Tag Archives: nulisbuku

Bapakku yang NU Banget

Apa yang akan ditanyakan orang tuamu pertama kali ketika meneleponmu?

Bapakku tidak bertanya kabar. Ia akan bertanya aku sudah shalat atau belum. Aku ngaji atau nggak. Dan kalau aku sudah shalat, beliau akan menegaskan shalat yang baik adalah shalat berjamaah di masjid. Soal kabar, itu nomor dua.

Di usianya yang menginjak 62 tahun, ia kerap mengunjungiku karena aku anak satu-satunya yang merantau. Anak bungsu pula. Dia tahu begitu bandel dan soliter. Tidak bosan-bosannya dia mengingatkanku untuk datang ke masjid, karena di masjidlah tempat kita bisa bersosialisasi dan bersaudara sesama muslim. Di mana pun—ketika aku di Sumbawa Besar, di Bandung, di Depok, maupun di Bogor, beliau akan datang dan mencari masjid. Tempat yang pertama kali ia cari adalah masjid. “Di mana masjid yang bagus?” Masjid yang bagus menurutnya bukanlah masjid yang jamaahnya setelah shalat langsung bubar. Ia menyukai masjid yang banyak zikirnya, yang ada interaksi antar jamaahnya.

Sampai kini, aku masih sering abai pada ucapannya.

Aku pernah mendengar seorang teman berkata, kalau hidup kita sekarang baik-baik saja, padahal kita sebegitu brengseknya, jangan pernah bangga apalagi membanggakan diri. Barangkali kesuksesan kita, baik-baik sajanya kita, adalah berkat doa kedua orang tua kita.

Aku merasa temanku itu benar. Kedua orang tuaku orang yang baik sekali. Sejak kecil, aku yakin sekali, doa mereka tak putus kepada anaknya.

Aku tak pernah berusaha terlalu keras dalam kehidupan pendidikanku. Belajar saja ala kadarnya. Namun,
prestasi demi prestasi kuraih. Aku punya kecepatan menghitung yang sempurna, dan daya hapal yang luar biasa saat kecil. Setelah mengenal dosa bernama perempuan, kemampuanku memang jauh berkurang. Aku tak lagi secemerlang dulu. Namun, aku masihlah penyimpan kenangan yang sangat baik.

Sebagai seorang pengingat yang baik, tentu aku tak pandai melupakan sesuatu.

Kehidupanku sebagai seorang penulis memunculkan sisi diriku yang lain: si pemberontak. Si pemberontak ini selalu mempertanyakan banyak hal, dan memiliki dunianya sendiri yang kadang-kadang ingin menjadi identitas utama diriku. Namun, siapa aku—ada jawaban, aku anak bapakku. Aku dibesarkan dalam keluarga yang baik, dengan tradisi pengetahuan yang baik. Jika tak ada doa bapak, aku mungkin secara total akan menjadi manusia brengsek.

Kembali ke judul, seberapa NU beliau—saat ini beliau menjadi wakil ketua Rois Syuriah NU Kabupaten, juga menjadi wakil ketua Forum Kerukunan Umat Beragama. Beliau mendirikan Pesantren, dan juga mendirikan sekolah. Berkali-kali masuk bursa calon bupati atau wakil bupati, namun ia selalu bertanya kepada anaknya. Boleh atau tidak. Kami, anaknya, kompak mengatakan tidak.

Bayangkan, dari SMP, sejak aku bersekolah di Palembang, aku selalu berdiskusi dengannya di jalan saat ia mengantarkan aku. Topik apa saja. Paling sering politik dan isu nasional. Aku selalu membaca banyak, waktu itu, salah satunya bertujuan untuk mengalahkan bapakku berdebat.

Sampai sekarang, ketika bertemu, kami mengobrol tema politik dan isu nasional sampai malam. Bahkan ketika di telepon pun, kami mengobrolkan hal itu. Sering kami berbeda pendapat. Misalnya, tentang wahabi dan komunisme. Aku katakan padanya komunisme dan wahabi itu tidak ada lagi, tidak bisa dinisbatkan lagi ke suatu kelompok tertentu. Bicara panjang lebar, dan kemudian kembali pada ucapannya, “Dik, pengetahuanmu ini banyak, tapi kenapa tak ada yang kau aplikasikan?”

Dari belakang, istriku menyahut, “Iya, tuh Eyang… Uda memang kebanyakan teori!”

Kopi Columbus

“Apa kau percaya kalau bumi itu bulat?”
“Kalau tidak bulat, tidak mungkin ‘kan Columbus dapat mengelilingi dunia?”
“Kau masih percaya Columbus?”
“Setidaknya aku lebih percaya dia daripada percaya kamu!”

Teruna menundukkan kepalanya setelah mengatakan kalimat itu. Ia memasukkan gula berbentuk kubus ke dalam kopinya. Ini sudah kubus gula yang kedua. Aku tak dapat membayangkan seperti apa manisnya kopi yang ada di hadapannya.

“Semua lelaki adalah pembohong,” ujar Teruna lagi.

Aku tak ingin mendengar kalimat itu. Teruna tak sadar, aku juga lelaki. Jika semua lelaki adalah pembohong, berarti aku juga pembohong.

Entah masalah apa yang mendera Teruna. Dia tiba-tiba mengajakku untuk minum kopi di Sabang. Aku sendiri cukup sering ke Sabang. Malam setelah bom meledak di Sarinah, aku juga ke Sabang untuk makan malam. Namun, baru kali ini aku ke Sabang untuk minum kopi. Aku sendiri tak begitu suka kopi.

Lain halnya dengan Teruna. Perempuan di depanku ini memang suka sekali kopi. Minggu lalu dia mendapatkan tugas meliput ke Sumbawa. Dia pergi ke desa terpencil di sana. Dan sempat-sempatnya dia meneleponku malam-malam hanya untuk bilang kopi di Tepal nikmat sekali.

Jangankan nikmatnya kopi, Tepal itu apa aku tak tahu.

Teruna pun bersemangat menceritakan keindahan Tepal, salah satu desa di puncak bukit di Sumbawa. Mulai udaranya yang dingin, keberuntungan melihat kuda liar dengan surai laiknya yang terlihat di iklan rokok di televisi, sampai malam-malam tanpa listrik. “Kopi tepal itu terkenal tahu di Nusa Tenggara. Orang-orang Mataram juga mengakui kalau kopi Tepal paling nikmat,” Teruna berapi-api menjelaskan melalui telepon. “Kamu tahu, K, ada 500 ha lebih lahan kopi di sini. Kopi hutan. Alami. Arabica dan Robusta tumbuh di sini. Dan kamu tahu apa yang lebih spesial lagi?”
Aku menggeleng mendengarkan kalimat demi kalimat Teruna.

