Tag Archives: cerpen terjemahan

Cerpen Haruki Murakami: Kino

Penerjemah Ika Yuliana. Sumber: Ceruk Aksara

LAKI-LAKI itu selalu duduk di tempat yang sama, di bangku terjauh di ujung meja bar. Ketika tempat itu kosong, tentu saja, tapi bangku itu nyaris tidak pernah ditempati. Barnya jarang penuh sesak, dan tempat duduk itu adalah yang paling tersembunyi sekaligus paling tidak nyaman. Tangga di belakangnya membuat atapnya miring dan rendah, jadi sulit sekali berdiri di sana tanpa membuat kepalamu terbentur. Laki-laki itu tinggi, tapi karena suatu alasan, memilih tempat yang menyempil dan sempit itu.

Kino ingat kali pertama laki-laki itu datang ke barnya. Penampilannya langsung menarik perhatian Kino—kepala gundul kebiruan, tubuh yang kurus tapi berbahu lebar, kilatan mata tajam, tulang pipi menonjol, dan kening yang lebar. Laki-laki itu tampaknya berumur tiga puluhan, dan dia mengenakan jas hujan panjang berwarna abu-abu meskipun tidak sedang turun hujan. Awalnya, Kino menganggap laki-laki itu anggota yakuza yang sedang berjaga di daerahnya. Waktu itu pukul 7.30, pada suatu malam yang dingin di bulan April, dan barnya sedang tak berpengunjung. Laki-laki itu memilih duduk di ujung meja bar, menanggalkan jas hujannya, memesan bir dengan suara pelan, kemudian membaca buku tebal dengan tenang. Setengah jam kemudian, birnya sudah habis, dia mengangkat tangannya satu atau dua inci untuk memanggil Kino, kemudian memesan wiski. “Merek apa?” tanya Kino, tapi laki-laki itu bilang dia tidak punya merek favorit. Continue reading Cerpen Haruki Murakami: Kino

Cerpen Haruki Murakami: Samsa Jatuh Cinta

Oleh: Haruki Murakami, Penerjemah: Ted Gossen (Inggris), Arif Abdurahman (Indonesia)

Samsa In Love, Haruki Murakami

Dia terbangun, kemudian mendapati dirinya telah bermetamorfosis menjadi Gregor Samsa.

Masih terbaring telentang di kasur, dia melihat langit-langit. Butuh waktu bagi matanya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang begitu redup. Terlihat langit-langit yang biasa, hanya langit-langit pada umumnya. Dengan cat putih, atau mungkin krem pucat. Debu dan kotoran menahun telah membuat warnanya seperti tumpahan susu. Tak ada ornamen, tak ada karakteristik tertentu. Tak muncul argumen, maupun pesan yang bisa ditangkap. Ya, hanya seperti itu.

Terlihat hanya ada satu jendela tinggi di satu sisi kamar, di sebelah kiri, tapi gordennya telah dicopot dan diganti papan-papan tebal yang dipaku di bingkai untuk menutupi jendela tadi. Hanya menyisakan celah sekitar satu inci antara tiap papan yang dipasang melintang itu, memungkinkan sedikit sinar matahari pagi bisa merembes masuk, meninggalkan seberkas terang garis-garis tipis di lantai. Mengapa jendela ditutup rapat seperti itu? Apa bakal datang badai besar atau tornado sebentar lagi? Atau itu untuk menjaga agar tidak ada seorang pun yang bisa masuk? Atau mencegah seseorang (dirinya, mungkin?) agar tidak kabur?

Masih berbaring, ia perlahan-lahan memutar kepalanya dan memeriksa seluruh ruangan. Dia tidak melihat furnitur apapun, selain kasur tempatnya berbaring. Tidak ada laci, tidak ada meja, tidak ada kursi. Tidak ada lukisan, jam, atau cermin di dinding. Tidak ada lampu atau cahaya. Dia juga tidak mendapati permadani atau karpet di lantai. Hanya kayu. Dinding ditutupi dengan wallpaper dari desain yang kompleks, begitu tua dan memudar, namun dengan cahaya yang minim tentu sulit untuk memastikan desain yang digunakan.

Ruangan itu mungkin pernah digunakan sebagai kamar tidur. Namun sekarang semua sisa kehidupan manusia nampaknya telah dibereskan. Satu-satunya hal yang tersisa adalah kasur di tengah. Itu pun hanya kasur, tanpa seprei, tidak ada selimut, tidak ada bantal. Hanya kasur kuno.

Samsa tidak tahu sedang berada dimana, atau apa yang harus dia lakukan. Yang dia tahu adalah bahwa ia sekarang seorang manusia yang bernama Gregor Samsa. Dan bagaimana dia tahu itu? Mungkin seseorang telah berbisik di telinganya sementara ia berbaring tidur? Tapi apa yang terjadi padanya sebelum menjadi Gregor Samsa? Apa yang telah terjadi?

Saat ia mulai mencari jawaban akan beragam pertanyaan itu, sesuatu seperti serombongan hitam nyamuk terbang berputar-putar di kepalanya. Gerombolan itu tumbuh makin tebal dan berjejalan karena pindah ke bagian otaknya yang lebih lembut, dengan terus berdengung. Samsa memutuskan untuk berhenti berpikir. Mencoba memikirkan apapun saat ini hanya jadi beban, membuatnya pusing saja.

Setidaknya ia harus belajar untuk menggerakkan tubuhnya. Dia tidak bisa hanya berbaring menatap langit-langit selamanya. Posturnya saat ini terlalu rentan. Ia tidak punya kesempatan untuk menghindar dari sebuah serangan – dari burung pemangsa misalnya. Sebagai langkah pertama, ia mencoba untuk menggerakan jari-jarinya. Ada sepuluh jari, yang menempel di kedua tangannya. Masing-masing dilengkapi dengan sejumlah sendi, yang membuat sinkronisasi gerakan sangat rumit. Parahnya, tubuhnya ini serasa mati rasa, seolah-olah ada rendaman cairan berat yang lengket, sehingga sulit untuk menyalurkan kekuatan bagi kaki dan tangannya.

Akhirnya, setelah berulang kali mencoba dan gagal, dengan menutup mata dan memfokuskan pikirannya ia berhasil juga mengendalikan jari-jarinya. Sedikit demi sedikit, ia belajar menggunakan jari-jari itu agar bekerja bersama-sama. Semakin lihai mengoperasikan jari-jarinya, mati rasa yang menyelimuti tubuhnya mulai mengendur. Seperti karang gelap dan menyeramkan yang terungkap karena mundurnya air pasang, sekarang datang rasa sakit yang luar biasa.

Butuh beberapa saat sampai Samsa menyadari bahwa rasa sakit itu adalah rasa lapar. Keinginan untuk mendapat makanan ini sesuatu yang baru baginya, atau setidaknya dia tidak ingat pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Rasanya seperti ia tidak mendapat makanan selama seminggu. Seolah-olah di tubuh bagian tengahnya sekarang kosong melompong. Tulangnya berderit; otot-ototnya mengepal; organnya mengejang.

Tidak dapat menahan rasa sakitnya lebih lama, Samsa menempatkan siku di kasur, kemudian secara perlahan mendorong tubuhnya. Ketika melakukan ini, tulang belakangnya menciptakan retakan yang lirih dan sedikit menyakitkan. Ya Tuhan, pikir Samsa, sudah berapa lama aku telah berbaring di sini? Tubuhnya protes setiap ia bergerak. Tapi dia terus berjuang, menyusun kekuatannya, sampai akhirnya, ia berhasil duduk.

Samsa menunduk cemas mendapati tubuhnya yang telanjang. Sungguh bentuk yang buruk! Bentuk yang sangat buruk. Tubuh ini tak memiliki alat pertahanan diri. Kulit putih mulus (ditutupi oleh rambut ala kadarnya) dengan pembuluh darah biru rapuh terlihat melalui itu; perut lunak yang tidak terlindungi; alat kelamin berbentuk aneh yang menggelikan; lengan dan kaki yang begitu kurus (hanya ada dua dari masing-masing!); leher yang gampang sekali patah; kepalanya besar dan cacat yang atasnya ditumbuhi jalinan rambut kaku; dua telinga terasa masuk akal, namun menonjol keluar seperti sepasang kerang. Apakah hal ini benar-benar dia? Mampukah tubuh tidak masuk akal seperti ini, yang begitu mudah dihancurkan (tidak ada cangkang untuk perlindungan, tidak ada senjata untuk menyerang) bisa bertahan hidup di dunia? Mengapa sih ia tidak berubah menjadi seekor ikan saja? Atau bunga matahari? Ikan atau bunga matahari nampaknya masuk akal. Lebih masuk akal, ketimbang tubuh manusia ini, Gregor Samsa.

Menguatkan diri, ia menurunkan kakinya di tepi tempat tidur sampai telapak kakinya menyentuh lantai. Dingin tak terduga dari kayu membuatnya terkesiap. Setelah beberapa kali percobaan, yang membuatnya terjatuh ke lantai, akhirnya ia mampu menyeimbangkan diri pada dua kakinya. Dia berdiri di sana, dengan memar dan rasa sakit, satu tangan menggenggam bingkai kasur sebagai pijakan. Kepalanya masih tak seimbang, berat dan sulit untuk menahan. Keringat mengalir dari ketiaknya, dan kemaluannya menyusut dari yang asalnya tegang. Dia harus mengambil beberapa napas dalam-dalam sebelum ototnya mulai rileks.

Setelah berhasil berdiri, ia harus belajar berjalan. Berjalan dengan dua kaki menjadi semacam siksaan, setiap gerakan menghasilkan rasa sakit. Dari sudut pandang manapun, dia berasumsi bahwa gerakan memajukan kaki kanan dan kaki kiri satu demi satu adalah proposisi aneh yang melanggar semua hukum alam, apalagi antara jarak matanya ke lantai membuatnya ngeri ketakutan. Dia juga harus belajar mengkoordinasikan pinggul dan lutut sendinya. Setiap kali ia mengambil langkah maju, lututnya bergetar, dan ia menopang dirinya ke dinding dengan kedua tangannya.

Ia tahu bahwa ia tidak bisa tetap berada di ruangan ini selamanya. Karena jika dia tidak menemukan makanan dengan cepat, perutnya yang lapar ini bakal memakan dagingnya sendiri, dan pasti ia akan mati.

***

Dia terhuyung ke arah pintu, mengais-ngais di dinding untuk sampai. Tampaknya ini menghabiskan berjam-jam lamanya, meskipun ia tidak memiliki cara untuk mengukur waktu, kecuali lewat rasa sakit yang terus bertambah. Gerakannya sangat aneh, dan selambat siput. Dia tidak bisa maju tanpa bersandar pada sesuatu untuk menopangnya.

Dia meraih gagang pintu dan menariknya. Namun pintu tidak terbuka. Dengan mendorong pun tak terjadi apa-apa. Berikutnya, ia terlebih dahulu memutar kenop ke kanan dan menarik pintu tersebut. Pintu terbuka setengah dengan menghasilkan bunyi berdecit. Dia melongokan kepalanya melalui celah terbuka tadi dan melihat keluar. Lorong itu kosong. Begitu sunyi setenang dasar lautan. Dia mengulurkan kaki kirinya melalui pintu, mengayunkan bagian atas tubuhnya keluar, dengan satu tangan berpegang di kusen pintu, dan kaki kanan mengikuti. Dia bergerak perlahan menyusuri koridor, tangan tetap berpegangan ke dinding.

Ada empat pintu di lorong itu, termasuk satu yang baru saja dilewati. Semua identik, dibuat dari kayu gelap yang sama. Apakah ada sesuatu, atau siapa, yang ada di dalamnya? Ia ingin membukanya dan mencari tahu. Mungkin dengan melakukannya, ia bakal mendapatkan pemahaman soal keadaan misterius yang menimpa dirinya ini. Setidaknya menemukan sebuah petunjuk. Namun demikian, ia melewati setiap pintu, sebisa mungkin tak membuat kebisingan sedikit pun. Kebutuhan untuk mengisi perut keroncongannya mengalahkan rasa ingin tahunya. Dia harus menemukan sesuatu untuk dimakan dulu.

Dan sekarang ia tahu cara untuk mendapatkannya.

Cukup ikuti bau, pikirnya, sambil mendengus. Tercium aroma masakan yang melayang di udara. Informasi yang ditangkap oleh indera penciuman di hidung itu lalu ditransmisikan ke otak, menghasilkan suatu refleks yang begitu hidup, keinginan yang begitu keras makin nyata, ia bisa merasakan ususnya perlahan-lahan memuntir, seolah-olah sedang disiksa oleh eksekutor berpengalaman. Air liur membanjiri mulutnya.

Untuk mencapai sumber aroma, rupanya ia harus turun melewati tangga curam, ada tujuh belas anak tangga. Ah berjalan di permukaan datar saja cukup menyulitkan – sungguh ini serasa mimpi buruk. Dia meraih pilar tangga dengan kedua tangan dan mulai turun. Pergelangan kakinya yang kurus serasa tak kuat menopang berat badannya, dan ia hampir saja terguling dari tangga.

Dan apa yang terlintas di pikiran Samsa saat ia berjalan menuruni tangga? Kembali ikan dan bunga matahari yang terbayang. Ah jika saja aku berubah menjadi ikan atau bunga matahari, pikirnya, aku bisa hidup dalam damai, tanpa perlu berjuang sekeras mungkin untuk menuruni tangga seperti ini.

Ketika Samsa berhasil melewati ketujuh belas anak tangga, ia menegakan dirinya kembali, menyiapkan kekuatan yang tersisa, dan tertatih-tatih menuju aroma menarik tadi. Dia melewati pintu masuk dengan langit-langitnya yang tinggi dan melangkah menuju ruang makan yang pintunya terbuka. Makanan tersaji di atas meja besar berbentuk oval. Ada lima kursi, namun tidak ada tanda-tanda orang. Gumpalan uap putih masih terlihat mengepul dari piring saji. Sebuah vas kaca dengan selusin bunga lili diletakan di tengah meja. Ada empat tempat yang ditata lengkap dengan serbet dan sendok garpu, namun belum tersentuh. Tampaknya ada orang yang telah duduk untuk makan sarapan beberapa menit sebelumnya, kemudian datang suatu kejadian sangat mendadak yang membuat mereka semua lari dari sini. Apa yang sudah terjadi? Kemana mereka pergi? Atau dibawa kemana mereka? Apakah mereka akan datang kembali untuk sarapan?

Tapi Samsa tidak punya waktu untuk menjawab beragam pertanyaan tersebut. Langsung menempati kursi terdekat, ia meraih makanan yang bisa dijangkaunya dengan tangan dan memasukkannya ke dalam mulut, tanpa memperdulikan bahwa di sana ada pisau, sendok, garpu, dan serbet yang tersedia. Dia merobek roti menjadi potongan-potongan dan memakannya tanpa tambahan selai atau mentega, menelan bulat-bulat sosis yang begitu besar, melahap telur rebus begitu cepat sampai ia lupa untuk mengupas kulitnya terlebih dahulu, meraup segenggam kentang tumbuk yang masih hangat, dan mengambil acar dengan jemarinya. Dia melahap semua bersamaan, dan meminum air untuk melegakan tenggorokannya. Soal rasa tak berpengaruh. Mau hambar atau lezat, pedas atau asam – itu semua sama baginya. Yang penting adalah mengisi perut kosongnya. Ia makan dengan konsentrasi penuh, seolah berpacu dengan waktu. Dia begitu terpaku untuk terus makan, saking asyiknya, saat ia menjilati jari-jarinya, ia malah menggigitnya, menganggapnya makanan juga. Sisa-sisa makanan muncrat ke sana-kemari, dan meski piring jatuh ke lantai kemudian pecah, ia tetap acuh.

***

Setelah Samsa kekenyangan dan kembali duduk untuk menghirup nafas, hampir tak ada makanan tersisa, dan meja makan kelihatan sangat berantakan. Itu tampak seolah-olah datang kawanan gagak yang suka bertengkar melalui jendela yang terbuka, melahap segalanya, dan terbang keluar lagi. Satu-satunya hal tak tersentuh adalah vas bunga lili; kalau saja masih belum kenyang, mungkin ia bakal melahap ini juga.

Dengan penuh kebingungan, dia duduk di kursinya untuk waktu yang lama. Tangan diletakan di atas meja, ia menatap bunga lili itu dengan menyipitkan matanya dan memandangnya lama, dengan napas lambat, sementara makanan tadi sedang diproses dalam sistem pencernaannya, dari kerongkongan menuju ke ususnya. Rasa kenyang terasa olehnya seperti air pasang yang naik. Dia mengambil panci logam dan menuangkan kopi ke dalam cangkir keramik putih. Aroma tajam mengingatkannya pada sesuatu. Tidak muncul secara langsung, namun berlangsung secara bertahap. Timbul perasaan aneh, seolah-olah sedang mengingat-ingat masa sekarang dari masa depan. Seolah waktu telah terbelah dua, sehingga antara memori dan pengalaman berputar dalam siklus tertutup, masing-masing saling mengikuti yang lainnya. Ia menuangkan krim dengan takaran sembarang ke kopinya, diaduk dengan jarinya, lalu meminumnya. Meskipun kopi telah dingin, masih terasa sedikit hangat. Dia meminumnya, namun terlebih dulu menyimpan cairan kopi itu di mulutnya, sebelum akhirnya mengalirkannya ke tenggorokannya. Ada semacam rasa tenang yang ia alami.

Tiba-tiba ia merasa dingin. Rasa laparnya tertutupi inderanya yang lain. Sekarang ia telah kenyang, dinginnya pagi yang menerpa kulitnya membuatnya gemetaran. Api telah padam. Tak satu pun pemanas yang diaktifkan. Yang pasti, dia tengah telanjang bulat.

Ia mengerti bahwa ia harus menemukan sesuatu untuk dipakai. Kalau seperti ini bakal kedinginan. Selain itu, akan menjadi masalah jika seseorang muncul. Mungkin ada yang mengetuk pintu. Atau mungkin orang-orang yang akan sarapan tadi akan kembali. Siapa yang tahu bagaimana mereka akan bereaksi jika mereka menemukan dia dalam keadaan telanjang begini?

Dia sangat mengerti semua ini. Dia tak menduga-duga, atau memikirkan ini secara serius; ia sangat tahu ini, sangat biasa dan hanya hal sederhana. Samsa masih tidak tahu dari mana pengetahuan tersebut berasal. Mungkin hal ini terkait dengan ingatannya yang mulai terungkap.

Rumah ini menghadap langsung ke jalan. Bukan jalan raya yang besar. Dan tak banyak pula orang yang lewat. Namun demikian, ia mencatat bahwa setiap orang yang melintas pasti berpakaian lengkap. Dengan pakaian beragam warna dan gaya. Pria dan wanita mengenakan pakaian yang berbeda. Kaki mereka ditutupi sepatu dari kulit. Beberapa memakai sepatu yang cerah sehabis dipoles. Dia bisa mendengar langkah sepatu mereka yang beradu dengan bebatuan jalan. Terlihat banyak pria dan wanita mengenakan topi. Mereka berjalan dengan dua kaki tanpa perlu memikirkan apapun dan menjaga alat kelamin mereka tertutup. Samsa membandingkan dirinya yang terpantul di cermin aula itu dengan orang-orang yang berjalan di luar. Pria yang dilihatnya di cermin itu kucel, hanya tampak sesosok makhluk lemah. Perutnya yang penuh dengan tumpahan saus, dan remah-remah roti menempel pada rambut kemaluannya yang seperti potongan-potongan kapas. Dia menyingkirkan beragam kotoran itu dengan tangannya.

Ya, dia kembali berpikir, aku harus mencari sesuatu untuk menutupi tubuhku.

Dia menengok ke jalanan sekali lagi, mencari kalau-kalau ada burung. Namun tak ada satu pun burung yang dapat ia lihat.

Lantai dasar rumah terdiri dari ruang tengah, ruang makan, dapur, dan ruang tamu. Sejauh pengamatannya, tidak satupun ruangan ini yang menyimpan pakaian. Dapat disimpulkan bahwa mengenakan dan melepas pakaian dilakukan di ruang lain. Mungkin ada kamarnya di lantai dua.

Samsa kembali ke tangga dan mulai menaiki. Dia terkejut menemukan betapa mudahnya menaiki tangga ketimbang turun tadi. Mencengkeram pegangan, ia mampu menaiki tujuh belas anak tangga jauh lebih cepat dan tanpa rasa sakit atau takut, berhenti beberapa kali (meski tidak lama) untuk mengatur napas.

Keberuntungan sedang berpihak padanya, karena semua pintu di lantai dua tidak terkunci. Yang perlu ia lakukan adalah memutar kenop dan mendorong, dan setiap pintu akan terbuka. Ada empat kamar, terlepas dari ruang dingin tempat tadi ia terbangun, semua kamar tertata lengkap dan nyaman. Masing-masing memiliki tempat tidur dengan kasur yang bersih, lemari, meja tulis, lampu yang ditempelkan ke langit-langit atau dinding, dan karpet dengan pola yang rumit. Buku tersusun rapi di rak, dan lukisan minyak pemandangan menghiasi dinding. Setiap kamar memiliki vas kaca yang penuh dengan bunga-bunga cerah. Tidak ada papan kasar dipaku di jendela. Setiap jendela dipasangi gorden, sehingga sinar matahari bisa masuk. Tempat tidur menunjukkan kalau seseorang pernah tidur di sini. Dia bisa melihat bekas tindihan kepala di bantal.

Dia memakaikan baju ganti itu untuk menutupi tubuh telanjangnya, dan setelah mencoba beberapa kali akhirnya ia berhasil mengikatkan tali pinggangnya. Dia menatap dirinya di cermin, sekarang ia sudah berpakaian, dengan baju ganti dan sepasang sandal. Ini pasti lebih baik ketimbang berjalan-jalan dengan hanya bugil. Memang tidak sehangat yang ia kira, tapi selama ia tetap berada dalam ruangan ini tentu tak bakalan terasa terlalu dingin. Yang pasti, ia tidak perlu khawatir bahwa kulitnya yang lembut ini bakal jadi incaran para burung pemangsa.

Saat bel pintu berdering, Samsa sedang tiduran di kamar yang paling besar (di kasur besar pula) dalam rumah itu. Sangat hangat berbaring di bawah selimut bulu, rasa nyamannya serasa sedang tidur dalam telur saja. Dia bangun dari mimpi. Dia tak bisa mengingat detailnya, yang pasti sesuatu yang menyenangkan. Bel yang bergema dalam rumah membangunkan dan membuatnya kembali merasakan hawa dingin.

Dia bangkit dari tempat tidur, mengencangkan tali pinggang baju gantinya, memakai sandal biru gelapnya, menyambar tongkat berjalannya, kemudian menyusuri pegangan, lalu menuruni tangga. Ini jadi tambah mudah ketimbang yang tadi dia lakukan. Tentu, resiko jatuh masih ada. Dia harus tetap berhati-hati. Fokus pada langkahnya, ia menuruni tangga satu per satu, sementara bel masih terus berdering. Siapa pun yang menekan bel itu pasti orang yang tidak sabaran dan keras kepala.

Dengan tongkat berjalan di tangan kiri, Samsa menuju pintu depan. Dia memutar kenop dan menarik, pintu pun terbuka.

Seorang gadis pendek berdiri di luar. Gadis yang sangat pendek. Yang jadi pertanyaan, bagaimana ia bisa mencapai bel. Dan ketika dia melihat lebih teliti, ia menyadari bahwa ini bukan masalah ukuran tubuhnya. Itu karena punggungnya, yang bungkuk ke depan. Ini yang membuatnya terlihat pendek, padahal sebenarnya dia memiliki dimensi tubuh yang normal. Gadis itu mengikat rambutnya dengan pita karet agar tak menutupi wajahnya. Rambutnya coklat kemerah-merahan dan sangat lebat. Dia mengenakan jaket wol, dengan rok longgar yang menutupi kakinya. Syal katun belang melilit lehernya. Dia tidak mengenakan penutup kepala apapun. Sepatunya bertali tinggi, dan dia tampaknya berusia dua puluhan awal. Masih ada sesuatu dari si gadis itu. Matanya besar, hidungnya kecil, dan bibirnya memutar sedikit ke satu sisi, seperti bulan kurus. Alis hitamnya membentuk dua garis lurus di dahinya, memberinya tampilan skeptis.

“Benarkah ini rumah Samsa?” tanya si gadis sambil mendongakkan kepalanya. Lalu ia memutar tubuhnya. Seperti liku bumi yang diterjang gempa hebat saja.

Samsa sedikit terkejut, namun mencoba menenangkan diri. “Ya,” jawabnya. Karena memang ia sendiri adalah Gregor Samsa, dan tentunya ini tempat tinggal Samsa. Bagaimanapun, tak ada salahnya menjawab seperti ini.

Namun wanita itu tampaknya menemukan jawabannya tadi kurang memuaskan. Sedikit kerutan terlihat di keningnya. Mungkin wanita itu menangkap kebingungan dari jawaban ragu-ragu tadi.

“Jadi benarkah ini rumah Samsa?” wanita itu bertanya dengan suara tajam. Layaknya penjaga yang memeriksa pengunjung liar yang kedapatan tak membawa karcis.

“Aku Gregor Samsa,” jawab Samsa, mencoba dengan nada tenang sebisanya. Dia sangat yakin dengan jawabannya kali ini.

“Aku harap anda benar,” timpal gadis itu, kemudian meraih tas kulit yang disimpan dekat kakinya. Tas hitam yang terlihat sangat berat. Tas yang telah usang. “Jadi mari kita mulai.”

Gadis itu melangkah memasuki rumah tanpa menunggu balasan. Samsa menutup pintu. Gadis itu berdiri, melihatnya dari atas ke bawah. Nampaknya baju ganti dan sandal yang dikenakan Samsa bikin gadis itu penasaran.

“Aku pikir aku telah membangunkanmu,” kata gadis itu, suaranya dingin.

“Memang benar,” jawab Samsa. Dia bisa menangkap ekspresi gadis itu, bahwa pakaiannya ini tidak sesuai untuk melakukan sebuah pertemuan. “Aku minta maaf soal yang kukenakan ini,” Samsa berdalih. “Alasannya sih…”

Gadis itu cuek saja. “Jadi, yang mana?” tanyanya dengan mengerutkan bibir.

“Jadi, yang mana?” Samsa mengulangi.

“Jadi, yang mana kunci yang bermasalah itu?” tanya gadis itu.

“Kunci?”

“Kunci yang rusak,” sebut gadis itu. “Anda sendiri yang menyuruh saya untuk datang dan memperbaikinya.”

“Ah,” ucap Samsa. “Kunci yang rusak.”

Samsa menggeledah pikirannya. Tidak lama setelah ia berhasil fokus pada satu hal, bagaimanapun, sepasukan nyamuk bergumul lagi dalam otaknya.

“Aku belum pernah mendapati masalah apa pun tentang kunci,” katanya. “Dugaanku mungkin itu adalah salah satu pintu di lantai dua.”

Wanita itu melotot padanya. “Dugaan anda?” tanyanya, mengintip wajah Samsa. Suaranya makin dingin. Dengan alis melengkung seperti orang yang tak percaya. “Salah satu pintu ya?” Ia melanjutkan bertanya.

Samsa bisa merasakan mukanya memerah. Ketidaktahuannya soal kunci yang rusak itu membuatnya merasa sangat malu. Dia berdeham mencoba bicara, namun tak satupun kata bisa keluar.

“Tuan Samsa, apakah orangtuamu ada di rumah? Saya rasa lebih baik saya bicara langsung dengan mereka.”

“Mereka telah pergi keluar, tampaknya ada suatu keperluan,” kata Samsa.

“Suatu keperluan?” tanya gadis itu, terkejut. “Di saat banyak kekacauan begini?”

“Aku tak tahu. Ketika aku bangun pagi ini, semua orang sudah tak ada,” jawab Samsa.

“Oh malangnya,” perempuan muda itu menimpali. Dia menghela napas panjang. “Kami telah memberitahukan bahwa bakal ada yang datang hari.”

“Maaf ya.”

Wanita itu berdiri di sana sejenak. Kemudian, perlahan-lahan, alis melengkungnya turun, dan dia memandang tongkat hitam di tangan kiri Samsa. “Apakah ada gangguan pada kaki anda, Gregor Samsa?”

“Ya, sedikit,” Samsa berbohong.

Sekali lagi, wanita itu tiba-tiba menggeliat. Samsa tidak tahu tindakan untuk apa itu atau apa tujuannya. Namun ia tertarik oleh gerakan kompleks barusan.

“Nah, apa yang harus kulakukan,” kata wanita itu dengan nada pasrah. “Mari kita lihat pintu di lantai dua itu. Aku datang jauh-jauh dari seberang jembatan dan melewati jalanan kota yang penuh konflik mengerikan untuk sampai ke sini. Hidup saya dipertaruhkan. Sehingga tidak masuk akal untuk mengatakan, ‘Oh, jadi tidak ada yang perlu kulakukan di sini? Baiklah aku akan kembali lagi nanti saja,’ kan? ”

Konflik mengerikan? Samsa tidak bisa memahami apa yang gadis itu bicarakan. Apa perubahan mengerikan itu terjadi? Tapi dia memutuskan untuk tidak menanyakan detailnya. Lebih baik menghindari pertanyaan itu agar ketidaktahuannya tidak ketahuan.

Kembali membungkuk, wanita muda itu mengambil tas hitam berat di tangan kanannya dan menaiki tangga dengan susah payah, seperti serangga merangkak. Samsa mengikuti di belakangnya, tangannya berpegangan di pilar tangga. Gaya berjalan gadis itu yang seperti merayap membangkitkan rasa simpatinya – ini mengingatkannya pada sesuatu.

Wanita itu berdiri di anak tangga teratas dan mengamati lorong. “Jadi,” katanya, “salah satu dari empat pintu ini mungkin ada yang kuncinya rusak, kan?”

Wajah Samsa memerah. “Ya,” katanya. “Ada di salah satu pintu. Mungkin ada di ujung lorong di sebelah kiri, mungkin, ” katanya, ragu-ragu. Itu adalah pintu ke kamar kosong tempat ia terbangun pagi tadi.

“Bisa saja,” kata wanita itu dengan suara tak bersemangat seperti api unggun yang mau padam. “Mungkin ya.” Dia berbalik untuk memeriksa wajah Samsa ini.

“Entah bagaimana,” ucap Samsa.

Gadis itu menghela napas lagi. “Gregor Samsa,” katanya datar. “Kamu orang yang asyik untuk diajak ngobrol. Kosakatamu sungguh kaya, dan bicaramu jelas, langsung ke titik persoalan.” Kemudian nadanya berubah. “Tapi bagaimanapun. Mari kita periksa pintu di sebelah kiri di ujung lorong yang pertama itu.”

Wanita itu melangkah menuju pintu. Dia memutar kenop bolak-balik dan mendorong, dan itu terbuka ke dalam. Keadaan kamar itu tak berubah: hanya kasur saja yang kurang bersih. Lantai kosong. Papan dipaku di jendela. Gadis itu tentu saja menyadari semua ini, tapi dia tidak menunjukkan keheranan apapun. Sikap yang menggambarkan kalau ada kamar lain yang sama bisa ditemukan di seluruh kota.

Gadis itu berjongkok, membuka tas hitam, mengeluarkan kain flanel putih, dan menggelarnya di lantai. Lalu ia mengambil sejumlah perkakas, kemudian menyusunnya dengan hati-hati di atas kain, seperti eksekutor yang mempertontonkan instrumen penyiksa menyeramkannya bagi para martirnya yang malang.

Memilih kawat dengan ketebalan sedang, gadis itu memasukkannya ke lubang kunci dan dengan tangan terlatihnya mengorek dari berbagai sudut. Matanya menyipit mencoba berkonsentrasi, telinganya dipasang agar bisa mendengar suara sekecil apapun. Selanjutnya, ia memilih kawat yang lebih tipis dan mengulangi proses tadi. Mukanya jadi suram, dan bibirnya mengecut, setajam pedang China. Dia mengambil senter besar dan dengan tampilan hitam di matanya, mulai memeriksa kunci dengan lebih teliti.

“Apakah kamu punya kunci untuk pintu ini?” Tanyanya kepada Samsa.

“Aku tak tahu sama sekali dimana kuncinya,” jawabnya jujur.

“Ah, Gregor Samsa, kamu bikin saya ingin mati saja,” ucap gadis itu.

Setelah itu, gadis itu mengabaikannya. Dia memilih obeng dari perkakas yang disusun di atas kain dan selanjutnya mencopot kunci dari pintu. Gerakannya lambat dan hati-hati. Dia berhenti berkali-kali saat melakukan proses pencopotan itu untuk memutar dan menggeliat seperti yang sebelum-sebelumnya.

Sementara Samsa berdiri di belakangnya, menyaksikan gerakan gadis itu yang unik, tubuh Samsa sendiri mulai merespon dengan cara yang aneh. Tubuhnya memanas, dan lubang hidungnya yang melebar. Mulutnya begitu kering sehingga menghasilkan suara tegukan keras setiap kali ia menelan ludah. Telinganya gatal. Dan organ seksualnya yang menggantung sedemikian rupa itu, mulai mengeras dan membesar. Muncul tonjolan yang terlihat di baju mandi gantinya. Dia memang sedang bediri di area gelap kamar, namun tetap saja itu kelihatan.

Setelah berhasil mencopot kunci, gadis muda itu menerawangnya di dekat jendela, melalu sinar matahari yang masuk lewat celah papan. Dia menusuk dengan kawat tipis dan menggoyangkannya dengan keras untuk mengetahui apa yang terdengar, wajahnya tambah murung dan bibirnya mengerucut. Akhirnya, dia mendesah lagi dan berbalik menghadap Samsa.

“Bagian dalamnya ditembak,” ucap gadis itu. “Ini memang rusak. Dan memang yang satu ini, seperti katamu.”

“Bagus berarti.” Samsa menimpali.

“Tidak, tentu saja tidak bagus,” kata gadis itu. “Aku tak bisa memperbaikinya di sini. Ini jenis kunci khusus. Aku harus membawa pulang dan memberikannya ke ayahku atau ke salah satu kakakku. Mereka pasti bisa memperbaikinya. Aku masih amatir-hanya bisa memperbaiki kunci yang biasa.”

“Aku mengerti,” ucap Samsa. Jadi gadis ini punya ayah dan beberapa saudara. Sebuah keluarga tukang kunci.

“Sebenarnya, salah satu kakakku lah yang akan datang hari ini, tapi karena ada kericuhan maka akulah yang disuruh. Kota ini penuh dengan pos-pos pemeriksaan.” Dia melihat kembali kunci di tangannya. “Tapi kenapa ya kunci ini bisa rusak seperti ini? Ini aneh. Seseorang pasti telah mencungkil bagian dalam dengan perkakas khusus. Tidak ada cara lain untuk menjelaskannya. ”

Lagi-lagi gadis itu menggeliat. Lengannya diputar seolah-olah dia sedang berenang dengan gaya punggung. Samsa tertarik dan terpukau dengan gerakan itu.

