Tag Archives: novel

Kafka di Tepi Pantai

Tentu sudah banyak yang membaca Dunia Kafka atau Kafka on The Shore milik Haruki Murakami ini. Karena itu aku tidak akan membahas novel ini.

Siapa tokoh paling menarik di novel ini? Aku suka Kolonel Sanders. Bukan Kafka Tamura ataupun Satoru Nakata.

Kemunculan Kolonel Sanders adalah kritik sekaligus satir terhadap kapitalis. Dia adalah pencetus salah satu restoran ayam goreng itu. Simbol kapitalis yang lain, semisal Coca Cola juga pernah digambarkan dalam sebuah film Korea yang menceritakan hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara. Ketika itu, Coca Cola dilarang masuk ke Korea Utara karena dianggap sebagai bentuk infiltrasi barat ke Korut.

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Ketika aku kecil, Coca Cola dianggap sebagai minuman mewah. Pada saat lebaran, anak-anak berebut ke rumah orang-orang yang menyajikan Coca Cola, Sprite dan Fanta yang hanya dimiliki orang-orang berpunya. Sementara di tempat lain, hanya ada sirup orson atau minuman Sugus.

Continue reading Kafka di Tepi Pantai

Sayembara Penulisan Resensi 3 Novel

Pemenang 1: Rp 1.500.000,-
Pemenang 2: Rp 1.000.000,-
Pemenang 3: Rp 500.000,-
Pemenang 4: Paket Buku dari Penerbit Exchange
Pemenang 5: Paket Buku dari Penerbit Exchange

Ketentuan dan Persyaratan:

1. Peserta bisa memilih 1 dari 3 judul novel yang hendak diresensi: 4 Musim Cinta, ToBa Dreams, dan A Girl Who Loves A Ghost.
2. Tidak ada batasan panjang resensi.
3. Resensi diunggah di blog/website pribadi peserta atau di akun media sosial peserta seperti FB, Goodreads, Kompasiana, dll. dengan menampilkan kover buku yang diresensi.
4. Peserta boleh membuat lebih dari 1 resensi.
5. Yang dinilai hanyalah kualitas konten resensi.

Kirimkan email berisi link resensi Anda dan biodata Anda ke: ptkaurama@gmail.com, cc: bunda_laksmi@yahoo.com dan fiksiexchange@gmail.com, paling lambat 25 Mei 2015. Cantumkan tulisan “Sayembara Resensi 3 Novel” di judul email.

Pemenang akan disiarkan di situs Penerbit Exchange (www.kaurama.com) dan via email peserta pada 05 Juni 2015.

 

Info novel

4 Musim Cinta, Harga Rp59.500,-

Toba Dreams, Harga Rp49.500,-

A Girl Who Loves The Ghost, Harga Rp80.000,-

Bisa didapatkan di toko buku di Indonesia

atau pemesanan langsung ke 085239949448.

4 Musim Cinta

 

 

Ketika Timor Timur di ambang disintegrasi, kerusahan pecah. Banyak kantor pemerintahan tutup. Semua pegawai negeri pusat pulang ke daerahnya masing-masing. Namun, satu kantor harus bertahan. Kantor itu dikenal dengan nama Kantor Kas Negara. Sampai seorang pegawainya yang memberanikan diri dan harus datang ke kantor dicegat oleh Fretilin, ditanyai, ditodong senjata, hendak kemana dan siapa. Ia menjawab ia pegawai Kantor Kas Negara. Seketika itu juga ia dilepaskan. Kantor Kas Negara adalah kantor terakhir yang bertahan dan menjadi identitas negara saat itu.

Begitu pun ketika terjadi tsunami di Aceh. Kantor yang pertama kali harus dipulihkan adalah KPPN Khusus Aceh. Kantor Kas Negara (sekarang bernama KPPN) adalah jantung sekaligus darahnya negara. Keberadaannya adalah keniscayaan. Ia hadir bukan karena ada potensi pendapatan yang besar di daerah itu, melainkan karena ia harus hadir untuk menghidupi perekonomian dengan salah satunya mencairkan dana APBN.

