Tag Archives: cerpen pringadi abdi

Cerpen | Hitam Putih Merpati

Cerpen HITAM PUTIH MERPATI ini kutulis sudah lama sekali. Kalau tidak salah sekitar tahun 2008. Cerpen ini pernah dimuat di dua koran yang berbeda karena kesalahpahaman, di Sumut Pos dan Suara Pembaruan. Cerpen ini kemudian masuk dalam antologi Seribu Tahun Mencintaimu (Ecxchange, 2017).



Berikut adalah naskah awalnya (sebelum diedit): Continue reading Cerpen | Hitam Putih Merpati

Cerpen | Otak Ayam (Detik, 20 Oktober 2018)

 

Cerpen ini dimuat di Detik, 20 Oktober 2018.

Tiga kali tiga sama dengan enam, dan aku dibilang tak lebih berotak ayam.

Aku memang tak pandai berhitung. Matematikaku tak pernah lebih dari lima setiap ulangan di sekolah. Entah aku yang bodoh atau guru Matematika itu yang tak pandai mengajar. Tapi, masalah kesabaran aku pastilah jagonya. Berkali-kali aku dihukum, disuruh berdiri di depan kelas dengan menaikkan satu kaki dan menjewer telinga secara bersilangan, aku tetap santai-santai saja. Termasuk ketika Yu Win memarahi aku (lagi) karena sudah kali kedua aku salah menghitung jumlah telur di dalam kotak kayu itu.
Continue reading Cerpen | Otak Ayam (Detik, 20 Oktober 2018)

Empat Ratus Tahun Cerita Lelaki

Setelah memahami, Jakarta diciptakan untuk orang-orang yang sudah bosan hidup, sambil mengagumi kendaraan yang lalu lalang, asap-asap yang keluar dari knalpot, dan langit yang tak pernah lebih biru dari lautan, ia akhirnya bertemu Teruna.

Gadis itu keluar dari taksi, memakai baju terusan rendah di bagian bawah berwarna merah marun, tersenyum, lalu bertanya, “Sudah menunggu lama?”

Bakda mendarat di Soetta tadi, ia diminta untuk menemui Teruna. “Naiklah Damri jurusan Lebak Bulus, lalu turunlah di Slipi Petamburan.” Teruna mengirimkan pesan singkat.

Yang Teruna tidak ketahui ialah, ia sudah hidup selama lebih dari 400 tahun dan menyepi di daerah-daerah berpenduduk sedikit, menyaksikan orang lahir dan mati, perang dan perdamaian, tetapi ia tidak pernah bosan menunggu untuk jatuh cinta, seperti yang diramalkan Onang Sadino, Pak Tua yang mengaku bisa membaca garis tangan dan membuka lapaknya di pasar Brang Biji beberapa tahun lalu, “Sebelum waktumu berakhir Nak, kau pasti akan jatuh cinta, dan laki-laki sejati hanya jatuh cinta satu kali seumur hidupnya.”
“Apa kamu lelah?” Teruna mengajukan pertanyaan berikutnya.
“Aku hanya tidak terbiasa dengan keramaian.” Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, menghela napas, mengeluarkan botol air minum yang isinya tinggal sedikit, meneguknya, lalu menatap Teruna, “Arsenal pernah punya kostum berwarna merah marun. Konon, itu warna kehidupan.”

Teruna memegang tangan lelaki itu dan berkata, “Aku merasa jauh lebih hidup saat kamu ada di sampingku sekarang ketimbang aku memakai pakaian ini.”
Baru semalam ia berangkat dari Sumbawa, menyisiri garis pantai sampai Poto Tano. Malam itu, ombak di selat Alas tidak begitu bersahabat. Barangkali ada seseorang yang telah meninggalkannya ketika bermain ayunan. Jadi diombang-ambingkannya kapal laut tua itu, sambil mengingat tragedi kapal tua Munawar yang tenggelam beberapa bulan sebelumnya. Ia bisa saja berteleportasi. Tapi jangkauan teleportasinya hanya sekitar 100km. Ia khawatir kemunculannya yang tiba-tiba, dan kadangkala tidak dapat ia kontrol, akan membuat kehebohan bila mana ada saksi mata yang menyaksikannya. Toh, ia sudah ingin hidup sebagai manusia biasa. Kemampuan khususnya ingin ia tenggelamkan.
Gadis itu, meski ia tak yakin apakah Teruna masih seorang gadis, bilang telah jatuh cinta kepadanya, tanpa pernah bertemu sebelumnya.

