Tag Archives: puisi pringadi

Puisi Pringadi Abdi di Pikiran Rakyat, 21 Oktober 2018

Jalanan Berlubang

Setiap malam ia berdoa
hujan turun tak lebih panjang
dari segala drama
Jalan-jalan telah berlubang
seperti dada seseorang
yang lama menunggu
kepastian sebuah hubungan
Air mata Tuhan turun bersimpati
dan kanak-kanakNya terlahir kembali

Sejatinya, ia tak begitu mencintai
masa kanak-kanak, ia juga
tak merasa begitu dicintai Tuhan.

Memahami Dirimu

aku terpaksa membantah, tak semua hal di dunia ini masuk akal
cinta dan kau telah membuatku menjadi orang buta
yang berjalan menggunakan tongkat demi temukan kebahagiaan

belum juga kupahami kenapa tuhan menciptakan kesedihan
kehidupan telah dipenuhi air mata
dan banyak yang terbiasa menambangnya setelah mengkristal
bak ladang garam yang luas membentang

aku menjadi tak acuh melihat orang meminta-minta
karena seperti negara, kadang kala meminta padahal tak butuh
cicilan utang masa lalu lebih besar dari utang baru
lalu di belakang berlagak besar dan kaya, berhasil dan kuasa

aku juga tak ada beda, begitu kerdil di hadapanmu
tak bisa kupahami dirimu dan kucari-cari alasan
agar semua orang setuju, kaulah yang rumit
pemasalahan demi permasalahan tak bisa diselesaikan

hati ini bagaikan pohon pisang yang ditanam di jalan berlubang
kau boleh saja menabrak dan menumbangkannya
atau mengerti, ada hal yang harus diperbaiki

Tiga Puisi Pringadi Abdi di Serambi Indonesia

dimuat di Serambi Indonesia, 23 September 2018

 

MENATAP ACEH DARI BIBIRMU

 

Bayangkan suatu pagi, langit dipenuhi ribuan jamur

Pesawat-pesawat melintas, dekat dengan darat

Televisi di ruangan jauh lebih gelisah dari hati

Yang baru saja dikhianati

 

Setetes darah tak akan menetes di bumi Aceh

 

Tapi sejak itu kami mulai terbiasa

Mendongeng tentang saudara kami yang hilang

Kenangan saat makan kambing

Pada sebuah sore yang kini binasa

Orang kampung yang tidak mengerti apa-apa

Selain tani, dan secangkir kopi bahagia

Didudukkan di depan anak-anaknya

 

Bayangkan suatu pagi, dirimu adalah salah satu

Dari anak-anak itu

Tidak ada film kartun lucu

Di depanmu, ayahmu dituduh pemberontak

Sebelum ia sempat menghabiskan

Secangkir kopi yang belum mendingin itu

 

Tak perlu mengerti apa-apa

Pikiran tak pernah begitu penting

Tak masalah memisahkan pikiran itu

Dari raganya.

 

Bayangkan suatu pagi, bukan kami

Yang melihat langit dipenuhi jamur.

Kau menyaksikannya sendiri

Saat hendak berjemur

 

Di ruang keluarga, televisi menyala

Pembaca berita berkata,

Apa yang lebih menyakitkan

Dari sebuah perpisahan?

 

 

 

SAJAK PETANI KARET

 

Tak dapat kucium suatu bau parfum

Tubuhnya yang telah terlalu lama beraroma

getah beku itu

kini seperti pohon karet di musim kemarau

Perasaan bahagianya meranggas

Ia tak ingin lagi kehilangan sisa air mata

yang sudah ditahan dengan susah payah

Tubuhnya kering seperti ranting

yang kini tak memiliki apa-apa lagi

Ia kenang harga komoditas

yang pernah membuatnya berbangga

Sebelum ia tak tahu harus berbuat apa

Lateks di belakang rumah, tak tahu nasib

Harga dirinya kadung lebih tinggi

Dalam kesendirian, ia berguman pelan

 

Aku adalah seorang petani

Namun menjadi petani saat ini

Sama halnya memilih mati

 

 

LADANG

 

aku mencoba menumbuhkan pohon di dalam kepalaku, tetapi
tak ada unsur hara yang memadai.
ada hamparan tanah yang gersang, tak dihuni siapa pun
sebatang rumput yang masih bertahan menyebut dahaga
tetapi itu cara terbaik menguji iman