“Di sini banyak luwak. Kamu harus mencoba kopi luwak!”
“Sudah ‘kan?”
“Apa? Kopi luwak sachetan?”

Teruna pandai meledekku. Dia tahu paling-paling aku minum kopi bungkusan. Mudah dan sederhana bikinnya. Dia sering menceramahi aku kalau kopi macam itu tidak ada cita rasanya. Perlakuan pada cara memetik daun kopi saja bisa memberi cita rasa yang berbeda. Begitu juga dengan pembuatan kopi. Salah urutan penuangan air panas saja rasa kopi bisa rusak.

“Ada perpaduan pahit, manis dan gurih yang terasa pas di lidah. Tingkat kepahitannya lebih terasa dan agak masam. Salah satu rahasianya adalah dengan menyangrai biji kopi kering di atas pasir panas. Biji kopi dimasak tidak bersinggungan langsung dengan wadah. Itulah tradisi yang hingga kini masih berlaku di Tepal. Selain itu masyarakat Tepal biasanya mencampurkan kopi dengan bonggol jagung atau beras sangrai. Tujuannya menambah rasa gurih maupun aroma pada kopi sekaligus mencegah penikmat kopi terkena penyakit maag. Gila kan?”

Belum sempat aku merespon, telepon itu mati mendadak. Aku hubungi dia lagi, suara operator mengatakan telepon yang kutuju tak bisa kuhubungi. Besoknya Teruna baru mengirim pesan, semalam listrik padam. Ketika listrik padam, sinyal pun otomatis ikut menghilang.

Sungguh, aku sama sekali tak mengerti segala hal yang dia bicarakan. Meskipun begitu, aku mendengarkannya. Menyimak antusiasme Teruna terasa menyenangkan. Barangkali itu yang menjadi salah satu alasan mengapa aku selalu betah menemani Teruna kapan dan kemana pun ia mengajakku bertemu.

Hari ini berbeda. Aku pikir sekembalinya dari Sumbawa, dia akan membagi banyak kisah lain. Tetapi, dia malah diam saja, menatap kopi yang dipesannya, memasukkan gula dan mengaduknya dengan pelan.

“Apa kau percaya kalau bumi itu bulat?” Aku mencoba mencairkan suasana dengan membawa topik yang kembali booming baru-baru ini. Munculnya Flat Earth Society bukan hal baru. Mereka meyakini bumi ini datar dengan kubah raksasa. Tidak ada hukum gravitasi. Yang ada bumi bergerak ke atas dengan kecepatan tertentu sehingga sebuah apel jatuh bukan karena
gravitasi, melainkan bumi yang menangkap apel tersebut.

Bumi datar dimulai dengan penafsiran buta pada kitab suci. Dan sekian puluh tahun, hal ini tidak menghebohkan. Namun, pendapat ini jadi heboh di media sosial. Memang benar, sekarang ada yang lebih cepat dari kecepatan cahaya, yakni merebaknya kebodohan di media sosial.

“Tak biasanya kamu minum kopi pakai gula,” ujarku.
“Pahit, K.”
“Kopinya?”
Teruna menggeleng. “Aku. Hidupku, K.”
“Kenapa hidupmu? Ada masalah?”
“Kamu pasti tidak tahu kan kalau arabica dan robusta itu butuh penanganan yang berbeda? Kamu juga tidak akan mengerti kalau setiap perempuan juga butuh ditangani dengan cara yang berbeda-beda.”
“Bagaimana caraku bisa mengerti kalau tidak dijelaskan?”
“Robusta itu kalau masak akan berwarna merah dan tetap menempel ke batang. Aku tidak seperti itu.”
“Jadi?”
“Sementara Arabica mudah rontok, jatuh ke tanah. Kopi yang jatuh ke tanah akan akan punya bau yang tak sedap. Mutu kopinya turun.” Teruna hening sejenak. “Aku sedang jatuh cinta, K. Tapi aku tak tahu cinta yang seperti apa….”
Deg! Rasanya ada palu yang dihantamkan ke jantungku. Aku juga jatuh cinta kepadamu, Teruna. Sudah lama sekali.
“Kami bertemu di selat Alas. Wajahnya secerah buah pir.”
Lalu kutulikan telingaku pada segala hal mengenai pria yang ditemuinya itu.
“K… aku harus bagaimana?” tanya Teruna.

Aku tidak tahu harus menjawab apa. Seorang Teruna menganggap jatuh cinta adalah hal yang buruk. Ketika kutanya kenapa suka kopi, sejak kapan, Teruna berkata ketika ia memutuskan untuk tak jatuh cinta lagi pada pria. Ia pernah bilang tak mau jatuh cinta lagi setelah ayahnya meninggalkan ibunya demi perempuan lain. Kopi membuatnya melupakan segala kepahitan hidup.

Kini, ia bilang telah jatuh cinta dan ia merasa seperti biji kopi yang jatuh ke tanah, kehilangan segala yang telah diyakininya selama ini. Di satu sisi, aku merasa baguslah kalau Teruna merasakan cinta kembali meski bukan padaku. Aku baginya mungkin hanya seperti lini masa di Twitter. Ia bebas menumpahkan segalanya.

“Dia seperti apa?” tanyaku.
“Seperti Columbus mungkin…”
“Haha… apa itu berarti dia mendapatkan ketenaran yang seharusnya bukan miliknya?”
“Maksudmu?”
“Apa kau masih percaya Columbuslah yang pertama kali mengelilingi dunia? Dia yang pertama sampai di Amerika?”
“Di buku begitu.”
“Cheng Ho ditengarai telah membuat peta dunia jauh sebelum Columbus berlayar.”
“Yah, sejarah kan memang memiliki berbagai versi, tergantung mana yang ingin kita percayai. Kamu tidak bisa mengatakan salah satu versi yang memang benar. Kamu hanya boleh mengatakan kamu percaya…kamu membenarkan salah satu versi itu.”
Aku tersenyum mendengar jawaban Teruna. “Begitu juga yang kau alami, Teruna.”
“Aku tidak paham, K.”
“Apa yang kamu khawatirkan? Jatuh cinta yang kau rasakan, atau bagaimana dia…semua adalah ketidakpastian. Kamu hanya perlu meyakini satu hal… membenarkan yang kamu rasakan.”
“Masalahnya adalah—“
“Ssttt…” aku memotong ucapan Teruna. “Aku tidak suka kopi. Bagiku kopi pahit. Tapi bagimu berbeda bukan?”
“Dengarkan aku dulu, K!”
“Baiklah.”

