Tag Archives: cerpen terbaik

Haruki Murakami: Burung Nejimaki dan Wanita-wanita Hari Selasa

cerpen haruki murakami

Aku sedang di dapur memasak spaghetti saat wanita itu menelepon. Beberapa saat sebelum spaghetti matang; di sanalah aku, menyiulkan awalan dari La Gazza Ladra-nya Rossini yang sedang diputar radio FM. Sungguh sempurna memasak spaghetti diiringi musik yang pas.

Aku mendengar dering telepon tapi membatin, Acuhkan saja. Biarkan spaghetti matang dulu. Hampir beres, dan di samping itu, Claudio Abbado bersama London Symphony Orchestra akan memasuki crescendo. Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan untuk mengecilkan api dan pergi menuju ruang tengah, dengan sumpit yang dipakai menggoreng masih di tangan, mengangkat gagang telepon. Mungkin telepon dari teman, terpikir olehku, mengabarkan kalau ada tawaran kerja.

“Aku minta sepuluh menit,” ujug-ujug terdengar suara seorang wanita.

“Maaf?” aku berseru balik tanpa berpikir, “Dengan siapa ya?”

“Sepuluh menit saja, hanya ini yang kuminta,” ulang si wanita.

Aku benar-benar tak punya ingatan pernah mendengar suara wanita ini sebelumnya. Dan aku sangat yakin dengan kemampuan pendengaranku, jadi tak akan salah. Ini suara wanita yang tidak kukenal. Suara lembut, rendah, yang tak mencolok.

“Maaf, bisa tahu dengan siapa ini?” Aku mematut-matut sesopan mungkin.

“Tak penting. Yang kumau cuma sepuluh menit saja. Sepuluh menit agar kita saling memahami satu sama lain.” Dia menyampaikan dengan cepat namun teratur.

“Saling memahami satu sama lain?”

“Tentang perasaan kita,” ringkasnya.

Aku menengok ke belakang melhat pintu terbuka menuju dapur. Kepulan asap putih keluar dari panci spaghetti, dan Abbado masih menggiringkan Gazza-nya.

“Jika kau tak keberatan, aku sedang masak spaghetti saat ini. Sudah hampir matang, dan bakal kacau kalau aku bicara untuk sepuluh menit. Jadi gimana kalau telepon lagi nanti?”

“Spaghetti?” dia menggerutu tak percaya. “Ini masih setengah sepuluh pagi. Apa yang kau lakukan dengan masak spaghetti pukul setengah sepuluh pagi? Aneh, kan?”

“Aneh atau tidak, bukan urusanmu kan?” tegasku. “Aku belum sarapan, jadi aku lapar saat ini. Dan selama aku yang memasaknya, kapan dan apa yang aku makan itu urusanku, iya kan?”

“Baik, terserah kau. Sudahi dulu berarti,” ucap wanita itu dengan suara culas. Suara yang garib. Sedikit saja tercipta pergeseran emosi dan nada suaranya berubah. “Aku akan telepon lagi nanti.”

“Tunggu sebentar,” aku tergagap-gagap. “Jika kau hendak jualan, lupakan saja soal menelepon kembali. Aku pengangguran sekarang dan nggak mampu beli apapun.”

“Aku sudah tahu itu, jangan dipikirkan.” ucap wanita itu.

“Kamu sudah tahu? Tahu apaan?”

“Kalau kau pengangguran, tentu. Aku sudah tahu. Jadi teruskan masak spaghetti-mu dan jangan pikirkan itu, oke?”

“Hey, siapa-” aku meluncurkan pertanyaan, namun sambungan putus tiba-tiba. Memotong sambunganku. Untuk bisa memutus secepat itu; dia pasti langsung menekan tombol dengan jarinya.

Aku ditinggal menggantung. Dalam diam aku menatap gagang telepon yang masih dalam genggaman tanganku dan sejurus kemudian teringat akan spaghetti. Aku meletakan gagang telepon dan balik ke dapur. Mematikan kompor, meniriskan spaghetti ke saringan, melumerinya dengan saus tomat. Aku memanaskannya dalam panci, kemudian memakannya. Ini terlalu matang, semua berkat panggilan telepon tak berarti tadi. Bagaimanapun susahnya, atau karena aku sedang tidak dalam suasana hati untuk meributkan perkara memasak spaghetti – aku terlalu lapar. Aku hanya mendengar radio yang sedang mengudara memainkan musik untuk dua ratus gram spaghetti yang aku kunyah dengan lahap tiap helainya menuju ke dalam perut.

Aku mencuci piring dan penggorengan sementara memanaskan secerek air, lalu menuangkannya untuk secangkir kantong teh. Saat menyesap tehku, aku memikirkan panggilan telepon tadi.

Agar kita bisa saling memahami satu sama lain?

Apa yang dimaksud wanita itu, dengan meneleponku seperti itu? Dan siapa pula dia?

Semuanya masih misteri. Aku tak bisa mengingat wanita manapun yang pernah meneleponku tanpa memberi nama terlebih dahulu, atau aku tak punya petunjuk soal apa yang ingin dia bicarakan.

Bodo amat, aku membatin, kenapa aku harus peduli soal saling memahami perasaaan dengan seorang wanita aneh? Hal baik apa yang bakal terjadi? Yang paling penting sekarang adalah aku bisa dapat pekerjaan. Kemudian aku bisa membentuk siklus hidup yang baru.

Meski aku telah kembali ke sofa untuk melanjutkan membaca novel Len Deighton yang aku pinjam dari perpustakaan, pandangan sekilas dari sudut mataku ke telepon membuat kembali memikirkannya. Apa sih perasaan yang perlu dipahami dalam sepuluh menit itu? Maksudku, sungguh, sepuluh menit untuk saling memahami perasaan satu sama lain?

Pikirkan, wanita itu dengan spesifik meminta waktu sepuluh menit sedari awal. Terlihat kalau dia sangat yakin dengan waktu yang dibutuhkan. Seakan-akan sembilan menit itu terlalu singkat, sedangkan sebelas menit terlalu lama. Seperti ketika membuat spaghetti yang matang dengan pas harus dilakukan dalam waktu tertentu secara tepat.

Pikiran ini berkecamuk di kepalaku, aku kehilangan fokus pada alur novel yang kubaca. Jadi aku memutuskan untuk melakukan beberapa aktivitas ringan, mungkin menyetrika satu atau dua baju. Ketika sedang kisruh, aku selalu menyetrika baju. Kebiasaan yang sudah mendarah daging.

Aku membagi proses menyetrika baju menjadi dua belas langkah: dari (1) kerah <bagian luar>, sampai (12) pergelangan tangan <sebelah kiri>. Urutannya tak pernah berubah. Satu demi satu, aku menghitung tiap langkah. Penyetrikaan tak akan benar kalau aku tak melakukan ini.

Jadi di sinilah aku, menyetrika baju ketiga, menikmati desisan uap setrika dan harum khas kain yang panas, memeriksa apakah ada kerutan sebelum menggantung tiap baju di lemari. Aku mematikan setrika dan menyimpannya di kabinet beserta papan setrikanya.

Aku merasa haus dan bergerak menuju dapur untuk mengambil air yang bersamaan dengan ini telepon berdering. Dia lagi, pikirku. Dan untuk beberapa saat aku berpikir apakah aku harus mengacuhkannya dan tetap menuju dapur. Tapi aku tak pernah tahu, aku berbalik ke ruang tengah dan mengangkat telepon. Jika ini si wanita itu lagi, aku akan berkata kalau aku sedang menyetrika dan segera kututup telepon ini.

Yang menelepon, bagaimanapun, adalah istriku. Melihat jam di atas TV, sudah pukul setengah duabelas.

“Bagaimana kabarmu?” tanyanya.

“Baik,” jawabku, merasa lega.

“Apa yang sedang kau kerjakan?”

“Menyetrika.”

“Ada masalah?” tanya istriku. Ada nada tegang dalam suaranya. Dia tahu kalau aku menyetrika pasti ada sesuatu yang tak beres.

“Enggak ada. Aku hanya pengen nyetrika saja. Nggak ada alasan apapun,” jawabku, memindahkan gagang telepon dari tangan kanan ke tangan kiri dan duduk di kursi. “Jadi, ada yang ingin kau sampaikan untukku?”

“Ya, ini soal pekerjaan. Ada kesempatan kerja nih.”

“Ya, ya.” timpalku.

“Kau bisa nulis puisi?”

“Puisi?” aku membalas dengan terkejut. Ada apa dengan puisi?

“Redaksi majalah tempat kenalanku bekerja membuat rubrik fiksi populer bulanan untuk cewek-cewek remaja dan mereka sedang mencari seseorang untuk dipilih membikin puisi. Mereka ingin ada puisi untuk tiap bulannya sebagai permulaan. Kerjaannya gampang dan gaji nggak terlalu buruk lah. Tentu ini hanya kerja sambilan, tapi ada kemungkinan mereka akan mengikatmu untuk urusan redaksional dan-”

“Gampang?” tukasku. “Tunggu sebentar. Aku mencari posisi di bidang hukum. Apa yang membuatmu membawa-bawa puisi segala?”

“Oke, bukankah kau bilang kau sering menulis saat masih SMA?”

“Untuk koran memang. Koran sekolah. Tim ini memenangkan pertandingan sepakbola; guru olahraga jatuh dari tangga dan harus dibawa ke rumah sakit. Hanya artikel bodoh seperti itu yang kutulis. Bukan puisi. Aku nggak bisa bikin puisi.”

“Bukan puisi betulan, semacam puisi buat cewek-cewek SMA baca. Nggak perlu bagus-bagus amat. Mereka nggak terlalu peduli apakah kau bisa menulis kayak Allen Ginsberg. Tulis saja yang kau bisa.”

“Aku juga nggak bisa bikin puisi macam begitu.” gertakku.

“Hmm,” cibir istriku. “Ini pekerjaan halal, bagaimanapun. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan, kan?”

“Beberapa kesempatan kerja sedang menantiku. Keputusan akhirnya akan muncul beberapa minggu lagi. Jika itu gagal, maka aku akan memikirkan soal ini.”

“Oh? Terserah kau berarti. Coba katakan, hari apa sekarang?”

“Selasa,” aku berpikir sepersekian detik.

“Oke, jadi, bisakah kau pergi ke bank untuk membayar tagihan gas dan telepon?”

“Tentu. Aku kebetulan mau pergi belanja untuk makan malam nanti. Akan aku urus.”

“Dan apa makan malam kita?”

“Hmm, kupikir dulu,” ucapku. “Belum kepikiran. Aku rasa aku akan putuskan saat belanja nanti.”

“Kau tahu,” istriku berkata dengan nada suara baru. “Aku telah memikirkan ini. Mungkin kau nggak perlu buru-buru mencari kerja lagi.”

“Kenapa emangnya?” keluhku. Kejutan lain? Apakah tiap wanita di dunia ini mencoba membuatku senewen lewat telepon? “Kenapa aku nggak boleh mencari pekerjaan? Tiga bulan lagi kompensasi pemberhentian pekerjaanku akan ludes. Nggak ada waktu buat malas-malasan.”

“Gajiku naik, dan kerja sambilanku berjalan baik, tanpa menyebut kalau kita punya tabungan berlebih. Jadi jika kita nggak terlalu menginginkan barang mewah, kita bisa tetap makan.”

“Dan aku yang mengerjakan pekerjaan rumah?”

“Ada yang salah?”

“Aku nggak tahu,” ucapku jujur. Aku benar-benar tak tahu. “Aku harus memikirkan soal ini.”

“Coba pikir ulang saja,” yakin istriku. “Oh, ngomong-ngomong, apakah si kucing sudah balik?”

“Kucing?” Aku tertangkap basah, lalu aku sadar aku lupa sepenuhnya soal kucing sejak pagi tadi. “Nggak, belum kelihatan.”

“Bisakah kau mencari lebih jauh di sekitar perumahan? Dia sudah hilang empat hari loh.”

Aku membalas, mengalihkan gagang telepon kembali ke tangan kananku.

“Dugaanku kucing itu ada di halaman rumah kosong di ujung gang. Halaman yang ada patung kecil burung dari batu. Aku sering melihatnya di sana. Kau tahu yang kumaksud?”

“Nggak, aku enggak pernah lihat,” ucapku. “Dan sejak kapan kau keluyuran di sekitar gang itu? Belum pernah kau bilang-”

“Maaf nih, mesti udahan. Harus kerja lagi. Jangan lupa soal kucingnya, ya.”

Dan sambungan telepon terputus.

Aku masih duduk sambil menatap gagang telepon layaknya orang dungu sebelum menaruh kembali di tempatnya.

Kenapa istriku bisa tahu banyak soal gang itu? Aku tak habis pikir. Dia harus memanjat tembok batako tinggi untuk bisa sampai ke sana dari halaman kami, dan apa alasan masuk akal yang membuat dia susah-susah menuju ke sana?

Aku pergi ke dapur untuk segelar air, menyalakan radio FM, lalu memotong kukuku. Mereka sedang memainkan album baru Robert Plan. Aku mendengarkan dua lagu yang membuat kupingku panas dan segera mematikannya. Aku menuju beranda untuk mengecek wadah makan kucing; ikan kering yang kusimpan malam sebelumnya masih tak tersentuh. Menandakan kalau kucing belum kembali.

Tetap berdiri di beranda, aku menatap matahari musim semi yang terang menyoroti halaman mungil kami. Sangat susah membayangkan halaman yang tak menarik ini. Matahari menyinari halaman ini hanya beberapa saat, jadi tanahnya selalu gelap dan lembab. Tak banyak tanaman: hanya beberapa bunga biasa-biasa saja. Dan aku tak terlalu memikirkan bunga-bunga ini.

Dari cabang pohon terdekat terdengar bunyi kreaak-kreaak burung secara berkala, tajam seperti mengeratkan musim semi. “Burung Nejimaki”, kami menyebutnya. Istriku yang menamainya. Aku tak tahu disebut apa burung itu. Atau bagaimana bentuknya. Meski begitu, burung nejimaki ini selalu hinggap tiap pagi di atas pohon sekitar perumahan untuk menyambut. Untuk kami, dunia kecil kami yang sunyi, semuanya.

Saat mendengarkan bunyi burung nejimaki itu, aku berpikir. Kenapa harus susah-susah mencari kucing itu? Dan intinya, jika aku menemukannya, apa yang selanjutnya harus kulakukan? Menyeretnya pulang lalu menceramahinya? Mohon dengan sangat – Dengar, kau sudah membuat khawatir semua orang, jadi kenapa kau tak kembali pulang?

Hebat, pikirku. Sungguh hebat. Apa yang salah dengan membiarkan kucing pergi ke tempat yang ia inginkan dan melakukan apa yang ia suka? Inilah aku, umur tiga puluh, dan apa yang kukerjakan? Mencuci baju, menyiapkan makan malam, mencari kucing.

Belum begitu lama, kupikir, aku masih seorang lelaki pada umumnya. Selalu bersemangat penuh ambisi. Saat SMA, aku membaca autobiografi Clarence Darrow dan memutuskan untuk menjadi pengacara. Nilai-nilaiku juga tak terlalu buruk. Dan di tahun-tahun terakhir aku dipilih teman-teman sekelasku sebagai nominasi kedua “Calon Orang Sukses.” Aku bahkan diterima di fakultas hukum universitas ternama. Jadi kenapa aku jadi kacau begini?

Aku menempatkan sikuku di meja dapur, menopang daguku, dan berpikir: Sejak kapan jarum kompas jadi rusak dan arah hidupku kesasar begini? Tak ada yang bisa kugambarkan dengan jelas. Tak ada hambatan dengan kebijakan kampus, tak ada kekecewaan pada universitas, tak pernah sekalipun terlibat masalah dengan perempuan. Sejauh yang kuingat, aku punya kehidupan yang sangat normal. Sampai satu hari, ketika mendekati waktu kelulusan, aku tiba-tiba berpikir aku bukan lagi seorang yang sama.

Kemungkinan besar, benih-benih keretakan sudah ada sejak itu, meski masih sangat kecil. Tapi seiring waktu makin membesar saja, alhasil membawaku makin jauh pada diriku yang sebenarnya. Kalau diibaratkan dengan sistem tata surya, ini pun kalau bisa, aku sekarang berada di antah berantah antara Saturnus dan Uranus. Sedikit lebih jauh dan aku bisa dengan jelas melihat Pluto. Dan lebih jauh dari itu – lihat – apa ada ya setelah itu?

Di awal Februari, aku keluar dari pekerjaanku di firma hukum. Dan tanpa alasan jelas. Bukan karena aku jemu dengan pekerjaannya. Kuakui, pekerjaannya memang tak bisa dibilang sesuatu yang menyenangkan, tapi gajinya tak terlalu buruk dan atmosfer kantor cukup bersahabat.

Tugasku di kantor adalah orang kantoran penuh waktu.

Meski memang aku percaya aku telah mendapat pekerjaan yang baik, menurut standarku. Sangat aneh karena ini datang dari mulutku sendiri, aku menemukan aku sangat cekatan ketika menerima tugas segera di kantor itu. Aku mengerti dengan cepat, bekerja secara metodis, berpikir praktis, tak mengeluh apapun. Inilah mengapa, ketika aku memberitahu rekan seniorku bahwa aku ingin keluar, pria tua itu – pemimpin dari “- dan Anak, Pengacara Hukum” – sampai menawarkan kenaikan gaji jika aku terus bertahan bekerja.

Tapi aku sudah tak tahan. Aku tak tahu pasti mengapa aku keluar. Tak ada tujuan jelas atau apakah ada kesempatan kerja lainnya jika sudah keluar. Bayangan masa depan buruk dan pikiran untuk mencoba kembali saat berada di palang pemeriksaan sangat menakutkan. Dan di samping itu, aku sudah tidak terlalu ingin jadi seorang pengacara saat itu.

Ketika aku pulang dan memberitahu istriku saat makan malam bahwa aku berpikir untuk berhenti bekerja, yang dia katakan cuma “Tak apa.” Apa maksud dari “Tak apa” itu, aku tak tahu. Tapi hanya sampai sejauh itu saja; dia tidak menambahkan kata-kata lain lagi.

Saat aku terdiam, dia bicara. “Jika kau ingin berhenti, kenapa kau tak berhenti saja? Itu hidupmu, kau jalani seperti yang kau mau.” Ucapnya lalu menulangi ikan di piringnya dengan sumpitnya.

Istriku bekerja kantoran di sekolah desain dan itu gajinya lumayan. Beberapa kali ia mendapat tugas ilustrasi dari teman redakturnya, dan bayarannya cukup masuk akal, bagaimanapun. Aku, di bagianku, punya uang kompensasi pemberhentian yang akan cukup untuk keperluan enam bulan ke depan. Jadi jika aku tinggal di rumah dan melakukan pekerjaan rumah setiap harinya, kami tetap bisa makan dan mencuci sendiri, dan siklus hidup kami tak akan terlalu berubah dibanding ketika aku masih bekerja dan punya penghasilan.

Jadi begitulah aku memutuskan berhenti bekerja.

*

Setengah satu siang aku pergi belanja seperti biasa, tas kanvas besar tersampir di pundakku. Pertama aku menuju bak untuk membayar tagihan gas dan telepon, lalu aku belanja untuk kebutuhan makan malam di supermarket, kemudian aku memesan cheeseburger dan kopi di McDonald’s.

Aku pulang dan menyimpan bahan makanan ke dalam kulkas saat kemudian telepon berdering. Terdengar sesuatu yang akan menyakiti, lewat dering yang seperti itu. Aku meninggalkan kemasan plastik tahu yang terbuka setengah di meja, menuju ruang tengah, dan mengangkat telepon.

“Selesai dengan spaghetti-nya?” Si wanita itu lagi.

“Yah, sudah beres,” ucapku. “Tapi sekarang aku harus mencari kucing.”

“Tak bisakah menunggu sepuluh menit? Cuma mencari kucing!”

“Baik, sepuluh menit, ya.”

Apa yang kulakukan? pikirku. Kenapa aku mau saja memberikan sepuluh menit waktuku untuk seorang wanita aneh?

“Sekarang, tentu saja, kita bisa saling memahami satu sama lain,” sebut wanita itu, halus dan tenang. Dari suaranya, wanita ini – siapapun dia – pasti sedang selonjoran di kursi, dengan kaki bersilang.

“Hmm, aku enggak tahu sih,” ucapku. “Beberapa orang, yang sudah sepuluh tahun bersama dan mereka masih belum bisa saling memahami satu sama lain.”

“Berani mencoba?” goda wanita itu.

Aku melepas jam tangan dan menyalakan mode stopwatch, lalu memijit tombol start.

“Kenapa harus aku?” tanyaku. “Kenapa tak menelepon orang lain saja?”

“Aku punya alasannya,” wanita itu melafalkan perlahan, seakan-akan sedang mengunyah remah-remah makanan secara terukur. “Aku tahu segalanya tentangmu.”

