Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Tag: fiskal

Fiskal dan Ruang Fiskal (Fiscal Space)

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Fiskal dan Ruang Fiskal (Fiscal Space)

Sering mendengar kata fiskal disebut-sebut di media? Sebenarnya apa sih artinya?

Fiskal berasal dari fiscus. Fiscus ini ternyata adalah nama pemegang bagian keuangan pada zaman Romawi lho. Secara etimologi, artinya keranjang atau tas. Tugasnya adalah menjelaskan bentuk pendapatan kerajaan yang dikumpulkan dari rakyat lalu digunakan sebagai pengeluaran kerajaan. Jadi keliru kalau saat ini istilah fiscus digunakan untuk pemungut pajak doang, karena ada dua unsur di sana, yakni penerimaan dan pengeluaran.

Menurut Adam Smith, ada 4 prinsip dari fiskal, yakni keadilan, kepastian, kemudahan, dan efisiensi. Keadilan berarti penerimaan negara yang misalnya berasal dari pajak harus didasarkan pada asas keadlian, proporsional, dan tidak memberatkan. Dalam proses pemungutan itu, juga ada kepastian berapa nilainya, kemudahan bagaimana caranya, dan prosesnya pun harus efisien. Jangan sampai porsi biaya yang dikeluarkan untuk memungut pajak menggerus kas negara. Begitu pun dalam pengeluaran. Anggaran harus mencerminkan distribusi keadlian. Sesuatu yang dikumpulkan dari rakyat harus dikembalikan lagi kepada rakyat dalam bentuk yang lebih bermanfaat.

Nah, jadi kalau ada disebut kebijakan fiskal, apa artinya? Kebijakan fiskal adalah kebijakan pemerintah dalam sisi penerimaan dan pengeluaran. Di sisi penerimaan misalnya, perubahan tarif pajak. Juga bisa melakuka pinjaman untuk menambah kemampuan pemerintah. Di sisi pengeluaran, ada kebijakan pemotongan anggaran.

Tujuan utama dari kebijakan fiskal adalah stabilitas ekonomi. Selain itu, kebijakan fiskal juga memacu tumbuhnya lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, kestabilan harga, pemerataan pendapatan, sebagai cerminan keadilan sosial.

Selain fiskal dan kebijakan fiskal, kita juga kerap mendengar istilah ruang fiskal. Apalagi ini?

Ruang fiskal (fiscal space), secara sederhana dapat diartikan sebagai pengeluaran yang sifatnya tidak mengikat. Diskresioner. Seperti yang kita tahu, anggaran kita ada yang sifatnya mengikat seperti belanja pegawai dan mandatory spending atau belanja yang sudah ditetapkan undang-undang yang sudah ditetapkan porsinya. Nah, sisa dari anggaran yang sudah ditetapkan peruntukannya itulah yang disebut dengan ruang fiskal. Dalam konteks kekinian, ruang fiskal itu digunakan untuk pembangunan/ belanja infrastruktur.

Sama seperti dalam sebuah keluarga. Misalnya saya sudah tahu saya punya gaji bulanan sebesar 5 juta sebulan. Lalu akan saya anggarkan pengeluaran sebagai berikut

  1. Uang Makan @50.000 jadi sebulan 1.500.000
  2. Pendidikan Anak sebulan 500.000
  3. Listrik sebulan 500.000
  4. Transportasi sebulan 300.000
  5. Cicil rumah sebulan 1.500.000

Total pengeluaran tetap/ mengikat 4.300.000. Saya punya ruang fiskal sebesar 700.000 yang bisa dipergunakan untuk apa saja terserah saya.

Nah, pemerintah selalu berkeinginan untuk memperluas atau memperlebar ruang fiskal ini sehingga pemerintah punya kebebasan lebih untuk berbelanja. Dalam konteks keluarga, untuk memperluas ruang fiskal, setidaknya ada beberapa cara:

  1. Cari pekerjaan tambahan untuk tambahan penghasilan. Misal jualan pempek. Saya bisa saja dapat tambahan 1.000.000 sebulan dari berjualan pempek.
  2. Utang ke tetangga, yang kalau bisa tanpa bunga.
  3. Mereviu kembali anggaran pengeluaran. Barangkali ada yang bisa dihemat.

Dengan kebijakan fiskal yang tepat, ruang fiskal bisa diperlebar. Dengan catatan, (istilah yang terakhir) kita tetap bisa menjaga ketahanan fiskal kita yang berkelanjutan. Fiscal sustainibility. Ini adalah kondisi ketika kita mampu membuat kebijakan fiskal yang dapat menstabilkan kondisi perekonomian melalui solvabilitas keuangan jangka panjang (Balassone dan Franco, 2000). Solvabilitas ini berarti kemampuan kita untuk memenuhi kewajiban dalam menjalankan fungsi distribusi, alokasi, dan stabilisasi. Contoh sederhana tadi… perilaku kita saat ngutang. Harus benar-benar berhati-hati. Jangan sampai utang kita kebesaran, cicilannya malah menggerus ruang fiskal. Juga saat reviu anggaran pengeluaran jangan terlalu pelit. Bukan malah menghemat, kita malah bisa merusak kualitas belanja kita.

Bagaimana… apakah penjelasan ini sudah cukup jelas?