Tag Archives: cerita pendek

Cerpen Haruki Murakami: Yesterday

Sejauh yang kutahu, satu-satunya orang yang pernah menggunakan lirik Jepang untuk menyanyikan lagu Yesterday-nya The Beatles (dan mendendangkannya dalam dialek Kansai yang khas itu) adalah seorang pria bernama Kitaru. Ia gunakan lirik versi miliknya ini saat berkaraoke ria di kamar mandi.

Kemarin

Adalah dua hari sebelum besok,

Dan sehari setelah kemarin lusa.

Yang kuingat seperti inilah lagunya dimulai, tapi karena aku sudah tak mendengar lagi untuk waktu yang lama, jadi aku tidak begitu yakin. Dari awal sampai akhir, lirik Kitaru ini hampir tidak berarti, asal-asalan, omong kosong yang tak ada hubungannya dengan versi aslinya. Lagu sahdu dengan melodi melankolis yang begitu familiar itu dikawinkannya dengan dialek Kansai yang semilir -jauh dari nuansa sedih- membuat lagu itu menjadi sebuah kombinasi aneh, semacam dobrakan berani. Setidaknya, itulah yang terdengar olehku. Pada saat itu, aku hanya mendengarkan dan menggeleng. Aku tertawa dibuatnya, namun aku juga bisa menangkap semacam pesan tersembunyi di dalamnya.

Aku pertama kali bertemu Kitaru di sebuah kedai kopi dekat gerbang utama Universitas Waseda, tempat kami bekerja paruh waktu, aku bekerja di dapur sementara Kitaru menjadi pelayan. Kami berbicara banyak selama waktu senggang di toko itu. Kami berdua sama-sama berusia dua puluh tahun, dan ulang tahun kami hanya berjarak seminggu.

“Kitaru adalah nama yang tidak biasa,” kataku suatu hari.

“Ya, memang,” jawab Kitaru dengan aksen Kansai yang berat.

“Tim bisbol Lotte punya pitcher dengan nama yang sama.”

“Tak ada hubungan antara kami berdua. Memang nama kami tidak umum, jadi siapa tahu? Mungkin ada hubungannya juga sih.”

Aku adalah seorang mahasiswa Waseda, di fakultas sastra. Kitaru sendiri gagal ujian masuk dan sedang mengikuti kursus persiapan agar bisa tembus. Sebenarnya dia telah gagal ujian dua kali, tapi nampaknya dia tidak terlalu peduli. Dia kelihatan tidak serius belajar. Ketika punya banyak waktu, dia memang banyak membaca, tapi tidak ada yang terkait dengan ujian – biografi Jimi Hendrix, buku tentang shogi, “Where Did the Universe Come From?” dan sejenisnya. Dia mengatakan kepadaku bahwa ia pulang-pergi ke tempat kursus dari rumah orangtuanya di Ota Ward, Tokyo.

“Ota Ward?” Aku bertanya heran. “Tapi kupikir kau dari Kansai.”

“Oh bukan. Aku lahir dan dibesarkan di distrik Denenchofu.”

Ini benar-benar membuatku bingung.

“Lalu kenapa kamu berbicara dengan dialek Kansai?” Tanyaku.

“Aku mendapatkannya. Hanya dengan mempelajarinya.”

“Mendapatkannya?”

“Ya, kamu bisa lihat hasil kerja kerasku ini kan? Kata kerja, kata benda, aksen-seluruhnya kupelajari. Sama lah seperti belajar bahasa Inggris atau Perancis. Bahkan aku pergi ke Kansai untuk latihan.”

Ternyata ada ya orang yang belajar dialek Kansai seperti halnya belajar bahasa asing? Ini hal baru bagiku. Ini membuatku menyadari betapa Tokyo ini luas, dan banyak hal yang aku belum tahu. Mengingatkanku pada novel “Sanshiro”, cerita tentang orang kampung yang pergi ke kota besar.

“Saat masih kecil, aku adalah penggemar berat Hanshin Tigers,” Kitaru menjelaskan. “Pergi ke setiap pertandingan mereka kalau bermain di Tokyo. Tetapi jika aku duduk di tempat duduk pendukung Hanshin dan berbicara dengan dialek Tokyo, tak seorang pun ingin menyapaku. Tidak bisa menjadi bagian dari masyarakat, kau tahu kan rasanya? Jadi kupikir, aku harus belajar dialek Kansai, dan aku bekerja keras seperti seperti anjing saja.”

“Jadi itu yang memotivasimu?” Aku hampir tak percaya.

“Benar. Tigers sangat berarti bagiku,” kata Kitaru. “Sekarang dialek Kansai yang aku pakai saat berbicara di sekolah, di rumah, bahkan ketika aku tidur pun. Dialekku ini hampir sempurna kan?”

“Tentu saja. Aku berpikir kamu dari Kansai,” pujiku.

“Jika aku serius belajar untuk ujian masuk seperti yang kulakukan saat mempelajari dialek Kansai, tentunya aku tidak akan menjadi pecundang yang dua kali gagal seperti sekarang.”

Dia menyadarinya juga. Bahkan pembawaan dirinya itu sudah seperti orang Kansai.

“Jadi kalau kamu dari mana?” Tanyanya.

“Kansai. Dekat Kobe,” kataku.

“Dekat Kobe? Sebelah mana?”

“Ashiya,” jawabku.

“Wow, bagus. Kenapa kau tidak mengatakan ini dari awal?”

Aku menjelaskan. Kalau orang bertanya tentang asalku dan aku mengatakan berasal dari Ashiya, maka mereka selalu beranggapan bahwa aku dari keluarga kaya. Padahal semua jenis keluarga pun ada di Ashiya. Keluargaku, salah satu yang tidak terlalu kaya. Ayahku bekerja di sebuah perusahaan farmasi dan ibuku adalah pustakawan. Rumah kami kecil dan mobil kami Corolla berwarna krim. Jadi, ketika orang bertanya padaku di mana aku berasal, maka aku akan mengatakan asalku di “dekat Kobe”, sehingga mereka tidak berpraduga dulu tentangku.

“Hey, sepertinya kau dan aku senasib,” kata Kitaru. “Alamatku di Denenchofu-area kelas atas- namun rumahku berada di bagian kumuhnya. Rumahnya kumuh juga. Kamu harus datang kapan-kapan. Kamu akan terkejut, seperti, Apa? Ini di Denenchofu? Tidak mungkin! Tapi mengkhawatirkan sesuatu seperti itu tidak masuk akal, kan? Ini alamatnya. Tapi aku melakukan kebalikan-aku mengatakan langsung dengan bangga bahwa aku dari Den-en-cho-fu. Terus kenapa, ada masalah dengan ini, hah?”

Aku pun terkesan. Dan karena inilah awal pertemanan kami.

***

 

***

Sampai lulus SMA, aku berbicara dengan dialek Kansai. Tapi cuma butuh satu bulan di Tokyo bagiku untuk menjadi benar-benar fasih dalam standar Tokyo. Aku agak terkejut bahwa aku bisa beradaptasi begitu cepat. Mungkin aku memiliki kemampuan beradaptasi seperti bunglon. Atau mungkin aku memiliki keterampilan berbahasa yang lebih tinggi dari kebanyakan orang. Yang pasti, sekarang tidak ada yang percaya bahwa aku seorang yang berasal dari Kansai.

Alasan lain aku berhenti menggunakan dialek Kansai adalah bahwa aku ingin menjadi orang yang sama sekali berbeda.

Saat aku pindah dari Kansai ke Tokyo untuk memulai kuliah, aku menghabiskan seluruh waktu di kereta cepat dengan meninjau delapan belas tahun usiaku dan menyadari bahwa hampir segala sesuatu yang telah terjadi padaku cukup memalukan. Aku tidak melebih-lebihkan. Aku tidak ingin mengingat semua itu karena sangat menyedihkan. Semakin aku berpikir tentang hidupku sampai saat itu, semakin aku membenci diriku sendiri. Itu bukan berarti aku tidak memiliki beberapa kenangan yang baik. Ada sejumlah pengalaman bahagia. Tapi, jika mengakumulasikannya, kenangan yang memalukan dan menyakitkan jauh lebih banyak. Ketika aku berpikir tentang bagaimana aku telah mengisi hidupku, bagaimana aku harus menjalani kehidupan selanjutnya, ini semua begitu terlambat, sehingga yang kudapat hanya kesia-siaan. Seorang kelas menengah yang tak kreatif seperti sampah, dan aku ingin mengumpulkan semuanya kemudian menyimpannya dalam laci. Atau membakarnya dan memelototinya sampai menjadi asap (aku tidak tahu jenis asap apa yang akan tercipta). Pokoknya, aku ingin menyingkirkan semua itu dan memulai hidup baru di Tokyo sebagai orang baru. Dengan menanggalkan dialek Kansai, ini menjadi sebuah metode praktis (serta simbolik). Karena, menurut sebuah penelitian, bahasa yang kita pakai mencerminkan siapa kita. Setidaknya inilah ideku saat masih di usia delapan belas itu.

“Memalukan? Apanya yang memalukan?” Kitaru bertanya.

“Kamu pasti tahu.”

“Punya hubungan buruk dengan keluargamu?”

“Hubungan kami baik kok,” kataku. “Hanya saja itu memalukan. Hanya berada bersama mereka membuatku merasa malu.”

“Kau aneh, kau tahu itu kan?” Kata Kitaru. “Kenapa kau malu dengan keluargamu? Aku nyaman-nyaman saja dengan keluargaku.”

Aku tidak bisa benar-benar menjelaskannya. Apa yang begitu buruk tentang memiliki Corolla berwarna krem? Aku tidak bisa mengatakan. Orang tuaku hanya tidak tertarik untuk menghabiskan uang demi penampilan, itu saja.

