika orang tua kami sudah tak ada di dunia ini…. apa lagi alasan yang tersisa untuk pulang?

Setelah mengalami drama menakutkan Lombok ke Sumbawa itu aku jadi takut naik pesawat. Aku memilih naik travel yang melelahkan itu bila harus ke Lombok. Padahal biayanya, bila ditotal-total, tak jauh berbeda. Hingga pada September 2013, aku mengalami drama lain yang lebih menakutkan. Kapal laut yang kunaiki terjebak ombak hebat. Perjalanan yang seyogyanya 2 jam di laut itu menjadi 4 jam di lautan. Ombak hampir setinggi geladak dan nakhoda terasa ingin mencari arah agar tak langsung frontal berhadapan dengan ombak. Banyak penumpang sudah muntah-muntah. Aku tidak. Aku hanya merenung, kematian tidak bisa memilih. Jika takdir, ya akan terjadi bagaimanapun caranya. Mau di pesawat kek, mau di tempat tidur kek, mati ya mati. Tak bisa dihindari.

Kubaca-baca, data menunjukkan (National Highway Traffic Safety Administration pada tahun 2008) bahwa kecelakaan pesawat memiliki rasio 1: 1,2 juta. Sementara itu, lalu lintas darat memiliki rasio kecelakaan 0,0808% atau artinya dari 1 juta kendaraan terjadi 888 kecelakaan lalu lintas. Fatalitasnya sih yang berbeda. Kecelakaan udara memiliki fatalitas 99% sementara darat hanya 49%. Makanya, apalagi selain doa?

Selain alasan fatalitas, manusia juga secara fitrah menginjak bumi. Ketika terbang, sebagian kita mengalami aerophobia maupun aviophobia.

Setidaknya, ada beberapa hal yang sering saya coba untuk mengatasi rasa takut itu:

  • Tidur
  • Pikirkan atau bicarakan hal-hal yang membuat kita tertawa (bila tak sendirian)
  • Tutup mata dan imajinasikan hal yang indah-indah
  • Selalu berpikir positif
  • Mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan
  • Berdoa, zikir, mengingat Allah, hati jadi lebih tenang
  • Tuliskan semua ketakutan pada catatan kita
  • Bawa serta buku, pemutar musik digital, gadget, atau makanan ringan kesukaan kita

Satu hal lagi yang penting, kita kudu membaca dan menyimak standar keselamatan yang ada. Banyak orang mengabaikan hal ini lho. Dari semua kecelakaan pesawat, 52% adalah kelalaian manusia, 42% kendala teknis, dan hanya 6% karena alam. Kadang ada orang yang nggak peduli, tetap menghidupkan ponsel di pesawat misalnya atau melepaskan sabuk pengaman sebelum tanda diberikan.

Hal itu paling sering terjadi begitu pesawat mendarat. Seharusnya, sabuk pengaman boleh dilepas ketika pesawat sudah berhenti dengan sempurna, dan ponsel boleh dihidupkan begitu kita sudah masuk ruang kedatangan. Tapi, hayoo siapa… yang menghidupkan ponsel bahkan sebelum pesawat berhenti, seolah-olah orang paling penting di dunia? Itu nggak aman!

Pernah dengar kan, ada pesawat tergelincir atau kebablasan saat sudah mendarat dan karena hal-hal di atas luka yang diderita penumpang jadi lebih fatal?

Kita kudu jadi sobat aviasi yang baik yang mematuhi semua peraturan yang telah dibuat. Percayalah, hal itu demi keselamatan kita semua kok.

6 tahun berlalu sejak bertugas, drama-drama di pesawat sudah banyak kualami. Perjalanan demi perjalanan kulalui. Padang, Palembang, Lampung, Belitong, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Bali, Lombok, Sumbawa, Kupang, Alor, dan Makassar. Itulah kota-kota yang sudah kukunjungi dengan pesawat.

Jujur saja, setiap mau naik pesawat, aku masih merasa takut meski sudah kulakukan hal-hal di atas. Namun, teringat sebuah nasihat, rasa takut itu alamiah. Rasa takut itulah yang membuat kita menemukan hal-hal hebat. Namun, jangan sampai ketakutan, karena ketakutan adalah pilihan mental yang kerdil. Ketakutan selamanya akan membuat kita tak menjadi apa-apa!

Comments

comments

7 Responses to Tak Takut Naik Pesawat Lagi

  1. Halo,
    Aku setuju bahwa mengingat Tuhan merupakan salah satu cara agar hati lebih tenang saat naik transportasi udara

  2. Beughhh..perjalanannya jauh ya Pring dari Sumbawa ke Palembang. Bacanya saja sudah lelah, apalagi menjalaninya langsung. Hahahaha

  3. .Rani R Tyas says:

    Justru pesawat sering tergelincir ketika berada di darat ya Kak, padahal apa susahnya sih menunggu waktu beberapa menit untuk sampai di ruang bandara.

  4. Hello Fika says:

    Kalau saya mungkin agak aneh ya orangnya, saya nggak takut naik pesawat, nggak takut naik lift. Walau pernah mengalami misal “pendaratan yg tidak mulus” atau “terjebak dalam lift yang mati” anehnya hal hal tersebut tidak membuat saya kapok untuk naik kedua dari itu. Malah saya paling suka naik pesawat, dulu waktu suami masih kerja jadi auditor dan setiap bulan keluar kota saya sering ikut. Walau beda pesawat. Beliau yg mahal krn dibayarin kantor, saya pesawat yg ekonomis wakaakakak krn bayar sendiri. Tapi seruw jg sih. . berangkat bareng ke bandara, namun beda pesawat dan jam penerbangan hahaahh. . ini dilakukan tiap bulan dan berkali kali.

    Pokoknya bagi aku naik pesawat itu aman dan menyenangkan. Oh iya aku jg sudah jadi sobat aviasi. bermanfaat banget gabung di komunitas ini, krn byk dpt informasi yg benar soal keselamatan saat menggunakan jenis transportasi ini. .

  5. Ardiba says:

    Halo sesama wong kito..hihi..
    Naik pesawat aku justru takut sama mitos2 kayak kalo punya bayi kudu disusuin biar gendang telinganya gak pecah, kl gluduk2 n mendarat gak mulus gak terlalu takut. Mudah2an gak perlu mengalami kejadian yg buat takut sih ya

  6. Ya ampun mudiknya jauh beut. Mesti jaga kondisi badan dan mental 😀

  7. Puspa says:

    Aku masih suka was-was kalau mendarat dan terbang dari kota Malang. Masih ada rasa deg-degan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *