Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Tag: pringadi

Baby 5

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Baby 5


 

Kalau kamu belum mati hari ini, jangan sombong. Apalagi sampai bilang kalau malaikat maut tak akan sanggup menyabut nyawa kamu. Kematian bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dengan sebab yang dahsyat maupun yang remeh. Misalnya, tiba-tiba kamu lupa cara bernapas.

Akhir-akhir ini saya merasa sering lupa dan khawatir hal itu akan terjadi. Melihat telapak tangan yang bergerak sendiri di luar kuasa saya, mungkin ini perasaan yang sama yang dirasakan Tuhan ketika melihat makhlukNya membangkang. Saya mengatakan ini bukan dengan maksud menyamakan diri dengan Tuhan apalagi berniat jadi Tuhan. Hanya saja, saya merasa selalu akan ada hal-hal yang terjadi tanpa kita sadari, tanpa bisa kita mencegahnya.

Hari ini, saya mendengar sebuah kabar bahagia. Seorang teman pulang ke Palembang dan mengajak bertemu seorang perempuan yang diinginkannya. Dia melamarnya dan mendapat tanggapan positif. Senang rasanya, sebab saya membantunya untuk menyusun daftar kalimat yang harus diucapkannya.

Kira-kira begini daftar yang saya susun:

  1. Bicarakanlah sesuatu mengenai keterlambatan pesawat. (Saya menebak dengan benar pesawatnya akan ditunda keberangkatannya karena asap masih menutupi wilayah Palembang. Pasti pesawat baru berani berangkat ketika matahari sudah lebih lelaki)
  2. Bicarakanlah sesuatu mengenai diri dan visi dirimu ke depan.
  3. Katakan tentang usia, lalu katakan perasaanmu dengan menatapnya tajam.
  4. Minta dia menjadi hidupmu.
  5. Terakhir, saya menitip pesan kepadanya, jatuh cintalah karena kesiapan, bukan karena kesepian.

Syukurlah jika itu berhasil. Meski di sisi lain, saya sedang merasa sedih. Begitulah hidup, seperti dua sisi mata uang. Di saat yang sama, ada seorang lelaki yang tidak bisa pulang dan percintaannya di ambang perpisahan. Perasaan kehilangan seringkali membuat seseorang lebih baik mati.

Saya membutuhkan vitamin sea untuk menyegarkan pikiran. Kemudian terjebak dalam foto-foto pantai yang pernah saya kunjungi. Entah kenapa, pikiran saya menuju ke Ernest Hemmingway. Mungkin karena judul buku Lelaki Tua dan Laut yang ditulisnya. Mungkin juga karena saya tahu beliau mati bunuh diri setelah pernah 5 kali lolos dari maut.

Ketika menjadi sopir ambulans pada Perang Dunia I, Hemingway tersambar pecahan peluru, dan 237 pecahan peluru bersarang di tubuhnya. Beliau juga pernah tertembak saat berhadapan dengan hiu. Yang paling epik menurut saya adalah ketika ia membawa granat, mengarungi perairan Gulf Stream dengan kapal kayu sepanjang 11, 5 m demi memburu kapal selam Jerman. Hal itu bukan yang terakhir. Setelah itu beliau dua kali selamat dalam kecelakaan pesawat.

Lima kali selamat dari kematian, dan mampu bertahan dari penderitaan-penderitaan mahadahsyat, apa yang membuat Ernest Hemingway bunuh diri?

Mata saya terpaku pada satu foto. Tanjung Tinggi. Pantai yang disebut di Laskar Pelangi itu memiliki pemandangan yang khas. Batu-batu yang konon sudah ada dari zaman Jura seperti diletakkan rapi oleh raksasa. Pasirnya putih. Seorang perempuan tersenyum pada wilayah POV 1:3 yang biasa disebut dalam teknik dasar fotografi. Dan pemandangan itu membuat saya ingin kembali ke sana.

Apakah Ernest Hemingway pernah melihat pemandangan semacam ini? Atau bahkan pantai-pantai lain yang lebih indah, dan semakin indah bila menuju timur Indonesia?

Kamu harus mencanangkan perihal wisata dalam hidupmu. Keliling Indonesia, keliling dunia… jangan hanya diam di dalam kamar. Mati di dalam kamar karena sakit jantung atau stroke, atau kaget karena digigit nyamuk, itu memalukan sekali. Mati ketika menjadi musafir lebih keren.

Ahasveros, seorang raja Persia, dalam kitab Ezra disebut rela meninggalkan tahtanya untuk mencari sesuatu. Ia tidak tahu apa yang dicarinya, bahkan sampai ia mati, membusuk, hancur tulang-tulangnya.

Setelah mati, apa yang terjadi? Saya tidak tahu.

Agama-agama menyebutkan adanya kehidupan setelah kematian. Aneh rasanya jika sudah payah-payah bunuh diri, tahunya hanya pindah ke kehidupan yang lain. Di sana, seorang pelaku bunuh diri pasti akan frustasi mencoba bunuh diri lagi. Disebutkan bahwa kehidupan lain itu abadi, artinya, pelaku bunuh diri dapat mencoba semua teknik bunuh diri, mengulanginya terus-menerus sampai para penontonnya bosan.

Pada titik ini, saya berpikir, buat apa hidup dalam keabadian? Dan dalam keadaan pasrah menerima penghakiman, bahagia atau menderita selamanya?

Jika masuk surga, saya akan menyusun agenda berikut:

  1. Bercinta dengan bidadari yang selalu kembali perawan, yang kulit-kulitnya putih cerah, memantulkan cahaya.
  2. Mencoba meminum sungai madu, mengingat madu-madu asli mahal harganya ketika di dunia. Ah, tapi sebelum meminumnya, saya akan mengetesnya terlebih dahulu. Apakah ia dapat dibakar? Apakah ia tidak membeku bila diletakkan di dalam kulkas? Apakah ia tidak akan dikerubungi semut? Barangkali saja, buat jaga-jaga, sungai madunya juga dicampur air.
  3. Bercinta lagi.
  4. Tidur, tapi, apa ada rasa kantuk nanti?
  5. Bercinta lagi, eh tunggu dulu, apa nanti nafsu juga masih ada?

Saya menggeleng-geleng, mengangguk-angguk dan seorang yang berprinsip empiris harus menguji jawaban secara langsung. Apakah Ernest Hemingway meyakini empirisme?

Orang-orang yang benci agama seringkali menjadikan empirisme sebagai tameng. Mereka berteriak, “Jika Tuhan ada, muncul sekarang juga!”

Lalu hujan turun, seharusnya mereka berpikir hujanlah Tuhan.

Sebaliknya, jika masuk neraka, ah saya tidak ingin masuk neraka. Ngeri. Saya membaca buku siksa api neraka ketika masih kecil. Ada yang ditusuk-tusuk dengan besi panas, disiram dengan lahar, dan yang paling ringan siksaannya, berjalan di terompah api. Pasti panas sekali.

Sementara orang-orang menghindari panas di bumi. Di kamar memasang AC. Tak ada AC, siang-siang enaknya masuk ke dalam lemari es.

Saya pernah berpikir untuk masuk ke lemari es dan mencoba membekukan hati saya. Tapi sudah saya setel nol derajat celcius, hati saya tak beku juga. Saya takjub menyadari titik beku hati lebih minus daripada titik beku air.

Saya kemudian berkonsultasi ke mahasiswa Fisika tentang hal tersebut. Mahasiswa itu bilang, tidak seharusnya titik beku hati lebih minus daripada titik beku air. Ia mencopot hati saya dan menjadikannya sebagai objek penelitian.

Ia meminta waktu selama satu minggu untuk mencari kebenaran dan entahlah, saya merasa senang berjalan-jalan tanpa hati.

Di jalan saya melihat seorang pengemis, dan saya tak tergoda memberi uang kepadanya. Kemudian saya menonton drama Korea dan baru kali itu saya tak menangis. Saya pukul semua orang yang saya temui dan tidak ada perasaan bersalah.

Dalam keadaan tanpa hati saya berpikir, kenapa manusia diciptakan ada yang kuat dan ada yang lemah? Hal itu terjadi bukanlah agar yang kuat melindungi yang lemah, melainkan agar yang kuat melindasi yang lemah.

Dalam keadaan tanpa hati, waktu terasa cepat berlalu. Mahasiswa Fisika meneleponku dan memintaku datang menemuinya.

Kami bertemu di kafe. Kafe itu memainkan lagu-lagu cinta seperti lagu yang dinyanyikan kembali oleh Ahmad Dhani. Judulnya Kawin Tiga. Dalam keadaan tanpa hati, lagu itu terasa romantis sekali.

Mahasiswa Fisika itu menyerahkan sebuah kresek. Di dalamnya ada hati saya.

“Saya sudah tahu jawabannya…” katanya.

Saya diam.

“Hati kamu penuh cinta. Aku tak yakin, bahkan bila hati kamu diletakkan di Everest, ia dapat membeku. Cinta di hati kamu selalu lebih api dari api.”

Saya berusaha mencerna kata-kata itu dan berpikir apakah Hemingway pernah mendapatkan kalimat seperti ini di dalam hidupnya? Apakah Hemingway juga pernah merasakan cinta?

“Orang-orang yang punya cinta tidak perlu mati….” lanjutnya sambil menunduk. Kemudian seorang pelayan mengantarkan menu, dan berdiri di samping meja dengan pose siap mencatat kata-kata kami.

Sayangnya, saat itu, saya kehabisan kata-kata.

 

(2015)

Bersahabat dengan Alien

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

 

“Bagaimana rasanya punya pacar alien?”

