Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Tag: sajak

Sajak Pembuka

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

sebuah tafsir bebas atas Surat Al Fatihah

 

aku sebatang ilalang patah, merunduk bukan karena angin

kau yang menundukkan aku dan kucium bau tanah basah

kulewati malam yang hening hanya ditemani dingin

di saat itulah kurasakan kekosongan dan kurindukan rumah

 

sesaat setelah kubuka pintu, kulihat sebuah jembatan

kau berada di seberang, tersenyum penuh kegetiran

aku harus meniti pada jalan yang lebih tipis dari ingatan

di bawahku jurang, batu-batu tajam memanggil kematian

 

sebutkan padaku makna dari ketakutan

tak bahagia di dunia ini atau tak bahagia nanti di pelukanmu

atau karena kita terus berpisah, tak kunjung bertemu

 

sekian lama aku tersesat, dan kini merasa sampai padamu

peluhku menetes pasrah, bercampur dengan darah

apakah kau akan menerimaku atau justru menolakku?

 

(2016)

Puisi-puisi Aan Manysur di Kompas

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Menyeberang Jembatan

aku ingin menceritakan apa yang mampu aku rasakan

ketika berjalan sendirian di jembatan. ibuku penasaran

kenapa aku senang melakukannya. dia tidak mengerti

waktu aku mengatakan: aku memperoleh kebahagiaan

dari yang getar gemetar di hatiku. seperti jatuh

cinta? tidak, ibu. dia diam dan aku merasa kalah.

perihal membosankan dan percuma selalu lebih mampu

menemukan kata-kata untuk mereka kenakan. bagi yang

setengah-setengah, dan bagi yang berdiri di tengah-

tengah, kata-kata semata jembatan yang seolah-olah ada.

di diriku ada banyak perihal yang terengah-engah tidak

mampu menyeberang ke jantung ibuku, terpaksa menjadi

rahasia, dan aku merasa bersalah.

*

sejak kecil aku sering pergi ke hutan. aku membisikkan

pikiran dan perasaanku yang merahasiakan diri dari tinta

kepada pepohonan, sebelum mereka ditebang dan

berubah menjadi pintu dan jendela, kursi dan meja, atau

buku-buku.

setiap kali ibuku terpekur di hadapan lemari, aku

mungkin ada di sana menemaninya. ketika ibuku

berusaha membuat dirinya cantik sekali lagi, barangkali

rahasiaku yang menggenggam cermin untuknya. jika

ibuku tidur memeluk diriny sendiri, aku berharap ikut

menopang rindu dan rubuhnya yang kesepian.

dan andai dia menerima surat dari suaminya, pikiranku

sungguh ingin bergetar di jari-jarinya, perasaanku

sungguh ingin basah oleh air matanya.

*

ibuku masa lampau. kenangan. dia selalu mampu

mengecup ingatanku, namun ingatanku kening yang

cuma mampu menunggu dikecup. kata-kataku selalu

ingin mampu menyentuh jantungnya, namun mereka

tidak punya jemari.

puisi ini sama belaka. sekumpulan kata, batang-batang

pohon, yang bermimpi menjadi rumah tanpa dinding.

semata memiliki jendela, pintu, dan sesuatu yang

memeluki keduanya. rumah yang menunggu pertanyaan-

pertanyaan ibuku datang memberi penghuni.

2012

Melihat Peta

hari ini kematiaan membisikkan perihal-perihal yang indah.

langit pagi yang perangainya tenang dan hangat telah

ditanggalkan. beruluran jutaan jalan kecil, kaki-kakinya

mekar jadi kembang api yang terbuat dari awan hitam.

aku ingin tiba-tiba seisi tubuhku tercuri. seseorang

menangis memasangkan pakaian berwarna sederhana

dan wewangian sambil membayangkan tuhan

menyambutku dengan riang.

kau, entah di mana, membaa catatan yang aku tulis, aku

kirim, dan terlambat tiba.

hari terakhirku jadi hari pertama bagimu. kesedihanku

terbakar menjadi abu. kau tumbuh menjadi pohon yang

pucuk-pucuknya hendak menyentuh kebiruan angkasa.

*

peta memberitahuku semua harta karun tersimpan di

jantung rahasia hal-hal yang hancur. kau menggantung

seperti sesuatu yang tak mampu aku namai – mimpi atau

kenangan. di kepalaku, kau cahaya yang disaring kaca

jendela berdebu. memasukiku sebagai jiwa yang

kelelahan.

nanti malam, aku tak mampu menutup mata jendela. akan

aku biarkan ia menatap mata bulan, tempat barangkali

kau menitip rahasia.

sementara yang menetap di luar aku, segalanya

dendanmu. memendam dendam, kata ibuku, seperti

meminum segelas racun dengan harapan membunuh

orang lain.

aku tak ingin mendengar kabar pemakamanmu. biar

tubuhku dan seluru isinya yang tercuri. hiduplah kau.

