Tag Archives: natsuo kirino

Tujuh Buku yang Wajib Dibaca Pegawai Perbendaharaan

 

                Menjadi sederhana bukan berarti tidak menyisihkan waktu dan uang untuk membeli dan membaca buku. Hanya manusia bar-bar yang mengabaikan buku sebagaimana mal yang bar-bar kalau tidak punya toko buku dan koran yang bar-bar kalau tidak punya lembar sastra di dalamnya.

Apalagi yang penempatan di daerah-daerah, yang tidak tahu bagaimana cara membelanjakan uangnya selain untuk makan dan tiket pulang, mubazir sekali rasanya kalau uang cuma menumpuk di rekening dan menunggu berbunga setiap bulannya. Investasi pengetahuan tentu lebih baik dari pada investasi rumah. Tapi kalau ada yang mau kasih saya rumah, alhamdulillah.

Setidaknya ada 7 buku yang wajib dibaca pegawai Perbendaharaan untuk membunuh sepi, sambil melihat gunung, ombak di tepi pantai, atau merasakan angin semilir yang paham makna kesepian dari perantauan.

Trilogi 1Q84, Haruki Murakami

10357575

Tujuan beasiswa pegawai Kementerian Keuangan selain Australia adalah Jepang. Alasannya klise, dana untuk beasiswa-beasiswa itu berasal dari utang luar negeri, dengan kontribusi Australia dan Jepang. Nah, Haruki Murakami adalah salah satu penulis Jepang paling dahsyat yang pernah ada. Dengan membaca novel penulis Jepang, bisa jadi motivasi untuk berangkat ke Jepang itu semakin besar.

Di 1Q84, para pegawai Perbendaharaan bisa belajar dari Tengo yang jago matematika, berbadan atletis, tapi dianggap tak punya peran penting dalam kehidupan. Ayahnya hanyalah seorang penagih iuran saluran televisi. Dan selain mengajar les, kehidupannya hanya ada di dalam kamar.

Tengo dapat mengajarkan perasaan kesepian sesungguhnya, sambil mengenang cinta pertama yang entah di mana. Sehingga ketika ada yang merasa kesepian, ingatlah Tengo.

Itu sebelum Tengo bertemu Fuka-Eri. Fuka-eri menulis tentang kepompong dan orang kecil. Boleh jadi pegawai Perbendaharaan dianggap orang kecil, tapi boleh jadi juga sekarang ini Perbendaharaan masih seperti kepompong. Tapi, jangan jadi kupu-kupu. Karena kupu-kupu maksimal hanya hidup selama 40 hari.

Grotesque, Natsuo Kirino.

51xmyMydf3L._SY344_BO1,204,203,200_

Kalau 1 orang Jepang tak cukup untuk motivasi ke Jepang, tambahkan 1 orang Jepang lagi.

Natsuo Kirino mengajarkan bahwa nama itu tidak penting. Sampai akhir cerita, buku yang tebalnya cukup untuk menimpuk seseorang ini tidak menuliskan nama tokoh utamanya. Tokoh utamanya tidak cantik, tidak seksi, tidak menonjol di kelas, karirnya pun biasa-biasa saja. Ia hidup menjadi manusia pada umumnya, meski dikelilingi orang-orang yang istimewa, unik, sampai ambisus sekalipun.

Nah, barangkali ini bisa menghiburkan perasaan pegawai Perbendaharaan. Biar tidak dianggap, biar tidak dikenal oleh masyarakat luas, kita tetap bisa menjadi tokoh utama dalam cerita.

 

Lelaki Harimau, Eka Kurniawan.

wpid-img_20150228_051341

Sayangnya, jumlah lelaki harimaunya bukan tujuh. Kalau ada tujuh lelaki harimau, pasti sudah jadi judul sinetron.

Lelaki Harimau setidaknya berhasil menguliti sisi kebinatangan manusia yang sering bertindak tanpa berpikir, mengabaikan akal sehat pada segala bentuk persoalan.

Persoalannya dimulai dari seorang lelaki yang tak mau berkirim surat pada seorang perempuan. Mereka berdua orang tua Margio. Mereka berpisah karena sang lelaki hendak mamantaskan diri untuk menjadi pasangan sang wanita. Ketika berpisah, dan tak ada surat lagi, sang wanita dinikahi lelaki lain.

Margio mengajarkan kita betapa keutuhan keluarga itu penting. Peran seorang ayah dipadu peran seorang ibu dalam pertumbuhan dibutuhkan. Janganlah ada lagi pegawai-pegawai Perbendaharaan yang suaminya bekerja di mana, istrinya di mana, anaknya ikut kakeknya bila tidak mau sang anak berubah menjadi Lelaki Harimau.