Pertanyaan itu disusul dengan sejumlah pertanyaan lain yang berdengung seperti lebah. Kilatan lampu dari kamera DSLR milik para pemburu berita menimpa wajah Teruna tanpa belas kasihan. Ia ingin menjawab seperti cara artis D yang baru saja terpilih menjadi anggota legislatif, tetapi apa gunanya sebuah konferensi pers bila ia tidak memberikan satu pun jawaban memuaskan.

Keadaan seperti ini bukanlah hal baru bagi Teruna. Hanya saja, biasanya Teruna berada di posisi penanya. Pekerjaannya sebagai wartawan sebuah majalah baru-baru ini juga membuatnya bertemu Kim Hyun Soo. Alih-alih bertanya yang serius, terpesona pada kulitnya yang secerah buah pir, Teruna malah bertanya, “Apakah kamu benar-benar seorang alien?”

Teruna tidak tertarik membicarakan penjiplakan drama itu. Wartawan lain meributkannya. Tidak mungkin Kim Hyun Soo dibandingkan dengan aktor M. Kejantanannya berbeda. Teruna hanya berharap, SBS akan menuntut televisi yang menyiarkan sinetron tersebut untuk tidak disiarkan lagi.

 

~

 

Begitu mendengar Teruna akan mengadakan konferensi pers, saya begitu gelisah. Saya ingin mengasingkan diri sejauh-jauhnya. Beruntung, pada saat yang sama, anak-anak Adventurous Sumbawa memberikan undangan perjalanan ke Moyo.

Saya sendiri kaget ketika suatu hari menyalakan tivi, melihat berita dan dikatakan bahwa seorang gadis berusia sekitar 27 tahun tertangkap kamera sedang digendong seorang lelaki lalu menghilang tiba-tiba. Beberapa detik kemudian, kamera CCTV yang lain menangkap sosok yang sama dengan jarak yang begitu jauh berbeda. Tidak usah banyak penyelidikan, saya langsung mengenali sosok perempuan itu adalah Teruna. Dan laki-laki yang mukanya bercahaya adalah Si Alien. Alien itu pernah jadi sahabat saya.

Hati saya berakhir saat itu juga. Tidak mungkin saya bersaing dengan seorang alien. Tidak ada yang spesial di diri saya. Sama tidak spesialnya dengan martabak di penjuru Indonesia meski menggunakan merk “martabak spesial” di promosinya.

“Apa kamu akan kuat berpacaran dengan alien seperti dia?” tanya saya.

“Cinta selalu memberi kita kekuatan.” Teruna  menjawab penuh keyakinan.

Itulah dialog terakhir kami. Saya tidak setuju. Cinta tidak selalu memberi kita kekuatan. Mencintai Teruna membuat saya semakin rapuh.

Pagi seharusnya indah ketika kamu tidak tahu diam-diam ada yang begitu merindukanmu. Tapi pagi ini rindu tampak seperti ketiadaan ombak di bibir pantai. Laut ketenangan. Sampah-sampah plastik mengambang. Saya lebih menyukai laut yang berombak, lebih normal. Segala hal yang tampak tenang lebih menakutkan. Dia bisa berubah jadi monster ganas. Misalnya beberapa saat sebelum tsunami, laut akan terseret jauh dari bibir pantai dan jauh lebih tenang dari biasanya.

Para petualang muda Sumbawa berkumpul di Pantai Baru, Desa Labuhan. Dua kapal sudah disiapkan. Teruna pasti sedang mempersiapkan apa-apa saja yang ia harus katakan. Saya tidak menyiapkan apa-apa kecuali baju ganti dan gitar.

Randal Patisamba langsung mengambil tempat di hidung perahu. Itu sebenarnya tempat favorit saya juga, tapi untunglah hari ini saya tak begitu berminat memegang pancing dan menyaksikan perahu membelah lautan. Saya ambil tempat di sisi kiri perahu. Di sebelah saya semuanya perempuan. Belum mulai berjalan, mereka sudah saling papo (foto). “Pringi, senyum dong!” Saya pun ikut terkena papo.

Apa perasaan Teruna di hadapan kamera. Dia pernah meminta saya untuk memfotonya. Dalam pose apa pun. Sebagai lelaki, mendengar itu, tidak mungkin pikiran tidak menjadi kotor. Dan belum ada penjual sapu otak di toko mana saja. Teruna pastilah tidak akan merasa nyaman saat ini. Apalagi si Alien itu sudah menghilang. Dasar lelaki tak bertanggung jawab. Padahal sudah saya pesankan untuk tidak meninggalkan Teruna apa pun yang akan terjadi.

Kapal nelayan yang kami naiki mulai berjalan. Saya mulai mengencangkan jaket, menebar pandangan, dan melihat salah satu perempuan yang duduk di sebelah kanan memikat. Kamu. Gigimu gingsul seperti Agnes Monica. Bedanya, bila Agnezmo terskandal nipple slip di video klip Coke Bottle, kamu tampak manis dengan kerudung. Saya tidak mempermasalahkan seorang perempuan setertutup apa dengan pakaiannya, asal ia cukup terbuka di pikirannya, ketimbang sebaliknya. Saya curi-curi pandang ke arahmu. Kamu sepertinya rela-rela saja pencuri datang menyambangimu.

Halo, kenalkan, saya pencuri.

Apa hati kamu masih ada di tempatnya?

Lalu kamu menatapku, tersenyum.

Saya hanya bisa mengenang senyummu selama dua jam perjalanan itu. Lebih lambat setengah jam dari waktu yang direncanakan sebab mesin kapal satunya satu tidak menyala sehingga lajunya tidak sekencang seharusnya. Penumpang lainnya banyak yang tertidur sambil menikmati matahari pagi yang hangat. Pulau Moyo sudah terlihat dari kejauhan. Saya tidak bisa tidur di atas laut. Kamu juga tidak tidur di atas laut. Tertunduk, termenung, apa kamu sedang memikirkan negara?

Saya beranikan diri untuk mengajak kamu mengobrol, “Hai…” Kaku sekali sapaan ini. “Sudah berapa kali ke Moyo?” tanya saya.

“Ini yang pertama, Mas…” jawab kamu. Suaramu manis. Ibumu pasti sering makan gula ketika mengandung kamu.

“Jadi, ini petualangan pertamamu?”

“Sebelumnya pernah ke Ai Loang…”

“Kamu tahu, paling dekat ke Moyo, lewat Ai Loang. Naik dari Sea Side.”

“Iya, tapi kan hampir satu jam perjalanan daratnya.”

“Memang, barangkali kamu takut terlalu lama di laut.”

“Nggak Mas, Sari suka laut.”

“Sari?”

“Iya. Mas siapa namanya?”

Nah, beginilah cara mengetahui nama tanpa bertanya nama. Setelah ini saya akan tahu akun facebookmu, nomor ponselmu, PIN BBM kamu, segalanya. Tuan Alien yang terhormat, yang dapat mendengar suara sedetil apa pun dari jarak ratusan kilometer, cobalah dengar suara hati saya ini. Kamu boleh merebut Teruna dari pandangan saya, tapi saya sekarang akan punya Sari. Saya akan move on dari Teruna.

 

~

 

Begitu Labu Aji terlihat, semua orang bersemangat. Sudah pukul sembilan, Teruna akan diwawancara pukul satu siang nanti. Kemarin Teruna berulang tahun, tapi sengaja saya tak memberi ucapan selamat. Toh, pasti ponselnya akan dinonaktifkan. Semua orang akan berburu kebenaran, bertanya tentang tuan alien itu. Malam tadi, Teruna pasti mengurung diri di kamar. Hotel bintang lima yang privasinya terjaga. Saya suka bingung juga dengan definisi privasi itu. Bila menjelang bulan puasa, hotel-hotel melati dan wisma digerebek oleh ormas-ormas, hotel bintang lima tidak pernah tersentuh. Padahal saya yakin, para pelacur kelas atas yang dipakai borjuis dan birokrat kelas atas pula banyak sedang bercinta di ruangan ber-AC dan berkasur empuk itu.

Komandan Sirajuddin memberi komando untuk berhati-hati menginjak dermaga. Randal Patisamba dengan sigap melompat tanpa rasa takut. Dasar laut terlihat. Pasir putih, penuh terumbu. Padahal hanya beberapa meter dari bibir pantai. Tapi spot snorkling paling menarik ada di Takat Segale yang terkenal dengan atolnya atau di Tanjung Pasir, sisi lain pulau Moyo dengan aneka jenis ikan dan terumbu. Saya takut snorkling. Saya takut pada keberadaan ular laut dan bulu babi. Saya takut pada arus bawah laut meski hanya di laut dengan kedalaman paling dalam 5 meter. Beberapa bulan lalu, lima turis Jepang berpredikat master dive saja hilang di Nusa Dua. Hebatnya semua bisa selamat dan terdampat di pulau-pulau kecil puluhan kilometer dari tempat mereka menyelam.

Seusai saya menapakkan kaki di dermaga, kamu selanjutnya. Dari gesturmu, kamu meminta pegangan. Saya berikan tangan kanan, kamu menggenggamnya. Jadi begini rasanya telapak tanganmu. Ada pikiran melintas, sebaiknya kamu terjatuh saja. Lalu saya akan menangkapmu, atau menghentikan waktu sejenak seperti yang biasa Tuan Alien lakukan. Tapi momen-momen seperti itu sangat picisan.

Kita beristirahat di rumah warga yang sudah dikosongkan. Meletakkan tas, menaruh barang-barang yang bisa ditinggalkan, buang air kecil dan menikmati terik matahari pinggir laut yang digandrungi bule-bule berpigmen buruk.

Satu tower terlihat menjulang dan sendiri. Saya sedikit penasaran di mana resor milik Amanwana. Tarifnya 1000 dolar. Lady Diana dan Doddi Al Fayed pernah menginap di sana. Sharapova juga. Untunglah Gayus Tambunan tidak. Ia sudah puas duduk di tribun Wimbledon sebelum tertangkap meski penjara adalah sebuah sandiwara lain. Tahanan yang punya uang bisa dapat kamar mewah dan keluar penjara diam-diam saat malam hari. Asal tidak ketahuan Denny Indrayana saja.

“Kamu tahu kenapa kenapa Tuhan menurunkan Adam ke bumi?” Tuan Alien itu bertanya suatu hari. “Kalau tidak begitu, tidak akan ada kisah cinta-mencintai…” Tuan Alien itu menjawab sendiri pertanyaannya.

Teruna pasti sedang patah hati akut. Tuan Alien begitu pandai merayu. Kata-katanya penuh filosofi. Tak ada perempuan yang tak luluh.

Saya tak ingin memikirkan Teruna lagi. Biarlah, ada kamu sekarang. Ini bukanlah sebuah pelarian. Ini harapan.

Lalu kita berjalan kurang lebih satu jam ke Mata Jitu. Air terjun yang selama ini hanya saya lihat di foto, yang cerita keindahannya begitu mendunia itu akan segera tampak di depan mata saya. Perjalanan mendaki. Saya sengaja samakan irama langkah kaki saya dengan langkah kaki kamu. Sampai-sampai jika ini sebuah lomba gerak jalan, kita akan menang dengan pasti.

“Kamu kuat mendaki?”

“Insyaa Allah, Mas…”

“Yakin?”

“Kalau pun tidak, kan ada Mas Pringi yang akan membopong Sari…”

Wah, alamat. Terik matahari yang masih gigih menembus celah dedaunan tidak begitu mendera kulitku. Memandangimu saja sudah sejuk rasanya. Seharian kemarin, padahal badan saya tak enak, tidur saya pun tak nyenyak. Memikirkan Teruna, memikirkan dia sedang menangis, dada saya sesak. Untunglah kemarau setahun, dihapus hujan sehari. Luka sepanjang umur pun bisa terobati dengan cinta pandangan pertama. Kamu.

Jantung yang berdetak lebih cepat, keringat yang menetes seperti berada di kran bocor, dan tenggorakan yang semakin haus adalah kelelahan. Kamu tidak sekali pun mengeluh. Malu dong kalau saya mengeluh dan meminta beristirahat. Untunglah, hampir sampai di batas stamina, suara air terjun itu terdengar. Selamat datang di Hutan Buru Pulau Moyo. Kita pun berfoto di sana. Saya sudah berhasrat ingin mencemplung ke air terjun itu sebelum Komandan Sirajuddin berkata untuk melanjutkan perjalanan ke Kolam I. Tidak jauh. Hanya 200 meter. Dua ratus meternya orang Sumbawa bisa lebih dari satu kilometer.

Dan Komandan Sirajuddin benar adanya, hanya sekitar 200 meter dan surga yang ditinggalkan Tuhan di dunia itu salah satunya ada di Pulau Moyo. Diberkahilah orang-orang yang mengungsi dari Sumbawa dan menemukan Pulau Moyo di zaman Soekarno demi menghindari pajak. Kolam berair hijau berkilauan seperti zamrud, beralaskan batu kapur terbentang luas. Teksturnya seperti terasering. Diornameni daun-daun menguning yang jatuh tertiup angin. Saya melihat senyummu merekah. Surga di depan mata, dan bidadari ada di samping saya. Meski katanya, terjemahan yang tepat untuk wanita surga bukanlah bidadari (angel), melainkan perawan (virgin).

Randal Patisamba memang orang yang paling berinisiatif. Dia membuka baju dan langsung melompat ke kolam itu. Saya tidak membuka baju, malu pada lipatan lemak di perut. Saya langsung menggamit tangan kamu. “Ayo!” Dan kita kembali menjadi anak kecil yang lugu dan tak malu-malu di hadapan air.

Buuur!

Tubuh kita adalah batu yang dilempar. Tubuh kita adalah kanak-kanak abadi yang tak akan takluk pada permainan zaman kini—mata yang selalu berada di depan layar, dan jempol yang tak habis berolahraga melebih waktu-waktu lari pagi. Surga seharusnya cukup seperti ini. Keindahan alam yang tidak ada duanya, dan seorang kekasih yang setia mencintai, tak menua dan abadi, meski saya sendiri tak yakin, jika emosi masih ada setelah kehidupan ini, apakah cara hidup yang selalu bahagia itu adalah kebahagiaan, atau memicu kebosanan? Kebahagiaan seperti ini ada karena upaya dan ketahanan dari perjalanan, karena tenaga dan air mata yang terkuras untuk menghadapi setiap tantangan.

“Pringi… Pringi…”

Ada suara laki-laki memanggil nama saya. Saya menoleh ke kamu yang berenang di samping saya. “Sari, kamu dengar suara itu?”

Kamu menggeleng.

“Pringi… Pringi… dia tak akan mendengar aku. Aku hanya berbicara padamu. Jadi, tanpa aku, apa kamu sudah cukup bersenang-senang?”

Ini suara yang begitu kukenali. Saya melihat ke atas pohon. Di setiap cabang. Di setiap dahan. Dan… dia, Tuan alien, ada di salah satu pohon yang tinggi, hanya memakai celana pendek, tubuhnya berkilau lebih baik dari wajahnya sebelum kembali berkata, “Apa kamu lupa aku menyukai tempat-tempat yang indah nan sepi untuk mengasingkan diri?”

 

~

“Bagaimana rasanya bersahabat dengan alien?”

Pertanyaan ini tidak menarik. Teruna mengirimkan pesan singkat yang saya baca malam sebelum kepulangan dari Moyo. Tower menjulang itu ternyata tower milik sebuah provider seluler. Ada sinyal yang cukup baik di Pulau Moyo, bahkan mendapat EDGE.

“Kamu bahkan lupa ulang tahunku, ya?”

“Kamu juga lupa katanya ingin membuatkan puisi terindah buatku di hari ulang tahunku?”

“Kamu juga lupa, kamu pernah bilang, sebagai apa pun kita, kamu akan tetap menemaniku bicara?”

Berturut-turut SMS masuk. Saya tak ada bisa menjawab satu pun pertanyaannya. Tuan Alien itu sekarang sedang naik perahu bersama saya. Identitasnya tentu tidak diketahui orang-orang. Dia mencuri pandang ke arah kamu, saya tahu itu. Kekhawatiranku kemudian terbukti ketika dia berbisik, “Perempuan yang bersamamu tadi itu cantik, Pringi… Dia mirip cinta pertamaku.”

 

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

 

 

 

Hari #1: Peran

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Hari #1: Peran

Seorang teman, penulis, menulis sebuah status di Facebooknya, “Adakah satu penulis saja yang kamu percaya sehingga apapun yang ia tulis kamu akan langsung membelinya?”

Jawabanku selalu tidak.

Alasannya sederhana. Seperti halnya iman yang naik turun, semangat yang naik turun, kualitas sebuah tulisan pun naik turun. Terlepas dari sudah beresnya urusan kebahasaa seorang penulis, keistimewaan sebuah gagasan yang ditemukan penulis selalu berbeda. Pringadi Abdi di Dongeng Afrizal tentu berbeda dengan Pringadi Abdi di Simbiosa Alina, apalagi di 4 Musim Cinta. Mereka bukan Pringadi Abdi yang sama. Termasuk Pringadi Abdi yang sedang menulis blog ini sekarang adalah sosok yang sama sekali berbeda. Perbedaan sepersekian detik saja sudah akan menghasilkan sosok yang baru. Sosok yang berbeda.

Tiba-tiba, tentang perbedaan itu, aku mengingat seorang teman. Dia bekerja di Direktorat Jenderal Pajak. Sementara aku bekerja di Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Kantornya bernama KPP. Sementara kantorku bernama KPPN. Yang menarik darinya adalah dia selalu menganggapku benci dengan Ditjen Pajak. Dia merasa aku iri dengan penghasilan yang diterimanya. Tentu saja itu tidak benar.

Pringadi Abdi selaku PNS Kemenkeu menganggap Perpajakan adalah keluarga dari Treasury. Treasury juga bahkan memiliki peranan penting dalam penerimaan negara. Salah satunya adalah memastikan tiap satu rupiah pun masuk ke rekening kas negara. Karena itulah Ditjen Perbendaharaan membuat MPN (Modul Penerimaan Negara) yang kini sudah MPN G2. Tentu temanku itu tak begitu paham tentang MPN G2.

Pringadi Abdi selaku PNS Kemenkeu tentu mengharapkan target penerimaan pajak tercapai. Pringadi Abdi memikirkan negara dapat mampu memenuhi belanjanya. Itu jelas dan tidak terkompromikan.

Tapi Pringadi Abdi juga adalah rakyat. Rakyat membayar pajak. Bukan hanya dari pekerjaannya sebagai PNS, tapi Pringadi Abdi sebagai penulis juga. Sebagai rakyat dan penulis itu, Pringadi Abdi merasa Ditjen Pajak bekerja tak maksimal. Misalnya, belum ada sosialisasi mengenai pajak royalti ke para penulis, atau masih adanya praktik korupsi di instansi tersebut dan itu menimbulkan ketidakpercayaan atas performa Ditjen Pajak.

Ya, aku pikir hal-hal seperti itu wajar.

