Tag Archives: nizar qabbani

Puisi Nizar Qabbani

Nizar Qabbani lahir di Damaskus, 21 Maret 1923. Ia pernah bekerja di Departemen Luar Negeri Suriah dan bertugas di Mesir dan Inggris. Namun, pada tahun 1944 ia tinggalkan pekerjaannya untuk mencurahkan perhatian pada satu-satunya hal yang ia cintai: puisi. Karya-karya Qabbani terdiri dari lusinan antologi puisi yang sangat populer di dunia Arab. Banyak puisinya yang dijadikan lirik lagu para penyanyi Arab kontemporer. Karena sikap politiknya, ia pernah dimusuhi oleh para pemimpin negara-negara Arab hingga terpaksa mengasingkan diri ke London, Inggris. Ia meninggal pada tahun 1998 di London. 

 

Peramal (Qariul Finjan)

dengan mata yang cemas
dia duduk
merenungi gelas yang terbuka
kemudian berkata,
“tak usah bersedih, anakku
kau telah ditakdirkan untuk jatuh cinta.”
anakku, siapa pun yang mengorbankan dirinya
untuk kekasihnya
adalah seorang martir.

telah lama kupelajari ramalan
namun tak pernah kubaca gelas seperti milikmu
telah lama aku belajar ramalan
dan tak pernah kulihat penderitaan
seperti penderitaanmu
kau telah ditakdirkan
terus berlayar dalam lautan cinta
kehidupanmu telah ditakdirkan
menjadi buku air mata
dan terus terpenjara
di antara api dan air

namun di balik seluruh kepedihan
di balik kesedihan yang mengurung kita
siang dan malam
di balik angin
udara yang basah
dan hembusan siklon
ada cinta, anakku
yang akan tetap
menjadi hal terbaik
dari sebuah takdir

akan ada seorang perempuan
dalam hidupmu, anakku
maha besar tuhan!
matanya sungguh indah
mulut dan desah tawanya
dipenuhi bebungaan dan melodi
kecintaan dan kegilaannya pada kehidupan
melingkupi dunia

seorang perempuan yang kau cintai
adalah seluruh duniamu
namun langitmu akan tetap mendung
jalanmu tertutup,
tertutup, anakku

kekasihmu, anakku
tertidur dalam istana
yang dijaga ketat
siapa pun yang mencoba
mendekati dinding-dinding tamannya
atau memasuki ruangannya
dan menawarkan diri padanya
atau mengurai sanggulnya
hanya akan membuatnya musnah
hilang, anakku

kau akan mencarinya ke manapun, anakku
kau akan bertanya pada gelombang laut
kau akan bertanya pada pantai
kau akan mengarungi samudra
dan air matamu mengalir seperti sungai
dan di akhir kehidupanmu
kau akan mengetahui bahwa
kekasihmu tak memiliki tanah,
tempat tinggal, ataupun alamat

saat itu kau tersadar
kau telah mengejar
jejak-jejak kabut

akan sulit, anakku
mencintai perempuan
yang tak memiliki tanah
ataupun tempat tinggal

Kita Akan Dianggap Teroris

kita akan dianggap teroris
jika kita berani menuliskan
puing-puing tanah air
yang berhamburan dan membusuk
dalam kemunduran dan kekacauan

tentang sebuah tanah air
yang tengah mencari tempat
dan tentang sebuah bangsa
yang tak lagi memiliki wajah

tentang tanah air
yang tak mewarisi apapun
dari puisi-puisi masa lalunya
yang luar biasa
selain ratapan dan elegi

tentang tanah air
yang tak memiliki apapun
dalam horizonnya

tentang kebebasan
beragam kelompok dan ideologi

tentang sebuah tanah air
yang melarang kita
membeli surat kabar
atau mendengarkan segala sesuatu

tentang sebuah tanah air
yang melarang burung-burung bernyanyi

tentang sebuah tanah air
yang para penulisnya
terpaksa menulis
dengan tinta transparan
agar terhindar dari kekejaman

tentang tanah air
yang menyerupai puisi di negeri kita
disusun, diedarkan, hilang,
dan tak memiliki batasan
dengan lidah dan jiwa orang asing
memisahkan lelaki dan tanahnya
menghapus seluruh keadaan mereka

tentang sebuah tanah air
yang dinegosiasikan di sebuah meja
tanpa harga diri
atau pun sepatu

tentang sebuah tanah air
yang tak lagi memiliki lelaki-lelaki tabah
dan hanya berisi para wanita

kegetiran di mulut kita
dalam kata-kata kita
dalam mata kita
akankah kekeringan juga menjangkiti jiwa kita
sebagai sebuah warisan
dari masa lalu?