 

4 Musim Cinta, Mandewi Puguh Gafur Pringadi

10984214_10152814673939794_8329987928236371049_n

Panjang sekali ya nama pengarangnya. Oh, tidak, novel itu ditulis oleh empat orang dan keempat-empatnya adalah pegawai Ditjen Perbendaharaan.

Sungguh terlalu sekali, jika keluarga sendiri yang menulis, tapi tidak dimiliki?

Novel ini berkisah mengenai lika-liku cinta dan kehidupan birokrat muda di Perbendaharaan. Keempat karakternya memiliki latar belakang daerah yang berbeda, penempatan yang berbeda, dan juga memiliki masalah-masalah yang berbeda. Subplot itu kemudian berada di bawah satu plot besar dalam pertanyaan apakah kita telah siap atas sebuah pilihan hidup yang telah kita ambil?

Pringadi meyakini tak ada yang salah dari perasaan. Tapi perasaan itu menjadi salah ketika ia sudah menikah, terlebih ia jatuh hati kepada Gayatri. Sementara Arga dan Gafur terlibat dalam cinta segitiga dengan seorang barista. Bagaimanakah kemudian mereka harus memilih, pada cinta atau persahabatan?

Sampai akhir, tak ada yang tahu siapa yang paling berbahagia di antara apa yang sudah terjadi, dan tak ada yang menemukan jawaban, kenapa Tuhan menciptakan kebahagiaan?

 

Aku Cukup Menulis Puisi, Masihkah Kau Bersedih, Pringadi Abdi Surya

the_diary_by_slawekgruca-d76z4aj

Apalah arti hidup tanpa puisi, barangkali seperti makan garam tanpa sayur.

Ini adalah buku kumpulan puisi yang ditulis Pringadi selama di Sumbawa Besar. Terlebih ia menulisnya di komputer KPPN, selama ia menjadi FO Pencairan Dana.

Ketika kita masih dan terus bersedih, puisilah obatnya. Puisi diyakini Pringadi dapat membuat orang tersenyum, jatuh cinta, merindu, dan mengobati luka demi luka akibat kesepian. Tapi puisi juga bisa menghadirkan kesepian paling sepi juga.

Hebatnya, buku ini tidak dijual di toko buku. Buku ini indie. Hanya bisa dibeli di penulisnya dan di Indie Book Corner

 

 

 

Itulah 7 buku yang wajib dibaca pegawai Perbendaharan!

 

 

 

Bercermin pada Natsuo Kirino

 

Aku harus berterima kasih kepada Ardy Kresna Crenata karena suatu hari dia menyebut Natsuo Kirino di statusnya. Tidak lama setelah itu, aku pulang ke Palembang, dan melihat satu buku masih terbungkus plastik tergeletak di atas meja. Buku itu kakakku yang beli. Judulnya Grotesque. Pengarangnya Natsuo Kirino.

Grotesque bicara lebih dari perempuan. Grotesque juga bicara lebih dari hierarki sosial. Grotesque menunjukkan kepadaku bahwa kebahagiaan memiliki makna yang unik. Ketika selesai membaca novel ini, salah satu pertanyaan yang muncul di benakku adalah siapakah di antara tokoh-tokohnya yang merasa paling bahagia?

Aku jadi ingat masa laluku. Ketika aku duduk di bangku Sekolah Dasar, tepatnya kenaikan kelas 4 SD, hidupku berubah. Kala itu ada tes satu kecamatan untuk menentukan siapa saja yang masuk ke kelas unggulan. Tesnya tertulis. Sebelumnya di kelas 3, aku selalu menduduki peringkat III selama 3 caturwulan berturut-turut. Di atasku ada Mega, anak tentara pindahan dari Jakarta yang sepertinya sudah mengenyam pendidikan lebih baik. Juga Mursal, yang selalu menduduki peringkat II. Tapi tak disangka, pada tes itu, nilaiku terbaik se-Kecamatan.

Aku bukanlah murid yang menonjol di kelas. Aku menyadari aku cukup cerdas, tetapi aku tidak pernah aktif di kelas. Aku tidak pernah maju atau pun menunjukkan tangan ketika guru bertanya. Aku diam saja di bangkuku, dan mencoret-coreti buku tulisku itu.

Aku dipanggil ke ruangan Kepala Sekolah. Di sana sudah ada pejabat dari Dinas Pendidikan. Kepala Sekolahku bertanya, “Kamu anaknya siapa?” Aku menjawab nama Bapakku. Dan ia manggut-manggut dan berkata, “Pantas saja. Bibitnya sudah unggul.”

Hari itu, di awal kelas 4 SD, aku memahami makna kalimat tersebut dan menanggungnya di pundakku seakan-akan aku hidup di bawah nama orang tuaku. Di sisi lain, saat itu aku sudah berpikir, suatu hari aku harus keluar dari bayang-bayang orang tuaku.

