Tag Archives: sumbawa

Dangar Ode, Surga Kecil di Sumbawa

Hidung perahu dengan pelan membelah lautan. Angin laut yang khas menerpa tubuhku. Ini perjalanan pertamaku bersama Adventurous Sumbawa. Ini juga perjalanan pertamaku menaiki perahu nelayan yang kecil.
Kucelupkan kaki dan kubiarkan kakiku beradu dengan air laut. Menyenangkan. Kurang lebih 40 menit perjalanan dari dermaga di Desa Prajak. Sebuah pulau kecil sudah berada di depanku. Perahu melambat untuk merapat ke pesisir. Di kejauhan, sosok Gunung Tambora menjulang angkuh.
Ada satu adegan yang berkesan dalam film Pirate of Carribean, yakni ketika Jack Sparrow ditinggalkan di sebuah pulau kecil dengan pasir putih. Berada di atas pasir yang putih, di tengah lautan dan di bawah langit yang birunya tak bisa dibedakan adalah salah satu impianku. Tak perlu jauh-jauh ke Kepulauan Karibia, atau Maldives yang terkenal, di Indonesia juga ternyata ada tempat seperti itu. Di Lombok ada Gili Kapal. Di Sumbawa juga ada Dangar Ode.
 
Dangar Ode adalah sebuah pulau kecil di kawasan utara Teluk Saleh. Teluk Saleh saat ini sudah dikenal sebagai akuarium dunia karena memiliki 59 jenis karang dan 405 jenis ikan karang. Bahkan di beberapa kawasan di Teluk Saleh terkenal banyak anak hiu dikarenakan melimpah ruahnya makanan bagi mereka. Di Dangar Ode sendiri, bila beruntung kita bisa menemui lumba-lumba.
Salah satu alternatif menuju Dangar Ode adalah melalui dermaga di Desa Prajak. Desa Prajak adalah salah satu desa nelayan di Sumbawa dan berjarak kurang lebih 20 km dari kota Kabupaten. Hujan semalam membuat medan yang kami lalui menjadi becek dan berlumpur. Butuh keterampilan dan ketabahan untuk melaluinya.
Kupikir, beginilah Indonesia, semakin ke Timur, infrastruktur semakin kurang memadai. Tak terbayangkan pula bagaimana perjuangan nelayan-nelayan mengantarkan ikan-ikannya ke pasar di Sumbawa dengan medan seperti ini. Tak tega rasanya bila nanti ke Seketeng, aku menawar ikan-ikan itu lagi.
Dangar merupakan nama sebuah pohon dalam bahasa Sumbawa yang banyak ditemukan di wilayah Sumbawa. Pohon ini menghasilkan getah seperti karet yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Dahulu, Dangar Ode dan Dangar Besar banyak ditumbuhi dangar dan dimanfaatkan oleh masyarakat dengan membuka perkebunan dangar. Namun seiring berjalannya waktu pohon dangar sudah habis dan tidak terdapat lagi di pulau. Masyarakat juga sudah tidak lagi melakukan aktivitas perkebunan di pulau ini.
Perahu nelayan merapat, aku melompat ke bibir pantai. Sebuah pohon tumbuh sendirian di sisinya. Sebuah bangunan berdiri di tengah-tengah pulau. Seorang teman berkata, bangunan itu adalah sebuah mushalla. Tidak ada yang tahu siapa yang membangunnya. Cerita setempat juga menyebutkan, seberapa pasang pun lautan, air laut tidak pernah sampai merendam lantai mushalla tersebut. Sayangnya mushalla tersebut tampak tak terawat. Seharusnya pemerintah turun tangan untuk melakukan pemeliharaan. Selain menjadi tempat shalat, ia dapat juga menjadi tempat beristirahat dan berteduh ketika hujan turun lebat.
 
Pasir putih mengelilingi Dangar Ode. Dan yang menarik adalah permukaannya tidak curam tiba-tiba. Kita dapat menenggelamkan tubuh kita sedikit demi sedikit ke dalam lautan dengan dasar pasir yang masih terlihat karena begitu beningnya. Tampak juga banyak bintang laut di sana-sini. Jangan khawatir, tak ada bulu babi.
Hingga air laut mencapai bahu barulah dasar lautan terisi dengan rumput-rumput laut. Aku mencelupkan wajahku dan terlihat berbagai jenis ikan berwarna-warni. Aku berenang lebih ke tengah, dan karena aku tak begitu pandai berenang, aku memilih berada di dekat perahu supaya kalau kenapa-kenapa aku bisa mencari pegangan. Sesekali aku mencelupkan kepala untuk melihat pemandangan bawah air yang menakjubkan. Dan lebih banyak aku menikmati panorama yang disajikan alam. Beberapa teman menyelam lebih dalam dan aku merasa iri. Mereka bilang ada coral table, terumbu karang yang berbentuk seperti meja bundar. Juga menemukan ikan nemo di mana-mana.
 
 
Aku menyesal ketika kecil tidak belajar berenang hingga mahir. Yang bisa aku lakukan cuma mengambang beberapa saat. Huh.
Puas berenang, mengelilingi pulau, dan menyantap ikan bakar yang kami bakar sama-sama, kami diguyur hujan yang sangat deras. Setelah menunggu dan berharap hujan akan reda, berkenalan dan bercerita banyak, kami memutuskan nekat menyeberangi lautan. Syukurlah, meski hujan, lautan tetap tenang. Mendekati dermaga, barulah hujan reda dan langit yang mendung menyingkapkan dirinua. Cahaya keemasan menembus mereka dan seakan-akan kami terendam di dalamnya.
Sebuah puisi lahir saat itu:
kau bersikeras akan menelan semua hujan
yang tak bosan menceritakan hidupnya yang singkat
di atas laut, di bawah bayangbayang maut
kita akan selalu sama: melihat langit keemasan
setelah segalanya reda adalah doadoa kecemasan
sebelum perjalanan lain menuju pulang
Tantangan sesungguhnya adalah medan di daratan. Jalan yang baru diguyur hujan membuatnya seperti bubur lumpur. Jarak tempuh 20 km itu kami lalui lebih dari 3 jam setelah beberapa motor mengalami kerusakan, dan kami menunggu, saling membantu dan bahu-membahu agar semuanya sampai ke tujuan. Kebersamaan, meski baru sekali bertemu, membuat perjalanan ini pantas dikenang seumur hidup.
Semoga saja pemerintah daerah membenahi akses menuju pulau, karena Dangar Ode begitu layak menjadi salah satu destinasi utama Pesona Indonesia di Sumbawa. Keindahan bawah laut, dan panoramanya kelas satu, ditambah ketenangan yang semakin sulit didapatkan di dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk.
PS:
Terima kasih kepada teman-teman Adventurous Sumbawa yang sudah memberiku kesempatan berkenalan dengan kalian. Foto-foto di atas juga dari Adventurous Sumbawa.

4 Air Terjun Paling Berkesan yang Pernah Kukunjungi

Aku paling suka air terjun. apalagi jika air terjun itu punya kolam yang bisa diberenangi di bawahnya. Tak ragu, aku akan segera membuka baju, menceburkan diri ke dalam air yang jernih dan dingin sambil sesekali khawatir juga, kalau saja ada material yang ikut jatuh bersama air dari ketinggian. Tapi, mati toh soal takdir.