tak seorang pun tersisa di negeri kita
bahkan sedikit kemenangan
tak seorang pun berkata ‘tidak’
di hadapan mereka
yang menyerahkan tempat tinggal,
makanan, dan mentega kita
mengubah sejarah kita yang berwarna
menjadi sebuah sirkus

kita tak memiliki satu pun
puisi yang jujur
puisi yang tak kehilangan kemurniannya
di tangan para penguasa harem

kita telah terbiasa terhina
kita tumbuh dengan penuh kehinaan
apakah arti seorang lelaki
jika ia merasa nyaman
dalam keadaan seperti itu?

aku cari-cari buku sejarah
aku cari-cari orang-orang luar biasa
yang akan mengeluarkan kita
dari kegelapan
dan menjaga perempuan-perempuan kita
dari kekejian dan kekejaman

aku mencari lelaki masa lalu
namun yang kutemukan
hanyalah kucing pengecut
yang takut pada jiwa mereka sendiri
dan kekuasaan para tikus

apakah kita dipukul
oleh nasionalisme buta
atau kita menderita
buta warna

kita akan dianggap teroris
jika kita menolak mati
di bawah kekuasaan tirani israel
yang merintangi persatuan kita
sejarah kita
injil dan quran kita
tanah para nabi kita
jika semua itu adalah dosa
dan kejahatan kita
maka terorisme
bukan sesuatu yang buruk

kita dianggap teroris
jika kita menolak
disingkirkan oleh orang-orang biadab,
mongol maupun yahudi

jika kita memilih menghancurkan
kaca-kaca dewan keamanan
yang dihuni oleh raja caesura

kita akan dianggap teroris
jika kita menolak berunding
dengan serigala
dan berbicara pada pelacur

amerika menentang budaya manusia
karena tak memiliki sesuatu
dan melawan peradaban
karena membutuhkan sesuatu
amerika adalah bangunan raksasa
namun tak memiliki dinding

kita akan dianggap teroris
jika kita menolak arus zaman
ketika amerika yang arogan, kaya, dan kuat
menjadi penerjemah orang-orang yahudi

Yerusalem (al-Quds)

Aku menangis
hingga air mataku mengering
aku berdoa
hingga lilin-lilin padam
aku bersujud
hingga lantai retak
aku bertanya
tentang Muhammad dan Yesus

Yerusalem,
O kota nabi-nabi yang bercahaya
jalan pintas
antara surga dan bumi!
Yerusalem, kota seribu menara
seorang gadis cilik yang cantik
dengan jari-jari terbakar

Kota sang perawan,
matamu terlihat murung.
Oasis teduh yang dilewati sang Nabi,
bebatuan jalananmu bersedih
menara-menara masjid pun murung.

Kota yang dilaburi warna hitam,
siapa yang akan membunyikan
lonceng-lonceng makam suci
pada hari Minggu pagi?
siapa yang akan memberi mainan
bagi anak-anak
pada perayaan natal ?

Kota penuh duka,
O, air mata yang sangat besar
bergetar di kelopak matamu,
siapa yang akan menyelamatkan Injil?
siapa yang akan menyelamatkan Quran?

siapa yang akan menyelamatkan Kristus,
siapa yang akan menyelamatkan manusia?
Yerusalem, kotaku tercinta

esok pepohonan lemonmu akan berbunga
batang dan cabangmu yang hijau
tumbuh dengan gembira
dan matamu berseri-seri.
merpati-merpati yang bermigrasi
akan kembali ke atap-atapmu yang suci
dan anak-anak akan kembali bermain

orang tua dan anak-anak akan bertemu
di jalananmu yang berkilauan
kotaku, kota zaitun dan kedamaian.

 

Diterjemahkan oleh Irfan Zaki Ibrahim

 

Syair

 

1

Kawan

Kata-kata lama telah mati.

Buku-buku lama telah mati.

Pembicaraan kita mengenai lubang seperti sepatu usang telah mati.

Mati adalah pikiran yang mengarahkan pada kekalahan.

 

2

Puisi-puisi kami sudah basi.

Rambut perempuan, malam hari, tirai, dan sofa

Sudah basi.

Segalanya sudah basi.