Samsa memberanikan diri. “Bolehkah aku bertanya?” tanyanya.

“Sebuah pertanyaan?” tanya gadis itu, membuat tatapan Samsa jadi ragu-ragu. “Aku tak bisa membayangkan apa, tapi silahkan tanya sesukamu.”

“Kenapa kamu sering menggeliat?”

Gadis itu menatap Samsa dengan bibirnya yang terbuka. “Menggeliat?” Dia berpikir sejenak. “Maksudmu seperti ini?” Gadis itu mendemonstrasikan gerakan menggeliat itu.

“Ya, seperti itu.”

“Bra yang kupakai tidak pas,” jelas gadis itu masam. “Hanya itu.”

“Bra?” tanya Samsa dengan suara kuyu. Kata itu tak bisa ia temukan di kenangan.

“Iya bra. Kamu pasti tahu kan?” tanya gadis itu. “Atau kamu menganggap aneh kalau wanita bungkuk pun memakai bra? Kamu pikir ini perbuatan hina?”

“Bungkuk?” Samsa keheranan. Sebuah kata yang tidak ia ketahui. Dia tidak tahu apa yang dia bicarakan. Namun, ia tahu bahwa ia harus mengatakan sesuatu.

“Bukan, maksudnya aku tak sampai berpikir seperti itu,” Samsa bergumam.

“Dengar. Kami yang bungkuk pun punya dua payudara juga, seperti wanita lain, dan kami tentunya memakai bra. Kami tak mungkin berjalan seperti sapi dengan payudaranya yang berayun-ayun.”

“Tentu saja tidak.” Samsa kehilangan kata.

“Tapi tidak ada bra yang didesain untuk kami-semuanya jadi longgar. Tubuh kami berbeda dengan wanita normal kan? Jadi kami harus menggeliat agar bra kembali pas. Orang bungkuk punya banyak masalah. Jadi karena inilah kamu selalu menatapiku dari belakang?”

“Tidak, bukan sepenuhnya begitu. Aku hanya penasaran kenapa kamu melakukan itu.”

Jadi, Samsa menyimpulkan, bahwa bra adalah perlengkapan yang dibuat untuk menahan payudara, dan bungkuk adalah orang dengan penampakan tubuh seperti gadis itu. Ada banyak yang ia harus pelajari di dunia ini.

“Benarkah kamu tidak sedang mempermainkanku?” tanya gadis itu.

“Aku tak sedang mempermainkanmu.”

Wanita itu memiringkan kepalanya dan menatap Samsa. Dia tahu bahwa Samsa berbicara jujur-tampaknya tidak ada kebencian dalam dirinya. Samsa hanya sedikit lemah di kepala, itu saja. Dia memang beberapa tahun lebih tua dari dia. Selain lambat, ia tampaknya punya keterlambatan mental. Tapi yang pasti, dia berasal dari keluarga baik-baik yang memiliki sopan santun sempurna. Dia tampak tampa, meskipun kurus kecil dan berwajah pucat.

Saat itulah gadis itu melihat tonjolan yang terlihat di bagian bawah baju mandi gantinya.

“Hey, apa-apaan itu?” Katanya dengan nada dingin. “Tonjolan apa itu?”

Samsa menengok ke bawah. Bagian tubuhnya itu benar-benar membesar. Dia bisa menduga dari nada suara sang gadis kalau kondisinya ini merupakan sesuatu yang tidak pantas.

“Aku mengerti,” gadis itu mencibir. “Kamu sepertinya sedang membayangkan dirimu bisa bercinta dengan orang bungkuk sepertiku, kan?”

“Bercinta?” Samsa bertanya-tanya. Satu lagi kata yang tidak ia mengerti.

“Kamu bisa membayangkan, bahwa orang bungkuk bisa dengan mudahnya kamu tarik paksa dari belakang tanpa masalah, kan?” Kata wanita itu. “Percayalah, ada banyak lelaki cabul sepertimu, yang berpikir kalau kami akan membiarkan apapun yang kamu lakukan karena menganggap kami bungkuk. Nah, pikirkan lagi, bocah. Kami tidak gampangan! ”

“Aku sangat bingung,” kata Samsa. “Jika aku telah membuatmu tidak senang, aku benar-benar menyesal. Aku minta maaf. Mohon maafkan aku. Aku tidak bermaksud jahat. Aku sedang tidak enak badan, dan ada begitu banyak hal yang aku tak mengerti. ”

“Baiklah.” Gadis itu mendesah. “Kamu sedikit lambat kan? Tapi anumu itu bagus juga. Sungguh sial, aku pikir.”

“Maaf,” Samsa berkata lagi.

“Lupakan.” Gadis itu melunak. “Aku punya empat saudara sialan di rumah, dan karena aku adalah seorang gadis kecil mereka telah menunjukkan semuanya. Mereka memperlakukannya seperti lelucon saja. Semua dari mereka. Jadi aku tidak bercanda ketika saya menilai anumu tadi.”

Dia berjongkok untuk menempatkan kembali perkakasnya ke tas, membungkus kunci rusak di flanel dan dengan lembut merapikan semuanya.

“Aku bawa kuncinya ke rumah ya,” ucap gadis itu, sembari berdiri. “Beritahu orang tuamu. Kami akan memperbaikinya atau mungkin bakal menggantinya. Jika harus mengganti dengan yang baru, mungkin perlu beberapa lama, soalnya di luar sana sedang kacau. Jangan lupa untuk memberitahu mereka, oke? Apakah kamu mengikuti omonganku? Dapatkah kamu ingat? ”

“Aku akan beritahu mereka,” jawab Samsa.

Dia berjalan perlahan menuruni tangga, Samsa mengikuti di belakang. Mereka kelihatan sama-sama kesusahan: si gadis tampak seolah-olah dia sedang merangkak, sementara Samsa yang di belakangnya berjalan dengan cara yang sangat aneh. Namun langkah mereka identik. Samsa berusaha keras untuk meredakan anunya, tapi nampaknya sulit kembali ke keadaan semula. Menonton gerakan si gadis dari belakang saat menuruni tangga membuat hatinya semakin berdebar-debar. Hot darah, segar menjalari pembuluh darahnya. Anunya makin keras kepala.

“Seperti yang kukatakan sebelumnya, salah satu saudaraku seharusnya yang datang hari ini,” kata gadis itu ketika mereka mencapai pintu depan. “Tapi jalan-jalan dipenuhi oleh tentara dan tank. Orang-orang ditangkapi. Itu sebabnya anggota keluargaku yang lain tidak bisa keluar. Ketika ada yang ditangkap, kita tidak akan tahu kapan akan kembali. Itu sebabnya aku dikirim. Melintasi jalanan Praha, sendirian. ‘Tidak ada yang akan memperhatikan seorang gadis bungkuk,’ kata mereka.”

“Tank?” Samsa bergumam.

“Ya, ada banyak. Tank dengan meriam dan senapan mesin. Meriammu itu mengesankan,” kata gadis itu, menunjuk tonjolan di bawah baju mandi ganti, “tapi meriam yang di luar itu lebih besar dan lebih keras, dan lebih mematikan. Mari kita berdoa semoga semua orang dalam keluargamu bisa kembali pulang dengan selamat.”

Samsa memberanikan dirinya. “Bisakah kita bertemu lagi?” tanyanya.

Si gadis tadi menengokan kepalanya pada Samsa. “Kamu ingin bisa bertemu denganku lagi?”

“Ya, aku ingin bertemu denganmu sekali lagi.”

“Dengan anumu yang seperti itu?”

Samsa melihat ke bawah si tonjolan tadi. “Saya tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya, tapi itu tidak ada hubungannya dengan perasaan saya. Ini mungkin berkaitan dengan masalah hati.”

“Jangan bercanda,” ucap gadis itu, terkesan. “Sebuah masalah hati katamu. Itu sungguh cara yang menarik. Tak pernah mendengar ini sebelumnya. ”

“Kamu lihat, ini di luar kontrolku.”

“Dan ini tidak ada hubungannya dengan bercinta kan?”

“Bercinta tidak ada dalam pikiranku. Sungguh.”

“Jika kusimpulkan. Ketika anumu membesar dan mengeras seperti itu, bukan dari pikiranmu, tetapi itu gara-gara hati?”

Samsa mengangguk setuju.

“Demi Tuhan?” Kata wanita itu.

“Tuhan,” Samsa mengulang. Kata lain yang ia tidak bisa mengingat setelah mendengar sebelumnya. Dia terdiam.

Wanita itu menggelengkan kepalanya. Dia memutar dan menggeliat untuk menyesuaikan branya. “Lupakan. Tampaknya Tuhan sudah meninggalkan Praha sejak beberapa hari yang lalu. Mari kita lupakan tentang Dia.”

“Jadi bisakah aku bertemu denganmu lagi?” tanya Samsa.

Air muka gadis itu berubah – tatap matanya menerawang jauh. “Kamu benar-benar ingin melihatku lagi?”

Samsa mengangguk.

“Apa yang akan kita lakukan?”

“Kita bisa ngobrol bersama.”

“Tentang apa?” tanya si gadis.

“Tentang beragam hal.”

“Hanya ngobrol?”

“Ada banyak yang ingin aku tanyakan kepadamu,” ucap Samsa.

“Tentang apa?”

“Tentang dunia ini. Tentangmu. Tentangku. Aku rasa ada beragam hal yang bisa kita obrolkan. Tank, contohnya. Dan Tuhan. Dan bra. Dan kunci.”

Keduanya terdiam sejenak.

“Aku tidak tahu,” perempuan itu akhirnya berkata. Dia menggeleng pelan, tapi suaranya terasa dingin. “Kau dibesarkan dari keluarga baik-baik tidak sepertiku. Dan aku ragu orang tuamu bakal senang melihat anak kesayangannya berhubungan dengan orang bungkuk dari seberang kota. Bahkan jika anaknya lumpuh dan agak lambat. Selain itu, kota kita sedang ditempati banyak tank dan pasukan asing. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

Samsa tidak tahu pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia buta tentang segala hal: masa depan, tentu saja, begitupun apa yang terjadi sekarang juga masa lalu. Apa yang benar, dan apa yang salah? Belajar cara berpakaian saja menjadi teka-teki yang rumit.

“Bagaimanapun, aku akan datang kembali beberapa hari lagi,” kata sang gadis bungkuk. “Jika kami dapat memperbaikinya, aku akan membawa kunci, dan jika kami tidak bisa maka aku akan mengembalikannya juga kepadamu. Kamu akan dikenakan biaya untuk layanan panggilan, tentu saja. Jika kamu masih berada di sini, maka kita dapat melihat satu sama lain lagi. Apakah kita bisa punya banyak waktu bicara atau tidak, aku tidak tahu. Tapi kalau aku jadi kamu, aku akan mencoba menjaga agar tonjolan itu tak kelihatan. Di luar sana, kamu tidak mendapatkan pujian kalau mengekspos hal semacam itu. ”

Samsa mengangguk. Dia sama sekali tak mengerti, bagaimana cara menyembunyikan barang itu agar tak terlihat.

“Ini aneh, bukan?” Gadis itu berkata dengan suara termenung. “Banyak ledakan di sekitar kita, tapi masih ada orang yang peduli tentang kunci rusak, dan orang lain yang masih mau peduli memperbaikinya. . . . Tapi mungkin inilah cara yang seharusnya. Mungkin tetap bekerja pada hal-hal kecil dengan patuh dan jujur saat dunia sedang kacau membuat kita tetap waras.”

Gadis itu menatap wajah Samsa ini. “Aku tidak bermaksud mencampuri, tapi apa sebenarnya yang terjadi di kamar di lantai dua itu? Mengapa orang tuamu perlu sebuah kunci besar untuk sebuah kamar kosong yang cuma ada tempat tidur, dan mengapa hal seperti itu membuat mereka terganggu ketika kuncinya rusak? Dan kenapa mereka memaku papan di jendelanya? Apakah ada sesuatu yang dikurung di sana?”

Samsa menggeleng. Jika seseorang atau sesuatu itu telah dikurung di sana, itu pasti dia. Tapi mengapa itu menjadi penting? Ia tidak tahu.

“Saya kira tidak ada gunanya bertanya kepadamu,” kata gadis itu. “Yah, aku harus pergi. Mereka akan mengkhawatirkanku kalau aku terlambat. Berdoalah agar aku bisa aman melintasi kota. Semoga tentara akan mengabaikan gadis bungkuk yang miskin ini. Semoga tidak satupun dari mereka adalah orang cabul. Kita sedang dalam kekacauan.”

“Aku akan berdoa,” ucap Samsa. Tapi dia tidak tahu arti dari “cabul” itu. Dan juga “doa”.

Wanita itu mengambil tasnya hitam dan, masih membungkuk, berjalan menuju pintu.

“Bisakah aku bertemu denganmu lagi?” Samsa bertanya untuk terakhir kalinya.

“Jika kamu terus memikirkan seseorang, kamu pasti bisa bertemu dengan mereka lagi,” katanya di perpisahan. Kali ini ada kehangatan dalam suara gadis itu.

“Waspada terhadap burung,” Samsa memanggilnya. Gadis itu berbalik dan mengangguk. Lalu ia pergi ke jalan.

***

Samsa mengamati melalui celah tirai ketika gadis bungkuk itu melintasi bebatuan. Gadis itu berjalan dengan aneh namun dengan kecepatan yang mengejutkan. Samsa tertarik dengan setiap gerak-gerik si gadis yang menawan itu. Gadis itu mengingatkannya pada serangga air yang sedang bergerak cepat di atas air menuju tanah kering. Sejauh yang ia hu, cara berjalan gadis itu lebih masuk akal ketimbang berjalan dirinya yang bergoyang-goyang dengan dua kaki.

Gadis itu masih terlihat, namun Samsa merasakan kalau alat kelaminnya telah kembali menjadi lemah dan menyusut. Bahwa tonjolan keras tadi telah, lenyap. Sekarang bagian tubuhnya yang bergelantung di antara kakinya itu seperti buah yang tidak bersalah, damai dan tak berdaya. Bolanya beristirahat dengan nyaman di kantung mereka. Menyesuaikan kembali sabuk baju mandi gantinya, ia duduk di meja makan dan minum sisa kopi dinginnya.

Orang-orang yang tinggal di sini sudah pergi ke tempat lain. Dia tidak tahu siapa mereka, tapi ia membayangkan bahwa mereka adalah keluarganya. Sesuatu telah terjadi tiba-tiba, dan mereka telah meninggalkannya. Mungkin mereka tidak akan pernah kembali. Apa maksud dari “kekacauan dunia” tadi? Gregor Samsa tidak tahu. Pasukan asing, pos-pos pemeriksaan, tank-semuanya masih jadi misteri.

Satu-satunya hal yang ia tahu pasti adalah bahwa ia ingin melihat sekali lagi gadis bungkuk itu. Untuk duduk berhadapan dan berbicara tentang isi hatinya. Untuk mengungkap beragam teka-teki dunia dengannya. Samsa ingin menonton dari setiap sudut cara dia memutar dan menggeliat ketika ia sedang membenarkan posisi branya. Jika memungkinkan, dia ingin merabai seluruh tubuh gadis itu. Menyentuh kulit lembut dan merasakan kehangatan gadis itu dengan ujung jarinya. Berjalan berdampingan dengan dia naik dan turun tangga dunia.

Hanya berpikir tentang gadis itu membuatnya merasakan kehangatan dalam dirinya. Tidak muncul lagi keinginannya untuk jadi ikan atau bunga matahari-atau apapun. Ia senang menjadi seorang manusia. Memang, ada ketidaknyamanan kalau harus berjalan dengan dua kaki dan ketika memakai pakaian. Yang pasti, masih ada begitu banyak hal yang ia tidak tahu. Kalau saja ia menjadi ikan atau bunga matahari, dan bukan manusia, tentu dia tak akan mengalami emosi semacam ini. Dia punya perasaan.

Samsa duduk lama di sana dengan mata tertutup. Kemudian, mengambil sebuah keputusan, ia berdiri, meraih tongkat hitam, dan berjalan menuju tangga. Dia kembali ke lantai dua, untuk kemudian belajar cara yang tepat dalam hal berpakaian. Untuk saat ini, setidaknya, ini akan jadi misinya.

Dunia sedang menunggunya untuk belajar beragam hal.

Cerpen Haruki Murakami: Manusia Es

Manusia Es, Terjemahan Ucu Agustin
AKU menikahi Manusia Es.

Pertama bertemu dengannya di sebuah hotel di ski resort, tempat paling sempurna untuk menemukan Manusia Es, memang. Lobi hotel begitu riuh dengan anak muda, tapi Manusia Es duduk sendiri di kursi sudut yang letaknya paling jauh dari perapian, diam membaca buku sendirian. Meski sudah hampir malam, tapi cahaya dingin pagi awal winter terlihat berpendar mengitarinya.

“Lihat! Itu si Manusia Es,” bisik temanku.

Waktu itu, aku sungguh tak tahu makhluk apa itu Manusia Es. Temanku juga. “Dia pasti terbuat dari es. Itu sebabnya orang-orang menyebutnya Manusia Es.” Temanku mengatakan hal tersebut dalam nada serius seolah dia sedang membicarakan hantu atau seseorang dengan penyakit menular.