Selama hidup, lebih dari sepuluh air terjun sudah kukunjungi. Masih sedikit. Indonesia memiliki banyak air terjun yang menawan. Semoga saja dapat kukunjungi satu demi satu.

Di antara air terjun yang pernah kukunjungi, aku ingin mengunjungi lagi setidaknya 4 air terjun berikut ini:

Air Terjun Mata Jitu

FB_IMG_14720998629713425
Siapa yang tak kenal Pulau Moyo? Pulau ini begitu terkenal di dunia internasional. Selebritis dunia pernah berkunjung ke sini, mulai dari (almh) Lady Diana sampai Maria Sharapova. Di pulau ini juga terdapat air tejun yang keindahannya luar biasa. Namanya Mata Jitu.

FB_IMG_14720998520656365

Disebut begitu karena semua orang yang memandangnya akan langsung terpaku menatapnya. Tak ingin menatap yang lain.

FB_IMG_14720998455502291

Dulu, sulit ke Moyo. Kita harus memesan tiket pesawat ke Lombok terlebih dahulu. Lalu menempuh perjalanan darat dan laut ke Sumbawa. Satu-satunya pesawat hanya Transnusa. Sekarang, ada banyak maskapai masuk ke Sumbawa seperti Garuda dan Wings Air. Dari Sumbawa kita naik perahu sekitar 1,5 jam untuk sampai ke Moyo.

Air Terjun Ai Beling dan Ai Putih
14096347971319847891

Di Sumbawa, “Ai” bukan berarti cinta. “Ai” (dibaca ae) berarti air. Dan “Ai” digunakan untuk penamaan air terjun. Saya berkesempatan mengunjungi dua air terjun yang cukup terkenal di Sumbawa, yakni Ai Beling dan Ai Putih.

Ai Beling terletak di Dusun Kuang Amo, Desa Sempe’, Kecamatan Moyo Hulu. Pagi itu, saya bersama kelima teman yang lain berangkat dari Sumbawa. Berjarak sekitar 30 km dari kota Sumbawa Besar atau 6 km dari desa Brangrea. Untuk menuju tempat ini, saya harus mengambil jalan raya yang menuju selatan melewati Bendungan Batu Bulan melalui Semamung.

FB_IMG_14720997047741538
Ai Beling berarti air yang berbicara. Bila musim penghujan tiba, suara gemericik air Ai Beling dapat terdengar hingga 5 km jauhnya. Saya datang pada musim kemarau, debit air tidak terlalu banyak, tetapi Ai Beling masih begitu indah. Bisa saya bayangkan bagaimana limpahan air akan memenuhi batu-batu ini. Bahkan menurut teman, Ai Beling juga dijuluki seribu air terjun karena air akan turun berlapis-lapis, tak terhitung banyaknya.

Cerita setempat mengatakan dulunya ada seorang gadis, anak raja, kabur karena dijodohkan dengan orang yang tidak dicintainya. Lalu dia menangis dan menangis di sebuah sungai hingga akhirnya terjun bunuh diri di ujung sungai tersebut. Hingga suatu hari, ada seseorang mendengar sebuah tangisan yang begitu jernih dan ia menemukan sebuah air terjun ini. Dipercaya Ai Beling adalah roh dari gadis tersebut.

14096350181161691067

Ai Beling bukanlah satu-satunya air terjun di Kuang Amo. Kebetulan hari itu di perjalanan saya bertemu teman sekomunitas Adventurous Sumbawa yang juga bekerja di Dinas Pertambangan dan Energi. Dia bersama rombongannya akan menuju Ai Putih untuk mengukur debit air dan potensi KwH. Mereka bilang mau survei apakah layak pembangkit mikro untuk dibangun di sana. Dua setengah jam masuk hutan, kita akan menemukan Ai Putih.

1409635176535964626

14096351472114054534

Curug Cibareubeuy

fb-img-14571272645245251-56da0063b17a61b226ee564e

Terletak di Subang. Yang seru adalah perjalanan menuju ke sana. Melewati Lembang, sambil googling kami kemudian memutuskan akan ke Curug Cibareubeuy. Dari jalan utama, kami berbelok ke Jalan Sari Ater. Tidak tergoda untuk mandi air panas di Sari Ater, kami meneruskan perjalanan hingga Desa Cibeusi. Motor diparkirkan di tempat penitipan. Kemudian kami berjalan kaki. Jaraknya sekitar 4 kilometer.

Aku sebenarnya agak bergidik mendengar angka 4 kilometer itu. Maklum, aku baru saja sembuh dari asma pagi itu. Malamnya saja suara tikus masih menghinggapi dadaku. Tapi, sembari meyakinkan diriku, aku pasti bisa menempuh perjalanan ini.

Ada dua jalur jalan untuk menuju Curug Cibareubeuy. Jalur pertama langsung naik ke bukit, melewati hutan. Dan jalur kedua, melewati persawahan dengan jalan meniti di pematang, meloncat dari batu ke batu. Kami memilih jalur kedua dengan alasan medan dan situasi. Musim penghujan akan membuat tanah lebih becek dan licin. Jalur yang lebih banyak mendaki akan lebih sulit dilalui. Kemudian situasi lebih aman di persawahan karena banyak petani. Kalau ada apa-apa bisa langsung bertanya ke petani ataupun meminta bantuan mereka.

fb-img-14571274440257316-56da0173e222bd1422c7eb07

Indah, bukan?

 

Empat Ratus Tahun Cerita Lelaki

Setelah memahami, Jakarta diciptakan untuk orang-orang yang sudah bosan hidup, sambil mengagumi kendaraan yang lalu lalang, asap-asap yang keluar dari knalpot, dan langit yang tak pernah lebih biru dari lautan, ia akhirnya bertemu Teruna.

Gadis itu keluar dari taksi, memakai baju terusan rendah di bagian bawah berwarna merah marun, tersenyum, lalu bertanya, “Sudah menunggu lama?”

Bakda mendarat di Soetta tadi, ia diminta untuk menemui Teruna. “Naiklah Damri jurusan Lebak Bulus, lalu turunlah di Slipi Petamburan.” Teruna mengirimkan pesan singkat.

Yang Teruna tidak ketahui ialah, ia sudah hidup selama lebih dari 400 tahun dan menyepi di daerah-daerah berpenduduk sedikit, menyaksikan orang lahir dan mati, perang dan perdamaian, tetapi ia tidak pernah bosan menunggu untuk jatuh cinta, seperti yang diramalkan Onang Sadino, Pak Tua yang mengaku bisa membaca garis tangan dan membuka lapaknya di pasar Brang Biji beberapa tahun lalu, “Sebelum waktumu berakhir Nak, kau pasti akan jatuh cinta, dan laki-laki sejati hanya jatuh cinta satu kali seumur hidupnya.”
“Apa kamu lelah?” Teruna mengajukan pertanyaan berikutnya.
“Aku hanya tidak terbiasa dengan keramaian.” Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, menghela napas, mengeluarkan botol air minum yang isinya tinggal sedikit, meneguknya, lalu menatap Teruna, “Arsenal pernah punya kostum berwarna merah marun. Konon, itu warna kehidupan.”