 

3

Negeri duka-citaku,

Secepat kilat

Kau merubah aku dari seorang penyair yang menulis puisi-puisi cinta

Menjadi seorang penyair yang menulis dengan sebilah pisau.

 

4

Apa yang kami rasa lebih dari sekadar kata-kata:

Kami harus malu lantaran puisi-puisi kami.

 

5

Dikendalikan oleh omong kosong Oriental,

Oleh sombongnya keangkuhan yang tak pernah membunuh seekor lalat pun,

Oleh biola dan beduk,

Kami pergi berperang,

Lalu menghilang.

 

6

Teriakan kami lebih lantang ketimbang tindakan kami,

Pedang kami lebih panjang ketimbang kami,

Inilah tragedi kami.

 

7

Pendeknya

Kami mengenakan jubah peradaban

Namun jiwa kami hidup di zaman batu.

 

8

Kau tak memenangkan perang

Dengan buluh dan seruling.

 

9

Ketaksabaran kami

Membayar kami lima puluh ribu tenda baru.

 

10

Jangan mengutuk sorga

Jika ia membuang dirimu,

Jangan mengutuk keadaan,

Tuhan memberi kemenangan pada siapa yang Ia kehendaki

Tuhan bukanlah seorang pandai yang dapat kau minta menaklukan senjata.

 

11

Betapa menyakitkan mendengar berita pagi hari

Betapa menyakitkan mendengar salak anjing.

 

12

Musuh-musuh kami tak melintasi perbatasan kami

Mereka merayap melalui kelemahan kami seperti semut.

 

13

Lima ribu tahun

Janggut tumbuh

Di goa-goa kami.

Mata uang kami tak diketahui,

Mata kami sebuah surga bagi serangga.

Kawan,

Bantinglah pintu,

Cucilah otakmu,

Cucilah pakaianmu.

Kawan,

Bacalah buku,

Tulislah buku,

Tumbuhkan kata-kata, anggur dan delima,

Berlayarkah ke negeri kabut dan salju.

Tak seorang pun tahu kau hidup di goa-goa.

Orang-orang mengambilmu untuk pengembangbiakan anjing liar.

 

14

Kami adalah orang berkulit tebal

Dengan jiwa yang kosong.

Kami habiskan hari-hari kami dengan belajar sihir,

Main catur dan tidur.

Adakah kami “Bangsa di mana Tuhan memberkati manusia?”

 

15

Minyak gurun kami bisa menjadi

Belati nyala api dan api.

Kamilah aib bagi nenek moyang kami yang mulia:

Kami biarkan minyak kami mengalir lewat jemari kaki para pelacur

 

16

Kami berlari serampangan di jalan-jalan

Menarik orang-orang dengan tali,

Menghancurkan jendela dan kunci.

Kami memuji bagai katak,

Mengubah orang kerdil jadi pahlawan,

Dan pahlawan menjadi sampah:

Kami tak pernah berhenti dan berpikir.

Di mesjid

Kami tertunduk malas

Menulis puisi-puisi,

Pepatah-pepatah,

Memohon pada Tuhan untuk kemenangan

Atas musuh kami.

 

17

Jika aku tahu aku akan datang tanpa kesalahan,

Dan dapat melihat Sultan,

Inilah yang akan kukatakan:
‘Sultan,

Anjing-anjingmu yang liar merobek pakaianku

Mata-matamu mengintaiku

Mata mereka mengintaiku

Hidung mereka mengintaiku

Kaki mereka mengintaiku

Mereka mengintaiku bagai Takdir

Menginterogasi istriku

Dan mencatat nama-nama kawanku.

Sultan,

Saat aku mendekati dindingmu

Dan bicara mengenai lukaku,

Tentara-tentaramu menyiksaku dengan boot mereka,

Memaksaku memakan sepatu.

Sultan,

Kau kehilangan dua perang,

Sultan,

Setengah rakyat kita tanpa lidah,

Apalah gunanya seorang manusia tanpa lidah?

Setengah rakyat kita

Terjebak bagai semut dan tikus

Di sela dinding.’

Jika aku tahu aku akan datang tanpa kesalahan,

Akan kukatakan padanya:

‘Kau kehilangan dua perang

Kau kehilangan kontak dengan anak-anak.’

 

18

Jika kami tak mengubur persatuan kami

Jika kami tak merobek tubuh-tubuh segar dengan bayonet

Jika ia berdiam di mata kami

Anjing-anjing tak kan mencincang daging kami membabi-buta.

 

19

Kami tidak menginginkan sebuah generasi yang marah

Untuk membajak langit

Untuk meledakkan sejarah

Untuk meledakkan pikiran-pikiran kami.

Kami menginginkan sebuah generasi baru

Yang tak memaafkan kesalahan

Yang tak membungkuk.

Kami menginginkan sebuah generasi raksasa.

 

20

Anak-anak Arab,

Telinga jagung masa depan,

Kalian akan memutuskan rantai kami,

Membunuh opium di kepala kami,

Membunuh ilusi.

Anak-anak Arab,

Jangan membaca generasi kami yang tercekik,

Kami hanyalah sebuah kotak tanpa harapan.

Kami sama tak berharganya dengan kulit semangka.

Jangan baca kami,

Jangan turuti kami,

Jangan terima kami,

Jangan terima pikiran kami,

Kami hanyalah bangsa bajingan dan pemain akrobat.

Anak-anak Arab,

Hujan musim semi,

Telinga jagung masa depan,

Kalian adalah generasi

Yang akan mengatasi kekalahan.

Pelajaran Menggambar

 

Anakku meletakkan kotak gambarnya di depanku

lalu memintaku menggambar seekor burung.

Kucelupkan kuasku pada cat abu itu

kugambar sebuah kotak dengan kunci dan palang pintu.

Matanya terbelalak heran:

“… Ayah, bukankah ini penjara,

tahukah kau bagaimana menggambar burung?”

Kukatakan padanya: “Nak, maafkan aku.

Aku sudah lupa pada bentuk burung-burung.”
Anakku meletakkan buku gambarnya di depanku

lalu memintaku menggambar tangkai gandum.

Kugenggam pena

lantas kugambar tangkai senapan.

Anakku menertawakan kebodohanku,

bertanya

“Ayah, tak tahukah engkau, perbedaan

tangkai gandum dan senapan?”

Kukatakan padanya, “Nak,

aku pernah mengetahui bentuk tangkai gandum

sekerat roti

dan kembang mawar.

Tapi di saat segenting ini

pohon-pohon hutan telah bergabung

dengan pasukan tentara

mawar-mawar mengenakan seragam yang kusam.

Kini saatnya tangkai gandum bersenjata

burung-burung bersenjata

budaya bersenjata

bahkan agama pun bersenjata.

Kau tak bisa membeli roti

tanpa menemukan peluru di dalamnya

kau tak bisa memetik mawar

tanpa duri memercik di wajahmu

kau tak bisa membeli sebuah buku

yang tak meledak di sela jemarimu.”

 

Anakku duduk di tepi tempat tidur

lalu memintaku membacakan sebuah puisi.

Sebutir airmata jatuh di atas bantal.

Anakku merabanya, heran, berkata:

“Ayah, ini airmata, bukan puisi!”

Lalu kukatakan padanya:

“Nak, saat engkau tumbuh dewasa,

dan membaca diwan-diwan puisi Arab

kau akan temukan bahwa puisi dan air mata tiada bedanya.

Dan puisi-puisi Arab

tak ubahnya kucuran airmata dari jemari yang menulis.”

 

Anakku meletakkan pena dan kotak krayon miliknya

di depanku

lalu memintaku menggambar sebuah tanah air untuknya.

Kuas di tanganku seketika gemetar

aku tenggelam, dan menangis.

 

 

Saat Aku Mencintaimu

 

Saat aku mencintaimu

sebuah bahasa baru terpancar,

kota-kota dan negeri-negeri baru ditemukan.

Jam bernapas seperti anak anjing,

gandum tumbuh di sela halaman-halaman buku,

burung-burung terbang dari matamu bersama gelombang madu,

para kafilah bertolak dari payudaramu membawa herbal India,

buah mangga berjatuhan di mana-mana, hutan menyergap nyala api

dan beduk Suku Nubia berbunyi.

 

Saat aku mencintaimu payudaramu melepaskan rasa malunya,

berubah menjadi petir dan guntur, pedang, dan badai pasir.

Saat aku mencintaimu kota-kota Arab berloncatan dan unjuk rasa

menentang abad penindasan

serta abad pembalasan dendam terhadap aturan suku.

Lalu aku, saat aku mencintaimu,

aku berjalan menentang keburukan,

menentang raja garam,

menentang pelembagaan gurun.

Dan aku akan terus mencintaimu hingga banjir dunia tiba,

aku akan terus mencintaimu hingga saatnya banjir dunia tiba.

