Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Tag: cerita

Lomba Menulis Cerita Perjalanan ke Negara ASEAN

Published / by Pringadi As / 1 Comment on Lomba Menulis Cerita Perjalanan ke Negara ASEAN

Dalam rangkaian ASEAN Literary Festival 2017, Majalah Litera mengadakan lomba menulis cerita perjalanan ke negara-negara ASEAN. Lomba ini berhadiah total lebih dari 5 juta rupiah.

Lomba Menulis Cerita Perjalanan

Berikut syarat-syaratnya

  1. Merupakan warga negara Indonesia
  2. Pilih perjalanan ke salah satu negara di ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Filipina, Thailand, Vietna, Laos, Myanmar dan Kamboja)
  3. Lomba dimulai 10-30 Juli 2017
  4. Panjang naskah maksimal 1000 kata
  5. Tema: Beyond Imagination. Subtema Manusia, tradisi, kuliner, dan kegembiraan.
  6. Boleh ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.
  7. Dikirim ke redaksi@litera.id dengan foto penulis, salinan identitas diri, dan data diri.
  8. Pengumuman pemenang dilakukan pada 3 Agustus 2017

Hadiahnya adalah 1 juta rupiah untuk 5 orang pemenang masing-masing. Lima tulisan favorit lainnya akan mendapatkan souvenir dan berlangganan majalah litera 3 bulan.

Informasi lomba lainnya bisa diklik di sini.

Vetsin dan Alasan Sia-sia

Published / by Pringadi As / Leave a Comment

Aku mendapat cerita ini dari temanku. Temanku bercerita tentang temannya yang juga temanku. Cerita ini ada karena aku mengatakan kepadanya temannya yang juga temanku itu bukanlah seorang homo. Dia tidak setuju atas pendapatku.

Selama di kampus, aku pernah tergabung di dalam sebuah klub menulis. Ketika aku masih di tahun pertama, kakak-kakak kos sering meledekku karena klub menulis itu dipenuhi banyak lelaki melambai. “Kau mau ketularan jadi maho, Pring?” ledek mereka. Bahkan mereka sering menirukan aksen kekemayu-kemayuan ketika memanggil namaku untuk meledekku. Pada akhirnya, aku memang tak aktif lagi di klub tersebut karena isu itu bukan hanya menjadi isu satu kos, tapi isu satu kampus. Teman-teman sekelasku pun mengatakan hal yang sama ditambah kenyataan bahwa kelompok ini selain satu klub, juga berada di satu kos. “Kau nggak takut direkrut jadi bagian dari mereka, Pring?” katanya. Kos mereka dijuluki sebagai kos maho.

Singkat cerita mereka lulus. Aku naik kelas dan karena kecintaanku pada dunia tulis-menulis, aku kembali aktif untuk terlibat dalam kegiatan sastra. Syukurlah, adik kelas tidak ada yang melambai. Yang lebih bikin semangat barangkali ada satu cewek yang manis yang menjadi junior di klub tersebut.

Masalahnya adalah di angkatanku sendiri ada dua orang cowok yang kemayu. Aku sih selalu mencoba berpikir positif bahwa tidak semua lelaki kemayu memiliki orientasi seksual yang menyimpang. Tetapi mendengar ucapan orang sana-sini, bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih, yang selalu bersama-sama kayak sepasang biji, aku jadi insecure juga. Mengingat betapa spontannya aku, kutanyakan langsung kepada mereka berdua. “Hei, apakah kalian berdua homo?” Mereka menjawab tidak dan aku percaya itu sampai aku lulus.

Sampai aku lulus dan kuceritakan hal ini kepada temanku, dia tertawa. “Mana ada Pring orang yang mau mengaku terang-terangan kalau ditanyai…”

Lalu dia pun menceritakan sebuah kisah. Kisah ini lebih fiksi dari fiksi manapun. Bersiaplah.

Katanya, ini terjadi ketika ia masih berada di tahun pertama. Ketika kuliah Agama, dosen tiba-tiba mengemukakan ingin mencoba ruqyah massal di kelas. Dimulailah ruqyah itu dan tidak terjadi apa-apa pada mahasiswa, kecuali satu mahasiswa. Mulanya ia terlihat gelisah, senyum-senyum sendiri, tertawa, dan suaranya berubah. Sesuatu yang berbeda muncul dari dalam dirinya. Persis seperti acara-acara ghaib tengah malam.

Sang Dosen mendekati mahasiswa itu dan dimulailah dialog. Inti dari dialog itu adalah sang mahasiswa ini memiliki jin yang di dalam dirinya. Dan bukan sembarang jin. Melainkan jin banci.

Mahasiswa itu adalah salah satu dari dua orang teman klubku tadi.

Temanku itu kemudian menambahkan, “Apa kau nggak baca tulisan-tulisan temanmu itu?” Dia bicara tentang yang satunya. Dan aku harus mengaminkan kalau banyak tulisannya bertema LGBT.

Soal jin tadi, aku teringat pada ucapan orang-orang zaman dulu. Tadinya aku pikir itu hanyalah perumpamaan. Setiap ada lelaki klemar-klemer, kemayu, yang dibilang adalah “Ah paling dia kebanyakan makan micin (vetsin)”.

Ternyata ucapan ini maknanya dalam sekali.

Pertama, aku jadi teringat ucapan kepala seksiku. Hal paling berbahaya itu adalah ketika setan masuk melalui makanan. Yang paling dihindari adalah makan makanan yang tidak halal. Jangan sampai memberi makan diri dan anak-anak dari makanan yang tidak halal itu. Dari sanalah setan akan masuk ke dalam darah dan mempengaruhi perilaku manusia.

Menurutnya, itulah yang menjadi sumber awal kerusakan manusia. Ada banyak zat additif di dalam makanan yang dijajakan. Kita tidak bisa secara clear menilai zat additif itu baik atau buruk.

Kedua, keluarga. Makna vetsin adalah makna keluarga. Aku bersyukur dianugerahi seorang ibu yang tak pernah memasak menggunakan MSG. Kekasihku pun begitu. Dia memasak anti-MSG dan tak percaya klaim MSG yang mengatakan MSG tak berbahaya dalam jumlah yang tepat. Ibu sering bilang, dari SD, jangan sembarangan jajan di luar karena banyak makanan pakai micin. Menurut ibuku itu, micin dapat merusak otak dan bikin nggak sehat.

Lebih dari itu, kenapa kita makan di luar kalau ada keluarga dan bisa memasak di rumah? Meja makan adalah tempat interaksi paling sublim di muka bumi ini. Maka, benar pula dikatakan harta yang paling berharga adalah keluarga. Apakah orientasi yang menyimpang bisa lahir dari sebuah keluarga yang harmonis, yang peran anggota keluarganya berjalan dengan baik?

Terlepas dari kedua hal itu, tentang jin tadi, aku jadi membayangkan, gimana kalau para maho itu semuanya diruqyah. Aku jadi curiga, jangan-jangan hal yang sama akan terjadi. Suara berubah. Jin di dalam tubuhnya keluar dan mengaku sebagai jin banci.

*Barangkali.