“Bisakah kita merindukan seseorang yang belum kita temui sebelumnya?” tanya lelaki itu.
Tapi sebelum kita berlanjut menjawab pertanyaan itu, saya akan membawa kalian ke peristiwa lain yang inshaallah masih saling berkaitan, sebagai selingan.
Arsenal baru kalah dari Bayern Munich malam itu. Ia seorang pencinta Arsenal. Kekalahan itu membuatnya galau. Hari itu ia pergi ke Tanjung Menangis. Di sana memang lokasi terbaik untuk memancing.
Saya kebetulan sedang berkemah di Ai Loang, dan bakda Subuh memutuskan untuk menaiki perahu, sendirian. Pagi-pagi begini ombak relatif tenang. Pulau Moyo yang tersohor terlihat dari kejauhan. Dibelai angin yang lembut, saya membayangkan kekasih. Perahu pelan-pelan menjauh dari daratan. Sebatang pohon yang tumbuh sendiri agak jauh dari bibir pantai tampak kesepian.
Ketika menoleh ke arah sebaliknya, di Tanjung Menangis itu, saya menyaksikan sosok itu, ia, sedang memancing. Meski cahaya masih sangat sedikit, dan matahari yang biasa akan terlihat terbit sangat sempurna masih mencoba membukakan mata, saya katakan dengan pasti, ikan-ikan tampak lompat-melompat di sekitar kailnya.
Pada hari itulah kami berkenalan, tapi ia tak mau menyebutkan nama.
Baru berjabat tangan, ia bertanya, “Hal apakah kiranya yang paling tidak kamu percayai di dunia ini, Kawan?”
“Tuhan. Dan pemandangan yang baru saja saya lihat. Bagaimana mungkin ikan-ikan itu seperti minta dipancing?”
“Banyak hal yang belum kita tahu, dan kita cenderung tidak mempercayai hal yang tidak kita ketahui.” Ia masih memegangi pancingnya, memandang lurus ke depan lalu kembali berkata, “Apa kamu akan percaya jika kukatakan aku telah hidup selama lebih dari 400 tahun di dunia ini?”
Saya terhenyak mendengar ucapannya. Ikan-ikan melompat lebih tinggi. Cahaya kuning pertama dari matahari terbit sampai di permukaan lautan. “Tidak mungkin, kecuali engkau Khidir.” Saya menyangsikan.
“Kau asli Tanah Samawa?” Ia menanyakan pertanyaan lain.
“Oh, bukan. Saya baru tiga tahun dimutasikan ke sini.”
“Apa kamu percaya yang namanya kesetiaan?” Pertanyaannya semakin mendalam
“Apa ini soal perempuan?” Saya balik bertanya.
Dia pun menarik pancingnya. Seekor baronang batu yang lebih besar dari telapak tangan tampak menggeliat di ujung kail. Ikan berwarna hitam itu akan terasa enak bila dibakar dengan cara yang tepat.
“Dulu, ada seorang gadis. Dia mengejarku sampai ke tanjung ini. Ah, tidak berhenti sampai di sini, ia terus mengejarku sampai ke sana,” ucapnya sambil menunjuk lautan. Matanya berkaca-kaca. Saya tahu dia sedang sedih menceritakan kisah yang tampak janggal itu. Tapi kalian harus tahu, segala hal yang tak masuk akal, di hadapan cinta, segala hal itu pula dapat diterima. “Aku tidak tahu kalau dia akan mati dengan cara seperti itu. Aku bahkan masih mengingat wajahnya yang sendu, yang meneriakkan namaku ketika perahuku mulai menjauh. Aku pikir, itulah kematian pertama yang aku saksikan di dunia ini, Kawan.”
“Nama? Engkau punya nama?”
“Aku tidak punya nama. Tapi dulu aku dipanggil Daeng Ujung Pandang.”
“Saya seperti pernah mendengar kisah ini.”
“Kalau kamu asli tanah Samawa, pasti kisah ini akrab di telingamu.”
Kalimat terakhirnya tenggelam begitu saja. Saya memang sering tidak mau tahu dengan cerita-cerita di Sumbawa. Sebab menjadi karib dengan tanah ini, akan membuatmu semakin betah berada di sini. Saya sendiri ingin cepat-cepat pindah.
Selain tidak tahu nama, saya juga tidak tahu tempat tinggal lelaki itu. Tapi setiap kali pergi memancing, di mana pun, di Mamak, di Batu Bulan, di Empang atau sampai di Teluk Santong sekalian, saya selalu bertemu dengannya. Sampai kami sedemikian akrab. Sampai saya mau tidak mau percaya dengan kisah-kisah yang diceritakannya.