Teruna memegang tangan lelaki itu dan berkata, “Aku merasa jauh lebih hidup saat kamu ada di sampingku sekarang ketimbang aku memakai pakaian ini.”
Baru semalam ia berangkat dari Sumbawa, menyisiri garis pantai sampai Poto Tano. Malam itu, ombak di selat Alas tidak begitu bersahabat. Barangkali ada seseorang yang telah meninggalkannya ketika bermain ayunan. Jadi diombang-ambingkannya kapal laut tua itu, sambil mengingat tragedi kapal tua Munawar yang tenggelam beberapa bulan sebelumnya. Ia bisa saja berteleportasi. Tapi jangkauan teleportasinya hanya sekitar 100km. Ia khawatir kemunculannya yang tiba-tiba, dan kadangkala tidak dapat ia kontrol, akan membuat kehebohan bila mana ada saksi mata yang menyaksikannya. Toh, ia sudah ingin hidup sebagai manusia biasa. Kemampuan khususnya ingin ia tenggelamkan.
Gadis itu, meski ia tak yakin apakah Teruna masih seorang gadis, bilang telah jatuh cinta kepadanya, tanpa pernah bertemu sebelumnya.

“Bisakah kita merindukan seseorang yang belum kita temui sebelumnya?” tanya lelaki itu.
Tapi sebelum kita berlanjut menjawab pertanyaan itu, saya akan membawa kalian ke peristiwa lain yang inshaallah masih saling berkaitan, sebagai selingan.
Arsenal baru kalah dari Bayern Munich malam itu. Ia seorang pencinta Arsenal. Kekalahan itu membuatnya galau. Hari itu ia pergi ke Tanjung Menangis. Di sana memang lokasi terbaik untuk memancing.
Saya kebetulan sedang berkemah di Ai Loang, dan bakda Subuh memutuskan untuk menaiki perahu, sendirian. Pagi-pagi begini ombak relatif tenang. Pulau Moyo yang tersohor terlihat dari kejauhan. Dibelai angin yang lembut, saya membayangkan kekasih. Perahu pelan-pelan menjauh dari daratan. Sebatang pohon yang tumbuh sendiri agak jauh dari bibir pantai tampak kesepian.
Ketika menoleh ke arah sebaliknya, di Tanjung Menangis itu, saya menyaksikan sosok itu, ia, sedang memancing. Meski cahaya masih sangat sedikit, dan matahari yang biasa akan terlihat terbit sangat sempurna masih mencoba membukakan mata, saya katakan dengan pasti, ikan-ikan tampak lompat-melompat di sekitar kailnya.
Pada hari itulah kami berkenalan, tapi ia tak mau menyebutkan nama.
Baru berjabat tangan, ia bertanya, “Hal apakah kiranya yang paling tidak kamu percayai di dunia ini, Kawan?”
“Tuhan. Dan pemandangan yang baru saja saya lihat. Bagaimana mungkin ikan-ikan itu seperti minta dipancing?”
“Banyak hal yang belum kita tahu, dan kita cenderung tidak mempercayai hal yang tidak kita ketahui.” Ia masih memegangi pancingnya, memandang lurus ke depan lalu kembali berkata, “Apa kamu akan percaya jika kukatakan aku telah hidup selama lebih dari 400 tahun di dunia ini?”
Saya terhenyak mendengar ucapannya. Ikan-ikan melompat lebih tinggi. Cahaya kuning pertama dari matahari terbit sampai di permukaan lautan. “Tidak mungkin, kecuali engkau Khidir.” Saya menyangsikan.
“Kau asli Tanah Samawa?” Ia menanyakan pertanyaan lain.
“Oh, bukan. Saya baru tiga tahun dimutasikan ke sini.”
“Apa kamu percaya yang namanya kesetiaan?” Pertanyaannya semakin mendalam
“Apa ini soal perempuan?” Saya balik bertanya.
Dia pun menarik pancingnya. Seekor baronang batu yang lebih besar dari telapak tangan tampak menggeliat di ujung kail. Ikan berwarna hitam itu akan terasa enak bila dibakar dengan cara yang tepat.
“Dulu, ada seorang gadis. Dia mengejarku sampai ke tanjung ini. Ah, tidak berhenti sampai di sini, ia terus mengejarku sampai ke sana,” ucapnya sambil menunjuk lautan. Matanya berkaca-kaca. Saya tahu dia sedang sedih menceritakan kisah yang tampak janggal itu. Tapi kalian harus tahu, segala hal yang tak masuk akal, di hadapan cinta, segala hal itu pula dapat diterima. “Aku tidak tahu kalau dia akan mati dengan cara seperti itu. Aku bahkan masih mengingat wajahnya yang sendu, yang meneriakkan namaku ketika perahuku mulai menjauh. Aku pikir, itulah kematian pertama yang aku saksikan di dunia ini, Kawan.”
“Nama? Engkau punya nama?”
“Aku tidak punya nama. Tapi dulu aku dipanggil Daeng Ujung Pandang.”
“Saya seperti pernah mendengar kisah ini.”
“Kalau kamu asli tanah Samawa, pasti kisah ini akrab di telingamu.”
Kalimat terakhirnya tenggelam begitu saja. Saya memang sering tidak mau tahu dengan cerita-cerita di Sumbawa. Sebab menjadi karib dengan tanah ini, akan membuatmu semakin betah berada di sini. Saya sendiri ingin cepat-cepat pindah.
Selain tidak tahu nama, saya juga tidak tahu tempat tinggal lelaki itu. Tapi setiap kali pergi memancing, di mana pun, di Mamak, di Batu Bulan, di Empang atau sampai di Teluk Santong sekalian, saya selalu bertemu dengannya. Sampai kami sedemikian akrab. Sampai saya mau tidak mau percaya dengan kisah-kisah yang diceritakannya.

~

Kembali ke Teruna, saya mengenalnya di media sosial. Ia seorang gadis yang tangguh. Saya pikir semua gadis yang hidup di Jakarta adalah gadis yang tangguh. Siapa yang bisa tahan bila setiap pagi tak melihat burung-burung bertengger di atas pagar, embun di atas daun, dan duka-luka yang tertumpuk seharian harus dicoreng-morengi asap kendaraan yang penuh timbal.
Ia tersentak ketika melihat profil Teruna di tablet saya. Gadis mungil berambut panjang itu begitu menarik perhatiannya. “Aku sudah hidup selama 400 tahun lebih, tapi baru kali ini aku menemukan wajah seseorang yang mirip dengan wajah sang putri.”
“Max Galuppo saja pernah menemukan lukisan dirinya, persis dirinya di Philadelpia Museum of Art tanpa mengakui ia tidak pernah dilukis oleh seorang pun. Menariknya, lukisan yang diberi judul Portrait of a Nobleman with Dueling Gauntlet itu dibuat pada tahun 1562 di Italia.”
“Jadi apa reinkarnasi itu ada?”
“Ada 7 not dasar. Dari ketujuh not dasar itu, jutaan lagu tercipta. Dari jutaan lagu itu, kalau ada yang mirip atau nyaris sama persis adalah hal yang mungkin. Baru-baru ini Katy Perry dibilang menjiplak Nike Ardilla. Saya pikir itu hanya kebetulan. Genetika juga seperti itu. Entah sudah berapa miliar manusia ada di muka bumi. Jadi bila ada kesamaan, pengulangan genetika, itu suatu kewajaran.”
“Aku belajar sesuatu darimu, Kawan. Ternyata kebijaksanaan bisa datang dari mana saja, termasuk dari manusia seumur jagung.” Ia menjawab lalu tertawa terbahak-bahak.
Saya suka iri melihat perawakannya yang relatif sempurna. Kulitnya secarah buah pir. Giginya putih bersih. Rambutnya hitam dan tebal. Hidup lebih dari 400 tahun tak membuatnya menjadi tambun.
Saya tidak tahu apa rencananya terhadap Teruna ketika sekitar pukul delapan pagi WITA, ia mengirimi aku pesan singkat, “Kawan, aku baru mendarat di Soetta. Sebentar lagi aku akan bertemu Teruna.”