 

 

Saat Aku Jatuh Cinta

 

Saat aku jatuh cinta

Kurasa akulah raja waktu

Aku pemilik bumi dan segala di atasnya

Kutuju matahari dengan kuda tungganganku.

 

Saat aku jatuh cinta

Aku menjadi cahaya cair

Yang tak kasat mata

Dan sajak-sajak dalam catatanku

Menjelma jadi ladang bunga poppy dan mimosa.

 

Saat aku jatuh cinta

Jemariku memancarkan air

Dan lidahku menumbuhkan rumput

Saat aku jatuh cinta

Aku menjadi waktu di luar segala waktu.

 

Saat aku jatuh cinta pada seorang wanita

Seluruh pohonan

Berlari telanjang kaki menghadapku.

 

 

Perbandingan

 

Cintaku, aku tak serupa kekasihmu yang lain.
Jika seseorang memberimu segumpal awan
kuberi kamu hujan.
Saat seseorang memberimu lentera

kuberi kamu bulan.
Saat seseorang memberimu dedahan
kuberi kamu pohonan
Dan jika seorang yang lain memberimu kapal
kuberikan padamu petualangan.

 

 

Cahaya Lebih Penting Ketimbang Lentera

 

Cahaya lebih penting ketimbang lentera,

Puisi lebih penting ketimbang buku catatan,

Dan lebih penting ketimbang bibir ialah ciuman.

 

Surat-suratku kepadamu

Lebih besar dan lebih penting ketimbang kita berdua.

Merekalah satu-satunya catatan

Di dalamnya orang-orang kan temukan

Kecantikanmu

Kegilaanku.

 

 

Percakapan

 

Jangan katakan bahwa cintaku

Sebatas cincin atau gelang.

Cintaku adalah kepungan,

Berani dan keras kepala.

Ia berlayar mencari kematiannya sendiri.

 

Jangan katakan bahwa cintaku

Sepotong rembulan.

Cintaku, percikan ledakan.

 

 

Kekasihku Bertanya Padaku

 

Kekasihku bertanya padaku:

“Apa beda diriku dan angkasa?”

Bedanya, kasihku,

ialah saat kau tertawa,

kulupakan angkasa.

 

 

Sajak Maritim

 

Di dermaga biru matamu

hujan cahaya berembus sendu

matahari dan layar-layar

melukis perjalanan menuju keabadian.

 

Di dermaga biru matamu

jendela bagi laut yang terbuka

burung-burung terbang jauh

mencari pulau yang belum tercipta.

 

Di dermaga biru matamu

salju jatuh di bulan juli

kapal-kapal dengan muatan pirus bertumpahan

melintasi laut, tapi tak tenggelam.

 

Di dermaga biru matamu

bagai seorang bocah aku lari di atas batu berserakan

menghirup aroma lautan

melepas seekor burung kelelahan

 

Di dermaga biru matamu

batu-batu bernyanyi malam hari

siapa yang menyembunyikan seribu puisi

pada buku tertutup pejam matamu?

 

Andai, aku seorang pelaut

andai saja seseorang memberiku perahu

setiap malam akan kugulung layarku

di dermaga biru matamu.

 

Diterjemahkan Zulkifli Songyanan

Sajak Nizar Qabbani, Terjemahan Lepas M. Aan Mansyur

Lari-lari Kecil pada Pagi Hari

Kita memasukkan diri ke dalam barisan

seperti kawanan domba yang hendak disembelih.

Kita berlari, terengah-engah, ingin mencium

sol sepatu para pembunuh.

Mereka menculik anak Maryam

padahal ia masih bayi. Mereka mencuri

dari diri kita ingatan pohon-pohon jeruk,

dan aprikot dan rimbun semak mint,

dan lilin dari masjid-masjid.

Mereka meletakkan di tangan kita

sekaleng sarden bernama Gaza

dan sepotong tulang kering bernama

Yerikho. Mereka membiarkan kita

tumbuh sebagai tubuh tanpa tulang,

sepasang lengan tanpa jemari.

Setelah perselingkuhan rahasia yang basah

di Oslo, kita dilanda kekeringan.

Mereka memberi kita tanah air

yang lebih kecil dari sebiji gandum.

Tanah air yang akan kita telan tanpa air,

seperti sebutir aspirin.

Kita memimpikan perdamaian yang hijau

dan bulan sabit putih

dan laut biru.

Namun, kini, kita menemukan diri kita

cuma seonggok tinja.