“Orang tuaku juga kesusahan karena aku tidak belajar sungguh-sungguh. Aku benci itu, tapi gimana ya? Itu urusan mereka. Jadi kau tetap harus melihat masa lalumu itu, kau tahu?”

“Oh kau sungguh orang yang santai, kan?” Kataku.

“Kau punya pacar?” Tanya Kitaru.

“Tidak untuk saat ini.”

“Tapi kamu punya sebelumnya kan?”

“Sampai beberapa waktu yang lalu.”

“Kalian putus?”

“Memang,” kataku.

“Kenapa kau putus?”

“Ceritanya panjang. Aku tidak ingin mengungkitnya.”

“Sudah sejauh mana hubunganmu dengannya?”

Aku menggeleng. “Tidak begitu jauh sih.”

“Jadi karena inilah kamu putus?”

Aku memikirkannya. “Ya karena ini juga.”

“Tapi kau sudah bercinta dengannya kan?”

“Hampir.”

“Tepatnya sampai sejauh mana?”

“Aku tidak ingin berbicara tentang hal itu,” kataku.

“Apakah itu sesuatu yang memalukan untuk kamu bicarakan?”

“Ya,” kataku.

“Oh, hidupmu sungguh rumit,” kata Kitaru.

***

Pertama kali aku mendengar Kitaru menyanyikan “Yesterday” dengan lirik gilanya itu ketika dia sedang di kamar mandi rumahnya di Denenchofu (berbeda dari uraiannya, sebenarnya bukan rumah kumuh di lingkungan kumuh tapi hanya sebuah rumah biasa di lingkungan biasa, sebuah rumah tua, tetapi lebih besar dari rumahku di Ashiya, rumah yang tidak terlalu mencolok, dan terdapat mobil Golf biru tua di jalan masuk, mobil model terbaru). Setiap kali Kitaru pulang, ia langsung menjatuhkan barang-barangnya kemudian memasuki kamar mandi. Dan, ketika sudah berada di bak mandi, ia bakal tinggal lama di dalamnya. Jadi aku sering membawa bangku bulat kecil ke ruang ganti yang berdekatan dan duduk di sana, berbicara kepadanya melalui pintu geser yang terbuka sekitar satu inci. Itu adalah satu-satunya cara untuk menghindari ibunya yang selalu menceracau ke sana-kemari (kebanyakan keluhan tentang anak anehnya dan bagaimana ia perlu belajar lebih sungguh-sungguh).

“Lirikmu itu tidak masuk akal,” kataku. “Kedengarannya kamu sedang mengolok-olok lagu ‘Yesterday.’”

“Jangan sok pintar. Aku tidak mengolok-olok kok. Kalau pun iya, kamu harus ingat bahwa John sendiri juga suka terhadap omong kosong dan permainan kata. Benar kan?”

“Tapi Paul yang menulis ‘Yesterday’.”

“Kamu yakin?”

“Tentu saja,” aku menyatakan. “Paul yang menulis lagu dan merekamnya sendiri di studio dengan gitar. Sebuah string quartet ditambahkan kemudian, bahkan anggota The Beatles yang lain tidak terlibat sama sekali. Mereka pikir itu terlalu lemah untuk dijadikan lagu The Beatles.”

“Benarkah? Aku tidak tahu ada informasi rahasia seperti itu.”

“Ini bukan informasi rahasia. Ini cuma fakta yang sudah terkenal kok,” kataku.

“Ah siapa peduli? Itu hanya detail,” suara Kitaru terdengar sayup-sayup dari dalam. “Aku bernyanyi di kamar mandi rumahku sendiri. Bukan untuk rekaman atau apalah namanya. Aku tidak melanggar hak cipta, dan tak mengganggu siapapun. Jadi kamu tak punya hak untuk mengeluh.”

Dan dia sampai pada refrain, suaranya keras dan jelas. Dia bisa sampai nada tinggi dengan cukup baik. Aku bisa mendengar percikan air mandinya yang mengiringi nyanyiannya. Aku mungkin harus ikut bernyanyi bersamanya untuk sekedar membesarkan hatinya. Hanya duduk saja, berbicara melalui pintu kaca untuk menemaninya saat ia berendam dalam bak mandi selama satu jam sesungguhnya jauh dari menyenangkan.

“Kenapa sih kamu dapat berendam begitu lama di kamar mandi?” Aku bertanya. “Apakah tubuhmu itu tak jadi bengkak?”

“Ketika aku berendam di bak mandi untuk waktu yang lama, beragam inspirasi mendatangiku,” kata Kitaru.

“Seperti lirik ‘Yesterday’ itu?”

“Yah, itu salah satunya,” kata Kitaru.

“Daripada menghabiskan begitu banyak waktu memikirkan ide-ide di kamar mandi, bukankah lebih baik kamu belajar untuk ujian masuk?” Aku bertanya.

“Astaga, kau kerasukan rupanya. Ibuku juga mengatakan hal yang sama loh. Bukankah kamu terlalu muda untuk mengatakan nasihat bijak seperti itu?”

“Tapi kau kursus persiapan selama dua tahun. Apakah kamu tidak bosan?”

“Tentu saja aku ingin berada di perguruan tinggi secepat aku bisa.”

“Lalu kenapa tidak belajar lebih keras?”

“Ya-,” katanya, memikirkan kalimatnya. “Jika aku bisa, pasti aku sudah melakukannya.”

“Kuliah itu memang menjemukan,” kataku. “Aku benar-benar kecewa sekali saat aku memasukinya. Tapi tidak masuk kuliah justru lebih menjemukan.”

“Setuju,” kata Kitaru. “Aku tidak punya pembelaan untuk itu.”

“Jadi kenapa kamu tidak belajar?”

“Kurang motivasi,” katanya.

“Motivasi?” Tanyaku. “Pacarmu itu apakah tak bisa kau jadikan sebagai motivasi?”

Ada seorang gadis yang Kitaru kenal sejak mereka masih di sekolah dasar. Bisa dibilang telah jadian sejak kecil. Mereka pernah di kelas yang sama di sekolah, tapi tidak sepertinya, dia langsung masuk ke Universitas Sophia setelah lulus SMA. Sekarang dia di jurusan sastra Perancis dan bergabung dengan klub tenis. Dia menunjukkan kepadaku foto pacarnya itu, dia sungguh menarik. Seorang yang cantik dan ekspresinya ceria. Tapi mereka berdua jarang bertemu satu sama lain belakangan ini. Mereka sudah membicarakan dan memutuskan bahwa lebih baik tidak pacaran sampai Kitaru bisa lulus ujian masuk, agar ia bisa fokus pada studinya. Kitaru sendiri yang menyarankan ini. “OK,” pacarnya berkata, “jika itu yang kau inginkan.” Mereka berbicara banyak di telepon namun bertemu paling seminggu sekali, dan pertemuan mereka itu lebih seperti wawancara ketimbang pacaran. Mereka memesan teh dan membicarakan apa-apa yang sedang mereka lakukan. Mereka berpegangan tangan dan berciuman singkat, tapi hanya sejauh itu.

Kitaru memang bisa dibilang tidak terlalu tampan, tapi dia cukup sedap dipandang. Dia kurus, dan gaya rambut serta pakaiannya sederhana namun bergaya. Karena dia tidak banyak bicara, kita akan berasumsi kalau dia anak kota yang sensitif. Hanya ada sedikit kekurangan yang terletak di wajahnya yang terlalu ramping dan lembut, yang memberi kesan bahwa ia pribadi yang lemah atau plin-plan. Dan saat ia membuka mulutnya-semua kelebihannya tadi seakan runtuh seperti istana pasir yang hancur diinjak-injak seekor anjing Labrador. Orang-orang dibuat kaget dengan dialek Kansai yang ia sampaikan, belum cukup sampai itu, karena suaranya pun cempreng. Ketidakcocokan dengan penampilan luarnya itu sungguh mengejutkan; bahkan bagiku saat pertama kali bertemu.

“Hei, Tanimura, apakah kamu kesepian tanpa pacar?” Kitaru bertanya padaku keesokan harinya.

“Aku tidak menyangkal hal itu,” kataku.

“Bagaimana kalau kamu kencan saja dengan pacarku?”

Aku tidak mengerti maksudnya. “Apa maksudmu – kencan dengannya?”

“Dia gadis yang hebat. Cantik, jujur, pintar, pokoknya idaman. Kamu kencan dengan dia dan kamu tidak akan menyesal. Aku jamin itu.”

“Aku mau saja,” kataku. “Tapi mengapa aku harus kencan dengan pacarmu? Ini tidak masuk akal.”

“Karena kau orang baik,” kata Kitaru. “Kalau tidak, aku tidak mungkin menyarankan ini. Erika dan aku telah menghabiskan hampir seluruh kehidupan kita bersama-sama. Kami telah jadi pasangan, dan semua orang di sekitar kami sudah pada tahu. Teman-teman kami, orang tua kami, guru kami. Kami selalu bersama-sama.”

Kitaru menggenggam tangannya untuk mengilustrasikan ucapannya tadi.

“Jika kami berdua sama-sama masuk perguruan tinggi, hubungan kami pasti hangat dan kabur, tapi aku gagal ujian masuk, dan di sini kami. Aku tidak yakin mengapa, tetapi segalanya kian memburuk. Aku tidak menyalahkan siapa pun untuk ini. Ini semua salahku.”

Aku mendengarkannya dalam diam.

“Jadi aku seperti terbelah menjadi dua,” kata Kitaru. Dia menarik tangannya terpisah.

“Maksudmu?” Tanyaku.

Dia menatap telapak tangannya sejenak dan kemudian berbicara. “Yang aku maksud adalah ada satu bagian dari diriku yang khawatir, kau tahu? Maksudku, aku sedang menjalani kursus persiapan, belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi, sementara Erika sedang bermain bola di tempat kuliahnya. Bermain tenis, melakukan apa pun. Dia punya teman baru, mungkin juga berkencan dengan pria baru, aku tak tahu. Ketika aku berpikir tentang semua itu, aku merasa ditinggalkan. Seperti pikiranku ada di kabut. Kamu mengerti apa maksudku?”

“Aku mengerti,” kataku.

“Tapi ada bagian lain dariku yang – merasa lega mungkin? Karena jika hubungan kami hanya berjalan begini-begini saja, tanpa ada masalah atau apa pun, pasangan yang lancar mengarungi kehidupannya, ini seperti. . . kami lulus dari perguruan tinggi, menikah, kami jadi pasangan suami istri yang semua orang senang, kami memiliki dua anak, menempatkan mereka di sebuah sekolah dasar yang baik di Denenchofu, pergi ke tepi Sungai Tama di hari Minggu, Ob-la -di, Ob-la-da. . . Aku tidak mengatakan ini sesuatu yang buruk. Tapi aku hanya membayangkan, jika hidup semudah itu, senyaman itu. Mungkin lebih baik untuk berpisah untuk sementara waktu, kemudian menyadari bahwa kami berdua tak bisa hidup berpisah, sehingga kami balikan lagi.”

“Jadi kau mengatakan bahwa hidup yang lurus dan nyaman adalah sebuah masalah. Itu saja?”

“Ya, itu hanya soal.”

“Tapi kenapa aku harus kencan dengan pacarmu?” Aku bertanya.

“Aku pikir, jika dia harus pacaran dengan pria lain, lebih baik itu adalah kau. Karena aku mengenalmu. Dan kau kan bisa beri aku kabar dan sebagainya.”

Itu tetap tidak masuk akal bagiku, meski memang aku tertarik pada gagasan untuk bertemu Erika. Aku ingin mengetahui mengapa seorang gadis secantik dia ingin berpacaran dengan orang aneh seperti Kitaru. Aku memang pemalu kalau bertemu orang-orang baru, tapi aku adalah orang yang selalu penasaran.

“Seberapa jauh hubunganmu dengan dia?” Aku bertanya.

“Maksudmu bercinta?” Kata Kitaru.

“Ya. Apakah kau telah melakukannya?”

Kitaru menggeleng. “Aku tidak mampu, kau mengerti? Aku sudah mengenalnya sejak dia masih kecil, dan ini agak memalukan, kau mengerti, untuk memulainya, kemudian melepas bajunya, mencumbunya, meraba-rabanya, apa pun. Jika dengan gadis lain, aku pikir tidak akan ada masalah, tapi meletakkan tanganku di celana dalamnya, bahkan hanya berpikir tentang melakukan hal itu dengan dia, aku tak tahu, sepertinya sesuatu yang salah. Kamu mengerti kan?”

Aku masih tidak mengerti.

“Aku tidak bisa menjelaskan dengan baik,” kata Kitaru. “Seperti, ketika kau masturbasi, Kau pasti membayangkan seorang sosok wanita yang asli ada kan, ya?”

“Aku kira,” kataku.

“Tapi aku tidak bisa membayangkan Erika. Sepertinya melakukan hal itu sesuatu yang salah, kau mengerti? Jadi ketika aku masturbasi pun yang aku pikirkan ya gadis lain. Seseorang yang sebenarnya tidak terlalu kusuka. Bagaimana menurutmu?”

Aku terus memikirkan itu tapi tidak bisa mencapai kesimpulan apapun. Kebiasaan masturbasi orang lain berada di luar pengetahuanku. Ada hal-hal tentang diriku sendiri yang aku tidak bisa membayangkannya.

“Pokoknya, mari kita bertemu bersama-sama sekali, kita bertiga,” kata Kitaru. “Kemudian kau dapat memikirkannya.”

***

Kami bertiga-aku, Kitaru, dan pacarnya, yang bernama lengkap Erika Kuritani itu-bertemu pada hari Minggu sore di kedai kopi dekat Stasiun Denenchofu. Dia setinggi Kitaru, kulitnya kecokelatan, dan mengenakan blus putih lengan pendek yang rapi disetrika dan rok mini biru tua. Seperti seorang model yang tanpa cacat, yang berasal dari sebuah perguruan tinggi wanita elit. Dia semenarik dalam foto, tapi apa yang benar-benar membuatku tertarik secara pribadi bukanlah dari tampilan luarnya, tapi lebih kepada vitalitas hidup yang memancar dari dalam dirinya. Dia kebalikan dari Kitaru, yang sangat berbanding terbalik.

“Aku sangat senang bahwa Aki-kun memiliki teman,” kata Erika kepadaku. Nama pertama Kitaru adalah Akiyoshi. Dan dia adalah satu-satunya orang yang memanggilnya Aki-kun.

“Jangan membesar-besarkan. Aku punya banyak teman kok,” kata Kitaru.

“Tidak, tidak,” kata Erika. “Orang sepertimu tidak mungkin punya banyak teman. Kamu lahir di Tokyo, namun kamu berbicara dengan dialek Kansai, dan setiap kali kamu membuka mulutmu itu salah satu hal yang mengganggu, kamu bicara tentang Hanshin Tigers atau pergerakan shogi. Tidak ada orang aneh sepertimu bisa berteman dengan orang normal.”

“Nah, jika kau berpikir begitu, maka orang ini juga cukup aneh.” Kitaru menunjukku. “Dia dari Ashiya tetapi bicara dengan dialek Tokyo.”

“Itu jauh lebih umum,” kata Erika. “Setidaknya lebih umum daripada sebaliknya.”

“Hey, ini sudah masuk diskriminasi budaya,” kata Kitaru. “Semua suku sama, kau tahu. Dialek Tokyo tidak lebih baik dari Kansai.”

“Mungkin mereka sama,” kata Erika, “tapi karena Restorasi Meiji cara orang berbicara di Tokyo telah menjadi standar untuk diucapkan di Jepang. Maksudku, apakah ada yang pernah menerjemahkan ‘Franny dan Zooey’ ke dialek Kansai?”

“Jika ada, maka aku akan membelinya, pasti,” kata Kitaru.

Aku mungkin akan membelinya juga, aku pikir, tapi tetap diam.

Dengan bijak, bukannya menyeret lebih dalam di obrolan seperti itu, Erika Kuritani mengubah topik pembicaraan.

“Ada seorang gadis di klub tenisku yang dari Ashiya juga,” katanya, beralih kepadaku. “Eiko Sakurai. Apakah kamu kenal dia?”

“Aku kenal,” kataku. Eiko Sakurai adalah gadis tinggi kurus, yang orang tuanya merupakan pemilik lapangan golf besar. Terjebak-up, berdada rata, dengan hidung tampak lucu dan tidak ada kepribadian yang sangat ajaib. Tenis adalah salah satu hal yang paling ia kuasai. Jika aku tidak pernah melihatnya lagi, itu akan terlalu cepat bagiku.

“Dia pria yang baik, dan dia tidak punya pacar sekarang,” kata Kitaru kepada Erika. “Penampilannya oke, dia baik, dan dia tahu segala macam hal. Dia rapi dan bersih, seperti yang kamu lihat, dan tidak memiliki penyakit yang mengerikan. Seorang pemuda yang menjanjikan, kalau boleh kusebut.”

“Baiklah,” kata Erika. “Ada beberapa anggota baru yang manis di klub kami, aku akan senang untuk memperkenalkannya.”

“Nah, bukan itu yang kumaksud,” kata Kitaru. “Bisakah kamu pacaran saja dengannya? Aku belum kuliah dan aku tidak bisa kencan denganmu. Jadi tanpaku, kau bisa kencan saja dengannya. Dan aku pun tidak perlu khawatir.”

“Apa maksudmu dengan kau tidak perlu khawatir?” Tanya Erika.

“Maksudku, aku kenal kalian berdua, dan aku akan merasa lebih baik jika kamu kencan dengan dia ketimbang dengan lelaki yang tidak kukenal.”

Erika menatap Kitaru seolah-olah dia tidak percaya yang dibicarakannya. Akhirnya, dia berkata. “Jadi kau mengatakan bahwa aku boleh pacaran dengan lelaki lain asalkan itu Tanimura-kun ini? Kamu serius menyarankan kami berpacaran, berkencan?”

“Hei, ini bukan ide yang buruk, kan? Atau apakah kamu sudah pacaran dengan pria lain?”

“Tidak, tidak ada orang lain,” kata Erika dengan suara tenang.

“Lalu kenapa tak pacaran saja dengannya? Ini bisa dibilang sebuah pertukaran budaya.”

“Pertukaran budaya,” ulang Erika. Dia menatapku.

Aku pikir apapun yang aku katakan tak akan membantu, jadi aku diam saja. Aku memegang sendok kopi di tanganku, mengamati desainnya, seperti seorang kurator museum yang sedang meneliti artefak dari makam Mesir.

“Pertukaran budaya? Apa artinya itu?” Tanyanya kepada Kitaru.

“Seperti, mencari sudut pandang baru tentunya bukan sesuatu yang buruk bagi kita. . . ”

“Itu maksudmu tentang pertukaran budaya?”

“Ya, yang kumaksud adalah. . . ”

“Baiklah,” kata Erika Kuritani tegas. Jika ada pensil di dekatku, aku mungkin akan mengambilnya dan membelahnya menjadi dua. “Jika kau pikir kita harus melakukannya, Aki-kun, maka baiklah. Mari kita melakukan pertukaran budaya.”

Dia meneguk teh, mengembalikan cangkir ke tatakannya lagi, menoleh padaku, dan tersenyum. “Karena Aki-kun sendiri yang bilang kita boleh melakukan ini, Tanimura-kun, mari kita pergi kencan. Kedengarannya menyenangkan. Kapan kamu punya waktu lenggang?”