~

Lalu dimulailah cerita ini. Ia sedang berada di taksi bersama Teruna menuju kawasan Palmerah. Teruna mengajaknya singgah di kosnya. Saya tidak mau mengajak kalian membayangkan hal yang akan terjadi di antara laki-laki dan perempuan bila berada di ruang yang hanya ada tembok dan atap, berdua saja, lalu tirai ditutup sehingga sulit bagi satuan cahaya terkecil sekali pun untuk mengintip.
Ia tidak mengabari saya apa pun. Hari itu hari Sabtu. Saya memutuskan memancing di Kencana. Bila beruntung akan ada anak-anak perempuan mandi di pantai. Menyegarkan bila Tuhan memberikan kesempatan untuk cuci mata barang sejenak di sana.
Saya tidak mengerti makna kesetiaan. Matahari yang terbit dari timur ke barat itu juga konon akan terbit dari barat ke timur. Bulan yang melayang di langit malam tidak utuh sepanjang hari. Selamanya—apa ada kata selamanya, dan seberapa jauh?
Baru menjelang malam hari, ia mengirim pesan, “Malam ini, Chelsea akan menjamu Arsenal. Aku akan berada di kereta, tolong kabari aku perkembangan skornya ya.”
Kami berdua sama-sama pencinta Arsenal dan saya tidak penasaran terhadap jawaban yang ia dapatkan dari pertemuannya dengan Teruna. Siapa yang tahu bila malam itu, Arsenal harus kalah enam gol tanpa balas dan kereta yang ia naiki berada di atas rel yang tak memiliki ujung?
Barangkali hanya kalian saja yang penasaran bagaimana sejatinya kisah ini harus diakhiri dan saya yang tak mengerti perasaan saya bahkan sejak cerita ini dimulai.

Bersahabat dengan Alien

 

“Bagaimana rasanya punya pacar alien?”

Pertanyaan itu disusul dengan sejumlah pertanyaan lain yang berdengung seperti lebah. Kilatan lampu dari kamera DSLR milik para pemburu berita menimpa wajah Teruna tanpa belas kasihan. Ia ingin menjawab seperti cara artis D yang baru saja terpilih menjadi anggota legislatif, tetapi apa gunanya sebuah konferensi pers bila ia tidak memberikan satu pun jawaban memuaskan.

Keadaan seperti ini bukanlah hal baru bagi Teruna. Hanya saja, biasanya Teruna berada di posisi penanya. Pekerjaannya sebagai wartawan sebuah majalah baru-baru ini juga membuatnya bertemu Kim Hyun Soo. Alih-alih bertanya yang serius, terpesona pada kulitnya yang secerah buah pir, Teruna malah bertanya, “Apakah kamu benar-benar seorang alien?”

Teruna tidak tertarik membicarakan penjiplakan drama itu. Wartawan lain meributkannya. Tidak mungkin Kim Hyun Soo dibandingkan dengan aktor M. Kejantanannya berbeda. Teruna hanya berharap, SBS akan menuntut televisi yang menyiarkan sinetron tersebut untuk tidak disiarkan lagi.

 

~

 

Begitu mendengar Teruna akan mengadakan konferensi pers, saya begitu gelisah. Saya ingin mengasingkan diri sejauh-jauhnya. Beruntung, pada saat yang sama, anak-anak Adventurous Sumbawa memberikan undangan perjalanan ke Moyo.

Saya sendiri kaget ketika suatu hari menyalakan tivi, melihat berita dan dikatakan bahwa seorang gadis berusia sekitar 27 tahun tertangkap kamera sedang digendong seorang lelaki lalu menghilang tiba-tiba. Beberapa detik kemudian, kamera CCTV yang lain menangkap sosok yang sama dengan jarak yang begitu jauh berbeda. Tidak usah banyak penyelidikan, saya langsung mengenali sosok perempuan itu adalah Teruna. Dan laki-laki yang mukanya bercahaya adalah Si Alien. Alien itu pernah jadi sahabat saya.

Hati saya berakhir saat itu juga. Tidak mungkin saya bersaing dengan seorang alien. Tidak ada yang spesial di diri saya. Sama tidak spesialnya dengan martabak di penjuru Indonesia meski menggunakan merk “martabak spesial” di promosinya.

“Apa kamu akan kuat berpacaran dengan alien seperti dia?” tanya saya.

“Cinta selalu memberi kita kekuatan.” Teruna  menjawab penuh keyakinan.

Itulah dialog terakhir kami. Saya tidak setuju. Cinta tidak selalu memberi kita kekuatan. Mencintai Teruna membuat saya semakin rapuh.

Pagi seharusnya indah ketika kamu tidak tahu diam-diam ada yang begitu merindukanmu. Tapi pagi ini rindu tampak seperti ketiadaan ombak di bibir pantai. Laut ketenangan. Sampah-sampah plastik mengambang. Saya lebih menyukai laut yang berombak, lebih normal. Segala hal yang tampak tenang lebih menakutkan. Dia bisa berubah jadi monster ganas. Misalnya beberapa saat sebelum tsunami, laut akan terseret jauh dari bibir pantai dan jauh lebih tenang dari biasanya.

Para petualang muda Sumbawa berkumpul di Pantai Baru, Desa Labuhan. Dua kapal sudah disiapkan. Teruna pasti sedang mempersiapkan apa-apa saja yang ia harus katakan. Saya tidak menyiapkan apa-apa kecuali baju ganti dan gitar.

Randal Patisamba langsung mengambil tempat di hidung perahu. Itu sebenarnya tempat favorit saya juga, tapi untunglah hari ini saya tak begitu berminat memegang pancing dan menyaksikan perahu membelah lautan. Saya ambil tempat di sisi kiri perahu. Di sebelah saya semuanya perempuan. Belum mulai berjalan, mereka sudah saling papo (foto). “Pringi, senyum dong!” Saya pun ikut terkena papo.

Apa perasaan Teruna di hadapan kamera. Dia pernah meminta saya untuk memfotonya. Dalam pose apa pun. Sebagai lelaki, mendengar itu, tidak mungkin pikiran tidak menjadi kotor. Dan belum ada penjual sapu otak di toko mana saja. Teruna pastilah tidak akan merasa nyaman saat ini. Apalagi si Alien itu sudah menghilang. Dasar lelaki tak bertanggung jawab. Padahal sudah saya pesankan untuk tidak meninggalkan Teruna apa pun yang akan terjadi.

Kapal nelayan yang kami naiki mulai berjalan. Saya mulai mengencangkan jaket, menebar pandangan, dan melihat salah satu perempuan yang duduk di sebelah kanan memikat. Kamu. Gigimu gingsul seperti Agnes Monica. Bedanya, bila Agnezmo terskandal nipple slip di video klip Coke Bottle, kamu tampak manis dengan kerudung. Saya tidak mempermasalahkan seorang perempuan setertutup apa dengan pakaiannya, asal ia cukup terbuka di pikirannya, ketimbang sebaliknya. Saya curi-curi pandang ke arahmu. Kamu sepertinya rela-rela saja pencuri datang menyambangimu.

Halo, kenalkan, saya pencuri.

Apa hati kamu masih ada di tempatnya?

Lalu kamu menatapku, tersenyum.

Saya hanya bisa mengenang senyummu selama dua jam perjalanan itu. Lebih lambat setengah jam dari waktu yang direncanakan sebab mesin kapal satunya satu tidak menyala sehingga lajunya tidak sekencang seharusnya. Penumpang lainnya banyak yang tertidur sambil menikmati matahari pagi yang hangat. Pulau Moyo sudah terlihat dari kejauhan. Saya tidak bisa tidur di atas laut. Kamu juga tidak tidur di atas laut. Tertunduk, termenung, apa kamu sedang memikirkan negara?

Saya beranikan diri untuk mengajak kamu mengobrol, “Hai…” Kaku sekali sapaan ini. “Sudah berapa kali ke Moyo?” tanya saya.

“Ini yang pertama, Mas…” jawab kamu. Suaramu manis. Ibumu pasti sering makan gula ketika mengandung kamu.

“Jadi, ini petualangan pertamamu?”

“Sebelumnya pernah ke Ai Loang…”

“Kamu tahu, paling dekat ke Moyo, lewat Ai Loang. Naik dari Sea Side.”

“Iya, tapi kan hampir satu jam perjalanan daratnya.”

“Memang, barangkali kamu takut terlalu lama di laut.”

“Nggak Mas, Sari suka laut.”

“Sari?”

“Iya. Mas siapa namanya?”

Nah, beginilah cara mengetahui nama tanpa bertanya nama. Setelah ini saya akan tahu akun facebookmu, nomor ponselmu, PIN BBM kamu, segalanya. Tuan Alien yang terhormat, yang dapat mendengar suara sedetil apa pun dari jarak ratusan kilometer, cobalah dengar suara hati saya ini. Kamu boleh merebut Teruna dari pandangan saya, tapi saya sekarang akan punya Sari. Saya akan move on dari Teruna.

 

~

 

Begitu Labu Aji terlihat, semua orang bersemangat. Sudah pukul sembilan, Teruna akan diwawancara pukul satu siang nanti. Kemarin Teruna berulang tahun, tapi sengaja saya tak memberi ucapan selamat. Toh, pasti ponselnya akan dinonaktifkan. Semua orang akan berburu kebenaran, bertanya tentang tuan alien itu. Malam tadi, Teruna pasti mengurung diri di kamar. Hotel bintang lima yang privasinya terjaga. Saya suka bingung juga dengan definisi privasi itu. Bila menjelang bulan puasa, hotel-hotel melati dan wisma digerebek oleh ormas-ormas, hotel bintang lima tidak pernah tersentuh. Padahal saya yakin, para pelacur kelas atas yang dipakai borjuis dan birokrat kelas atas pula banyak sedang bercinta di ruangan ber-AC dan berkasur empuk itu.

Komandan Sirajuddin memberi komando untuk berhati-hati menginjak dermaga. Randal Patisamba dengan sigap melompat tanpa rasa takut. Dasar laut terlihat. Pasir putih, penuh terumbu. Padahal hanya beberapa meter dari bibir pantai. Tapi spot snorkling paling menarik ada di Takat Segale yang terkenal dengan atolnya atau di Tanjung Pasir, sisi lain pulau Moyo dengan aneka jenis ikan dan terumbu. Saya takut snorkling. Saya takut pada keberadaan ular laut dan bulu babi. Saya takut pada arus bawah laut meski hanya di laut dengan kedalaman paling dalam 5 meter. Beberapa bulan lalu, lima turis Jepang berpredikat master dive saja hilang di Nusa Dua. Hebatnya semua bisa selamat dan terdampat di pulau-pulau kecil puluhan kilometer dari tempat mereka menyelam.

Seusai saya menapakkan kaki di dermaga, kamu selanjutnya. Dari gesturmu, kamu meminta pegangan. Saya berikan tangan kanan, kamu menggenggamnya. Jadi begini rasanya telapak tanganmu. Ada pikiran melintas, sebaiknya kamu terjatuh saja. Lalu saya akan menangkapmu, atau menghentikan waktu sejenak seperti yang biasa Tuan Alien lakukan. Tapi momen-momen seperti itu sangat picisan.

Kita beristirahat di rumah warga yang sudah dikosongkan. Meletakkan tas, menaruh barang-barang yang bisa ditinggalkan, buang air kecil dan menikmati terik matahari pinggir laut yang digandrungi bule-bule berpigmen buruk.

Satu tower terlihat menjulang dan sendiri. Saya sedikit penasaran di mana resor milik Amanwana. Tarifnya 1000 dolar. Lady Diana dan Doddi Al Fayed pernah menginap di sana. Sharapova juga. Untunglah Gayus Tambunan tidak. Ia sudah puas duduk di tribun Wimbledon sebelum tertangkap meski penjara adalah sebuah sandiwara lain. Tahanan yang punya uang bisa dapat kamar mewah dan keluar penjara diam-diam saat malam hari. Asal tidak ketahuan Denny Indrayana saja.

“Kamu tahu kenapa kenapa Tuhan menurunkan Adam ke bumi?” Tuan Alien itu bertanya suatu hari. “Kalau tidak begitu, tidak akan ada kisah cinta-mencintai…” Tuan Alien itu menjawab sendiri pertanyaannya.

Teruna pasti sedang patah hati akut. Tuan Alien begitu pandai merayu. Kata-katanya penuh filosofi. Tak ada perempuan yang tak luluh.

Saya tak ingin memikirkan Teruna lagi. Biarlah, ada kamu sekarang. Ini bukanlah sebuah pelarian. Ini harapan.

Lalu kita berjalan kurang lebih satu jam ke Mata Jitu. Air terjun yang selama ini hanya saya lihat di foto, yang cerita keindahannya begitu mendunia itu akan segera tampak di depan mata saya. Perjalanan mendaki. Saya sengaja samakan irama langkah kaki saya dengan langkah kaki kamu. Sampai-sampai jika ini sebuah lomba gerak jalan, kita akan menang dengan pasti.

“Kamu kuat mendaki?”

“Insyaa Allah, Mas…”

“Yakin?”

“Kalau pun tidak, kan ada Mas Pringi yang akan membopong Sari…”

Wah, alamat. Terik matahari yang masih gigih menembus celah dedaunan tidak begitu mendera kulitku. Memandangimu saja sudah sejuk rasanya. Seharian kemarin, padahal badan saya tak enak, tidur saya pun tak nyenyak. Memikirkan Teruna, memikirkan dia sedang menangis, dada saya sesak. Untunglah kemarau setahun, dihapus hujan sehari. Luka sepanjang umur pun bisa terobati dengan cinta pandangan pertama. Kamu.

Jantung yang berdetak lebih cepat, keringat yang menetes seperti berada di kran bocor, dan tenggorakan yang semakin haus adalah kelelahan. Kamu tidak sekali pun mengeluh. Malu dong kalau saya mengeluh dan meminta beristirahat. Untunglah, hampir sampai di batas stamina, suara air terjun itu terdengar. Selamat datang di Hutan Buru Pulau Moyo. Kita pun berfoto di sana. Saya sudah berhasrat ingin mencemplung ke air terjun itu sebelum Komandan Sirajuddin berkata untuk melanjutkan perjalanan ke Kolam I. Tidak jauh. Hanya 200 meter. Dua ratus meternya orang Sumbawa bisa lebih dari satu kilometer.

