Tag Archives: ikan kakatua

Inak Sur dan Senja di Pantai Montong

Bulan Ramadan tahun ini aku berkesempatan menyaksikan matahari terbenam sekali di Lombok. Pasalnya, aku mendapatkan penugasan di sana. Selesai bertugas, aku langsung menemui temanku yang ditempatkan di Lombok. “Yuk, kita cari tempat yang bisa lihat sunset sembari menunggu berbuka puasa,” ujarku.

Aku penasaran akan diajak ke mana. Ia bertanya preferensi makanku. Mau Jawa, makanan Cina, Barat, atau khas Lombok. Tentu saja, aku mau makanan khas Lombok.

Lima tahun sudah aku meninggalkan NTB. Meski tak asing, aku sudah lupa jalanan di Lombok. Aku pasrah mau diajak ke mana.

Pantai Montong

Ternyata aku diajak ke PANTAI MONTONG. Montong adalah kawasan pesisir yang satu lajur dengan Senggigi, Namun, Montong adalah kampung nelayannya. Arti Montong sendiri adalah gundukan karena bentuk pantainya seperti gundukan pasir, meninggi dari batas capaian ombak.

Warung Inak Sur

Kami berhenti di warung khas Lombok. Warung Inak Sur. Arti Inak dalam bahasa Sasak adalah Mama. Katanya menu khas di warung ini adalah kepiting. Namun karena aku kurang pandai makan kepiting, aku tak memesannya.


Aku memesan plecing kangkung dan ikan bakar tentunya. Sebab, kapan lagi aku makan ikan segar langsung dari nelayan. Di Jakarta, tak ada ikan sesegar itu.

Ikan KakatuaSatu ikan menarik perhatianku. Warnanya kebiruan mengilat. Aku melihatnya di acara Law of the Jungle. Ya, itu Ikan Kakatua. Kata temanku rasanya empuk benar. Dan memang rasanya lembut beneran.

Tapi aku merasa bersalah karena setelah itu aku ragu apakah ikan ini dilindungi atau tidak. Aku tidak tahu bagaimana statusnya di Indonesia, tapi di beberapa negara ikan kakatua dilindungi. Ikan Kakatua ini memakan alga dan karang mati. Dengan kata lain mereka membersihkan karang. Ini penting karena sebagian besar terumbu karang di daerah tropis ditutupi oleh alga karena tidak cukup banyak ikan kakatua.

Sambil menunggu bedug maghrib dan menu kami siap, aku pun bermain di pesisir. Karena ini kampung nelayan, pantai Montong ini ya sepi, serasa milik pribadi. Air lautnya terasa dingin sekali. Andai bawa baju ganti, pengen berenang di pantai ini.

Senja di Pantai Montong

Di kejauhan tampak Gunung Agung di Pulau Dewata. Matahari masih berada sedikit di atasnya.


Baca Juga: Menikmati Keindahan Pulau Kenawa di NTB

Romantisme Matahari Terbenam

Aku kembali teringat masa lalu. Tiga hari setelah menikah kubawa istriku ke Sumbawa. Satu hari kami transit di Lombok. Di Senggigi tepatnya. Pemandangan yang sama tersaji meski dengan sudut yang berbeda. Kami mandi di pantai ditenggelamkan langit yang berwarna oranye.

Pantai Montong

Sayangnya kali ini aku tak bersamanya. Dan banyak momen tak bersamanya saat aku berada di Sumbawa. Saat dia melanjutkan magister Fisika di ITB, aku juga sendirian dan mulailah punya hobi menunggu matahari terbenam.

Entah membawa kamera atau tidak, aku akan menunggu langit berubah warna. Syukur kalau aku sampai mendapatkan momen blue hour. Beberapa saat setelah matahari terbenam, langit akan berwarna biru gelap pekat. Itu indah sekali.

Sambil mengingat itu kupandangi matahari jatuh pelan-pelan dan alamakjang, ternyata matahari turun di balik Gunung Agung. Ah gagal melihat bulatan sempurna sang srengenge itu seperti angslup di balik cakrawala.

Ikan Bakar Inak Sur

Lalu bedug mulai berbunyi. Suara azan dikumandangkan. Menu di meja baru hendak dihidangkan. Tanpa ragu kami pun menyantap satu demi satu makanan. Ah, nikmat.