Aku tidak bisa bicara. Tidak mampu menemukan kata yang tepat pada saat yang penting adalah salah satu dari banyak masalah yang kupunya.

Erika mengambil catatan dengan sampul merah dari tasnya, membukanya, dan memeriksa jadwalnya. “Bagaimana kalau Sabtu ini?” Tanyanya.

“Aku belum punya agenda,” kataku.

“Sabtu ini kalau begitu. Kemana kita akan pergi?”

“Dia suka film,” ucap Kitaru padanya. “Cita-citanya ingin menulis skenario suatu hari nanti.”

“Kalau begitu kita pergi nonton film. Apa film yang harus kita lihat? Aku akan membiarkanmu yang memutuskan, Tanimura-kun. Aku tidak suka film horor, jadi apapun selain itu, aku bakal setuju.”

“Dia benar-benar penakut,” kata Kitaru kepadaku. “Saat kami masih kecil dan pergi ke rumah hantu di Korakuen, dia memegang tanganku dan-”

“Setelah nonton mari kita makan bersama-sama,” kata Erika, memotong ucapannya. Dia kemudian menulis nomor teleponnya di selembar buku catatannya dan memberikannya padaku. “Jika kamu sudah memutuskan waktu dan tempatnya, bisakah kau meneleponku?”

Aku tidak memiliki telepon saat itu (ini sebelum ponsel banyak seperti sekarang), jadi aku memberinya nomor kedai kopi tempat Kitaru dan aku bekerja. Aku melirik jam tanganku.

“Aku minta maaf karena aku harus pergi,” kataku, mencoba beramah-tamah sebisaku. “Aku punya tugas yang harus dikumpulkan besok.”

“Apakah tidak bisa menunggu?” tanya Kitaru. “Kita baru saja sampai di sini. Mengapa kau tidak tinggal sehingga kita bisa bicara lagi? Ada toko mie yang enak di sana.”

Erika tidak menyatakan pendapat. Aku menaruh uang untuk kopi di atas meja dan berdiri. “Ini tugas penting,” jelasku, “jadi aku benar-benar tidak bisa menundanya.” Sebenarnya, tugasnya tidak terlalu penting.

“Aku akan meneleponmu besok atau lusa,” kataku pada Erika.

“Aku akan menunggunya,” katanya, senyum yang indah terlihat di bibirnya. Senyum itu bagiku tampak agak terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.

Aku meninggalkan kedai kopi dan saat berjalan ke stasiun, aku bertanya-tanya apa sih yang kulakukan. Tenggelam dalam pikiran atas beragam hal yang terus berubah, seperti terlalu memikirkan yang terjadi barusan, adalah salah satu masalah yang selalu menyiksaku.

 

Sabtu itu, Erika dan aku bertemu di Shibuya dan nonton film Woody Allen yang berlatar di New York. Entah bagaimana aku punya perasaan kalau dia sangat menyukai film Woody Allen ini. Dan aku cukup yakin kalau Kitaru belum pernah mengajaknya nonton film seperti ini. Untungnya, ini adalah film yang bagus, dan kami berdua merasa senang ketika kami meninggalkan bioskop.

Kami jalan-jalan sebentar saat senja itu, sebelum akhirnya pergi ke restoran Italia kecil di Sakuragaoka untuk memesan pizza dan Chianti. Ini hanya restoran sederhana dengan harganya yang bersahabat. Pencahayaan yang redup, lilin di meja. (Sebagian besar restoran Italia pada waktu itu pasti terdapat lilin di atas meja dengan taplaknya yang kotak-kotak.) Kami mengobrol banyak hal, seperti halnya percakapan antara dua mahasiswa perguruan tinggi saat kencan pertama (dengan asumsi kalau ini benar-benar sebuah kencan). Membicarakan film yang kami lihat barusan, kehidupan perkuliahan kami, hobi kami. Kami menikmati obrolan tersebut lebih dari yang aku harapkan, dan dia bahkan tertawa keras beberapa kali. Aku tidak ingin terdengar seperti aku jago membual, tapi tampaknya aku memiliki suatu bakat untuk bisa membuat seorang perempuan tertawa.

“Aku mendengar dari Aki-kun kalau kau putus dengan pacar semasa SMA-mu belum lama ini ya?” Erika bertanya.

“Ya,” jawabku. “Kami sudah berpacaran selama hampir tiga tahun, tetapi tidak berhasil. Sayangnya.”

“Kata Aki-kun hal ini karena soal hubungan seks. Bahwa dia tidak… bagaimana aku harus mengatakannya ya? Memuaskanmu?”

“Itu cuma salah satu alasannya. Tapi tidak semua. Jika aku benar-benar mencintainya, aku pikir aku bisa bersabar. Jika aku yakin bahwa aku mencintainya, maksudku. Tapi aku tidak.”

Erika mengangguk.

“Bahkan jika kami terus melanjutkan hubungan tadi, semuanya akan berakhir sama,” kataku. “Aku pikir itu sudah semestinya begitu.”

“Apakah ini sulit bagimu?” Tanyanya.

“Sulit apanya?”

“Ketika harus sendirian lagi setelah lama berpacaran.”

“Kadang-kadang,” kataku jujur.

“Tapi mungkin dengan melalui keadaan sulit, mengalami kesepian diperlukan ketika kau masih muda? Bagian dari proses pendewasaan mungkin ya?”

“Kau pikir begitu?”

“Dengan adanya musim dingin yang keras membuat sebuah pohon tumbuh lebih kuat, cincin tahunan pohon di dalamnya dipaksa mengeras.”

Aku mencoba membayangkan cincin tahunan pohon dalam diriku. Tapi satu-satunya hal yang aku bisa bayangkan adalah sepotong kue Baumkuchen, jenis kue yang isinya seperti cincin tahunan pohon di dalamnya.

“Aku setuju bahwa manusia perlu menghadapi periode itu dalam hidupnya,” kataku. “Lebih baik lagi jika kita tahu kalau periode seperti ini bakal ada akhirnya.”

Dia tersenyum. “Jangan khawatir. Aku yakin kau akan bertemu penggantinya segera.”

“Aku harap begitu,” kataku.

Erika memikirkan sesuatu sementara aku menyantap pizza tadi.

“Tanimura-kun, aku ingin meminta saran darimu tentang sesuatu. Apakah boleh?”

“Tentu,” kataku. Ini adalah masalah lainku ketika berurusan dengan orang lain: orang yang baru saja aku temui ingin meminta saranku tentang sesuatu yang sangat penting. Dan aku cukup yakin bahwa apa yang akan Erika sampaikan padaku merupakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan.

“Aku bingung,” ia memulai.

Matanya melirik bolak-balik, seperti kucing yang mencari sesuatu.

“Aku yakin kau sudah tahu tentang ini, ya ini soal Aki-kun yang sudah dua tahun masih saja kursus persiapan untuk ujian masuk, ia tidak belajar serius. Dia juga sering bolos ikut ujian percobaan. Jadi aku yakin dia akan gagal lagi tahun depan. Jika ia memilih universitas yang lebih rendah, ia bisa saja mendapatkannya di suatu tempat, tapi dia memantapkan hatinya cuma ke Waseda. Dia tidak mendengarkanku, atau orang tuanya. Ini menjadi seperti obsesi baginya. . . . Tetapi jika ia sungguh-sungguh ingin masuk ke sana harusnya kan ia belajar keras agar ia bisa lulus ujian Waseda, namun dia tidak.”

“Mengapa dia tidak belajar sungguh-sungguh?”

“Dia benar-benar percaya bahwa dia akan lulus ujian masuk jika keberuntungan datang ke sisinya,” kata Erika. “Belajar adalah buang-buang waktu.” Dia menghela napas dan melanjutkan, “Di sekolah dasar dia selalu juara kelas. Tapi begitu dia masuk SMP nilai-nilainya mulai meluncur. Dia anak yang sedikit aneh-kepribadiannya tidak cocok untuk cara belajar yang normal. Dia lebih suka bolos kemudian melakukan hal-hal gila sendiri. Aku sebaliknya. Aku memang tidak terlalu pandai, tapi aku selalu bekerja keras dan selalu menuntaskan setiap pekerjaan.”

Aku tidak pernah belajar sungguh-sungguh namun bisa masuk ke perguruan tinggi pada percobaan pertama. Mungkin keberuntungan telah di sisiku.

“Aku sangat menyukai Aki-kun,” lanjutnya. “Dia punya banyak kelebihan. Tapi kadang-kadang sulit bagiku untuk memahami cara berpikirnya yang ekstrim. Misalnya tentang dialek Kansai itu. Mengapa seseorang yang dilahirkan dan dibesarkan di Tokyo harus susah-susah belajar dialek Kansai kemudian menggunakannya sepanjang waktu? Aku tidak mengerti, aku benar-benar tidak habis pikir. Pada awalnya aku pikir itu cuma lelucon, tapi tidak. Dia benar-benar serius.”

“Aku pikir dia ingin memiliki suatu kepribadian yang berbeda, menjadi seseorang yang berbeda dari dirinya yang sekarang,” kataku.

“Itu sebabnya ia berbicara dengan dialek Kansai?”

“Aku setuju denganmu bahwa ini memang cara yang aneh.”

Erika mengambil sepotong pizza dan menggigit secuil seukuran perangko besar. Dia mengunyahnya sambil berpikir sebelum kemudian dia berbicara.

“Tanimura-kun, aku bertanya ini karena aku tidak memiliki orang lain untuk bertanya. Kamu tidak keberatan kan?”

“Tentu saja tidak,” kataku. Apa lagi yang bisa kukatakan?