“Dimana? Kapan?”

“Suatu saat, di suatu tempat,” ucap wanita itu. “Tapi kenapa itu begitu penting? Yang penting itu saat ini. Benar kan? Perlu apalagi, membicarakan soal itu hanya menyia-nyiakan waktu kita. Aku tak punya banyak waktu, kau tahu.

“Beri aku bukti. Bukti kalau kau kenal aku.”

“Misalnya.”

“Berapa umurku?”

“Tiga puluh,” wanita itu menjawab dengan tepat. “Tiga puluh lebih dua bulan. Sudah puas?”

Itu membuatku tak bisa berkata-kata. Wanita itu benar-benar mengenalku. Masih memeras otakku, aku tak bisa mengenali suaranya. Aku sungguh tak bisa melupakan atau mengelirukan suara seseorang. Wajah, nama – mungkin lupa – tapi suara, tak pernah.

“Baik, sekarang, giliranmu untuk menebak yang bisa kau tahu,” usulnya. “Apa yang bisa kau bayangkan dari suaraku? Wanita seperti apa aku ini? Bisakah kau membayangkan aku? Bukankah ini keahlian khususmu?”

“Oke, kau benar,” sergahku.

“Ayo, coba dong,” desak wanita itu.

Aku menatap jam tanganku. Belum sampai semenit setengah. Aku menghela napas. Kelihatannya aku sudah memanas-manasinya, dan saat tantangan sudah diterima, tak ada jalan balik. Aku memang jago dalam permainan tebak-tebakan.

“Akhir duapuluhan, lulusan universitas, asli Tokyo, dari keluarga kelas menengah ke atas,” berondongku.

“Bukan main,” puji wanita itu, terdengar jentikan korek rokok dari telepon. Korek Cartier, terdengar dari suaranya. “Teruskan.”

“Cukup cantik. Setidaknya, menurutmu begitu. Tapi ada sesuatu yang kompleks. Kau terlalu pendek atau dadamu terlalu kecil atau semacam itu.”

“Hampir mendekati,” wanita itu cekikikan.

“Kau sudah menikah. Tapi itu tak selancar yang kau bayangkan. Ada masalah. Nggak ada wanita tanpa masalah yang bakal menelepon seorang pria dan tanpa mengenalkan nama terlebih dulu. Meski aku tak kenal kau. Setidaknya aku belum pernah ngobrol denganmu sebelumnya. Ini hanya bayang-bayangku, aku masih tak tahu siapa kau.”

“Oh, benarkah?” Ucap wanita itu dalam diam yang terukur seakan-akan hendak melancarkan ganjalan pada tengkorakku. “Kenapa kau bisa begitu yakin tentang dirimu? Mungkin ada titik buta yang fatal di suatu tempat? Jika tidak, apakah kau tak berpikir kalau kau sedang memaksa dirimu melangkah lebih jauh dari seharusnya? Seseorang dengan otak dan keahlian sepertimu.”

“Kau terlalu berharap lebih,” ucapku. “Aku enggak tahu siapa kamu, tapi aku harus katakan bahwa aku bukan manusia sempurna yang seperti kau bayangkan. Aku tak mampu menyelesaikan apapun. Yang kulakukan hanya terus memintasi jalan memutar satu dan yang lainnya.”

“Tetap saja, aku punya sesuatu untukmu. Beberapa waktu kebelakang.”

“Beberapa waktu kebelakang, katamu,” aku mendesak.

Dua menit lima puluh detik.

“Belum begitu lama. Kita tak sedang membicarakan sejarah.”

“Ya, kita sedang membicarakan sejarah,” tegasku.

Titik buta, eh? Baik, wanita itu memang benar. Di suatu tempat, di kepalaku, dalam tubuhku, dalam eksistensiku saat ini, ada semacam elemen bawah tanah yang panjang dan terlupakan yang membuatku hidupku sedikit demi sedikit keluar batas.

Bukan, tak seperti itu. Bukan lagi sedikit – tapi jauh melewati batas. Sudah tak dapat ditembus.

“Aku sedang di atas kasur sekarang,” wanita itu berkata. “Aku baru beres mandi dan tak mengenakan apapun saat ini.”

Jadi seperti itu, pikirku. Tak mengenakan apapun? Mulai terasa seperti adegan video porno saja.

“Atau kau ingin aku memakai celana dalam? Bagaimana kalau kaos kaki? Apa yang kau mau?”

“Apapun boleh. Lakukan yang kau suka,” ucapku. “Tapi jika kau tak keberatan, aku bukan jenis pria macam gitu, nggak suka hal-hal beginian lewat telepon.”

“Hanya sepuluh menit. Tak lebih dari sepuluh menit. Bukan suatu kehilangan yang harus disesalkan, kan? Aku tak butuh yang lain kok. Ini hanya itikad baik biasa. Apapun itu, jawab pertanyaan tadi. Kau ingin aku bugil saja? Atau haruskah aku mengenakan sesuatu? Aku punya segala jenis barang. Suspender dan…”

Suspender? Aku gila. Apa yang dipikirkan wanita untuk memiliki semacam suspender begitu di masa sekarang? Model untuk rumah bordil, mungkin.

“Bugil enggak apa. Dan kau nggak usah bergerak,” ucapku.

Empat menit telah berlalu.

“Bulu pubisku masih basah,” ucap wanita itu. “Aku tak mengeringkannya dengan benar. Jadi masih basah. Hangat dan oh sangat basah.”

“Dengar, jika kau tak keberatan-”

“Dan di bawah sana, sangat hangat. Seperti lelehan mentega panas. Oh sangat panas. Tak bohong. Coba tebak sedang dalam posisi apa aku sekarang? Aku mengangkat lututku dan kaki kiriku mengangkang. Membentuk pukul 10:05 jika diibaratkan aku sebuah jam.”

Aku bisa bilang dari caranya bicara bahwa dia tidak sedang mengada-ada. Dia benar-benar mengangkangkan kakinya membentuk pukul 10:05, bahwa vaginanya hangat dan basah.

“Cumbu dengan bibir. Secara lembut, dan perlahan. Lalu buka. Perlahan, ya seperti itu. Sekarang cumbu dengan lembut oleh jarimu. Oh, ya, perlahan… perlahan. Sekarang biarkan satu tanganmu meremas dada sebelah kiriku, dari bawah, angkat dengan lembut, cubit saja putingnya. Lagi dan lagi. Sampai aku bisa-”

Aku menutup telepon tanpa basa-basi. Kemudian aku merebahkan diri di atas sofa, menyalakan rokok, dan menatap langit-langit, stopwatch menunjukan lima menit dua puluh tiga detik.

Aku menutup mataku dan kegelapan pun singgah, kegelapan yang buta namun berwarna.

Apa barusan? Kenapa orang-orang tak bisa meninggalkanku sendirian dalam ketenangan?

Belum sampai sepuluh menit, telepon berdering lagi, tapi kali ini aku tak mengangkatnya. Lima belas kali berdering dan kemudian berhenti. Aku membiarkannya mati, dan gravitasi serasa runtuh berganti keheningan mendalam. Keheningan yang begitu dingin itu membatu dalam bekuan gletser lima puluh ribu tahun yang lampau. Lima belas dering telepon itu telah mengubah kualitas udara di sekitarku.

ada bola yang super keras, bagaimana menurut Anda?”

Gadis itu batuk-batuk pendek.

“Belakangan ini, aku sering memikirkan ini. Mungkin karena aku punya banyak waktu luang setiap hari. Tapi memang, aku memikirkan ini. Jika aku tak melakukan apa-apa, pikiranku selalu mengawang-awang jauh. Aku jatuh dalam pikiranku, sulit untuk mencari jalan kembali.”

Sekarang, gadis itu melepaskan jarinya dari pergelangan tanganku untuk meminum sisa minuman sodanya. Aku bisa tahu dari bunyi es dalam gelas kosong itu.

“Tenang saja. Aku terus mengawasi kucing itu. Jangan khawatir. Segera saat aku melihat Noboru Watanabe, aku akan memberitahumu. Jadi kau bisa menutup matamu. Noboru Watanabe pasti lewat sini beberapa menit lagi. Maksudku, semua kucing punya jalur yang sama, jadi dia bakal muncul. Mari membayangkan saat kita menunggunya. Seperti, Noboru Watanabe mendekat, makin dekat. Dia muncul dari balik semak-semak, menyelinap di bawah tembok, berhenti lalu membaui bunga-bunga, makin dekat setiap menitnya. Coba dan bayangkan dia.”

Aku mengikutinya dan mencoba melihat kucing itu dalam mata batinku, tapi semua yang bisa kucapai hanya gambaran kucing yang sangat kabur. Benderang matahari membakar melalui pelupuk mataku, memencarkan area gelap pada citraanku; di samping itu, bagaimana pun aku mencoba aku tak bisa mengingat wajah mungil berbulu itu seakurat mungkin. Noboru Watanabe yang kubayangkan adalah citraan yang gagal, bisa dibilang menyimpang dan tak wajar. Hanya suaranya saja; yang lain-lain tak ada. Aku bahkan tak ingat bagaimana cara dia berjalan.

Gadis itu meletakan kembali jarinya di pergelangan tanganku sekali lagi dan kali ini menggambar suatu pola. Diagram aneh tentang bentuk tak tentu. Saat dia menggambari bagan di pergelangan tanganku, bersamaan dengan itu aku merasakan sepenuhnya beragam kegelapan menyusup ke kesadaranku. Aku pasti jatuh tertidur, pikirku. Bukan karena aku mengantuk, tapi sesuatu memberitahuku bahwa aku tak bisa mengelak dari sesuatu ini. Tubuhku terasa berat di atas lengkungan kanvas kursi.

Di tengah-tengah naungan kegelapan ini, sebuah gambaran jelas dari keempat kaki Noboru Watanabe muncul di kepalaku. Empat cakar coklat mungil dengan bantalan empuk pada telapaknya. Tanpa bersuara, dia berjalan dengan lesu di sebuah tanah lapang.

Tanah lapang apa? Dimana?

Aku tak bisa membayangkannya.

Kemungkinan besar kau punya sebuah titik buta di suatu tempat? ucap wanita itu lembut.

*

Aku terbangun dan mendapati diriku sendirian. Yang pergi adalah gadis itu yang berbaring di kursi di sampingku. Handuk dan rokok juga majalah-majalah masih ada di tempat, tapi minuman soda dan radio pemutar kaset sudah tak ada.

Matahari sudah condong di barat dan diriku sampai pergelangan kakiku berada dalam bayang-bayang pohon pinus. Tulisan di jam tanganku menunjukan pukul 3:40. Aku menggeleng kepalaku beberapa kali seakan menggoyang-goyang kaleng kosong, bangkit dari kursi, dan melihat ke sekeliling. Semuanya masih sama seperti saat aku pertama melihatnya. Halaman rumput yang lebar, kolam yang mengering, pagar, patung burung, bunga-bunga kecil, antena TV, tak ada kucing. Tak ada si gadis.

Aku mengempaskan diriku ke atas rumput yang terbayangi dan melarikan tanganku ke rumput hijau, sebelah mata melihat jalur kucing, sementara aku menunggu gadis itu untuk kembali. Sepuluh menit kemudian, masih tak ada tanda baik dari kucing atau gadis itu. Bahkan tak ada sesuatu yang beranjak. Aku dibuat bingung untuk melakukan apa selanjutnya. Aku merasa aku sudah melakukan sesuatu yang buruk saat tidur tadi.

Aku berdiri lagi dan menatap rumah itu. Tapi masih tak ada tanda siapa pun di sana. Hanya sinar matahari dari barat yang menyinari jendela. Tak ada yang bisa dilakukan kecuali menerobos lagi ke gang dan mengikuti jalan pulang. Jadi aku tidak menemukan kucingnya. Baiklah, setidaknya aku sudah mencoba.

*

Kembali di rumah. Aku membawa masuk cucian kering dan melempar semuanya lalu membuat makanan sederhana. Kemudian aku merebahkan diriku di atas lantai ruang tengah, punggungku bersandar di tembok, untuk membaca koran siang. Pukul 5:30, telepon berdering dua belas kali, tapi aku tidak mengangkatnya. Setelah dering berhenti, kekosongan berkepanjangan melayang-layang dalam ruang gelap debu yang mengambang. Jam dinding di atas TV mencoreng panel tak terlihat dalam ruang dengan cakar rapuhnya. Dunia ini hanyalah mainan yang diputar, pikirku. Sekali tiap hari burung nejimaki akan muncul dan memutar pegas dunia ini. Sendiri dalam rumah menyenangkan ini, tempat aku menua ini, sebuah bola pucat kematian mengembang di dalam diriku. Meski aku tidur di antah berantah antara Saturnus dan Uranus sekali pun, burung nejimaki di mana pun terus sibuk memenuhi tugasnya.

Aku mempertimbangkan untuk menulis puisi tentang burung nejimaki ini. Tapi tidak ada baris pertama yang terpikirkan. Di samping itu, aku ragu kalau anak-anak perempuan SMA akan tertarik untuk membaca puisi tentang burung nejimaki. Mereka bahkan tak tahu kalau burung nejimaki itu sungguh ada.

*

Sudah pukul tujuh tiga puluh ketika istriku pulang.

“Maaf, aku pulang telat,” dia meminta maaf. “Aku harus mati-matian mengurus catatan kuliah seorang murid. Perempuan yang kerja sampingan itu sungguh lelet, sehingga aku yang kena getahnya.”

“Jangan dipikirkan,” kataku. Lalu aku melangkah menuju dapur, memasak sepotong ikan dengan mentega, dan menyiapkan salad dan sup miso. Sementara itu, istriku membaca koran sore di meja dapur.

“Kau tidak di rumah jam setengah enam ya?” tanyanya. “Aku mencoba menghubungimu untuk bilang kalau aku bakal telat.”

“Aku kehabisan mentega jadi aku keluar untuk membeli,” aku berbohong.

“Kau ingat untuk pergi ke bank?”

“Tentu lah,” jawabku.

“Kalau soal kucing?”

“Belum ketemu.”

“Oh,” timpal istriku.

*

Aku menyembul keluar sehabis mandi setelah makan malam dan mendapati istriku duduk sendirian di ruang tengah yang gelap. Aku memakai kaos abu-abu dan meraba-raba dalam gelap agar bisa sampai di tempat istriku teronggok seperti barang-barang. Dia terlihat seperti seorang yang sangat kehilangan. Jika saja mereka menempatkannya di tempat lain, mungkin saja dia bisa terlihat sedikit bahagia.

Mengeringkan rambutku dengan handuk, aku duduk di sofa di seberangnya.

“Ada masalah apa?” tanyaku.

“Kucing itu sudah mati, aku tahu,” ucap istriku.

“Ayolah,” protesku. “Kucing itu cuma mau jalan-jalan. Sebentar lagi juga dia bakal lapar dan kembali pulang. Hal ini pernah terjadi sebelumnya, kau ingat kan? Saat kita masih tinggal di Koenji-”

“Kali ini berbeda. Aku bisa merasakannya. Kucing itu mati dan membusuk di rerumputan. Kau mencarinya di halaman rumah kosong itu kan?”

“Hey, hentikan. Itu memang rumah kosong, tapi itu tetap rumah orang. Aku enggak mau masuk tanpa izin.”

“Kau membunuhnya!” tuduh istriku.

Aku menghela nafas dan menyeka kepalaku dengan handuk.

“Kau membunuhnya dengan tatapanmu itu!” dia mengulang dalam kegelapan.

“Bagaimana bisa?” belaku. “Kucing itu menghilang karena keinginannya. Bukan salahku. Kau harus tahu itu.”

“Kau! Kau gak pernah suka kucing itu!”

“Oke, memang iya,” aku mengaku. “Setidaknya aku enggak segila kau terhadap kucing. Tetap, aku ga bakal menyiksanya. Aku kasih makan tiap hari. Meski aku gak terpikat dengan si mungil celaka itu, bukan berarti aku akan membunuhnya. Berkata seperti ini dan aku jadi ingin membunuh setengah umat manusia di bumi ini.”

“Baik, memang kau,” istriku memberi vonis. “Memang kamu. Selalu, selalu seperti ini. Kau membunuh semuanya tanpa perlu mengayunkan tanganmu.”

Aku akan balas menghardik tapi dia mulai menangis. Aku menghentikan ucapanku dan melempar handuk ke keranjang kamar mandi, pergi ke dapur, mengambil bir dari kulkas, dan menyesapnya. Hari yang begitu tak masuk akal! Satu hari yang tak masuk akal, dari bulan yang tak masuk akal, dalam tahun yang tak masuk akal.

Noboru Watanabe, pergi kemana kau?, pikirku. Apakah burung nejimaki memutar pegasmu?

Ini hanya sebuah puisi biasa:

 Noboru Watanabe

Kemana kau pergi?

Apakah burung nejimaki

Memutar pegasmu?

Aku belum menghabiskan setengah birku saat telepon mulai berdering.

“Bisakah kau mengangkatnya?” aku berteriak ke kegelapan ruang tengah.

“Tak mau! Angkat saja sendiri,” balas istriku.

“Aku enggak mau mengangkatnya,” kataku.

Tak ada yang membalasnya, dan telepon terus berdering. Dering itu menggegerkan debu yang menempel sehingga bertebaran di dalam gelap. Baik aku atau istriku tak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku meminum birku, istriku terus tersedu-sedu. Sudah dua puluh kali berdering sampai aku berhenti menghitung dan membiarkan telepon tetap berdering. Kau tak bisa terus menghitung selamanya.

***

NB: Penerjemah (Arif Abdurrahman) menggunakan istilah “Burung Nejimaki” untuk “Wind-Up Bird”, yang berarti burung mainan yang ada motor pegas pemutar di bagian belakangnya.

Diterjemahkan dari “Wind-Up Bird and Tuesday’s Women” yang ada dalam kumcer The Elephant Vanished. Cerpen Haruki Murakami yang kemudian menjadi bab pertama dari novel The Wind-Up Bird Chronicle.

Sumber: https://yeaharip.com

Cerpen Haruki Murakami yang lain bisa dibaca di sini.

Cerpen Haruki Murakami: Kodok Super Melindungi Tokyo

Cerpen Haruki Murakami

Katagiri mendapati seekor katak raksasa menunggu dia di apartemennya. Katak yang kekar, berdiri setinggi lebih dari enam kaki dengan tumpuan kaki belakangnya. Hanya seorang laki-laki kecil kurus tidak lebih dari satu setengah meter, Katagiri tentu kalah telak oleh tubuh raksasa sang katak.

“Panggil saya ‘Bangkong,’” kata katak dengan suara berat yang jelas.

Katagiri berdiri terpaku di ambang pintu, tidak mampu berbicara.

“Jangan takut, saya di sini tidak untuk menyakiti Anda. Mari masuk dan tutup pintunya. Silahkan.”

Tas koper di tangan kanannya, tas belanja dengan sayuran segar dan salmon kalengan tergantung di lengan kirinya, Katagiri tidak berani bergerak.

“Silahkan, Tuan Katagiri, cepat dan tutup pintu, dan lepas sepatu Anda.”

Mendengar namanya disebut membuat Katagiri mengubah sikap. Dia menutup pintu seperti yang diperintahkan, mengatur tas belanja di undakan lantai kayu, menyematkan tas koper di bawah satu lengan, dan melepas sepatunya. Bangkong mengisyaratkannya untuk duduk di meja dapur, yang selanjutnya ia lakukan.

“Saya harus minta maaf, Tuan Katagiri, karena telah menerobos masuk saat Anda berada di luar,” kata Bangkong. “Saya tahu ini akan mengejutkan Anda saat mendapati saya di sini. Tapi saya tidak punya pilihan. Bagaimana kalau bikin secangkir teh dulu? Saya pikir Anda akan pulang segera, jadi saya sudah rebus air.”

Katagiri masih menggencet tasnya di lengannya. Seseorang sedang menjahiliku, pikirnya. Seseorang memakai kostum katak besar ini hanya untuk membuat lelucon denganku. Tapi ia tahu, saat ia melihat Bangkong menuangkan air mendidih ke dalam teko, sambil bersenandung, bahwa ini betul-betul anggota badan dan gerakan seekor katak yang nyata. Bangkong menaruh secangkir teh hijau di depan Katagiri, dan menuangkan satu lagi untuk dirinya sendiri.

Menyesap tehnya, Bangkong bertanya, “Sudah mendingan?”

Tapi tetap Katagiri tidak bisa berbicara.

“Saya tahu saya harus membuat janji untuk mengunjungi Anda, Tuan Katagiri. Saya sepenuhnya menyadari norma. Siapa pun akan terkejut menemukan katak besar menunggu di rumahnya. Tapi hal yang mendesak membawa saya ke sini. Mohon maafkan saya.”

“Hal mendesak?” akhirnya Katagiri berhasil mengungkapkan kata-kata.

