Tag Archives: lagoi

Lagoi, Sekilan dari Singapura

Hujan turun tipis, tetapi enggan berhenti. Pesona pantai Lagoi di pulau Bintan, Kepulauan Riau sedikit tak bisa dinikmati karena langit yang gelap dan hujan itu. Pasir yang menghamparkan diri di pesisir terus menggoda untuk diinjaki. Bukan takut hujan, keberadaan petirlah yang menakutkan. Sungguh tidak disarankan bermain dalam hujan dengan kilat menyambar-nyambar.

Saya mencoba buka hape untuk memotret pemandangan itu. Terlihat dua provider di hape saya tidak menampakkan sinyal yang menggembirakan. Sebuah pesan masih bisa masuk. Isinya adalah iklan dari provider untuk mengganti simcard saya dengan simcard Singapura!

Kedatangan saya ke Tanjung Pinang sebenarnya untuk mengajar di Kanwil Perbendaharaan Riau. Acara selesai Jumat. Salah satu kepala seksi di sana adalah teman saya. Saya pun memintanya mengantarkan saya jalan-jalan pada Sabtu.

Lagoi menjadi tujuan utama dan pertama. Lagoi begitu terkenal karena menjadi tujuan paling menarik bagi wisatawan mancanegara. Dari Tanjung Pinang, kami menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam. Untuk menuju ke sana, juga bisa lewat Batam. Caranya dengan menggunakan jasa penyeberangan dari pelabuhan Telaga Punggur. Dari pelabuhan ini, Anda dapat menggunakan perahu motor (speed boat) menuju Tanjung Uban. Sesampainya di Tanjung Uban, Anda dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan taksi. Waktu yang dibutuhkan kurang lebih 25 menit dari Tanjung Uban. Kabar terakhir, sudah ada wacana pembangunan jembatan dari Batam ke Uban.

Kawasan Lagoi dikenal oleh banyak orang sebagai kawasan eksklusif dengan resor-resor mewah yang menawarkan pantai pribadi. Namun sekarang sudah ada kawasan publik di Lagoi Bay, terbuka untuk umum. Sayangnya kita tetap tidak bisa masuk ke dalam kawasan Lagoi jika bukan tamu resor.

Harga resor yang yang ada di Lagoi rata-rata di atas Rp1.500.000,- per malam. Mahal. Tapi sebanding sih dengan kenyamanan yang ditawarkan. Tapi ada yang lebih murah. Carilah penginapan dengan model apartemen seperti Bintan Lodge atau Bintan Service Apartment. Harganya 600-700 ribu per malam.

Di Lagoi, selain ada pantai pasir putih bersih dengan garis pantai yang panjang, juga ada kolam renang yang konon terbesar se-Asia Tenggara. Namanya Treasure Bay. Untuk masuk ke dalam kawasan Treasure Bay ini kita harus membayar tiket masuk seharga Rp100.000 untuk dewasa dan Rp50.000 untuk anak-anak. Dari nominal tersebut, 20%-nya digunakan sebagai tiket masuk dan 80% sisanya menjadi deposit yang bisa digunakan untuk mencoba beragam water activities yang ada di sana, atau untuk membeli makanan dan minuman. Deposit ini tidak bisa direfund.

Sayangnya, karena hujan dan waktu yang terbatas, saya tidak masuk ke Treasure Bay.

Sambil curi-curi dengan hujan, saya langsung melempar diri saya ke ombak. Ombak membelai saya dengan lembut. Pasir-pasirnya sangat halus. Nyaris tidak ada batu-batu di pantai, entah alami atau karena pantai ini begitu terurus. Bersih sekali. Ada mayat rumput laut terdampar di beberapa sisi.

Mas Arif mengajak seorang anaknya bermain pasir. Mereka mencoba membangun sesuatu. Aku mendadak teringat anakku. Andai saja, anakku bisa ikut turut serta ke sini, pasti dia akan senang sekali. Anakku yang pertama, Hanna, memang suka sekali pantai. Ia pernah tak mau pulang saat kuajak ke Senggigi.

Kulemparkan pandanganku juga ke laut lepas. Laut yang menyajikan perbatasan Indonesia dengan negara lain. Aku belum pernah jalan-jalan ke luar negeri.

Aku membayangkan kalau jalan-jalan seperti ini, tanpa keberadaan sinyal ponsel yang memadai, ada semacam tempat untuk sewa modem wifi. Dengan begitu, aku bisa menelepon anakku, video call, dan memperlihatkan kepadanya keindahan pantai Lagoi. Pun bila suatu hari aku ke luar negeri, ke tempat wisata tanpa sinyal, aku bisa rental wifi keluar negeri. Sewa modem keluar negeri seperti itu sudah menjadi kebutuhan utama para pejalan sepertiku. Entah kapan bisa keluar negeri.