“Secara umum,” katanya, “ketika seorang pria dan seorang wanita berpacaran untuk waktu yang lama dan telah mengenal satu sama lain dengan sangat baik, pria pasti punya ketertarikan fisik dengan gadis itu, kan?”

“Umumnya memang begitu, aku setuju.”

“Jika mereka berciuman, dia pasti ingin sesuatu yang lebih jauh kan?”

“Biasanya memang begitu.”

“Kamu merasa seperti itu juga kan?”

“Tentu saja,” kataku.

“Tapi Aki-kun tidak. Ketika kita berduaan, dia tidak ingin sesuatu yang lebih jauh.”

Butuh beberapa saat bagiku untuk memilih kata yang tepat. “Itu hal pribadi,” kataku akhirnya. “Orang-orang memiliki cara yang berbeda untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Kitaru sangat menyukaimu-ini suatu anugerah-tapi hubungan kalian begitu dekat dan nyaman sehingga dia mungkin tidak berani untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya, berbeda dengan kebanyakan orang memang.”

“Kamu pikir begitu?”

Aku menggeleng. “Sejujurnya, aku tidak benar-benar memahaminya. Aku sendiri tidak pernah mengalaminya. Aku hanya mengatakan bahwa itu bisa menjadi salah satu kemungkinan.”

“Kadang-kadang rasanya seperti ia tidak memiliki hasrat seksual padaku.”

“Aku yakin dia punya. Tapi mungkin sesuatu yang memalukan baginya untuk mengakuinya.”

“Tapi kami sudah berusia dua puluh, sudah sama-sama dewasa. Cukup dewasa untuk tidak merasa malu.”

“Beberapa orang mungkin sedikit lebih cepat dewasa ketimbang yang lain,” kataku.

Erika memikirkan hal ini. Dia tampaknya tipe orang yang selalu menangani beragam hal di kepala.

“Aku pikir Kitaru sedang mencari sesuatu,” aku melanjutkan. “Dengan caranya sendiri, dengan kecepatannya sendiri. Hanya saja aku berpikir dia tidak memahami betul apa yang ingin dicapainya itu. Itu sebabnya dia tidak dapat membuat kemajuan apapun. Jika kamu tidak tahu apa yang kamu cari, tentunya tidak mudah untuk mencarinya.”

Erika mendongakan kepalanya dan menatapku tepat di mata. Nyala lilin tercermin dalam matanya yang gelap, kecil, setitik cahaya yang berkilau. Itu begitu indah membuatku susah untuk berpaling darinya.

“Tentu saja, kamu mengenalnya jauh lebih baik daripada aku,” aku menegaskan.

Dia mendesah lagi.

“Sebenarnya, aku sedang suka pria lain selain Aki-kun,” katanya. “Seorang pria di klub tenisku yang setahun di atasku.”

Sekarang giliranku yang terdiam.

“Aku benar-benar mencintai Aki-kun, dan aku tidak berpikir aku bisa merasakan hal yang sama kalau dengan orang lain. Setiap kali aku jauh darinya aku merasakan sakit yang mengerikan di dadaku, selalu di tempat yang sama. Ini benar. Ada tempat di hatiku yang dicadangkan hanya untuk dia. Tapi pada saat yang sama aku punya dorongan kuat dalam diriku untuk mencoba sesuatu yang lain, untuk merasakan berhubungan dengan semua jenis orang. Sebut saja rasa ingin tahu, rasa haus untuk tahu lebih banyak. Ini adalah emosi alami dan aku tidak bisa menekannya, tidak peduli sekeras apapun aku mencoba.”

Aku membayangkan tanaman yang tumbuh melampaui pot tempatnya ditanam.

“Ketika aku mengatakan aku bingung, inilah yang kumaksud,” kata Erika.

“Berarti kamu harus memberitahu Kitaru tentang perasaanmu ini,” kataku. “Jika kau menyembunyikannya dari dia kalau kau sedang suka dengan orang lain, kemudian ia mengetahui ini, itu justru akan menyakitinya. Kamu tentunya tidak menginginkan hal ini.”

“Tapi bisakah dia menerima itu? Fakta bahwa aku kencan dengan orang lain?”

“Aku pikir dia akan mengerti bagaimana perasaanmu,” kataku.

“Kau pikir begitu?”

“Ya,” kataku.

Aku pikir Kitaru akan mengerti kebingungan pacarnya ini, karena ia pun merasa hal yang sama. Dalam hal ini, mereka benar-benar berada di gelombang yang sama. Namun, aku tidak sepenuhnya yakin bahwa Kitaru dengan tenang akan menerima apa yang benar-benar Erika lakukan (atau pikirkan). Kitaru tidak tampak seperti seseorang yang kuat bagiku. Tetapi akan lebih sulit baginya jika Erika terus merahasiakan ini darinya atau mungkin berbohong kepadanya.

Erika menatap nyala lilin yang berkedip-kedip oleh hembusan AC. “Aku sering mendapat mimpi yang sama,” katanya. “Aki-kun dan aku berada di sebuah kapal. Sedang melakukan perjalanan panjang di sebuah kapal besar. Kita berduaan di sebuah kabin kecil, itu larut malam, dan melalui jendela kapal kita bisa melihat bulan purnama. Tapi bulan ini terbuat dari es murni yang transparan. Dan bagian bawahnya tenggelam di laut. ‘Itu terlihat seperti bulan,’ Aki-kun memberitahuku, ‘tapi itu benar-benar terbuat dari es dan tebalnya hanya sekitar delapan inci. Jadi ketika matahari terbit di pagi hari itu semua bakal mencair. Kau harus melihatnya baik-baik sekarang, saat kau masih memiliki kesempatan.’ Aku sering bermimpi begini beberapa kali. Ini adalah mimpi yang indah. Selalu bulan yang sama. Selalu tebalnya delapan inci. Aku bersandar pada Aki-kun, hanya kami berdua, gelombang laut memukul-mukul lembut di luar sana. Tapi setiap kali aku bangun aku merasa sedih.”

Erika Kuritani terdiam beberapa lama. Lalu ia berbicara lagi. “Aku pikir betapa indahnya jika Aki-kun dan aku bisa melanjutkan pelayaran itu selamanya. Setiap malam kami akan meringkuk berdekatan dan menatap keluar jendela kapal untuk melihat bulan yang terbuat dari es itu. Pagi datang dan bulan akan mencair, kemudian pada malam akan muncul kembali. Tapi mungkin itu tidak terjadi. Mungkin satu malam bulan tidak akan muncul. Ini membuatku takut untuk membayangkannya. Aku mendapat ketakutan ini seperti aku benar-benar bisa merasakan tubuhku menyusut.”

***

Ketika aku bertemu Kitaru di kedai kopi pada hari berikutnya, ia menanyakan soal kencan kemarin.

“Kau menciumnya?”

“Tidak mungkin lah,” kataku.

“Jangan khawatir-aku tidak akan marah jika kau melakukannya kok,” katanya.

“Aku tidak akan melakukan hal seperti itu.”

“Kalau memegang tangannya?”

“Tidak, aku tidak memegang tangannya.”

“Jadi, apa yang kau lakukan?”

“Kami pergi nonton film, jalan-jalan, makan malam bersama, dan ngobrol,” kataku.

“Hanya itu?”

“Biasanya kau tidak mencoba untuk bergerak terlalu cepat pada kencan pertama.”

“Benarkah?” Kata Kitaru. “Aku tidak pernah berkencan seperti kebanyakan orang, jadi aku tidak tahu.”

“Tapi aku menikmati saat-saat bersamanya. Jika saja dia pacarku, aku tidak akan pernah melepaskannya.”

Kitaru memikirkan ini. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi berpikir lebih baik tidak. “Jadi, apa yang kau makan?” Tanyanya akhirnya.

Aku mengatakan pizza dan Chianti.

“Pizza dan Chianti?” Dia terdengar terkejut. “Aku tidak pernah tahu kalau dia menyukai pizza. Kami hanya pernah makan di semacam toko mie dan warung murah. Wine? Aku bahkan tidak tahu kalau dia minum.”

Kitaru sendiri tidak pernah menyentuh minuman keras.

“Mungkin ada beberapa hal yang kau tidak tahu tentang dia,” kataku.

Aku menjawab semua pertanyaan mengenai kencan kemarin itu. Tentang film Woody Allen (karena desakannya, aku memberi ulasan seluruh cerita filmnya), makanan (berapa bayarnya, apakah kita bayar sendiri-sendiri atau tidak), apa yang dia kenakan (gaun katun putih, rambut disematkan), celana dalam apa yang dikenakannya (mana aku tahu soal ini?), apa yang kita bicarakan. Aku tidak mengatakan apapun kalau dia pacaran dengan pria lain. Aku juga tidak menyebutkan mimpinya tentang bulan yang terbuat dari es itu.

“Kalian sudah memutuskan kapan akan melakukan kencan kedua?”

“Tidak, kami tidak membicarakannya,” kataku.

“Kenapa tidak? Kau menyukainya, kan?”

“Dia hebat. Tapi kita tidak bisa terus seperti ini. Maksudku, dia pacarmu, kan? Kau mengatakan boleh-boleh saja menciumnya, tapi tidak mungkin aku bisa melakukan itu.”

Kitaru semakin termenung. “Kau tahu?” Katanya akhirnya. “Aku telah memeriksakan diri ke terapis sejak akhir SMP. Orang tua dan guruku, mereka semua mengatakan kalau harus memeriksakan diri. Karena aku melakukan hal-hal aneh di sekolah dari waktu ke waktu. Kau tahu-sesuatu yang tidak normal. Tapi terapis sesungguhnya tidak membantu, sejauh yang aku lihat. Kedengarannya memang baik secara teori, tapi terapis hanya memberikan omong kosong. Mereka melihatmu seakan-akan mereka tahu apa yang terjadi, kemudian membuatmu berbicara terus menerus dan mereka hanya mendengarkan. Hey, aku juga bisa melakukan itu.”