Teruna menyeruput kopinya lagi. “Kamu tahu kenapa aku menambahkan banyak gula di gelas kopiku malam ini?”
Aku menggeleng. “Tadi… hidupmu pahit.”
“Alasan lainnya, aku ingin tahu apa rasanya kopi bila ditambahkan gula.”
“Buruk?”
Teruna meringis. “Buruk.”
“Aku juga pernah mencoba memindahkan jam tangan di tangan kananku ke tangan kiriku. Ganjil rasanya.”
“Tidak mudah ya, mencoba untuk melakukan sesuatu yang berbeda itu….”
“Lalu kamu tidak ingin mencoba menjalani cinta yang kini kau rasakan?”
“Aku ragu.”
“Ragu?”
“Karena itu aku mau bertemu kamu, K… yakinkan aku….”
“Sulit.”
“Sulit?”
“Katamu semua lelaki adalah pembohong. Setidaknya mulailah dengan mengganti kalimat itu.”
“Dengan?”
“Sebagian besar lelaki adalah pembohong.”
“Haha… kamu bisa saja.”
“Iyalah… jadi aku ini pembohong atau aku bukan laki-laki? Kok bisa-bisanya kamu minta aku yang meyakinkanmu…percaya sama pembohong?” ledekku kepadanya.

Teruna tertawa terbahak-bahak mendengar kalimatku. Dia minum kopinya. Kali ini sampai habis tak bersisa. “Kopi ini lucu. Persis kamu.”

Menyaksikan Teruna yang tertawa membuatku lega. Ia kembali menunjukkan dirinya yang biasanya. Sosok yang ceria dan bersemangat.

Namun, tiba-tiba tawa Teruna terhenti. Ia menopang dagu dengan kedua telapak tangannya, menatap padaku dengan serius.
“Hei K, aku tahu kamu juga seorang pembohong yang ulung. Sejauh aku berkenalan dengan lelaki, kamu adalah lelaki yang paling pandai membohongi dirimu sendiri.”

Setelah mengatakan itu, Teruna mengalihkan pandangannya ke badan jalan. Kendaraan-kendaraan masih ramai berseliweran. Ia tak membiarkanku berkomentar pada kalimatnya barusan dan membiarkan diri tenggelam dalam lamunan panjang.
Sementara itu, di langit bulan bulat penuh mengambang. Dan kubayangkan jika memang benar bulan tidak sejauh itu, hanya sejenis bola lampu yang menggantung seperti yang diyakini flat earth society.

(2016)

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Lomba Menulis Tema Kopi Oleh Nulisbuku

Hai kawan,

Di bulan Agustus ini, kita mengadakan kompetisi menulis cerpen bersama Giordano! Kompetisi ini temanya sesuai dengan koleksi Giordano pada bulan September nanti, yaitu #MyCupOfStory. Dengan tema tersebut, kamu bisa menuliskan sebuah kisah fiksi menjadi sebuah cerita pendek yang terinspirasi dari kopi-kopi di Indonesia. Genre ceritanya bebas, kamu boleh menuliskan kisah drama romantis, petualangan, inspiratif, atau lainnya.

Pokoknya, Buat ceritanya sekeren mungkin dimana ada kopi sebagai benang merahnya. Dan yang paling seru nih, Kompetisi ini berhadiah paket jalan-jalan seru ke Aceh/Toraja. Kota tujuan itu adalah salah satu asal kopi-kopi terbaik asli Indonesia. Nanti kamu juga bisa menuliskan serunya perjalananmu di sana! Kami akan memilih 3 (tiga) orang pemenang utama yang akan mendapatkan hadiah utama: Paket Tour ke Aceh/Toraja dan 7 (tujuh) finalis lainnya akan mendapatkan produk spesial dari Giordano dan nulisbuku.com.

Tetarik kan? Buruan simak info detailnya di bawah ini; Jangan lupa kirim karyamu yang paling keren dan jangan sampai telat kirim karena deadline-nya pada hari Minggu, 21 Agustus 2016 pukul 23.59 WIB

A. Syarat Peserta

Dapat diikuti oleh seluruh Warga Negara Indonesia, tanpa batasan usia, tanpa batasan jenis kelamin, tanpa batasan agama, dan tanpa batasan lokasi tempat tinggal. Setiap peserta dapat mengirimkan 1 (satu) karya tulisan terbaiknya.

B. Syarat Cerpen

Karya ditulis dalam bahasa Indonesia minimal 4 halaman, atau maksimal 8 halaman A4, diketik rapi dalam file Microsoft Word spasi: 1.5, dengan font: Times New Roman, ukuran font: 11pt, dengan margin sesuai standar Microsoft Word saja, tidak perlu diubah.

Karya juga harus diposting di blog pribadimu DAN dikirimkan melalui email ke send@nulisbuku.com. Sertakan link postingan blog berisi cerpen yang diikutsertakan di badan email.

Karya tersebut belum pernah diterbitkan dalam media nasional mana pun (jika pernah diposting di blog atau FB notes masih boleh), dan merupakan karya asli penulis. Dengan mengikuti lomba ini, berarti penulis menyatakan bahwa karya tersebut adalah murni karya aslinya dan jika ada tuntutan pelanggaran hak kekayaan intelektual maka akan menjadi tanggung jawab penulis.

Judul dan genre tulisan bebas, dengan tetap sesuai dengan tema: #MyCupOfStory (Sebuah kisah fiksi yang terinspirasi dari kopi Indonesia)

C. Cara Berpartisipasi

Menulis cerita pendek fiksi sesuai tema #MyCupOfStory yang sudah diketik rapi dalam file Microsoft Word.
Kirimkan cerpen tersebut beserta data diri: Nama, Alamat, No. handphone, No. KTP (Atau kartu pelajar), Twitter account (Jika ada), Alamat facebook (Jika ada), ke alamat email: send@nulisbuku.com (berupa file lampiran- attach files, bukan di body email) dengan format subject email dan nama file sebagai berikut:[MyCupOfStory] – [Judul tulisan]– [Nama Penulis]. Contoh: MyCupOfStory – Kopi, Sore dan Kamu – Hartawan Kopika
Setiap penulis dimohon juga membuat paragraf singkat maksimal 5 (lima) kalimat untuk memperkenalkan diri, untuk profil penulis di dalam buku My Cup of Story.’ #MyCupOfStory”. Kami sarankan penulis mencantumkan akun Twitter-nya masing-masing karena bisa jadi saran contact pembaca atau penerbit yang tertarik atas karyamu. Profil singkat ini boleh ditulis di badan email.
SERTA masukkan/posting tulisan (cerpen) ke dalam blog pribadi-mu dengan mencantumkan teks berikut ini: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com
Wajib menyertakan link postingan blog berisi cerpen yang diikutsertakan di badan email.
Wajib Follow & mention akun Twitter /Facebook/Instagram @nulisbuku dan GiordaniID, kemudian silakan twit sinopsis tentang karya cerpenmu minimal sebanyak 3 (tiga) kali twit; jika 1 twit itu maksimal 140 karakter, maka 3 kali twit, maksimal adalah 140 x 3= 420 karakter. Selain itu, post dan mention Nulisbuku dan Giordani Indonesia di Facebook. Twit dan post ini berguna untuk mempromosikan karyamu yang telah dikirim tersebut. Jangan lupa tambahkan hashtag #MyCupOfStory pada setiap twit dan post Facebook-mu!
Untuk mengikuti kompetisi ini tidak dipungut biaya, GRATIS!

