Tag Archives: kelompok pencinta museum

Dunia Museum

Cerita ini dimuat dalam buku “Kisah yang Hilang” (Dongeng Museum Nusantara) yang digarap oleh Kelompok Pencinta Museum yang digawangi Dwi Klik Santosa.

Tak ada tengkorak dinosaurus, yang bila dibayangkan akan lebih besar dari pengangkut pasir dan bila malam tiba akan bergerak-gerak seperti adegan Night of The Museum. Setidaknya begitulah yang kurasakan tatkala tiba di Balaputera Dewa, naik angkutan pedesaan berwarna hijau yang disewa dari iuran kas mingguan—Rp500/minggu.

Angga turun lebih dulu, seperti biasa, dengan antusiasmenya yang berlebihan mengatakan akan berfoto di antara patung-patung. Nyimas beda lagi—aku kadang benci sama anak serius satu itu, apa dia tidak punya keinginan untuk bersenang-senang, bayangkan saja ada anak kecil, perempuan, berkaca mata, datang ke museum sudah bersiap memegang pena dan sebuah buku, sambil bercita-cita akan mencatat semua hal yang ada di dalamnya!

Aku tidak tertarik pada sejarah Sriwijaya yang entah di mana hilangnya, pada jenis-jenis batuan, sejarah-sejarah yang terpampang tak berbentuk, kalau Bu Irianti tidak mengatakan, “Anak-anak, bakda tur kita ke museum ini, hal-hal yang ada di sini akan banyak muncul di ulangan IPS kita.”

~

Aku mengingat kenangan masa kecil itu sambil tersenyum geli. Orang-orang malah melirikku, dengan tatapan yang sama menggelikannya karena mungkin mengira aku agak tak beres. Itulah kali pertama aku ke museum, dan bakda itu aku merasa tak tertalik untuk kembali ke sana. Banyak patung yang kepalanya sudah tak ada, bulus-bulus langka mati, dan WC-nya, duh, bau pesing!

“Pring, kita bertemunya di Museum Geologi saja, ya? Abang tak bisa ke Gedung Sate. Macet. Ada acara apa tuh di Gasibu?” Benny Arnas mengirim SMS, dan ketika kutelepon, tak diangkat-angkatnya juga.

Awas saja nanti kalau bertemu, aku tabok mukanya jadi ganteng.
Pasalnya, sudah nyaris satu jam aku menunggu, dikepung hujan dan dia tak beri aku kabar selama itu pula. Pasal kedua, aku tak pernah ke Museum Geologi. Hampir dua tahun aku hidup di Bandung saat masih berkuliah di sini, sebelum keluar dan hijrah ke Bintaro, aku tak sekali pun datang ke Museum yang paling terkenal itu. Tak ada hasrat. Tak ada minat. Sesekali aku lewat, dan rasanya museum satu itu tak begitu jauh dari Gedung Sate. Meski kata pepatah, malu bertanya sesat di jalan, aku tak bertanya pada kerumunan orang-orang itu. Gengsi tahu!

Dengan bermodalkan insting, aku berjalan sambil menghindari genangan air, dan berkelit dari titik-titik hujan yang makin rapat—tak ada pohon-pohon lagi yang membuatku bernanung di bawahnya. Mengingat pepohonan yang tinggi menjulang, aku teringat pula pada kawanan burung koak di jalan Ganesha itu.

Banyak yang basah di tubuhku, kecuali kepala karena pesan ibu, bila hujan sederas apapun jangan biarkan kepala basah, karena akan mudah masuk angin. Tapi celanaku telah basah, sepatuku basah, airnya merembes ke dalam, menyentuh kaki, dan bila tak segera diganti aku akan masuk angin jugaBegitu aku sampai, aku ragu-ragu apakah masuk museum ini aku harus membayar seperti di Museum Fatahalillah, Jakarta. Ternyata gratis. Keren. Tapi aku jadi berpikir, biasanya yang gratis-gratis, isinya seadanya, perawatannya asal-asalan.

Membedah jenis museum berdasarkan koleksinya, museum dapat dibedakan menjadi dua, yakni museum umum yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu.

Balaputera Dewa, menurutku, tergolong museum umum ini—tapi membatasi dirinya pada lingkungan Sumatera Selatan. Dan yang kedua, museum khusus, adalah museum yang mengumpulkan bukti material hanya dari satu cabang seni atau disiplin ilmu saja. Seperti museum geologi ini. Atau museum layang-layang dan museum perangko—aku sendiri belum pernah mengunjunginya.