~

Kembali ke Teruna, saya mengenalnya di media sosial. Ia seorang gadis yang tangguh. Saya pikir semua gadis yang hidup di Jakarta adalah gadis yang tangguh. Siapa yang bisa tahan bila setiap pagi tak melihat burung-burung bertengger di atas pagar, embun di atas daun, dan duka-luka yang tertumpuk seharian harus dicoreng-morengi asap kendaraan yang penuh timbal.
Ia tersentak ketika melihat profil Teruna di tablet saya. Gadis mungil berambut panjang itu begitu menarik perhatiannya. “Aku sudah hidup selama 400 tahun lebih, tapi baru kali ini aku menemukan wajah seseorang yang mirip dengan wajah sang putri.”
“Max Galuppo saja pernah menemukan lukisan dirinya, persis dirinya di Philadelpia Museum of Art tanpa mengakui ia tidak pernah dilukis oleh seorang pun. Menariknya, lukisan yang diberi judul Portrait of a Nobleman with Dueling Gauntlet itu dibuat pada tahun 1562 di Italia.”
“Jadi apa reinkarnasi itu ada?”
“Ada 7 not dasar. Dari ketujuh not dasar itu, jutaan lagu tercipta. Dari jutaan lagu itu, kalau ada yang mirip atau nyaris sama persis adalah hal yang mungkin. Baru-baru ini Katy Perry dibilang menjiplak Nike Ardilla. Saya pikir itu hanya kebetulan. Genetika juga seperti itu. Entah sudah berapa miliar manusia ada di muka bumi. Jadi bila ada kesamaan, pengulangan genetika, itu suatu kewajaran.”
“Aku belajar sesuatu darimu, Kawan. Ternyata kebijaksanaan bisa datang dari mana saja, termasuk dari manusia seumur jagung.” Ia menjawab lalu tertawa terbahak-bahak.
Saya suka iri melihat perawakannya yang relatif sempurna. Kulitnya secarah buah pir. Giginya putih bersih. Rambutnya hitam dan tebal. Hidup lebih dari 400 tahun tak membuatnya menjadi tambun.
Saya tidak tahu apa rencananya terhadap Teruna ketika sekitar pukul delapan pagi WITA, ia mengirimi aku pesan singkat, “Kawan, aku baru mendarat di Soetta. Sebentar lagi aku akan bertemu Teruna.”

~

Lalu dimulailah cerita ini. Ia sedang berada di taksi bersama Teruna menuju kawasan Palmerah. Teruna mengajaknya singgah di kosnya. Saya tidak mau mengajak kalian membayangkan hal yang akan terjadi di antara laki-laki dan perempuan bila berada di ruang yang hanya ada tembok dan atap, berdua saja, lalu tirai ditutup sehingga sulit bagi satuan cahaya terkecil sekali pun untuk mengintip.
Ia tidak mengabari saya apa pun. Hari itu hari Sabtu. Saya memutuskan memancing di Kencana. Bila beruntung akan ada anak-anak perempuan mandi di pantai. Menyegarkan bila Tuhan memberikan kesempatan untuk cuci mata barang sejenak di sana.
Saya tidak mengerti makna kesetiaan. Matahari yang terbit dari timur ke barat itu juga konon akan terbit dari barat ke timur. Bulan yang melayang di langit malam tidak utuh sepanjang hari. Selamanya—apa ada kata selamanya, dan seberapa jauh?
Baru menjelang malam hari, ia mengirim pesan, “Malam ini, Chelsea akan menjamu Arsenal. Aku akan berada di kereta, tolong kabari aku perkembangan skornya ya.”
Kami berdua sama-sama pencinta Arsenal dan saya tidak penasaran terhadap jawaban yang ia dapatkan dari pertemuannya dengan Teruna. Siapa yang tahu bila malam itu, Arsenal harus kalah enam gol tanpa balas dan kereta yang ia naiki berada di atas rel yang tak memiliki ujung?
Barangkali hanya kalian saja yang penasaran bagaimana sejatinya kisah ini harus diakhiri dan saya yang tak mengerti perasaan saya bahkan sejak cerita ini dimulai.