Sekelumit cerita itu menjadi pendahuluan atas betapa setiap kita adalah penting. Kenek yang menagih uang angkutan penting, sopir yang mengemudi angkutan juga penting, tak kalah pentingnya pihak yang membeli angkutan tersebut.

Empat orang pegawai Perbendaharaan yang memiliki pengalaman di Manado, Ruteng, Kendari dan Sumbawa pun ingin berkata, harapan sekecil apapun adalah penting. Bahkan para setan pun suka bersemayam dalam hal yang kecil dan detil. Jika dilupakan, hal kecil itu bisa merusak hidup.

Itulah yang kemudian mendasari sebuah novel ini. 4 Musim Cinta mengejewantahkan harapan dan keyakinan, serta realitas yang harus mereka hadapi. Mulai dari idealisme hingga hubungan persahabatan dan percintaan menjadi riskan dalam situasi-situasi yang rumit.

Di dalam novel ini pun sebenarnya, jika ditelaah lebih lanjut, banyak gugatan atas kebijakan pemerintah. Mulai dari penyerapan anggaran yang tidak proporsional, quality of spending, sampai ke pemberian tunjangan ke instansi perpajakan yang banyak dipertanyakan oleh bahkan sesama pegawai Kementerian Keuangan.

“Kita kurang alasan apa lagi? Pajak buat kebijakan. Sedangkan yang mengadministrasikan setiap rupiah pajak yang masuk ke kas negara, siapa? Kita. Yang membuat laporan penerimaan setiap harinya siapa? Kita. Yang dimintai laporan penerimaan pajak oleh Pak Menteri siapa? Kita. Pajak menyumbang sekian persen dari sisi pendapatan negara. Selebihnya kita.”

Mata Sera tampak berapi-api. Tidak ada senyum di wajahnya yang membuat ia terlihat ramah. Aku mengikik pelan mendengar betapa gigih Sera mengungkapkan pendapatnya. Dan ternyata Sera belum selesai dengan kalimatnya. “Yang mengurusi pencairan 1800 T APBN kita siapa? Kita. Yang buat LKPP siapa? Kita.”

Sera mengempaskan pensil yang sedari tadi ia mainkan di antara jemarinya, ke atas meja lalu ia menyilangkan kedua tangan di depan dada. Wajahnya bersungut-sungut. Aku melirik Carlo yang masih bingung memilih dan memilah berkas yang akan diberikan padaku. Ia tampak tidak peduli dengan perdebatan yang terjadi dengan ketiga orang itu.

Setelah memperlihatkan sikap bertahan seperti itu, kedua laki-laki yang ada di samping Sera tidak berbicara dalam waktu yang cukup lama. Barangkali, baru kali ini mereka mengetahui kenyataan seperti ini. Agung, laki-laki kurus berkacamata itu, sempat melihat Sera dengan wajah yang terlihat berpikir. Bisa jadi ia sedang mencari-cari pembelaan atas pendapatnya yang bertentangan dengan kata-kata Sera. Sementara Somad, laki-laki bongsor berpotongan rambut ala tentara, duduk tegak menghadap ke depan. Ia melihatku lama.

“Apa mungkin kita hanya melihat dari luarnya saja. Maksudku, kita boleh saja merasa bahwa kita telah bekerja keras, tapi siapa yang tahu seberapa keras ‘saudara’ kita bekerja sehingga dihargai sedemikian tinggi?” Somad mengangkat bahu. Agung mengangguk setuju.

“Ya. Mereka memang bekerja keras. Keras sekali.” Sera menjawab sinis.

“Jangankan di tingkat kementerian. Bahkan antara kamu dan Agung, bisa jadi ada ketidakadilan jumlah penghasilan. Kalau saya tanya, siapa yang lebih berdedikasi terhadap instansi, apa kalian bisa jawab?”

Carlo nimbrung dalam percakapan mereka. Kali ini aku tersenyum terang-terangan. Kali ini Carlo menjawab dengan tepat. Setidaknya jawaban retoris macam itu diperlukan untuk meredakan gejolak pemberontakan yang bisa saja muncul di dada tiga orang itu.

“Kita ini pelayan masyarakat. Lebih tinggi lagi, kita ini bekerja untuk yang di atas. Nabung pahala istilahnya. Pada akhirnya, apa yang kita dapat pasti sesuai dengan apa yang kita berikan. Seberapa banyak yang kita berikan? Hati kita sendiri yang tahu jawabannya.”

Rasanya ingin tertawa mendengar lanjutan pernyataan Carlo. Apa dia lupa pada larangan cuti yang ditujukan kepadaku waktu itu. Lalu sekarang dia berbicara tentang pahala? Sangat bertentangan dengan sikapnya sehari-hari.

“Tapi, Pak…” Sera tampak tidak terima.

“Sssttt… Perdebatan macam ini tidak akan memberi dampak apa-apa. Semakin kalian menyesali kondisi tempat kalian berada, semakin kalian merasakan sakit hati. Benar, nggak, Gayatri?” Dari mejanya, Carlo melihatku tajam. Aku mengangguk wagu, tak tahu harus menjawab apa.

Sayang, karena pertimbangan editor, dialog tersebut di atas dihapus di dalam cerita ini. Katanya terlalu teknis.

Pada akhirnya, semoga saja jika ke toko buku, dan melihat bibir merah merekah di sampulnya, teman-teman segera mengambil dan membawanya ke kasir. Atau bisa pesan langsung dengan mengirimkan nama dan alamat ke 085239949448 atau via SMS/WA. Semoga.

20415_10205370497733650_5408135833209091215_n

Paperback, 332 pages

Published March 13th 2015 by Exchange

original title 4 Musim Cinta

ISBN13 9786027202429

edition language Indonesian

url http://kaurama.com/exchange/

harga Rp59.500,-

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

4 Musim Cinta adalah sebuah novel yang bertutur tentang lika-liku kehidupan cinta empat birokrat muda: satu wanita, tiga pria. Gayatri, wanita Bali yang merasa berbeda dengan wanita-wanita pada umumnya. Gafur, pria Makassar yang menjalin kasih dengan seorang barista asal Sunda yang enggan menikah. Pring, pria Palembang yang nikah muda tetapi harus terpisah jauh dari istrinya karena tugas negara. Arga, pria Jawa yang selalu gagal menjalin hubungan dengan wanita. Mereka bertemu dan saling berbagi rahasia. Tak disangka, setiap rahasia kemudian menjadi benih-benih rindu yang terlarang. Persahabatan, cinta, dan kesetiaan pun dipertaruhkan

Insurgent dan Dunia Kecil Kita

 

 

Pemberontakan Tris berlanjut. Bakda penyerangan terhadap Abnegation, atas perintah dan rekayasa Jeanine, Tris dan Four harus terus melarikan diri, mencari faksi Dauntless yang lain, untuk melakukan pembalasan terhadap Jeanine.

Jeanine sendiri mencari kotak pesan sang pendiri, yang ditemukan di rumah keluarga Tris. Kotak pesan itu hanya bisa dibuka oleh seorang Divergent. Jeanine memulai pemburuan terhadap para Divergent. Ternyata, tidak setiap Divergent itu sama. Butuh seorang Divergent yang spesial yang dapat membuka kotak itu.

Seperti di film pertama, Divergent, dunia dibagi menjadi beberapa faksi: Dauntless, Erudite, Abnegation, Condor dan Amity. Mereka percaya faksi tersebut ada untuk menjaga kedamaian. Mereka juga percaya merekalah kaum manusia yang tersisa. Mereka berada dalam sebuah wilayah di dalam dinding. Dunia di luar dinding adalah dunia yang dipercayai penuh dengan ancaman bagi kemanusiaan.

Pola cerita seperti juga dapat ditemui di film The Maze Runner. Sekelompok pemuda terkurung di dalam suatu tempat. Pada waktu tertentu, pintu akan terbuka dan terhampar labirin mengelilingi tempat itu disertai monster. Bedanya, mereka percaya bahwa di balik labirin itu ada jalan keluar.

Jalan keluar itu menjadi solusi di Insurgent. Kotak pesan para pendiri yang ingin dibuka Jeanine tidak menyingkap fakta mengencai ancaman para Divergent, malah justru sebaliknya. Pendiri kota mengatakan bahwa keberadaan faksi adalah sebuah eksperimen untuk melahirkan Divergent, yang dapat melampaui semua faksi yang ada. Karakter Divergent dianggap dapat menyelematkan umat manusia, sebuah harapan baru bagi kemanusiaan. Divergent 100% itu ada para diri Tris.

Sementara di The Maze Runner, jalan keluar, menyingkap fakta lain. Dunia di luar labirin adalah dunia yang kacau. Mereka menjadi eksperimen di dalam tempat tersebut juga untuk mencari solusi kemanusiaan.

Di Insurgent, fakta yang sama juga disiratkan ketika di akhir cerita, Jeanine berkata, “Apa yang  kita ketahui tentang dunia di luar tembok sementara sudah 200 tahun berlalu sejak sistem ini didirikan?”

Di situ aku pun bertanya-tanya, tentang keberadaan manusia. Kita beribu tahun percaya, kita adalah manusia satu-satunya di alam semesta. Kita hidup di suatu tempat bernama bumi, dilingkupi atmosfer yang memisahkan kita dengan luar angkasa. Ada keinginan untuk menembus langit dan sampai kini, misi demi misi baru mengantarkan manusia bermimpi ke Mars. Sementara ada banyak galaksi lain di alam semesta.

Jangan-jangan kita ini seperti Divergent. Ditempatkan di suatu tempat, sengaja dibagi beberapa faksi, terisolasi dan dibuat percaya kitalah manusia satusatunya di alam semesta, tahutahu hanya sebagai sebuah eksperimen untuk kemudian melahirkan manusia yang mampu melampaui faksi yang dibikin di awal itu.

Menurut kamu?

Novel 4 Musim Cinta

10952008_10152840538994794_1183052442_n

Apa kau percaya jika satu hati hanya diciptakan untuk satu cinta? Barangkali beruntung orang-orang yang bisa jatuh cinta beberapa kali dalam hidupnya. Tetapi aku yakin, lebih beruntung mereka yang sanggup menghabiskan hidupnya dengan satu orang yang dicintai dan mencintainya.

Kau pernah membayangkan ada sebuah novel yang ditulis oleh 4 orang dengan karakter yang berbeda-beda?

Barangkali, novel 4 Musim Cinta dapat memberikanmu jawaban atas itu.

Empat orang PNS dari Ditjen Perbendaharaan, Kementerian Keuangan yang menulis novel ini. Mereka adalah Mandewi, Puguh Hermawan, Abdul Gafur dan Pringadi Abdi Surya. Nama terakhir tak asing karena ialah pemilik blog ini.

Kisah ini bermula dari persahabatan keempatnya. Mereka bertemu di sebuah diklat. Di sanalah, musim semi dimulai bagi Pring (si penulis memang suka menggunakan namanya sendiri sebagai nama tokoh). Pring merasa ada yang berbeda dari Gayatri. Ia berbincang dengan gadis Bali itu dan merasa jantungnya seperti dikapak oleh kakek penebang pohon. Jatuh cinta itu indah, tetapi tidak bagi yang sudah menikah.

Sementara Gayatri harus melupakan masa lalunya, Adam, yang berpisah darinya karena perbedaan-perbedaan yang ada. Ia juga didera kebencian atas pekerjaannya yang membuatnya tak dapat menghindari ngaben Aji/ayahnya. Hatinya membeku. Tapi, puisi-puisi dari Pring mulai melelehkannya.