Soal peran ini juga, aku jadi teringat tentang rokok. Seperti yang kalian tahu, aku tak merokok dan tak suka berada di dekat perokok. Tapi aku harus berinteraksi dengan banyak perokok. Yang jelas, bila ada orang ke rumahku atau ke kosku, dengan tegas akan kukatakan tidak boleh merokok. Tapi kalau aku yang pergi ke rumahnya dan melarang dia merokok kan aku yang keterlaluan. Itu sudah resiko dan peran kita sebagai manusia yang menerima diperlukan. Begitu pun kalau ke kafe, nongkrong, duduk di tempat yang diperbolehkan merokok, ya aku nggak akan melarang dia merokok. Kita cukup sama-sama tahu, dia butuh merokok, dan aku tak suka rokok. Cukup kita atur tempat duduknya agar asap rokok tak mengarah ke aku.

Sayembara Penulisan Resensi 3 Novel

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Pemenang 1: Rp 1.500.000,-
Pemenang 2: Rp 1.000.000,-
Pemenang 3: Rp 500.000,-
Pemenang 4: Paket Buku dari Penerbit Exchange
Pemenang 5: Paket Buku dari Penerbit Exchange

Ketentuan dan Persyaratan:

1. Peserta bisa memilih 1 dari 3 judul novel yang hendak diresensi: 4 Musim Cinta, ToBa Dreams, dan A Girl Who Loves A Ghost.
2. Tidak ada batasan panjang resensi.
3. Resensi diunggah di blog/website pribadi peserta atau di akun media sosial peserta seperti FB, Goodreads, Kompasiana, dll. dengan menampilkan kover buku yang diresensi.
4. Peserta boleh membuat lebih dari 1 resensi.
5. Yang dinilai hanyalah kualitas konten resensi.

Kirimkan email berisi link resensi Anda dan biodata Anda ke: ptkaurama@gmail.com, cc: bunda_laksmi@yahoo.com dan fiksiexchange@gmail.com, paling lambat 25 Mei 2015. Cantumkan tulisan “Sayembara Resensi 3 Novel” di judul email.

Pemenang akan disiarkan di situs Penerbit Exchange (www.kaurama.com) dan via email peserta pada 05 Juni 2015.

 

Info novel

4 Musim Cinta, Harga Rp59.500,-

Toba Dreams, Harga Rp49.500,-

A Girl Who Loves The Ghost, Harga Rp80.000,-

Bisa didapatkan di toko buku di Indonesia

atau pemesanan langsung ke 085239949448.

Insurgent dan Dunia Kecil Kita

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

 

 

Pemberontakan Tris berlanjut. Bakda penyerangan terhadap Abnegation, atas perintah dan rekayasa Jeanine, Tris dan Four harus terus melarikan diri, mencari faksi Dauntless yang lain, untuk melakukan pembalasan terhadap Jeanine.

Jeanine sendiri mencari kotak pesan sang pendiri, yang ditemukan di rumah keluarga Tris. Kotak pesan itu hanya bisa dibuka oleh seorang Divergent. Jeanine memulai pemburuan terhadap para Divergent. Ternyata, tidak setiap Divergent itu sama. Butuh seorang Divergent yang spesial yang dapat membuka kotak itu.

Seperti di film pertama, Divergent, dunia dibagi menjadi beberapa faksi: Dauntless, Erudite, Abnegation, Condor dan Amity. Mereka percaya faksi tersebut ada untuk menjaga kedamaian. Mereka juga percaya merekalah kaum manusia yang tersisa. Mereka berada dalam sebuah wilayah di dalam dinding. Dunia di luar dinding adalah dunia yang dipercayai penuh dengan ancaman bagi kemanusiaan.

Pola cerita seperti juga dapat ditemui di film The Maze Runner. Sekelompok pemuda terkurung di dalam suatu tempat. Pada waktu tertentu, pintu akan terbuka dan terhampar labirin mengelilingi tempat itu disertai monster. Bedanya, mereka percaya bahwa di balik labirin itu ada jalan keluar.

Jalan keluar itu menjadi solusi di Insurgent. Kotak pesan para pendiri yang ingin dibuka Jeanine tidak menyingkap fakta mengencai ancaman para Divergent, malah justru sebaliknya. Pendiri kota mengatakan bahwa keberadaan faksi adalah sebuah eksperimen untuk melahirkan Divergent, yang dapat melampaui semua faksi yang ada. Karakter Divergent dianggap dapat menyelematkan umat manusia, sebuah harapan baru bagi kemanusiaan. Divergent 100% itu ada para diri Tris.

Sementara di The Maze Runner, jalan keluar, menyingkap fakta lain. Dunia di luar labirin adalah dunia yang kacau. Mereka menjadi eksperimen di dalam tempat tersebut juga untuk mencari solusi kemanusiaan.

Di Insurgent, fakta yang sama juga disiratkan ketika di akhir cerita, Jeanine berkata, “Apa yang  kita ketahui tentang dunia di luar tembok sementara sudah 200 tahun berlalu sejak sistem ini didirikan?”

