Tag Archives: pendidikan

Hari #5, Alasan Pendidikan

Tak sengaja membaca komentar seorang teman di sebuah status tentang keinginan kuliah di luar negeri. “Terus kalau sudah balik ke Indonesia mau ngapain?”

Aku tercenung membaca pertanyaan itu dan bertanyatanya apa yang sudah kulakukan dan apa yang akan kulakukan. Apakah selama ini yang kulakukan hanya untuk kepentinganku sendiri dan apa yang kurencanakan akan kulakukan tak bermanfaat juga bagi orang banyak?

Aku jujur mengakui, aku ingin kuliah ke luar negeri. Kalau tidak ke Jepang, ya Australia. Kalau tidak ke Australia, ya ke Eropa. Alasan pertamanya tentulah pengalaman. Aku ingin jalan-jalan, bertemu banyak orang, memiliki sudut pandang baru. Tapi itu semua untuk diriku. Aku belum berpikir sesuatu yang lebih besar. Aku belum berpikir pengamalan apa yang akan aku lakukan nantinya.

Ketika hendak mengikuti tes D4 STAN pun, baru di tes ketiga aku lulus. Di tes pertama dan kedua aku gagal meski aku punya keyakinan tak seharusnya aku gagal. Istriku berkata, mungkin ada yang salah dari niatku, mungkin Tuhan menyiapkan waktu yang terbaik untukku. Luruskanlah niat terlebih dahulu, katanya.

Aku jujur mengakui menganggap D4 sebagai sweet escape, pelarian manis dari rutinitas pekerjaan dan penempatan yang jauh dari keluarga. Dengan lulus D4, aku akan lebih dekat dengan istri dan anakku. Bintaro–Bandung ditempuh hanya dengan satu travel saja. Pun alasan lain, kenyataan bahwa setelah lulus D4 aku akan naik golongan menjadi III.a tanpa perlu ikut ujian penyesuaian,  dan kemungkinan penempatan yang lebih baik nantinya. Alasan lain, aku akan lebih dekat dengan teman-temanku di dunia kepenulisan yang banyak berada di Jakarta dan sekitarnya.

Tapi ternyata, selama mengikuti perkuliahan aku malah mendapatkan sesuatu yang berharga. Adalah Ghul, seorang teman yang paling sering duduk sebangku denganku yang memberi pencerahan pertama.

Ghul menceritakan sebuah riwayat kepadaku. Ada seorang pekerja mendapat upah 5 dirham dari pekerjaannya. Ia merasa upah itu tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Lalu datanglah ia ke seorang ulama untuk berkonsultasi. Ulama tersebut malah memberi saran untuk menghadap majikannya dan meminta upah 4 dirham saja. Sang lelaki pekerja pun datang dan meminta penurunan upah menjadi 4 dirham. Sebulan kemudian, sang pekerja datang lagi ke ulama dan mengadu, penghasilan 4 dirham itu tak cukup juga. Sang ulama malah memberi saran untuk meminta menurunkan upahnya menjadi 3 dirham saja. Karena percaya atas kebesaran sang ulama, sang lelaki pekerja pun menuruti saran ulama tersebut.

Sebulan berikutnya, sang lelaki pekerja datang lagi ke ulama tersebut dan terheran-heran, takjub ia bertanya, “Kenapa upah saya yang 3 dirham jadi cukup untuk menghidupi keluarga saya? Padahal kan 3 dirham jauh lebih kecil dari 5 dirham?”

Sang ulama tersenyum dan berkata, “Itulah yang pantas untuk pekerjaanmu lakukan sekarang.”

Artinya, berkah pekerjaan itu ada di 3 dirham. Sisanya bukan haknya. Implikasinya, saat itu Ghul mengajakku bertanya, kalau kita mengeluh terus mendapatkan penghasilan kurang, selama kita tugas belajar ini, apakah penghasilan yang kita dapatkan itu sudah pantas kalau cuma kos-kampus-kantin saja?

Ghul mengajakku sadar bahwa kita harus berusaha agar pantas dihargai 5 dirham, bekerja lebih baik lagi, memberi manfaat lebih banyak lagi, dan yang lebih penting kita menemukan peran 5 dirham yang tepat sesuai kapasitas yang kita miliki.

Di kesempatan lain, Direktur STAN, pada suatu kuliah berkata kita harus menemukan satu hal yang benar-benar kita sukai dan kita kuasai. Tidak mungkin semua mata kuliah dilahap sampai ngelotok kering. Pilih satu saja, maqam tempat kita menjadi ahli. Aku pikir ini ada hubungannya dengan peran itu tadi.

Di situlah aku kemudian tertarik pada satu bidang dan merasa aku D4 ini adalah untuk dipertemukan dengan bidang itu.

Pun nanti S2, aku akan berusaha untuk memang menjadikan diriku ahli di suatu bidang dan kemudian aku dapat mengaplikasikannya untuk kepentingan dan kebaikan orang banyak.

Semoga.