Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Tag: dangar ode

9 Tempat Wisata Keren yang Pernah Kukunjungi

Published / by Pringadi As / 2 Comments on 9 Tempat Wisata Keren yang Pernah Kukunjungi

9 Foto Wisata Keren

Kesembilan foto di atas adalah foto yang paling banyak di-like di instagram-ku tahun lalu. Kebetulan atau tidak, kesemuanya adalah foto perjalananku. Bisakah kamu menebak di mana saja foto itu diambil? (Mulai dari kiri atas ke kanan bawah ya.)

  1. Teluk Saleh dalam perjalanan ke Dangar Ode. Itu adalah perjalanan pertamaku bersama Adventurous Sumbawa. Mei 2013 lalu. Foto diambil oleh Taufik Rahman, rekan sekantorku. Ia juga yang mendesain kaos Adventurous Sumbawa yang tengah kukenakan. Kalau perut, sungguh, itu tidak didesain. Perjalanan hari itu sangat menyenangkan. Lautnya tenang. Menaiki perahu nelayan, kami menempuh waktu kurang lebih 45 menit dari pelabuhan di Desa Prajak hingga sampai ke Dangar Ode.
  2. Gunung Bromo. Foto diambil sesaat setelah aku berhasil mendaki anak tangga menuju kawah Bromo. Dalam keadaan yang kurang sehat, dan habis kedinginan setelah menunggu matahari terbit, aku mendaki 250 anak tangga itu. Hanya untuk melihat kawah. Ya, kawah menganga dengan diameter +/- 800 m dan +/-600m. Lonjong. Berbau belerang pula. Namun, pemandangan yang terhampar sungguh menakjubkan. Oh, iya, saya ingat diprotes seorang teman ketika mengatakan Bromo ada di Malang. Lebih tepat, Bromo ada di Probolinggo.
  3. Coban Pelangi. Coban atau air terjun ini kukunjungi dalam rangkaian perjalanan Paket Bromo. Begitu dijemput di stasiun, kami menuju ke penginapan (home stay) dan tak jauh dari situ ada  air terjun ini. Sayangnya, air terjun ini tak punya kolam untuk diberenangi. Terlampau berbahaya.
  4. Pulang dari Pulau Moyo. Foto diambil oleh Taufik Rahman lagi. Ini adalah foto saat perjalanan pulang dari Moyo ke Labuhan Sumbawa. Di sisi kiri sudah tampak Tanjung Menangis. Pagi hari itu laut begitu tenang dan dari kejauhan bisa kusaksikan lumba-lumba menemani perjalanan kami. Meski menggunakan filter CPL, aslinya memang biru banget. Untuk pertama kalinya aku berhasil foto di ujung perahu. Yes!
  5. Sungai di Karekeh. Kami berenang di sungai ini setelah pulang dari menengok air terjun Ai Nyembir di Dusun Selang, Sumbawa. Belum puas berenang di Air Nyembir, kami menemukan sisi sungai yang terhalangi bebatuan sehingga menciptakan kolam alami dengan nyaris tanpa arus. Teman saya, Farhan, menantang saya untuk melakukan lompatan dari atas batu. Kedalaman sungai di sisi ini sekitar 2m. Dan saya pun memberanikan diri melompat. Begitulah hasilnya.
  6. Pantai Mali di Alor. Karena saya memenangkan lomba menulis di Ditjen Perbendaharaan, saya mendapatkan hadiah dinas ke Alor untuk menengok ke KPPN Filial Alor. Salah satu tempat yang memorable banget ya di Pantai Mali. Ia berada di sebelah bandara Mali. Untuk menuju spot ini, mobil masuk ke bandara, melalui landasan pesawat. Diizinkan karena pesawat hanya ada pagi hari. Kalau surut, maka pasir ini akan menghubungkan Alor dengan pulau lain. Namun, saat itu air sudah sebatas dengkul. Kalau memaksakan menyeberang, khawatir tidak bisa pulang.
  7. Hutan Kuang Amo. Foto ini diambil saat perjalanan pulang dari air terjun Ai Putih. Dua jam perjalanan harus ditempuh dari air terjun ini hingga sampai ke pusat desa Kuang Amo. Melewati pinggir sungai, hutan belantara, dan hutan bambu. Sungguh sebuah petualangan yang seru!
  8. Pantai Tanjung Tinggi, Belitong. Ceritanya saya dapat hadiah ke Belitong karena memenangkan lomba cerpen. Saya pun mengunjungi pantai ini. Pantai yang indah sekali. Airnya jernih. Ombaknya tenang. Dan pemandangan batu-batu dari zaman Jura pun memanjakan mata.
  9. Rafting di Bali. Saya lupa di mana raftingnya. Saat itu saya mendapat tugas diklat pengadaan barang dan jasa selama dua minggu. Sesama peserta sepakat, pada saat hari libur diklat, kami berjalan-jalan. Rafting pilihan utamanya. Karena kami semua laki-laki, jadi berani dong. Ini adalah rafting ketigaku. Super! Tapi, turun dan naik dari dan ke sungainya jauh lebih melelahkan dari raftingnya. Hehe.