Grotesque juga bicara itu. Pendidikan dan orang tua. Keluarga-keluarga kaya memasukkan anak-anaknya di sekolah berkualitas sejak sekolah dasar untuk menempuh hidup yang lebih baik. Di luar itu, keluarga lain begitu bangga ketika pada masa sekolah menengah, sekolah lanjutan, ada anaknya yang berhasil masuk ke dalam sistem tersebut. Satu strata terbentuk dari jenjang pendidikan. Mereka yang berpendidikan di sekolah yang bagus akan lebih mungkin mendapat pekerjaan yang lebih baik. Dan nilai manusia ditentukan dari situ.

Itulah yang ada di benak Kazue Sato. Ia berusaha mati-matian untuk masuk ke dalam sistem. Ketika sudah diterima bekerja di sebuah perusahaan papan atas G, ia justru bekerja sampingan sebagai pelacur demi targetnya mendapatkan tabungan 10 juta yen sebelum umur 40 tahun. Dengan demikian, ia bisa menghabiskan sisa hidupnya dalam kenyamanan dan melepaskan diri dari bayang-bayang keluarganya. Ya, sejak kematian ayahnya, lulusan universitas Tokoyo, yang menerapkan strata pendidikan secara ketat, ia menjadi tulang punggung keluarga dan menganggap keluarganya sebagai beban penghidupan.

Jalan hidup Kazue juga tak terlepas dari peran Yuriko. Ketika Kazue melihatnya di masa sekolah, kecantikannya yang luar biasa (sampai-sampai disebut Monster) membuat Kazue terpana. Bahkan nama jalanannya adalah Yuri. Diambil dari Yuriko. Betapa terkejutnya ketika suatu malam ia melihat Yuriko yang bak siang dan malam dengannya itu juga menjadi pelacur jalanan dengan lapisan lemak yang menumpuk. Kecantikannya memudar dimakan usia.

Lalu, apakah Yuriko tidak bahagia dengan jalan hidupnya? Dalam bersitan pemikiran sang tokoh utama, Yuriko memanglah perempuan yang tak bisa tanpa air. Sejak keperawanannya hilang oleh pamannya sendiri, ia begitu menyukai seks. Dengan seks, ia bisa berada di atas laki-laki. Itu yang ada di benak Kazue juga. Dengan seks pula, Yuriko bebas dari segala hierarki sosial yang ada. Ia bisa bercinta dengan ia siapa saja. Ia juga bisa bercinta demi tiga juta yen atau pun tiga ribu yen.

Beda lagi dengan Mitsuru yang menjadi murid terpintar di sekolah. Ia harus menyewa tempat tinggal di tempat yang lebih mewah, membayar mahal untuk itu, padahal ibunya adalah pemilik bar. Meski dari sisi akademis ia mendapatkan semua yang diinginkan, ia kemudian terjebak dalam aliran keagamaan tertentu demi hierarki yang lebih tinggi. Andai, ia tetap berpuas diri pada apa yang telah diraihnya, mungkin ia akan jadi dokter selamanya. Tapi, apakah Mitsuru tidak bahagia setelah dua tahun dipenjara dan menyaksikan suaminya dihukum seumur hidup?

Keengganan Mitsuru yang lahir dan punya ibu di distrik P, sebuah tempat non-elite, juga menjadi pertanyaan bagi Zhang, pembunuh Yuriko. Zhang yang lahir sebagai anak dusun selalu bertanya, apakah hidup kita ditentukan dari tempat lahir kita?

Kini, giliran aku yang berpikir tentang sebuah dalil yang mengatakan semua bayi itu suci dan tidak berdosa. Orang tualah yang menentukan mereka Islam, Yahudi, Nasrani atau Majusi. Apakah itu juga berarti orang tuanya juga yang menentukan strata hidup anaknya? Seorang anak yang dilahirkan di keluarga kaya akan menikmati kemewahan dan status sosial yang diberikan ayahnya. Tetapi anak yang dilahirkan di keluarga miskin, akan hidup di atas kemiskinan itu. Tentu sangat sedikit orang tidak berada yang bisa menaikkan status hidupnya. Begitu pun sangat sedikit orang yang sudah kaya dan terhormat mendadak bisa turun menjadi melarat.

Hidup seperti ini menggangguku. Sepanjang membaca Grotesque, aku begitu gelisah dan tak dapat tak berpikir, bagaimana hidup seperti ini ada?

PS:
Sampai terakhir, aku tak tahu nama tokoh utamanya. Siapa nama kakak Yuriko?
Apakah dengan demikian, Natsuo Kirino hendak berkata diri kita yang bercerita tidak pernah penting dari apa-apa yang ada di dalam cerita?