“Kau masih memeriksakan diri ke terapis?”

“Ya. Dua kali sebulan. Hanya buang-buang uang saja, jika kau bertanya padaku. Apakah Erika tidak memberitahumu tentang hal ini?”

Aku menggeleng.

“Terus terang, aku tidak tahu apa yang begitu aneh tentang cara berpikirku. Bagiku, sepertinya aku hanya melakukan hal-hal biasa dengan cara yang biasa. Tapi orang mengatakan kepadaku bahwa hampir semua yang kulakukan adalah aneh.”

“Nah, memang ada beberapa hal tentangmu yang tidak normal,” kataku.

“Seperti apa?”

“Seperti dialek Kansai-mu itu.”

“Kau mungkin benar,” Kitaru mengakui. “Itu sesuatu yang sedikit tidak biasa.”

“Orang normal tidak akan melakukan hal sejauh itu.”

“Ya, kau mungkin benar.”

“Tapi, sejauh yang aku tahu, bahkan jika apa yang kau lakukan adalah tidak normal, asalkan itu tidak mengganggu siapa pun tentunya tidak masalah.”

“Untuk kali ini belum.”

“Jadi apa yang salah dengan itu?” Kataku. Aku mungkin sedikit kesal (pada apa atau siapa aku tidak bisa mengatakan). Aku bisa merasakan nadaku mulai meninggi. “Jika kau tidak mengganggu siapa pun, jadi kenapa? Kau ingin berbicara dengan dialek Kansai, maka silahkan saja. Teruskan. Kau tidak ingin belajar untuk ujian masuk? Maka jangan belajar. Merasa tidak ingin menempelkan tanganmu di celana dalamnya Erika Kuritani? Siapa yang mengatakan kau harus? Ini hidupmu. Kamu bebas melakukan apa yang kau inginkan dan mengacuhkan apa yang dipikirkan orang lain.”

Kitaru, dengan mulutnya yang sedikit terbuka, menatapku dengan tercengang. “Kau tahu Tanimura? Kau seorang pria yang baik. Meskipun kadang-kadang agak terlalu normal, kau tahu kan?”

“Apa yang akan kau katakan?” Kataku. “Kau tidak bisa mengubah kepribadianmu.”

“Tepat. Kau tidak dapat mengubah kepribadianmu. Ini memang yang ingin aku katakan.”

“Tapi Erika adalah gadis yang hebat,” kataku. “Dia benar-benar peduli tentangmu. Apa pun yang kau lakukan, jangan biarkan dia pergi. Kau tidak akan menemukan seorang gadis yang hebat sepertinya lagi.”

“Aku sudah tahu itu. Kau tidak perlu memberitahuku,” kata Kitaru. “Tapi hanya mengetahui tidak akan membantu.”

***

Sekitar dua minggu kemudian, Kitaru berhenti bekerja di kedai kopi. Aku katakan cuti, tapi dia tiba-tiba tak kelihatan lagi. Dia memutuskan hubungan, tidak menyebutkan apapun tentang mengambil cuti. Dan ini ketika musim tersibuk kami, sehingga pemilik cukup marah. Kitaru punya satu minggu gaji, tapi dia tidak datang untuk mengambilnya. Dia menghilang begitu saja. Aku harus mengatakan itu menyakitiku. Aku pikir kami adalah teman baik yang sulit untuk dipisahkan. Aku tidak punya teman lain di Tokyo.

Dua hari terakhir sebelum ia menghilang, Kitaru tak seperti biasanya jadi pendiam. Dia tidak banyak berkata ketika aku berbicara dengannya. Dan kemudian ia pergi dan menghilang. Aku bisa saja menelepon Erika Kuritani untuk memeriksa keberadaannya, tapi entah kenapa aku tidak bisa melakukannya. Aku pikir bahwa apa yang terjadi di antara mereka berdua adalah urusan mereka, dan bukan hal yang baik bagiku untuk terlibat lebih jauh. Entah bagaimana aku harus menerima dunia kecil yang kumiliki.

Setelah semua ini terjadi, untuk beberapa alasan aku terus berpikir tentang mantan pacarku. Mungkin aku merasakan sesuatu, ketika melihat Kitaru dan Erika bersama-sama. Aku menulis sebuah surat yang panjang untuk meminta maaf akan perbuatanku dahulu. Aku bisa saja jauh lebih ramah padanya. Tapi aku tidak pernah mendapat balasan surat darinya.

***

Aku bisa mengenali Erika Kuritani dengan cepat. Aku memang hanya bertemu dengannya dua kali, dan enam belas tahun telah berlalu sejak saat itu. Tapi tidak salah lagi kalau aku mengenalinya. Dia masih menawan, dengan ekspresi sama yang hidup dan bersemangat. Dia mengenakan gaun hitam berenda, dengan sepatu hak tinggi hitam dan dua untaian mutiara di leher rampingnya. Dia juga mengingatku segera. Kami sedang berada di sebuah pesta mencicipi anggur di sebuah hotel di Akasaka. Ini adalah pesta dengan dresscode hitam-hitam, dan aku mengenakan jas dan dasi hitam untuk acara ini. Dia adalah seorang perwakilan dari perusahaan periklanan yang mensponsori acara tersebut, dan jelas telah bekerja keras untuk menangani acara ini. Ini memakan waktu yang lama untuk masuk ke alasan bahwa aku ada di sana.

“Tanimura-kun, kenapa kamu tidak pernah berhubungan denganku setelah kencan malam itu?” Tanyanya. “Aku berharap kita bisa bicara lagi.”

“Kau terlalu cantik untukku,” kataku.

Dia tersenyum. “Ah terdengar indah, bahkan jika kamu hanya menyanjungku.”

Tapi apa yang kukatakan bukanlah kebohongan atau sanjungan. Dia memang terlalu cantik bagiku untuk membuatku tertarik padanya. Saat itu, dan bahkan sekarang.

“Aku menelepon kedai kopi tempatmu bekerja, tetapi mereka mengatakan kamu tidak bekerja di sana lagi,” katanya.

Setelah Kitaru keluar, pekerjaan menjadi sangat membosankan, dan aku pun berhenti dua minggu kemudian.

Erika dan aku mengingat-ingat secara singkat kehidupan kami selama enam belas tahun terakhir. Setelah kuliah, aku dipekerjakan oleh sebuah penerbit kecil, tapi berhenti setelah tiga tahun dan telah jadi penulis sejak saat itu. Aku menikah saat usia dua puluh tujuh tahun tapi belum dianugerahi anak. Erika sendiri masih lajang. “Mereka membuatku bekerja begitu keras,” dia bercanda, “sampai-sampai aku tidak memiliki waktu untuk menikah.” Dia adalah orang pertama yang memunculkan topik tentang Kitaru.

“Aki-kun bekerja sebagai koki sushi di Denver sekarang,” katanya.

“Denver?”

“Denver, Colorado. Setidaknya, menurut kartu pos yang ia kirimkan padaku beberapa bulan yang lalu.”

“Kenapa Denver?”

“Aku tidak tahu,” kata Erika. “Kartu pos sebelumnya dari Seattle. Dia seorang koki sushi di sana. Itu sekitar setahun yang lalu. Dia mengirimiku kartu pos seenaknya. Sebagian malah kartu konyol dengan isi yang hanya beberapa garis putus-putus. Kadang-kadang ia bahkan tidak menulis alamat asalnya.”

“Koki sushi,” pikirku. “Jadi dia tidak masuk perguruan tinggi ya?”

Dia menggeleng. “Pada akhir musim panas itu, aku pikir dia masuk, tapi tiba-tiba ia mengumumkan bahwa ia akan mengakhiri belajar untuk ujian masuk dan dia memilih sebuah sekolah memasak di Osaka. Mengatakan kalau dia benar-benar ingin belajar masakan Kansai dan pergi ke pertandingan di Stadion Koshien, stadionnya Hanshin Tigers. Tentu saja, aku bertanya kepadanya, ‘Bagaimana kau bisa memutuskan sesuatu yang sangat penting tanpa meminta pendapatku dulu? Bagaimana denganku?’”

“Dan apa yang dia katakan itu?”

Dia tidak menanggapi. Dia hanya memegang bibirnya ketat, seolah-olah dia akan menitikkan air mata jika dia mencoba untuk berbicara. Aku segera mengganti topik.

“Ketika kita pergi ke restoran Italia di Shibuya, aku ingat kita memesan Chianti yang murah. Sekarang lihatlah kita, mencicipi anggur Napa premium. Sebuah takdir, yang aneh.”

“Aku ingat,” katanya, menarik diri bersama-sama. “Kita juga menonton film Woody Allen. Yang mana itu ya?”

Aku memberitahunya.

“Itu film yang hebat.”

Aku setuju. Itu memang salah satu karya terbesar dari Woody Allen.

“Apakah hubunganmu dengan pria di klub tenis yang kamu sukai itu berjalan baik?” Aku bertanya.

Dia menggeleng. “Tidak. Hubungan kami tidak berjalan baik seperti yang aku pikir. Kami berpacaran selama enam bulan dan kemudian putus.”

“Bolehkah aku mengajukan pertanyaan?” Kataku. “Ini sesuatu yang sangat pribadi.”

“Silahkan.”

“Aku tidak ingin kamu menjadi tersinggung.”

“Aku akan mencoba sebisaku agar tidak tersinggung.”

“Kau tidur dengan pria itu, kan?”

Erika menatapku dengan heran, pipinya memerah.

“Kenapa kau menanyakan ini sekarang?”

“Pertanyaan yang bagus,” kataku. “Ini ada dalam pikiranku untuk waktu yang lama. Tapi ini memang pertanyaan yang aneh. Maafkan aku.”

