Tag Archives: fahri hamzah

Fahri Hamzah dan Fenomena Tenaga Kerja Indonesia

Saya pernah bertugas di KPPN Sumbawa Besar. Kantor saya itu berada persis di samping Kantor Imigrasi. Hampir setiap pagi, saya beli nasi kucing di seberang kantor. Pada saat itulah saya menyaksikan, ratusan orang datang ke Kantor Imigrasi untuk membuat paspor. Hampir semua dari mereka berniat menjadi tenaga kerja di negara lain. Rata-rata yang pernah mengobrol dengan saya ingin ke Timur Tengah. Alasannya sederhana: biar sekalian dekat kalau mau naik haji.

Pahlawan devisa negara. Istilah itu sering pula disebutkan untuk pada TKI, karena mereka dibilang menyumbang devisa yang tak sedikit. Pada tahun 2015 saja, devisa dari TKI sebesar USD10,5 miliar atau lebih dari 144 triliun rupiah. Tapi, apa sih devisa itu? Devisa adalah semua benda yang bisa digunakan untuk transaksi pembayaran dengan luar negeri yang diterima dan diakui luas oleh dunia internasional. Jumlah ini meningkat 24% dari tahun 2014 yang “hanya” USD8,4 miliar.

Secara sederhana, devisa yang dimaksud di atas adalah remitansi atau transfer uang yang dilakukan TKI ke negara asalnya. Transfer tersebut dalam bentuk mata uang asing. Untuk Indonesia, sumber remitansi, selain dari tenaga kerja di luar negeri, juga berasal dari bantuan internasional dan investasi asing. Negara dengan remitansi terbesar adalah India dan Cina.

Seharusnya, transfer ini berpengaruh positif bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Namun, ada gap antara kenyataan dengan yang seharusnya terjadi. Kenapa?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Badan Pusat Statistik menunjukkan data jumlah tenaga kerja Indonesia di negara lain mengalami penurunan, yakni pada tahun 2013, ada 512.168 tenaga kerja terdiri dari 235.170 laki-laki dan 276.998 perempuan. Pada tahun 2014, ada 429.872 terdiri dari 186.243 lelaki dan 243.629 perempuan. Sementara itu, pada tahun 2015 ada 275.736 tenaga kerja terdiri dari 108.965 lelaki dan 166.771 perempuan. Penurunan ini disebabkan oleh salah satunya perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Namun, menurunnya jumlah tenaga kerja ini tidak linier dengan remitansi karena di sisi lain, ada kenaikan upah/gaji para TKI.

Angkatan kerja kita saat ini berjumlah 127,7 jutaan. Data angka pengangguran terbuka Indonesia pada tahun 2014 (Data BPS) sebanyak 7,02 juta. Pengangguran terbuka adalah angkatan kerja yang menganggur sama sekali, atau tidak punya pekerjaan plek. Dari angka tersebut, 41,72% ada di sektor formal, dan 58,28% ada di sektor informal. Data juga menunjukkan, dari tingkat pendidikan, pengangguran yang sarjana justru meningkat (seiring dengan turunnya pekerjaan di sektor formal). Sementara itu, pengangguran setengah terbuka saja pada tahun 2010 sudah mencapai lebih dari 35 juta orang (asumsi secara tren, jumlah meningkat linier dengan angkatan kerja).

Besarnya pekerjaan di sektor informal ini juga mengindikasikan tingkat upah/gaji yang mungkin lebih rendah dari yang seharusnya. Hal ini bisa jadi menjadi salah satu penyebab, kenapa kemudian banyak yang memilih bekerja di luar negeri.

Tenaga Kerja Indonesia selama ini identik dengan menjadi pembantu. Stigma negatif itu melekat karena beberapa berita mencuatkan kejadian penyiksaan terhadap TKI yang berprofesi sebagai pembantu. Memang tidak semua tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri sebagai pembantu. Ada juga yang menjadi tenaga profesional, atau banyak juga yang bekerja sebagai buruh ataupun di sektor manufaktur.