Manusia Es tinggi, tampak muda, tegap, sedikit bagian rambutnya tampak putih seperti segenggam salju yang tak meleleh. Tulang pipinya tajam meninggi seperti batu yang beku, dan jarinya embun beku putih yang seolah abadi. Namun begitu, Manusia Es terlihat seperti manusia normal. Dia tidak seperti lelaki yang bisa kau sebut tampan memang, tapi dia terlihat begitu menarik—tergantung dari bagaimana kau melihatnya. Dalam suatu kesempatan, sesuatu tentang dia menusukku sampai ke hati. Aku merasakan hal tersebut terutama saat memandang matanya. Tatapannya senyap dan transparan seperti serpih cahaya dalam untaian tetes salju di pagi musim dingin. Seperti kilatan kehidupan dalam tubuh makhluk buatan.

Aku berdiri beberapa saat memperhatikan si Manusia Es dalam jarak dekat. Dia tak menoleh. Dia hanya duduk diam, tak bergerak. Membaca bukunya seakan tiada seorang pun yang ada di sana selain dirinya….

Keesokan paginya, Manusia Es masih berada di tempat yang sama, membaca buku dengan cara yang persis sama. Ketika aku melangkah ke ruang makan untuk makan siang, dan ketika aku kembali dari bermain ski dengan teman-teman pada malam tersebut, dia masih ada di sana, mengarahkan tatapan yang sama pada halaman-halaman buku yang sama. Hal serupa terjadi sehari setelah itu. Bahkan ketika matahari tenggelam rendah, dan jam terlambat tumbuh, ia duduk di kursinya, setenang adegan musim dingin di luar jendela.

Pada sore di hari keempat, aku me-reka berbagai alasan supaya bisa tidak turut keluar menelusur lereng. Aku tinggal di hotel sendiri dan mondar-mandir di lobi yang sekosong kota hantu. Udara di lobi terasa hangat dan lembab, dan ruangan itu memiliki bau aneh yang sedih mematahkan hati—bau salju yang terlacak di dalam sol sepatu yang sekarang tengah mencair di depan perapian.

Aku menatap keluar jendela, berdesir saat melihat halaman-halaman surat kabar, dan sekonyong mendekat ke Manusia Es, mengumpulkan keberaniann untuk berbicara.

Aku cenderung pemalu dengan orang asing, kecuali memiliki alasan yang sangat bagus, aku biasanya tak mudah berbicara dengan orang yang tak kukenal. Tapi dengan Manusia Es aku merasa memiliki dorongan untuk berbincang, tak peduli tentang apa pun itu. Ini malam terakhirku di hotel tersebut, dan jika kubiarkan kesempatan ini pergi, aku takut aku takkan punya kesempatan lagi untuk bisa berbicara dengan dia: pria es, si Manusia Es itu….

“Nggak main ski?” tanyaku padanya, sesantai mungkin.

Dia memalingkan wajah perlahan seolah mendengar suara di kejauhan. Dia menatapku, lalu dengan tenang menggeleng. “Aku tidak bermain ski,” ucapnya. “Hanya ingin duduk di sini, membaca dan melihat salju.”

Kata-katanya membentuk awan putih di atas kepala, seperti balon-balon kata keterangan di komik strip. Aku benar-benar bisa melihat kata-kata itu mengambang di udara, sampai ia menggosok mereka pergi dengan jarinya yang beku. Aku tak tahu lagi apa yang harus dikatakan selanjutnya. Aku hanya tersipu dan berdiri di sana.

Manusia Es menatap mataku dan tampak sedikit tersenyum. “Mau duduk?” tanyanya. “Kau tertarik padaku, kan? Ingin tahu apa itu Manusia Es?” Ia tertawa. “Tenang, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Nggak akan pilek kok kalau cuma bicara denganku….”

Kami duduk berdampingan di sofa di sudut lobi dan menyaksikan butiran-butiran salju menari di luar jendela. Aku memesan cokelat panas dan meminumnya, sedang Manusia Es tidak memimun apa-apa. Rupanya dia tidak lebih jago dalam bercakap-cakap dari aku. Dan bukan hanya itu, kami juga tak memiliki kesamaan apa pun untuk dijadikan bahan obrolan. Awalnya, kami berbincang tentang cuaca. Lalu kami ngobrol tentang hotel.

“Anda di sini sendirian?” tanyaku pada si Manusia Es.

“Ya,” jawabnya.

Dia bertanya, apakah aku suka main ski? “Nggak terlalu,” kataku. “Aku hanya datang karena teman-temanku ngotot mengajakku. Sesungguhnya aku benar-benar jarang main ski….”

Ada banyak hal yang sebenarnya sangat ingin aku tahu dari Manusia Es. Benarkan tubuhnya sungguh-sungguh terbuat dari es? Apa yang dia makan? Di mana dia tinggal di musim panas? Apakah dia punya keluarga? Ya, hal-hal semacam itulah. Tetapi Manusia Es tidak bicara tentang dirinya, dan itu membuatku menahan diri untuk tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan pribadi. Sebaliknya, Manusia Es malah berbicara tentang aku. Rasanya sulit dipercaya, tetapi entah bagaimana ia tahu semuanya. Dia tahu anggota keluargaku, dia tahu umurku, tahu apa yang kusuka dan yang tidak, tahu keadaan kesehatanku, tahu sekolah yang kumasuki dan tahu juga teman-teman yang biasa kukunjungi. Dia bahkan tahu hal-hal yang telah terjadi begitu jauh di masa lalu yang aku sendiri telah lupa.

“Saya tak mengerti,” kataku, bingung. Aku merasa seakan-akan aku telanjang di depan orang asing. “Bagaimana kamu bisa tahu begitu banyak tentang saya? Bisa baca pikiran orang ya…?”

“Nggak, saya nggak bisa baca pikiran atau apa pun yang semacam itu. Cuma tahu saja,” ucap si Manusia Es. “Saya tahu begitu saja. Seakan-akan saya jauh melihat ke dalam es, dan, ketika saya melihat Anda seperti ini, hal-hal tentang Anda menjadi terlihat begitu jelas bagi saya.”

Lalu aku bertanya, “Bisakah kamu melihat masa depan?”

“Saya nggak bisa melihat masa depan,” kata Manusia Es perlahan. “Saya sama sekali nggak mampu mengambil keuntungan dari masa depan. Lebih tepatnya…, saya nggak punya konsep masa depan karena es tak memiliki masa depan. Semuanya hanya masa lalu yang terlampir di dalamnya. Dengan cara yang sangat bersih dan jelas, es bisa mengawetkan banyak hal dan membuatnya seolah-olah masih hidup, meskipun itu masa lalu. Itulah esensi es,” terangnya.

“Itu bagus,” ucapku sambil tersenyum. “Benar-benar lega mendengarnya. Setelah ini… aku pun sungguh-sungguh tak ingin tahu bagaimana masa depanku.”

***

Kami bertemu lagi beberapa kali setelah aku kembali ke kota. Akhirnya, kami mulai berkencan. Kami tidak pergi ke bioskop, atau ke café. Kami bahkan tidak pergi ke restoran. Manusia Es jarang makan. Kita paling sering duduk-duduk di bangku taman dan berbincang tentang banyak hal selain tentang Manusia Es sendiri.

“Kenapa begitu?” Sekali aku pernah bertanya. “Mengapa kamu tidak mau bicara tentang dirimu? Aku ingin tahu lebih banyak tentang kamu. Di manakah kamu dilahirkan? Seperti apa rupa orang tuamu? Bagaimana ceritanya hingga kamu menjadi Manusia Es?”

Manusia Es menatapku sekejap lalu menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu,” katanya pelan dan jelas, mengembuskan embusan gelembung kata putih ke udara. “Aku tahu banyak tentang masa lalu hal-hal lain, tapi aku sendiri tidak punya masa lalu. Aku tidak tahu di mana aku lahir, atau seperti apa orang tuaku. Aku bahkan tidak tahu apakah aku memiliki orang tua. Aku juga tidak tahu berapa umurku, dan bahkan aku tidak tahu apakah aku memiliki umur.” Manusia Es ternyata sesepi gunung es di malam muram….

***

Aku serius jatuh cinta pada Manusia Es. Manusia Es pun mencintaiku apa adanya—di masa kini, tanpa masa depan. Pada gilirannya aku pun mencintai Manusia Es apa adanya—di masa sekarang, tanpa masa lalu. Kami bahkan mulai berbicara tentang pernikahan.

Aku baru berusia dua puluh, dan Manusia Es adalah lelaki pertama yang benar-benar kucintai. Saat itu, aku tidak bisa membayangkan apa artinya mencintai seorang Manusia Es. Tapi bahkan jika aku jatuh cinta pada pria normal sekalipun, aku ragu akankah aku bisa memiliki ide yang jelas tentang cinta?

Ibu dan kakak perempuanku tentu saja menentang ide menikahi Manusia Es.

“Kamu terlalu muda untuk menikah,” kata mereka. “Selain itu, kamu juga tidak tahu apa-apa tentang latar belakangnya. Kamu bahkan tidak tahu di mana Manusia Es dilahirkan dan kapan ia lahir. Bagaimana mungkin kita bisa bilang ke saudara dan kerabat kita kalau kamu menikahi orang semacam itu? Lagi pula, yang kita bicarakan ini Manusia Es! Apa yang akan kamu lakukan jika tiba-tiba ia mencair, hah? Kamu nggak paham kalau pernikahan itu memerlukan komitmen yang ‘riil’?!”

Biar bagaimanapun, kekhawatiran mereka tidak beralasan. Karena pada akhirnya, Manusia Es tidak pernah benar-benar terbuat dari es….

***

Dia tidak akan meleleh, tak peduli betapa hangat kondisi sekitar di mana ia berada. Dia disebut Manusia Es karena tubuhnya sedingin es, tapi apa yang membuatnya begitu, jelas bukan es. Itu bukan jenis dingin yang bisa menghapus panas orang lain. Jadi… kami menikah.

Tidak ada yang memberkati pernikahan itu. Tidak ada teman atau kerabat yang berbahagia untuk kami. Kami tidak mengadakan upacara, dan, ketika datang waktunya bagiku untuk memiliki nama keluarga yang terdaftar, Manusia Es tak memilikinya. Kami hanya memutuskan bahwa kami berdua menikah. Kami membeli kue kecil dan makan bersama, dan itulah pernikahan kami yang sederhana.

Kami menyewa subuah apartemen kecil, dan Manusia Es mencari nafkah dengan bekerja di sebuah fasilitas penyimpanan daging dingin. Dia bisa mengambil sejumlah rasa dingin dari sana, dan tak pernah merasa lelah tak peduli seberapa keras ia bekerja. Majikan suamiku sangat menyukainya, dan membayar gaji Manusia Es lebih tinggi dari karyawan lain.

Kami berdua hidup bahagia tanpa mengganggu atau diganggu siapa pun. Ketika kami bercinta dan Manusia Es menggumuliku, aku melihat dalam pikiranku, sepotong es yang kuyakin ada di suatu tempat di kesendirian yang tenang.

Kupikir Manusia Es mungkin tahu di mana es tersebut berada. Es yang dingin, beku, dan keras, sebegitu kerasnya hingga kupikir tidak ada yang bisa melebihi kekerasannya. Itulah lempengan es terbesar di dunia. Terletak di suatu tempat yang sangat jauh, dan rupanya manusia Es tengah membagikan kenangan tersebut padaku dan pada dunia.

Awalnya, aku kerap bingung bila Manusia Es mengajak bercinta. Tapi, setelah beberapa waktu, aku menjadi terbiasa. Aku bahkan mulai menyukai bercinta dengan Manusia Es.

Pada malam hari, diam-diam kami berbagi potongan es terbesar di dunia, di mana ratusan juta tahun masa lalu dunia, tersimpan di dalamnya.

***

Dalam kehidupan pernikahan kami, tidak ada masalah untuk “berbicara”. Kami saling mencintai begitu dalam, dan tak ada yang lebih penting dari itu.

Kami ingin punya anak, tapi itu tampaknya tak mungkin. Ini lebih karena, mungkin… gen manusia dan gen Manusia Es tidak bisa digabungkan dengan mudah. Dalam kasus semacam ini, karena kami tidak memiliki anak, aku memiliki lebih banyak waktu.

Aku menyelesaikan semua pekerjaan rumah di pagi hari, dan kemudian tidak ada lagi yang bisa kukerjakan. Aku tidak punya teman untuk bicara atau pergi bersama, dan aku tak memiliki banyak hal yang bisa dilakukan dengan para tetangga. Ibu dan kakak perempuanku masih marah dan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bertemu denganku lagi. Dan meskipun bulan-bulan berlalu, dan orang-orang di sekitar kami mulai berbicara dengan Manusia Es, jauh di dalam hati, mereka masih belum bisa menerima keberadaan Manusia Es atau aku—yang telah menikahinya. Kami berbeda dari mereka, dan tak ada jumlah waktu yang dapat menjembatani kesenjangan itu. Jadi, sementara suamiku Manusia Es bekerja, aku tinggal sendiri di rumah, membaca buku dan mendengarkan musik.

Biar bagaimanapun aku cnderung lebih suka tinggal di rumah dan aku tak keberatan sendirian. Hanya saja aku masih muda, dan melakukan hal yang sama hari demi hari akhirnya mulai terasa mengganggu. Bukan kebosanan yang menyakitkan, tapi pengulangan. Itu sebabnya suatu hari aku berkata pada suamiku, “Bagaimana kalau kita pergi berdua? Sebuah perjalanan. Untuk ganti suasana saja….”

“Sebuah perjalanan?” tukas Manusia Es. Dia menyipitkan mata dan menatapku. “Untuk apa kita melakukan perjalanan? Tidakkah kau bahagia di sini bersamaku?”

“Bukan itu,” kataku. “Tentu saja aku senang bersamamu, tapi aku bosan. Aku merasa ingin pergi ke suatu tempat yang jauh dan melihat hal-hal yang belum pernah kulihat. Aku ingin tahu bagaimana rasanya menghirup udara baru. Kamu mengerti kan maksudku? Lagi pula… kita belum berbulan madu. Kita punya tabungan dan kamu punya hari libur yang harus kamu isi. Bukankah ini cuma masalah waktu saja? Kita akan pergi ke suatu tempat, dan segalanya akan mudah serta menyenangkan.”

Manusia Es menghela napas bekunya dalam-dalam. Napas beku yang mengkristal di udara diiringi sedikit suara gemerincing. Dia menyusurkan jejarinya yang panjang bersama-sama di lutut. “Baiklah, jika kamu benar-benar ingin melakukan perjalanan, aku tak keberatan. Aku akan turut pergi ke mana pun kamu pergi andai itu membuatmu bahagia. Tapi, kamu tahu ke mana kamu mau pergi?”

“Bagaimana kalau kita mengunjungi Kutub Selatan?” kataku. Kupilih Kutub Selatan karena aku yakin bahwa Manusia Es akan tertarik pergi ke suatu tempat yang dingin. Dan, jujur saja, aku memang selalu ingin melakukan perjalanan ke sana. Aku ingin mengenakan mantel bulu yang bertopi indah, aku ingin melihat aurora australis dan juga kawanan penguin yang sibuk bermain. Namun, saat kukatakan hal tersebut, suamiku menatapku lekat, tanpa berkedip, dan aku merasa seolah-olah sebongkoah es menusukku, menembus bagian belakang kepalaku.

Manusia Es diam sejenak, dan akhirnya berkata dengan suara yang seperti salju berdentingan, “Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Mari kita pergi ke Kutub Selatan…. Kau sungguh-sungguh yakin ini yang kau inginkan?”

Entah kenapa aku tak bisa segera menjawab. Suamiku, Manusia Es, menatapku begitu lama, sedang di dalam kepalaku, aku seperti mati rasa. Lalu aku mengangguk.

***

Seiring waktu berlalu, aku mulai menyesali gagasan pergi ke Kutub Selatan. Aku tak tahu persisnya kenapa, tapi begitu aku mengucapkan kata “Kutub Selatan”, sesuatu berubah dalam diri suamiku. Matanya menjadi lebih tajam, napas yang keluar jadi lebih putih, dan jejarinya terlihat semakin beku. Setelah itu dia tak berbicara padaku lagi dan ia juga berhenti makan sepenuhnya. Semua itu tentu saja membuatku merasa sangat tidak nyaman.

Lima hari sebelum waktu berangkat, kubangun keberanian dan kukatakan pada suamiku, “Mari kita lupakan Kutub Selatan. Ketika kupikir hal itu sekarang, aku sadar kalau saat ini akan menjadi sangat dingin di sana, dan itu tidak bagus untuk kesehatanku. Jadi aku mulai berpikir mungkin lebih baik kalau kita pergi ke suatu tempat yang lebih biasa. Bagaimana kalau Eropa? Mari kita liburan di Spanyol. Kita bisa minum anggur, makan paella, dan melihat adu banteng atau sesuatu yang….”

Tapi suamiku tak menaruh perhatian, ia menatap angkasa beberapa lama lalu berkata, “Tidak, aku tidak terlalu ingin pergi ke Spanyol. Spanyol terlalu panas bagiku dan kotanya terlalu berdebu. Makanannya terlalu pedas. Selain itu, kita sudah membeli tiket ke Kutub Selatan. Dan kita punya mantel bulu, dan sepatu boot berbulumu sudah berbaris. Tak mungkin kita membuangnya ke tempat sampah. Sekarang kita sudah sejauh ini, kita tidak bisa tidak pergi….”

Alasan sesungguhnya aku mengajukan ide Eropa adalah bahwa sebenarnya aku takut. Aku memiliki firasat bahwa jika kami pergi ke Kutub Selatan sesuatu akan terjadi, dan sesuatu itu tak akan mungkin bisa di-undo. Tidak bisa diulang-kembalikan lagi.