*

Tuan Sultan

Jika ada yang menjamin keselamatanku,

jika aku mampu bertemu dengan Sultan,

aku akan mengatakan kepadanya: O Tuanku Sultan!

Anjing Tuan yang rakus merobek-robek jubahku,

mata-mata Tuan mengikutiku sepanjang waktu.

Mata mereka, hidung mereka, kaki-kaki mereka

mengejarku seperti takdir, seperti nasib.

Mereka menginterogasi istriku

dan menulis nama semua sahabatku.

Wahai, Sultan!

Karena aku berani mendekati dindingmu yang tuli,

karena aku mencoba mengungkapkan kesedihan

dan kesusahanku, aku dipukuli

dengan sepatu bututku sendiri.

Wahai, Tuan Sultan!

Engkau telah kalah perang dua kali

karena setengah dari orang-orang kita

tidak memiliki bahkan sepotong lidah.

 

*

 

Bahasa

Ketika seorang lelaki jatuh cinta,

kenapa ia harus memakai kata-kata?

Apakah para wanita mendambakan

kekasih mereka berbaring di dekatnya

sebagai ahli bahasa?

Aku tidak mengucapkan apa pun

kepada wanita yang aku cintai.

Aku memasukkan kamus-kamus

ke dalam koper dan melarikan diri

dari semua bahasa.

*

Percakapan

 

Jangan kausebut cintaku

seikat cincin atau gelang.

Cintaku adalah pengepungan.

Keberanian dan kemauan keras

yang bangkit dari kematian mereka.

Jangan kausebut cintaku

sebagai semata bulan.

Cintaku lebih hebat dari ledakan

cahaya.

*

 

Surat dari Bawah Laut

 

Jika engkau sahabatku,

bantu aku menanggalkanmu.

Atau, jika engkau kekasihku,

bantu aku menyembuhkan diri darimu.

Andai aku tahu lautan sedalam ini,

aku tidak akan menceburkan diri,

Andai aku tahu bagaimana aku berakhir,

aku tidak akan pernah memulai.

Aku mendambakanmu, maka ajari aku ketidakinginan.

Ajari aku mencabut akar cintamu dari kedalaman.

Ajari aku memadamkan kesedihan di mata

hingga cinta memutuskan bunuh diri.

Jika engkau seorang nabi,

bersihkan aku dari kutukan ini,

bebaskan aku dari ketiadaan iman.

Mencintaimu ibarat tak memeluk satu agama pun,

maka sucikan aku dari kehampaan ini.

Jika engkau kuat,

angkat aku dari dasar laut ini

karena aku tidak tahu berenang.

Ombak biru di sepasang matamu

menarikku ke palung paling dalam

biru

biru

seluruh biru

dan aku tidak memiliki pengalaman

mencintai dan tidak ada perahu

sama sekali.

Jika engkau mengasihiku

ulurkan lenganmu, rengkuh aku,

sebab aku dipenuhi nafsu

dari rambut hingga kuku-kuku

kakiku.

Aku bernapas dari sini, di bawah laut.

Aku tenggelam,

tenggelam,

tenggelam.

Cahaya Lebih Penting daripada Lampu

Cahaya lebih penting daripada lampu,

puisi lebih penting daripada buku catatan,

dan ciuman lebih penting daripada sepasang bibir.

Surat-suratku kepadamu

lebih agung dan lebih penting daripada kita berdua.

Lembaran-lembaran itu satu-satunya dokumen

di mana orang-orang kelak menemukan

kecantikanmu

dan kegilaanku.

*

Wahai,Kekasihku

Wahai, Kekasihku,

jika kau berada di sini, di puncak kegilaanku,

kau akan menyingkirkan semua perhiasanmu,

kau akan menjual habis gelang-gelangmu,

dan pulas tertidur di mataku.

*

Tentang Menyelami Lautan

 

Cinta, pada akhirnya, tiba juga

dan kita memasuki surga,

menyelusup

di bawah kulit air

seperti ikan.

Kita melihat mutiara laut berkilau

dan mata kita dipenuhi kekaguman.

Cinta, pada akhirnya, menimpa kita juga,

tanpa paksaan, dengan keinginan yang setara,

sebesar yang kuberi, sebesar yang kauberi,

dan kita merasa sama adil.

Cinta menyerahkan diri, pasrah,

seperti mata air yang terbit begitu saja

dari balik tanah.