Cuitan Fahri Hamzah

Cuitan Fahri Hamzah mengenai TKI baru-baru ini ramai diperbincangkan. “Mengemis menjadi babu” dibandingkan dengan tenaga kerja asing yang ada di Indonesia. Cuitan tersebut membuat banyak orang tersinggung dan menyerang Fahri Hamzah. Tapi menurut saya pribadi, hal itu tak jadi soal. Sebabnya, Fahri Hamzah adalah politisi yang tidak pro pemerintah. Meski ia kini tak punya partai, Fahri adalah oposisi. Fahri menggunakan sarkasme dalam kalimatnya untuk menyerang pemerintah. Dan tindakannya benar secara politik.

Fahri adalah orang Utan, bukan orang utan… tapi ia berasal dari daerah bernama Utan, salah satu kecamatan di Kabupaten Sumbawa. Konstituennya Fahri dari NTB. Ia bahkan pendulang suara terbanyak se-NTB. Sebagai perwakilan daerah, saya yakin ia tahu betul bagaimana kondisi TKI, karena banyak sekali TKI berasal dari NTB. Tidak mungkin ia ingin mencederai konstituennya sendiri.

Pahlawan devisa negara sebenarnya adalah julukan yang ironis. Sarkasme dan ironi sebenarnya bersaudara. Berbondong-bondong orang mengantri di Imigrasi, didominasi kaum muda. Mereka meninggalkan kampung halamannya, menyisakan anak-anak dan orang tua. Apa yang akan terjadi pada daerah tersebut? Sekarat. Daerah tersebut akan sulit berkembang. Hal itu juga terjadi di kampung nenek moyang saya. Pemuda-pemudinya bekerja di luar negeri, daerahnya tertinggal.

Sebenarnya hal itu bisa diatasi apabila remitansi tadi memiliki multiplier effect. Dari sebuah riset ditemukan bahwa dana remitansi itu sebagian besar malah digunakan untuk membayar loan, bukan konsumsi, apalagi investasi. Banyak calon tenaga kerja Indonesia tidak memiliki apa-apa sebelum berangkat ke luar negeri. Mereka kemudian meminjam uang untuk biaya administrasi dan segala macam. Para pemberi uang ini rata-rata rentenir. Kebanyakan  tenaga kerja kemudian menghabiskan penghasilannya untuk membayar utang mereka terlebih dahulu. Sehingga yang secara teori seharusnya remitansi berpengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan, menjadi tidak terjadi.

Sebenarnya tak salah pula menjadi tenaga kerja Indonesia di negara lain. Dengan catatan, kita menjadi tenaga kerja yang profesional, tenaga kerja terampil. Selain karena tarif yang tinggi, keamanan juga lebih terjamin. Dari data tenaga kerja Indonesia, 100.000 lebih ada di Malaysia dan Taiwan. Dan 100.000 lebih ada di sektor jasa. Dalam bahasa lain, sifatnya sebagai pembantu lebih banyak dari kategori lain. Jadi pembantu tidak salah, karena pembantu asal Indonesia, selain dianggap lebih murah, juga punya kemampuan memasak yang lebih baik.

Konteks yang ingin ditunjukkan oleh Fahri Hamzah bukanlah soal fakta-fakta itu, melainkan ia ingin menunjukkan kalau di Indonesia kurang lapangan kerja, lalu upah yang rendah. Tapi di sisi lain, ada tenaga kerja asing masuk ke Indonesia dalam jumlah yang tidak sedikit.

Menurut data, tenaga kerja asing yang ada di Indonesia meningkat dibanding satu dan dua tahun lalu, tetapi bukan yang tertinggi. Ada lebih dari 70.000 tenaga kerja asing di Indonesia saat ini. Dan setengah lebih berasal dari Cina. Tenaga kerja Cina memang mengalami peningkatan. Hal ini tidak terlepas dari wajah lain utang. Utang Indonesia (publik dan privat) ke Cina meningkat 1800% dalam 10 tahun terakhir. Utang juga punya syarat-syarat khusus, seperti penyertaan konsultan dan tenaga kerja. Dalam aturan ketenagakerjaan memang tak sembarangan tenaga kerja asing yang boleh masuk di Indonesia. Seperti ia harus tenaga kerja profesional, bisa berbahasa Indonesia, dll. Namun, faktanya…. ah, silakan disimak sendiri.

