Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Tag: uang elektronik

Kebijakan Tol yang Melanggar UU Mata Uang

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Kebijakan Tol yang Melanggar UU Mata Uang

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Mata sudah berjuang melawan kantuk. Setelah berulang kali gagal memesan taksi online karena alasan ada banyak razia (nanti akan ditulis dalam topik tersendiri), aku pun memutuskan naik taksi biasa menuju rumah.

Sengaja tak naik Damri ke Depok karena batre hape sudah sekarat. Dari Depok ke rumah, aku harus menempuh jarak 14 km lagi. Tidak bisa pesan taksi online. Tidak berani menunggu taksi biasa malam-malam di Margonda.

Taksi melaju dengan kecepatan sedang. Sang sopir bertanya, “Apakah Bapak punya kartu tol?” Saya jawab tidak punya. Saya baru tahu kalau semua gerbang tol mengharuskan pemakaian uang elektronik yang sudah terintegrasi dengan sistem. E-tol, Mandiri, Brizi, semacam itu.

Batin saya terusik. Gelisah. Struktur berpikir saya yang terbiasa dengan metodologi ilmiah tergelitik. Pemaksaan penggunaan uang elektronik dengan menihilkan peran uang tunai adalah suatu bentuk pelanggaran kedaultan rakyat, pelanggaran terhadap undang-undang.

Nyatanya, UU No. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang masih berlaku. Uang kertas tetaplah mata uang yang boleh dipakai di republik ini. E-toll dan kawan-kawan boleh dioperasikan, tetapi pihak tol harus tetap menyediakan gerbang tunai, menerima uang tunai.

Kemudian, jalan tol bukanlah barang privat.   Ia barang semi publik. Ada juga yang menyebutnya barang publik congestible yang berhubungan dengan sifat konsumsi barang publik yang nonrival jika penggunaannya wajar tetapi menjadi tidak lancar dalam penggunaan yang berlebihan. Artinya, punya swasta yang boleh arogan saja masih menerima uang tunai,  apalagi kalau barang semi publik yang sifat kerjasamanya PPP (Public Private Partnership).

Motif Uang Elektronik Sesungguhnya

Seorang teman pernah menulis tentang cashless society dengan contoh Swedia yang penggunaan uang tunainya hanya 2%. Argumennya bisa diterima. Ada banyak kemudahan dalam penggunaan uang elektronik sebenarnya.

Dalam konteks tol, benarkah penggunaan e-toll murni untuk mengurangi kemacetan? Saya pikir tidak.

Taksi yang saya tumpangi tiba-tiba melambat. Ada kemacetan menuju gerbang tol kedua. Jaraknya masih lebih dari 500 m di depan. Sudah operasikan e-toll saja. Tapi masih macet. Kenapa?

Menurut sopir, gerbang tol tersebut perlu dikaji keberadaannya. Pertama, jarak dari gerbang tol pertama terlalu dekat. Kedua, jarak dari pertemuan dengan dua jalur pun terlalu dekat. Seharusnya, tidak perlu ada gerbang tol itu.

Ilustrasi ini untuk menggambarkan bahwa ketidaktepatan dalam perencanaan tata jalan adalah salah satu penyebab kemacetan. Masih ingat dengan tragedi Brexit kan?

Yang kedua adalah mobil. Namanya macet ya karena terlalu banyak mobil. Maka, mobil yang harus dikurangi. Tapi siapa yang berani melawan arus geng otomotif di republik ini? Pertumbuhan mobil yang terlalu banyak, yang ngutang sebagian besarnya, malah diamini sebagai bentuk pertumbuhan ekonomi.

Satu-satunya motif yang masuk akal bagiku adalah profit. Gencarnya penggunaan uang elektronik ini dengan manajemen kas yang baik, akan mendatangkan profit. Treasury agent akan mudah memperkirakan idle cash harian untuk investasi jangka pendek.

Tak heran sekarang para pemain besar datang ke Indonesia untuk mengembangkan bisnis uang elektronik ini. Gojek bahkan menjadi terbesar keempat dan membuat seorang taipan menanamkan uangnya besar-besaran.

Ironi Uang Tunai, Ironi Inovasi

Keberadaan uang tunai pun adalah sebuah ironi. Uang tunai yang kita pegang sekarang sebenarnya punya sejarah panjang yang ironis. Tak ada lagi penjaminnya selain hanya kepercayaan terhadap pemerintah.

Waktu berlalu, teknologi berkembang. Kita punya kartu ATM, bisa ambil uang tunai di mana-mana, bisa jadi kartu debit untuk transaksi. Tapi lalu ada uang elektronik?

Apa coba kelebihan dari uang elektronik ini selain kita ga perlu jadi nasabah bank tersebut? Nggak ada. Yang dilakukan seharusnya adalah perluasan fungsi kartu debit, baik dari penggunaannya, kemudahannya, maupun keamanannya. Kartu ATM bisa dipakai buat e-toll dll dengan jaminan keamanan mumpuni. Dengan begitu, kita nggak perlu repot-repot punya banyak kartu.

Ironis kan? Setelah kalah gengsi dengan kartu kredit (kartu utang) yang banyak diberi fasilitas diskon dan kemudahan untuk memilikinya, kini kartu ATM juga kalah gengsi dengan kartu-kartu uang elektronik, yang kalau hilang…. gimana coba cara klaimnya, kalau nggak lebih ribet dari mau bikin SIM ke Polisi?