Pengumuman para finalis dan pemenang & penyerahan hadiah akan dilakukan pada hari Rabu, 21 September 2016 di acara launching buku #MyCupOfStory

D. Periode #MyCupOfStory

Dimulai hari Kamis, 4 Agustus 2016 dan ditutup pada Minggu, 21 Agustus 2016 pukul 23.59 WIB. Karya diposting di blog DAN dikirimkan melalui email ke send@nulisbuku.com. Sertakan link postingan blog berisi cerpen yang diikutsertakan di badan email.

E. Pemilihan Pemenang

Pemenang terdiri dari 3 pemenang utama dan 7 finalis. Seluruh tulisan yang masuk akan dinilai berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:

Kesesuaian isi tulisan dengan tema.
Originalitas.
Teknik penulisan yang menarik dibaca.
Sesuai dengan syarat lomba.
Pemenang akan dipilih oleh juri yaitu tim Nulisbuku.com. Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

F. Pengumuman Pemenang

3 orang pemenang utama dan 7 finalis terpilih akan diumumkan pada hari Rabu, 21 September 2016 di acara launching buku #MyCupOfStory.

G. Hadiah Pemenang

Kami akan memilih 3 (Tiga) Pemenang Utama, yang akan mendapatkan paket tour ke salah satu asal kopi di Indonesia yang sedang dipromosikan oleh Giordano dalam kampanye iklannya (Toraja atau Aceh)

Tiga pemenang utama, serta 7 finalis lainnya akan mendapatkan 1 eksemplar buku tersebut secara gratis dari nulisbuku.com dan produk dari Giordano.

Atas penerbitan buku ini, para pemenang dan finalis tidak menerima kompensasi berupa royalti karena hasil penjualan buku akan dikelola oleh pihak Nulisbuku.

H. Lain-Lain

Hak cipta karya yang masuk dalam buku My Cup Of Story ini berada di pihak GIORDANO Indonesia. Seluruh karya akan melalui proses editing dan desain layout oleh Nulisbuku sebelum buku diterbitkan.

Motor Terbang

Baiklah, sekarang aku mengerti bagaimana seharusnya cerita ini dimulai. Percaya atau tidak, itu terserahmu.

Kemarin, aku melihat dua benda melayang di langit Mantar. Ketika semua orang terpaku pada pemandangan puncak Rinjani yang diselimuti cahaya keemasan, aku menoleh ke arah sebaliknya. Di balik bukit, dua benda naik pelan-pelan. Aku pikir ada yang salah dengan mataku. Kupicingkan mata, dan lebih jelas dua benda itu seperti sepeda motor.

Secara literal, melayang berbeda dengan terbang. Aku pernah melakukan percobaan telur melayang di dalam gelas. Mula-mula tuang air hingga setengah penuh, lalu beri garam secukupnya, aduk hingga larut. Tuangkan lagi air hingga memenuhi gelas. Baru masukkan sebutir telur ke dalamnya. Telur akan melayang tepat di tengah gelas. Melayang adalah soal massa jenis. Air garam memiliki massa jenis yang berbeda dengan air biasa. Sementara terbang adalah soal aerodinamika.

Aku ingin teriak, tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Aku menoleh ke arah yang lain, mencari teman-temanku, tetapi aku melihat pemandangan lain yang tak ingin kusaksikan. Nacinta tengah memeluk mesra Pangestu. Masing-masing satu tangan mereka memegang tongsis dan membiarkan latar belakang matahari terbenam mendoakan kisah cinta yang tengah mereka jalin.

Hatiku seperti ditusuk-tusuk cahaya senja membayangkan betapa sebenarnya aku mencintai pacar sahabatku sendiri. Dan rasa sakit itu menyingkirkan ribuan pertanyaan tentang dua benda yang kulihat itu.

“Jangan sampai ada barang yang ketinggalan!” seru Komandan Sajidin.

Aku mengemasi barang-barangku dengan payah. Entahlah, kenapa menyusun baju-baju kotor ke dalam tas selalu lebih sulit. Tas lebih menggelembung dan melihat keadaan itu aku semakin emosi dengan menjejalkan secara paksa segala yang belum kumasukkan.

Nacinta dengan cekatan membantu Pangestu membereskan barang-barangnya. Melihat hal itu, aku semakin cemburu.
Menuju Mantar, kami naik motor beramai-ramai dari Sumbawa Besar, menempuh jarak kurang lebih 120 km. Kemudian motor kami titipkan di rumah warga sebelum menyewa mobil yang secara khusus membawa penumpang naik ke Mantar dengan sudut elevasi jalan lebih dari 45 derajat. Ditambah lagi jalannya tidak mulus, berbatu-batu, dan tidak memiliki pelindung di bahu jalan. Sekali terpeleset, salah mengegas, kita bisa langsung terjun bebas ke jurang-jurang. Sekarang, pulang berarti perjalanan akan begitu menukik. Aku bayangkan kata menukik itu seperti burung elang yang sedang terbang tiba-tiba melihat seekor ayam, kemudian menyambarnya.

“Pernahkah burung-burung terbang bertabrakan?” Tercetus begitu saja pertanyaan itu kepada Randal Patisamba. Randal Patisamba menatapku heran.

“Pernahkah pesawat-pesawat terbang bertabrakan?” Aku ganti pertanyaanku.

“Belum. Belum kudengar tuh pesawat bertabrakan. Kecuali perang… atau pengemudinya mabuk mungkin?” jawab Randal sekenanya.