Pada akhirnya, hal ini menimbulkan pertanyaan besar di kepala, apakah bahkan dalam level tenaga kerja ecek-ecek pun kita lebih ecek-ecek?

Pemerintah pada dasarnya welfare state. Tujuannya adalah kesejahteraan sosial. Tenaga kerja Indonesia ke luar negeri memang penting sebagai sumber devisa, tapi jangan sampai hal itu lebih besar eksternalitasnya ketimbang multiplier effectnya. Kita akan bangga mengekspor tenaga kerja, kalau pilihan mereka ke sana adalah sebagai bagian dari kompetesi global, bukan bagian dari pelarian dari kondisi yang tak baik di negara asal.

 

Tabik.

Katak Bunuh Diri

 

“Katak-katak ini tidak perlu bunuh diri,” ujarku pada Randal Patisamba yang tengah memegang dua mayat katak. Aku tidak berani memegang satu pun dari mereka, apalagi dengan badan sudah acak-acakan begitu. Aku jadi membayangkan jika tubuhku yang terlindas kendaraan yang besarnya jutaan kali lipat, ya, katak-katak itu terlindas kendaraan yang melintas dari dan ke Labangka.

“Kau yakin kalau katak-katak ini bunuh diri?” Randal Patisamba meragukan ucapanku. Dahinya berkerut. Dia sudah seperti petugas otopsi yang menduga bahwa setiap mayat dengan luka memar, usus terburai, adalah buah kejahatan. “Empat ratus mayat katak dalam jarak lima kilometer itu tidak masuk akal. Artinya, setiap dua belas koma lima meter, ada satu mayat katak yang kita temukan,” tambah Randal sambil bersungut-sungut.

“Jadi, apa kamu ingin bilang kalau ada orang, psikopat yang tidak puas pada satu sesi pembedahan katak di pelajaran Biologi yang melakukan ini semua?” Dengan enggan kuingat sesi paling menjijikkan dalam sejarah umat katak itu. Katak-katak dikorbankan, dibelah perutnya, dikeluarkan isinya demi alasan pengetahuan.

“Mungkin.” Jawaban Randal Patisamba menggantung. Mukanya seperti memikirkan sesuatu, seperti ada yang diketahuinya, tapi tak mau dikatakannya.

Aku tak habis pikir pada rombongan yang sudah berjalan lebih dulu di depan. Mereka sama sekali mengabaikan katak-katak ini. Pantai Leppu di Labangka Tiga menjadi tujuan kami. Bersama-sama kami berangkat dari Sumbawa pukul delapan pagi tadi dan di jalan, motor yang kunaiki bersama Randal mengalami pecah ban. Kami tertinggal di belakang. Untungnya Randal bilang dia tahu jalan.

Mulanya aku tak hendak ikut ke Leppu. Aku masih kecewa dengan Nacinta setelah dikatakannya aku terlalu tua untuk jatuh cinta. Daging kambing yang berusia lebih dari tiga bulan itu alot dan berkolesterol, tidak enak dimakan. Aku disamakannya dengan kambing.

Tapi memang perempuan tidak bisa ditebak, pagi-pagi bakda subuh dia mengirimkan pesan singkat, pesan mesra yang tidak bisa ditolak siapa pun, “Mas, ikut ya ke Leppu, Nacinta sedih kalau Mas nggak ada.”  Aku lebih memilih ikut Lucky Prize di Line itu dehketimbang harus menebak apa maunya perempuan.

Satu motor kosong yang tersisa milik Randal Patisamba. Dua orang dengan berat badan lebih dari 70 kilogram akan menaiki motormatic kecil yang seharusnya dinaiki perempuan dengan perut rata dan pinggul seperti angsa. Pecah ban sudah sunatullah. Tidak ada pembenaran untuk menggerutu.

Sebelum berbelok ke Labangka, sebelum Plampang, aku tidak tahu kenapa pandanganku tertuju pada satu titik. Sebuah bukit besar menarik perhatian. Awan-awan bergumul di atasnya. “Apa itu?” Reflek aku bertanya pada Randal. Mataku belum beralih ke mana pun.

“Jaran susang.”

“Jaran susang?”

“Itu tempat tertinggi nomor dua di Sumbawa.”

“Setelah Tambora?”

“Tambora tidak dihitung. Tambora di Dompu.”

“Lalu?”

“Puncak Ngengas.”

“Apalagi itu?”

“Sebaiknya jangan lama-lama kau pandangi dia… tak baik.”

“Kenapa?” Aku makin penasaran dengan jawaban Randal. Tapi sahabatku sejak aku di Sumbawa itu sama sekali tak memberiku jawaban. Motor melaju seadanya. Sesekali ia dapat menyalip mobil-mobil bermuatan besar yang menuju ke Bima. Mobil-mobil dengan kapasitas beban seperti inilah yang menyebabkan jalan dari Poto Tano ke Bima sering rusak setiap tahunnya. Dengan struktur tanah yang tak stabil, anggaran yang terbatas untuk membuat lapisan yang tebal, jalan-jalan di Alas, Utan setiap tahun diperbaiki, dan setiap tahun juga rusak kembali. Terlepas dari itu, barangkali jalan-jalan adalah proyek abadi Kementerian Pekerjaan Umum. Atas nama penyerapan anggaran, terkutuklah mereka yang memakan anggaran demi perutnya sendiri.

Aku memikirkan Jaran Susang kembali ketika Randal dengan tergesa berkata, “Kita harus cepat pergi dari sini, Pring.” Begitu aku sudah bersedia di boncengan, ia melajukan motornya dengan kecepatan tertinggi yang bisa dicapai. Mayat-mayat katak itu ditinggalkan begitu saja tanpa satu pun yang sempat kami kuburkan. Aku merasa berdosa melihat mayat-mayat itu terlantar dan membayangkan bila saja ada ratusan mayat manusia yang terlantar, tak dipedulikan, tak dicatat sejarah seperti itu. Serta merta aku bergidik sebelum kudengar Randal mengatakan sesuatu. Perkataan itu yang membuat bulu romaku tegak seperti kemaluan. “Aku yakin sekali katak-katak itu dibunuh, bukan bunuh diri. Pernah ada cerita di sekitar Labangka…”

Ya, pernah ada cerita di sekitar Labangka. Puluhan ribu hektar ladang jagung yang terbentang di Labangka adalah komoditas utama pertanian di wilayah Sumbawa. “Batang-batang jagung itu tertekuk, Pring… bukan satu, tapi ribuan batang jagung.” Randal diam sejenak sebelum melanjutkan, “Malam sebelum itu terjadi, ada badai hebat. Banyak yang mengira, batang jagung itu tertekuk karena badai, tapi badai tidak mungkin membuat tekukan yang begitu rapi, sama di semua batang. Itu perbuatan seseorang, atau sesuatu….”

“Sesuatu?”

“Tadi aku melarangmu melihat Jaran Susang bukan tanpa alasan. Penduduk setempat meyakini di sana adalah kerajaan ghaib di seluruh tanah Samawa ini, Pring. Kalau sore, perhatikanlah nanti setelah kita pulang, awan-awan yang bergumul itu akan tampak seperti air terjun, awan yang ditumpahkan begitu saja dari ketinggian. Dan kalau ke atas sana, kita lemparkan batu ke sisi satunya, batu itu tidak akan terlempar. Ah, maksudku, batu itu akan seperti terhadang sesuatu. Kau pasti pahamlah maksudku. Mistis, Pring.”

Aku menyimak setiap kata Randal. Jalan aspal telah berakhir. Jalan tanah berbatu menggantikannya. Di sisi kiri dan kanan, di sejauh mata memandang, ladang jagung terbentang. Bongkol-bongkol jagung yang lebih besar dari kemaluan lelaki ada di pinggir-pinggir jalan. Penduduk Labangka baru panen jagung. Jagung-jagung itu akan dikirim ke Mataram, ke Bali, ke Surabaya. Dan lagi-lagi lewat darat. Mau dikata apa, transportasi darat masih lebih murah.

Andai saja orang Sumbawa ini membangun industri hulu. Jagung-jagung itu tidak akan cuma jadi jagung-jagung. Sama halnya juga sapi. Sapi melimpah di Sumbawa. Tapi untuk membawa sapi-sapi itu keluar Sumbawa butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Coba kalau ada industri pengolahan daging sapi, yang dikirim bukan sapi saja, bukan daging potong saja, tapi bisa kornet juga, bisa abon juga.

“Dulu di Labangka pernah dicoba peternakan sapi, Pring…” Randal membuyarkan pikiranku. “Tapi gagal,” lanjutnya. “Sapi-sapi itu, ah, mengerikan…” tambah Randal.

“Mengerikan?”

“Mereka mati. Massal. Seperti katak-katak tadi.”

“Sapi-sapi itu terlindas kendaraan?”

“Tidak, kendaraan apa yang bisa melindas sapi?”

“Lalu?”

“Tapi perut mereka berlubang. Lubang yang sama persis setiap sapinya. Empat belas centi jari-jarinya. Semua isi perutnya kosong dan tidak ada jejak darah sedikit pun.”

“Astaga! Semua sapi mati begitu?”

“Tidak semua sapi, tapi banyak sapi. Para peternak ketakutan membayangkan seseorang atau sesuatu berkeliaran melakukan itu. Mereka berhenti beternak sapi di sini dan pindah ke Utan.”

“Di Utan aman?”

“Ya, kau lihat kan sapi-sapi berkeliaran di sepanjang jalan, bahkan pada malam hari, tidak ada yang mencuri. Soalnya Fahri Hamzah sudah tidak di Utan. Haha…”

“Kamu masih bisa bercanda dalam topik begini? Huh!”

Randal Patisamba tertawa terpingkal-pingkal. Tawanya baru terhenti ketika kami temui tanjakan yang cukup terjal. “Maju, Pring, rapatkan tubuhmu. Lebih rapat lagi!” pinta Randal dengan serius. Begitu triknya naik motor berdua bila harus melewati tanjakan, rapatkan tubuhmu serapat-rapatnya dengan yang di depan. Bila jalan menurun, kebalikannya, taruh pantatmu di ujung motor agar laju motor tidak bertambah. Soalnya ini matic, tidak ada rem gigi yang biasa otomatis menahan kecepatan maksimal sesuai giginya.

Aku penasaran dengan sapi-sapi yang diceritakan Randal. Mutilasi seperti itu tidak masuk akal. Kenapa harus sapi, kenapa sekarang katak, kenapa bukan kambing. Ah, menyebut kambing, aku teringat kembali dengan Nacinta. Di Lapangan Pahlawan tadi, dia bersama Ega. Mereka tampak begitu mesra meski dia bilang tidak punya hubungan apa-apa dengan Ega. Semua hal dimulai dari nol. Semua kepunyaan dimulai dari tidak punya apa-apa. Menyebutku terlalu tua padahal Ega berumur sama denganku adalah penghinaan ketika dia memilih untuk menebeng di belakang Ega. “Uban-ubanmu itu tidak bisa berbohong,” canda Nacinta malam itu. Tapi candaan itu melukai harga diriku, meski memang uban-uban itu seperti amoeba, yang membelah diri dengan cepat. Asal tahu saja, uban-uban itu adalah kaffarat dosa-dosa. Satu uban telah tertutup pula satu pintu dosa. Semakin banyak uban, aku semakin pendosa dan Tuhan semakin sayang kepadaku.

