Tag Archives: novel phi

Bincang Phi di BDS Fair: Kritik Terhadap Realitas

Kemarin, saya mendapatkan kesempatan membincangkan PHI, novel saya, di Business Development Service (BDS) Fair 2019 di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak. Kesempatan yang berharga, soalnya di organisasi sendiri, saya belum pernah mendapatkan kesempatan serupa. Pernah sih, beberapa tahun lalu, 2016 kalau tak salah, dihubungi untuk mengisi acara di Perpustakaan. Namun, acara itu dibatalkan.

Setiap bicara soal PHI, saya bisa saja membicarakannya sebagai kisah cinta biasa, dari seorang pemuda yang tergila-gila pada seorang gadis. Dia ingin sekali bersama gadis itu. Namun, entah berapa kali dia mencoba, bahkan hingga memutar ulang waktu, yang ia dapati adalah kesedihan.

Waktu dan kesedihan adalah dua hal kental dari novel ini. Waktu dalam film “LUCY” dianggap “hanya” sebagai sebuah persepsi. Jika manusia tidak ada, jika makhluk hidup tidak ada, apakah waktu akan tetap ada?

Novel Phi

Waktu dalam PHI menjadi elemen kunci. Namun, masa lalu dan masa depan adalah pasti. Sebagaimana pun tokoh dalam PHI mencoba mengubah segala hal, ia tetap akan mendapat kenyataan yang serupa.

Kenyataan itulah yang berusaha saya metaforakan sebagai bagian dari rasio emas. PHI adalah rasio emas. Bahwa kesuksesan dan kegagalan dalam diri seseorang ada jatahnya, begitu juga kebahagiaan dan kesedihan.

Waktu pula yang dikacaukan dalam pikiran PHI (dan bagi pembacanya). Ya, dengan alur maju-mundur, bolak-balik, tanpa penanda, saya menginginkan pembaca konsentrasi penuh pada waktu-waktu yang kemudian menunjukkan perkembangan karakter.

Waktu itu juga yang menjadi kunci untuk melihat realitas. Manakah realitas yang benar-benar dijalani oleh Phi?

Sedemikian kabur, kecuali membaca hingga akhir dengan khusuk.

Teka-teki itulah yang coba saya hadirkan sebuah upaya kritik terhadap realitas.

Pernahkah kamu bertanya, seberapa yakin kamu bahwa kenanganmu adalah sesuatu yang benar-benar terjadi? Saya meyakini bahwa satu peristiwa yang sama, dialami oleh dua orang yang berbeda, bisa saja atau hampir pasti akan menghasilkan dua persepsi yang berbeda.

Dalam hal percintaan, sepasang kekasih yang berpisah, akan mempunyai dua versi penceritaan tentang kenapa mereka berpisah, siapa yang bersalah.

Tokoh PHI juga mengalami hal itu. Di dalam cerita kita akan dibuat bertanya-tanya mana yang sebenarnya dialami oleh PHI dan mana yang hanya persepsinya. Mana yang fakta, mana yang fiksi.

Seolah-olah hidup yang dialami PHI, hidup yang sedemikian tak masuk akal itu menjadi cerminan bahwa kenyataan yang hadir di sekitar kini sedemikian tak masuk akalnya. Anak menikah dengan ibunya. Kakak-beradik berhubungan intim. Bucin bunuh diri. Anak-anak SD mengalami depresi.

Lalu di mana kenyataan yang sebenarnya?

Apakah hidup yang kita jalani ini sebenarnya juga bukan kenyataan? Hanya “hidup” dari persepsi kita yang entah di mana.

Wawancara dengan Pringadi: Menulis, Cara Efektif untuk Berdialog

oleh W. Hanjarwadi

Tulisan tak hanya sebagai cara untuk mendokumentasikan perasaan. Ia juga medium menyampaikan gagasan dan dialektika.

Tak ada yang kebetulan pada setiap kejadian di dunia ini. “There are no random acts…. “ kata Mitch Albom dalam novelnya The Five People You Meet in Heaven. Barangkali itulah takdir. Dan logika takdir tak jauh beda dengan logika diagram alir (flowchart).

Dalam ilmu pemprograman komputer atau matematika, diagram alir diwakili oleh algoritma dan alir kerja (workflow) atau proses yang menampilkan simbol-simbol grafis berurutan yang saling terkoneksi oleh garis alir. Ada terminal awal atau akhir yang disimbolkan dengan rounded rectangle. Ada langkah atau proses yang disimbolkan dengan rectangle. Proses akan mengantarkan pada sebuah kondisi atau keputusan tertentu—disimbolkan dengan rhombus—yang berfungsi untuk memutuskan arah atau percabangan yang diambil sesuai dengan kondisi tertentu hasil dari proses atau tindakan. Continue reading Wawancara dengan Pringadi: Menulis, Cara Efektif untuk Berdialog

[Review Buku] Phi dalam Lingkaran Waktu

oleh: Maria Widjaja

Judul : Phi
Penulis : Pringadi Abdi Surya
Penerbit : Shira Media
Cetakan : Cetakan Pertama, September 2018
Tebal : 368 halaman; 13x19cm
ISBN : 978-602-6657-88-6

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.” – Soe Hok Gie

Saya tak pernah tahu apakah Phi merasa beruntung ada di dunia ini.

Ketika bayi, ia dibuang oleh orang tua biologisnya. Kemudian, sepasang suami istri yang baru saja kehilangan anak kandung menemukan bayi Phi dan lantas mengangkatnya sebagai anak. Mereka kemudian menganggap pertemuan itu adalah takdir. Maka dari itu, sang suami menberinya nama Phi. Phi berarti rasio emas. Berdasarkan rasio tersebut, semua hal di dunia ini sudah ada aturannya, rasio bakunya. “Kita bertemu itu sudah diatur Tuhan. Takdirmu adalah menjadi anak kami. Tuhan mengirimkanmu untuk menghapus kesedihan kami. …Tapi jangan kautanya aku, golden ratio itu bagaimana menghitungnya. Aku tah paham (hlm. 37),” ujar sang suami, ayah angkat Phi. Continue reading [Review Buku] Phi dalam Lingkaran Waktu