Belakangan aku mengalami mimpi buruk, dan itu terjadi berulang-ulang. Selalu mimpi yang sama. Aku keluar berjalan-jalan sendiri lalu terjatuh begitu saja ke jurang yang dalam. Jurang terbuka di dasar tanah. Tak seorang pun menemukanku. Aku membeku di bawah sana. Diam dalam es, menatap nyalang ke langit di atas permukaan. Aku sadar, tapi aku tidak bisa bergerak, bahkan untuk menggerakkan jari pun aku tak mampu. Dari waktu ke waktu aku sadar aku telah menjadi masa lalu. Aku seolah ada dalam adegan yang bergerak mundur, menjauh dari mereka; orang-orang tersebut. Lalu sekonyong aku terbangun, dan saat terbangun, aku menemukan Manusia Es terbaring tidur di sampingku.

Suamiku, Manusia Es yang selalu tidur tanpa bernapas, Manusia Es yang seperti manusia mati….

***

Kini aku merindukan Manusia Es yang dulu pernah kutemui di ski resort. Di sini tak mungkin lagi keberadaannya menjadi perhatian siapa pun. Semua orang di Kutub Selatan menyukai Manusia Es, dan anehnya, orang-orang itu tak mengerti sepenggal pun kata yang kuucapkan. Sambil menguapkan napas putih mereka, mereka akan saling menceritakan lelucon dan berdebat serta menyanyikan lagu dalam bahasa mereka yang tak kumengerti, sementara aku duduk sendirian di kamar kami, memandang langit abu-abu yang sepertinya tak mungkin akan menjadi cerah dalam beberapa bulan mendatang. Pesawat terbang yang membawa kami ke sana sudah lama hilang, dan landasan pesawat kini tertutup lapisan es keras, sekeras hatiku.

“Musim dingin telah datang,” ujar suamiku. “Ini akan menjadi musim dingin yang sangat panjang. Takkan lagi ada pesawat atau kapal. Semuanya telah membeku. Kelihatannya kita harus tinggal di sini sampai musim semi berikutnya,” begitu ucapnya.

Sekitar tiga bulan setelah kami tiba di Kutub Selatan, aku baru sadar kalau aku hamil. Anak yang akan kulahirkan pastilah Manusia Es kecil, si junior—aku tahu itu! Rahimku sudah beku dan cairan ketubanku adalah lumpur es. Aku bisa merasakan dingin dalam diriku. Anakku akan menjadi seperti ayahnya, memiliki mata seperti tetesan air beku dan jejari yang juga kaku beku. Keluarga baru kami tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di luar Kutub Selatan.

O, aku baru tersadar. Masa lalu abadi, teramat berat dan melampaui semua pemahaman, mencengkeram begitu erat. Kita tak akan mampu mengguncangnya.

Sekarang… hampir tak ada hati tertinggal padaku. Kehangatanku telah pergi teramat jauh, dan terkadang aku bahkan lupa kalau kehangatan itu pernah ada. Di tempat ini, aku lebih kesepian dari siapa pun di dunia. Dan ketika aku menangis, suamiku sang Manusia Es akan mendekat dan mencium pipiku. Mengubah air mataku menjadi es. Dan dengan lembut dia akan mengambil air mata yang membeku di tangannya itu dan meletakkannya di ujung lidah, “Lihat betapa aku mencintaimu,” katanya.

Dia mengatakan hal yang sesungguhnya, tapi angin menyapunya ke ketiadaan, meniupkan kata-kata putihnya kembali dan kembali ke masa lalu…. (*)

(Hadiah ultah ke-25 untuk seseorang….)

Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris oleh Richard L. Peterson. Lalu, diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh Ucu Agustin.

Tersesat di Kota Kucing, Haruki Murakami

Di stasiun Koenji, aku menaiki salah satu kereta cepat jalur Chuo. Gerbong yang aku tempati kosong, dan aku satu-satunya penumpang di gerbong tersebut. Hari ini aku tidak memiliki rencana atau kegiatan apapun sehingga aku dapat pergi ke manapun dan melakukan apapun sesuka hatiku. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan karena sekarang adalah musim panas, udara di sekitarku terasa sangat menyengat.

Kereta melaju melewati Shinjuku, Yotsuya, Ochanomizu, dan akhirnya tiba di Stasiun Pusat Tokyo. Semua penumpang berhamburan keluar kereta, begitu juga aku. Dengan langkah santai aku menuju ke sebuah bangku yang berada di sudut taman stasiun. Aku duduk sambil menjulurkan kedua kakiku yang terasa sangat penat karena lelah seharian dalam perjalanan panjang dari sebuah tempat terpencil yang tenang bernama Shibuya menuju kota metropolitan Tokyo.

Aku merenung sejenak dan mulai berpikir ke mana selanjutnya akan pergi. “Aku dapat pergi kemana pun aku mau,” ucapku dalam hati. “Sepertinya hari ini cuaca sangat panas. Mungkin aku harus pergi ke pantai atau menemukan sebuah kafe kecil untuk makan siang.” Aku mendongakkan kepala dan memperhatikan peta jalur kereta yang terlihat sangat rumit.

Pada saat itu juga aku menyadari apa yang sedang aku lakukan.

Aku mencoba menggelengkan kepala beberapa kali, namun pikiran-pikiran itu tidak mau pergi dari dalam kepalaku. Mungkin secara tidak sadar aku telah memutuskan untuk melakukannya tepat pada saat aku menaiki kereta di Koenji tadi pagi. Aku mendesah perlahan, lalu bertanya kepada seorang petugas di stasiun agar dapat sampai ke Chikura. Petugas tersebut segera membolak-balikkan halaman buku jadwal kereta yang tebal. Dia menyarankan agar aku mengambil kereta ekspress ke Tateyama yang akan berangkat pada jam 11.30, kemudian transit ke kereta lokal. Dengan begitu aku akan tiba di Chikura sekitar jam dua lewat. Aku membeli tiket pulang-pergi Tokyo-Chikura. Kemudian aku pergi ke restoran di stasiun dan memesan menu makan siang yang sangat sederhana yaitu sepiring nasi kari dan salad.

Mengunjungi ayah adalah sebuah rencana yang tidak menyenangkan bagiku. Hubunganku dengan ayah tidaklah terlalu dekat, dan ayah juga jarang memperlihatkan rasa mencintai layaknya seorang ayah kepada putra semata wayangnya. Dia telah pensiun empat tahun yang lalu, namun saat ini ia masuk ke sanatorium di Chikura yang khusus merawat pasien penderita gangguan kognitif. Selama ini, aku hanya mengunjunginya tidak lebih dari dua kali dalam setahun. Kunjungan pertama adalah pada saat ayah baru masuk ke sana, ketika aku, sebagai satu-satunya anggota keluarga, harus berada di sana untuk mengurus prosedur administrasi. Kunjungan yang kedua juga karena menyangkut masalah administrasi. Hanya dua kali itu saja!

Sanatorium di mana ayah dirawat berdiri pada sebidang tanah yang berada di dekat pinggir pantai kota Chikura. Bagunannya merupakan kombinasi aneh dari bangunan tua elegan yang terbuat dari kayu, dan bangunan tiga tingkat yang terbuat dari beton. Namun udara di sana segar dan selain suara ombak yang menderu-deru, tempat itu selalu sunyi di sepanjang hari.

Barisan pohon pinus yang ditanam di pinggir taman menghalau angin yang menerjang bangunan. Fasilitas kesehatan di sana sangat baik. Dengan asuransi kesehatan, bonus pensiun, tabungan, dan uang pensiun, ayah mungkin dapat menghabiskan seluruh sisa hidupnya di sana dengan nyaman.

Meskipun ayah tidak akan meninggalkan harta warisan yang besar, namun bagiku yang terpenting adalah agar ayah mendapat perawatan yang terbaik. Aku tidak ingin mengambil sedikitpun hartanya, dan aku juga tidak ingin memberikan atau membagi apapun kepadanya. Kami adalah dua manusia yang berbeda, datang dan pergi ke tempat yang berbeda pula. Kami hanya kebetulan saja pernah tinggal bersama dalam satu atap selama beberapa tahun. Hanya itu saja! Sayang sekali kalau akhirnya harus begini, namun sama sekali tidak ada hal yang dapat aku lakukan untuk mengubah ini semua.

Aku membayar makanan kepada kasir dan memberi tips kepada pelayan lalu pergi ke platform untuk menunggu kereta ke Tateyama. Satu-satunya teman seperjalananku kali ini adalah sebuah keluarga bahagia yang akan berlibur selama beberapa hari di pantai.

Kebanyakan orang berpikir bahwa hari Minggu adalah hari untuk beristirahat. Namun selama masa kecilku, aku tidak pernah menganggap hari Minggu sebagai hari yang dapat dinikmati dengan sepuas hati. Bagiku, hari Minggu sama seperti bulan yang hanya menampakkan sisi gelapnya saja. Karena ketika hari Minggu tiba, badan ini mulai terasa lemas dan sakit, serta selera makanku kadang-kadang hilang. Aku bahkan berharap agar hari Minggu tidak akan pernah tiba, namun doaku ini tidak pernah terkabulkan.

Ketika aku masih kecil, ayah bekerja di NHK—sebuah jaringan televisi dan radio pemerintah di Jepang—sebagai penagih biaya langganan. Setiap hari Minggu dia akan mengajakku bersamanya untuk menemaninya menagih pembayaran dari pintu ke pintu. Kami telah berkeliling seperti ini sejak sebelum aku masuk TK dan masih berlanjut saat aku duduk di kelas lima SD. Aku tidak tahu apakah penagih bayaran di NHK memang bekerja setiap hari termasuk hari Minggu, namun seingatku, ayah selalu bekerja seperti itu. Ayah malah bekerja dengan lebih antusias daripada biasanya, karena pada hari Minggu dia dapat menemui orang-orang yang tidak dapat ditemuinya di hari – hari lain.

Ayahku mempunyai beberapa alasan kenapa dia mengajakku. Alasan pertama adalah karena dia tidak ingin meninggalkan aku yang masih kecil sendirian di rumah. Pada hari Sabtu dan hari – hari libur, aku dapat pergi ke sekolah atau ke penitipan anak, namun tempat – tempat ini tutup pada hari Minggu. Alasan yang lain, kata ayah, adalah karena menurutnya seorang ayah harus menunjukkan kepada anaknya pekerjaan macam apa yang dilakukannya. Seorang anak harus mengetahui pekerjaan apa yang menghidupinya selama ini, dan dia juga harus dapat menghargai pentingnya bekerja. Semasa kecilnya, ayah sudah bekerja di ladang milik kakek, bahkan di hari Minggu, begitu juga di hari – hari lain pada waktu libur, dia bahkan harus libur sekolah pada saat – saat yang sibuk seperti sedang musim panen. Kehidupan seperti itu merupakan sebuah anugerah baginya hingga dia tumbuh dewasa.

Alasan ketiga, dan juga yang terakhir, merupakan alasan yang sangat egois, sehingga alasan ini meninggalkan bekas luka yang dalam di hatiku. Sebenarnya ayah sadar bahwa keberadaan anak kecil dapat membuat pekerjaannya menjadi lebih mudah. Bahkan orang yang telah memutuskan untuk tidak akan membayar akhirnya akan merogoh kantongnya jika ditatap oleh seorang anak kecil, oleh karena itulah ayah hanya berkeliling di rute yang sulit di hari minggu.

Aku telah merasa sejak awal bahwa inilah peran yang diinginkan ayah untukku, dan aku amat sangat membenci peran ini. Namun aku juga merasa bahwa aku harus melakukannya dengan secerdik mungkin untuk menyenangkan hatinya. Jika aku bisa membuatnya senang, maka dia akan memperlakukanku dengan baik. Mungkin saja bagi ayah, aku tidak lebih dari sekedar monyet yang terlatih.

Salah satu hal yang membuat hatiku lega adalah daerah di mana kami berkeliling jauh dari rumah. Kami tinggal di daerah pinggir kota Ichikawa, sementara kami selalu berkeliling di pusat kota. Paling tidak dengan cara begini aku tidak akan bertemu dengan orang-orang yang kukenal. Namun tak jarang ketika kami berkeliling di wilayah perbelanjaan, aku akan melihat seorang temanku di sana. Jika ini terjadi, aku selalu bersembunyi di balik punggung ayah agar tidak terlihat oleh temanku.

Pada hari Senin, teman – teman sekolahku akan berbincang dengan semangat tentang apa yang mereka lakukan di hari Minggu. Mereka pergi ke taman hiburan, kebun binatang, dan melihat pertandingan baseball. Di musim panas mereka berenang, dan di musim dingin mereka bermain ski. Tapi tidak ada yang dapat aku ceritakan. Pada hari Minggu, dari pagi sampai malam, aku dan ayah akan membunyikan bel ke rumah orang – orang asing, menundukkan kepala, lalu mengambil uang dari siapapun yang membukakan pintu. Jika ada yang tidak ingin membayar, ayah akan membujuk atau mengancamnya. Jika mereka mengeluarkan banyak alasan, ayah akan meninggikan suaranya. Terkadang dia akan mengucapkan sumpah serapah kepada mereka yang bandel!

Tentu saja pengalaman seperti ini bukanlah hal yang ingin aku ceritakan kepada teman – temanku. Aku merasa seperti orang asing di tengah – tengah masyarakat ekonomi menengah. Aku hidup dengan cara yang berbeda di dunia yang berbeda.

Untungnya nilai – nilai akademik dan olahragaku sangat tinggi. Sehingga, walaupun terlihat berbeda, aku tidak pernah merasa minder. Dalam banyak kesempatan, aku diperlakukan dengan hormat. Namun setiap kali teman – teman mengajakku pergi ke suatu tempat atau mengundangku ke rumah mereka di hari Minggu, aku akan menolak ajakan mereka dengan berbagai alasan. Ini membuat mereka berhenti mengajakku.

Terlahir sebagai putra tunggal di keluarga petani yang tinggal di wilayah Tohoku, ayah terkenal sangat keras, ia senang karena berhasil keluar dari rumahnya secepat mungkin untuk bergabung dengan kelompok perantau dan menempuh perjalanan sampai ke Manchuria pada tahun 1913. Mereka tidak percaya dengan omongan pemerintah yang mengatakan bahwa Manchuria adalah surga dengan tanah yang luas dan subur. Pada saat itu ayah sudah sadar bahwa ‘surga’ itu tidak ada. Keluarga ayah sangatlah miskin, dan tidak jarang dia merasa sangat kelaparan. Kemungkinan terbaik jika dia tetap tinggal di rumahnya adalah hidup menderita dan mati kelaparan. Di Manchuria, ayah dan perantau lainnya diberikan sedikit peralatan untuk bertani, dan mereka bersama – sama bercocok tanam di sana. Tanah di sana keras dan berbatu, dan pada waktu musim dingin semuanya membeku. Terkadang mereka menangkap dan memakan anjing liar. Meski begitu, dengan bantuan pemerintah selama beberapa tahun pertama, mereka berhasil bertahan hidup. Lambat laun kehidupan mereka mulai stabil. Namun semua berubah secara drastis ketika Uni Soviet menginvasi Manchuria dalam skala yang besar pada bulan Agustus 1945. Ayah telah menduga hal ini akan terjadi, karena sebelumnya seorang pejabat pemerintah yang telah menjadi temannya telah memberitahunya. Begitu dia mendengar berita bahwa Soviet telah menerobos perbatasan, dia segera menunggangi kudanya sampai ke stasiun kereta dan menaiki kereta terakhir ke Daien. Dia satu – satunya diantara teman – teman petaninya yang berhasil kembali ke Jepang sebelum akhir tahun.

Setelah perang berakhir, ayah merantau ke Tokyo dan mencoba bekerja sebagai tukang kayu dan penyelundup di pasar gelap. Namun penghasilannya amat sangat minim dan bahkan tidak cukup untuk makan sehari – hari. Saat itu dia sedang bekerja sebagai pengantar di toko minuman alkohol ketika dia bertemu dengan temannya yang dulu menjadi pejabat di Manchuria. Saat dia mengetahui bahwa ayah sulit menemukan pekerjaan dengan penghasilan yang pantas, dia menawarkan diri untuk merekomendasikan ayah pada temannya yang bekerja di bagian pelanggan NHK. Ayah dengan senang hati menyetujuinya. Dia hampir tidak mengetahui apa – apa tentang NHK, namun dia bersedia untuk mencoba apapun yang dapat menjanjikannya penghasilan tetap.

Ayah menjalankan pekerjaannya dengan sangat antusias. Kelebihannya yang paling menonjol adalah kekerasan hatinya di hadapan para saingannya. Bagi seseorang yang telah susah mencari makan semenjak kecil, menagih pembayaran di NHK bukanlah pekerjaan yang menyiksa. Ejekan dan cemooh dari orang lain tidak berarti apa – apa baginya. Terlebih lagi, dia merasa puas karena dapat menjadi bagian dari organisasi penting seperti NHK, walaupun hanya sebagai anggota di tingkat yang paling rendah. Ketekunannya dalam bekerja sangat luar biasa, sehingga setelah satu tahun bekerja sebagai penagih dengan bayaran per komisi, dia segera diangkat menjadi pegawai penuh. Ini merupakan sebuah pencapaian yang belum pernah dicapai oleh siapapun di NHK. Tidak lama setelah itu dia pindah ke apartemen milik perusahaan dan mengambil asuransi kesehatan dari perusahaan. Ini adalah runtutan keberuntungan terbesar yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Ayah jarang mau menyanyikan lagu tidur untukku di masa kecil, dia juga malas membacakan buku untukku saat aku hendak tidur. Malahan, dia sering menceritakan tentang pengalaman hidupnya.