2012

Menonton Film

semesta di mana orang-orang bijak mabuk mengelilingi

meja kayu besi sambil membahas masa depan kita. udara

terbuat dari asap, aku dan kau merangkak di tanah seperti

ular sebelum kaki-kakinya hilang. langit pada musim-

musim tertentu jatuh seperti potongan-potongan jigsaw.

jutaan simbol matematika menggantung di kabel-kabel

telepon dan lampu-lampu jalan. bunga-bunga akan

memberi petunjuk ketika kita kehilanan arah.

semesta di mana waktu hanya ada di cangkir-cangkir teh.

kehidupan nyata ibarat dunia kartun dan kartun terlihat

seperti kehidupan nyata, dan keduanya adalah sepasang

tetangga yang tidak saling percaya. ingatan dikosongkan

setiap pukul 6 sore, seperti matahari tenggelam. untuk

diisi berita malam yang membicarakan keluarga kita.

semesta di mana kau dimakan singan dan aku

menunggumu di mulutnya memegang tanda bertuliskan

nama aslimu yang tidak pernah kautahu sebelumnya.

semesta di mana setiap kali kau menyentuh gelas dengan

tangan kosong kau merasakan bisikan yang

mendesahkan. lengan dan kaku tidak diperlukan

samasekali. kita bercinta dengan menuangkan cahaya ke

mata satu sama lain.

semesta di mana furnitur ia hewan-hewan peliharaan

kesayanganmu. botol-botol anggur diisi dengan kelopak-

kelopak bunga untuk disajikan kepada bayi kita yang

baru lahir.

semesta di mana setiap kali matahari terbit, di kepalamu

tumbuh salur-salur tumbuhan beracun. setiap kali

matamu berkedip, aku seperti mendengar gelegar petir.

semesta serupa yang kita huni kini, tetapi aku tidak

pernah ada di sana.

2012

Mendengar Radiohead

aku ingin belajar menangis tanpa air mata, perasan

perasaan-perasaan yang lembab. aku percaya ada perihal

semacam itu; peri yang memperindah hal-hal perih, batu

yang bertahan di alir sungai, atau badai yang lembut.

aku tahu ketelanjangan tempat bersembunyi bunyi yang

lebih nyaring daripada sunyi.

dan dalam setiap yang pecah ada keindahan, hal-hal yang

berhak dicahayai senyuman; persolin maha yang

membentur lantai ruang tamu, lampu taman yang mati,

daun-daun dan daun jendela yang jatuh, hati yang patah

dan perpisahan, atau rindu bayi-bayi yatim piatu.

aku lahir dari ucapan-ucapan ibu yang lebih banyak ia

kecupan dengan diam; berlari adalah kesunyian,

barjalan adalah kebalikannya. aku bertahan bertahun-

tahun berlari dalam kesunyian menuju kau. aku mau

menemukanmu, agar mampu berjalan menggandeng

tanganmu mengelilingi pagi yang hangat. atau

mengantarmu pulang, menyusuri gelap, dan dengan

sepenuh ketulusan aku ingin menjaga dirimu dari diriku.

ketulusan, panjang dan susah dinikmati sepenuhnya,

seperti musim. kejujuran, singkat dan tidak mudah

diduga, seperti cuaca. namun jika kau menginginkan

jarak, aku akan menjadi ketiadaan yang lengang. sebab

ingatanm sedekat-dekatnya keadaan aku. lebih dekap

dari pelukan sepasang lengan.

kesalahanku padang rumput yang hijau. seperti ternak,

aku ingin makan dan menjadi gemuk. M\menjadi potongan-

potongan daging yang membuatmu enggan tersenyum

seusai makan. menjadi lemak yang kau keluhkan dan

menghabiskan uangmu. sementara kebenaran semata

meseum yang tidak kita sadari. jika ada waktu, kau akan

mengunjunginya. namun kau terlalu sibuk melupakanku.

masing-masing kita adalah kumparan diri sendiri, orang

lain, dan bayangan yang setia. tidak ada kemurnian.

dalam pengingkaranmu akan aku, ada cinta yang akan

membuatmu bersedih suatu kelak.

sementara aku, aku tahu cara mengisi kekosongan adalah

menunggu. dunia ini dipenuhi keseimbangan-

keseimbangan. tepat ketika seorang melihat matahari

sore menutup mata. di tempat lain ada seorang menatap

dari jarak yang tidak kau ketahui. aku tersenyum

menghangatkan kesedihanmu.

2012

M Aan Mansyur lahir di Bone, Sulawesi Selatan 14

Januari 1982. Buku puisinya antara lain Aku Hendak

Pindah Rumah. (2008) dan Cinta yang Marah (2009). Ia

tinggal di Makassar.

PUISI KOMPAS, MINGGU, 6 JANUARI 2013

Sajak-Sajak Chairil Anwar

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Sajak-Sajak Chairil Anwar

Tak Sepadan

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita pahami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.

Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datang
membawaku karangan kembang
Mawar merah dan melati putih:
darah dan suci
Kau tebarkan depanku
serta pandang yang memastikan: Untukmu.

Sudah itu kita sama termangu
Saling bertanya: Apakah ini?
Cinta? Keduanya tak mengerti.

Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri.

Ah! Hatiku yang tak mau memberi
Mampus kau dikoyak-koyak sepi.

AKU

Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

HAMPA

Sepi di luar. Sepi menekan-mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak satu kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti.
Sepi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Di Mesjid

Kuseru saja Dia
Sehingga datang juga

Kami pun bermuka-muka.

Seterusnya Ia Bernyala-nyala dalam dada.
Segala daya memadamkanya

Bersimpah peluh diri yang tak bisa diperkuda

Ini ruang
Gelanggang kami berperang.

Binasa-membinasa
Satu menista lain gila

Derai-derai Cemara

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

DOA

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling