Tag Archives: defisit neraca

Dilema Impor

Impor Indonesia

Membicarakan impor, selalu dilematis.

Di satu sisi, dalam konteks neraca perdagangan, besarnya impor dibandingkan dengan besarnya ekspor, akan menghasilkan defisit neraca perdagangan. Salah satu dampak dari defisit ini adalah menggerus cadangan devisa yang berefek pada melemahnya mata uang. Ketergantungan pada barang-barang impor, ketika mata uang melemah, akan terus meningkatkan nilai pembayaran impor, sehingga defisit makin lama makin besar, dan mata uang makin melemah terus-menerus pula.

Kuncinya, sebenarnya bukan menolak impor, tapi bagaimana caranya agar neraca perdagangan itu surplus, alias besaran ekspor lebih besar dari besaran impor.

Tidak apa-apa impor tumbuh. Asal ekspor tumbuh lebih besar.

Dalam kasus Indonesia, defisit terbesar ada pada sektor migas.

Kemenperin (2018) melansir bahwa 64% dari industri nasional bergantung pada bahan baku impor. Ini berarti tumbuhnya nilai impor bisa jadi indikasi bahwa industri nasional juga turut bergeliat. Jumlah tersebut berasal dari sembilan sektor industri yakni permesinan dan logam, otomotif, elektronik, kimia dasar, makanan dan minuman, pakan ternak, tekstil dan produk tekstil (TPT), barang kimia lain, serta pulp dan kertas.

Sayangnya, kondisi saat ini menyatakan bahwa 6 dari 9 industri tersebut defisit.

 

Lebih berbahaya lagi apabila, struktur impor kita merupakan barang konsumsi.  Nah, sayangnya, Tren impor Indonesia, barang-barang konsumsi dalam setahun terakhir tinggi dibanding impor barang lain. Impor barang konsumi ini melampaui jumlah impor bahan baku dan barang modal yang menghasilkan nilai tambah bagi industri lokal.

Maka, memang patut jadi pertanyaan, ke mana Pemerintah jika solusi dari permasalahan keterbatasan barang baku, keterbatasan barang konsumsi, diselesaikan dengan impor? Garam impor? Beras impor? Singkong impor? Daging impor?

Idealnya, memang, barang-barang yang diimpor adalah bahan baku industri untuk diolah menjadi barang setengah jadi maupun barang jadi yang bisa diserap melalui ekspor. Semoga.