Nah, dari kesembilan tempat itu, mana yang kamu suka? Mana yang sudah pernah kamu kunjungi? Jika belum, yuk ke sana!

Dangar Ode, Surga Kecil di Sumbawa

Published / by Pringadi As / 7 Comments on Dangar Ode, Surga Kecil di Sumbawa
Hidung perahu dengan pelan membelah lautan. Angin laut yang khas menerpa tubuhku. Ini perjalanan pertamaku bersama Adventurous Sumbawa. Ini juga perjalanan pertamaku menaiki perahu nelayan yang kecil.
Kucelupkan kaki dan kubiarkan kakiku beradu dengan air laut. Menyenangkan. Kurang lebih 40 menit perjalanan dari dermaga di Desa Prajak. Sebuah pulau kecil sudah berada di depanku. Perahu melambat untuk merapat ke pesisir. Di kejauhan, sosok Gunung Tambora menjulang angkuh.
Ada satu adegan yang berkesan dalam film Pirate of Carribean, yakni ketika Jack Sparrow ditinggalkan di sebuah pulau kecil dengan pasir putih. Berada di atas pasir yang putih, di tengah lautan dan di bawah langit yang birunya tak bisa dibedakan adalah salah satu impianku. Tak perlu jauh-jauh ke Kepulauan Karibia, atau Maldives yang terkenal, di Indonesia juga ternyata ada tempat seperti itu. Di Lombok ada Gili Kapal. Di Sumbawa juga ada Dangar Ode.
 
Dangar Ode adalah sebuah pulau kecil di kawasan utara Teluk Saleh. Teluk Saleh saat ini sudah dikenal sebagai akuarium dunia karena memiliki 59 jenis karang dan 405 jenis ikan karang. Bahkan di beberapa kawasan di Teluk Saleh terkenal banyak anak hiu dikarenakan melimpah ruahnya makanan bagi mereka. Di Dangar Ode sendiri, bila beruntung kita bisa menemui lumba-lumba.
Salah satu alternatif menuju Dangar Ode adalah melalui dermaga di Desa Prajak. Desa Prajak adalah salah satu desa nelayan di Sumbawa dan berjarak kurang lebih 20 km dari kota Kabupaten. Hujan semalam membuat medan yang kami lalui menjadi becek dan berlumpur. Butuh keterampilan dan ketabahan untuk melaluinya.
Kupikir, beginilah Indonesia, semakin ke Timur, infrastruktur semakin kurang memadai. Tak terbayangkan pula bagaimana perjuangan nelayan-nelayan mengantarkan ikan-ikannya ke pasar di Sumbawa dengan medan seperti ini. Tak tega rasanya bila nanti ke Seketeng, aku menawar ikan-ikan itu lagi.
Dangar merupakan nama sebuah pohon dalam bahasa Sumbawa yang banyak ditemukan di wilayah Sumbawa. Pohon ini menghasilkan getah seperti karet yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Dahulu, Dangar Ode dan Dangar Besar banyak ditumbuhi dangar dan dimanfaatkan oleh masyarakat dengan membuka perkebunan dangar. Namun seiring berjalannya waktu pohon dangar sudah habis dan tidak terdapat lagi di pulau. Masyarakat juga sudah tidak lagi melakukan aktivitas perkebunan di pulau ini.
Perahu nelayan merapat, aku melompat ke bibir pantai. Sebuah pohon tumbuh sendirian di sisinya. Sebuah bangunan berdiri di tengah-tengah pulau. Seorang teman berkata, bangunan itu adalah sebuah mushalla. Tidak ada yang tahu siapa yang membangunnya. Cerita setempat juga menyebutkan, seberapa pasang pun lautan, air laut tidak pernah sampai merendam lantai mushalla tersebut. Sayangnya mushalla tersebut tampak tak terawat. Seharusnya pemerintah turun tangan untuk melakukan pemeliharaan. Selain menjadi tempat shalat, ia dapat juga menjadi tempat beristirahat dan berteduh ketika hujan turun lebat.
 