Di situ aku pun bertanya-tanya, tentang keberadaan manusia. Kita beribu tahun percaya, kita adalah manusia satu-satunya di alam semesta. Kita hidup di suatu tempat bernama bumi, dilingkupi atmosfer yang memisahkan kita dengan luar angkasa. Ada keinginan untuk menembus langit dan sampai kini, misi demi misi baru mengantarkan manusia bermimpi ke Mars. Sementara ada banyak galaksi lain di alam semesta.

Jangan-jangan kita ini seperti Divergent. Ditempatkan di suatu tempat, sengaja dibagi beberapa faksi, terisolasi dan dibuat percaya kitalah manusia satusatunya di alam semesta, tahutahu hanya sebagai sebuah eksperimen untuk kemudian melahirkan manusia yang mampu melampaui faksi yang dibikin di awal itu.

Menurut kamu?

Tuhan

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Tuhan

Aku tidak tahu apakah cerita ini dapat menjawab keberadaan Tuhan atau tidak.

Pernah aku mencoba untuk ngeteng pulang dari Lombok ke Sumbawa. Biasanya, aku selalu naik travel. Hanya tinggal duduk manis di kursi, kemudian travel akan mengantarkan aku sampai tepat di depan gerbang kantor. Aku ingin merasakan pengalaman baru. Naik angkutan sendiri, naik kapal laut sendiri. Aku pikir itu lebih mengasikkan.

Dari Lombok Timur, sebelumnya aku sempat singgah di Pancor dulu, aku diantar oleh temanku sampai pelabuhan. Aku membayar kapal sesuai tarif dan tidak menunggu lama, ada kapal yang sudah hendak berangkat. Petugas pelabuhan mengantarkan aku sampai ke tepian dengan buru-buru karena jangkar sudah diangkat, kapal sudah mulai bergerak. Aku melompat dari tepian ke kapan yang baru berjarak kurang 1 meter dari tempat berlabuh. Tentu, melompat hanya beberapa puluh centimeter anak kecil pun bisa.

Aku pikir aku akan baik-baik saja. Aku mencari bis-bis yang menuju ke Sumbawa. Tapi semuanya penuh. Bis ke Bima pun penuh. Aku pun menyerah dan mencari mobil travel, penuh juga. Yang ada bis-bis ke Taliwang. Tentu ke Sumbawa Barat berbeda dengan ke Sumbawa Besar.

Aku mengarungi selat Alas itu selama dua jam tanpa kepastian. Sang sopir bis bilang, biasanya di pelabuhan Poto Tano akan ada bis. Sesampainya di Poto Tano, sudah tidak ada bis. Aku menunggu kapal-kapal berlabuh, menunggu mobil-mobil turun, tetapi tak ada angkutan ke Sumbawa Besar. Jam sudah menunjukkan pukul 5 lebih. Penjaga warung bilangnya bis ke Sumbawa akan ada nanti malam sekitar jam 9. Itu satu-satunya.

Masih ada jarak sekitar 100 km dari Tano ke Sumbawa Besar. Dan aku benci malam.

Penjaga warung menyarankan aku ke Alas. Naik ojek. Katanya di sana ada bis sore. Aku pun segera naik ojek dari pelabuhan. Membayar 20.000 untuk belasan kilometer tidak rugi kupikir. Di jalan aku bergumam di dalam hati, “JIKA TUHAN ADA, BAGAIMANA PUN CARANYA, AKU AKAN SAMPAI KE SUMBAWA BESAR.”

Tuhan nyaris tidak ada ketika sesampainya di Alas, dikatakan bahwa bis terakhir sudah berangkat setengah jam yang lalu. Aku berusaha tidak panik dan tetap tenang. Tukang ojek yang mengantarku tidak memberi solusi apa-apa. Dia pamit dengan segera.

Dalam keadaan bingsal, bingung dan kesal, seseorang menyapaku. “Maaf Mas, mau ke Sumbawa?”

Aku masih dalam keadaan waspada dan berkata, “Iya…”

Dia kemudian bilang, “Ikut kami saja. Tapi sebentar, mobilnya sedang diperbaiki.” Dia menunjuk sebuah mobil angkutan tua berwarna kuning tak jauh dari tempatku berdiri. Aku mengenali itu sebagai angkutan dalam kota Sumbawa. Beberapa orang sedang berada di bawah mesin, mengutak-atik sesuatu.

“Ini tadi dapat carteran ke rumah sakit. Pulangnya kosong. Tapi ngadat. Kalau mau ikut, tunggu sebentar ya.”

Aku mengangguk mengiyakan. Lima belas menitan aku menunggu. Mobil itu akhirnya selesai dibenahi. Klaharnya pecah. Ya mobil itu masih semi rusak. Meski bisa berjalan, dengan bunyi klotak-klotak, ia hanya bisa berjalan pelan. Aku pun dengan sabar menikmati pemandangan malam tepi laut sepanjang jalan. Dan menatap bulan yang bersinar terang. Sekitar lima jam baru aku sampai di Sumbawa.

Hari itu aku meyakini, Tuhan benar-benar ada.