“Ya, tentu saja,” kata Bangkong. “Kenapa lagi saya akan berani menerobos masuk ke rumah seseorang? Kekasaran seperti ini bukan gaya adat saya.”

“Apakah ‘hal’ ini ada hubungannya dengan saya?”

“Ya dan tidak,” kata Bangkong dengan memiringkan kepala. “Tidak dan ya.”

Aku harus menenangkan diriku sendiri, pikir Katagiri. “Apakah Anda keberatan jika saya merokok?”

“Silahkan, silahkan,” kata Bangkong sambil tersenyum. “Ini rumah Anda. Anda tidak perlu meminta izin pada saya. Merokok dan minum sebanyak yang Anda suka. Saya sendiri bukan seorang perokok, tapi saya hampir tidak bisa memaksakan ketidaksukaan saya pada orang lain yang merokok di rumah mereka sendiri.”

Katagiri menarik sebungkus rokok dari saku jasnya dan menyalakan korek. Dia melihat gemetar tangannya saat dia menyalakannya. Duduk di seberangnya, Bangkong tampak sedang mengamati setiap gerakannya.

“Anda bukan bagian dari semacam geng, kan?” Katagiri mendapat keberanian untuk bertanya.

“Ha ha ha ha ha ha! Anda punya rasa humor yang bagus, Tuan Katagiri!” Katanya, menamparkan tangan berselaput ke pahanya. “Mungkin ada kekurangan tenaga kerja terampil, tapi kenapa juga geng akan menyewa katak untuk melakukan pekerjaan kotor mereka? Mereka hanya akan menjadi bahan tertawaan.”

“Nah, jika Anda di sini untuk melobi pembayaran, Anda membuang-buang waktu Anda. Saya tidak memiliki otoritas untuk membuat keputusan seperti itu. Hanya atasan saya yang bisa melakukan itu. Saya hanya mengikuti perintah. Saya tidak bisa melakukan sesuatu untuk Anda.”

“Tenang, Tuan Katagiri,” kata Bangkong, mengangkat satu jari berselaputnya. “Saya tidak datang ke sini untuk urusan remeh tersebut. Saya menyadari bahwa Anda adalah asisten kepala Bagian Peminjaman di Tokyo Security Trust Bank cabang Shinjuku. Tapi kunjungan saya tidak ada hubungannya dengan pembayaran pinjaman. Saya datang ke sini untuk menyelamatkan Tokyo dari kehancuran.”

Katagiri memindai ruangan untuk mencari semacam kamera TV tersembunyi dalam kasus dia sedang direkam untuk dagelan yang mengerikan. Tapi tidak ada kamera. Ini hanya sebuah apartemen kecil. Tidak ada tempat bagi siapa pun untuk bersembunyi.

“Tak ada,” kata Bangkong, “kita adalah satu-satunya di sini. Saya tahu Anda berpikir bahwa saya gila, atau bahwa Anda sedang bermimpi, tapi saya tidak gila dan Anda tidak sedang bermimpi. Ini benar-benar sangat penting.”

“Terus terang saja, Tuan Bangkong—”

“Tolong,” kata Frog, mengangkat satu jari lagi. “Panggil saja ‘Bangkong.’”

“Terus terang saja, Bangkong,” ucap Katagiri, “Saya tidak bisa mengerti apa yang terjadi di sini. Ini bukan berarti bahwa saya tidak percaya, tapi saya sepertinya tidak dapat memahami situasi persisnya. Apakah Anda keberatan jika saya mengajukan beberapa pertanyaan?”

“Silahkan, silahkan,” kata Bangkong. “Saling pengertian itu sangat penting. Ada orang yang mengatakan bahwa ‘pemahaman’ hanyalah sekumpulan dari kesalahpahaman kita, dan memang saya menemukan pandangan ini menarik dengan caranya sendiri, saya khawatir bahwa kita tidak punya waktu luang untuk ngalor-ngidul. Hal terbaik bagi kita untuk mencapai saling pengertian melalui rute yang sesingkat mungkin. Oleh karena itu, dengan segala cara, silahkan ajukan banyak pertanyaan yang Anda ingin sampaikan.”

“Sekarang, Anda ini memang katak betulan, saya benar, kan?”

“Ya, tentu saja, seperti yang Anda lihat. Saya seekor katak betulah. Bukan metafora atau kiasan atau dekonstruksi atau pengambilan sampel maupun proses kompleks lainnya, saya katak asli. Haruskah saya berkuak-kuak untuk Anda?”

Katak menyondongkan ke belakang kepalanya dan menekuk otot-otot tenggorokan yang besar. Ribit! Ri-i-i-bit! Ribit-ribit-ribit! Ribit! Ribit! Ri-i-i-bit! Bunyi kuaknya yang nyaring itu mengguncang gambar yang tergantung di dinding.

“Baik, saya percaya, saya percaya!” tegas Katagiri, khawatir akan dinding tipis rumah apartemen sederhana tempatnya tinggal. “Itu hebat. Anda, tanpa harus bertanya lagi, betul-betul katak asli.”

“Ada yang mengatakan bahwa saya gabungan keseluruhan dari semua katak. Meskipun demikian, ini tidak berdampak apa-apa untuk mengubah fakta bahwa saya memang katak. Siapapun yang menyebut kalau saya bukan katak pasti seorang pembohong kotor. Saya akan meremukkan orang tersebut jadi serpihan!”

Katagiri mengangguk. Berharap untuk menenangkan diri, ia mengangkat cangkirnya dan menelan seteguk teh. “Sebelumnya Anda berkata kalau Anda datang ke sini untuk menyelamatkan Tokyo dari kehancuran?”

“Itulah yang saya katakan.”

“Kerusakan macam apa?”

“Gempa,” kata Bangkong dengan sangat berat.

Dengan mulut menganga, Katagiri menatap Bangkong. Dan Bangkong, tak mengatakan apa-apa, menatap Katagiri. Mereka melanjutkan menatap satu sama lain seperti ini untuk beberapa waktu. Berikutnya giliran Bangkong untuk membuka mulutnya.

“Gempa yang sangat, sangat besar. Sudah diatur untuk menghantam Tokyo pukul delapan tiga puluh pagi pada 18 Februari. Tiga hari dari sekarang. Gempa yang jauh lebih hebat ketimbang yang melanda Kobe bulan lalu. Jumlah korban tewas dari gempa tersebut mungkin akan melebihi seratus lima puluh ribu—sebagian besar dari kecelakaan yang melibatkan sistem komuter: kereta anjlok, tertimpa, tabrakan, runtuhnya jalur kereta cepat dan rel, robohnya kereta bawah tanah, ledakan tanker bahan bakar. Bangunan akan berubah menjadi tumpukan puing-puing, penghuninya mati tertimpa reruntuhan. Kebakaran di mana-mana, sistem jalan macet, ambulans dan truk pemadam kebakaran tidak berguna, orang hanya bisa berbaring, sekarat. Seratus lima puluh ribu! Seperti neraka. Orang-orang akan sadar akan kondisi rapuh dalam kolektivitas intensif yang dikenal sebagai ‘kota’.” sebut Bangkong dengan lembut menggoyangkan kepala. “Pusat gempa akan dekat dengan kantor distrik Shinjuku.”

“Dekat kantor distrik Shinjuku?”

“Tepatnya, itu akan menghantam langsung di bawah Tokyo Security Trust Bank cabang Shinjuku.”

Keheningan berat diikuti.

“Dan Anda,” kata Katagiri, “berencana untuk menghentikan gempa ini?”

“Tepat,” kata Bangkong, mengangguk. “Ini adalah apa yang ingin saya usulkan untuk dilakukan. Anda dan saya akan pergi ke lorong bawah tanah di bawah Tokyo Security Trust Bank cabang Shinjuku untuk melakukan pertempuran mematikan melawan Cacing.”

*

Sebagai anggota dari Divisi Kredit Trust Bank, Katagiri telah melalui banyak pertempuran. Dia telah enam belas tahun terbiasa bergelut setiap hari sejak saat dia lulus dari universitas dan bergabung menjadi staf bank. Dia, bisa dibilang, petugas pengumpul—bagian kerja yang kurang populer. Semua orang di divisinya lebih suka untuk mengajukan pinjaman, terutama pada saat gelembung ekonomi. Mereka punya begitu banyak uang pada hari-hari yang hampir setiap bagian mungkin pinjamkan—baik itu tanah atau saham—sudah cukup untuk meyakinkan petugas pinjaman untuk memberikan apa pun yang mereka pinta, semakin besar pinjaman yang diberikan semakin baik reputasi mereka di perusahaan. Beberapa pinjaman, meskipun, tidak pernah berhasil kembali ke bank: mereka harus “terjebak di bagian bawah panci.” Tinggal pekerjaan Katagiri untuk mengurus mereka. Dan ketika gelembung ekonomi berhenti, pekerjaan pun menumpuk. Pertama harga saham jatuh, dan kemudian nilai tanah, dan jaminan tak berarti lagi. “Keluar sana,” bosnya memerintahkan dia, “dan peras apapun yang bisa kau dapat dari mereka.”

Lingkungan Kabukicho di Shinjuku adalah sebuah labirin kekerasan: gangster turun-temurun, komplotan Korea, mafia Cina, senjata dan obat-obatan, uang mengalir di bawah permukaan dari satu liang ke yang liang lainnya, orang hilang sepanjang waktu seperti kepulan asap. Terjun ke Kabukicho untuk mengumpulkan debit buruk, Katagiri telah dikepung lebih dari sekali oleh mafia yang mengancam untuk membunuhnya, tetapi ia tidak pernah takut. Apa gunanya mereka membunuh satu orang pegawai bank? Mereka bisa saja menikamnya jika mereka ingin. Mereka bisa memukulinya. Dia sempurna untuk pekerjaan itu: tidak ada istri, tidak punya anak, kedua orang tua sudah meninggal, adik-adik yang telah dibiayai sampai menikah. Jadi bagaimana jika mereka membunuhnya? Itu tidak akan mengubah apa-apa bagi siapa pun-apalagi untuk Katagiri sendiri.

Bukan Katagiri tapi preman di sekitarnya yang justru gugup ketika mereka melihat dia begitu tenang dan dingin. Dia segera mendapatkan jenis reputasi di dunia mereka sebagai seorang pria tangguh. Sekarang, bagaimanapun, Katagiri yang tangguh dihadapkan pada kebingungan yang pelik. Apa yang katak ini bicarakan? Cacing?

“Siapa itu Cacing?” Tanyanya dengan beberapa ragu-ragu.

“Cacing hidup di bawah tanah. Dia adalah cacing raksasa. Ketika dia marah, dia menyebabkan gempa bumi,” kata Bangkong. “Dan sekarang dia sangat, sangat marah.”

“Apa yang membuat dia marah?” Tanya Katagiri.

“Saya tidak tahu,” kata Bangkong. “Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkan si Cacing dalam kepala keruhnya. Beberapa pernah melihatnya. Dia biasanya tidur. Itulah yang benar-benar dia sukai: butuh waktu lama, tidur siang yang panjang. Dia melanjutkan tidur selama bertahun-tahun—berdekade-dekade—dalam kehangatan dan kegelapan bawah tanah. Matanya, seperti yang Anda bayangkan, telah berhenti berkembang, otaknya telah berubah lemas saat ia tidur. Jika Anda bertanya kepada saya, saya akan menebak dia mungkin tidak berpikir apa-apa, hanya terbaring di sana dan merasa setiap ada gemuruh kecil dan dengung yang mendekatinya, menyerap ke dalam tubuhnya, dan menyimpannya. Kemudian, melalui beberapa jenis proses kimia, ia menempatkan kembali sebagian besarnya dengan rasa marah. Mengapa hal ini terjadi saya tidak tahu. Saya tidak pernah bisa menjelaskannya.”

Bangkong terdiam, menonton Katagiri dan menunggu sampai kata-katanya telah tenggelam. Kemudian ia melanjutkan.:

“Tolong jangan salah paham. Saya merasa tidak ada permusuhan pribadi terhadap Cacing. Saya tidak melihat dia sebagai perwujudan kejahatan. Bukan berarti juga saya ingin menjadi temannya: Saya hanya berpikir bahwa, sejauh dunia yang bersangkutan, itu tak jadi masalah bagi seekor makhluk seperti dia ada. Dunia ini seperti mantel sangat besar, dan membutuhkan kantong dari berbagai bentuk dan ukuran. Tapi tepat saat ini Cacing telah mencapai titik di mana ia terlalu berbahaya untuk diabaikan. Dengan semua jenis kebencian yang ia telah serap dan simpan di dalam dirinya selama bertahun-tahun, jantung dan tubuhnya telah membengkak menjadi raksasa—lebih besar dari sebelumnya. Dan yang lebih parah lagi, gempa Kobe yang terjadi bulan lalu mengguncang dirinya dari tidur nyenyak yang dia nikmati. Dia mengalami semacam dorongan oleh kemarahan yang mendalam: sudah waktunya sekarang untuk dia juga, menyebabkan gempa besar, dan ia akan melakukannya di sini, di Tokyo. Saya tahu apa yang saya bicarakan, Tuan Katagiri: Saya telah menerima informasi yang dapat dipercaya tentang waktu dan skala gempa dari beberapa binatang-binatang kecil teman baik saya.”

Bangkong mengatupkan mulutnya dan memejamkan mata bundarnya dengan kelelahan yang jelas terlihat.

“Jadi apa yang Anda katakan adalah,” kata Katagiri, “bahwa Anda dan saya harus pergi ke bawah tanah bersama-sama dan mengalahkan Cacing untuk menghentikan gempa.”

“Seperti itu.”

Katagiri meraih cangkir teh, mengangkatnya, dan meletakkannya kembali. “Saya masih tidak mengerti,” katanya. “Mengapa Anda memilih saya untuk pergi dengan Anda?”

Bangkong menatap langsung ke mata Katagiri dan berkata, “Saya selalu memiliki rasa hormat mendalam pada Anda, Tuan Katagiri. Selama enam belas tahun yang panjang, Anda telah diam-diam menerima tugas paling berbahaya yang tidak punya daya tarik—pekerjaan yang orang lain hindari—dan Anda telah mengerjakannya dengan aduhai. Saya tahu benar betapa sulitnya ini bagi Anda, dan saya percaya bahwa baik atasan Anda atau rekan Anda belum benar-benar menghargai pencapaian Anda. Mereka buta, semuanya. Tapi Anda, yang tidak dihargai dan tidak mendapat dukungan, tidak pernah sekalipun mengeluh.

“Bukan hanya soal pekerjaan Anda. Setelah orang tua Anda meninggal, Anda yang mengurus adik-adik Anda yang masih remaja, membiayai mereka sampai kuliah, dan bahkan yang mengusahakan mereka untuk menikah, semuanya itu butuh pengorbanan besar waktu dan pendapatan Anda, dan dengan mengorbankan prospek pernikahan Anda sendiri. Terlepas dari ini, adik-adik Anda tidak pernah sekalipun menyatakan terima kasih atas upaya Anda terhadap mereka. Lebih dari itu: mereka telah menunjukkan sikap tidak menghormati dan berlaga acuh terhadap cinta kasih Anda. Menurut pendapat saya, perilaku mereka tak dapat diterima. Saya sangat berharap saya bisa memukuli mereka sampai remuk atas nama Anda. Tapi Anda, sementara itu, tidak menampakan rasa dongkol.

“Sejujurnya, Tuan Katagiri, tidak ada yang menarik untuk dilihat dari Anda, dan Anda tak pandai bicara, sehingga Anda cenderung dipandang rendah oleh orang-orang di sekitar Anda. Saya, bagaimanapun, dapat melihat apa yang seorang pria yang masuk akal dan berani Anda. Di Tokyo ini, yang disesaki jutaan orang, tidak ada satu pun yang saya bisa percaya seperti Anda untuk berjuang di sisi saya.”

“Beritahu saya, Tuan Bangkong—” kata Katagiri.

“Tolong,” kata Bangkong, mengangkat satu jari lagi. “Panggil saya ‘Bangkong.’”

“Beritahu saya, Bangkong,” Katagiri berkata, “bagaimana Anda tahu begitu banyak tentang saya?”

“Nah, Tuan Katagiri, buat apa saya jadi kodok selama bertahun-tahun. Saya terus menjaga mata saya pada hal-hal penting dalam hidup ini.”

“Tapi tetap, Bangkong,” kata Katagiri, “Saya tidak terlalu kuat, dan saya tidak tahu apa-apa tentang yang terjadi di bawah tanah. Saya tidak memiliki jenis otot yang diperlukan untuk melawan Cacing dalam kegelapan. Saya yakin Anda dapat menemukan seseorang yang lebih kuat dari saya—seorang pria yang bisa karate, contohnya, atau pasukan Angkatan Bela Diri.”

Bangkong memutar matanya yang besar. “Sejujurnya, Tuan Katagiri,” katanya, “Saya orang yang akan melakukan semua pertempuran. Tapi saya tidak bisa melakukannya sendiri. Ini poin pentingnya: Saya membutuhkan keberanian dan gairah Anda tentang keadilan. Saya ingin Anda berdiri di belakang saya dan berkata, ‘Terus maju, Bangkong! Kau hebat! Aku tahu kau bisa menang! Kau berjuang untuk sesuatu yang baik!’”

Bangkong membuka tangannya lebar, kemudian menamparkan tangan berselaputnya ke lutut sekali lagi.

“Sejujurnya, Tuan Katagiri, pikiran pertempuran dengan Cacing dalam gelap menakutkan saya juga. Selama bertahun-tahun saya hidup sebagai seorang pasifis, pecinta seni, hidup berdampingan dengan alam. Pertempuran bukanlah sesuatu yang saya ingin lakukan. Saya melakukannya karena saya harus. Yang pasti, pertarungan khusus ini akan menjadi sesuatu yang sengit. Saya mungkin tidak kembali hidup-hidup. Saya mungkin kehilangan dua anggota badan atau lebih. Tapi saya tidak bisa—saya tidak akan—lari. Seperti Nietzsche katakan, kebijaksanaan tertinggi adalah untuk tidak merasa takut. Apa yang saya inginkan dari Anda, Tuan Katagiri, adalah agar Anda bisa berbagi keberanian sederhana Anda dengan saya, untuk mendukung saya dengan sepenuh hati Anda sebagai teman sejati. Apakah Anda mengerti apa yang saya coba sampaikan?”

Tak satu pun dari ini masuk akal untuk Katagiri, tapi ia masih merasa bahwa—betapa pun terdengar anehnya—ia bisa percaya pada apa yang Bangkong katakan kepadanya. Sesuatu tentang Bangkong—raut wajahnya, cara dia berbicara—memiliki kejujuran sederhana yang menarik langsung ke hati. Setelah bertahun-tahun bekerja di divisi terberat di Security Trust Bank, Katagiri memiliki kemampuan untuk merasakan hal-hal seperti itu. Itu semua tapi bakat alami kedua baginya.

“Saya tahu ini pasti sulit bagi Anda, Tuan Katagiri. Seekor katak besar datang menerobos masuk ke rumah Anda dan meminta Anda untuk percaya semua hal-hal aneh. Reaksi Anda sangat wajar. Jadi saya berniat untuk memberikan bukti bahwa saya benar-benar ada. Katakan pada saya, Tuan Katagiri, Anda telah banyak mengalami kesulitan memulihkan pinjaman bank yang dibuat untuk Komplotan Big Bear, bukankah begitu?”

“Memang benar,” kata Katagiri.

“Yah, mereka memiliki banyak pemeras yang bekerja di belakang layar, dan orang-orangnya bekerja sama dengan mafia. Mereka berbuat licik untuk membuat perusahaan bangkrut dan mengajukan pinjaman. Petugas pinjaman bank Anda menyodorkan tumpukan uang untuk mereka tanpa pemeriksaan latar belakang yang layak, dan, seperti biasa, orang yang tersisa untuk membersihkan setelahnya adalah Anda, Tuan Katagiri. Tapi Anda kesulitan untuk menjangkau orang-orang ini: mereka bukan lawan enteng. Dan mungkin ada politisi kuat yang mendompleng mereka. Mereka punya hutang kepada Anda sebanyak tujuh ratus juta yen. Itu adalah situasi yang Anda hadapi, saya benar, kan?”

“Seperti itu.”

Bangkong mengulurkan tangannya lebar-lebar, membuka selaput besarnya yang berwarna hijau seperti sayap pucat. “Jangan khawatir, Tuan Katagiri. Serahkan segalanya pada saya. Besok pagi, Bangkong tua ini akan memecahkan masalah Anda. Santai saja dan nikmati tidur malam ini.”

Dengan senyum lebar di wajahnya, Bangkong berdiri. Kemudian, meratakan dirinya seperti cumi-cumi kering, ia menyelinap keluar melalui celah di sisi pintu yang tertutup, meninggalkan Katagiri sendirian. Dua cangkir teh di meja dapur adalah satu-satunya indikasi bahwa Bangkong memang mengunjungi apartemen Katagiri ini.