“Ada makhluk-makhluk misterius di Jaran Susang itu, Pring. Beberapa kesaksian menyebutkannya,” ujar Randal melanjutkan cerita. Di sisi kanan, laut lepas di selatan Sumbawa mulai terlihat. Ombaknya menunjukkan ciri khas ombak pantai selatan yang selalu bersemangat. Biru. Aku mengabaikan ucapan Randal itu sejenak dan membayangkan perahu-perahu barangkali pernah berlabuh di pantai dengan ombak seganas itu.

 

Aku masih berpikir bawah katak-katak itu bunuh diri. Hidup setelah reformasi sudah sedemikian kejam. Katak-katak itu pasti juga merasakan betapa peliknya kesenjangan perekonomian, harga-harga yang terus melambung tinggi melampaui angka inflasi di makroekonomi, atau kehidupan percintaan yang tak selalu mulus.

Aku bergidik membayangkan aku juga akan bunuh diri dengan cara yang sama seperti katak-katak itu. Dengan sengaja aku akan berdiri di tengah jalan, menanti mobil berkecepatan tinggi menabrakku, melindasku, dan aku mati. Ya, aku mati. Barangkali kematian lebih indah ketimbang hidup dengan cinta bertepuk sebelah tangan.

“Kita sudah mau sampai,” ujar Randal. Randal membelokkan motor ke kanan di sebuah pertigaan. Jalan kerikil yang baru basah karena hujan semalam digantikan  dengan pasir. Pasir itu membuat roda motor sulit beranjak, ketidaktepatan pengendaraan akan membuat roda semakin terperosok ke kedalaman pasir itu. “Turun, Pring, turun…” pinta Randal Patisamba. Dengan segera aku meloncat dari jok dan motor itu pun dapat bergerak lebih mudah.

Dua buah pohon menarik perhatianku. Banyak kupu-kupu beterbangan di sekitarnya. Randal yang mengetahui ekspresiku segera berkata, “Itu pohon kupu-kupu, Pring. Kau mau jadi kupu-kupu?”

Tak kujawab pertanyaan itu dan tak kubahas lebih jauh maksudnya. Aku mengikuti langkah Randal di jalan setapak dan betapa, pemandangan yang kusaksikan selanjutnya adalah pantai terindah yang pernah kulihat selama hidupku. Hamparan pasir putih, ombak yang menari, dan batu karang mirip-mirip di Uluwatu menjadi lanskap sempurna yang diciptakan Tuhan. Seorang perempuan melambaikan tangan ke arahku. Ia memamerkan senyum bintang lima yang membuat segala kecemasanku menguap dengan segera. Nacinta. Lebih melegakan karena tidak ada laki-laki di sekitarnya.

Nacinta adalah gadis tercantik di grup Adventurous Sumbawa, tapi dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya, atau lebih ke kakaknya. Kadang-kadang beginilah nasib hati bila sudah terjebak zona pertemanan. Friend zone. Tak seperti yang pernah diucapkan Shakhrukh Khan di Kuch-kuch Hota Hai, cinta adalah persahabatan.

Ketimbang pantai itu, langkah kakiku bergerak ke arah Nacinta terlebih dahulu. Dia dan beberapa teman perempuan yang lain sedang menyiapkan makan siang buat kami. Inilah menariknya Adventurous Sumbawa. Kami akan makan sama-sama di tempat tujuan sambil menikmati alam.

Beberapa bumbu sudah disiapkan, ikan-ikan yang sudah dibersihkan, kayu bakar yang sudah dikumpulkan, tetapi mataku tertuju pada sesuatu di dalam baskom kecil. Bentuknya lunak dengan sudah dipotong kecil-kecil. Aku penasaran dan bertanya kepada Nacinta, “Yang itu apa, Nacinta?”

“Oh ini, ini daging katak. Belum pernah coba? Enak lho,” jawab Nacinta santai sambil mencelupkan tangannya ke dalam baskom, menaburinya dengan garam, dan menguleninya dengan seksama.

Sesuatu bergerak mendesak dari dalam perutku.

Aku mendadak mual.