Teman sekamar Pring ketika diklat, Gafur, punya gairah hidup yang membara. Percintaannya dengan seorang barista selalu membicarakan–mempertanyakan dunia. Ia tidak tahu, bahwa sahabatnya sendiri, Arga, juga menyukai gadis itu.

Di sini, di antara persahabatan, segalanya dimulai dan mungkin juga harus diakhiri.

Apa kau penasaran bagaimana nasib keempat orang ini?

NANTIKAN 4 MUSIM CINTA, TERBIT 13 MARET 2015.

Dapat dipesan langsung ke 085239949448 ya kalau mau yang bertanda tangan, atau nantikan di toko buku terdekat kamu.

 

Bercermin pada Natsuo Kirino

 

Aku harus berterima kasih kepada Ardy Kresna Crenata karena suatu hari dia menyebut Natsuo Kirino di statusnya. Tidak lama setelah itu, aku pulang ke Palembang, dan melihat satu buku masih terbungkus plastik tergeletak di atas meja. Buku itu kakakku yang beli. Judulnya Grotesque. Pengarangnya Natsuo Kirino.

Grotesque bicara lebih dari perempuan. Grotesque juga bicara lebih dari hierarki sosial. Grotesque menunjukkan kepadaku bahwa kebahagiaan memiliki makna yang unik. Ketika selesai membaca novel ini, salah satu pertanyaan yang muncul di benakku adalah siapakah di antara tokoh-tokohnya yang merasa paling bahagia?

Aku jadi ingat masa laluku. Ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar, tepatnya kenaikan kelas 4 SD, hidupku berubah. Kala itu ada tes satu kecamatan untuk menentukan siapa saja yang masuk ke kelas unggulan. Tesnya tertulis. Sebelumnya di kelas 3, aku selalu menduduki peringkat III selama 3 caturwulan berturut-turut. Di atasku ada Mega, anak tentara pindahan dari Jakarta yang sepertinya sudah mengenyam pendidikan lebih baik. Juga Mursal, yang selalu menduduki peringkat II. Tapi tak disangka, pada tes itu, nilaiku terbaik se-Kecamatan.

Aku bukanlah murid yang menonjol di kelas. Aku menyadari aku cukup cerdas, tetapi aku tidak pernah aktif di kelas. Aku tidak pernah maju atau pun menunjukkan tangan ketika guru bertanya. Aku diam saja di bangkuku, dan mencoret-coreti buku tulisku itu.

Aku dipanggil ke ruangan Kepala Sekolah. Di sana sudah ada pejabat dari Dinas Pendidikan. Kepala Sekolahku bertanya, “Kamu anaknya siapa?” Aku menjawab nama Bapakku. Dan ia manggut-manggut dan berkata, “Pantas saja. Bibitnya sudah unggul.”

Hari itu, di awal kelas 4 SD, aku memahami makna kalimat tersebut dan menanggungnya di pundakku seakan-akan aku hidup di bawah nama orang tuaku. Di sisi lain, saat itu aku sudah berpikir, suatu hari aku harus keluar dari bayang-bayang orang tuaku.

Grotesque juga bicara itu. Pendidikan dan orang tua. Keluarga-keluarga kaya memasukkan anak-anaknya di sekolah berkualitas sejak sekolah dasar untuk menempuh hidup yang lebih baik. Di luar itu, keluarga lain begitu bangga ketika pada masa sekolah menengah, sekolah lanjutan, ada anaknya yang berhasil masuk ke dalam sistem tersebut. Satu strata terbentuk dari jenjang pendidikan. Mereka yang berpendidikan di sekolah yang bagus akan lebih mungkin mendapat pekerjaan yang lebih baik. Dan nilai manusia ditentukan dari situ.