*

Saat Katagiri tiba di tempat kerja keesokan harinya pukul sembilan, telepon di mejanya berdering.

“Tuan Katagiri,” kata suara seorang pria. Dingin dan lugas. “Nama saya Shiraoka. Saya seorang pengacara dalam kasus Big Bear. Saya menerima telepon dari klien saya pagi ini berkaitan dengan masalah pinjaman tunda. Dia ingin Anda tahu bahwa dia akan mengambil tanggung jawab penuh untuk mengembalikan seluruh jumlah yang diminta pada tanggal jatuh tempo. Dia juga akan memberikan nota yang harus Anda tandatangani. Ada satu permintaannya bahwa Anda jangan mengirim Bangkong ke rumahnya lagi. Saya ulangi: dia ingin Anda untuk meminta Bangkong tidak lagi mengunjungi rumahnya. Saya sendiri tidak sepenuhnya mengerti maksudnya, tapi saya percaya ini jelas bagi Anda, Tuan Katagiri. Saya benar, kan?”

“Memang benar,” jawab Katagiri.

“Anda akan berbaik hati untuk menyampaikan pesan saya pada Bangkong, saya percaya.”

“Saya akan menyampaikannya. Klien Anda tidak akan pernah melihat Bangkong lagi.”

“Terima kasih banyak. Saya akan mempersiapkan nota untuk Anda besok.”

“Saya menghargai itu,” kata Katagiri.

Sambungan terputus.

Bangkong mengunjungi Katagiri di kantornya Trust Bank saat makan siang. “Untuk kasus Big Bear kelihatan berjalan lancar, saya kira?”

Katagiri melirik sekitar dengan gelisah.

“Jangan khawatir,” kata Bangkong. “Anda adalah satu-satunya orang yang bisa melihat saya. Tapi sekarang saya yakin Anda menyadari kalau saya benar-benar ada. Saya bukan produk dari imajinasi Anda. Saya dapat melakukan aksi dan memberi hasil. Saya makhluk hidup nyata.”

“Beritahu saya, Tuan Bangkong.”

“Saya mohon,” kata Bangkong, mengangkat satu jari. “Panggil saya ‘Bangkong’.”

“Beritahu saya, Bangkong,” kata Katagiri, “apa yang Anda lakukan pada mereka?”

“Oh, tidak banyak,” kata Bangkong. “Tidak ada yang jauh lebih rumit daripada merebus kubis Brussel. Saya hanya sedikit menakut-nakuti mereka. Sentuhan terror psikologis. Seperti Joseph Conrad pernah tulis, terror sesungguhnya adalah sesuatu yang manusia rasakan lewat imajinasi mereka. Tapi jangan dipikirkan, Tuan Katagiri. Ceritakan tentang kasus Big Bear. Beres, kan?”

Katagiri mengangguk dan menyalakan rokok. “Kelihatannya.”

“Jadi, apakah saya berhasil mendapat kepercayaan Anda berkaitan dengan masalah yang saya singgung dengan Anda semalam? Anda akan bergabung dengan saya untuk melawan Cacing?”

Mendesah, Katagiri melepas kacamatanya dan mengusap matanya. “Sejujurnya, saya tidak terlalu gila tentang ide tersebut, tapi saya kira saya tidak cukup pantas.”

“Tidak,” kata Bangkong. “Ini soal tanggung jawab dan kehormatan. Anda mungkin tidak terlalu ‘gila’ tentang ide tersebut, tapi kita tidak punya pilihan: Anda dan saya harus pergi ke bawah tanah dan menghadapi Cacing. Jika kita harus kehilangan nyawa karenanya, kita tidak akan memperoleh simpati dari siapa pun. Dan bahkan jika kita berhasil mengalahkan Cacing, tidak ada yang akan memuji kita. Tidak seorang pun akan tahu bahwa pertempuran hebat sedang terjadi jauh di bawah kaki mereka. Hanya Anda dan saya yang akan tahu, Tuan Katagiri. Pada akhirnya, ini akan menjadi pertempuran yang sunyi.”

Katagiri menatap tangannya sendiri untuk sementara waktu, kemudian memperhatikan asap mengepul dari rokoknya. Akhirnya, ia berbicara. “Anda tahu, Tuan Bangkong, saya hanya orang biasa.”

“Panggil ‘Bangkong,’ saya mohon,” kata Bangkong, tapi Katagiri mengacuhkannya.

“Saya benar-benar seorang pria biasa. Lebih rendah dari biasa-biasa. Saya akan botak, saya punya perut buncit, saya menginjak usia empat puluh bulan lalu. Kaki saya lemah. Dokter mengatakan kepada saya bahwa saya memiliki kecenderungan diabetes. Sudah tiga bulan atau lebih sejak saya terakhir tidur dengan wanita—dan saya harus membayarnya. Saya menerima beberapa pengakuan dalam divisi atas kemampuan saya menagih pinjaman, tetapi tidak ada rasa hormat yang nyata. Saya tidak memiliki satu orang yang menyukai saya, baik di tempat kerja atau dalam kehidupan pribadi saya. Saya tidak tahu bagaimana berbicara dengan orang lain, dan saya tak pandai berperilaku dengan orang yang belum dikenal, jadi saya tidak pernah memiliki teman. Saya tidak punya kemampuan atletik, saya tuli nada, pendek, phimotic, rabun jauh—dan astigmatic. Saya punya kehidupan yang mengerikan. Semua yang saya lakukan hanya makan, tidur, dan berak. Saya bahkan tidak tahu mengapa saya hidup. Mengapa orang seperti saya harus menjadi orang yang menyelamatkan Tokyo?”

“Karena, Tuan Katagiri, Tokyo hanya bisa diselamatkan oleh orang seperti Anda. Dan untuk orang-orang seperti Anda alasan saya mencoba untuk menyelamatkan Tokyo.”

Katagiri mendesah lagi, lebih dalam saat ini. “Baiklah, apa yang Anda ingin saya lakukan?”

*

Bangkong menjelaskan Katagiri rencananya. Mereka akan pergi ke bawah tanah pada malam 17 Februari (satu hari sebelum gempa yang diprediksi terjadi). Jalan masuk mereka akan melalui basement ruang boiler Tokyo Security Trust Bank cabang Shinjuku. Mereka akan bertemu di sana larut malam (Katagiri akan tinggal di gedung dengan dalih bekerja lembur). Di belakang gedung ada terowongan vertikal, dan mereka akan menemukan Cacing di bagian bawah dengan turun lewat tangga tali setinggi 150 kaki.

“Apakah Anda memiliki rencana pertempuran?” Tanya Katagiri.

“Tentu saja saya pikirkan. Kita tidak punya harapan untuk mengalahkan musuh seperti Cacing jika tanpa rencana pertempuran. Ia adalah makhluk berlendir: Anda tidak bisa membedakan mana mulutnya mana anusnya. Dan dia sebesar kereta komuter.”

“Apa rencana pertempuran Anda?”

Setelah jeda untuk berpikir, Bangkong menjawab, “Hmm, seperti yang sering disebutkan—’Diam adalah emas’?”

“Maksudnya saya tidak boleh menanyakannya?”

“Semacam itu.”

“Bagaimana jika saya takut kemudian kabur? Apa yang akan Anda lakukan, Tuang Bangkong?”

“‘Bangkong.’”

“Bangkong. Apa yang akan Anda lakukan?”

Katak berpikir sejenak lalu menjawab, “Saya akan bertempur sendirian. Kemungkinan saya mengalahkan dia sendirian mungkin sedikit lebih baik ketimbang peluang Anna Karenina dalam menghadang lokomotif kencang itu. Apakah Anda sudah membaca Anna Karenina, Tuan Katagiri?”

Ketika ia mendengar bahwa Katagiri tidak membaca novel, Bangkong menatapnya seolah-olah mengatakan, Sungguh memalukan. Rupanya Bangkong sangat menyukai Anna Karenina.

“Bagaimanapun, Tuan Katagiri, saya tidak percaya bahwa Anda akan meninggalkan saya untuk bertempur seorang diri. Saya yakin. Ini pertanyaan soal kejantanan—yang, sayangnya, saya tidak punya. Ha ha ha ha!” Bangkong tertawa dengan mulut terbuka lebar. Bukan hanya kejantanan yang tidak dimiliki Bangkong. Dia pun tidak punya gigi.

*

Bagaimanapun, hal tak terduga selalu terjadi.

Katagiri ditembak pada malam 17 Februari setelah ia selesai berkeliling sepanjang hari dan berjalan menyusuri jalan di Shinjuku dalam perjalanan kembali ke Trust Bank ketika seorang pria muda dengan jaket kulit melompat di depannya. Wajah pria itu kosong, dan dia mencengkeram pistol hitam kecil di satu tangannya. Pistolnya yang begitu kecil dan begitu hitam itu hampir tidak tampak nyata. Katagiri menatap objek di tangan pria itu, tidak menyangka bahwa pistol itu terarah pada dirinya dan bahwa orang itu menarik pelatuk. Itu semua terjadi terlalu cepat: itu tidak masuk akal baginya. Tapi pistol sudah meletus.

Katagiri melihat laras bedil menyentak di udara dan, pada saat yang sama, merasakan dampak seolah-olah seseorang memukul bahu kanannya dengan palu godam. Dia tidak merasakan sakit, tapi gebrakan itu membuatnya terkapar di trotoar. Tas kulit di tangan kanannya terlempar ke arah lain. Pria itu mengarahkan pistol ke arahnya sekali lagi. Tembakan kedua terdengar. Sebuah papan nama restoran kecil di trotoar meledak di depan matanya. Dia mendengar orang-orang berteriak. Kacamatanya terlepas, dan segala sesuatu menjadi kabur. Dia samar-samar menyadari bahwa orang itu mendekati dengan pistol mengarah padanya. Aku akan mati, pikirnya. Bangkong telah mengatakan bahwa teror sebenarnya adalah apa yang manusia rasakan lewat imajinasi mereka. Katagiri terputus dari imajinasinya dan tenggelam ke dalam keheningan tanpa beban.

*

Ketika ia terbangun, ia berada di atas tempat tidur. Ia membuka satu mata, mengambil waktu sejenak untuk mengamati sekitarnya, dan kemudian membuka mata satunya. Hal pertama yang memasuki bidang pandangnya adalah sangkutan logam di kepala tempat tidur dan tabung infus yang membentang dari sangkutan tadi ke tempat ia berbaring. Berikutnya ia melihat seorang perawat berpakaian putih. Dia menyadari bahwa dia berbaring telentang di ranjang keras dan memakai pakaian dengan potongan aneh, yang mana ia tampaknya telanjang.

Oh ya, pikirnya, aku sedang berjalan di sepanjang trotoar ketika seorang pria menembakku. Mungkin di bahu. Sebelah kanan. Dia menghidupkan kembali adegan dalam pikirannya. Ketika ia mengingat pistol hitam kecil di tangan pemuda itu, jantungnya berdebar hebat. Pria celaka itu mencoba membunuhku! pikirnya. Tapi tampaknya aku masih baik-baik saja. Ingatanku juga tak bermasalah. Aku tidak merasa sakit. Dan bukan hanya rasa sakit: Aku tidak punya perasaan apapun sama sekali. Aku tidak bisa mengangkat lenganku. . .
Kamar rumah sakit tidak memiliki jendela. Dia tidak tahu apakah itu siang atau malam. Dia ditembak sebelum pukul lima di malam hari. Berapa banyak waktu telah berlalu sejak saat itu? Apakah jam pertemuan malam hari dengan Bangkong telah berlalu? Katagiri mencari-cari jam di kamar itu, tapi tanpa kacamatanya ia tidak bisa melihat apa-apa di kejauhan.

“Permisi,” dia memanggil perawat.

“Oh, bagus, Anda akhirnya siuman,” kata perawat.

“Jam berapa sekarang?”

Dia melihat jam tangannya.

“Sembilan lebih lima belas.”

“SORE?”

“Jangan konyol, ini sudah pagi!”

“Sembilan-lima belas pagi?” Katagiri mengerang, susah payah berusaha untuk mengangkat kepalanya dari bantal. Bunyi kasar yang muncul dari tenggorokannya terdengar seperti suara orang lain. “Sembilan-lima belas pagi pada 18 Februari?”

“Ya,” kata perawat, mengangkat lengannya sekali lagi untuk memeriksa tanggal pada jam tangan digital nya.

“Hari ini tanggal 18 Februari 1995.”

“Apakah ada gempa besar di Tokyo pagi ini?”

“Di Tokyo?”

“Di Tokyo.”

Perawat menggeleng. “Tidak sejauh yang saya tahu.”

Dia menarik napas lega. Apapun yang terjadi, gempa setidaknya telah dihindari.

“Bagaimana dengan luka saya?”

“Luka Anda?” Tanyanya. “Apanya yang luka?”

“Saya ditembak.”

“Ditembak?”

“Ya, di dekat pintu masuk ke Trust Bank. Seorang pria menembak saya. Di bahu kanan, saya pikir.”

Perawat melontarkan senyum gugup ke arahnya. “Maaf, Pak Katagiri, tetapi Anda tidak ditembak.”

“Saya tidak ditembak? Apakah Anda yakin?”

“Seyakin bahwa tidak ada gempa pagi ini.”

Katagiri tertegun. “Lalu kenapa saya bisa ada di rumah sakit?”

“Seseorang menemukan Anda tergeletak di jalan, tak sadarkan diri. Di daerah Kabukicho Shinjuku. Anda tidak memiliki luka eksternal. Anda hanya kedinginan. Dan kami masih belum menemukan mengapa. Dokter akan segera datang. Anda sebaiknya berbicara dengannya.”

Tergeletak di jalan tak sadarkan diri? Katagiri sangat yakin ia melihat pistol terarah padanya. Dia mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk meluruskan pikirannya. Dia akan mulai dengan menyusun semua fakta dalam urutan.

“Maksud Anda, saya sudah berbaring di kasur rumah sakit ini, tidak sadarkan diri, sejak sore kemarin, benar?”

“Benar,” kata perawat. “Dan tidur Anda benar-benar tak tenang, Tuan Katagiri. Anda nampaknya mendapat mimpi buruk yang mengerikan. Saya mendengar Anda berteriak, ‘Bangkong! Hei, Bangkong!” Anda melakukannya berkali-kali. Anda punya teman dengan panggilan ‘Bangkong’?”

Katagiri menutup matanya dan mendengarkan irama jantungnya yang lambat layaknya menandai menit hidupnya. Berapa banyak dari apa yang dia ingat benar-benar terjadi, dan berapa banyak yang halusinasi? Apakah Bangkong benar-benar ada, dan Bangkong bertempur melawan Cacing untuk menghentikan gempa? Atau semua itu bagian dari mimpi yang panjang? Katagiri tidak tahu mana yang benar lagi.

*

Cerpen Haruki Murakami

Bangkong datang ke kamar rumah sakit malam itu. Katagiri terbangun untuk menemukan dirinya dalam cahaya redup, duduk di kursi lipat besi, punggungnya bersandar ke dinding. Kelopak mata hijau besar Bangkong yang menonjol tertutup dalam suatu garis lurus.

“Bangkong!” Katagiri memanggilnya.
Bangkong perlahan membuka matanya. Perut putih besar menggembung dan menyusut dengan napasnya.

“Saya bermaksud untuk bertemu dengan Anda di ruang boiler di malam hari seperti yang saya janjikan,” kata Katagiri, “tapi saya mengalami kecelakaan malam kemarin— sesuatu yang sama sekali tak terduga — dan mereka membawa saya ke sini.”

Bangkong menggoyangkan kepalanya sedikit. “Saya tahu. Tidak apa-apa. Jangan khawatir. Anda sangat membantu saya dalam pertempuran saya, Tuan Katagiri.”

“Benarkah?”

“Ya benar. Anda melakukan pekerjaan besar dalam mimpi Anda. Itulah yang membuatnya mungkin bagi saya untuk melawan Cacing untuk menyelesaikan. Saya harus berterima kasih atas kemenangan saya ini.”

“Saya tidak mengerti,” kata Katagiri. “Saya tidak sadarkan diri sepanjang waktu. Mereka menginfus saya. Saya tidak ingat melakukan sesuatu dalam mimpi saya.”

“Itu bagus, Tuan Katagiri. Lebih baik Anda tidak ingat. Seluruh pertempuran mengerikan terjadi di dalam imajinasi. Itu adalah lokasi yang tepat dari medan perang kita. Di sanalah tempat kita mengalami kemenangan dan kekalahan kita. Masing-masing dan setiap orang dari kita adalah makhluk dari durasi terbatas: kita semua akhirnya kalah. Tapi seperti Ernest Hemingway melihat begitu jelas, nilai akhir dari hidup kita ditentukan bukan oleh bagaimana kita menang, tapi dengan bagaimana kita kalah. Anda dan saya bersama-sama, Tuan Katagiri, mampu mencegah pemusnahan Tokyo. Kita menyelamatkan seratus lima puluh ribu orang dari jurang kematian. Tidak ada yang menyadari hal itu, tapi itu adalah apa yang kita capai.”

“Bagaimana Anda bisa mengalahkan Cacing? Dan apa yang saya lakukan?”

“Kita mengeluarkan semua yang kita miliki dalam pertarungan sampai akhir yang pahit. Kita—” Bangkong mengatupkan mulutnya dan mengambil satu napas besar,”—kita menggunakan setiap senjata yang bisa tangan kita raih, Tuan Katagiri. Kita mengerahkan semua keberanian yang kita miliki. Kegelapan adalah sekutu musuh kita. Anda membawa generator bertenaga kaki dan menggunakan tenaga Anda untuk mengisi tempat dengan cahaya. Cacing mencoba untuk menakut-nakuti Anda dengan hantu-hantu dari kegelapan, tapi Anda tetap bertahan. Kegelapan bersaing dengan cahaya dalam pertempuran mengerikan, dan dalam terang saya bergulat dengan Cacing menjijikan itu. Dia bergelung di sekitar saya, dan melumuri saya dengan lendir mengerikannya. Aku mencabik-cabiknya, tapi ia masih menolak untuk mati. Semua yang dia lakukan adalah membagi menjadi potongan kecil. Lalu — ”

Bangkong terdiam, tapi segera, seakan penghabisan kekuatan terakhirnya, ia mulai berbicara lagi. “Fyodor Dostoyevsky, dengan kelembutan yang tak tertandingi, menggambarkan orang-orang yang telah ditinggalkan oleh Tuhan. Ia menemukan kualitas yang berharga dari eksistensi manusia dalam paradoks mengerikan dimana orang-orang yang telah menemukan Tuhan adalah yang ditinggalkan Tuhan. Berkelahi dengan Cacing dalam kegelapan, saya menemukan diri saya memikirkan ‘White Nights’-nya Dostoevsky. Aku. . . ” Kata-kata Bangkong seperti tenggelam. “Tuan Katagiri, apakah Anda keberatan jika saya tidur sejenak dulu? Saya benar-benar kelelahan.”

“Silakan,” kata Katagiri. “Tidur yang nyenyak.”

“Saya akhirnya tak mampu mengalahkan Cacing,” kata Bangkong, menutup matanya. “Saya berhasil untuk menghentikan gempa, tapi saya hanya mampu membuat pertempuran jadi imbang. Saya memberi cedera pada dirinya, dan dia pada saya. Tetapi untuk mengatakan yang sebenarnya, Tuan Katagiri. . . ”

“Apa, Bangkong?”

“Saya memang seekor Bangkong murni, tapi pada saat yang sama saya punya dunia bukan Bangkong.”

“Hmm, saya tidak mengerti.”

“Begitu juga saya,” kata Bangkong, matanya masih tertutup. “Ini hanya perasaan yang saya miliki. Apa yang Anda lihat dengan mata Anda belum tentu nyata. Musuh saya adalah, antara lain, yang ada dalam diri saya. Dalam diri saya ada bukan-saya. Otak saya mulai dipenuhi lumpur. Lokomotif mendekat. Tapi saya benar-benar ingin Anda untuk memahami apa yang saya katakan, Tuan Katagiri.”

“Anda lelah, Bangkong. Tidurlah. Anda akan baikan.”

“Saya perlahan-lahan, sedikit demi sedikit kembali ke lumpur, Tuan Katagiri. Dan lagi . . . Saya. . . ”
Bangkong kehilangan genggamannya pada kata-kata dan masuk dalam keadaan koma. Lengannya menjuntai hampir ke lantai, dan mulut lebar yang besar terkulai terbuka. Berusaha untuk memfokuskan matanya, Katagiri mampu melihat luka robek di sepanjang tubuh Bangkong. Goresan tak berwarna berlari melalui kulitnya, dan ada bagian di kepalanya mana daging telah terlepas.
Katagiri menatap lama dan keras pada Bangkong, yang duduk di sana sekarang dibungkus dalam jubah tidur tebal. Begitu aku keluar dari rumah sakit ini, pikirnya, aku akan membeli Anna Karenina dan White Nights dan membaca keduanya. Lalu aku akan berdiskusi panjang soal sastra bersama Bangkong.