Dia handal dalam bercerita. Pengalaman masa kanak – kanak dan mudanya memang tidak sarat akan makna, namun rincian ceritanya terasa sangat nyata. Ada kisah lucu, mengharukan, namun tak jarang ia gemar menceritakan pengalaman hidupnya yang keras.

Kehidupan ayah sungguh penuh dengan warna. Namun ketika ceritanya sampai ke bagian dimana dia menjadi pegawai di NHK, tiba – tiba ceritanya kehilangan daya tarik. Dia bertemu seorang wanita cantik, menikahinya, lalu mempunyai anak, aku, Tengo Kawana. Beberapa bulan setelah melahirkanku, ibu jatuh sakit lalu meninggal dunia. Sejak saat itu ayah membesarkanku seorang diri sambil bekerja di NHK.

Ayah tidak pernah mau menceritakan tentang bagaimana dia bertemu dan menikahi ibu, wanita seperti apa dia, apa yang menyebabkan kematiannya, atau apakah dia menderita sebelum meninggal atau tidak? Jika aku mencoba menanyakannya, maka ayah akan menghindari pertanyaanku. Sering kali pertanyaan – pertanyaan ini membuat hatinya sangat kesal. Tidak ada satupun foto ibu yang disimpannya.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mempercayai cerita ayah. Dia menyembunyikan cerita bahwa ibu tidak meninggal beberapa bulan setelah aku lahir. Di dalam ingatanku saat masih berumur satu setengah tahun, ibu sedang berdiri di samping tempat tidurku, dan seorang pria yang aku tahu bukan ayah sedang memeluknya dengan penuh hasrat. Pelan – pelan ibu melepaskan blus dan ikatan roknya, lalu membiarkan lelaki yang bukan ayahku itu berbuat sesuka hatinya. Sementara itu aku sedang tidur di samping mereka, dengan napas yang tidak terlalu keras. Namun di saat yang sama, aku tidak tertidur, aku justru sedang memperhatikan ibu dan segala gerak – geriknya.

Itulah gambaran terakhir yang aku rekam. Adegan berdurasi sepuluh detik tersebut telah melekat dengan jelas di dalam kepala. Satu – satunya informasi konkrit yang aku miliki tentang ibuku. Aku dan ibu terhubung oleh ikatan tipis yang terlihat seperti tali pusar seorang bayi. Ayah tidak mengetahui bahwa adegan ini ada dalam ingatanku. Seperti seekor sapi di tengah padang rumput, aku melahap informasi ini bagai rumput yang selanjutnya aku makan mentah – mentah. Ayah dan anak, masing – masing terkurung di dalam kegelapan rahasia mereka sendiri yang gelap dan begitu dalam.

Saat beranjak dewasa, aku sering bertanya – tanya apakah pria yang bukan ayahku itu adalah ayah kandungku. Ini karena aku sama sekali tidak mirip dengan ayahku yang sekarang. Aku memiliki tubuh yang tinggi, kening yang lebar, hidung mancung, dan daun telinga yang bundar. Sedangkan ayah bertubuh pendek, gemuk, dan sama sekali tidak menarik. Dia mempunyai kening kecil, hidung pesek, dan daun telinga yang lancip seperti kuda. Aku selalu bisa terlihat santai dan baik hati, sedangkan ayah cepat cemas dan tidak suka menolong orang. Jika sedang membandingkan kami berdua, orang – orang selalu membicarakan tentang perbedaan di antara kami.

Namun tetap saja, bukan perbedaan dalam hal fisik yang membuat aku sulit untuk menerima ayah, tapi karena perbedaan psikologis. Ayah sama sekali tidak menunjukkan tanda – tanda kecerdasan intelektual. Memang benar, dia terlahir dan hidup dalam kemiskinan sehingga dia tidak pernah mendapatkan pendidikan yang layak. Untuk hal ini, aku merasa sangat bersimpati terhadap keadaannya. Namun hasrat dasar untuk menimba ilmu — yang aku pikir merupakan sifat alamiah manusia — tidak terdapat di dalam dirinya. Dia memiliki pengetahuan praktikal yang membuatnya dapat bertahan hidup, namun aku tidak melihat adanya kemauan dalam diri ayah untuk memperdalam ilmu, dan melihat dunia dengan sudut pandang yang lebih luas.

Meskipun begitu, ayah tidak pernah terlihat menderita karena hidupnya yang sempit dan monoton. Aku tidak pernah melihatnya membaca buku. Dia tidak tertarik dengan musik atau film, dan dia tidak pernah pergi berlibur. Satu – satunya hal yang menarik baginya adalah rute berkelilingnya. Dia akan membuat map area yang akan dilaluinya, menandainya dengan pena warna, dan memeriksanya kapanpun dia ada kesempatan, layaknya seorang ahli biologi yang mempelajari kromosom.

Sebaliknya, aku selalu ingin tahu akan semua hal. Aku mempelajari dan memahami berbagai macam bidang studi dengan baik. Aku telah diakui sebagai murid jenius dalam bidang matematika semenjak usia dini, dan aku dapat menyelesaikan soal matematika untuk tingkat SMA saat aku duduk di kelas tiga SD.

Bagiku, matematika merupakan alat terbaik untuk melarikan diri dari dunia nyata. Dalam dunia matematika, aku dapat berjalan di sepanjang koridor kota, dan membuka pintu – pintu angka. Setiap kali aku menemui soal yang sulit, maka jejak buruk kenyataan dunia akan segera menghilang dari hadapanku. Selama aku bisa membuat diri ini sibuk menjelajahi dunia yang tak terbatas dan konsisten tersebut, aku akan merasa bebas.

Jika matematika merupakan bangunan khayalan yang menakjubkan, maka sastra merupakan hutan luas yang penuh sihir. Matematika menghampar naik ke atas surga, namun cerita sastra terhampar luas di depanku, akar – akarnya menembus jauh ke dalam perut bumi. Tidak ada map maupun pintu di sana. Semakin aku beranjak dewasa, hutan cerita mulai mencengkeram dan menarik hati ini lebih kuat daripada dunia matematika. Tetap saja, membaca novel hanyalah salah satu cara bagiku untuk melarikan diri, karena begitu aku menutup buku, aku segera kembali ke dunia nyata. Namun begitu, aku merasa bahwa kembali ke dunia nyata dari dunia novel tidak terlalu mengecewakan dibanding kembali dari dunia matematika. Kenapa bisa begitu? Setelah berpikir keras, aku mencapai sebuah kesimpulan.

Tidak peduli betapa jelasnya sebuah cerita, namun tidak pernah ada solusi yang jelas di sana, tidak seperti ketika aku menjelajahi dunia matematika. Peran sebuah cerita, dalam istilah yang paling luas, adalah untuk mengubah sebuah masalah ke dalam bentuk yang lain. Sebuah solusi bisa saja dapat ditarik dari naratifnya, tergantung dengan alamiah dan alur masalahnya. Aku selalu kembali ke dunia nyata dengan pemahaman tersebut. Rasanya seperti selembar kertas yang di atasnya tertulis mantra sihir yang tidak dapat dipecahkan. Mantra tersebut tidak mempunyai maksud secara langsung, namun masih mengandung makna terselubung.

Satu – satunya solusi yang mampu aku pecahkan berkat koleksi buku – buku bacaanku adalah; ayahku yang asli pasti berada di suatu tempat. Seperti seorang anak kecil malang di dalam novel Dickens, aku mungkin, entah karena situasi aneh macam apa, akhirnya dibesarkan oleh penipu yang mengaku sebagai ayah. Kemungkinan tersebut terasa seperti mimpi buruk namun juga harapan yang besar. Setelah membaca Oliver Twist, aku mulai membaca seluruh karya Dickens yang dapat aku temukan di perpustakaan. Ketika aku berjalan – jalan untuk mengarungi kisah – kisah dari Charles Dickens, aku mengubah khayalan kehidupanku dan semakin membenci diri sendiri. Khayalan ini tumbuh semakin panjang dan rumit. Khayalan yang tumbuh dengan satu bentuk, namun memiliki variasi yang tak terhingga. Di dalam semua khayalanku, aku meyakinkan diri sendiri bahwa aku hanya sekedar terjebak di dalam rumah ayah saja, dan suatu saat nanti kedua orang tuaku yang asli akan menemukan dan menyelamatkanku. Kemudian aku akan menikmati hari Minggu yang paling indah dan damai.

Ayah selalu bangga dengan nilai – nilai yang berhasil aku capai di sekolah, dan dia selalu menunjukkan nilai hasil ujianku ke para tetangga kami. Namun di saat yang sama, ayah juga menunjukkan tanda – tanda ketidaksenangan terhadap kecerdasan dan bakatku.

Kadang – kadang, ketika aku tengah sibuk belajar di kamar, ayah akan menggangguku, menyuruhku membersihkan rumah, dan mengomeli sikapku yang dianggap lancang terhadapnya. Isi omelan ayah selalu sama, ayah sedang sibuk bekerja keras, menempuh perjalanan yang jauh, dan menahan amarah ketika orang – orang menyumpahinya, sedangkan aku hanya hidup dengan bersantai – santai saja. “Ketika ayah seumuranmu, ayah sudah disuruh bekerja banting tulang. Kakek dan pamanmu selalu memukuli ayah jika ayah bersantai – santai. Mereka tidak pernah memberikan ayah makan yang cukup. Mereka memperlakukan ayah seperti binatang. Ayah tidak mau kau merasa spesial hanya karena nilai – nilaimu tinggi!”

Dia iri denganku, pikirku. Entah dia iri denganku atau dengan kehidupanku. Tapi, apakah seorang ayah memang akan iri dengan anaknya sendiri?

Bukannya aku mau menuduh ayah, tapi aku memang merasakan adanya rasa cemburu dalam perkataan maupun perbuatannya. Ayah tidak membenci kehadiranku, tapi dia lebih sering membenci sesuatu yang ada di dalam diriku, sesuatu yang tidak dapat dimaafkannya.

Ketika kereta yang aku tumpangi bergerak meninggalkan stasiun Tokyo, aku mengeluarkan buku yang aku bawa dari rumah. Buku tersebut merupakan sebuah antologi cerita pendek dengan tema perjalanan, dan di dalamnya terdapat cerita berjudul “Kota Kucing”, sebuah karya fantastis yang ditulis oleh penulis Jerman yang tidak begitu kukenal. Berdasarkan kata pengantar yang ada di halaman depan buku, cerita tersebut ditulis pada periode antara dua Perang Dunia.

Dalam kisah tersebut, seorang pemuda bepergian sendirian tanpa ada tujuan. Dia menumpangi kereta dan turun di pemberhentian manapun yang menarik perhatiannya.
Dia menyewa sebuah kamar, berkeliling menikmati pemandangan, dan tinggal selama yang dia inginkan. Ketika dia sudah merasa puas, dia kembali menaiki kereta lain. Dia sangat menikmati liburannya dengan cara seperti itu.

Suatu hari, dia melihat sebuah sungai yang indah dari jendela kereta. Bukit – bukit hijau berbaris di sepanjang alirannya, dan di kejauhan terlihat sebuah kota kecil yang indah dengan jembatan batu tua. Kereta berhenti di stasiun di kota tersebut, dan dia turun membawa tasnya. Tidak ada penumpang lain yang ikut turun, dan begitu dia turun, kereta segera berangkat kembali.

Tidak ada seorangpun yang bekerja di stasiun. Dia berpikir hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada banyak kegiatan di stasiun ini. Sang pemuda menyeberangi jembatan batu dan berjalan menuju kota. Semua toko tutup, dan alun – alun kota terlihat kotor dan telah lama terbengkalai. Hanya ada satu hotel di sana, dan tidak ada orang yang melayani di meja penerima tamu. Tempat itu tampak tidak berpenghuni. Mungkin semua orang sedang tidur siang di suatu tempat. Tapi sekarang baru jam setengah sebelas pagi, masih lama sebelum waktu tidur siang.

Mungkin sesuatu telah terjadi dan membuat semua orang meninggalkan kota ini. Walau bagaimanapun, kereta selanjutnya tidak akan tiba sampai besok pagi, sehingga dia tidak punya pilihan selain bermalam di sana. Dia berjalan berkeliling kota untuk menghabiskan waktu.

Sebenarnya, ini adalah kota kucing. Ketika matahari mulai terbenam, banyak kucing liar — dengan jenis dan warna yang berbeda — menyeberangi jembatan secara bergerombolan. Mereka memiliki ukuran yang lebih besar daripada kucing biasa, namun mereka tetaplah kucing liar. Sang pemuda terkejut melihat pemandangan ini. Dia segera berlari menuju menara lonceng yang terdapat di tengah kota, lalu naik sampai ke puncaknya untuk bersembunyi. Para kucing mulai berkeliaran di sekitar kota.

Ada yang membuka penutup toko, atau pergi ke kantor untuk memulai kerja. Tidak lama berselang, muncul segerombolan kucing lain dalam jumlah yang lebih banyak dan mereka mulai menyeberangi jembatan seperti yang dilakukan oleh kelompok sebelumnya. Mereka masuk ke toko – toko untuk berbelanja, pergi ke kantor pemerintahan untuk menyelesaikan urusan administrasi, makan di restauran hotel, atau meminum bir di kedai dan menyanyikan lagu – lagu kucing dengan semangat. Karena kucing dapat melihat dalam kegelapan, maka mereka hampir tidak membutuhkan lampu sama sekali. Namun khusus malam hari itu, rembulan bersinar terang dan cahayanya menerangi seluruh kota. Sang pemuda dapat melihat kegiatan di kota dengan jelas dari tempat persembunyiannya di menara lonceng. Ketika fajar menyingsing, para kucing menyelesaikan pekerjaan mereka, menutup kembali pintu toko, dan berjalan teratur menyeberangi jembatan.

Saat matahari telah terbit, tidak ada satupun kucing yang terlihat di sana, dan kota tersebut kembali sunyi. Sang pemuda turun dari menara lonceng, lalu tidur di salah satu kamar di hotel. Jika dia merasa lapar, dia memakan roti dan ikan yang tersisa di dapur hotel. Ketika malam mendekat, dia kembali bersembunyi di menara lonceng dan memperhatikan kegiatan para kucing sampai fajar.

Beberapa kali kereta berhenti di stasiun sebelum siang dan sore hari. Tidak ada penumpang yang turun maupun naik ke kereta. Namun tetap saja, kereta selalu berhenti tepat selama satu menit, kemudian kembali berangkat. Dia bisa saja naik ke salah satu kereta, dan meninggalkan kota kucing yang aneh ini. Tapi dia memutuskan untuk tidak melakukannya. Karena dia masih muda, rasa ingin tahunya sangat menggebu – gebu dan dia selalu siap melakukan petualangan apapun. Dia masih ingin melihat peristiwa aneh ini lebih lama. Dia ingin mengetahui sejak kapan dan bagaimana tempat ini berubah menjadi kota kucing.

Pada malam ketiga, sebuah keributan terjadi di alun – alun di bawah menara. “ Hey, apa kau mencium bau manusia? ” tanya seekor kucing.

“Ya, aku rasa memang ada bau aneh beberapa hari ini,” sahut kucing lain sambil mengendus dengan hidungnya. “Aku juga,” jawab yang lain. “Aneh. Padahal tidak ada manusia yang tinggal di sini,” tambah seekor kucing. “Tentu saja tidak. Tidak mungkin ada manusia yang bisa masuk ke kota ini.” “Lalu kenapa ada bau manusia di sini?”

Para kucing mulai menyisir seluruh kota secara berkelompok. Mereka hanya membutuhkan waktu sebentar saja untuk memastikan bahwa menara lonceng merupakan sumber dari bau manusia. Sang pemuda mendengar langkah kaki kucing menaiki tangga. Mereka telah menemukanku! Pikirnya. Sepertinya baunya telah memicu amarah para kucing.

Manusia tidak diperbolehkan memasuki kota tersebut. Para kucing memiliki cakar dan taring yang besar dan tajam. Pemuda itu tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika para kucing berhasil menangkapnya, tapi dia yakin bahwa mereka tidak akan membiarkannya meninggalkan kota dalam keadaan hidup.

Tiga ekor kucing memanjat sampai ke puncak menara dan mengendus udara. “ Aneh, ” ujar seekor kucing dengan kumis bergoyang – goyang, “ Aku mencium bau manusia, tapi tidak ada seorangpun di sini. ” “ Ya, ini aneh, ” sahut kucing lain. “ Tapi memang tidak ada seorangpun di sini. Ayo pergi dan cari di tempat lain. ”

Para kucing memiringkan kepala mereka, kebingungan, kemudian kembali turun ke bawah. Sang pemuda mendengar langkah kaki mereka perlahan menghilang di kegelapan malam. Dia menghembuskan nafas lega, tapi dia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Mereka tidak dapat menemukannya. Tapi entah kenapa, mereka tidak dapat melihatnya. Walau bagaimanapun, dia memutuskan bahwa dia akan segera pergi ke stasiun begitu pagi menjelang dan naik kereta meninggalkan kota. Keberuntungannya tidak akan mungkin bertahan selamanya.

Namun esoknya, tidak ada kereta yang berhenti di stasiun. Semua kereta hanya melaju melewatinya tanpa menurunkan kecepatan.

Begitu juga dengan kereta sore. Dia dapat melihat seorang kondektur di gerbong kendali. Tapi kereta – kereta tersebut tidak menunjukkan tanda – tanda akan berhenti. Seolah tidak ada yang melihat seorang pemuda menunggu di stasiun — atau bahkan stasiun itu sendiri. Ketika kereta sore menghilang di ujung rel, tempat itu menjadi lebih sunyi daripada biasanya. Matahari mulai terbenam. Waktunya bagi para kucing memasuki kota. Sang pemuda sadar bahwa dia telah tersesat. Tempat tersebut merupakan dunia lain yang disiapkan secara khusus untuknya. Dan tidak akan ada lagi kereta yang berhenti di stasiun ini untuk membawanya kembali ke dunia asalnya.

