Tag Archives: cerpen ade ubaidil

Apa yang Kita Bicarakan di Usia 26? Apakah Sama dengan Ade Ubaidil?

Tidak banyak penulis generasi milenial yang menulis realisme. Tidak tahu kenapa, barangkali karena ada keengganan, barangkali juga karena gaya hidup generasi milenial kebanyakan berjarak dengan realitas. Kami (karena saya juga termasuk generasi milenial) memandang dunia lebih sering dari layar televisi, dan kini layar ponsel, ketimbang benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan dirasakan oleh manusia di luar sana.

Realisme memilih gambaran sehari-hari ketimbang meromantisasi atau memodifikasi kenyataan itu. Suatu objek ditampilkan apa adanya tanpa ada tambahan atau interpretasi tertentu. Realisme menjadi sebuah cara untuk menunjukkan kebenaran tanpa perlu menutup-nutupi hal yang buruk.

Dalam karya sastra, penulis realis akan mampu menghidupkan para tokohnya apa adanya, seolah-olah tokoh itu dan manusia asli, tak ada bedanya.

Ade Ubaidil dalam Kumpulan Cerita Pendek “Apa yang kita bicarakan di usia 26?” sepertinya mengambil jalan realisme itu. Kegelisahan-kegelisahan yang menjadi premis dalam ke-14 ceritanya (minus preambul) adalah kenyataan yang mungkin dialami oleh seorang pria berusia 26 tahun dengan segala latar sosial-budaya yang dialami penulisnya. Meski kemudian, Ade mentransformasi kegelisahannya yang sifatnya personal menjadi gagasan yang lebih diterima secara universal.

Di satu sisi, jalan realisme Ade Ubaidil ini adalah kabar baik. Saya suka membaca ada penulis muda yang menempuh jalan ini di tengah maraknya penulis-penulis yang menulis dengan “gaya-baru”. Aku lebih suka menyebut “gaya-baru” ini sebagai efek dari hiperrealisme, ketika kenyataan dan bukan kenyataan sudah bercampur sehingga sulit dibedakan.

apa yang kita bicarakan di usia 26

Hanya saja, sebagai penulis realisme, ada detail-detail yang membuatku bertanya-tanya.

Ya, karena realisme menggambarkan subjek dan objek apa adanya, detail tentang itu sangat dibutuhkan.

Misalnya, dalam cerita “Peramal Telapak Tangan”, Ade menceritakan tentang seorang ayah yang punya pekerjaan sampingan sebagai peramal telapak tangan secara diam-diam. Ada beberapa hal yang menggangguku, seperti:

  • Ke Bioskop menonton film Drama Korea. Pertama, jika mereka pencinta Korea, tidak akan ada frasa “film Drama Korea”. Jika yang ditonton adalah film, hanya “film Korea” yang akan disebut. Sebab, drama Korea mengacu pada serial drama yang rata-rata 16 episode dan tidak ditayangkan di bioskop. Kedua, jarang sekali film Korea yang masuk ke bioskop Indonesia, kecuali memang konsumsi bagi pencinta film.
  • Garis tangan yang dibaca adalah garis tangan kanan. Memang ada banyak perbedaan pendapat tentang garis tangan mana yang harus dibaca, namun, bisa dibilang, jika hendak menggambarkan masa depan, garis tangan yang dibaca adalah garis tangan yang bukan dominan digunakan.

Dalam cerita “Budi Bertanya tentang Pancasila”, aku merasakan ada ketidaksesuaian usia tokoh dan dialog yang ia lakukan. Penjelasan yang ayahnya berikan masih terlalu berat untuk anak kelas 3 SD. Namun, dengan mudahnya sang anak berkata mengerti penjelasan ayahnya. Seperti ketika dia bilang, “Ayah, katanya keadilan sosial….” ketika memprotes Pak Kyai yang dapat jatah besek lebih banyak. Barangkali bisa diubah menjadi, “Ayah, bukannya adil itu sama ya? Kok Pak Kyai dapat dua…”

Contoh terakhir bisa dilihat dalam cerpennya yang berjudul, “Pesan Ayah”. Aku cukup kesulitan untuk menyusun setting waktu.

Jadi, ceritanya, ada ayah yang memberikan pesan kebaikan berupa anjuran sedekah kepada anaknya. Ayahnya itu seorang walikota, dua periode pula. Sebagai anak yang baik, ia mengikuti jejak ayahnya menjadi kepala daerah. Termasuk mengikuti jejaknya yang lain, ternyata sang ayah penerima suap.

Penanda waktu yang digunakan di dalam cerpen itu membuatku tidak paham, pada usia berapa sang tokoh menjadi kepala daerah menggantikan ayahnya?

Dua cerpen terakhir patut menuai pujian. Narayya dari Moor dan Apa yang Kita Bicarakan di Usia 26? yang menjadi judul buku ini sublim menurutku. Elemen di dalam Narayya dari Moor terasa sangat pas, termasuk juga cara mengakhiri ceritanya. Sedangkan cerpen yang menjadi judul buku ini asik karena di sini Ade Ubaidil terasa mengeluarkan kepribadiannya. Di cerpen-cerpennya yang lain ia kebanyakan berusaha menjadi pengamat, orang ketiga. Di cerpen inilah, buatku, Ade Ubaidil terasa melepaskan “beban”-nya dan menjadi aku-prosa dan bernarasi dengan lincah.

Aku pikir jika Ade Ubaidil bisa menajamkan dua hal itu (melepaskan beban saat menulis dan lebih memperhatikan detail), ia akan menjadi penulis yang patut selalu diapresiasi.