 

 

 

Puisi Pringadi Abdi Surya, Suara Pembaruan

dimuat di Suara Pembaruan, 5 Desember 2010

Di Palembang Square

Dan tak terbaca, yang dulu kukenali
sebagai kota. Perempuan-perempuan muda
memakai hot pants, high heels, dan tanktops seolah udara
telah benar begitu hangat. Duduk di Solaria itu, aku
merinding dan kedinginan. Dinding-dinding terasa
sempit, dan malam yang mengepungku di luar
siap mengubahku jadi kelelawar. Kecuali mawar,
menyelamatkanku dari ketersesatan. Dan
begitu pun kota yang dulu kukenali ini makin tak
terbaca. Mungkin saja mataku yang rabun
dan perlu kaca mata.

Motif, VI

Andai kita berpisah, pastilah karena kematian telah
mengisi rongga dadaku. Sebab di langit manapun kita
berada, bulan masih tetap sama, dan kalender-kalender
yang bertanggalan, seperti helai dedaunan—
terlepas begitu saja dari ranting. Perjalanan seringkali
tampak asing. Jejak sepatu kaca, yang sengaja kau tinggalkan,
kerap tak terbaca. Dan gigil palem, menawarkan kesepian
yang lebih buruk dari cuaca. Aku tahu, aku tahu
keberadaanku yang jauh dari sempurna bikin matamu sakit,
tetapi hatiku yang tak mengenal rasa sakit mencoba tabah
melebihi semua gegabah yang sering kulakukan.
Andai kita berpisah, pastilah karena bulan
di langit sudah tak sama. Angin malam,
gerak bayangan di remang taman, dan
sebuah lampu di tengah kolam melengkapi musim;

Aku tergeletak. dadaku retak.

Motif, IV

Alhamdulillah, kakiku masih menjejak tanah. Aku
layangkan pandanganku ke sekitar, di mana engkau yang berjanji
menyambutku dengan tawa yang lebar? Dan merangkulku
seolah-olah tak akan pernah kau temukan
kehangatan yang sama itu; Langit mendung,
udara menciumi bunga bakung. Aku mengabungkan diri
pada musim ini. Tapi, alhamdulillah,
mataku yang basah tidak begitu perih, selain
sebuah koper yang rahasia, dan kotak mie bekas
berisikan kenangan-kenangan yang tak bisa lepas.
Tinggal menghabiskan sisa kopi kaleng, mengobati tubuhku
yang oleng. Siapa berpikir cinta ini telah selesai,
selama umur belum usai, dan sejarah hidup
begitu masai?

Motif, III

Aku tak terlambat masuk ke ruang tunggu. Sebagian kursi
sudah penuh. Seorang laki-laki sedang menopang dagu,
dan mengosongkan bola matanya yang abu.
Duduk di sebelahnya, aku memikirkan keberangkatan.
Berharap pramugari seksi memberikan kartu
namanya. Dan mengenalkan diri sebagai perempuan yang
sanggup menahan dadaku yang gemetar pada
ketinggian. Tetapi, masih lima belas menit lagi
sebelum semua jelas, apakah benar kematian itu
memang dekat adanya.

Motif, I

Dan barangkali di keningmu, hanya di
keningmu, kutinggalkan sajak cinta paling purba.
Tanpa ada kata-kata, kecuali hening yang
tersisa. Aku mengingat itu di sebuah taman—
sore hari, menaiki ayunan, memandangi langit
yang mulai gelap, seperti halnya kenyataan
—entah di mana terang. Aku, kemudian
berjalan ke arah kolam.
Keruh. Dan daun-daun tenggelam, cokelat
kemerahan, tetapi utuh. Barangkali,
udaralah yang bikin dada semakin busuk.
Sepotong ranting lunglai, lapuk
tergeletak pasrah
menanti sepasang tangan memungutnya
dan barangkali, aku mampu
menggambar keningmu di sana

SALAM KEPADA SISYPHUS

Begitu haus, kerongkongan meminta cium.
Sajak seperti udara, ada tetapi tak bisa
diraba. Begitulah puncak dalam pendakian panjang
itu. Seolah dekat, seolah dekat, padahal kematian
kian akrab. Daun-daun yang gugur diterpa angin
berserak, dan membusuk, entah ke arah lain
hanyut, mengapung,
tenggelam. Dan berabad
nasib telah menjadi sahabat. Di lereng gunung
yang curam, dan terjal. Sementara ajal
mengepung kesepian yang tak pernah habis.
Begitu haus, begitu haus, kerongkongan
akan nafasmu, yang melayang
dan tak pernah
kembali.