Sebuah panggilan masuk, tapi bukan nomor Bang Benny. “Di mana kamu?” Suara lantang itu jelas Bang Benny. “Aku sudah di dalam museum, lagi foto-foto. Ai, hape aku tu la abes baterai, men diangkat tewas dio.” Bang Benny menambahkan dengan logat Sumselnya yang khas.
“Aku baru di bawah. Bingung. Galau,” jawabku.
“Galau kenapa? Belum pernah lihat museum? Dusun!”
“Memangnya di Linggau ada museum?”
“Tak.”
“Ai dusun!” aku tak mau kalah.
“Cepatlah naik ke lantai 2, cari abang yang paling ganteng ini.” Setelah dia bilang begitu, ponselnya langsung dimatikan.
Aku terawang lantai 1, sengaja tak langsung menemui Bang Benny di lantai 2. Ada tiga ruang utama, ruang orientasi yang berisi peta geografi Indonesia dalam bentu relief, layar lebar yang menayangkan kegiatan museum dan geologi dalam bentuk animasi, dan bilik informasi; ruang sayap barat lebih menarik lagi—mulai dari hipotesis terjadinya bumi dalam tata surya, tatanan tektonik regional geologi Indonesia, serta banyak terdapat fosil sejarah manusia.


Aku menatap lekat bagan evolusi manusia menurut Teori Darwin itu. Berpikir keras, apa mungkin nenek moyang manusia adalah kera? Sebelum kudapatkan jawabnya, seseorang menepukku dari belakang, “Hei kau, lama nian abang menunggu di atas. Untung badanmu besar begini, jadi mudah dibedakan.” Ternyata Bang Benny datang bersama kedua orang temannya. Keduanya pula tak kukenali.
“Kau mendukung teori Darwin, Pring?” tanyanya.
“Tidak. Tetapi juga tak bisa kutolak, karena evolusi sudah terbukti benar-benar terjadi. Aku hanya tidak percaya kalau manusia dari kera.”
“Adam dan Hawa.”
“Berdasarkan perhitungan dari kitab suci, mereka muncul puluhan ribu tahun lalu. Sementara manusia purba bahkan ratusan ribu tahun yang lalu sudah ada.”
“Aku tak mau membahas ini Pring, dari mana kita yakin bahwa informasi sains yang kita dapatkan adalah benar valid adanya, jika tidak bersifat empiris? Baiknya kau kenalan dulu sama dua orang sahabatku ini.”

Aku tidak begitu memperhatikan kedua orang itu. Kami lanjut berjalan-jalan ke sayap timur—ruangan yang menggambarkan sejarah pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup, dari primitif hingga modern. Panel-panel gambar yang menghiasi dinding ruangan diawali dengan informasi tentang keadaan bumi yang terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu. Beberapa miliar tahun sesudahnya, berkembanglah beberapa jenis tumbuhan bersel-tunggal, reptilia bertulang belakang berukuran besar yang hidup menguasai Masa Mesozoikum Tengah hingga Akhir (210-65 juta tahun lalu), dan Tyrannosaurus Rex Osborn (Jenis kadal buas pemakan daging) yang panjangnya mencapai 19 m, tinggi 6,5 m dan berat 8 ton.

Aku berdecak kagum. Seharusnya kuajak Angga dan Nyimas kemari, seharusnya museum Balaputera Dewa itu belajar dari Museum Geologi ini—dalam hal menyajikan benda-bendanya. Aku masih tak lupakan bau pesing yang menyeruak dari area kamar mandi, kolam-kolam yang kotor dan sampah yang dibuang sembarangan. Berbeda sekali dengan di sini, yang bila hiperbola, debu sejentik pun tak ada. Dengan keadaan yang begini, museum tak diasingkan. Museum akan menjadi objek geowisata yang menarik. Orang-orang bahkan bisa menjadikan museum sebagai tempat kajian awal dengan banyaknya kumpulan peraga yang tersedia.

Dongeng Museum Nusantara
“Kau tahu, Pring, dinosaurus ini akan bergerak kalau tengah malam!”
“Haha, kau kebanyakan nonton film, Bang.”
“Aku serius. Kalau tak percaya, malam ini menginaplah di museum ini,” kilahnya meyakinkan.
“Memangnya aku anak kemarin sore yang bisa ditipu-tipu?”
“Hahaha, suatu saat kita juga akan jadi fosil, Pring.”
“Yang akan dimuseumkan?”
“Kenanganlah yang akan dimuseumkan bagi yang menghargainya,” jawab bang Ben dengan bijak. Kali ini kalimatnya penuh permenungan.

~

Hujan melambat, berhenti. Aku tak sempat naik ke lantai 2 dan menghabiskan waktu yang sedikit untuk berfoto ria sebelum melanjutkan perjalanan ke Gedung Indonesia Merdeka. Saat kami sedang asik berfoto itu, sejenak aku rasakan rangka T-Rex itu bergerak, matanya yang kosong itu seperti menyala—menatapku, dan bulu kudukku mendadak bergidik dan berkata, “Ayo Bang, kita segera pergi dari sini,” ucapku menyembunyikan ketakutan memikirkan kemungkinan bahwa mereka akan benar-benar hidup malam nanti.***

(2012)