Erika menggelengkan kepalanya sedikit. “Tidak apa-apa. Aku tidak tersinggung. Aku hanya tidak mengharapkan menerima pertanyaan seperti itu. Itu semua masa lalu.”

Aku melihat ke sekeliling ruangan. Orang-orang dengan pakaian formal tercerai-berai. Gabus penutup dibuka satu demi satu dari tiap botol anggur mahal. Seorang pianis perempuan sedang memainkan “Like Someone in Love.”

“Jawabannya adalah ya,” kata Erika. “Aku tidur dengannya beberapa kali.”

“Keingintahuan, rasa haus untuk tahu lebih banyak,” kataku.

Dia memberikan sedikit senyum. “Betul. Keingintahuan, rasa haus untuk tahu lebih banyak.”

“Itulah cara kita mengembangkan cincin tahunan pohon kita.”

“Jika kau mengatakan begitu,” katanya.

“Dan aku menduga bahwa pertama kali kamu tidur dengannya itu setelah kencan kita di Shibuya kan?”

Dia membalik-balik halaman dalam buku rekor mentalnya. “Aku juga berpikir demikian. Sekitar seminggu setelah itu. Aku mengingat sepanjang waktu itu cukup baik. Ini adalah pertama kalinya bagiku.”

“Dan Kitaru cukup cepat mengerti,” kataku, menatap matanya.

Dia menunduk dan meraba mutiara di kalung satu-satu, seakan memastikan bahwa semua masih ada di tempatnya. Dia sedikit mendesah, mungkin mengingat-ingat sesuatu. “Ya, kau benar tentang itu. Aki-kun punya intuisi yang kuat.”

“Tapi selalu tidak berhasil dengan laki-laki lain.”

Dia mengangguk. “Sayangnya, aku tidak sepintar itu. Aku selalu mengambil jalan panjang. Aku selalu mengambil jalan yang berputar-putar.”

Itulah yang kita semua lakukan: tanpa henti mengambil jalan panjang. Aku ingin menceritakan ini, tapi diam. Melontarkan kata-kata mutiara seperti itu salah satu dari masalahku.

“Apakah Kitaru sudah menikah?”

“Sejauh yang kutahu, dia masih lajang,” kata Erika. “Setidaknya, dia belum mengatakan kepadaku bahwa dia menikah. Mungkin kami berdua adalah tipe orang yang tidak akan pernah melakukan pernikahan.”

“Atau mungkin kalian hanya sedang mengambil jalan panjang memutar untuk sampai ke sana.”

“Mungkin.”

“Apakah kamu masih bermimpi tentang bulan yang terbuat dari es itu?” Aku bertanya.

Kepalanya tersentak dan dia menatapku. Sangat tenang, perlahan, senyum tersebar di wajahnya. Senyum terbuka yang benar-benar alami.

“Kamu masih ingat mimpiku?” Tanyanya.

“Untuk beberapa alasan, aku mengingatnya.”

“Meskipun itu mimpi orang lain?”

“Mimpi adalah sesuatu yang bisa kau pinjam dan pinjamkan,” kataku.

“Itu ide yang bagus,” katanya.

Seseorang memanggil namanya dari belakangku. Sudah waktunya baginya untuk kembali bekerja.

“Aku tidak punya mimpi itu lagi,” katanya di perpisahan. “Tapi aku masih ingat setiap detailnya. Apa yang aku lihat, apa yang kurasakan. Aku tidak bisa melupakannya. Aku mungkin tidak akan pernah melupakannya.”

***

Ketika aku mengemudi dan lagu “Yesterday”-nya The Beatles diputar di radio, aku tidak bisa tidak mendengar kembali lirik gila Kitaru ketika bernyanyi di kamar mandi. Dan aku menyesal tidak menuliskannya saat itu. Liriknya begitu aneh namun aku mengingatnya untuk sementara, tapi secara bertahap ingatanku mulai memudar sampai akhirnya aku hampir lupa seluruhnya. Yang aku ingat sekarang hanya sebagian kecilnya, dan aku bahkan tidak yakin apakah ini benar-benar yang Kitaru nyanyikan. Dengan berjalannya waktu, memori, mau tidak mau, menyusun kembali ingatannya sendiri.

Ketika aku masih dua puluh atau lebih, aku mencoba beberapa kali untuk menulis buku harian, tapi aku tidak bisa melakukannya. Begitu banyak hal yang terjadi di sekitarku saat itu sehingga aku hampir tidak bisa bertahan dengan semua itu, apalagi untuk berdiri diam dan menuliskan semuanya dalam sebuah buku catatan. Dan sebagian besar hal-hal tadi tidak membuatku berpikir, Oh, aku harus menuliskan semua ini. Ini semualah yang hanya bisa kulakukan untuk tetap membuka mata di angin sakal yang kuat, menarik napas, dan terus melangkah maju.

Tapi anehnya, aku sangat ingat Kitaru dengan baik. Kami berteman selama beberapa bulan, namun setiap kali aku mendengar “Yesterday”, setiap adegan dan percakapan dengannya tersimpan dengan baik dalam pikiranku. Percakapan kami berdua saat ia berendam dalam bak mandi di rumahnya di Denenchofu. Pembicaraan tentang formasi menyerang Hanshin Tigers, hal-hal soal seks, betapa membosankannya belajar untuk ujian masuk, dan begitu kaya dan emosionalnya dialek Kansai. Dan aku mengingat betul kencan aneh dengan Erika Kuritani. Dan apa yang Erika ungkapkan-di bawah cahaya lilin di atas meja di restoran Italia itu. Rasanya seolah-olah hal itu terjadi baru kemarin saja. Musik memang memiliki kekuatan untuk menghidupkan kembali kenangan lama, kadang-kadang begitu seringnya menghadirkan luka.

Tapi ketika aku bercermin tentang diriku sendiri pada usia dua puluhan, apa yang paling aku ingat adalah kesendirian dan kesepian. Aku tidak punya pacar untuk menghangatkan tubuhku atau jiwaku, tidak ada teman yang bisa kuajak curhat. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan setiap hari, tidak punya visi untuk masa depan. Untuk sebagian besar, aku tetap tenggelam dalam diriku sendiri. Kadang-kadang aku dalam seminggu tidak berbicara dengan siapa pun. Kehidupan seperti ini terus kulakukan selama setahun. Tahun yang panjang, sangat panjang. Apakah periode ini adalah sebuah musim dingin yang menempa cincin tahunan pohon dalam diriku, aku tidak bisa mengatakan. Saat itu aku juga merasa seolah-olah setiap malam aku sedang memandang keluar jendela kapal, melihat bulan yang terbuat dari es. Yang transparan, delapan inci tebalnya, bulan yang membeku. Tapi aku melihat bulan itu sendirian saja, tidak dapat berbagi keindahan yang dingin itu dengan siapa pun.

Kemarin

Adalah dua hari sebelum besok,

Dan sehari setelah kemarin lusa.

Empat Ratus Tahun Cerita Lelaki

Setelah memahami, Jakarta diciptakan untuk orang-orang yang sudah bosan hidup, sambil mengagumi kendaraan yang lalu lalang, asap-asap yang keluar dari knalpot, dan langit yang tak pernah lebih biru dari lautan, ia akhirnya bertemu Teruna.

Gadis itu keluar dari taksi, memakai baju terusan rendah di bagian bawah berwarna merah marun, tersenyum, lalu bertanya, “Sudah menunggu lama?”

Bakda mendarat di Soetta tadi, ia diminta untuk menemui Teruna. “Naiklah Damri jurusan Lebak Bulus, lalu turunlah di Slipi Petamburan.” Teruna mengirimkan pesan singkat.

Yang Teruna tidak ketahui ialah, ia sudah hidup selama lebih dari 400 tahun dan menyepi di daerah-daerah berpenduduk sedikit, menyaksikan orang lahir dan mati, perang dan perdamaian, tetapi ia tidak pernah bosan menunggu untuk jatuh cinta, seperti yang diramalkan Onang Sadino, Pak Tua yang mengaku bisa membaca garis tangan dan membuka lapaknya di pasar Brang Biji beberapa tahun lalu, “Sebelum waktumu berakhir Nak, kau pasti akan jatuh cinta, dan laki-laki sejati hanya jatuh cinta satu kali seumur hidupnya.”
“Apa kamu lelah?” Teruna mengajukan pertanyaan berikutnya.
“Aku hanya tidak terbiasa dengan keramaian.” Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, menghela napas, mengeluarkan botol air minum yang isinya tinggal sedikit, meneguknya, lalu menatap Teruna, “Arsenal pernah punya kostum berwarna merah marun. Konon, itu warna kehidupan.”

Teruna memegang tangan lelaki itu dan berkata, “Aku merasa jauh lebih hidup saat kamu ada di sampingku sekarang ketimbang aku memakai pakaian ini.”
Baru semalam ia berangkat dari Sumbawa, menyisiri garis pantai sampai Poto Tano. Malam itu, ombak di selat Alas tidak begitu bersahabat. Barangkali ada seseorang yang telah meninggalkannya ketika bermain ayunan. Jadi diombang-ambingkannya kapal laut tua itu, sambil mengingat tragedi kapal tua Munawar yang tenggelam beberapa bulan sebelumnya. Ia bisa saja berteleportasi. Tapi jangkauan teleportasinya hanya sekitar 100km. Ia khawatir kemunculannya yang tiba-tiba, dan kadangkala tidak dapat ia kontrol, akan membuat kehebohan bila mana ada saksi mata yang menyaksikannya. Toh, ia sudah ingin hidup sebagai manusia biasa. Kemampuan khususnya ingin ia tenggelamkan.
Gadis itu, meski ia tak yakin apakah Teruna masih seorang gadis, bilang telah jatuh cinta kepadanya, tanpa pernah bertemu sebelumnya.