Macondo, Melankolia

Cerpen Pringadi Abdi Surya, Suara Merdeka 21 November 2010

“ALINA, tolong aku!”

“Kamu di mana sekarang?”

“Di kartu pos.”

“Kartu pos?”

“Iya, aku terkurung di dalam kartu pos.”

“Sontoloyo!”

Begitulah, Alina tidak percaya aku berada di dalam kartu pos. Seorang pria berkaca mata hitam dan bertopi khas koboi tiba-tiba menarik kerah bajuku sebelum memukul mataku—dengan tenaga yang cukup untuk meninggalkan lebam—lalu mendorongku masuk ke dalam kartu pos. Beruntung, setelah beberapa menit aku terpekur di dalam, memandangi lanskap kota tua yang sepertinya tak berpenghuni, kafe-kafe yang lengang, gerobak buah yang ditinggalkan, dan sobekan koran minggu yang terbang ditiup angin, aku sadar aku membawa handphone dan meski sisa pulsanya tidak cukup buat menelepon, masih ada sisa bonus SMS harian. Dan satu-satunya yang kupikirkan (dan berada dalam pikiranku) cuma Alina. Karena itulah aku mengirim pesan singkat kepadanya.

Beberapa saat yang lalu, aku berjanji untuk bertemu Alina di Kota X. Butuh waktu sekitar satu jam untuk mencapai kota X dari kota K. Aku sengaja berangkat lebih cepat karena hari ini aku tidak boleh terlambat. Tiga tahun sudah kami berpacaran dan memang hubungan kami cukup bermasalah dengan janji. Biasanya aku yang terlambat. Dan Alina akan menyambutku dengan muka yang cemberut dan kalimat-kalimat kemarahan yang biasanya bisa kuredakan dengan setangkai bunga, sebuah cincin, atau tingkah-tingkah lucu yang kulakukan dengan spontan seperti tiba-tiba naik ke meja lalu mengatakan cinta, atau maju ke area pemain band kafe dan mengambil gitar, menyanyikan lagu yang romantis untuk membuat hatinya luluh. Tetapi entahlah kali ini, sebuah mobil yang dikendarai ugal-ugalan di belakangku tiba-tiba menabrakku sampai mobilku terpental beberapa meter. Beruntung aku tidak apa-apa dan keluar dengan payah. Belum sempat aku meminta pertanggungjawaban, orang itu melakukan apa yang kujelaskan sebelumnya—mengurung aku di dalam kartu pos! Padahal hari ini aku mau melamar Alina dan waktu sudah mulai melewati pukul yang dijanjikan.

***

SELAMAT datang di Macondo [1], di kota yang tak pernah mengubah Anda menjadi tua, di kota yang segalanya tampak serba luar biasa, burung-burung tak pernah berhenti terbang, semua anak bermain layang-layang, dan tak pernah ada pintu gerbang—semua bebas datang atau pergi atau kembali!

Padahal pemandangan ini tampak seperti kota mati. Seperti habis terkena anima [2]—semua penduduknya diserap ke langit! Kota mati yang kutahu, selain Gunkanjima (sebenarnya bernama asli Hashima, tapi perawakannya yang seperti kapal perang itu membuatnya dinamakan demikian), memang rata-rata lahir dari pertambangan yang usai atau hubungan antarmanusianya yang masai. Mungkinlah, jika aku bertengkar dengan Alina (dalam sebuah pertengkaran akibat perselingkuhan—alasan satu ini memang tidak termaafkan), kekisruhannya akan menyaingi Tarakan yang seketika bisa membuat toko-toko tutup dan sekolah diliburkan.

Sobekan kertas koran yang tertiup angin itu mendadak berhenti tepat di depan kakiku. Aku menunduk dan dari posisi ruku’ kutengadahkan kepala mengikuti arah jalan. Pikiranku menebak-nebak ke mana jalan ini menuju. Berharap ada satu pintu jalan keluar yang akan mempertemukan kembali dengan Alina, ah, atau aku (kalau bisa) ingin menarik Alina ke dalam kota ini saja. Sepertinya akan jauh lebih romantis, berada di kota ini berdua dengan Alina, bahkan takkan malu-malu kuteriakkan cinta, memeluk dan menciuminya seolah-olah tidak akan pernah ada ciuman lagi setelahnya.

“Pikiran yang bodoh!”

Ya, memang pikiran yang bodoh.

“Kau tak akan bisa keluar dari sini.”

