Tag Archives: milan kundera

Milan Kundera dan Pandangan Terhadap Fiksi

Milan Kundera, penulis berkebangsaan Ceko yang  memandang dirinya sebagai penulis sastra Perancis, adalah nama yang akan ditemui siapa pun yang menggeluti sastra. Karena imajinasinya yang memiliki daya pakau tersendiri, ia selalu disebut dalam “peta sastra dunia”, penulis yang memang kita harus baca karya-karyanya.

Banyak orang membahasnya. Aku baca satu kemarin. Peter Kussi menulis “Milan Kundera: Dialog dengan Fiksi”.

Dalam tulisannya itu, Kussi menyebutkan bahwa Milan Kundera menulis fiksi untuk mengajukan pertanyaan. Dapatkah fiksi yang ia tulis benar-benar terjadi? Kundera menguliti dan menginterogasi karakter-karakter fiksinya sedemikian rupa sehingga para pembacanya juga akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri mereka sendiri.

Kundera mengonstruksi ceritanya dengan narasi investigatif. Ia menggunakan berbagai teknik narasi. Kadang menggunakan narator jamak sehingga menghasilkan sudut pandang yang jamak pula.

Bukunya yang paling terkenal, The Book of Laughter and Forgetting, menyajikan kekontrasan yang luar biasa. Saat tank Rusia menyerbu negaranya, Sang Ibu malah berpikir tentang buah pir yang dijanjikan ahli farmasi.

Kita jadi bertanya, mana yang lebih penting antara tank dan buah pir?

Secara tidak langsung, Kundera ingin mengatakan bahwa novel sesungguhnya tidak menggambarkan realitas, tetapi lebih kepada eksistensi. Eksistensi bukanlah tentang apa yang terjadi, tetapi apa yang mungkin terjadi. Fiksi adalah bangunan dari berbagai kemungkinan yang bisa dilakukan manusia.

Dunia di dalam fiksi berbeda dengan dunia nyata. Manusia di dalam fiksi juga berbeda dengan manusia. Diistilahkan dengan homofictus. Beberapa penulis membangun dunia dan karakter fiksi ke arah yang ekstrem. Bagi mereka, tidak ada yang moderat di dalam fiksi. Dunia yang ekstrem itulah yang menyebabkan para homofictus memiliki pikiran/tindakan yang ekstrem pula.

Manusia tidak bisa hidup tanpa perasaan, tapi saat mereka menganggap nilai dalam diri mereka sendiri, ukuran tentang kebenaran, sebagai pembenaran atas suatu perilaku tertentu, mereka menjadi menakutkan. Sentimen nasional yang paling mulia telah siap berdiri untuk melegitimasi sebuah kengerian terbesar, dan manusia, dadanya kian membengkak dengan semangat yang liris, melakukan kekejaman atas nama cinta yang kudus.

Ketika perasaan menggantikan rasionalitas, mereka menjadi dasar untuk tidak adanya ke-sepengertian, untuk intoleransi; mereka menjadi seperti apa yang dikatakan Carl Jung, “brutalitas suprastruktur”.

Dunia adalah medan kemungkinan dan pertanyaan. Ia hendak melawan dunia yang dogmatis yang begitu saja diterima tanpa ada pertanyaan-pertanyaan. Perlawanan Kundera dengan satirnya, melawan orang-orang yang tak bisa tertawa, mereka yang tak percaya kemungkinan, menolak pencarian, dan mengharamkan pertanyaan. Yang kedua, untuk melawan mereka yang menerima ide-ide dan gagasan tanpa berpikir. Dan yang ketiga adalah untuk melawan kitsch, yaitu mereka yang menyalin kebodohan setelah menerima ide dan gagasan tanpa berpikir ke dalam bahasa keindahan dan perasaan.

Esai lain yang menarik, kali ini ditulis oleh Milan Kundera sendiri, berjudul  An Introduction to a Variation. Dalam esai ini, Kundera tegas mengkritik kebudayaan zaman sekarang. Menurutnya, pekerja sastra atau seni lain melakukan pendekatan serba meringkas yang merupakan refleksi sesungguhnya dari akar kecenderungan di zaman kita.

Peringkasan itu, menurut saya, adalah juga kecenderungan untuk simplifikasi masalah/gagasan dalam kekaryaan. Peringkasan itu juga yang mengakibatkan kedangkalan. Sehingga bisa kita baca, beberapa karya sastra kita kini, terutama yang membawakan “masa lalu” dinarasikan dengan satu arah saja dan cenderung sempit.

Kundera tidak setuju bahwa fiksi (terkhusus novel) telah kehabisan segala bentuk kemungkinan-kemungkinannya. Saya setuju bahwa begitu banyak kemungkinan-kemungkinan yang luput dari prosa. Ada banyak hal yang luput dieksplorasi. Bahkan dalam konteks ke-Indonesiaan, ada banyak dunia yang belum disambangi.

Hal yang bisa kita pelajari dari membaca karya dan proses kreatif Milan Kundera  bahwa menulis adalah usaha menemukan dan menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru dengan semangat satir dan ironi, yang seringkali bertujuan mengejek klaim-klaim kebenaran mutlak.