Tiga Puisi Pringadi Abdi Surya

Memeluk Bahaya

sayang, hiduplah dalam bahaya
dengan begitu, setiap hari engkau akan mengingat tuhan

tuhan hadir dalam kilatan peluru,
dalam langkah kaki yang terburu

sesuatu tak pernah berhenti mengejarmu
ia yang kalah adalah ia yang lelah

sayang, hiduplah sambil memeluk ketakutan
peluk lebih erat dari engkau memeluk bahagia

kelak, tuhan yang akan memelukmu
sebagai balas jasa kau telah mengingatnya
setelah lama ia dilupakan


Matikan Televisi

aku mencintaimu sehingga kumatikan televisi
bibirmu begitu merah
dan aku teringat api

di mataku, tubuhmu seperti sebatang pohon randu
yang paham arti meranggas
rambutmu yang hitam, bergelombang
aku terhanyut dan merasa berada dalam hutan Chopin
dengan bau tanah basah yang khas

mencintaimu adalah kerakusan, tidak mungkin
aku hanya menggenggam tanganmu atau
memeluk pinggangmu yang ramping
udara dingin di dalam ruangan pelan-pelan menghilang
perasaan terbakar ini, aku tidak tahu asmara atau api
lalu kau memintaku membuka tirai, juga jendela dan hidupku
bukan udara yang menyapa kita

aku mencintaimu, sehingga tak dapat kututup mata
meski kabut atau asap yang menyergap
membuatku tak mampu melihatmu sama sekali
bagaimana caramu bernapas, mengeluh, mengusap pipi
hanya bibirmu begitu merah, menyala
aku terbakar mulai dari ujung jari
hingga jantungku

Memeluk Seluruhmu

Aku ingin memeluk seluruhmu
dirimu yang lebih luas dari seluruh nama
kedua lenganku yang tak terbiasa
mengukur dunia—kelilingnya telah diaku
oleh columbus, menemukan dunia baru
tempat orang-orang lari atau mencari kesunyian

dunia baruku adalah kamu, tetapi seluruhmu
di luar nalarku

aku tak bisa berpikir jernih
sungai musi, sungai kapuas, sungai bengawan
diberi tawas setempayan masih
sekeruh ingatan

sampai aku merasa khianat
sampai aku mengusir sepenuh kalimat
yang diciptakan daun-daun merah kemarin
disematkan cicit-cicit burung sriti muda
yang terbang setinggi-tingginya

aku ingin memeluk seluruhmu
seperti lengan sayap burung itu
ketika hendak memeluk langit

Kesedihan

aku akan memulai cerita ini dengan kita

di ruang keluarga, televisi menyala, pembaca berita berkata

pertumbuhan ekonomi indonesia melambat, rakyat

bersedih, pejabat

bersuka cita dan negara dalam angan-angan

memiliki kebebasan berbuat, keadilan

pada titik itu, keadilan tidak menarik

aku menghabiskan dua piring nasi goreng karena

tubuhku yang besar, mandi dengan dua ember air

dan menghabiskan satu sabun dalam seminggu

sementara kau hanya minta setengahnya

keadilan tidak berarti semua orang harus hidup

dan dunia dipenuhi rumah susun, berlantai tiga ratus tiga tujuh

satu keluarga butuh waktu seumur hidup untuk turun tangga;

keluarga kita yang sederhana

memimpikan taman dengan bunga-bunga

tanaman labu siam yang merambat di pagar

semut pekerja yang menunggu mati 45 hari lagi

semua itu hanya ada dalam cerita

dan aku memelukmu, pelukanmu

yang lama tak kukenakan

kesedihanku bermula, berakhir juga dari dirimu

tak dapat memberikan hal paling berharga

sebagai hadiah ulang tahunmu nanti

membuatku patah, ranting kering di musim kemarau kemarin

aku harus katakan, mencintaimu dengan cara ini

adalah satu-satunya

tak akan ada yang bisa menirunya, dan meletakkan namamu

dalam fiksi-fiksi mereka