Tak berselang lama, Bangkong mulai bergerak-gerak. Katagiri pada awalnya mengira bahwa ini hanyalah gerakan normal tak sadar saat tidur, tapi ia segera menyadari kesalahannya. Ada sesuatu yang tidak wajar tentang cara tubuh katak yang terus menyentak, seperti boneka besar yang terguncang oleh seseorang dari belakang. Katagiri menahan napas dan mengamati. Dia ingin berlari mendekati Bangkong, tapi tubuhnya sendiri tetap lumpuh.

Setelah beberapa saat, benjolan besar terbentuk di mata kanan Bangkong. Benjolan yang sama besar, mendidih jelek pecah di bahu dan pinggang Bangkong, kemudian seluruh tubuhnya. Katagiri tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Bangkong. Dia hanya bisa menjadikannya tontonan, hampir tidak bernapas.

Kemudian, tiba-tiba, salah satu benjolan pecah dengan letupan keras. Kulitnya beterbangan, dan cairan lengket mengalir keluar, mengirimkan bau yang mengerikan di seberang ruangan. Sisa dari benjolan mulai bermunculan, satu demi satu, dua puluh atau tiga puluh, melemparkan kulit dan cairan ke dinding. Bau memuakkan tak tertahankan memenuhi ruangan rumah sakit. Lubang hitam besar yang tersisa di tubuh Bangkong di mana benjolan pecah, dan menggeliat, cacing serupa belatung dari segala bentuk dan ukuran merangkak keluar. Belatung putih gembung. Setelahnya muncul semacam makhluk seperti lipan kecil, dengan ratusan kaki yang membuat suara gemerisik menyeramkan. Seolah tak ada habisnya datang merangkak keluar dari lubang. Tubuh bangkong — atau yang sebelumnya tubuh Bangkong — benar-benar tertutup dengan makhluk-makhluk malam ini. Dua bola mata besar jatuh dari rongganya ke lantai, di mana mereka dimakan oleh serangga hitam dengan rahang yang kuat. Kerumunan cacing berlendir berlomba merayapi tembok menuju langit-langit, di mana mereka menutupi lampu neon dan membenamkan ke alarm asap.

Lantai, juga, ditutupi dengan cacing dan serangga. Mereka memanjat lampu dan memblokir cahaya dan, tentu saja, mereka merayap ke tempat tidur Katagiri. Ratusan dari mereka masuk ke bawah selimut. Mereka merayap naik ke kakinya, di bawah pakaiannya, antara pahanya. Cacing terkecil dan belatung merayap di dalam anus dan telinga dan hidungnya. Lipan memaksa mulutnya terbuka dan merangkak masuk ke dalam satu demi satu. Dalam keputusasaan, Katagiri menjerit.

Seseorang menyalakan lampu dan cahaya memenuhi ruangan.

“Tuan Katagiri!” panggil perawat. Katagiri membuka matanya dengan cahaya. Tubuhnya bermandikan keringat. Serangga-serangga tadi lenyap. Yang tertinggal adalah sensasi berlendir mengerikan.

“Mimpi buruk lagi, ya? Sungguh malang.” Dengan gerakan cepat yang efisien perawat menyiapkan suntikan dan menusukkan jarum ke lengannya.
Katagiri mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Jantungnya mengembang dan berdetak keras.

“Apa yang Anda mimpikan?”

Katagiri mengalami kesulitan membedakan mimpi dari kenyataan. “Apa yang Anda lihat dengan mata Anda tidak selalu nyata,” katanya kepada dirinya sendiri dengan suara keras.

“Itu memang benar,” kata perawat dengan senyum. “Terutama dalam mimpi.”

“Bangkong,” gumamnya.

“Apakah sesuatu terjadi dengan Bangkong?” Tanyanya.

“Dia menyelamatkan Tokyo dari kehancuran karena gempa bumi. Semua oleh dirinya sendiri.”

“Itu bagus,” kata perawat, menggantikan botol infus kosong dekatnya dengan yang baru. “Kita tidak perlu hal-hal mengerikan terjadi di Tokyo. Kita sudah sering melewatinya.”

“Tapi nyawanya. Dia pergi. Saya pikir ia kembali ke dalam lumpur. Dia tidak akan pernah datang ke sini lagi.”

Tersenyum, perawat mengeringkan keringat dengan handuk pada dahi Katagiri. “Anda sangat menyukai Bangkong, kan, Tuan Katagiri?”

“Lokomotif,” Katagiri bergumam. “Lebih dari siapa pun.” Kemudian dia menutup matanya dan tenggelam ke dalam tidur tenang tanpa mimpi.

***

Diterjemahkan dari cerpen Super Frog Save Tokyo dalam buku After the Quake. Kumcer yang dibuat Haruki Murakami dalam rangka belasungkawa atas tragedi gempa bumi Kobe pada 1995. Sumber: www.yeaharip.com

Cerpen: Oompa Loompa

Dia bukan Charlie. Dia juga bukan Willy Wonka. Tetapi cita-citanya ingin mendirikan pabrik cokelat terbesar di dunia.

“Tapi, di Sumbawa, tanaman cokelat tidak akan tumbuh. Lebih baik kau beternak sapi di sini, Teruna…” Kata-kata orang yang skeptis atas keinginannya tidak diindahkan. Dia tahu betul, Sumbawa berbeda nasib dengan Lombok yang tanahnya dapat menumbuhkan apa pun. Tanah Sumbawa begitu gersang. Setiap kenalan barunya di media sosial bertanya, hasil bumi apa yang dimiliki Sumbawa, dia hanya bisa menjawab Sumbawa menghasilkan banyak tenaga kerja ke luar negeri. Ke Saudi, ke Qatar, ke Iran. Maka jangan heran, selain suku Bugis yang pernah melarikan diri dari Sulawesi ke tanah ini, orang-orang keturunan padang pasir juga banyak berkeliaran di Labuhan. Dari orang-orang itulah, Teruna sering mendapat cokelat. Cokelat Arab benar-benar berbeda dengan cokelat yang sering dibelinya di toko. Dia sangat menyukai cokelat Arab.

“Kalau kau begitu suka cokelat, kenapa tidak pergi ke sana sekalian?” rayu seorang calo TKI. Teruna tak suka Mustafa. Selain karena sudah beristri tiga, Mustafa terkenal suka merayu perempuan-perempuan muda untuk berangkat menjadi TKI dengan memberikan pinjaman berbunga tinggi. “Aku bisa membantumu pergi…” tawarnya lagi. Banyak yang tergoda untuk pergi. Tinggal di kampung sendiri seringkali seperti berada di neraka. Tidak mendapatkan pekerjaan. Nasib berakhir kawin muda, dengan status istri kesekian. Teruna tidak mau bernasib sama, Tetapi Teruna juga tidak mau pergi ke timur tengah, apalagi dengan meminjam uang Mustafa guna mengurus segala keperluan seperti paspor dan visa. Tidak tanggung-tanggung, lintah darat berjanggut itu kerap menaruh bunga hingga 100% per tahun. Orang-orang kampung yang tidak sekolah tidak jarang terenggut juga keluguannya oleh tawaran Mustafa itu.

“Kakak, tahu Oompa Loompa?” Teruna bertanya kepada Muji. Sudah seminggu ini Teruna berpraktik kerja lapangan di KPPN Sumbawa Besar. “Apa Oompa Loompa ada hubungannya dengan orang kerdil di Flores?” tanyanya lagi.

Tentu saja Muji tidak tahu. Ia masih sibuk mengurusi server yang sedang anjlok. Tidak ada SPM yang dapat diproses hari itu. Para petugas satuan kerja yang tumben datang sejak pukul delapan pagi terdengar menggerutu di ruang antrian.

“Coba kamu tanya Kak Diapinar? Biasanya dia tahu segalanya,” jawab Muji.

Teruna menghambur ke bagian umum. Diapinar sedang menyusun laporan bendahara. Melihat itu, dia jadi segan untuk bertanya. Di dalam situasi seperti ini, hanya orang-orang di front office yang menganggur. Teruna tahu sebagai anak PKL, dia tidak boleh masuk ke garis depan pencairan dana itu.

Sedang asik-asiknya menunduk, memperhatikan lorong dengan lebar hanya satu meter, tak cukup untuk dua orang berbadan sedikit gemuk bila saling berpapasan, satu sosok muncul dari pintu front office. Badannya gemuk. Rambutnya tampak baru dicukur. Ukuran 2cm. Matanya merah. Tapi laki-laki itu tersenyum dan menyapanya, “Kamu sedang memikirkan apa, Teruna?” Tak disangka dia tahu nama Teruna.

“Bapak tahu Oompa Loompa?” Teruna memanggilnya Bapak karena tampak uban sudah banyak di kepalanya.

“Jangan panggil aku Bapak. Aku tidak setua itu…”

“Maaf…”

“Pasti karena uban-ubanku kan?”

Teruna mengangguk. “Jadi, Kakak tahu Oompa Loompa?” Teruna bertanya yang sama.

“Kamu pasti semalam nonton di HBO kan? Willy Wonka mempekerjakan Oompa Loompa dengan pertukaran mereka dapat mengolah cokelat setiap saat. Itu menjijikkan.”

“Menjijikkan?”

“Kamu tahu, Oompa Loompa itu sebenarnya sebuah ungkapan. Ejekan atas kekerdilan cara berpikir kita.” Laki-laki muda beruban itu menggeleng-gelengkan kepalanya, mengelus-elus janggutnya, memilin-milin kumisnya yang tak pernah lebih dari 1 cm—dan tentu selalu gagal. “Tidak, tidak, kamu masih terlalu kecil untuk tahu lebih banyak…” lanjutnya lagi.

Daebak. Pantas saja sering Teruna dengar, orang-orang di kantor kas negara (yang sekarang bernama KPPN) adalah tempatnya segala tahu.

“Teruna, baiknya kamu belajar saja, biar pintar… ya?”

“Satu pertanyaan lagi, boleh nggak?”

“Tanya aja, tapi jangan kebanyakan bertanya, nanti nggak jalan-jalan…”

“Kakak suka cokelat?”

Mendengar pertanyaan itu, laki-laki tersebut mengelus perutnya, menarik lipatan-lipatan lemak di bawah dagu dan di sekitar lehernya. “Kalau di es krim ada gelate, di cokelat juga pasti ada cokelat rendah lemak. Tapi apa ada orang menjual cokelat rendah lemak dengan harga seperti cokelat merk ayam jago?” Matanya memias sebelum ia menambahkan, “Kamu masih kecil, Teruna. Pasti tak punya kenangan pada si Ayam Jago?”

“Aku ini perempuan, Kakak. Aku tak pernah bermain ayam jago.” Teruna salah paham. Teruna tahu, waktu membuatnya seperti lelaki. Jalannya tidak gemulai seperti perempuan pada umumnya, bahkan cenderung mengangkang. Beberapa lelaki menganggap cara jalannya berarti klaim bahwa Teruna sudah tak perawan. “Pasti Mustafa sudah mencicipinya,” atau, “Dia pasti perempuan bispak di sekolahnya.” Komentar-komentar seperti itu sudah sering Teruna dapatkan.

“Jadi berita bahwa kamu suka cokelat itu omong kosong?” Kakak di depannya bertanya itu sambil mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Sebatang cokelat. Ratu Silver.

Teruna menerimanya ragu. Baru kali ini ia bicara dengan lelaki-si petugas front office-tambun-beruban-bermata merah itu, ada kenyamanan di sana. Teruna tahu laki-laki itu baru ditinggal istrinya. Kebanyakan pegawai perbendaharaan menjadi jomblo lokal karena tidak dapat membawa istrinya sementara lelaki itu kebalikannya. Hidup sungguh aneh, pikir Teruna. Hari itu ia takut menjadi dewasa.

 

~

 

Orang-orang Sumbawa, dari Sumbawa Timur sampai Sumbawa Barat tak bosan-bosannya datang silih berganti dari pagi-pagi sekali di sebelah KPPN ini. Ialah kantor Imigrasi, tempat membuat paspor yang menjadi tujuan. Sebelum masuk kantor, Teruna kerap membantu Ama berjualan nasi bungkus dan air kelapa di seberang jalan. Ama menganggap Teruna sebagai anaknya. Meski beristri dua, Ama tak punya anak.

Kemarin Teruna mendengarkan pembicaraan Kak Muji dan lelaki itu yang baru ia tahu namanya—Onang Sadino. Ia mengamini soal kegagalan otonomi daerah bisa diparameteri dengan tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai di daerahnya sendiri. Lebih lanjut, Onang Sadino itu mengkritik formasi PNS di Sumbawa Besar yang banyak diisi orang-orang Lombok. “Begini sih sama saja dengan Banyuasin terhadap Palembang. Orang-orang Lombok yang bekerja di Sumbawa menerima uang dari pemerintah daerah Sumbawa, menyimpannya, dan dibawa pulang setidaknya satu bulan sekali ke Lombok, itu sama saja menihilkan fungsi konsumsi. Pertumbuhan ekonomi macet!” Kalimat-kalimat itu diucapkan berapi-api. Teruna tidak tahu apa-apa tentang ekonomi, tapi dari bicaranya, Teruna tahu itu meyakinkan.

Pasalnya pula, Sumbawa lambat maju. Jauh dibandingkan dengan Lombok Timur. Masyarakat menyalahkan ketidakadilan pada distribusi anggaran dan kepedulian Gubernur terhadap wilayah-wilayah di Sumbawa. Makanya, baru-baru ini makin santer isu pembentukan Provinsi Pulau Sumbawa pada tahun 2015. “Ah, itu pasti cuma akal-akalan Fahri Hamzah yang mau jadi gubernur PPS nantinya…” Onang Sadino berkata sinis. Tapi mungkin saja itu benar, Fahri Hamzah yang asal Alas itu rajin pulang dan mengoar-ngoarkan pembentukan PPS. Teruna tahu karena ia selalu ada setiap ada keramaian di Sumbawa untuk berjualan.

Kak Onang Sadino itu tampak di seberang jalan. Ia hendak menyeberang. Teruna tahu, kalau tidak membeli nasi kuning di kampung Arab, Kak Onang akan makan di tempat Ama. Ia akan memilih nasi bungkus berlambang T yang berisi telur lalu meminta segelas air kelapa, airnya saja. Teruna menatap lelaki itu, yang sedang menunduk memainkan tabletnya. Pasti sedang mengobrol dengan istrinya. Teruna berpikir, andai saja Kak Onang belum menikah, ia akan mau bersama lelaki itu, meski tambun-beruban-bermata merah sekalipun.

“Sampai kapan kamu magang?” Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Teruna. Kak Onang tahu-tahu sudah menatap Teruna tajam. “Kamu, apa cita-citamu? Tidak seperti mereka kan?” Pandangan kak Onang menuju orang-orang di kantor imigrasi.

“Tidak, Kak.  Teruna mau bikin pabrik cokelat,” jawab Teruna yakin.

“Mana ada cokelat di Sumbawa…” sahut Ama.

Mendengar itu Kak Onang mendekat ke Teruna, lalu memegang tangannya, “Teruna, bermimpilah. Jangan takut bermimpi. Swiss tidak punya cokelat, tapi bisa jadi tempat pabrik cokelat terbaik di dunia. Setidaknya di Sumbawa sudah banyak sapi. Susunya bisa diperah di sini.” Teruna tidak paham apa Kak Onang sedang menyemangati atau merayunya. “Omong-omong namamu lucu… Teruna, seperti teru-teru bozu.” Kali ini ucapan itu disertai dengan remasan yang lebih kencang di tangan kanannya.

Hari itu hujan tidak turun seperti hari-hari lainnya. Matahari di Sumbawa masih sembilan adanya. Dipandanginya kantor Imigrasi itu lagi. Kak Onang Sadino pasti tidak tahu kalau Teruna adalah anak semata wayang. Orang tuanya sudah bercerai. Ibunya menjadi TKI di Saudi dan tak pernah pulang. Ayahnya sudah menikah lagi dan pergi entah ke mana.

Sejenak, Teruna lupa pada segala masalah di hidupnya. Ia menerima kembali satu batang cokelat dari Onang Sadino. Lelaki itu masih menatapnya tanpa bahasa.

Teruna tahu, cokelat itu bukan cokelat Arab yang digemarinya.

Teruna juga tahu ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan di dadanya saat tangannya digenggam.

Namun, ketika memakan sepotong cokelat itu, yang paling Teruna tidak tahu adalah dosa termanis bisa saja baru dimulai di dalam hidupnya

Tersesat di Kota Kucing, Haruki Murakami

Di stasiun Koenji, aku menaiki salah satu kereta cepat jalur Chuo. Gerbong yang aku tempati kosong, dan aku satu-satunya penumpang di gerbong tersebut. Hari ini aku tidak memiliki rencana atau kegiatan apapun sehingga aku dapat pergi ke manapun dan melakukan apapun sesuka hatiku. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan karena sekarang adalah musim panas, udara di sekitarku terasa sangat menyengat.

Kereta melaju melewati Shinjuku, Yotsuya, Ochanomizu, dan akhirnya tiba di Stasiun Pusat Tokyo. Semua penumpang berhamburan keluar kereta, begitu juga aku. Dengan langkah santai aku menuju ke sebuah bangku yang berada di sudut taman stasiun. Aku duduk sambil menjulurkan kedua kakiku yang terasa sangat penat karena lelah seharian dalam perjalanan panjang dari sebuah tempat terpencil yang tenang bernama Shibuya menuju kota metropolitan Tokyo.

Aku merenung sejenak dan mulai berpikir ke mana selanjutnya akan pergi. “Aku dapat pergi kemana pun aku mau,” ucapku dalam hati. “Sepertinya hari ini cuaca sangat panas. Mungkin aku harus pergi ke pantai atau menemukan sebuah kafe kecil untuk makan siang.” Aku mendongakkan kepala dan memperhatikan peta jalur kereta yang terlihat sangat rumit.

Pada saat itu juga aku menyadari apa yang sedang aku lakukan.

Aku mencoba menggelengkan kepala beberapa kali, namun pikiran-pikiran itu tidak mau pergi dari dalam kepalaku. Mungkin secara tidak sadar aku telah memutuskan untuk melakukannya tepat pada saat aku menaiki kereta di Koenji tadi pagi. Aku mendesah perlahan, lalu bertanya kepada seorang petugas di stasiun agar dapat sampai ke Chikura. Petugas tersebut segera membolak-balikkan halaman buku jadwal kereta yang tebal. Dia menyarankan agar aku mengambil kereta ekspress ke Tateyama yang akan berangkat pada jam 11.30, kemudian transit ke kereta lokal. Dengan begitu aku akan tiba di Chikura sekitar jam dua lewat. Aku membeli tiket pulang-pergi Tokyo-Chikura. Kemudian aku pergi ke restoran di stasiun dan memesan menu makan siang yang sangat sederhana yaitu sepiring nasi kari dan salad.

Mengunjungi ayah adalah sebuah rencana yang tidak menyenangkan bagiku. Hubunganku dengan ayah tidaklah terlalu dekat, dan ayah juga jarang memperlihatkan rasa mencintai layaknya seorang ayah kepada putra semata wayangnya. Dia telah pensiun empat tahun yang lalu, namun saat ini ia masuk ke sanatorium di Chikura yang khusus merawat pasien penderita gangguan kognitif. Selama ini, aku hanya mengunjunginya tidak lebih dari dua kali dalam setahun. Kunjungan pertama adalah pada saat ayah baru masuk ke sana, ketika aku, sebagai satu-satunya anggota keluarga, harus berada di sana untuk mengurus prosedur administrasi. Kunjungan yang kedua juga karena menyangkut masalah administrasi. Hanya dua kali itu saja!

Sanatorium di mana ayah dirawat berdiri pada sebidang tanah yang berada di dekat pinggir pantai kota Chikura. Bagunannya merupakan kombinasi aneh dari bangunan tua elegan yang terbuat dari kayu, dan bangunan tiga tingkat yang terbuat dari beton. Namun udara di sana segar dan selain suara ombak yang menderu-deru, tempat itu selalu sunyi di sepanjang hari.

Barisan pohon pinus yang ditanam di pinggir taman menghalau angin yang menerjang bangunan. Fasilitas kesehatan di sana sangat baik. Dengan asuransi kesehatan, bonus pensiun, tabungan, dan uang pensiun, ayah mungkin dapat menghabiskan seluruh sisa hidupnya di sana dengan nyaman.