Aku membaca kisah tersebut dua kali. Frasa ‘tempat di mana dia ditakdirkan untuk tersesat’ menarik perhatiannya. Dia menutup bukunya dan membiarkan matanya menerawangi pemandangan area industri yang terlihat dari jendela kereta. Tidak lama kemudian dia tertidur — bukan tidur panjang namun tidur yang sangat dalam. Dia terbangun bersimbah keringat. Kereta sedang berjalan melewati pesisir selatan semenanjung Boso.

Dulu, saat aku duduk di kelas lima, aku memutuskan untuk berhenti berkeliling dengan ayah di hari Minggu. Aku mengatakan pada ayah bahwa aku ingin menghabiskan waktu luang dengan belajar, membaca buku, dan bermain bersama anak – anak yang lain. Aku ingin hidup normal seperti orang lain.

Aku hanya mengatakan apa yang perlu aku katakan dengan ringkas dan mudah dimengerti.

Di luar dugaanku, ayah naik pitam. Dia tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh keluarga lain.

“ Kita punya cara hidup sendiri, nak. Dan jangan kau berani berkata padaku tentang ‘kehidupan normal’, Tuan Sok Tahu. Apa yang kau tahu tentang ‘kehidupan normal’?” Aku sama sekali tidak mencoba membantahnya. Aku hanya balik menatapnya dengan hening, sadar bahwa semua perkataanku tidak akan bisa dimengerti olehnya. Akhirnya, ayah mengatakan bahwa jika aku tetap tidak mau mematuhinya, maka dia akan berhenti memberiku makan. Dengan kata lain, aku harus angkat kaki dari rumah.

Aku mematuhi apa yang dikatakan ayah. Aku telah membulatkan tekad. Daripada takut, aku malah merasa lega, karena akhirnya aku diberikan izin untuk meninggalkan kurungan ini. Namun tidak mungkin seorang anak berusia sepuluh tahun dapat hidup sendiri. Ketika kelas telah berakhir, aku mengungkapkan semua kemalangan yang kualami kepada guruku.

Dia adalah seorang guru wanita berumur tiga puluhan dan hidup lajang. Dia juga guru yang baik hati dan berpikiran terbuka. Dia mendengarkan kisahku dengan penuh simpati. Malam harinya dia berkunjung ke rumah kami untuk berdiskusi dengan ayah.

Aku disuruh meninggalkan ruang tamu, sehingga aku tidak tahu apa yang mereka katakan, namun akhirnya ayah mengalah. Tidak peduli seberapa marahnya dia kepadaku, dia tetap tidak boleh membiarkan anak berumur sepuluh tahun berkeliaran di jalan sendirian. Kewajiban orang tua untuk menghidupi anaknya diatur oleh hukum.

Setelah ibu guru selesai berbicara dengan ayah, aku diizinkan untuk menghabiskan hari Minggu sesuka hati. Ini merupakan hak pertama yang pernah aku peroleh dari ayah. Kini aku telah selangkah lebih jauh menuju kebebasan dan kemerdekaan.

Di meja resepsionis sanatorium, aku memberikan nama dan nama ayah.

Perawat yang kebetulan sedang bekerja saat itu bertanya, “ Apa anda telah memberi tahu bahwa Anda akan berkunjung hari ini? ” suaranya terdengar serak. Perawat tersebut berperawakan kecil, dia mengenakan kacamata dengan bingkai besi, dan rambutnya yang pendek mulai tampak beruban.

“ Tidak, tiba – tiba saja aku ingin berkunjung pagi ini dan segera berangkat dengan kereta, ” jawabku apa adanya.

Sang perawat menatapku dengan ekspresi setengah jijik. Kemudian dia berkata,

“ Pengunjung seharusnya memberi tahu kami terlebih dahulu sebelum menjenguk pasien. Kami mempunyai jadwal sendiri, dan keinginan pasien juga harus dipertimbangkan. ”

“ Maaf, aku tidak tahu. ”

“ Kapan terakhir kali Anda berkunjung ? ”

“ Dua tahun lalu. ”

“ Dua tahun lalu, ” ulangnya sambil memeriksa daftar pengunjung dengan pena di tangannya. “Maksudnya Anda tidak pernah berkunjung sekalipun selama dua tahun ini? ”

“ Benar. ” jawabku.

“ Menurut catatan kami, Anda adalah satu – satunya kerabat Tuan Kawana. ”

“ Ya, benar. ”

Dia melihatku sepintas, tapi tidak mengatakan apa – apa. Dia tidak sedang menghakimiku, dia hanya mengkonfirmasi fakta. Lagipula, kasus seperti keluargaku ini bukanlah yang pertama kali.

“ Saat ini ayah Anda sedang mengikuti kelompok rehabilitasi, dan akan selesai dalam setengah jam. Kemudian barulah anda dapat menemuinya. ”

“ Bagaimana keadaannya? ”

“ Secara fisik, dia sehat. Namun kondisinya yang lain belum stabil, ” jawab sang perawat sambil mengetuk – ngetuk dahinya dengan jari telunjuk.

Aku mengucapkan terima kasih kemudian beranjak pergi dan menunggu di ruang santai yang berada di dekat pintu masuk sambil melanjutkan membaca buku. Angin semilir masuk melalui jendela, membawa terbang aroma laut dan pinus dari luar. Jangkrik musim panas bertengger di pepohonan, mengeluarkan suara sekencang – kencangnya. Musim panas kini sampai pada puncaknya, tapi para jangkrik seolah tahu bahwa musim panas tidak akan bertahan selamanya.

Setelah menunggu cukup lama, seorang perawat berkacamata datang memberitahu bahwa aku dapat menemui ayah sekarang. “ Akan saya tunjukkan kamar ayah Anda, ” ucapnya. Aku berdiri dari sofa, dan ketika aku melewati cermin besar yang digantung di dinding, aku baru sadar betapa semrawut pakaian yang aku kenakan, selembar kaos Tur Jeff Beck yang dibalut kemeja dengan kancing terbuka dan tidak sesuai, celana Chinos dengan noda saos pizza di dekat lutut, dan topi baseball — sungguh pakaian yang tidak mungkin dikenakan oleh putra berumur tiga puluh tahun yang mengunjungi ayahnya untuk pertama kalinya dalam dua tahun belakangan. Ditambah lagi aku tidak membawa apapun yang dapat dijadikan buah tangan untuk ayah. Pantas saja perawat tadi memandangku dengan jijik.

Ayahku berada di dalam kamarnya, dia sedang duduk di kursi dekat jendela yang terbuka dengan tangan di lututnya. Di atas meja di dekatnya terdapat pot bunga yang diisi dengan bunga – bunga indah berwarna kuning. Lantainya dibuat khusus dengan bahan lunak untuk mencegah agar pasien tidak terluka jika terjatuh.

Pada awalnya aku tidak menyadari bahwa lelaki yang duduk di dekat jendela adalah ayah. Dia telah mengecil, atau lebih tepatnya ‘mengerut’. Rambutnya kini lebih pendek dan seputih halaman rumah yang ditutupi salju. Pipinya mencekung, dan mungkin karena itulah bola matanya terlihat lebih besar dibanding dahulu. Tiga garis kerutan terlihat jelas di keningnya. Alis matanya sangat panjang dan tebal, dan daun telinganya lebih lancip daripada sebelumnya sampai terlihat seperti sayap kelelawar. Dari kejauhan dia tidak terlihat seperti manusia, malah dia lebih terlihat seperti makhluk lain, tikus atau tupai — pokoknya makhluk yang terlihat licik. Walau bagaimanapun dia adalah ayahku, atau paling tidak dia adalah versi hancur dari ayahku. Seingatku, ayah selalu terlihat kuat, dan bekerja keras. Introspeksi dan imaginasi merupakan hal yang asing baginya, tapi dia mempunyai aturan moralnya sendiri dan tujuan hidup yang jelas. Lelaki yang kini ada di hadapanku tidak lebih dari sepotong cangkang kepiting yang sudah kosong.

“ Tuan Kawana! ” teriak sang perawat. “ Tuan Kawana! Lihat siapa yang datang! Dia putramu yang datang dari Tokyo! ”

Ayah berbalik memandangku. Matanya yang tidak menunjukkan ekspresi sama sekali membuat aku teringat dengan dua sarang burung kosong yang menggantung di cabang pohon.

“ Hallo, ” sahutku.

Ayah tidak menjawab. Dia malah melihat lurus kepadaku seolah dia sedang membaca majalah yang ditulis dalam bahasa asing.

“ Makan malam akan dihidangkan jam setengah tujuh,” kata sang perawat kepadaku. “ Silahkan mengobrol dengan pasien sampai jam segitu. ”

Aku sedikit ragu – ragu ketika perawat telah meninggalkan ruangan. Pelan – pelan aku memberanikan diri untuk mendekati ayah, aku duduk di kursi di depannya. Mata ayah mengikuti semua gerakanku.

“ Bagaimana keadaan ayah? ” tanyaku.

“ Saya baik-baik saja, ” jawabnya dengan nada resmi.

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku memainkan kancing ketiga di kemejaku sambil mengalihkan perhatian pada pohon – pohon pinus di luar, lalu aku kembali memandangnya.

“ Kau datang dari Tokyo, ya? ” tanya ayah.

“ Ya, dari Tokyo. ”

“ Dengan kereta ekspress? ”

“ Ya, ” jawabku. “ Hanya sampai Tateyama. Setelah itu aku pindah ke kereta lokal sampai ke Chikura. ”

“ Kau datang untuk berenang di sini? ”

“ Aku Tengo, Tengo Kawana. Putramu! ”

Kerutan di wajah ayah mulai menebal. “ Banyak orang berbohong karena mereka tidak mau membayar biaya langganan di NHK. ”

“ Ayah! ” teriakku padanya. Sudah sangat lama aku tidak menyebut kata itu. “ Aku Tengo. Putramu. ”

“ Aku tidak punya anak, ” sahut ayah dengan gamblang.

“ Ayah tidak punya anak, ” ulangku.

Ayah hanya membalas dengan anggukan kepala kecil.

“ Jadi, siapa aku? ” tanyaku.

“ Kau bukan siapa – siapa, ” jawab ayah dengan gelengan kepala.

Aku menghembuskan napas dalam – dalam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Ayah juga tidak melanjutkan perkataannya. Kami duduk dengan diam, mencari – cari kata di dalam pikiran yang kusut. Hanya para jangkrik yang dapat bersuara dan bernyanyi dengan kencang.

Mungkin saja dia ingin mengatakan yang sebenarnya, pikirku. Ingatannya mungkin memang telah hancur, namun perkataannya mungkin saja benar.

“ Apa maksud ayah? ” tanyaku.

“ Kau bukan siapa – siapa, ” ulangnya tanpa menunjukkan perasaan apapun. “ Kau tidak pernah menjadi siapapun, dan tidak akan pernah menjadi siapapun. ”

Aku ingin segera bangkit dari kursi, pergi ke stasiun, dan segera kembali ke Tokyo sekarang juga. Tapi aku tidak dapat berdiri. Aku seperti pemuda yang berjalan seorang diri ke kota kucing. Penasaran dan ingin sebuah penjelasan. Tentu saja aku tahu ada bahaya di depanku. Tapi jika aku melepaskan kesempatan ini, maka aku tidak akan pernah tahu rahasia tentang diriku. Aku mulai menjalin kata – kata di kepala. Ini adalah pertanyaan yang dari dulu hendak aku tanyakan padanya, “ Maksud ayah, kau bukanlah ayahku? Dan tidak ada ikatan darah diantara kita, benar begitu? ”

“ Mencuri gelombang radio adalah sebuah kejahatan dan dapat dijerat dengan hukum,” jawab ayah dengan mata tertuju lurus pada mataku. “ Karena tidak ada bedanya dengan mencuri uang atau barang berharga lainnya. ”

“ Mungkin iya, ” aku memutuskan untuk mengikuti pembicaraannya.

“ Gelombang radio tidak jatuh dari langit dengan cuma – cuma seperti hujan atau salju, ” lanjutnya.

Aku menatap tangan ayah. Tangannya yang kecil dan sedikit gelap karena banyak bekerja di luar, berbaris dengan rapi di atas lututnya.

“ Ibu tidak meninggal karena sakit saat aku masih kecil, iya kan ? ” tanyaku dengan perlahan.

Ayah tidak menjawab. Ekspresi wajahnya juga tidak berubah, dan tangannya tidak bergerak sama sekali. Matanya masih berfokus padaku seolah sedang melihat sesuatu yang aneh.

“ Ibu meninggalkanku. Dia pergi dan meninggalkan kita berdua. Dia pergi bersama pria lain. Benar kan? ”

Ayah mengangguk. “ Mencuri gelombang radio adalah perbuatan yang tercela. Kau tidak boleh melakukan hal sesuka hatimu. ”

Dia memahami pertanyaanku dengan jelas. Hanya saja dia tidak mau menjawabnya secara langsung, pikirku.

“ Ayah, ” ujarku. “ Ayah mungkin bukanlah orang tua kandungku, tapi aku akan tetap memanggilmu ayah sementara ini karena aku tidak tahu lagi dengan apa aku harus memanggilmu selain dengan kata ayah. Jujur saja, aku tidak pernah menyukai ayah. Mungkin sepanjang hidupku aku telah membenci ayah. Ayah pasti telah mengetahui ini. Dan walaupun mungkin tidak ada ikatan darah di antara kita, aku tidak lagi punya alasan untuk membenci ayah. Mungkin aku tidak akan pernah menyukai ayah, tapi setidaknya aku ingin dapat lebih memahami ayah sekarang. Aku selalu ingin tahu kebenaran tentang siapa aku dan siapa orang tuaku yang sebenarnya. Hanya itu saja. Jika ayah ingin mengatakannya sekarang, aku akan berhenti membenci ayah. Malah, aku akan senang, karena aku tidak akan lagi mempunyai alasan untuk membenci ayah. ”

Dia masih menatapku dengan tatapan kosong, tapi entah bagaimana, aku merasa melihat ada cahaya kecil yang berkilau jauh di dalam matanya yang tampak seperti sarang burung kosong.

“ Aku memang bukan siapa – siapa, ” lanjutku. “ Ayah benar tentang itu. Aku bagaikan seseorang yang dibuang ke lautan pada malam hari, dan mengambang sendirian. Aku mencoba memanggil seseorang, namun tidak ada siapapun yang menyahut. Aku tidak punya hubungan dengan apapun. Satu – satunya orang yang dapat kuanggap sebagai keluarga, adalah ayah. Tapi ayah lebih memilih untuk menyembunyikan sebuah rahasia dariku. Sementara itu ingatan ayah semakin memburuk, dan sedikit demi sedikit ingatan tentang diriku juga ikut terhapus. Aku bukanlah siapa – siapa, dan tidak akan pernah menjadi siapapun. Ayah juga benar tentang itu.”

“ Pengetahuan adalah harta yang paling berharga, ” jawab ayah dengan nada datar, namun suaranya terdengar lebih pelan daripada sebelumnya, seolah seseorang telah menurunkan volume suaranya. “ Pengetahuan adalah harta yang harus diraih sebanyak – banyaknya, dan digunakan dengan sangat hati – hati. Dan karena alasan itu pulalah NHK membutuhkan biaya langganan dari anda dan — “

Aku dengan cepat menginterupsinya. “ Orang seperti apa ibu? Kemana dia pergi? Apa yang terjadi dengannya? ”

Ayah segera bungkam, dan bibirnya tertutup rapat.

Aku lanjut bertanya dengan nada yang lebih halus, “ Ada sebuah ingatan yang selalu terlintas di benakku. Kurasa itu adalah ingatan tentang apa yang terjadi sebenarnya. Saat itu aku masih berumur satu setengah tahun, dan ibu berdiri di sampingku. Dia dan seorang pemuda sedang berpelukan. Lelaki tersebut bukan ayah. Aku tidak tahu siapa dia, tapi jelas dia bukan ayah. ”

Ayah tetap bungkam, namun matanya jelas sedang melihat sesuatu — sesuatu yang tidak ada di ruangan ini.

“ Bisakah kau membacakan sesuatu untuk ayah?, ” tanyanya dengan nada resmi setelah diam agak lama. “ Mata ayah telah sangat memburuk sampai – sampai ayah tidak lagi dapat membaca. Ada buku di dalam rak di sana. Pilih yang mana saja. ”

Aku berdiri dan melihat – lihat buku yang ada di sana. Kebanyakan buku – buku di sana adalah novel, dan buku sejarah yang berlatar belakang zaman ketika masih ada para samurai. Aku tidak ingin membacakan buku dengan bahasa kuno kepada ayah saat ini.

“ Jika ayah mau, aku akan membacakan cerita tentang kota kucing, ” ujarku. “ Aku membawa bukunya. ”

“ Cerita tentang kota kucing, ” ulang ayah. “ Tolong bacakan itu untuk ayah, jika kau tidak keberatan. ”

Aku melihat jam tangan. “ Tidak sama sekali. Masih ada banyak waktu sebelum keretaku berangkat. Ini adalah kisah yang aneh. Aku tidak tahu apa ayah akan menyukainya atau tidak. ”

Aku mengeluarkan bukuku dan mulai membaca dengan pelan. Suaraku terdengar jelas. Aku memandang wajah ayah di sela-sela jeda membaca, namun wajahnya tidak menunjukkan reaksi apapun. Aku tidak tahu apakah dia menyukai cerita ini atau tidak.

