Tag Archives: kumpulan puisi

Download Kumpulan Puisi Sebuah Medley

Berikut adalah kumpulan puisi dari saya (Pringadi Abdi) dengan Andi Arnida Massusungan. Kumpulan puisi ini terbit sekitar tahun 2013, secara indie. Dan rasanya cetakannya sudah habis. Rasanya tak ada salahnya, saya bagikan di sini.


Kumpulan Puisi Pringadi Abdi & Andi Arnida Massusungan


Jika bermanfaat, mohon di-share/dibagikan ke teman-temannya, melalui postingan ini. Dengan begitu, saya jadi tahu berapa banyak orang yang berkunjung dan mengunduh kumpulan puisi ini. Continue reading Download Kumpulan Puisi Sebuah Medley

Dari Romantisisme Hingga Generasi Instapoet

Menarik, bila kita menyimak tulisan Ratih Dwi Astuti (2018) di Jurnal Ruang yang membicarakan tentang puisi dalam budaya milenial. Menurutnya, puisi masa kini kebanyakan lahir dengan kuatnya pengaruh budaya milenial yang serbamudah dan serbacepat. Dengan kata lain, Astuti sebenarnya memiliki kekhawatiran bahwa puisi akan kehilangan kedalamannya.

Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Puisi mulai diajak meninggalkan ruang sepinya, terlebih ketika Instagram menjadi fenomena media sosial yang kini kian menanjak. Sampai ada anggapan, sejak ada Instagram, semua orang merasa bisa menulis puisi. Lalu bermunculanlah akun-akun beratas nama sajak/puisi yang menampilkan kata-kata tertentu yang di-like dan dibagikan ke banyak orang. Generasi itu, bahkan memiliki nama sendiri, generasi Instapoet.

Di satu sisi, hal tersebut positif karena bisa membuat banyak orang mengenal dan menyukai puisi. Ibarat Matematika, tidak mungkin seseorang langsung dikenalkan pada logaritma atau integral, semua harus bermula dari aljabar sederhana. Satu ditambah satu sama dengan dua. Namun, di sisi lain, jangan-jangan akan banyak orang sudah cukup puas dengan bisa pertambahan atau perkalian biasa.

Puisi dan variabelnya akan tereduksi sedemikian rupa, sehingga kedalaman tadi, intelektualitas yang dimiliki penyair dalam mengeram puisi-puisinya akan punah. Tersisa puisi cepat saji yang kekurangan kandungan gizi.

Anggi (Niskala) sebagai founder Kumpulan Puisi yang memiliki ratusan ribu followers di Instagram dan jutaan di Line sudah barang tentu memiliki kesadaran untuk mengajak pembacanya hingga ke jantung puisi. Buku puisi pertamanya ini bisa dipandang sebagai upaya membuktikan keseriusan dirinya dalam berpuisi. Continue reading Dari Romantisisme Hingga Generasi Instapoet

Puisi-puisi Soe Hok Gie

MANDALAWANGI – PANGRANGO

Senja ini, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu
aku datang kembali
ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah

dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

====================================================

“Di sana, di Istana sana, Sang Paduka Yang Mulia Presiden tengah bersenda gurau dengan isteri-isterinya. Dua ratus meter dari Istana, aku bertemu si miskin yang tengah makan kulit mangga. Aku besertamu orang-orang malang…”

– Soe Hok Gie

SEBUAH TANYA

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”

Selasa, 1 April 1969

====================================================

PESAN

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973

====================================================

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)