Dan Komandan Sirajuddin benar adanya, hanya sekitar 200 meter dan surga yang ditinggalkan Tuhan di dunia itu salah satunya ada di Pulau Moyo. Diberkahilah orang-orang yang mengungsi dari Sumbawa dan menemukan Pulau Moyo di zaman Soekarno demi menghindari pajak. Kolam berair hijau berkilauan seperti zamrud, beralaskan batu kapur terbentang luas. Teksturnya seperti terasering. Diornameni daun-daun menguning yang jatuh tertiup angin. Saya melihat senyummu merekah. Surga di depan mata, dan bidadari ada di samping saya. Meski katanya, terjemahan yang tepat untuk wanita surga bukanlah bidadari (angel), melainkan perawan (virgin).

Randal Patisamba memang orang yang paling berinisiatif. Dia membuka baju dan langsung melompat ke kolam itu. Saya tidak membuka baju, malu pada lipatan lemak di perut. Saya langsung menggamit tangan kamu. “Ayo!” Dan kita kembali menjadi anak kecil yang lugu dan tak malu-malu di hadapan air.

Buuur!

Tubuh kita adalah batu yang dilempar. Tubuh kita adalah kanak-kanak abadi yang tak akan takluk pada permainan zaman kini—mata yang selalu berada di depan layar, dan jempol yang tak habis berolahraga melebih waktu-waktu lari pagi. Surga seharusnya cukup seperti ini. Keindahan alam yang tidak ada duanya, dan seorang kekasih yang setia mencintai, tak menua dan abadi, meski saya sendiri tak yakin, jika emosi masih ada setelah kehidupan ini, apakah cara hidup yang selalu bahagia itu adalah kebahagiaan, atau memicu kebosanan? Kebahagiaan seperti ini ada karena upaya dan ketahanan dari perjalanan, karena tenaga dan air mata yang terkuras untuk menghadapi setiap tantangan.

“Pringi… Pringi…”

Ada suara laki-laki memanggil nama saya. Saya menoleh ke kamu yang berenang di samping saya. “Sari, kamu dengar suara itu?”

Kamu menggeleng.

“Pringi… Pringi… dia tak akan mendengar aku. Aku hanya berbicara padamu. Jadi, tanpa aku, apa kamu sudah cukup bersenang-senang?”

Ini suara yang begitu kukenali. Saya melihat ke atas pohon. Di setiap cabang. Di setiap dahan. Dan… dia, Tuan alien, ada di salah satu pohon yang tinggi, hanya memakai celana pendek, tubuhnya berkilau lebih baik dari wajahnya sebelum kembali berkata, “Apa kamu lupa aku menyukai tempat-tempat yang indah nan sepi untuk mengasingkan diri?”

 

~

“Bagaimana rasanya bersahabat dengan alien?”

Pertanyaan ini tidak menarik. Teruna mengirimkan pesan singkat yang saya baca malam sebelum kepulangan dari Moyo. Tower menjulang itu ternyata tower milik sebuah provider seluler. Ada sinyal yang cukup baik di Pulau Moyo, bahkan mendapat EDGE.

“Kamu bahkan lupa ulang tahunku, ya?”

“Kamu juga lupa katanya ingin membuatkan puisi terindah buatku di hari ulang tahunku?”

“Kamu juga lupa, kamu pernah bilang, sebagai apa pun kita, kamu akan tetap menemaniku bicara?”

Berturut-turut SMS masuk. Saya tak ada bisa menjawab satu pun pertanyaannya. Tuan Alien itu sekarang sedang naik perahu bersama saya. Identitasnya tentu tidak diketahui orang-orang. Dia mencuri pandang ke arah kamu, saya tahu itu. Kekhawatiranku kemudian terbukti ketika dia berbisik, “Perempuan yang bersamamu tadi itu cantik, Pringi… Dia mirip cinta pertamaku.”

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

 

 

 

Katak Bunuh Diri

 

“Katak-katak ini tidak perlu bunuh diri,” ujarku pada Randal Patisamba yang tengah memegang dua mayat katak. Aku tidak berani memegang satu pun dari mereka, apalagi dengan badan sudah acak-acakan begitu. Aku jadi membayangkan jika tubuhku yang terlindas kendaraan yang besarnya jutaan kali lipat, ya, katak-katak itu terlindas kendaraan yang melintas dari dan ke Labangka.

“Kau yakin kalau katak-katak ini bunuh diri?” Randal Patisamba meragukan ucapanku. Dahinya berkerut. Dia sudah seperti petugas otopsi yang menduga bahwa setiap mayat dengan luka memar, usus terburai, adalah buah kejahatan. “Empat ratus mayat katak dalam jarak lima kilometer itu tidak masuk akal. Artinya, setiap dua belas koma lima meter, ada satu mayat katak yang kita temukan,” tambah Randal sambil bersungut-sungut.

“Jadi, apa kamu ingin bilang kalau ada orang, psikopat yang tidak puas pada satu sesi pembedahan katak di pelajaran Biologi yang melakukan ini semua?” Dengan enggan kuingat sesi paling menjijikkan dalam sejarah umat katak itu. Katak-katak dikorbankan, dibelah perutnya, dikeluarkan isinya demi alasan pengetahuan.

“Mungkin.” Jawaban Randal Patisamba menggantung. Mukanya seperti memikirkan sesuatu, seperti ada yang diketahuinya, tapi tak mau dikatakannya.

Aku tak habis pikir pada rombongan yang sudah berjalan lebih dulu di depan. Mereka sama sekali mengabaikan katak-katak ini. Pantai Leppu di Labangka Tiga menjadi tujuan kami. Bersama-sama kami berangkat dari Sumbawa pukul delapan pagi tadi dan di jalan, motor yang kunaiki bersama Randal mengalami pecah ban. Kami tertinggal di belakang. Untungnya Randal bilang dia tahu jalan.

Mulanya aku tak hendak ikut ke Leppu. Aku masih kecewa dengan Nacinta setelah dikatakannya aku terlalu tua untuk jatuh cinta. Daging kambing yang berusia lebih dari tiga bulan itu alot dan berkolesterol, tidak enak dimakan. Aku disamakannya dengan kambing.

Tapi memang perempuan tidak bisa ditebak, pagi-pagi bakda subuh dia mengirimkan pesan singkat, pesan mesra yang tidak bisa ditolak siapa pun, “Mas, ikut ya ke Leppu, Nacinta sedih kalau Mas nggak ada.”  Aku lebih memilih ikut Lucky Prize di Line itu dehketimbang harus menebak apa maunya perempuan.

Satu motor kosong yang tersisa milik Randal Patisamba. Dua orang dengan berat badan lebih dari 70 kilogram akan menaiki motormatic kecil yang seharusnya dinaiki perempuan dengan perut rata dan pinggul seperti angsa. Pecah ban sudah sunatullah. Tidak ada pembenaran untuk menggerutu.

Sebelum berbelok ke Labangka, sebelum Plampang, aku tidak tahu kenapa pandanganku tertuju pada satu titik. Sebuah bukit besar menarik perhatian. Awan-awan bergumul di atasnya. “Apa itu?” Reflek aku bertanya pada Randal. Mataku belum beralih ke mana pun.

“Jaran susang.”