“Pengemudi? Pilot maksudmu?”
“Ya lah, pengemudi pesawat disebut pilot, pengemudi kapal laut disebut nakhoda, pengemudi kereta disebut masinis, pengemudi mobil disebut sopir. Sama-sama pengemudi.”
“Kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Kenapa pesawat-pesawat tidak bertabrakan?”
“Kenapa ya?” Karena langit luas, pesawat sedikit… mungkin.”
“Bahkan dalam jalan yang sepi, mobil-motor bisa bertabrakan?”
“Nah itu, karena di langit tak ada jalan.”

Di langit tak ada jalan. Jalan-jalan raya di Indonesia kebanyakan tidak layak. Sepanjang Sumbawa Besar-Sumbawa Barat saja jalan-jalan rusak. Padahal setiap tahun ada perbaikan jalan, tetapi setiap tahun pula jalan itu rusak kembali. Aku pernah bertemu seorang kontraktor yang berdalih jalanan rusak karena penganggarannya tidak mencukupi. Jalan di Alas misalnya, sangat tidak stabil dan membutuhkan konstruksi jalan lebih dalam dan hal itu perlu biaya yang lebih. Namun, APBN terbatas dengan target sekian kilometer pengerjaan. Mau tidak mau, para kontraktor menyanggupi dengan pengerjaan yang minimalis.

Jalan-jalan yang rusak itu berbahaya. Jalan-jalan yang bergelombang, apalagi berlubang, tidak bersahabat dengan kecepatan kendaraan. Suatu sore, aku pernah bermotor di Lombok Timur dengan temanku. Hari hujan, kami jalan dengan kecepatan yang cukup hati-hati. Di tengah jalan, kami hampir saja mengalami kecelakaan. Motor yang kami kendarai mengenai lubang sehingga sempat oleng. Apalagi jalanan teramat licin. Untunglah, keseimbangan temanku itu cukup kokoh. Ketika motor hilang keseimbangan, ia tidak panik dan dapat mengendalikannya. Kubayangkan jika aku jatuh, kepalaku akan pecah karena aku tak memakai helm. Syukurlah hal itu tidak terjadi. Hanya ban motor depan yang pecah dan kami harus menuntun motor itu bergantian hinga sampai ke bengkel.

Sejak saat itu aku berjanji akan selalu memakai helm. Aku tak dapat membayangkan lubang-lubang di jalanan dapat dengan mudah mencabut nyawa seseorang.
Sementara lubang di dadaku tidak tahu kapan akan mencabut nyawaku.
“Apa yang kamu pikirkan, Phi?” tanya Randal Patisamba.
“Kau pernah kecelakaan?” tanyaku.
“Ya. Sampai patah rahang.”
“Apakah patah rahang lebih sakit dari patah hati?”
“Aku tidak pernah patah hati. Aku tak mau patah hati. Tapi aku lebih tak ingin patah rahang lagi.”

Aku juga tak bisa membayangkan bagaimana rasanya patah rahang. Dia bercerita panjang lebar mengenai kondisinya saat sebelum operasi dan hal itu membuatku ngilu.

“Yang sulit bukanlah menahan sakit tak terperi dari rahangku… meski itu sangat sakit sekali… melainkan betapa lama aku harus menunggu kejelasan statusku. Bayangkan, pertama, pihak jaminan kesehatan harus mendapat cukup bukti kalau aku benar-benar kecelakaan. Setelah itu, aku harus menunggu dokter spesialis tulang satu-satunya datang untuk menilai kondisiku. Tiga hari aku hanya diberi obat penahan rasa sakit. Tiga hari aku diberi harapan akan segera operasi. Namun, ketika dokter datang, ia menyatakan tak sanggup mengoperasiku. Aku harus dirujuk ke Mataram. Dan aku harus menunggu jadwal ambulans yang bisa mengantarku ke Mataram. Di Mataram pun, rakyat miskin dengan jaminan kesehatan sepertiku harus dibuat menunggu jadwal operasi. Kamu tahu, Phi… perasaan menunggu dan diabaikan itu lebih menyakitkan dari sakit patah rahang ini!”

Aku mencium emosi dari kalimat Randal. Dan tak bisa kubayangkan deritanya.

Kalau aku jadi dia, mungkin aku sudah kapok naik motor. Trauma. Tetapi pekerjaannya sebagai asisten penyuluh pertanian membuatnya harus menjadi biker sejati. Tidak mungkin ke Tepal dengan mobil. Tidak mungkin ke Batu Rotok dengan mobil. Ke Mantar pun aku membonceng Randal. Randal bahkan tidak naik ke Mantar dengan mobil yang disiapkan. Ia mendaki terjal jalan dengan motor kesayangannya sendirian.

Pengalaman seseorang bermotor tidak menjamin keselamatannya di jalan. Ada tangan lain yang berperan. Tangan takdir.
Tangan takdir yang sama membuatku bertanya-tanya tentang cinta. Nacinta mengenalku lebih dulu, menangis di depanku lebih dulu, dan bercerita banyak di depanku lebih dulu, tetapi aku hanya dianggapnya sebagai kakak, tak lebih. Sementara seseorang yang baru datang, tak berinisiatif banyak, dapat langsung meyakinkan dirinya bahwa seseorang itulah yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Kenapa jantung kita dapat berdetak lebih cepat pada beberapa situasi?

Teman-teman Adventurous Sumbawa mulai menaiki mobil berbak terbuka satu per satu. Tampak pemandangan Pangestu menarik tangan Nacinta. Dan itu lebih menyakitkan ketimbang kegagalan untuk menyaksikan pemandangan awan berarak di bawah kami. Ya, dini hari tadi, aku sudah bangun pukul 3 dan memberanikan diri di dalam kepungan dingin demi menanti sensasi berada di atas awan. Begitulah julukan Mantar, Negeri di Atas Awan. Tapi sekitar pukul 4, angin bertiup kencang dan mengusir awan-awan di bawah kami hingga menjauh. Alhasil, ruang di depan kami menjadi hampa dengan beberapa lampu menyala saja. Untungnya, matahari terbit dengan latar Tambora menghasilkan penghiburan yang cukup menyenangkan.

~

Kami bersepakat untuk rehat sejenak di Rhee nanti. Jagung-jagung Rhee yang berwarna putih dan berasa sangat manis menunggu untuk kami santap.

Tidak tahu siapa yang memulai, tiba-tiba saja kami sudah terlibat kebut-kebutan. Randal Patisamba dengan pengalamannya mulai memacu motor dan berhasil mendahului semua motor di depan kami. Aku sebenarnya takut dengan kendaraan yang melaju lebih dari 80 km/jam, tetapi entahlah, aku merasa aman bersama Randal.

Medan di Sumbawa Barat memang sangat indah dan menarik untuk kebut-kebutan. Kalau pemerintah Indonesia hendak mengadakan Moto GP, sirkuitnya akan sangat seru bila di sini. Kubayangkan Valentino Rossi akan menggeber motornya, dengan trek penuh tikungan, itu akan menjadi favorit Rossi. Di Bukit Cinta, pemandangan laut dan pulau-pulau kecil di sekitar Poto Tano menjadi lukisan sempurna yang dilukis Tuhan.

Satu motor kemudian menyalip kami. Aku mengenali mereka, Pangestu dan Nacinta.

Pasti di belakang sana, Komandan Sajidin tengah marah-marah melihat keadaan ini. Ia paling menekankan keselamatan. Di laut, di darat, ia selalu hati-hati, penuh perhitungan, karena rasa tanggung jawabnya sebagai pemimpin rombongan.

Tikungan-tikungan ini mengingatkanku pada Sitinjau Laut. Perjalanan dari Padang menuju Solok selalu harus melalui Sitinjau.

Aku menoleh ke kanan, menengadah, dan tergetar diriku melihat pemandangan yang kusaksikan. Dua benda melayang di langit. Kali ini mereka berada di atas awan.

“UFO!” sontak aku berteriak.

“Cupu!” Satu teriakan lain terdengar sekelebat. Satu motor lain mendahului kami dan mengejar Pangestu.

“UFO siapa yang cupu?” tanya Randal Patisamba yang tak paham situasi. Dia sangat fokus dengan jalanan yang curam dan menikung.

Tak mau mengganggu konsentrasinya, aku cari lagi dua objek melayang tadi. Awan-awan menggumpal di langit. Aku yakin tidak salah lihat dan terus mencari keberadaan mereka.

Memperhatikan lebih seksama, aku melihat keanehan-keanehan lain dari awan yang ada. Aku paham betul mengenai pareidolia, keadaan psikologis seseorang untuk melihat kemiripan sebuah objek berdasarkan preferensi yang dimilikinya. Tetapi ini sungguh aneh untuk disebut kebetulan ataupun pareidolia. Satu awan berbentuk seperti pedang. Satu awan seperti seseorang sedang tertawa. Awan yang lain menampilkan bentuk orang mengenakan jubah. Dan di antara awan-awan itu, dua objek melayang itu kembali terlihat.

“Randal, Randal! Kau lihat itu!?” Randal memperlambat lajunya dan menepi di bahu jalan. “Itu!” tunjukku ke arah langit.
Randal mendongak. “Apa? Awan?”
“Kau tak melihat hal yang aneh dari itu?”
Belum sempat Randal menjawab, terdengar bunyi rem berdecit disusul bunyi benturan keras di sekitar kami. Jalan di bawah-depan kami menampilkan pemandangan yang mengerikan. Dua motor di depan kami terguling. Pangestu membuka helmnya dan berjalan menuju sosok perempuan yang tergeletak tak berdaya. Tak jauh dari situ, sesuatu berwarna merah menggenang di sekitar tubuh seseorang. Aku tahu itu darah.

Di langit, pemandangan benda melayang sudah tak ada. Awan-awan pareidolia menjadi lebih mengerikan. Awan-awan berbentuk makhluk berjubah dan makhluk tertawa itu kini seperti langsung menatap padaku.

Saat kuceritakan hal ini kepadamu, mungkin kau akan menertawaiku, menganggapku gila, tetapi pertimbangkanlah satu hal ini, bahwa barangkali aku dapat melihat pertanda. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini…. ya, alam akan memberi pertanda atasnya.

(2015)

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Kompetisi Menulis Fiksi: Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan #SafetyFirst

Banner-SafetyFirst-02-e1444432211983Begitu sering -nyaris setiap hari – kita mendengar kabar kecelakaan lalu lintas, yang tak jarang pula mesti merenggut nyawa. Mungkin bahkan kamu pun pernah kehilangan orang tersayang karena kecelakaan lalu lintas. DI Indonesia, jumlah korban tewas karena kecelakaan lalu lintas mencapai 120 orang setiap harinya (data 2014). Dari kecelakaan lalu lintas yang terjadi ini, 70 persen dialami oleh para pemotor.

Kecelakaan kerap terjadi karena kesadaran pemotor dan pengguna jalan lainnya yang masih rendah. Pemandangan seperti ini mungkin lazim kamu lihat setiap hari : pemotor dan penumpangnya yang tidak menggunakan helm, anak-anak di bawah umur yang mengendarai sepeda motor, laju kendaraan bermotor yang terlampau ngebut, dan sebagainya. Perilaku sembrono seperti inilah yang memicu jumlah kecelakaan dan korban jiwa yang tinggi. Bila terjadi kecelakaan masih ada kecenderungan untuk menganggapnya sebagai takdir atau kehendak Tuhan, padahal kecelakaan bisa dihindari dengan sikap waspada dan ekstra hati-hati dalam berkendara.

Nah, Yayasan Astra-Honda Motor bekerjasama dengan Nulisbuku.com ingin mengajak kamu untuk berperan aktif dalam kampanye “Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan” melalui kompetisi menulis Cerita Pendek (Fiksi) yang dapat menginspirasi dan meningkatkan kesadaran bagi pemotor dan pengguna jalan. Cerpen yang kamu buat, harus mampu menggugah kepedulian sebanyak mungkin orang untuk ikut berperan aktif dalam kampanye ini. Kreatiflah, dan sebisa mungkin tak perlu menonjolkan tragedi dan kesedihan dalam ceritamu.

Satu nyawa, tak ternilai harganya. Sungguh, kamu tak pernah tahu, mungkin cerpen karyamu bisa menyelamatkan nyawa seseorang.

A. Syarat Peserta

Hanya ada 1 kategori, yaitu kategori Perorangan

Dapat diikuti oleh seluruh Warga Negara Indonesia, tanpa batasan usia, tanpa batasan jenis kelamin, tanpa batasan agama, dan tanpa batasan lokasi tempat tinggal. Setiap peserta dapat mengirimkan 1 (satu) karya tulisan terbaiknya.

 

B. Syarat Cerpen

Karya esai ditulis dalam bahasa Indonesia minimal 4 halaman, atau maksimal 8 halaman A4, diketik rapi dalam file Microsoft Word spasi: 1.5, dengan font: Times New Roman, ukuran font: 11pt, dengan margin sesuai standar Microsoft Word saja, tidak perlu diubah.

Karya juga harus diposting di blog pribadimu DAN dikirimkan melalui email ke send@nulisbuku.com. Sertakan link postingan blog berisi cerpen yang diikutsertakan di badan email.

Karya esai tersebut belum pernah diterbitkan dalam media nasional mana pun (jika pernah diposting di blog atau FB notes masih boleh), dan merupakan karya asli penulis.  Dengan mengikuti lomba ini, berarti penulis menyatakan bahwa karya tersebut adalah murni karya aslinya dan jika ada tuntutan pelanggaran hak kekayaan intelektual maka akan menjadi tanggung jawab penulis.

Judul tulisan bebas, dengan tetap sesuai dengan tema: ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan’ #SafetyFirst

 

C. Cara Berpartisipasi

  • Menulis cerita pendek fiksi sesuai tema ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan’ #SafetyFirst yang sudah diketik rapi dalam file Microsoft Word.
  • Kirimkan cerpen tersebut beserta data diri: Nama, Alamat, No. handphone, No. KTP (Atau kartu pelajar), Twitter account (Jika ada), Alamat facebook (Jika ada), ke alamat email:send@nulisbuku.com (berupa file lampiran- attach files, bukan di body email) dengan format subject email dan nama file sebagai berikut:[SAFETY FIRST] – [Judul tulisan]– [Nama Penulis]. Contoh: SAFETY FIRST – Motorku Sayang, Kekasihku – Palentino Rossieq
  • Setiap penulis dimohon juga membuat paragraf singkat maksimal 5 (lima) kalimat untuk memperkenalkan diri, untuk profil penulis di dalam buku Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst”. Kami sarankan penulis mencantumkan akun Twitter-nya masing-masing karena bisa jadi saran contact pembaca atau penerbit yang tertarik atas karyamu. Profil singkat ini boleh ditulis di badan email.
  • SERTA masukkan/posting tulisan (cerpen) ke dalam blog pribadi-mu dengan mencantumkan teks berikut ini: Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com
  • Wajib menyertakan link postingan blog berisi cerpen yang diikutsertakan di badan email.
  • Wajib Follow & mention akun Twitter dan Facebook @nulisbuku, kemudian silakan twit sinopsis tentang karya cerpenmu minimal sebanyak 3 (tiga) kali twit; jika 1 twit itu maksimal 140 karakter, maka 3 kali twit, maksimal adalah 140 x 3= 420 karakter. Selain itu, post dan mention Nulisbuku di Facebook. Twit dan post ini berguna untuk mempromosikan karyamu yang telah dikirim tersebut. Jangan lupa tambahkan hashtag #SafetyFirst pada setiap twit dan post Facebook-mu!

Untuk mengikuti kompetisi ini tidak dipungut biaya, GRATIS!

Pengumuman para finalis dan pemenang & penyerahan hadiah akan dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 21 November 2015 di acara launching buku ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst

 

D. Periode #SafetyFirst

Dimulai hari Sabtu, 10 Oktober 2015 dan ditutup pada Minggu, 1 November 2015 pukul 23.59 WIB. Karya diposting di blog DAN dikirimkan melalui email ke send@nulisbuku.com. Sertakan link postingan blog berisi cerpen yang diikutsertakan di badan email.

 

E. Pemilihan Pemenang

Pemenang terdiri dari 3 pemenang utama dan 20 finalis.  Seluruh tulisan yang masuk akan dinilai berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut:

  • Kesesuaian isi tulisan dengan tema.
  • Originalitas.
  • Teknik penulisan yang menarik dibaca.
  • Sesuai dengan syarat lomba.

Pemenang akan dipilih oleh juri yaitu tim Nulisbuku.com dan Yayasan Astra-Hoda Motor. Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

 

F. Pengumuman Pemenang

3 orang pemenang utama dan 20 finalis terpilih akan diumumkan pada hari Sabtu tanggal 21 November 2015 di acara launching buku ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst

 

G. Hadiah Pemenang

Pemenang pertama akan mendapatkan uang tunai 3 juta Rupiah, kedua: 2,5 juta Rupiah; ketiga 2 juta Rupiah

Tiga pemenang utama, serta 20 finalis lainnya akan mendapatkan 1 eksemplar buku tersebut secara gratis dari nulisbuku.com.

Atas penerbitan buku ini, para pemenang dan finalis tidak menerima kompensasi berupa royalti karena hasil penjualan buku akan dikelola oleh pihak Yayasan Astra-Honda untuk kegiatan sosial yang terpilih.

 

H. Lain-Lain

Hak cipta karya yang masuk dalam buku ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst ini berada di pihak Yayasan Astra-Hoda Motor. Seluruh karya akan melalui proses editing dan setting oleh Nulisbuku sebelum buku diterbitkan.

 

Belitung dan Tuan Laskar Pelangi

Setiap orang menyebut Belitung, pastilah yang terbersit pertama kali di pikirannya adalah Andrea Hirata atau Laskar Pelangi.

Tapi ini cerita yang berbeda. Awalnya, Zane mengetagku pada sebuah postingan seorang teman. Namanya Genta. Genta baru pulang liburan dari Belitung. Di foto tersebut, batu-batu besar terpampang indah dan unik. “Uda, kapan-kapan kita ke sini yuk…” kata Zane waktu itu.

Beberapa hari kemudian, kebetulan aku membuka twitter. Di sana seseorang yang kufollow meretweet sebuah informasi lomba. Hadiahnya ke Belitung. Dua buah tiket pesawat gratis pulang pergi dan hotel dua malam. Temanya persahabatan. Singkat cerita aku mengirimkan sebuah cerpen berjudul Katak Bunuh Diri dan berhasil memenangkan lomba tersebut.

Panitia pun menghubungi kami dan ditanya kapan mau berangkat. Beruntung aku sedang liburan UTS, tanggal 30 Mei-1 Juni pun kuputuskan sebagai tanggal liburan.

Bicara Belitung, aku sebenarnya punya kenangan tersendiri. Dulu, sebelum Bangka dan Belitung menjadi provinsi, mereka tergabung ke dalam Provinsi Sumatra Selatan. Aku sendiri berasal dari Kabupaten Banyuasin di provinsi yang sama. Dan dulu, Banyuasin masih tergabung ke dalam Kab. Musi Banyuasin. Jadi, sebenarnya ada ikatan kedaerahan di antara Belitung dan aku meski secara bahasa dan adat, bisa dikatakan tiap kabupaten di Sumatra Selatan itu memiliki perbedaan yang mencolok.

Ketika SD, aku pernah mewakili Kab. Musi Banyuasin dalam lomba Matematika tingkat provinsi. Wakil dari Belitung turut serta. Saat itu, Belitung punya profil sebagai daerah kaya. Maklum, ada pertambangan timah yang merebak di sana. Sebelum akhirnya harga timah jatuh dan tambang-tambang timah di Belitung bangkrut. Bekas-bekas tambang timah itu pun kukenali dari atas pesawat. Ada air yang menggenang di lubang-lubang di pulau Belitung.