Pasir putih mengelilingi Dangar Ode. Dan yang menarik adalah permukaannya tidak curam tiba-tiba. Kita dapat menenggelamkan tubuh kita sedikit demi sedikit ke dalam lautan dengan dasar pasir yang masih terlihat karena begitu beningnya. Tampak juga banyak bintang laut di sana-sini. Jangan khawatir, tak ada bulu babi.
Hingga air laut mencapai bahu barulah dasar lautan terisi dengan rumput-rumput laut. Aku mencelupkan wajahku dan terlihat berbagai jenis ikan berwarna-warni. Aku berenang lebih ke tengah, dan karena aku tak begitu pandai berenang, aku memilih berada di dekat perahu supaya kalau kenapa-kenapa aku bisa mencari pegangan. Sesekali aku mencelupkan kepala untuk melihat pemandangan bawah air yang menakjubkan. Dan lebih banyak aku menikmati panorama yang disajikan alam. Beberapa teman menyelam lebih dalam dan aku merasa iri. Mereka bilang ada coral table, terumbu karang yang berbentuk seperti meja bundar. Juga menemukan ikan nemo di mana-mana.
 
 
Aku menyesal ketika kecil tidak belajar berenang hingga mahir. Yang bisa aku lakukan cuma mengambang beberapa saat. Huh.
Puas berenang, mengelilingi pulau, dan menyantap ikan bakar yang kami bakar sama-sama, kami diguyur hujan yang sangat deras. Setelah menunggu dan berharap hujan akan reda, berkenalan dan bercerita banyak, kami memutuskan nekat menyeberangi lautan. Syukurlah, meski hujan, lautan tetap tenang. Mendekati dermaga, barulah hujan reda dan langit yang mendung menyingkapkan dirinua. Cahaya keemasan menembus mereka dan seakan-akan kami terendam di dalamnya.
Sebuah puisi lahir saat itu:
kau bersikeras akan menelan semua hujan
yang tak bosan menceritakan hidupnya yang singkat
di atas laut, di bawah bayangbayang maut
kita akan selalu sama: melihat langit keemasan
setelah segalanya reda adalah doadoa kecemasan
sebelum perjalanan lain menuju pulang
Tantangan sesungguhnya adalah medan di daratan. Jalan yang baru diguyur hujan membuatnya seperti bubur lumpur. Jarak tempuh 20 km itu kami lalui lebih dari 3 jam setelah beberapa motor mengalami kerusakan, dan kami menunggu, saling membantu dan bahu-membahu agar semuanya sampai ke tujuan. Kebersamaan, meski baru sekali bertemu, membuat perjalanan ini pantas dikenang seumur hidup.
Semoga saja pemerintah daerah membenahi akses menuju pulau, karena Dangar Ode begitu layak menjadi salah satu destinasi utama Pesona Indonesia di Sumbawa. Keindahan bawah laut, dan panoramanya kelas satu, ditambah ketenangan yang semakin sulit didapatkan di dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk.
PS:
Terima kasih kepada teman-teman Adventurous Sumbawa yang sudah memberiku kesempatan berkenalan dengan kalian. Foto-foto di atas juga dari Adventurous Sumbawa.