“Jaran susang?”

“Itu tempat tertinggi nomor dua di Sumbawa.”

“Setelah Tambora?”

“Tambora tidak dihitung. Tambora di Dompu.”

“Lalu?”

“Puncak Ngengas.”

“Apalagi itu?”

“Sebaiknya jangan lama-lama kau pandangi dia… tak baik.”

“Kenapa?” Aku makin penasaran dengan jawaban Randal. Tapi sahabatku sejak aku di Sumbawa itu sama sekali tak memberiku jawaban. Motor melaju seadanya. Sesekali ia dapat menyalip mobil-mobil bermuatan besar yang menuju ke Bima. Mobil-mobil dengan kapasitas beban seperti inilah yang menyebabkan jalan dari Poto Tano ke Bima sering rusak setiap tahunnya. Dengan struktur tanah yang tak stabil, anggaran yang terbatas untuk membuat lapisan yang tebal, jalan-jalan di Alas, Utan setiap tahun diperbaiki, dan setiap tahun juga rusak kembali. Terlepas dari itu, barangkali jalan-jalan adalah proyek abadi Kementerian Pekerjaan Umum. Atas nama penyerapan anggaran, terkutuklah mereka yang memakan anggaran demi perutnya sendiri.

Aku memikirkan Jaran Susang kembali ketika Randal dengan tergesa berkata, “Kita harus cepat pergi dari sini, Pring.” Begitu aku sudah bersedia di boncengan, ia melajukan motornya dengan kecepatan tertinggi yang bisa dicapai. Mayat-mayat katak itu ditinggalkan begitu saja tanpa satu pun yang sempat kami kuburkan. Aku merasa berdosa melihat mayat-mayat itu terlantar dan membayangkan bila saja ada ratusan mayat manusia yang terlantar, tak dipedulikan, tak dicatat sejarah seperti itu. Serta merta aku bergidik sebelum kudengar Randal mengatakan sesuatu. Perkataan itu yang membuat bulu romaku tegak seperti kemaluan. “Aku yakin sekali katak-katak itu dibunuh, bukan bunuh diri. Pernah ada cerita di sekitar Labangka…”

Ya, pernah ada cerita di sekitar Labangka. Puluhan ribu hektar ladang jagung yang terbentang di Labangka adalah komoditas utama pertanian di wilayah Sumbawa. “Batang-batang jagung itu tertekuk, Pring… bukan satu, tapi ribuan batang jagung.” Randal diam sejenak sebelum melanjutkan, “Malam sebelum itu terjadi, ada badai hebat. Banyak yang mengira, batang jagung itu tertekuk karena badai, tapi badai tidak mungkin membuat tekukan yang begitu rapi, sama di semua batang. Itu perbuatan seseorang, atau sesuatu….”

“Sesuatu?”

“Tadi aku melarangmu melihat Jaran Susang bukan tanpa alasan. Penduduk setempat meyakini di sana adalah kerajaan ghaib di seluruh tanah Samawa ini, Pring. Kalau sore, perhatikanlah nanti setelah kita pulang, awan-awan yang bergumul itu akan tampak seperti air terjun, awan yang ditumpahkan begitu saja dari ketinggian. Dan kalau ke atas sana, kita lemparkan batu ke sisi satunya, batu itu tidak akan terlempar. Ah, maksudku, batu itu akan seperti terhadang sesuatu. Kau pasti pahamlah maksudku. Mistis, Pring.”

Aku menyimak setiap kata Randal. Jalan aspal telah berakhir. Jalan tanah berbatu menggantikannya. Di sisi kiri dan kanan, di sejauh mata memandang, ladang jagung terbentang. Bongkol-bongkol jagung yang lebih besar dari kemaluan lelaki ada di pinggir-pinggir jalan. Penduduk Labangka baru panen jagung. Jagung-jagung itu akan dikirim ke Mataram, ke Bali, ke Surabaya. Dan lagi-lagi lewat darat. Mau dikata apa, transportasi darat masih lebih murah.

Andai saja orang Sumbawa ini membangun industri hulu. Jagung-jagung itu tidak akan cuma jadi jagung-jagung. Sama halnya juga sapi. Sapi melimpah di Sumbawa. Tapi untuk membawa sapi-sapi itu keluar Sumbawa butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Coba kalau ada industri pengolahan daging sapi, yang dikirim bukan sapi saja, bukan daging potong saja, tapi bisa kornet juga, bisa abon juga.

“Dulu di Labangka pernah dicoba peternakan sapi, Pring…” Randal membuyarkan pikiranku. “Tapi gagal,” lanjutnya. “Sapi-sapi itu, ah, mengerikan…” tambah Randal.

“Mengerikan?”

“Mereka mati. Massal. Seperti katak-katak tadi.”

“Sapi-sapi itu terlindas kendaraan?”

“Tidak, kendaraan apa yang bisa melindas sapi?”

“Lalu?”

“Tapi perut mereka berlubang. Lubang yang sama persis setiap sapinya. Empat belas centi jari-jarinya. Semua isi perutnya kosong dan tidak ada jejak darah sedikit pun.”

“Astaga! Semua sapi mati begitu?”

“Tidak semua sapi, tapi banyak sapi. Para peternak ketakutan membayangkan seseorang atau sesuatu berkeliaran melakukan itu. Mereka berhenti beternak sapi di sini dan pindah ke Utan.”

“Di Utan aman?”

“Ya, kau lihat kan sapi-sapi berkeliaran di sepanjang jalan, bahkan pada malam hari, tidak ada yang mencuri. Soalnya Fahri Hamzah sudah tidak di Utan. Haha…”

“Kamu masih bisa bercanda dalam topik begini? Huh!”

Randal Patisamba tertawa terpingkal-pingkal. Tawanya baru terhenti ketika kami temui tanjakan yang cukup terjal. “Maju, Pring, rapatkan tubuhmu. Lebih rapat lagi!” pinta Randal dengan serius. Begitu triknya naik motor berdua bila harus melewati tanjakan, rapatkan tubuhmu serapat-rapatnya dengan yang di depan. Bila jalan menurun, kebalikannya, taruh pantatmu di ujung motor agar laju motor tidak bertambah. Soalnya ini matic, tidak ada rem gigi yang biasa otomatis menahan kecepatan maksimal sesuai giginya.

Aku penasaran dengan sapi-sapi yang diceritakan Randal. Mutilasi seperti itu tidak masuk akal. Kenapa harus sapi, kenapa sekarang katak, kenapa bukan kambing. Ah, menyebut kambing, aku teringat kembali dengan Nacinta. Di Lapangan Pahlawan tadi, dia bersama Ega. Mereka tampak begitu mesra meski dia bilang tidak punya hubungan apa-apa dengan Ega. Semua hal dimulai dari nol. Semua kepunyaan dimulai dari tidak punya apa-apa. Menyebutku terlalu tua padahal Ega berumur sama denganku adalah penghinaan ketika dia memilih untuk menebeng di belakang Ega. “Uban-ubanmu itu tidak bisa berbohong,” canda Nacinta malam itu. Tapi candaan itu melukai harga diriku, meski memang uban-uban itu seperti amoeba, yang membelah diri dengan cepat. Asal tahu saja, uban-uban itu adalah kaffarat dosa-dosa. Satu uban telah tertutup pula satu pintu dosa. Semakin banyak uban, aku semakin pendosa dan Tuhan semakin sayang kepadaku.