Meskipun ayah tidak akan meninggalkan harta warisan yang besar, namun bagiku yang terpenting adalah agar ayah mendapat perawatan yang terbaik. Aku tidak ingin mengambil sedikitpun hartanya, dan aku juga tidak ingin memberikan atau membagi apapun kepadanya. Kami adalah dua manusia yang berbeda, datang dan pergi ke tempat yang berbeda pula. Kami hanya kebetulan saja pernah tinggal bersama dalam satu atap selama beberapa tahun. Hanya itu saja! Sayang sekali kalau akhirnya harus begini, namun sama sekali tidak ada hal yang dapat aku lakukan untuk mengubah ini semua.

Aku membayar makanan kepada kasir dan memberi tips kepada pelayan lalu pergi ke platform untuk menunggu kereta ke Tateyama. Satu-satunya teman seperjalananku kali ini adalah sebuah keluarga bahagia yang akan berlibur selama beberapa hari di pantai.

Kebanyakan orang berpikir bahwa hari Minggu adalah hari untuk beristirahat. Namun selama masa kecilku, aku tidak pernah menganggap hari Minggu sebagai hari yang dapat dinikmati dengan sepuas hati. Bagiku, hari Minggu sama seperti bulan yang hanya menampakkan sisi gelapnya saja. Karena ketika hari Minggu tiba, badan ini mulai terasa lemas dan sakit, serta selera makanku kadang-kadang hilang. Aku bahkan berharap agar hari Minggu tidak akan pernah tiba, namun doaku ini tidak pernah terkabulkan.

Ketika aku masih kecil, ayah bekerja di NHK—sebuah jaringan televisi dan radio pemerintah di Jepang—sebagai penagih biaya langganan. Setiap hari Minggu dia akan mengajakku bersamanya untuk menemaninya menagih pembayaran dari pintu ke pintu. Kami telah berkeliling seperti ini sejak sebelum aku masuk TK dan masih berlanjut saat aku duduk di kelas lima SD. Aku tidak tahu apakah penagih bayaran di NHK memang bekerja setiap hari termasuk hari Minggu, namun seingatku, ayah selalu bekerja seperti itu. Ayah malah bekerja dengan lebih antusias daripada biasanya, karena pada hari Minggu dia dapat menemui orang-orang yang tidak dapat ditemuinya di hari – hari lain.

Ayahku mempunyai beberapa alasan kenapa dia mengajakku. Alasan pertama adalah karena dia tidak ingin meninggalkan aku yang masih kecil sendirian di rumah. Pada hari Sabtu dan hari – hari libur, aku dapat pergi ke sekolah atau ke penitipan anak, namun tempat – tempat ini tutup pada hari Minggu. Alasan yang lain, kata ayah, adalah karena menurutnya seorang ayah harus menunjukkan kepada anaknya pekerjaan macam apa yang dilakukannya. Seorang anak harus mengetahui pekerjaan apa yang menghidupinya selama ini, dan dia juga harus dapat menghargai pentingnya bekerja. Semasa kecilnya, ayah sudah bekerja di ladang milik kakek, bahkan di hari Minggu, begitu juga di hari – hari lain pada waktu libur, dia bahkan harus libur sekolah pada saat – saat yang sibuk seperti sedang musim panen. Kehidupan seperti itu merupakan sebuah anugerah baginya hingga dia tumbuh dewasa.

Alasan ketiga, dan juga yang terakhir, merupakan alasan yang sangat egois, sehingga alasan ini meninggalkan bekas luka yang dalam di hatiku. Sebenarnya ayah sadar bahwa keberadaan anak kecil dapat membuat pekerjaannya menjadi lebih mudah. Bahkan orang yang telah memutuskan untuk tidak akan membayar akhirnya akan merogoh kantongnya jika ditatap oleh seorang anak kecil, oleh karena itulah ayah hanya berkeliling di rute yang sulit di hari minggu.

Aku telah merasa sejak awal bahwa inilah peran yang diinginkan ayah untukku, dan aku amat sangat membenci peran ini. Namun aku juga merasa bahwa aku harus melakukannya dengan secerdik mungkin untuk menyenangkan hatinya. Jika aku bisa membuatnya senang, maka dia akan memperlakukanku dengan baik. Mungkin saja bagi ayah, aku tidak lebih dari sekedar monyet yang terlatih.

Salah satu hal yang membuat hatiku lega adalah daerah di mana kami berkeliling jauh dari rumah. Kami tinggal di daerah pinggir kota Ichikawa, sementara kami selalu berkeliling di pusat kota. Paling tidak dengan cara begini aku tidak akan bertemu dengan orang-orang yang kukenal. Namun tak jarang ketika kami berkeliling di wilayah perbelanjaan, aku akan melihat seorang temanku di sana. Jika ini terjadi, aku selalu bersembunyi di balik punggung ayah agar tidak terlihat oleh temanku.

Pada hari Senin, teman – teman sekolahku akan berbincang dengan semangat tentang apa yang mereka lakukan di hari Minggu. Mereka pergi ke taman hiburan, kebun binatang, dan melihat pertandingan baseball. Di musim panas mereka berenang, dan di musim dingin mereka bermain ski. Tapi tidak ada yang dapat aku ceritakan. Pada hari Minggu, dari pagi sampai malam, aku dan ayah akan membunyikan bel ke rumah orang – orang asing, menundukkan kepala, lalu mengambil uang dari siapapun yang membukakan pintu. Jika ada yang tidak ingin membayar, ayah akan membujuk atau mengancamnya. Jika mereka mengeluarkan banyak alasan, ayah akan meninggikan suaranya. Terkadang dia akan mengucapkan sumpah serapah kepada mereka yang bandel!

Tentu saja pengalaman seperti ini bukanlah hal yang ingin aku ceritakan kepada teman – temanku. Aku merasa seperti orang asing di tengah – tengah masyarakat ekonomi menengah. Aku hidup dengan cara yang berbeda di dunia yang berbeda.

Untungnya nilai – nilai akademik dan olahragaku sangat tinggi. Sehingga, walaupun terlihat berbeda, aku tidak pernah merasa minder. Dalam banyak kesempatan, aku diperlakukan dengan hormat. Namun setiap kali teman – teman mengajakku pergi ke suatu tempat atau mengundangku ke rumah mereka di hari Minggu, aku akan menolak ajakan mereka dengan berbagai alasan. Ini membuat mereka berhenti mengajakku.

Terlahir sebagai putra tunggal di keluarga petani yang tinggal di wilayah Tohoku, ayah terkenal sangat keras, ia senang karena berhasil keluar dari rumahnya secepat mungkin untuk bergabung dengan kelompok perantau dan menempuh perjalanan sampai ke Manchuria pada tahun 1913. Mereka tidak percaya dengan omongan pemerintah yang mengatakan bahwa Manchuria adalah surga dengan tanah yang luas dan subur. Pada saat itu ayah sudah sadar bahwa ‘surga’ itu tidak ada. Keluarga ayah sangatlah miskin, dan tidak jarang dia merasa sangat kelaparan. Kemungkinan terbaik jika dia tetap tinggal di rumahnya adalah hidup menderita dan mati kelaparan. Di Manchuria, ayah dan perantau lainnya diberikan sedikit peralatan untuk bertani, dan mereka bersama – sama bercocok tanam di sana. Tanah di sana keras dan berbatu, dan pada waktu musim dingin semuanya membeku. Terkadang mereka menangkap dan memakan anjing liar. Meski begitu, dengan bantuan pemerintah selama beberapa tahun pertama, mereka berhasil bertahan hidup. Lambat laun kehidupan mereka mulai stabil. Namun semua berubah secara drastis ketika Uni Soviet menginvasi Manchuria dalam skala yang besar pada bulan Agustus 1945. Ayah telah menduga hal ini akan terjadi, karena sebelumnya seorang pejabat pemerintah yang telah menjadi temannya telah memberitahunya. Begitu dia mendengar berita bahwa Soviet telah menerobos perbatasan, dia segera menunggangi kudanya sampai ke stasiun kereta dan menaiki kereta terakhir ke Daien. Dia satu – satunya diantara teman – teman petaninya yang berhasil kembali ke Jepang sebelum akhir tahun.

Setelah perang berakhir, ayah merantau ke Tokyo dan mencoba bekerja sebagai tukang kayu dan penyelundup di pasar gelap. Namun penghasilannya amat sangat minim dan bahkan tidak cukup untuk makan sehari – hari. Saat itu dia sedang bekerja sebagai pengantar di toko minuman alkohol ketika dia bertemu dengan temannya yang dulu menjadi pejabat di Manchuria. Saat dia mengetahui bahwa ayah sulit menemukan pekerjaan dengan penghasilan yang pantas, dia menawarkan diri untuk merekomendasikan ayah pada temannya yang bekerja di bagian pelanggan NHK. Ayah dengan senang hati menyetujuinya. Dia hampir tidak mengetahui apa – apa tentang NHK, namun dia bersedia untuk mencoba apapun yang dapat menjanjikannya penghasilan tetap.

Ayah menjalankan pekerjaannya dengan sangat antusias. Kelebihannya yang paling menonjol adalah kekerasan hatinya di hadapan para saingannya. Bagi seseorang yang telah susah mencari makan semenjak kecil, menagih pembayaran di NHK bukanlah pekerjaan yang menyiksa. Ejekan dan cemooh dari orang lain tidak berarti apa – apa baginya. Terlebih lagi, dia merasa puas karena dapat menjadi bagian dari organisasi penting seperti NHK, walaupun hanya sebagai anggota di tingkat yang paling rendah. Ketekunannya dalam bekerja sangat luar biasa, sehingga setelah satu tahun bekerja sebagai penagih dengan bayaran per komisi, dia segera diangkat menjadi pegawai penuh. Ini merupakan sebuah pencapaian yang belum pernah dicapai oleh siapapun di NHK. Tidak lama setelah itu dia pindah ke apartemen milik perusahaan dan mengambil asuransi kesehatan dari perusahaan. Ini adalah runtutan keberuntungan terbesar yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Ayah jarang mau menyanyikan lagu tidur untukku di masa kecil, dia juga malas membacakan buku untukku saat aku hendak tidur. Malahan, dia sering menceritakan tentang pengalaman hidupnya.

Dia handal dalam bercerita. Pengalaman masa kanak – kanak dan mudanya memang tidak sarat akan makna, namun rincian ceritanya terasa sangat nyata. Ada kisah lucu, mengharukan, namun tak jarang ia gemar menceritakan pengalaman hidupnya yang keras.

Kehidupan ayah sungguh penuh dengan warna. Namun ketika ceritanya sampai ke bagian dimana dia menjadi pegawai di NHK, tiba – tiba ceritanya kehilangan daya tarik. Dia bertemu seorang wanita cantik, menikahinya, lalu mempunyai anak, aku, Tengo Kawana. Beberapa bulan setelah melahirkanku, ibu jatuh sakit lalu meninggal dunia. Sejak saat itu ayah membesarkanku seorang diri sambil bekerja di NHK.

Ayah tidak pernah mau menceritakan tentang bagaimana dia bertemu dan menikahi ibu, wanita seperti apa dia, apa yang menyebabkan kematiannya, atau apakah dia menderita sebelum meninggal atau tidak? Jika aku mencoba menanyakannya, maka ayah akan menghindari pertanyaanku. Sering kali pertanyaan – pertanyaan ini membuat hatinya sangat kesal. Tidak ada satupun foto ibu yang disimpannya.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mempercayai cerita ayah. Dia menyembunyikan cerita bahwa ibu tidak meninggal beberapa bulan setelah aku lahir. Di dalam ingatanku saat masih berumur satu setengah tahun, ibu sedang berdiri di samping tempat tidurku, dan seorang pria yang aku tahu bukan ayah sedang memeluknya dengan penuh hasrat. Pelan – pelan ibu melepaskan blus dan ikatan roknya, lalu membiarkan lelaki yang bukan ayahku itu berbuat sesuka hatinya. Sementara itu aku sedang tidur di samping mereka, dengan napas yang tidak terlalu keras. Namun di saat yang sama, aku tidak tertidur, aku justru sedang memperhatikan ibu dan segala gerak – geriknya.

Itulah gambaran terakhir yang aku rekam. Adegan berdurasi sepuluh detik tersebut telah melekat dengan jelas di dalam kepala. Satu – satunya informasi konkrit yang aku miliki tentang ibuku. Aku dan ibu terhubung oleh ikatan tipis yang terlihat seperti tali pusar seorang bayi. Ayah tidak mengetahui bahwa adegan ini ada dalam ingatanku. Seperti seekor sapi di tengah padang rumput, aku melahap informasi ini bagai rumput yang selanjutnya aku makan mentah – mentah. Ayah dan anak, masing – masing terkurung di dalam kegelapan rahasia mereka sendiri yang gelap dan begitu dalam.

Saat beranjak dewasa, aku sering bertanya – tanya apakah pria yang bukan ayahku itu adalah ayah kandungku. Ini karena aku sama sekali tidak mirip dengan ayahku yang sekarang. Aku memiliki tubuh yang tinggi, kening yang lebar, hidung mancung, dan daun telinga yang bundar. Sedangkan ayah bertubuh pendek, gemuk, dan sama sekali tidak menarik. Dia mempunyai kening kecil, hidung pesek, dan daun telinga yang lancip seperti kuda. Aku selalu bisa terlihat santai dan baik hati, sedangkan ayah cepat cemas dan tidak suka menolong orang. Jika sedang membandingkan kami berdua, orang – orang selalu membicarakan tentang perbedaan di antara kami.

Namun tetap saja, bukan perbedaan dalam hal fisik yang membuat aku sulit untuk menerima ayah, tapi karena perbedaan psikologis. Ayah sama sekali tidak menunjukkan tanda – tanda kecerdasan intelektual. Memang benar, dia terlahir dan hidup dalam kemiskinan sehingga dia tidak pernah mendapatkan pendidikan yang layak. Untuk hal ini, aku merasa sangat bersimpati terhadap keadaannya. Namun hasrat dasar untuk menimba ilmu — yang aku pikir merupakan sifat alamiah manusia — tidak terdapat di dalam dirinya. Dia memiliki pengetahuan praktikal yang membuatnya dapat bertahan hidup, namun aku tidak melihat adanya kemauan dalam diri ayah untuk memperdalam ilmu, dan melihat dunia dengan sudut pandang yang lebih luas.

Meskipun begitu, ayah tidak pernah terlihat menderita karena hidupnya yang sempit dan monoton. Aku tidak pernah melihatnya membaca buku. Dia tidak tertarik dengan musik atau film, dan dia tidak pernah pergi berlibur. Satu – satunya hal yang menarik baginya adalah rute berkelilingnya. Dia akan membuat map area yang akan dilaluinya, menandainya dengan pena warna, dan memeriksanya kapanpun dia ada kesempatan, layaknya seorang ahli biologi yang mempelajari kromosom.

Sebaliknya, aku selalu ingin tahu akan semua hal. Aku mempelajari dan memahami berbagai macam bidang studi dengan baik. Aku telah diakui sebagai murid jenius dalam bidang matematika semenjak usia dini, dan aku dapat menyelesaikan soal matematika untuk tingkat SMA saat aku duduk di kelas tiga SD.

Bagiku, matematika merupakan alat terbaik untuk melarikan diri dari dunia nyata. Dalam dunia matematika, aku dapat berjalan di sepanjang koridor kota, dan membuka pintu – pintu angka. Setiap kali aku menemui soal yang sulit, maka jejak buruk kenyataan dunia akan segera menghilang dari hadapanku. Selama aku bisa membuat diri ini sibuk menjelajahi dunia yang tak terbatas dan konsisten tersebut, aku akan merasa bebas.

Jika matematika merupakan bangunan khayalan yang menakjubkan, maka sastra merupakan hutan luas yang penuh sihir. Matematika menghampar naik ke atas surga, namun cerita sastra terhampar luas di depanku, akar – akarnya menembus jauh ke dalam perut bumi. Tidak ada map maupun pintu di sana. Semakin aku beranjak dewasa, hutan cerita mulai mencengkeram dan menarik hati ini lebih kuat daripada dunia matematika. Tetap saja, membaca novel hanyalah salah satu cara bagiku untuk melarikan diri, karena begitu aku menutup buku, aku segera kembali ke dunia nyata. Namun begitu, aku merasa bahwa kembali ke dunia nyata dari dunia novel tidak terlalu mengecewakan dibanding kembali dari dunia matematika. Kenapa bisa begitu? Setelah berpikir keras, aku mencapai sebuah kesimpulan.

Tidak peduli betapa jelasnya sebuah cerita, namun tidak pernah ada solusi yang jelas di sana, tidak seperti ketika aku menjelajahi dunia matematika. Peran sebuah cerita, dalam istilah yang paling luas, adalah untuk mengubah sebuah masalah ke dalam bentuk yang lain. Sebuah solusi bisa saja dapat ditarik dari naratifnya, tergantung dengan alamiah dan alur masalahnya. Aku selalu kembali ke dunia nyata dengan pemahaman tersebut. Rasanya seperti selembar kertas yang di atasnya tertulis mantra sihir yang tidak dapat dipecahkan. Mantra tersebut tidak mempunyai maksud secara langsung, namun masih mengandung makna terselubung.

Satu – satunya solusi yang mampu aku pecahkan berkat koleksi buku – buku bacaanku adalah; ayahku yang asli pasti berada di suatu tempat. Seperti seorang anak kecil malang di dalam novel Dickens, aku mungkin, entah karena situasi aneh macam apa, akhirnya dibesarkan oleh penipu yang mengaku sebagai ayah. Kemungkinan tersebut terasa seperti mimpi buruk namun juga harapan yang besar. Setelah membaca Oliver Twist, aku mulai membaca seluruh karya Dickens yang dapat aku temukan di perpustakaan. Ketika aku berjalan – jalan untuk mengarungi kisah – kisah dari Charles Dickens, aku mengubah khayalan kehidupanku dan semakin membenci diri sendiri. Khayalan ini tumbuh semakin panjang dan rumit. Khayalan yang tumbuh dengan satu bentuk, namun memiliki variasi yang tak terhingga. Di dalam semua khayalanku, aku meyakinkan diri sendiri bahwa aku hanya sekedar terjebak di dalam rumah ayah saja, dan suatu saat nanti kedua orang tuaku yang asli akan menemukan dan menyelamatkanku. Kemudian aku akan menikmati hari Minggu yang paling indah dan damai.

Ayah selalu bangga dengan nilai – nilai yang berhasil aku capai di sekolah, dan dia selalu menunjukkan nilai hasil ujianku ke para tetangga kami. Namun di saat yang sama, ayah juga menunjukkan tanda – tanda ketidaksenangan terhadap kecerdasan dan bakatku.

Kadang – kadang, ketika aku tengah sibuk belajar di kamar, ayah akan menggangguku, menyuruhku membersihkan rumah, dan mengomeli sikapku yang dianggap lancang terhadapnya. Isi omelan ayah selalu sama, ayah sedang sibuk bekerja keras, menempuh perjalanan yang jauh, dan menahan amarah ketika orang – orang menyumpahinya, sedangkan aku hanya hidup dengan bersantai – santai saja. “Ketika ayah seumuranmu, ayah sudah disuruh bekerja banting tulang. Kakek dan pamanmu selalu memukuli ayah jika ayah bersantai – santai. Mereka tidak pernah memberikan ayah makan yang cukup. Mereka memperlakukan ayah seperti binatang. Ayah tidak mau kau merasa spesial hanya karena nilai – nilaimu tinggi!”

Dia iri denganku, pikirku. Entah dia iri denganku atau dengan kehidupanku. Tapi, apakah seorang ayah memang akan iri dengan anaknya sendiri?

Bukannya aku mau menuduh ayah, tapi aku memang merasakan adanya rasa cemburu dalam perkataan maupun perbuatannya. Ayah tidak membenci kehadiranku, tapi dia lebih sering membenci sesuatu yang ada di dalam diriku, sesuatu yang tidak dapat dimaafkannya.

Ketika kereta yang aku tumpangi bergerak meninggalkan stasiun Tokyo, aku mengeluarkan buku yang aku bawa dari rumah. Buku tersebut merupakan sebuah antologi cerita pendek dengan tema perjalanan, dan di dalamnya terdapat cerita berjudul “Kota Kucing”, sebuah karya fantastis yang ditulis oleh penulis Jerman yang tidak begitu kukenal. Berdasarkan kata pengantar yang ada di halaman depan buku, cerita tersebut ditulis pada periode antara dua Perang Dunia.

Dalam kisah tersebut, seorang pemuda bepergian sendirian tanpa ada tujuan. Dia menumpangi kereta dan turun di pemberhentian manapun yang menarik perhatiannya.
Dia menyewa sebuah kamar, berkeliling menikmati pemandangan, dan tinggal selama yang dia inginkan. Ketika dia sudah merasa puas, dia kembali menaiki kereta lain. Dia sangat menikmati liburannya dengan cara seperti itu.

