Tag Archives: pidato nobel sastra

Elogio de la lectura y la ficción: Pujian untuk Membaca dan Karya Fiksi (Pidato Mario Vargas Llosa, Penerima Hadiah Nobel Sastra 2010)

“Elogio de la lectura y la ficción,” Mario Vargas Llosa. Disampaikan sebagai pidato penerimaan Hadiah Nobel Sastra 2010 di hadapan Akademi Swedia, Stockholm, 7 Desember 2010. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus.

Saya belajar membaca pada umur lima tahun, di kelas Bruder Justiniano di Colegio de la Salle, Cochabamba (Bolivia). Ini hal terpenting yang pernah berlangsung dalam hidup saya. Hampir tujuh puluh tahun sesudahnya saya masih ingat jelas kegaibannya, menerjemahkan kata-kata dalam buku menjadi imaji-imaji, memperkaya hidup saya, mendobrak sekat-sekat ruang dan waktu dan memungkinkan saya berkelana bersama Kapten Nemo dua puluh ribu mil ke dasar laut, bertarung bersama d’Artagnan, Athos, Portos, dan Aramis melawan intrik-intrik yang mengancam Ratu pada zaman Richelieu yang culas, atau berjalan terseret-seret di bawah tanah Paris, berubah menjadi Jean Valjean, membopong badan lembam Marius di punggung.

Membaca mengubah mimpi menjadi hidup dan hidup menjad mimpi dan menempatkan semesta sastra dalam jangkauan anak kecil seperti saya dulu. Ibu saya bercerita bahwa hal pertama yang saya tulis adalah kelanjutan cerita-cerita yang saya baca karena saya sedih mereka selesai atau karena saya ingin mengganti akhir ceritanya. Dan barangkali inilah yang saya perbuat sepanjang hidup tanpa menyadarinya: mengulur-ulur dalam waktu –seraya saya besar, dewasa, dan menua—kisah-kisah yang mengisi masa kanak-kanak saya dengan keriangan dan petualangan.

Saya harap ibu saya bisa berada di sini, perempuan yang menitikkan air mata membaca puisi-puisi Amado Nervo dan Pablo Neruda, dan juga kakek Pedro, dengan hidung besarnya dan kepala botaknya yang berkilap, yang menyanjung syair-syair saya, serta paman Lucho yang mendorong saya dengan begitu bersemangat agar mencurahkan segenap jiwa raga untuk menulis, sekalipun sastra, di tempat dan zaman itu, begitu minim menafkahi para pelakunya. Sepanjang hidup saya memiliki orang-orang seperti itu di samping saya, orang-orang yang mencintai dan menyemangati saya dan menularkan keyakinan mereka saat saya ragu. Berkat mereka, dan jelas karena kedegilan saya dan nasib mujur, saya mampu membaktikan sebagian besar waktu saya untuk gelora tersebut, keranjingan dan keajaiban menulis, menciptakan sebuah kehidupan paralel di mana kita bisa berlindungan dari kesusahan, yang membuat yang luar biasa jadi biasa dan yang biasa-biasa saja jadi luar biasa, melesapkan kekacauan, memperelok kejelekan, mengabadikan kesekejapan, dan mengubah maut menjadi tontonan sambil lalu. Continue reading Elogio de la lectura y la ficción: Pujian untuk Membaca dan Karya Fiksi (Pidato Mario Vargas Llosa, Penerima Hadiah Nobel Sastra 2010)

KOPER AYAH SAYA (Pidato Nobel Orhan Pamuk)

Dua tahun sebelum kematiannya, ayah saya memberikan kepada saya sebuah koper kecil yang sarat dengan tulisan-tulisan,  manuskrip-manuskrip, dan catatan-catatannya. Dengan separuh bercanda dan separuh mencemooh, dia mengatakan kepada saya bahwa dia ingin saya membacanya setelah dia “pergi”, yang artinya setelah dia wafat.

“Coba kau lihat-lihat saja,” katanya, dengan sedikit malu-malu.
“Kalau-kalau ada sesuatu di dalamnya yang bisa kau gunakan. Barangkali setelah aku ‘pergi’ kau bisa menyeleksi dan mempublikasikannya.”

Kami berada di ruang studi saya, dikelilingi oleh buku-buku. Ayah saya mencari-cari tempat untuk menaruh koper itu, berjalan mondar-mandir bagaikan seorang yang ingin melepaskan diri dari beban menyakitkan. Pada akhirnya, dia menaruh koper itu dengan khidmat di salah satu sudut ruangan yang tak begitu mencolok. Itu adalah momen memalukan yang tak pernah kami lupakan, namun setelah peristiwa itu lewat, kami kembali kepada peran kami seperti biasa, menghadapi hidup dengan ringan, dengan candaan kami, cemoohan-cemoohan kami yang membuat kami santai. Kami bercengkerama sebagaimana biasa kami lakukan, tentang hal-hal kecil sehari-hari, dan persoalan-persoalan politik Turki yang tak kunjung usai, dan perjalanan-perjalanan bisnis ayah saya yang kebanyakan gagal, tanpa merasa terlalu sedih.

Saya ingat bahwa setelah ayah pergi, saya menghabiskan beberapa hari berjalan mondar-mandir melewati koper itu tanpa sekali pun menyentuhnya. Saya sudah merasa karib dengan koper kulit kecil yang berwarna hitam ini, dan kuncinya, dan sudut-sudut bulatnya. Ayah saya terbiasa membawa-bawa koper itu dalam perjalanan-perjalanan dekat dan terkadang memakainya untuk membawa dokumen buat kerja. Saya ingat bahwa sewaktu saya kecil, dan ayah saya pulang dari suatu perjalanan, saya akan membuka koper kecil ini, menggerayangi benda-benda di dalamnya, seraya menghirup aroma kolonye dan aroma negeri-negeri asing. Koper ini adalah teman yang akrab, pengingat kuat akan masa kecil saya, masa lalu saya, tapi kini saya bahkan tak bisa menyentuhnya. Mengapa? Tak diragukan lagi itu lantaran bobot misterius dari isinya. Continue reading KOPER AYAH SAYA (Pidato Nobel Orhan Pamuk)