Seorang pria, dengan janggut keputihan dan kacamata baca yang tua sedang berjongkok di atas cerobong asap. Ia bercelana jins belel dan kaos putih kumal (yang kuduga bukan karena tak bisa mencuci, tapi memang airnya yang tak cukup bersih).

“Panggil aku Marquez.”

“Kau bisa membaca pikiranku?”

“Kau tidak sadar…kalau kau itu seperti sebuah halaman yang memberikan pembacaan utuh kepada pembaca.”

“Maksudmu?”

“Seratus tahun kesunyian…. Seratus tahun kesunyian adalah hukuman yang kau terima hari ini, dan nyaris empat ribu hari setelahnya.” Marquez tua menghela napas sebentar, “Dan tidak pernah ada malam.”

Bagaimana menghitung hari jika tak ada malam? Dan jika benar Macondo seperti yang tertera di papan jalan, kenapa Marquez tampak seperti lelaki tua yang payah?

“Aku tidak menua… Macondo tidak berbohong.”

Tapi aku tidak percaya.

***

TIGA tahun sudah kami berkenalan. Di sebuah resto sea food dengan harga terjangkau untuk anak muda, aku melihatnya duduk sendirian. Hari itu, ia mengenakan busana yang manis sekali. Kaos warna oranye yang agak ketat (dalam arti membikin bentuk tubuhnya terlihat cukup jelas) membuat kulit putihnya itu menjadi terlihat benar-benar putih. Rambutnya sebahu. Dan tangannya sedang asyik menekan keypad handphone. Elyasa, sahabatku, bilang kalau wanita sedang sendirian dan bermain handphone, itu artinya dia sedang menunggu seseorang dan jangan diganggu. Tapi, sebut namaku tiga kali (Sakum, Sakum, Sakum) dan segala urusan akan menjadi mudah!

“Sendirian?”

“Seperti yang kau lihat.”

“Sakum.”

“Aku tidak bertanya.”

“Siapa yang kamu tunggu?”

“Seorang lelaki.”

Aku pikir dia bercanda dan kuberanikan menarik kursi untuk kududuki. Ya, cuma perlu sedikit keberanian untuk membuat cinta hadir dan dekat.

“Aku benar-benar sedang menunggu seorang lelaki.”

“Mungkin lelaki itu aku.”

Tiba-tiba Alina berdiri dan melenggang pergi.

Satu minggu kemudian, minggu yang tak pernah aku sangka-sangka dan sejak saat itulah aku yakin akan adanya jodoh, ikatan takdir, serendipity, atau apalah namanya, di antara kami. Dia sedang duduk di halte yang sama denganku, dan masih menggunakan kaos oranye—tentu dengan motif yang berbeda (sepertinya memang warna kesukaannya).

“Sedang menunggu lelaki?”

Dia menoleh.

“Kau menguntitku?”

Tidak.

“Tiga tujuh derajat celcius, dunia semakin panas ya, eh, aku belum tahu namamu.”

“Alina.”

“Dan menunggu lelaki?”

“Dia tidak pernah datang.”

Aku ingin bertanya lebih jauh, tetapi menurut Freud, dalam kondisi seperti ini tidak begitu baik untuk terus-menerus memberikan pertanyaan. Karena hal ini bisa dianggap sebagai desakan. Perempuan yang sedang sedih tidak suka merasa didesak. Perihal demikian malah membuat jarak.

“Dia mengirimiku kartu pos. Kami bertemu di dunia maya.”

Aduh, sebenarnya aku tak suka mendengar cerita klasik semacam ini. Seseorang berkenalan dengan seseorang yang lain di dunia maya, beberapa kali chatting, bertukar email, lalu jatuh cinta. Bah! Lelaki itu harus berani bertukar mata, dan sedikit kegilaan akan membuat kita dikenang. Minimal hadir dalam ingatan!

“Kau tahu namanya, alamatnya?”

Alina menggeleng. Dia menunjukkan kartu pos itu padaku. Tuan M. Kota M. Cinta adalah api yang terbakar tanpa sumbu. Hanya begitu isinya.

***

KALAU aku tidak terdampar di Macondo, entah sudah berapa lama aku di sini—jam tanganku tidak berfungsi, bersabar dan berharap ada burung-burung terbang yang dijanjikan, atau layang-layang putus, dan televisi menyala menyalakan channel-channel favoritku—yang tentu saja tidak didominasi sinetron, aku pasti sudah merasakan bibir Alina di bibirku (ya, jika beruntung bahkan kami bisa menghabiskan malam bersama di sebuah hotel bintang lima).