 

*

 

Coretan-coretan Anak Kecil

 

Kesalahanku, kesalahan terbesarku,

Duhai, Putri bermata laut,

adalah mencintaimu

seperti seorang anak kecil mencintai.

Namun, kekasih paling mulia,

sesungguhnya, adalah anak kecil.

Kesalahan pertamaku

dan bukan yang terakhir

adalah hidup

di pusat keingintahuan

selalu siap terkesiap

bahkan oleh peralihan sederhana

kelam dan terang. Malam dan siang.

Dan menyediakan diri kepada setiap perempuan

yang aku cintai untuk memecahkan diriku

menjadikanku ribuan serpihan,

mengubahku jadi kota terbuka dan terluka,

dan meninggalkanku di balik punggungnya

sebagai kepulan debu.

Kelemahanku adalah melihat dunia

dengan pikiran anak kecil.

Dan, sungguh, kesalahanku adalah menyeret cinta

keluar dari gua, melepaskannya ke udara,

memugar dadaku jadi gereja

yang menerima semua pecinta.

*

Cintamu adalah Sekolahku

Cintamu mengajariku bagaimana cara berduka,

dan selama berabad-abad yang sungguh kucari

adalah perempuan yang mampu membuatku bersedih.

Aku membutuhkan seorang perempuan

yang membuatku menangis di bahunya seperti seekor burung.

Aku membutuhkan perempuan yang mau mengumpulkan

serpihan diriku seperti mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.

Cintamu, Duhai Perempuanku, mengenalkanku kebiasaan buruk

paling buruk, mengajariku meminum ribuan gelas kopi setiap malam,

mengajakku ke laboratorium mengamati bahan-bahan kimia,

memaksaku mengunjungi dokter dan para peramal,

Cintamu mengajariku meninggalkan rumah

menelusuri ruas-ruas jalan, mencari wajahmu

di benang-benang hujan dan lampu-lampu kendaraan,

mengamati pakaianmu di tubuh orang-orang yang tak kukenal,

mencari senyummu di poster-poster dan iklan-iklan koran.

Cintamu mengajariku mengembara, mencari model rambut

yang membuat semua perempuan gipsi cemburu, mencari

wajah dan suara yang lebih indah dari seluruh wajah dan suara.

Cintamu, Perempuanku, memasukkanku ke dalam kesedihan,

kota yang tidak pernah kudatangi sebelum menemukanmu.

Aku tidak tahu, kesedihan adalah manusia itu sendiri.

Tanpa air mata, manusia hanya kenangan.

Bayangan belaka.

Cintamu mengajariku menggambar wajahmu dengan kapur

seperti seorang anak kecil. Di tembok-tembok kota, di dinding

perahu para nelayan, di lonceng-lonceng geraja, di patung-patung

Yesus.

Cintamu mengajariku bahwa cinta mampu mengubah peta waktu.

Cintamu mengajariku bahwa jika aku mencintai, bumi akan tertegun

dan lupa bagaimana cara perputar.

Cintamu mengajarkan kepadaku hal-hal yang tak masuk akal.

Aku membaca buku-buku dongeng. Aku memasuki kastil

para peri. Aku bermimpi mereka akan menikahkan aku

dengan putri Sultan. Duhai, sepasang mata itu, lebih bening

daripada mata air, lebih segar dari buah-buah delima.

Aku bermimpi jadi seorang pangeran dan menculiknya.

Dan aku bermimpi memberikannya seuntai kalung mutiara.

Cintamu, Wahai Perempuanku, mengajariku arti hayalan

dan kegilaan. Mengajariku bahwa hidup akan baik-baik saja

meskipun putri Sultan tidak pernah datang. Mengajariku

menemukan dan mencintaimu dalam hal-hal sederhana.

Di pohon-pohon musim gugur yang telanjang, di daun-daun

kering yang jatuh, di butiran-butiran hujan, di ketenangan kuil,

di tengah riuh kafe tempat orang mabuk, dalam malam-malam

senyap, dalam bergelas-gelas kopi hitam.

Cintamu mengungsikanku di kamar-kamar hotel murah tak bernama,

di gereja-gereja tak bernama, di rumah-rumah kopi tak bernama.

Cintamu mengajariku bagaimana malam dipenuhi kesedihan

orang-orang asing. Mengajariku melihat Beirut sebagai perempuan,

kekejaman godaan sebagai perempuan, memasangkan gaun

paling indah yang dia punya ke tubuh setiap malam,

dan menumpahkan parfum ke dadanya.