“ Apakah ada TV di kota kucing ? ” tanya ayah ketika aku selesai membaca.

“ Cerita ini ditulis di Jerman sekitar tahun 1930-an. Mereka belum menciptakan TV saat itu. Tapi mereka punya radio. ”

“ Apakah para kucing yang membangun kota tersebut? Atau apakah manusia yang membangunnya sebelum para kucing datang dan tinggal di sana? ” tanya ayah, seolah sedang bertanya pada dirinya sendiri.

“ Entahlah, ” jawabku. “ Tapi sepertinya dibangun oleh manusia. Mungkin entah karena apa manusia meninggalkan kota tersebut — mungkin mereka semua mati karena wabah atau sejenisnya — kemudian para kucing datang dan tinggal di sana. ”

Ayah mengangguk – anggukkan kepala. “ Ketika kehampaan tercipta, harus ada sesuatu yang mengisinya. Itulah yang dilakukan semua orang. ”

“ Benarkah? ”

“Ya. ”

“ Kalau begitu, kehampaan apa yang ayah isi? ”

Ayah terlihat kesal. Kemudian dia berkata dengan nada sarkasme, “Oh, kau tidak tahu?”

“ Aku tidak tahu, ” jawabku.

Ayah menghembuskan napas dengan keras. Satu alisnya sedikit terangkat. “ Jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan. ”

Aku menyipitkan mata, mencoba membaca ekspresi ayah. Ayah tidak pernah sama sekali berkata dengan nada dan bahasa seaneh ini. Dia selalu berbicara secara konkrit dan praktis.

“ Oh, aku mengerti. Ayah mengisi sebuah kehampaan, ” ujarku. “ Baiklah, kalau begitu, siapa yang akan mengisi kehampaan yang ayah tinggalkan? ”

“ Kau, ” kata ayah. Jari telunjuknya menunjuk lurus ke arahku. “ Bukankah itu sudah jelas? Aku telah mengisi kehampaan yang ditinggalkan seseorang, jadi kau akan mengisi kehampaan yang kubuat. ”

“ Seperti ketika para kucing mengisi kota setelah ditinggalkan manusia. ”

“ Benar, ” sahut ayah. Kemudian dia menatap jari telunjuknya sendiri yang menunjuk padaku dengan tatapan kosong seolah melihat benda misterius.

Aku menghela napas. “ Jadi, siapa ayahku yang sebenarnya? ”

“ Hanya ruang hampa. Ibumu menyatukan tubuhnya dengan sebuah kehampaan dan melahirkan dirimu. Dan aku mengisi kehampaan itu. ”

Setelah berkata sebanyak itu, ayah menutup mata dan mulutnya rapat-rapat.

“ Dan ayah membesarkanku setelah ibu pergi. Apa itu maksud ayah? ”

Setelah berdeham – deham yang tampak disengaja, ayah lanjut berkata, seolah mencoba menjelaskan sesuatu yang sederhana pada anak yang berpikir lambat, “ Karena itulah kukatakan tadi, jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan.”

Aku menaruh tangan di atas lutut dan menatap lurus wajahnya. Dia bukan cangkang yang kosong, pikirku. Dia manusia utuh dengan daging dan darah, dan jiwa yang keras. Dia terpaksa harus hidup dengan kehampaan yang perlahan membesar di dalam dirinya. Pada akhirnya nanti, kehampaan tersebut akan menghisap semua ingatan yang tersisa dalam dirinya. Hanya soal waktu saja sampai hal itu terjadi.

Aku berpamitan dengan ayah tepat sebelum jam enam sore. Sambil menunggu taxi, kami duduk berseberangan di dekat jendela tanpa berkata apa – apa. Masih banyak yang ingin aku tanyakan, tapi aku sadar bahwa aku tidak akan mendapatkan jawaban apapun karena aku melihat bibir ayah telah tertutup rapat. Seperti yang telah dikatakannya, tadi, “ Jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan. ”

Ketika hampir tiba waktunya untuk berangkat, aku berkata, “ Banyak yang ayah katakan padaku hari ini. Semuanya dikatakan secara tidak langsung dan kadang sulit untuk dimengerti, tapi mungkin ayah mengatakan dengan sejujur – jujurnya. Terima kasih. ”

Ayah masih saja bungkam, matanya terpaku melihat pemandangan luas, seperti seorang prajurit yang sedang berjaga dan tidak ingin melewatkan sinyal api yang dikirimkan oleh suku liar di kejauhan. Aku mencoba melihat ke arah yang sedang dilihat ayah, tapi di sana hanya ada deretan pohon pinus yang dibayangi oleh cahaya matahari yang mulai terbenam.

“ Maaf karena telah berkata seperti itu, tapi memang tidak ada yang dapat aku lakukan untuk ayah selain berharap proses penghampaan di dalam diri ayah tidak menyakitkan. Aku yakin ayah telah banyak menderita. Ayah juga pasti sangat mencintai ibu. Tapi dia sudah pergi, dan kepergiannya pasti menyakitkan bagi ayah —seperti hidup di kota kosong. Namun ayah tetap membesarkanku di kota kosong itu. ”

Sekumpulan burung gagak terbang melintasi cakrawala, dan menggaok – gaok di kejauhan. Aku pun berdiri, berjalan mendekati ayah, dan menaruh kedua tanganku di pundak ayah. “ Selamat tinggal, ayah. Nanti aku akan datang lagi. ”

Dengan tangan berada di gagang pintu, aku berbalik untuk terakhir kalinya dan terkejut mendapati ada air mata di kedua pipi ayah. Air matanya bersinar dengan warna keperakan. Air mata itu perlahan membasahi pipinya dan jatuh ke pangkuannya. Aku membuka pintu dan meninggalkan kamar ayah. Aku naik taksi menuju stasiun dan menumpangi kereta untuk kembali ke dunia asalku.

Sumber: http://cerpenterjemahan.wordpress.com

Dia yang Sempurna, Haruki Murakami

Haruki Murakami diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin

Suatu pagi yang cerah di bulan April, di pinggiran jalan sempit di Harajuku, sebuah area perbelanjaan di Tokyo, aku berjalan melewati seorang gadis yang 100% sempurna.

Sejujurnya, dia tidak terlalu cantik. Dia juga tidak terlalu menyolok. Pakaian yang dikenakannya tidak terlalu spesial. Dan rambutnya masih menyisakan jejak ranjang seolah tak disisir merata. Dia juga tidak terlalu muda—kuperkirakan usianya sekitar 30 tahun, dan sebenarnya tidak cocok dipanggil dengan kata ‘gadis’. Meski begitu, aku tahu saat melihatnya dari kejauhan 0.05 kilometer: bahwa dia adalah gadis yang 100% sempurna untukku. Begitu aku melihatnya, ada gemuruh yang timbul di dadaku, lalu mulutku mendadak kering seperti padang pasir.

Mungkin Anda punya tipe gadis favorit—dan dia mungkin memiliki pergelangan kaki yang ramping, atau sepasang mata yang besar, atau jemari yang lentik, atau Anda menyukai seorang gadis yang selalu menghabiskan waktu lama sekali untuk bersantap, entah kenapa. Aku juga punya tipeku sendiri. Sesekali, saat aku ada di sebuah restoran, aku sering curi-curi pandang ke arah gadis yang duduk di meja sebelahku hanya gara-gara aku menyukai bentuk hidungnya.

Namun bagi seorang laki-laki yang hatinya telah kepincut, maka gadis yang 100% sempurna itu takkan ada tandingannya. Walau aku suka memperhatikan bentuk hidung orang, namun aku tidak ingat bentuk hidung gadis yang sempurna itu—atau apakah dia punya hidung sama sekali. Yang kuingat dengan pasti adalah gadis itu bukan gadis tercantik sedunia. Aneh, kan?

“Kemarin, di jalan, aku melewati seorang gadis yang 100% sempurna,” ujarku pada seseorang.

“Masa?” sahut orang itu. “Cantik?”

“Tidak juga.”

“Kalau gitu dia tipe kesukaanmu?”

“Entahlah. Aku bahkan tidak ingat terlalu banyak hal tentang dia—seperti bentuk matanya atau ukuran dadanya.”

“Aneh.”

“Aneh sekali.”

“Lantas,” tutur lawan bicaraku yang mulai bosan. “Apa yang kau lakukan? Menyapanya? Atau membuntutinya?”

“Tidak. Aku hanya numpang lewat di hadapannya.”

Gadis itu berjalan dari arah timur ke barat, sedangkan aku dari barat ke timur. Sungguh pagi yang cerah di bulan April.

Seandainya saja aku bisa menyapa dia. Aku hanya butuh setengah jam: untuk bertanya tentang siapa dia, lalu aku kan memberitahukan siapa aku, dan—yang sangat ingin kulakukan—menjelaskan kepadanya tentang betapa rumitnya cara kerja takdir untuk mempertemukan aku dan dia di pinggiran jalan di area Harajuku di sebuah pagi yang cerah di bulan April tahun 1981. Kejadian ini tentunya melibatkan banyak rahasia yang tidak kita ketahui; seperti jam antik yang dibuat saat perang dunia usai.

Setelah mengajaknya bicara, kami akan pergi makan siang bersama, lalu menonton film besutan Woody Allen di bioskop, dan dilanjutkan dengan acara minum-minum di bar hotel. Bila keberuntungan ada di pihakku, kami akan mengakhiri kebersamaan ini di atas ranjang.

Kemungkinan-kemungkinan yang belum terjamah itu mengetuk pintu hatiku.

Sekarang jarak di antara kami menyempit jadi 0.013 kilometer.

Bagaimana sebaiknya aku mendekati dia? Apa yang harus kukatakan?

“Selamat pagi, nona. Maukah kau menyisihkan waktu selama setengah jam untuk berbincang?”

Konyol. Aku terdengar seperti salesman asuransi.

“Permisi, apakah kau tahu tempat cuci baju yang buka sepanjang malam di sekitar sini?”

Tidak, sama saja konyolnya. Aku juga tidak bawa baju kotor. Siapa yang akan percaya?

Mungkin aku harus jujur. “Selamat pagi. Kau adalah gadis yang 100% sempurna untukku.”

Tidak, dia takkan percaya. Atau bila dia percaya, dia mungkin takkan mau berbincang denganku. Maaf, dia akan berkata padaku, aku mungkin gadis yang 100% sempurna untukmu, tapi kau bukan pemuda yang 100% sempurna untukku. Bisa saja kan? Dan jika aku berada dalam situasi itu, hatiku pasti hancur. Aku takkan pernah bisa mengatasinya. Usiaku 32 tahun—dan di usia sepertiku seharusnya aku bisa menerima penolakan dengan dada lapang.

Kami melewati sebuah toko bunga. Udara pagi berembus ringan dan membelai kulitku dengan kehangatan. Lapisan aspal di bawah kakiku tampak lembap dan aku mencium sekelebat wangi bunga. Aku tidak berani menyapa gadis itu. Ia mengenakan sebuah sweater berwarna putih dan di tangan kanannya ada secarik amplop putih yang hanya butuh perangko saja untuk diposkan. Jadi: gadis itu sudah menulis surat untuk seseorang, mungkin menghabiskan waktu semalaman menulisnya, apalagi melihat matanya yang berat karena kantuk. Di dalam amplop itu mungkin saja terselip seluruh rahasia hidupnya.

Aku mengambil beberapa langkah ke depan, lalu membalikkan badan: gadis itu menghilang di tengah keramaian.

*

Sekarang aku baru tahu bagaimana seharusnya aku menyapa gadis itu. Tentunya aku harus memberikan pidato panjang; terlalu panjang untuk kusampaikan dengan baik. Semua ide yang ada di kepalaku memang tidak ada yang praktis.

Oh well. Tadinya aku akan memulai pidato itu dengan kalimat “Pada suatu hari” dan diakhiri dengan “Cerita yang sedih, bukan?”

*

Pada suatu hari, hiduplah seorang pemuda dan seorang gadis. Usia pemuda itu delapan belas tahun; dan gadis itu enam belas tahun. Pemuda itu tidak terlalu tampan, dan gadis itu tidak terlalu cantik. Mereka adalah muda-mudi yang seperti pada umumnya cenderung kesepian. Namun mereka percaya sepenuh hati bahwa di dunia ini ada pasangan hidup yang 100% sempurna untuk mereka. Ya, mereka percaya pada mukjizat. Dan bahwa mukjizat bukanlah hal yang mustahil.

Suatu hari, si pemuda dan gadis itu tak sengaja berjumpa di ujung jalan.

“Luar biasa,” ujar si pemuda. “Aku sudah mencarimu seumur hidupku. Kau mungkin tidak mempercayai ini, tapi kau adalah gadis yang 100% sempurna untukku.”

“Dan kau,” balas gadis itu. “Kau adalah pemuda yang 100% sempurna untukku, persis seperti pemuda yang kubayangkan selama ini. Seperti mimpi rasanya.”

Mereka duduk di atas kursi taman, berpegangan tangan, dan menceritakan kisah hidup mereka masing-masing selama berjam-jam. Mereka tidak lagi kesepian. Mereka telah menemukan dan ditemukan oleh pasangan masing-masing yang 100% sempurna untuk mereka. Betapa indahnya menemukan dan ditemukan oleh pasangan yang 100% sempurna untuk kita. Sebuah mukjizat, sebuah pertanda.

Namun, saat mereka duduk dan berbincang, masih ada sedikit rasa ragu yang menggantung di dada: apa mungkin impian seseorang terkabul begitu saja dengan mudahnya?

Maka, ketika keduanya terdiam, si pemuda mengambil kesempatan untuk berkata kepada gadis itu: “Mari kita uji diri kita—sekali ini saja. Jika kita memang pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain, maka di suatu saat, di suatu hari, kita pasti berjumpa lagi. Dan ketika itu terjadi, dan kita tahu bahwa kita adalah pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain, maka kita akan menikah saat itu juga. Bagaimana?”

“Ya,” kata si gadis. “Itu yang harus kita lakukan.”

Kemudian mereka berpisah. Si gadis melangkah ke arah timur, sementara si pemuda ke arah barat.

Meski begitu, proses uji itu sebenarnya tidak perlu mereka lakukan, karena mereka memang benar pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain—dan pertemuan awal mereka adalah sebuah mukjizat. Tapi mereka tak mungkin mengetahui semua ini di usia belia. Gelombang takdir yang dingin dan tak pandang bulu terus membuat mereka terombang-ambing tanpa akhir.

Pada suatu musim dingin, si pemuda dan si gadis menderita sakit flu yang terjangkit di mana-mana. Setelah dua minggu terkapar tanpa daya, mereka pun lupa terhadap tahun-tahun remaja mereka. Ketika mereka tersadar, ingatan mereka sama kosongnya seperti celengan baru.

Keduanya adalah individu yang cerdas dan ambisius; dan dengan usaha keras mereka berhasil membangun hidup mereka hingga menjadi sosok terpandang di masyarakat. Syukurlah, mereka juga menjadi warga yang taat peraturan dan tahu caranya naik kereta bawah tanah tanpa tersesat; yang sanggup mengirimkan surat dengan status kilat di kantor pos. Dan mereka juga sanggup jatuh cinta, terkadang cinta itu mengisi hati mereka sampai 75% atau bahkan 80%.

Waktu berlalu dengan kecepatan tak terduga; mendadak si pemuda telah berusia 32 tahun dan si gadis 30 tahun.

Di suatu pagi yang cerah di bulan April, dalam perjalanan untuk membeli secangkir kopi, si pemuda melangkah dari arah barat ke timur, sementara si gadis, dalam perjalanan ke kantor pos, melangkah dari arah timur ke barat. Keduanya menelusuri pinggiran jalan yang memanjang di sebuah area pusat perbelanjaan di Tokyo yang bernama Harajuku. Mereka saling melewati satu sama lain tepat di tengah jalan. Ingatan mereka kembali samar-samar dan untuk sesaat hati mereka bergetar. Masing-masing merasakan gemuruh yang mendesak dada. Dan mereka tahu:

Dia adalah gadis yang 100% sempurna untukku.

Dia adalah pemuda yang 100% sempurna untukku.

Namun, sayang, gema ingatan mereka terlalu lemah; dan pikiran mereka tak lagi jernih seperti empat belas tahun lalu saat pertama kali berjumpa. Tanpa mengutarakan sepatah kata pun, mereka melewati satu sama lain begitu saja, hilang di tengah keramaian. Selamanya.

Cerita yang sedih, bukan?

*

Ya, itu dia. Seharusnya itu yang kukatakan padanya. FL

2013 © Hak Cipta. Fiksi Lotus dan Haruki Murakami. Tidak untuk dijual, digandakan ataupun ditukar.

—————-

# CATATAN:

> Cerpen ini berjudul On Seeing the 100% Perfect Girl One Beautiful April Morning karya HARUKI MURAKAMI dan disertakan dalam koleksi cerita pendek berjudul The Elephant Vanishes (Random House, 1993).

>> HARUKI MURAKAMI adalah seorang penulis dan penerjemah asal Jepang yang telah menerbitkan sejumlah novel, koleksi cerita pendek dan esai. Beberapa karyanya yang telah mendunia, termasuk di antaranya: Kafka on the Shore, The Wind-Up Bird Chronicle, Norwegian Wood, dan—yang terakhir—IQ84. Karya non-fiksi yang ia terbitkan termasuk di antaranya: Underground: The Tokyo Gas Attack and the Japanese Psyche dan What I Talk About When I Talk About Running.