“Dasar laki-laki berpikiran kotor!”

Pada nyatanya, laki-laki yang mengaku bernama Marquez, yang sepertinya bisa membaca pikiran, dan tetap bersiul sendirian, duduk di kursi goyang dan membaca koran (entah sudah berapa kali dia membacanya), itulah satu-satunya mahkluk hidup yang bisa kulihat di sini. Lama-lama aku muak. Terlebih karena aku sama sekali tidak merasa lapar.

“Hei Sakum, kau tahu satu menit ada berapa detik?”

“Tentu, enam puluh. Anak kecil saja tahu.”

“Kalau satu tahun?”

“Ya, kalikan saja, 365 x 24 x 60 x 60!”

“Makanya kutanya kau…aku tak pandai berhitung.”

“31536000, jika bukan kabisat.”

“Sepertinya sudah waktunya.”

“Waktu?”

“Seratus tahun kesunyian, Sakum…seratus tahun kesunyian!”

Aku masih tidak mengerti.

“Kau mau menonton televisi bersamaku?”

Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. Sebenarnya aku penasaran apakah televisi itu akan bisa memancarkan siaran sebab yang kutatap sampai sekarang hanyalah gambar semut hitam putih yang tidak pernah menampakkan sesuatu.

“Terima kasih, Kum….”

“Terima kasih?”

Bug! Marquez memukul tengkukku.

Aku pingsan.

Saat aku terbangun, Marquez sudah tak ada.

***

HANDPHONE-KU yang sepertinya belum kehabisan baterai tiba-tiba berbunyi. Beberapa pesan masuk dan mengabarkan telah ditambahkan pulsa lima puluh ribu. Satu pesan lain selain pesan-pesan dari provider itu bertuliskan “AKU BAIK KAN?”

Kubalas, “SIAPA?” Tapi tidak dibalas-balas juga. Kuhubungi, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Pikiranku kembali ke Alina.

“Sayang, syukurlah kau mengangkat teleponku.”

“Jadi, masih berada di dalam kartu pos?”

“Iya, entahlah, sudah berapa lama aku di dalam sini.”

“Kamu baru telat enam jam kok.”

Nadanya mengejek.

“Jadi di dalam kartu pos ada kios jual pulsa?”

“Lho, bukan kamu yang mengisikan aku pulsa?”

“Aku? Mimpi kamu….”

Seandainya memang benar ini mimpi.

“Kita putus saja ya.”

“Hah?”

“Iya, PUTUS!”

“Kita kan sudah tiga tahun pacaran, kamu tega?”

“OK, apa kamu ingat kapan kita kali pertama bertemu?”

“Ya, tiga tahun lalu.”

“Kamu ingat apa yang aku katakan di halte?”

“Namamu Alina….”

“Lalu?”

“Ah, sepertinya cuma itu….”

“Beberapa jam lalu ada yang meneleponku. Laki-laki tiga tahun lalu itu datang lagi, dia bilang ingin melamarku.”

“Laki-laki? Tiga tahun lalu?”

“Ya….”

“Kau menerimanya?”

“Tergantung bagaimana dia menyatakan cintanya nanti….”

“Kau sudah tahu namanya?”

“Ya, tadi dia bilang namanya Marquez.”

“Marquez?”

“Marquez dari Macondo….” (*)

(2010)

Catatan:

[1] Nama Kota yang digunakan Gabrial Garcia Marquez di novel Seratus Tahun Kesunyian

[2] Hiro Mashima, dalam Fairy Tale, energi dari kota di balik langit

APA YANG DIPIKIRKAN OLEH RYUNOSUKE AKUTAGAWA 5 DETIK SEBELUM BUNUH DIRI?

                Aku pikir alasan seseorang menemui ajalnya adalah karena ia sudah tidak berguna lagi di dunia. Ia sudah melakukan hal yang besar lalu tugasnya selesai atau sebaliknya, ia baru menyadari tidak ada apapun yang dapat ia lakukan.

Hidup seperti itu, tanpa tahu harus berbuat apa lebih menyakitkan ketimbang disakiti oleh orang lain. Toh dengan disakiti, mana tahu kita membuat orang yang menyakiti kita bahagia. Hidup selalu begitu ‘kan? Kebahagiaan seseorang seringkali berada di atas penderitaan orang lain.