“Ada makhluk-makhluk misterius di Jaran Susang itu, Pring. Beberapa kesaksian menyebutkannya,” ujar Randal melanjutkan cerita. Di sisi kanan, laut lepas di selatan Sumbawa mulai terlihat. Ombaknya menunjukkan ciri khas ombak pantai selatan yang selalu bersemangat. Biru. Aku mengabaikan ucapan Randal itu sejenak dan membayangkan perahu-perahu barangkali pernah berlabuh di pantai dengan ombak seganas itu.

 

Aku masih berpikir bawah katak-katak itu bunuh diri. Hidup setelah reformasi sudah sedemikian kejam. Katak-katak itu pasti juga merasakan betapa peliknya kesenjangan perekonomian, harga-harga yang terus melambung tinggi melampaui angka inflasi di makroekonomi, atau kehidupan percintaan yang tak selalu mulus.

Aku bergidik membayangkan aku juga akan bunuh diri dengan cara yang sama seperti katak-katak itu. Dengan sengaja aku akan berdiri di tengah jalan, menanti mobil berkecepatan tinggi menabrakku, melindasku, dan aku mati. Ya, aku mati. Barangkali kematian lebih indah ketimbang hidup dengan cinta bertepuk sebelah tangan.

“Kita sudah mau sampai,” ujar Randal. Randal membelokkan motor ke kanan di sebuah pertigaan. Jalan kerikil yang baru basah karena hujan semalam digantikan  dengan pasir. Pasir itu membuat roda motor sulit beranjak, ketidaktepatan pengendaraan akan membuat roda semakin terperosok ke kedalaman pasir itu. “Turun, Pring, turun…” pinta Randal Patisamba. Dengan segera aku meloncat dari jok dan motor itu pun dapat bergerak lebih mudah.

Dua buah pohon menarik perhatianku. Banyak kupu-kupu beterbangan di sekitarnya. Randal yang mengetahui ekspresiku segera berkata, “Itu pohon kupu-kupu, Pring. Kau mau jadi kupu-kupu?”

Tak kujawab pertanyaan itu dan tak kubahas lebih jauh maksudnya. Aku mengikuti langkah Randal di jalan setapak dan betapa, pemandangan yang kusaksikan selanjutnya adalah pantai terindah yang pernah kulihat selama hidupku. Hamparan pasir putih, ombak yang menari, dan batu karang mirip-mirip di Uluwatu menjadi lanskap sempurna yang diciptakan Tuhan. Seorang perempuan melambaikan tangan ke arahku. Ia memamerkan senyum bintang lima yang membuat segala kecemasanku menguap dengan segera. Nacinta. Lebih melegakan karena tidak ada laki-laki di sekitarnya.

Nacinta adalah gadis tercantik di grup Adventurous Sumbawa, tapi dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya, atau lebih ke kakaknya. Kadang-kadang beginilah nasib hati bila sudah terjebak zona pertemanan. Friend zone. Tak seperti yang pernah diucapkan Shakhrukh Khan di Kuch-kuch Hota Hai, cinta adalah persahabatan.

Ketimbang pantai itu, langkah kakiku bergerak ke arah Nacinta terlebih dahulu. Dia dan beberapa teman perempuan yang lain sedang menyiapkan makan siang buat kami. Inilah menariknya Adventurous Sumbawa. Kami akan makan sama-sama di tempat tujuan sambil menikmati alam.

Beberapa bumbu sudah disiapkan, ikan-ikan yang sudah dibersihkan, kayu bakar yang sudah dikumpulkan, tetapi mataku tertuju pada sesuatu di dalam baskom kecil. Bentuknya lunak dengan sudah dipotong kecil-kecil. Aku penasaran dan bertanya kepada Nacinta, “Yang itu apa, Nacinta?”

“Oh ini, ini daging katak. Belum pernah coba? Enak lho,” jawab Nacinta santai sambil mencelupkan tangannya ke dalam baskom, menaburinya dengan garam, dan menguleninya dengan seksama.

Sesuatu bergerak mendesak dari dalam perutku.

Aku mendadak mual.

Tiga Puisi

Malam Menua, Rambut Beruban Bukan Salah Soal Ujian

ia akan pergi ke tukang potong rambut untuk menyambut masa ujian

disisakan setengah centi dari pikirannya agar ia bisa berpikir pendek

 

dengan demikian, pertanyaan-pertanyaan yang muncul di lembar soal

akan tidak ragu-ragu dia jawab, benar atau salah, itu urusan tuhan

 

(2015)

 

Kerapu Merah

dengan jelas diakui, kerapu merah tidak enak dipanggang matang

kerapu merah lebih baik dibiarkan berenang, mengikuti gelombang

sampai ke laut sekitar jimbaran atau sampai ke dekat ujung pandang

 

dengan begitu, setiap dompet akan bergidik, satu kilogram sunu

dihargai tiga-empat ratus ribu rupiah, anggaran pulsa tiga bulan

dan nelayan-nelayan tidak akan memakai perahu sebesar papan setrikaan

 

dan menjadi penjudi ulung, dengan tuhan sebagai bandar

satu nyawa melayang sebanding dengan satu jaring penuh tangkapan ikan

 

dengan begitu, tak perlu jauh-jauh kapal cepat pencuri datang kemari

bersembunyi dalam bulan mati, menebar pukat seolah-olah itu kalimat

cinta yang mudah diucapkan banyak penyair kesepian

 

dalam pikiranku yang salah ini, tuhan menjadi tuhan karena dia hanya satu

kelangkaan ini suatu hari dapat mengancam keimanan umat manusia

jika suatu hari hanya tersisa satu kerapu merah, kerapu merah menjadi tuhan

 

(2015)

 

Di Selat Alas Kau Berjanji Menikam Seseorang

 

ini tidak mungkin dipercaya, jarak sepuluh kilometer antara

lombok dan sumbawa dapat memicu kematian

 

seseorang dapat ditikam, didorong ke laut lalu tenggelam

orang-orang tidak akan tahu, mereka lebih suka memikirkan

harga daging sapi, seikat kangkung, kelangkaan ikan

pada bulan purnama, juga ombak dan cuaca barat siwa

daripada negara, ketua KPK, penumpang yang terlantar di bandara

apalagi hanya mayat, yang tak memiliki hubungan kerabat

 

di situlah, kadang-kadang aku merasa sedih

teringat pesan singkatmu semalam, kita tak memiliki masa silam

padahal udara pernah sangat kejam, aku ingin berteriak

tapi dadaku dibuatnya sesak, hidupku dibuatnya terisak

 

terserah, bila kapal ini bernasib seperti munawar, lalu aku terdampar

melihat bekas pulau kenawa yang terbakar, dan baru

ditumbuhi belukar, aku pasrah, tetapi bukan aku yang mati

karena belum kusampaikan kata-kata yang sudah lama

menjadi bantal dalam tidurku, dan terbayang adegan di pasar

ketika aku tertipu, ingin membeli cumi tapi diberi gurita

 

hal itulah yang membuatku tak terima, kau membuatku mengira

kau telah jatuh cinta padaku selama-lamanya

kepalsuan itulah yang membuatku ragu pada wanita mana saja

juga jarak mana saja, karena jarak sepuluh kilometer ini

harus kutempuh dua jam lebih lamanya, sementara

sepuluh kilometer yang lain hanya membutuhkan waktu sepuluh menit!

 

(2015)