Itulah yang ada di benak Kazue Sato. Ia berusaha mati-matian untuk masuk ke dalam sistem. Ketika sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan papan atas G, ia justru bekerja sampingan sebagai pelacur demi targetnya mendapatkan tabungan 10 juta yen sebelum umur 40 tahun. Dengan demikian, ia bisa menghabiskan sisa hidupnya dalam kenyamanan dan melepaskan diri dari bayang-bayang keluarganya. Ya, sejak kematian ayahnya, lulusan universitas Tokoyo, yang menerapkan strata pendidikan secara ketat, ia menjadi tulang punggung keluarga dan menganggap keluarganya sebagai beban penghidupan.

Jalan hidup Kazue juga tak terlepas dari peran Yuriko. Ketika Kazue melihatnya di masa sekolah, kecantikannya yang luar biasa (sampai-sampai disebut Monster) membuat Kazue terpana. Bahkan nama jalanannya adalah Yuri. Diambil dari Yuriko. Betapa terkejutnya ketika suatu malam ia melihat Yuriko yang bak siang dan malam dengannya itu juga menjadi pelacur jalanan dengan lapisan lemak yang menumpuk. Kecantikannya memudar dimakan usia.

Lalu, apakah Yuriko tidak bahagia dengan jalan hidupnya? Dalam bersitan pemikiran sang tokoh utama, Yuriko memanglah perempuan yang tak bisa tanpa air. Sejak keperawanannya hilang oleh pamannya sendiri, ia begitu menyukai seks. Dengan seks, ia bisa berada di atas laki-laki. Itu yang ada di benak Kazue juga. Dengan seks pula, Yuriko bebas dari segala hierarki sosial yang ada. Ia bisa bercinta dengan ia siapa saja. Ia juga bisa bercinta demi tiga juta yen atau pun tiga ribu yen.

Beda lagi dengan Mitsuru yang menjadi murid terpintar di sekolah. Ia harus menyewa tempat tinggal di tempat yang lebih mewah, membayar mahal untuk itu, padahal ibunya adalah pemilik bar. Meski dari sisi akademis ia mendapatkan semua yang diinginkan, ia kemudian terjebak dalam aliran keagamaan tertentu demi hierarki yang lebih tinggi. Andai, ia tetap berpuas diri pada apa yang telah diraihnya, mungkin ia akan jadi dokter selamanya. Tapi, apakah Mitsuru tidak bahagia setelah dua tahun dipenjara dan menyaksikan suaminya dihukum seumur hidup?

Keengganan Mitsuru yang lahir dan punya ibu di distrik P, sebuah tempat non-elite, juga menjadi pertanyaan bagi Zhang, pembunuh Yuriko. Zhang yang lahir sebagai anak dusun selalu bertanya, apakah hidup kita ditentukan dari tempat lahir kita?

Kini, giliran aku yang berpikir tentang sebuah dalil yang mengatakan semua bayi itu suci dan tidak berdosa. Orang tualah yang menentukan mereka Islam, Yahudi, Nasrani atau Majusi. Apakah itu juga berarti orang tuanya juga yang menentukan strata hidup anaknya? Seorang anak yang dilahirkan di keluarga kaya akan menikmati kemewahan dan status sosial yang diberikan ayahnya. Tetapi anak yang dilahirkan di keluarga miskin, akan hidup di atas kemiskinan itu. Tentu sangat sedikit orang tidak berada yang bisa menaikkan status hidupnya. Begitu pun sangat sedikit orang yang sudah kaya dan terhormat mendadak bisa turun menjadi melarat.

Hidup seperti ini menggangguku. Sepanjang membaca Grotesque, aku begitu gelisah dan tak dapat tak berpikir, bagaimana hidup seperti ini ada?

PS:
Sampai terakhir, aku tak tahu nama tokoh utamanya. Siapa nama kakak Yuriko?
Apakah dengan demikian, Natsuo Kirino hendak berkata diri kita yang bercerita tidak pernah penting dari apa-apa yang ada di dalam cerita?