Suatu hari, dia melihat sebuah sungai yang indah dari jendela kereta. Bukit – bukit hijau berbaris di sepanjang alirannya, dan di kejauhan terlihat sebuah kota kecil yang indah dengan jembatan batu tua. Kereta berhenti di stasiun di kota tersebut, dan dia turun membawa tasnya. Tidak ada penumpang lain yang ikut turun, dan begitu dia turun, kereta segera berangkat kembali.

Tidak ada seorangpun yang bekerja di stasiun. Dia berpikir hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada banyak kegiatan di stasiun ini. Sang pemuda menyeberangi jembatan batu dan berjalan menuju kota. Semua toko tutup, dan alun – alun kota terlihat kotor dan telah lama terbengkalai. Hanya ada satu hotel di sana, dan tidak ada orang yang melayani di meja penerima tamu. Tempat itu tampak tidak berpenghuni. Mungkin semua orang sedang tidur siang di suatu tempat. Tapi sekarang baru jam setengah sebelas pagi, masih lama sebelum waktu tidur siang.

Mungkin sesuatu telah terjadi dan membuat semua orang meninggalkan kota ini. Walau bagaimanapun, kereta selanjutnya tidak akan tiba sampai besok pagi, sehingga dia tidak punya pilihan selain bermalam di sana. Dia berjalan berkeliling kota untuk menghabiskan waktu.

Sebenarnya, ini adalah kota kucing. Ketika matahari mulai terbenam, banyak kucing liar — dengan jenis dan warna yang berbeda — menyeberangi jembatan secara bergerombolan. Mereka memiliki ukuran yang lebih besar daripada kucing biasa, namun mereka tetaplah kucing liar. Sang pemuda terkejut melihat pemandangan ini. Dia segera berlari menuju menara lonceng yang terdapat di tengah kota, lalu naik sampai ke puncaknya untuk bersembunyi. Para kucing mulai berkeliaran di sekitar kota.

Ada yang membuka penutup toko, atau pergi ke kantor untuk memulai kerja. Tidak lama berselang, muncul segerombolan kucing lain dalam jumlah yang lebih banyak dan mereka mulai menyeberangi jembatan seperti yang dilakukan oleh kelompok sebelumnya. Mereka masuk ke toko – toko untuk berbelanja, pergi ke kantor pemerintahan untuk menyelesaikan urusan administrasi, makan di restauran hotel, atau meminum bir di kedai dan menyanyikan lagu – lagu kucing dengan semangat. Karena kucing dapat melihat dalam kegelapan, maka mereka hampir tidak membutuhkan lampu sama sekali. Namun khusus malam hari itu, rembulan bersinar terang dan cahayanya menerangi seluruh kota. Sang pemuda dapat melihat kegiatan di kota dengan jelas dari tempat persembunyiannya di menara lonceng. Ketika fajar menyingsing, para kucing menyelesaikan pekerjaan mereka, menutup kembali pintu toko, dan berjalan teratur menyeberangi jembatan.

Saat matahari telah terbit, tidak ada satupun kucing yang terlihat di sana, dan kota tersebut kembali sunyi. Sang pemuda turun dari menara lonceng, lalu tidur di salah satu kamar di hotel. Jika dia merasa lapar, dia memakan roti dan ikan yang tersisa di dapur hotel. Ketika malam mendekat, dia kembali bersembunyi di menara lonceng dan memperhatikan kegiatan para kucing sampai fajar.

Beberapa kali kereta berhenti di stasiun sebelum siang dan sore hari. Tidak ada penumpang yang turun maupun naik ke kereta. Namun tetap saja, kereta selalu berhenti tepat selama satu menit, kemudian kembali berangkat. Dia bisa saja naik ke salah satu kereta, dan meninggalkan kota kucing yang aneh ini. Tapi dia memutuskan untuk tidak melakukannya. Karena dia masih muda, rasa ingin tahunya sangat menggebu – gebu dan dia selalu siap melakukan petualangan apapun. Dia masih ingin melihat peristiwa aneh ini lebih lama. Dia ingin mengetahui sejak kapan dan bagaimana tempat ini berubah menjadi kota kucing.

Pada malam ketiga, sebuah keributan terjadi di alun – alun di bawah menara. “ Hey, apa kau mencium bau manusia? ” tanya seekor kucing.

“Ya, aku rasa memang ada bau aneh beberapa hari ini,” sahut kucing lain sambil mengendus dengan hidungnya. “Aku juga,” jawab yang lain. “Aneh. Padahal tidak ada manusia yang tinggal di sini,” tambah seekor kucing. “Tentu saja tidak. Tidak mungkin ada manusia yang bisa masuk ke kota ini.” “Lalu kenapa ada bau manusia di sini?”

Para kucing mulai menyisir seluruh kota secara berkelompok. Mereka hanya membutuhkan waktu sebentar saja untuk memastikan bahwa menara lonceng merupakan sumber dari bau manusia. Sang pemuda mendengar langkah kaki kucing menaiki tangga. Mereka telah menemukanku! Pikirnya. Sepertinya baunya telah memicu amarah para kucing.

Manusia tidak diperbolehkan memasuki kota tersebut. Para kucing memiliki cakar dan taring yang besar dan tajam. Pemuda itu tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika para kucing berhasil menangkapnya, tapi dia yakin bahwa mereka tidak akan membiarkannya meninggalkan kota dalam keadaan hidup.

Tiga ekor kucing memanjat sampai ke puncak menara dan mengendus udara. “ Aneh, ” ujar seekor kucing dengan kumis bergoyang – goyang, “ Aku mencium bau manusia, tapi tidak ada seorangpun di sini. ” “ Ya, ini aneh, ” sahut kucing lain. “ Tapi memang tidak ada seorangpun di sini. Ayo pergi dan cari di tempat lain. ”

Para kucing memiringkan kepala mereka, kebingungan, kemudian kembali turun ke bawah. Sang pemuda mendengar langkah kaki mereka perlahan menghilang di kegelapan malam. Dia menghembuskan nafas lega, tapi dia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Mereka tidak dapat menemukannya. Tapi entah kenapa, mereka tidak dapat melihatnya. Walau bagaimanapun, dia memutuskan bahwa dia akan segera pergi ke stasiun begitu pagi menjelang dan naik kereta meninggalkan kota. Keberuntungannya tidak akan mungkin bertahan selamanya.

Namun esoknya, tidak ada kereta yang berhenti di stasiun. Semua kereta hanya melaju melewatinya tanpa menurunkan kecepatan.

Begitu juga dengan kereta sore. Dia dapat melihat seorang kondektur di gerbong kendali. Tapi kereta – kereta tersebut tidak menunjukkan tanda – tanda akan berhenti. Seolah tidak ada yang melihat seorang pemuda menunggu di stasiun — atau bahkan stasiun itu sendiri. Ketika kereta sore menghilang di ujung rel, tempat itu menjadi lebih sunyi daripada biasanya. Matahari mulai terbenam. Waktunya bagi para kucing memasuki kota. Sang pemuda sadar bahwa dia telah tersesat. Tempat tersebut merupakan dunia lain yang disiapkan secara khusus untuknya. Dan tidak akan ada lagi kereta yang berhenti di stasiun ini untuk membawanya kembali ke dunia asalnya.

Aku membaca kisah tersebut dua kali. Frasa ‘tempat di mana dia ditakdirkan untuk tersesat’ menarik perhatiannya. Dia menutup bukunya dan membiarkan matanya menerawangi pemandangan area industri yang terlihat dari jendela kereta. Tidak lama kemudian dia tertidur — bukan tidur panjang namun tidur yang sangat dalam. Dia terbangun bersimbah keringat. Kereta sedang berjalan melewati pesisir selatan semenanjung Boso.

Dulu, saat aku duduk di kelas lima, aku memutuskan untuk berhenti berkeliling dengan ayah di hari Minggu. Aku mengatakan pada ayah bahwa aku ingin menghabiskan waktu luang dengan belajar, membaca buku, dan bermain bersama anak – anak yang lain. Aku ingin hidup normal seperti orang lain.

Aku hanya mengatakan apa yang perlu aku katakan dengan ringkas dan mudah dimengerti.

Di luar dugaanku, ayah naik pitam. Dia tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh keluarga lain.

“ Kita punya cara hidup sendiri, nak. Dan jangan kau berani berkata padaku tentang ‘kehidupan normal’, Tuan Sok Tahu. Apa yang kau tahu tentang ‘kehidupan normal’?” Aku sama sekali tidak mencoba membantahnya. Aku hanya balik menatapnya dengan hening, sadar bahwa semua perkataanku tidak akan bisa dimengerti olehnya. Akhirnya, ayah mengatakan bahwa jika aku tetap tidak mau mematuhinya, maka dia akan berhenti memberiku makan. Dengan kata lain, aku harus angkat kaki dari rumah.

Aku mematuhi apa yang dikatakan ayah. Aku telah membulatkan tekad. Daripada takut, aku malah merasa lega, karena akhirnya aku diberikan izin untuk meninggalkan kurungan ini. Namun tidak mungkin seorang anak berusia sepuluh tahun dapat hidup sendiri. Ketika kelas telah berakhir, aku mengungkapkan semua kemalangan yang kualami kepada guruku.

Dia adalah seorang guru wanita berumur tiga puluhan dan hidup lajang. Dia juga guru yang baik hati dan berpikiran terbuka. Dia mendengarkan kisahku dengan penuh simpati. Malam harinya dia berkunjung ke rumah kami untuk berdiskusi dengan ayah.

Aku disuruh meninggalkan ruang tamu, sehingga aku tidak tahu apa yang mereka katakan, namun akhirnya ayah mengalah. Tidak peduli seberapa marahnya dia kepadaku, dia tetap tidak boleh membiarkan anak berumur sepuluh tahun berkeliaran di jalan sendirian. Kewajiban orang tua untuk menghidupi anaknya diatur oleh hukum.

Setelah ibu guru selesai berbicara dengan ayah, aku diizinkan untuk menghabiskan hari Minggu sesuka hati. Ini merupakan hak pertama yang pernah aku peroleh dari ayah. Kini aku telah selangkah lebih jauh menuju kebebasan dan kemerdekaan.

Di meja resepsionis sanatorium, aku memberikan nama dan nama ayah.

Perawat yang kebetulan sedang bekerja saat itu bertanya, “ Apa anda telah memberi tahu bahwa Anda akan berkunjung hari ini? ” suaranya terdengar serak. Perawat tersebut berperawakan kecil, dia mengenakan kacamata dengan bingkai besi, dan rambutnya yang pendek mulai tampak beruban.

“ Tidak, tiba – tiba saja aku ingin berkunjung pagi ini dan segera berangkat dengan kereta, ” jawabku apa adanya.

Sang perawat menatapku dengan ekspresi setengah jijik. Kemudian dia berkata,

“ Pengunjung seharusnya memberi tahu kami terlebih dahulu sebelum menjenguk pasien. Kami mempunyai jadwal sendiri, dan keinginan pasien juga harus dipertimbangkan. ”

“ Maaf, aku tidak tahu. ”

“ Kapan terakhir kali Anda berkunjung ? ”

“ Dua tahun lalu. ”

“ Dua tahun lalu, ” ulangnya sambil memeriksa daftar pengunjung dengan pena di tangannya. “Maksudnya Anda tidak pernah berkunjung sekalipun selama dua tahun ini? ”

“ Benar. ” jawabku.

“ Menurut catatan kami, Anda adalah satu – satunya kerabat Tuan Kawana. ”

“ Ya, benar. ”

Dia melihatku sepintas, tapi tidak mengatakan apa – apa. Dia tidak sedang menghakimiku, dia hanya mengkonfirmasi fakta. Lagipula, kasus seperti keluargaku ini bukanlah yang pertama kali.

“ Saat ini ayah Anda sedang mengikuti kelompok rehabilitasi, dan akan selesai dalam setengah jam. Kemudian barulah anda dapat menemuinya. ”

“ Bagaimana keadaannya? ”

“ Secara fisik, dia sehat. Namun kondisinya yang lain belum stabil, ” jawab sang perawat sambil mengetuk – ngetuk dahinya dengan jari telunjuk.

Aku mengucapkan terima kasih kemudian beranjak pergi dan menunggu di ruang santai yang berada di dekat pintu masuk sambil melanjutkan membaca buku. Angin semilir masuk melalui jendela, membawa terbang aroma laut dan pinus dari luar. Jangkrik musim panas bertengger di pepohonan, mengeluarkan suara sekencang – kencangnya. Musim panas kini sampai pada puncaknya, tapi para jangkrik seolah tahu bahwa musim panas tidak akan bertahan selamanya.

Setelah menunggu cukup lama, seorang perawat berkacamata datang memberitahu bahwa aku dapat menemui ayah sekarang. “ Akan saya tunjukkan kamar ayah Anda, ” ucapnya. Aku berdiri dari sofa, dan ketika aku melewati cermin besar yang digantung di dinding, aku baru sadar betapa semrawut pakaian yang aku kenakan, selembar kaos Tur Jeff Beck yang dibalut kemeja dengan kancing terbuka dan tidak sesuai, celana Chinos dengan noda saos pizza di dekat lutut, dan topi baseball — sungguh pakaian yang tidak mungkin dikenakan oleh putra berumur tiga puluh tahun yang mengunjungi ayahnya untuk pertama kalinya dalam dua tahun belakangan. Ditambah lagi aku tidak membawa apapun yang dapat dijadikan buah tangan untuk ayah. Pantas saja perawat tadi memandangku dengan jijik.

Ayahku berada di dalam kamarnya, dia sedang duduk di kursi dekat jendela yang terbuka dengan tangan di lututnya. Di atas meja di dekatnya terdapat pot bunga yang diisi dengan bunga – bunga indah berwarna kuning. Lantainya dibuat khusus dengan bahan lunak untuk mencegah agar pasien tidak terluka jika terjatuh.

Pada awalnya aku tidak menyadari bahwa lelaki yang duduk di dekat jendela adalah ayah. Dia telah mengecil, atau lebih tepatnya ‘mengerut’. Rambutnya kini lebih pendek dan seputih halaman rumah yang ditutupi salju. Pipinya mencekung, dan mungkin karena itulah bola matanya terlihat lebih besar dibanding dahulu. Tiga garis kerutan terlihat jelas di keningnya. Alis matanya sangat panjang dan tebal, dan daun telinganya lebih lancip daripada sebelumnya sampai terlihat seperti sayap kelelawar. Dari kejauhan dia tidak terlihat seperti manusia, malah dia lebih terlihat seperti makhluk lain, tikus atau tupai — pokoknya makhluk yang terlihat licik. Walau bagaimanapun dia adalah ayahku, atau paling tidak dia adalah versi hancur dari ayahku. Seingatku, ayah selalu terlihat kuat, dan bekerja keras. Introspeksi dan imaginasi merupakan hal yang asing baginya, tapi dia mempunyai aturan moralnya sendiri dan tujuan hidup yang jelas. Lelaki yang kini ada di hadapanku tidak lebih dari sepotong cangkang kepiting yang sudah kosong.

“ Tuan Kawana! ” teriak sang perawat. “ Tuan Kawana! Lihat siapa yang datang! Dia putramu yang datang dari Tokyo! ”

Ayah berbalik memandangku. Matanya yang tidak menunjukkan ekspresi sama sekali membuat aku teringat dengan dua sarang burung kosong yang menggantung di cabang pohon.

“ Hallo, ” sahutku.

Ayah tidak menjawab. Dia malah melihat lurus kepadaku seolah dia sedang membaca majalah yang ditulis dalam bahasa asing.

“ Makan malam akan dihidangkan jam setengah tujuh,” kata sang perawat kepadaku. “ Silahkan mengobrol dengan pasien sampai jam segitu. ”

Aku sedikit ragu – ragu ketika perawat telah meninggalkan ruangan. Pelan – pelan aku memberanikan diri untuk mendekati ayah, aku duduk di kursi di depannya. Mata ayah mengikuti semua gerakanku.

“ Bagaimana keadaan ayah? ” tanyaku.

“ Saya baik-baik saja, ” jawabnya dengan nada resmi.

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku memainkan kancing ketiga di kemejaku sambil mengalihkan perhatian pada pohon – pohon pinus di luar, lalu aku kembali memandangnya.

“ Kau datang dari Tokyo, ya? ” tanya ayah.

“ Ya, dari Tokyo. ”

“ Dengan kereta ekspress? ”

“ Ya, ” jawabku. “ Hanya sampai Tateyama. Setelah itu aku pindah ke kereta lokal sampai ke Chikura. ”

“ Kau datang untuk berenang di sini? ”

“ Aku Tengo, Tengo Kawana. Putramu! ”

Kerutan di wajah ayah mulai menebal. “ Banyak orang berbohong karena mereka tidak mau membayar biaya langganan di NHK. ”

“ Ayah! ” teriakku padanya. Sudah sangat lama aku tidak menyebut kata itu. “ Aku Tengo. Putramu. ”

“ Aku tidak punya anak, ” sahut ayah dengan gamblang.

“ Ayah tidak punya anak, ” ulangku.

Ayah hanya membalas dengan anggukan kepala kecil.

“ Jadi, siapa aku? ” tanyaku.

“ Kau bukan siapa – siapa, ” jawab ayah dengan gelengan kepala.

Aku menghembuskan napas dalam – dalam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Ayah juga tidak melanjutkan perkataannya. Kami duduk dengan diam, mencari – cari kata di dalam pikiran yang kusut. Hanya para jangkrik yang dapat bersuara dan bernyanyi dengan kencang.

Mungkin saja dia ingin mengatakan yang sebenarnya, pikirku. Ingatannya mungkin memang telah hancur, namun perkataannya mungkin saja benar.

“ Apa maksud ayah? ” tanyaku.

“ Kau bukan siapa – siapa, ” ulangnya tanpa menunjukkan perasaan apapun. “ Kau tidak pernah menjadi siapapun, dan tidak akan pernah menjadi siapapun. ”

Aku ingin segera bangkit dari kursi, pergi ke stasiun, dan segera kembali ke Tokyo sekarang juga. Tapi aku tidak dapat berdiri. Aku seperti pemuda yang berjalan seorang diri ke kota kucing. Penasaran dan ingin sebuah penjelasan. Tentu saja aku tahu ada bahaya di depanku. Tapi jika aku melepaskan kesempatan ini, maka aku tidak akan pernah tahu rahasia tentang diriku. Aku mulai menjalin kata – kata di kepala. Ini adalah pertanyaan yang dari dulu hendak aku tanyakan padanya, “ Maksud ayah, kau bukanlah ayahku? Dan tidak ada ikatan darah diantara kita, benar begitu? ”

“ Mencuri gelombang radio adalah sebuah kejahatan dan dapat dijerat dengan hukum,” jawab ayah dengan mata tertuju lurus pada mataku. “ Karena tidak ada bedanya dengan mencuri uang atau barang berharga lainnya. ”

“ Mungkin iya, ” aku memutuskan untuk mengikuti pembicaraannya.

“ Gelombang radio tidak jatuh dari langit dengan cuma – cuma seperti hujan atau salju, ” lanjutnya.

Aku menatap tangan ayah. Tangannya yang kecil dan sedikit gelap karena banyak bekerja di luar, berbaris dengan rapi di atas lututnya.

“ Ibu tidak meninggal karena sakit saat aku masih kecil, iya kan ? ” tanyaku dengan perlahan.

Ayah tidak menjawab. Ekspresi wajahnya juga tidak berubah, dan tangannya tidak bergerak sama sekali. Matanya masih berfokus padaku seolah sedang melihat sesuatu yang aneh.

“ Ibu meninggalkanku. Dia pergi dan meninggalkan kita berdua. Dia pergi bersama pria lain. Benar kan? ”

Ayah mengangguk. “ Mencuri gelombang radio adalah perbuatan yang tercela. Kau tidak boleh melakukan hal sesuka hatimu. ”

Dia memahami pertanyaanku dengan jelas. Hanya saja dia tidak mau menjawabnya secara langsung, pikirku.

“ Ayah, ” ujarku. “ Ayah mungkin bukanlah orang tua kandungku, tapi aku akan tetap memanggilmu ayah sementara ini karena aku tidak tahu lagi dengan apa aku harus memanggilmu selain dengan kata ayah. Jujur saja, aku tidak pernah menyukai ayah. Mungkin sepanjang hidupku aku telah membenci ayah. Ayah pasti telah mengetahui ini. Dan walaupun mungkin tidak ada ikatan darah di antara kita, aku tidak lagi punya alasan untuk membenci ayah. Mungkin aku tidak akan pernah menyukai ayah, tapi setidaknya aku ingin dapat lebih memahami ayah sekarang. Aku selalu ingin tahu kebenaran tentang siapa aku dan siapa orang tuaku yang sebenarnya. Hanya itu saja. Jika ayah ingin mengatakannya sekarang, aku akan berhenti membenci ayah. Malah, aku akan senang, karena aku tidak akan lagi mempunyai alasan untuk membenci ayah. ”

Dia masih menatapku dengan tatapan kosong, tapi entah bagaimana, aku merasa melihat ada cahaya kecil yang berkilau jauh di dalam matanya yang tampak seperti sarang burung kosong.