11391360_963439503700593_4227767473131866877_n

 

Secara pekerjaan, aku pun sangat mungkin ditempatkan di Belitung. Mengingat ada pameo, selama ada KPPN di kotamu, selama itu pula kita mungkin bertemu. Ya, ada KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara) di Belitung. Bisa jadi suatu saat nanti aku ditempatkan di sini. Hal yang pertama kutanyakan kepada sopir travel adalah, “Di mana KPPN-nya?”

Ternyata KPPN berada tak jauh dari hotel tempat kami menginap. Kami menginap di Maxone Belstar Belitung selama dua malam. Awalnya terjadi masalah di sana. Namaku tak terdaftar, atau belum terbooking. Aku pun menunggu selama kurang lebih setengah jam untuk mendapat konfirmasi. Untungnya pihak hotel begitu ramah dan bekerja sama. Mereka menjelaskan terjadi kesalahpahaman antara pihak tiket.com dengan pihak hotel. Voucher menginapnya belum dibookingkan oleh pihak hotel dan sebenarnya voucher tidak berlaku untuk weekend. Tapi atas keramahan pihak hotel, kami tetap bisa menginap di satu-satunya kamar yang belum dipesan.

10409300_963494230361787_7400298514888992642_n

 

Dari hotel yang relatif baru berdiri itu, aku beranjak mencari sewaan motor. Aku tak kesulitan untuk mengelilingi kota Belitung yang memang hanya segitu-segitu saja. Aku pun memilih makan siang di warung-warung khas Belitung yang berada di sekitaran hotel. Meski menu yang kupesan biasa, seperti ayam dan kangkung, tapi bumbu yang digunakan lebih khas. Aku pun teringat pada rasa makanan di Sumbawa. Barangkali bumbu yang digunakan oleh masyarakat pinggir laut itu mirip-mirip, ya?

Tujuan pertama, karena masih lelah berangkat dini hari dari Bandung, aku pun ke Tanjung Pendam. Pantai ini hanya selemparan batu dari pusat kota Belitung. Katanya, matahari terbenam sempurna di pantai ini. Garis pantainya yang panjang dan adanya penjual makanan yang banyak menjadi daya tarik lainnya. Namun sayang, pantainya tidak begitu bersih. Bahkan ada bau yang menguar di pantainya. Akhirnya aku dan Zane hanya memesan kelapa muda dan duduk menanti senja. Matahari terbenam urung terlihat karena ada awan menggumpal besar menutupi matahari.

Pulang dari Tanjung Pendam, kami memutuskan makan mie atep yang terkenal itu. Semua teman, ketika aku bilang mau ke Belitung, merekomendasikan mie satu ini. Namun, sungguh, aku tak doyan. Zane yang doyan. Aku pun menemani Zane saja makan mie sambil makan kerupuk ikan tenggiri.

Malam itu kami tidur dengan nyenyak, menikmati fasilitas hotel yang ber-AC dan berkasur yang begitu nyaman.

~

Hari kedua, kami menyewa mobil.

Kami pun pergi ke pantai Tanjung Tinggi. Kurang lebih satu jam perjalanan ke sana. Tapi waktu terbayar tuntas dengan pemandangan yang disajikan. Di depan, ada penanda bahwa tempat ini adalah tempat pengambilan gambar Laskar Pelangi. Sayangnya, hal penting seperti ini malah rusak. Entah sengaja dirusakan. Kacanya ada yang pecah.

11351298_962827887095088_2967652674704126946_n

Aku segera menobatkan Tanjung Tinggi sebagai salah satu pantai terbaik yang pernah kukunjungi. Batu-batu besar yang konon sudah ada sejak zaman Jura begitu eksotis. Aku terpukau dan sempat beberapa menit tak bisa berkata-kata melihatnya. Pemandangan itu dipadukan dengan pasir yang putih dan garis pantai yang panjang, apalagi jarak antara pesisir ke tempat yang dalam begitu jauh, sehingga seperti ada kolam renang yang diciptakan oleh alam di pantai ini. Gelombangnya pelan dan ikan-ikan berwarna-warni tampak di pinggir pantai.

11377106_962828017095075_1219974743362268306_n 11137093_962827853761758_7036521187454854124_n 11350453_962827783761765_4652486444753242690_n

 

Selepas puas bermain di pantai, sampai gerimis turun, kami menyempatkan diri ke Tanjung Kelayang. Ada keinginan untuk menyeberang ke pulau-pulau seperti pulau Garuda ataupun pulang Lengkuas, namun karena si kecil, kami memutuskan untuk tak menyeberang. Kami pun kembali ke Tanjung Tinggi untuk makan sup ikan kuah kuning dan ikan baronang bakar. Harganya sih lumayan, meski tak semahal di Jimbaran. Tapi kami makan sampai puas di sana.

Bakda itu, aku mengantar Zane pulang ke hotel karena dia kelelahan. Aku melanjutkan perjalanan bersama sopir ke danau kaolin.

11295576_963277720383438_5034034442934518508_n 11391258_963277700383440_7709746558569040984_n

 

Ketika tiba di sini, ada sekelompok ibu-ibu yang sedang memandangi danau ini. Dan berdebat kenapa airnya begitu biru. Satu ibu yang ngotot dan tak mau kalah berkata ini tejadi hanya karena pantulan dari langit. Di situ aku tertawa.

Sebenarnya danau ini tak tepat disebut danau. Aku lebih suka menyebutnya kedukan. Di Banyuasin banyak. Bedanya, di banyuasin kedukannya tidak berwarna biru tapi cokelat dan hijau karena tanahnya cok
elat berlumpur. Di Belitung, kandungan kaolin yang membuat warna ini tercipta begitu kontras.

Aku lupa nama tujuanku setelah danau kaolin. Tujuan kami berada di dalam hutan. Namun kami kecele. Begitu mau masuk hutan, ada palang. Tidak boleh masuk karena jalan rusak.

11055309_962838570427353_8881430905986414251_n

Acara keesokan harinya, ya sesi mencari oleh-oleh. Zane mencari souvenir, mencari makanan khas Belitung. Sementara aku hanya tertarik pada benda ini. Mutiara. Mutiara alam Belitung ini khas. Maklum, di Sumbawa aku sempat jadi penjual mutiara dan mengoleksi beberapa yang memiliki keunikan.

Sebenarnya kurang rasanya liburan kali ini. Hanya saja karena nggak sendirian, jadi ruang untuk eksplorasi pun terbatas. Yang penting, barangkali adalah kebersamaannya. Sudah lama kami tak liburan bersama.

Terima kasih nulisbuku.com dan tiket.com!