Cintamu mengajariku menangis tanpa air mata.

Mengajariku menidurkan kesedihan, seperti anak kecil

dan kakinya yang kelelahan berjalan dari Rouche ke Hamra.

Cintamu mengajariku bagaimana cara berduka,

dan selama berabad-abad yang sungguh kucari

adalah perempuan yang mampu membuatku bersedih.

Aku membutuhkan seorang perempuan

untuk membuatku menangis di bahunya seperti seekor burung.

Aku membutuhkan perempuan yang mau mengumpulkan

serpihan diriku seperti mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.

*

Ketika Aku Mencintai

 

Ketika aku mencintai,

aku merasa akulah penguasa waktu,

aku pemilik bumi dan segala sesuatu di atasnya,

dan aku menunggang kuda dan melaju

menuju matahari.

Ketika aku mencintai,

aku adalah lelehan cahaya,

kasat mata, dan puisi di buku catatanku

tumbuh jadi taman bunga paling indah.

Ketika aku mencintai,

air mengalir dari sela jari-jariku,

rumput tumbuh di lidahku,

Ketika aku mencintai,

aku menjadi waktu di luar seluruh waktu .

Ketika aku mencintai seorang wanita,

semua pohon, tanpa alas kaki,

berjalan ke arahku.

*

Ketika Aku Mencintaimu

Ketika aku mencintaimu,

bahasa baru terbit seperti mata air,

kota baru, negara-negara baru, ditemukan .

Jam dinding bernapas seperti anak-anak anjing.

Gandum tumbuh di halaman-halaman buku.

Burung-burung berlepasan dari matamu

seperti lelehan madu. Serombongan kafilah

datang dari dadamu membawa ramuan India.

Buah-buah mangga berjatuhan dari dahan,

hutan terbakar, dan gendang-gendang Nubia

tak henti menyeru para penari.

Ketika aku mencintaimu,

sepasang payudaramu melepaskan rasa malu,

berubah menjadi petir dan gelegar guntur,

sebilah pedang, dan badai pasir yang hebat .

Ketika aku mencintaimu,

kota-kota Arab bangkit dan meneriakkan

perlawanan terhadap zaman penindasan,

menumpahkan kemarahan kepada hukum

yang menganiaya suku-suku tertentu.

Dan aku, ketika aku mencintaimu,

aku ikut berbaris melawan semua kejahatan,

melawan pengusaha yang menimbun garam,

melawan penguasa yang mengubah gurun

jadi kebun sendiri.

Dan aku akan terus mencintaimu

hingga banjir bandang itu datang,

Aku akan terus mencintaimu

hingga banjir bandang itu datang

menghapus dunia.

*

Pada Musim Panas

Pada musim panas,

kubawa diriku ke pantai

berbaring dan memikirkanmu.

Kutumpahkan ke dada laut

seluruh perasaanku kepadamu.

Laut akan menanggalkan pantai,

meninggalkan karang-karang,

kerang-kerang, juga ikan-ikan,

dan berjalan mengikutiku pulang.

 

*

 

Kekasihku Bertanya Kepadaku

Kekasihku bertanya kepadaku:

“Apa bedanya aku dengan langit?”

Perbedaannya, Sayang,

adalah jika kau tertawa,

aku lupa apa itu langit.

*

Puisi tentang Laut

Di pelabuhan biru matamu

berembus hujan dan kilau suar

ibarat suara-suara yang merdu.

Matahari gemetar dan layar

melukis perjalanan mereka

ke keabadian.

Di pelabuhan biru matamu

lautan terbuka seperti jendela.

Burung-burung datang dari jauh,

mencari pulau-pulau yang tiada

dalam peta.

Di pelabuhan biru matamu

salju jatuh menyelimuti bulan Juli.

Kapal sarat dengan bebatuan mulia

tumpah ke laut dan tidak tenggelam.

Di pelabuhan biru matamu

aku menyusur pantai bagai anak kecil.

Menghirupembuskan aroma garam

dan memulangkan burung-burung

yang kelelahan ke sarang.

Di pelabuhan biru matamu

karang bersenandung pada malam hari.

Siapa gerangan yang menyembunyikan ribuan puisi

ke dalam lembaran buku tertutup di matamu?

Andai saja, andai saja aku seorang pelaut,

andai saja ada seorang memberiku perahu,

aku akan menggulung layarku setiap malam

dan bersandar di pelabuhan biru

matamu.