“ Aku memang bukan siapa – siapa, ” lanjutku. “ Ayah benar tentang itu. Aku bagaikan seseorang yang dibuang ke lautan pada malam hari, dan mengambang sendirian. Aku mencoba memanggil seseorang, namun tidak ada siapapun yang menyahut. Aku tidak punya hubungan dengan apapun. Satu – satunya orang yang dapat kuanggap sebagai keluarga, adalah ayah. Tapi ayah lebih memilih untuk menyembunyikan sebuah rahasia dariku. Sementara itu ingatan ayah semakin memburuk, dan sedikit demi sedikit ingatan tentang diriku juga ikut terhapus. Aku bukanlah siapa – siapa, dan tidak akan pernah menjadi siapapun. Ayah juga benar tentang itu.”

“ Pengetahuan adalah harta yang paling berharga, ” jawab ayah dengan nada datar, namun suaranya terdengar lebih pelan daripada sebelumnya, seolah seseorang telah menurunkan volume suaranya. “ Pengetahuan adalah harta yang harus diraih sebanyak – banyaknya, dan digunakan dengan sangat hati – hati. Dan karena alasan itu pulalah NHK membutuhkan biaya langganan dari anda dan — “

Aku dengan cepat menginterupsinya. “ Orang seperti apa ibu? Kemana dia pergi? Apa yang terjadi dengannya? ”

Ayah segera bungkam, dan bibirnya tertutup rapat.

Aku lanjut bertanya dengan nada yang lebih halus, “ Ada sebuah ingatan yang selalu terlintas di benakku. Kurasa itu adalah ingatan tentang apa yang terjadi sebenarnya. Saat itu aku masih berumur satu setengah tahun, dan ibu berdiri di sampingku. Dia dan seorang pemuda sedang berpelukan. Lelaki tersebut bukan ayah. Aku tidak tahu siapa dia, tapi jelas dia bukan ayah. ”

Ayah tetap bungkam, namun matanya jelas sedang melihat sesuatu — sesuatu yang tidak ada di ruangan ini.

“ Bisakah kau membacakan sesuatu untuk ayah?, ” tanyanya dengan nada resmi setelah diam agak lama. “ Mata ayah telah sangat memburuk sampai – sampai ayah tidak lagi dapat membaca. Ada buku di dalam rak di sana. Pilih yang mana saja. ”

Aku berdiri dan melihat – lihat buku yang ada di sana. Kebanyakan buku – buku di sana adalah novel, dan buku sejarah yang berlatar belakang zaman ketika masih ada para samurai. Aku tidak ingin membacakan buku dengan bahasa kuno kepada ayah saat ini.

“ Jika ayah mau, aku akan membacakan cerita tentang kota kucing, ” ujarku. “ Aku membawa bukunya. ”

“ Cerita tentang kota kucing, ” ulang ayah. “ Tolong bacakan itu untuk ayah, jika kau tidak keberatan. ”

Aku melihat jam tangan. “ Tidak sama sekali. Masih ada banyak waktu sebelum keretaku berangkat. Ini adalah kisah yang aneh. Aku tidak tahu apa ayah akan menyukainya atau tidak. ”

Aku mengeluarkan bukuku dan mulai membaca dengan pelan. Suaraku terdengar jelas. Aku memandang wajah ayah di sela-sela jeda membaca, namun wajahnya tidak menunjukkan reaksi apapun. Aku tidak tahu apakah dia menyukai cerita ini atau tidak.

“ Apakah ada TV di kota kucing ? ” tanya ayah ketika aku selesai membaca.

“ Cerita ini ditulis di Jerman sekitar tahun 1930-an. Mereka belum menciptakan TV saat itu. Tapi mereka punya radio. ”

“ Apakah para kucing yang membangun kota tersebut? Atau apakah manusia yang membangunnya sebelum para kucing datang dan tinggal di sana? ” tanya ayah, seolah sedang bertanya pada dirinya sendiri.

“ Entahlah, ” jawabku. “ Tapi sepertinya dibangun oleh manusia. Mungkin entah karena apa manusia meninggalkan kota tersebut — mungkin mereka semua mati karena wabah atau sejenisnya — kemudian para kucing datang dan tinggal di sana. ”

Ayah mengangguk – anggukkan kepala. “ Ketika kehampaan tercipta, harus ada sesuatu yang mengisinya. Itulah yang dilakukan semua orang. ”

“ Benarkah? ”

“Ya. ”

“ Kalau begitu, kehampaan apa yang ayah isi? ”

Ayah terlihat kesal. Kemudian dia berkata dengan nada sarkasme, “Oh, kau tidak tahu?”

“ Aku tidak tahu, ” jawabku.

Ayah menghembuskan napas dengan keras. Satu alisnya sedikit terangkat. “ Jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan. ”

Aku menyipitkan mata, mencoba membaca ekspresi ayah. Ayah tidak pernah sama sekali berkata dengan nada dan bahasa seaneh ini. Dia selalu berbicara secara konkrit dan praktis.

“ Oh, aku mengerti. Ayah mengisi sebuah kehampaan, ” ujarku. “ Baiklah, kalau begitu, siapa yang akan mengisi kehampaan yang ayah tinggalkan? ”

“ Kau, ” kata ayah. Jari telunjuknya menunjuk lurus ke arahku. “ Bukankah itu sudah jelas? Aku telah mengisi kehampaan yang ditinggalkan seseorang, jadi kau akan mengisi kehampaan yang kubuat. ”

“ Seperti ketika para kucing mengisi kota setelah ditinggalkan manusia. ”

“ Benar, ” sahut ayah. Kemudian dia menatap jari telunjuknya sendiri yang menunjuk padaku dengan tatapan kosong seolah melihat benda misterius.

Aku menghela napas. “ Jadi, siapa ayahku yang sebenarnya? ”

“ Hanya ruang hampa. Ibumu menyatukan tubuhnya dengan sebuah kehampaan dan melahirkan dirimu. Dan aku mengisi kehampaan itu. ”

Setelah berkata sebanyak itu, ayah menutup mata dan mulutnya rapat-rapat.

“ Dan ayah membesarkanku setelah ibu pergi. Apa itu maksud ayah? ”

Setelah berdeham – deham yang tampak disengaja, ayah lanjut berkata, seolah mencoba menjelaskan sesuatu yang sederhana pada anak yang berpikir lambat, “ Karena itulah kukatakan tadi, jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan.”

Aku menaruh tangan di atas lutut dan menatap lurus wajahnya. Dia bukan cangkang yang kosong, pikirku. Dia manusia utuh dengan daging dan darah, dan jiwa yang keras. Dia terpaksa harus hidup dengan kehampaan yang perlahan membesar di dalam dirinya. Pada akhirnya nanti, kehampaan tersebut akan menghisap semua ingatan yang tersisa dalam dirinya. Hanya soal waktu saja sampai hal itu terjadi.

Aku berpamitan dengan ayah tepat sebelum jam enam sore. Sambil menunggu taxi, kami duduk berseberangan di dekat jendela tanpa berkata apa – apa. Masih banyak yang ingin aku tanyakan, tapi aku sadar bahwa aku tidak akan mendapatkan jawaban apapun karena aku melihat bibir ayah telah tertutup rapat. Seperti yang telah dikatakannya, tadi, “ Jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan. ”

Ketika hampir tiba waktunya untuk berangkat, aku berkata, “ Banyak yang ayah katakan padaku hari ini. Semuanya dikatakan secara tidak langsung dan kadang sulit untuk dimengerti, tapi mungkin ayah mengatakan dengan sejujur – jujurnya. Terima kasih. ”

Ayah masih saja bungkam, matanya terpaku melihat pemandangan luas, seperti seorang prajurit yang sedang berjaga dan tidak ingin melewatkan sinyal api yang dikirimkan oleh suku liar di kejauhan. Aku mencoba melihat ke arah yang sedang dilihat ayah, tapi di sana hanya ada deretan pohon pinus yang dibayangi oleh cahaya matahari yang mulai terbenam.

“ Maaf karena telah berkata seperti itu, tapi memang tidak ada yang dapat aku lakukan untuk ayah selain berharap proses penghampaan di dalam diri ayah tidak menyakitkan. Aku yakin ayah telah banyak menderita. Ayah juga pasti sangat mencintai ibu. Tapi dia sudah pergi, dan kepergiannya pasti menyakitkan bagi ayah —seperti hidup di kota kosong. Namun ayah tetap membesarkanku di kota kosong itu. ”

Sekumpulan burung gagak terbang melintasi cakrawala, dan menggaok – gaok di kejauhan. Aku pun berdiri, berjalan mendekati ayah, dan menaruh kedua tanganku di pundak ayah. “ Selamat tinggal, ayah. Nanti aku akan datang lagi. ”

Dengan tangan berada di gagang pintu, aku berbalik untuk terakhir kalinya dan terkejut mendapati ada air mata di kedua pipi ayah. Air matanya bersinar dengan warna keperakan. Air mata itu perlahan membasahi pipinya dan jatuh ke pangkuannya. Aku membuka pintu dan meninggalkan kamar ayah. Aku naik taksi menuju stasiun dan menumpangi kereta untuk kembali ke dunia asalku.

Sumber: http://cerpenterjemahan.wordpress.com

Dia yang Sempurna, Haruki Murakami

Haruki Murakami diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin

Suatu pagi yang cerah di bulan April, di pinggiran jalan sempit di Harajuku, sebuah area perbelanjaan di Tokyo, aku berjalan melewati seorang gadis yang 100% sempurna.

Sejujurnya, dia tidak terlalu cantik. Dia juga tidak terlalu menyolok. Pakaian yang dikenakannya tidak terlalu spesial. Dan rambutnya masih menyisakan jejak ranjang seolah tak disisir merata. Dia juga tidak terlalu muda—kuperkirakan usianya sekitar 30 tahun, dan sebenarnya tidak cocok dipanggil dengan kata ‘gadis’. Meski begitu, aku tahu saat melihatnya dari kejauhan 0.05 kilometer: bahwa dia adalah gadis yang 100% sempurna untukku. Begitu aku melihatnya, ada gemuruh yang timbul di dadaku, lalu mulutku mendadak kering seperti padang pasir.

Mungkin Anda punya tipe gadis favorit—dan dia mungkin memiliki pergelangan kaki yang ramping, atau sepasang mata yang besar, atau jemari yang lentik, atau Anda menyukai seorang gadis yang selalu menghabiskan waktu lama sekali untuk bersantap, entah kenapa. Aku juga punya tipeku sendiri. Sesekali, saat aku ada di sebuah restoran, aku sering curi-curi pandang ke arah gadis yang duduk di meja sebelahku hanya gara-gara aku menyukai bentuk hidungnya.

Namun bagi seorang laki-laki yang hatinya telah kepincut, maka gadis yang 100% sempurna itu takkan ada tandingannya. Walau aku suka memperhatikan bentuk hidung orang, namun aku tidak ingat bentuk hidung gadis yang sempurna itu—atau apakah dia punya hidung sama sekali. Yang kuingat dengan pasti adalah gadis itu bukan gadis tercantik sedunia. Aneh, kan?

“Kemarin, di jalan, aku melewati seorang gadis yang 100% sempurna,” ujarku pada seseorang.

“Masa?” sahut orang itu. “Cantik?”

“Tidak juga.”

“Kalau gitu dia tipe kesukaanmu?”

“Entahlah. Aku bahkan tidak ingat terlalu banyak hal tentang dia—seperti bentuk matanya atau ukuran dadanya.”

“Aneh.”

“Aneh sekali.”

“Lantas,” tutur lawan bicaraku yang mulai bosan. “Apa yang kau lakukan? Menyapanya? Atau membuntutinya?”

“Tidak. Aku hanya numpang lewat di hadapannya.”

Gadis itu berjalan dari arah timur ke barat, sedangkan aku dari barat ke timur. Sungguh pagi yang cerah di bulan April.

Seandainya saja aku bisa menyapa dia. Aku hanya butuh setengah jam: untuk bertanya tentang siapa dia, lalu aku kan memberitahukan siapa aku, dan—yang sangat ingin kulakukan—menjelaskan kepadanya tentang betapa rumitnya cara kerja takdir untuk mempertemukan aku dan dia di pinggiran jalan di area Harajuku di sebuah pagi yang cerah di bulan April tahun 1981. Kejadian ini tentunya melibatkan banyak rahasia yang tidak kita ketahui; seperti jam antik yang dibuat saat perang dunia usai.

Setelah mengajaknya bicara, kami akan pergi makan siang bersama, lalu menonton film besutan Woody Allen di bioskop, dan dilanjutkan dengan acara minum-minum di bar hotel. Bila keberuntungan ada di pihakku, kami akan mengakhiri kebersamaan ini di atas ranjang.

Kemungkinan-kemungkinan yang belum terjamah itu mengetuk pintu hatiku.

Sekarang jarak di antara kami menyempit jadi 0.013 kilometer.

Bagaimana sebaiknya aku mendekati dia? Apa yang harus kukatakan?

“Selamat pagi, nona. Maukah kau menyisihkan waktu selama setengah jam untuk berbincang?”

Konyol. Aku terdengar seperti salesman asuransi.

“Permisi, apakah kau tahu tempat cuci baju yang buka sepanjang malam di sekitar sini?”

Tidak, sama saja konyolnya. Aku juga tidak bawa baju kotor. Siapa yang akan percaya?

Mungkin aku harus jujur. “Selamat pagi. Kau adalah gadis yang 100% sempurna untukku.”

Tidak, dia takkan percaya. Atau bila dia percaya, dia mungkin takkan mau berbincang denganku. Maaf, dia akan berkata padaku, aku mungkin gadis yang 100% sempurna untukmu, tapi kau bukan pemuda yang 100% sempurna untukku. Bisa saja kan? Dan jika aku berada dalam situasi itu, hatiku pasti hancur. Aku takkan pernah bisa mengatasinya. Usiaku 32 tahun—dan di usia sepertiku seharusnya aku bisa menerima penolakan dengan dada lapang.

Kami melewati sebuah toko bunga. Udara pagi berembus ringan dan membelai kulitku dengan kehangatan. Lapisan aspal di bawah kakiku tampak lembap dan aku mencium sekelebat wangi bunga. Aku tidak berani menyapa gadis itu. Ia mengenakan sebuah sweater berwarna putih dan di tangan kanannya ada secarik amplop putih yang hanya butuh perangko saja untuk diposkan. Jadi: gadis itu sudah menulis surat untuk seseorang, mungkin menghabiskan waktu semalaman menulisnya, apalagi melihat matanya yang berat karena kantuk. Di dalam amplop itu mungkin saja terselip seluruh rahasia hidupnya.

Aku mengambil beberapa langkah ke depan, lalu membalikkan badan: gadis itu menghilang di tengah keramaian.

*

Sekarang aku baru tahu bagaimana seharusnya aku menyapa gadis itu. Tentunya aku harus memberikan pidato panjang; terlalu panjang untuk kusampaikan dengan baik. Semua ide yang ada di kepalaku memang tidak ada yang praktis.

Oh well. Tadinya aku akan memulai pidato itu dengan kalimat “Pada suatu hari” dan diakhiri dengan “Cerita yang sedih, bukan?”

*

Pada suatu hari, hiduplah seorang pemuda dan seorang gadis. Usia pemuda itu delapan belas tahun; dan gadis itu enam belas tahun. Pemuda itu tidak terlalu tampan, dan gadis itu tidak terlalu cantik. Mereka adalah muda-mudi yang seperti pada umumnya cenderung kesepian. Namun mereka percaya sepenuh hati bahwa di dunia ini ada pasangan hidup yang 100% sempurna untuk mereka. Ya, mereka percaya pada mukjizat. Dan bahwa mukjizat bukanlah hal yang mustahil.

Suatu hari, si pemuda dan gadis itu tak sengaja berjumpa di ujung jalan.

“Luar biasa,” ujar si pemuda. “Aku sudah mencarimu seumur hidupku. Kau mungkin tidak mempercayai ini, tapi kau adalah gadis yang 100% sempurna untukku.”

“Dan kau,” balas gadis itu. “Kau adalah pemuda yang 100% sempurna untukku, persis seperti pemuda yang kubayangkan selama ini. Seperti mimpi rasanya.”

Mereka duduk di atas kursi taman, berpegangan tangan, dan menceritakan kisah hidup mereka masing-masing selama berjam-jam. Mereka tidak lagi kesepian. Mereka telah menemukan dan ditemukan oleh pasangan masing-masing yang 100% sempurna untuk mereka. Betapa indahnya menemukan dan ditemukan oleh pasangan yang 100% sempurna untuk kita. Sebuah mukjizat, sebuah pertanda.

Namun, saat mereka duduk dan berbincang, masih ada sedikit rasa ragu yang menggantung di dada: apa mungkin impian seseorang terkabul begitu saja dengan mudahnya?

Maka, ketika keduanya terdiam, si pemuda mengambil kesempatan untuk berkata kepada gadis itu: “Mari kita uji diri kita—sekali ini saja. Jika kita memang pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain, maka di suatu saat, di suatu hari, kita pasti berjumpa lagi. Dan ketika itu terjadi, dan kita tahu bahwa kita adalah pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain, maka kita akan menikah saat itu juga. Bagaimana?”

“Ya,” kata si gadis. “Itu yang harus kita lakukan.”

Kemudian mereka berpisah. Si gadis melangkah ke arah timur, sementara si pemuda ke arah barat.

Meski begitu, proses uji itu sebenarnya tidak perlu mereka lakukan, karena mereka memang benar pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain—dan pertemuan awal mereka adalah sebuah mukjizat. Tapi mereka tak mungkin mengetahui semua ini di usia belia. Gelombang takdir yang dingin dan tak pandang bulu terus membuat mereka terombang-ambing tanpa akhir.

Pada suatu musim dingin, si pemuda dan si gadis menderita sakit flu yang terjangkit di mana-mana. Setelah dua minggu terkapar tanpa daya, mereka pun lupa terhadap tahun-tahun remaja mereka. Ketika mereka tersadar, ingatan mereka sama kosongnya seperti celengan baru.

Keduanya adalah individu yang cerdas dan ambisius; dan dengan usaha keras mereka berhasil membangun hidup mereka hingga menjadi sosok terpandang di masyarakat. Syukurlah, mereka juga menjadi warga yang taat peraturan dan tahu caranya naik kereta bawah tanah tanpa tersesat; yang sanggup mengirimkan surat dengan status kilat di kantor pos. Dan mereka juga sanggup jatuh cinta, terkadang cinta itu mengisi hati mereka sampai 75% atau bahkan 80%.

Waktu berlalu dengan kecepatan tak terduga; mendadak si pemuda telah berusia 32 tahun dan si gadis 30 tahun.

Di suatu pagi yang cerah di bulan April, dalam perjalanan untuk membeli secangkir kopi, si pemuda melangkah dari arah barat ke timur, sementara si gadis, dalam perjalanan ke kantor pos, melangkah dari arah timur ke barat. Keduanya menelusuri pinggiran jalan yang memanjang di sebuah area pusat perbelanjaan di Tokyo yang bernama Harajuku. Mereka saling melewati satu sama lain tepat di tengah jalan. Ingatan mereka kembali samar-samar dan untuk sesaat hati mereka bergetar. Masing-masing merasakan gemuruh yang mendesak dada. Dan mereka tahu:

Dia adalah gadis yang 100% sempurna untukku.

Dia adalah pemuda yang 100% sempurna untukku.

Namun, sayang, gema ingatan mereka terlalu lemah; dan pikiran mereka tak lagi jernih seperti empat belas tahun lalu saat pertama kali berjumpa. Tanpa mengutarakan sepatah kata pun, mereka melewati satu sama lain begitu saja, hilang di tengah keramaian. Selamanya.

Cerita yang sedih, bukan?

*

Ya, itu dia. Seharusnya itu yang kukatakan padanya. FL

2013 © Hak Cipta. Fiksi Lotus dan Haruki Murakami. Tidak untuk dijual, digandakan ataupun ditukar.

—————-

# CATATAN:

> Cerpen ini berjudul On Seeing the 100% Perfect Girl One Beautiful April Morning karya HARUKI MURAKAMI dan disertakan dalam koleksi cerita pendek berjudul The Elephant Vanishes (Random House, 1993).

>> HARUKI MURAKAMI adalah seorang penulis dan penerjemah asal Jepang yang telah menerbitkan sejumlah novel, koleksi cerita pendek dan esai. Beberapa karyanya yang telah mendunia, termasuk di antaranya: Kafka on the Shore, The Wind-Up Bird Chronicle, Norwegian Wood, dan—yang terakhir—IQ84. Karya non-fiksi yang ia terbitkan termasuk di antaranya: Underground: The Tokyo Gas Attack and the Japanese Psyche dan What I Talk About When I Talk About Running.