“Bisakah kita merindukan seseorang yang belum kita temui sebelumnya?” tanya lelaki itu.
Tapi sebelum kita berlanjut menjawab pertanyaan itu, saya akan membawa kalian ke peristiwa lain yang inshaallah masih saling berkaitan, sebagai selingan.
Arsenal baru kalah dari Bayern Munich malam itu. Ia seorang pencinta Arsenal. Kekalahan itu membuatnya galau. Hari itu ia pergi ke Tanjung Menangis. Di sana memang lokasi terbaik untuk memancing.
Saya kebetulan sedang berkemah di Ai Loang, dan bakda Subuh memutuskan untuk menaiki perahu, sendirian. Pagi-pagi begini ombak relatif tenang. Pulau Moyo yang tersohor terlihat dari kejauhan. Dibelai angin yang lembut, saya membayangkan kekasih. Perahu pelan-pelan menjauh dari daratan. Sebatang pohon yang tumbuh sendiri agak jauh dari bibir pantai tampak kesepian.
Ketika menoleh ke arah sebaliknya, di Tanjung Menangis itu, saya menyaksikan sosok itu, ia, sedang memancing. Meski cahaya masih sangat sedikit, dan matahari yang biasa akan terlihat terbit sangat sempurna masih mencoba membukakan mata, saya katakan dengan pasti, ikan-ikan tampak lompat-melompat di sekitar kailnya.
Pada hari itulah kami berkenalan, tapi ia tak mau menyebutkan nama.
Baru berjabat tangan, ia bertanya, “Hal apakah kiranya yang paling tidak kamu percayai di dunia ini, Kawan?”
“Tuhan. Dan pemandangan yang baru saja saya lihat. Bagaimana mungkin ikan-ikan itu seperti minta dipancing?”
“Banyak hal yang belum kita tahu, dan kita cenderung tidak mempercayai hal yang tidak kita ketahui.” Ia masih memegangi pancingnya, memandang lurus ke depan lalu kembali berkata, “Apa kamu akan percaya jika kukatakan aku telah hidup selama lebih dari 400 tahun di dunia ini?”
Saya terhenyak mendengar ucapannya. Ikan-ikan melompat lebih tinggi. Cahaya kuning pertama dari matahari terbit sampai di permukaan lautan. “Tidak mungkin, kecuali engkau Khidir.” Saya menyangsikan.
“Kau asli Tanah Samawa?” Ia menanyakan pertanyaan lain.
“Oh, bukan. Saya baru tiga tahun dimutasikan ke sini.”
“Apa kamu percaya yang namanya kesetiaan?” Pertanyaannya semakin mendalam
“Apa ini soal perempuan?” Saya balik bertanya.
Dia pun menarik pancingnya. Seekor baronang batu yang lebih besar dari telapak tangan tampak menggeliat di ujung kail. Ikan berwarna hitam itu akan terasa enak bila dibakar dengan cara yang tepat.
“Dulu, ada seorang gadis. Dia mengejarku sampai ke tanjung ini. Ah, tidak berhenti sampai di sini, ia terus mengejarku sampai ke sana,” ucapnya sambil menunjuk lautan. Matanya berkaca-kaca. Saya tahu dia sedang sedih menceritakan kisah yang tampak janggal itu. Tapi kalian harus tahu, segala hal yang tak masuk akal, di hadapan cinta, segala hal itu pula dapat diterima. “Aku tidak tahu kalau dia akan mati dengan cara seperti itu. Aku bahkan masih mengingat wajahnya yang sendu, yang meneriakkan namaku ketika perahuku mulai menjauh. Aku pikir, itulah kematian pertama yang aku saksikan di dunia ini, Kawan.”
“Nama? Engkau punya nama?”
“Aku tidak punya nama. Tapi dulu aku dipanggil Daeng Ujung Pandang.”
“Saya seperti pernah mendengar kisah ini.”
“Kalau kamu asli tanah Samawa, pasti kisah ini akrab di telingamu.”
Kalimat terakhirnya tenggelam begitu saja. Saya memang sering tidak mau tahu dengan cerita-cerita di Sumbawa. Sebab menjadi karib dengan tanah ini, akan membuatmu semakin betah berada di sini. Saya sendiri ingin cepat-cepat pindah.
Selain tidak tahu nama, saya juga tidak tahu tempat tinggal lelaki itu. Tapi setiap kali pergi memancing, di mana pun, di Mamak, di Batu Bulan, di Empang atau sampai di Teluk Santong sekalian, saya selalu bertemu dengannya. Sampai kami sedemikian akrab. Sampai saya mau tidak mau percaya dengan kisah-kisah yang diceritakannya.

~

Kembali ke Teruna, saya mengenalnya di media sosial. Ia seorang gadis yang tangguh. Saya pikir semua gadis yang hidup di Jakarta adalah gadis yang tangguh. Siapa yang bisa tahan bila setiap pagi tak melihat burung-burung bertengger di atas pagar, embun di atas daun, dan duka-luka yang tertumpuk seharian harus dicoreng-morengi asap kendaraan yang penuh timbal.
Ia tersentak ketika melihat profil Teruna di tablet saya. Gadis mungil berambut panjang itu begitu menarik perhatiannya. “Aku sudah hidup selama 400 tahun lebih, tapi baru kali ini aku menemukan wajah seseorang yang mirip dengan wajah sang putri.”
“Max Galuppo saja pernah menemukan lukisan dirinya, persis dirinya di Philadelpia Museum of Art tanpa mengakui ia tidak pernah dilukis oleh seorang pun. Menariknya, lukisan yang diberi judul Portrait of a Nobleman with Dueling Gauntlet itu dibuat pada tahun 1562 di Italia.”
“Jadi apa reinkarnasi itu ada?”
“Ada 7 not dasar. Dari ketujuh not dasar itu, jutaan lagu tercipta. Dari jutaan lagu itu, kalau ada yang mirip atau nyaris sama persis adalah hal yang mungkin. Baru-baru ini Katy Perry dibilang menjiplak Nike Ardilla. Saya pikir itu hanya kebetulan. Genetika juga seperti itu. Entah sudah berapa miliar manusia ada di muka bumi. Jadi bila ada kesamaan, pengulangan genetika, itu suatu kewajaran.”
“Aku belajar sesuatu darimu, Kawan. Ternyata kebijaksanaan bisa datang dari mana saja, termasuk dari manusia seumur jagung.” Ia menjawab lalu tertawa terbahak-bahak.
Saya suka iri melihat perawakannya yang relatif sempurna. Kulitnya secarah buah pir. Giginya putih bersih. Rambutnya hitam dan tebal. Hidup lebih dari 400 tahun tak membuatnya menjadi tambun.
Saya tidak tahu apa rencananya terhadap Teruna ketika sekitar pukul delapan pagi WITA, ia mengirimi aku pesan singkat, “Kawan, aku baru mendarat di Soetta. Sebentar lagi aku akan bertemu Teruna.”

~

Lalu dimulailah cerita ini. Ia sedang berada di taksi bersama Teruna menuju kawasan Palmerah. Teruna mengajaknya singgah di kosnya. Saya tidak mau mengajak kalian membayangkan hal yang akan terjadi di antara laki-laki dan perempuan bila berada di ruang yang hanya ada tembok dan atap, berdua saja, lalu tirai ditutup sehingga sulit bagi satuan cahaya terkecil sekali pun untuk mengintip.
Ia tidak mengabari saya apa pun. Hari itu hari Sabtu. Saya memutuskan memancing di Kencana. Bila beruntung akan ada anak-anak perempuan mandi di pantai. Menyegarkan bila Tuhan memberikan kesempatan untuk cuci mata barang sejenak di sana.
Saya tidak mengerti makna kesetiaan. Matahari yang terbit dari timur ke barat itu juga konon akan terbit dari barat ke timur. Bulan yang melayang di langit malam tidak utuh sepanjang hari. Selamanya—apa ada kata selamanya, dan seberapa jauh?
Baru menjelang malam hari, ia mengirim pesan, “Malam ini, Chelsea akan menjamu Arsenal. Aku akan berada di kereta, tolong kabari aku perkembangan skornya ya.”
Kami berdua sama-sama pencinta Arsenal dan saya tidak penasaran terhadap jawaban yang ia dapatkan dari pertemuannya dengan Teruna. Siapa yang tahu bila malam itu, Arsenal harus kalah enam gol tanpa balas dan kereta yang ia naiki berada di atas rel yang tak memiliki ujung?
Barangkali hanya kalian saja yang penasaran bagaimana sejatinya kisah ini harus diakhiri dan saya yang tak mengerti perasaan saya bahkan sejak cerita ini dimulai.

E-book Kumpulan Cerpen Tempo 2015

e-book-kumcer-koran-tempo-2015

Bagi teman-teman yang ingin mendownload kumpulan cerpen Tempo 2015, silakan klik tautan di atas.

Teman-teman bisa mempelajari cerpen tersebut untuk kemudian mengirim cerpen ke Tempo di ktminggu@tempo.co.id

Silakan dibagikan e-book ini ya. Terima kasih.

Tersesat di Kota Kucing, Haruki Murakami

Di stasiun Koenji, aku menaiki salah satu kereta cepat jalur Chuo. Gerbong yang aku tempati kosong, dan aku satu-satunya penumpang di gerbong tersebut. Hari ini aku tidak memiliki rencana atau kegiatan apapun sehingga aku dapat pergi ke manapun dan melakukan apapun sesuka hatiku. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan karena sekarang adalah musim panas, udara di sekitarku terasa sangat menyengat.

Kereta melaju melewati Shinjuku, Yotsuya, Ochanomizu, dan akhirnya tiba di Stasiun Pusat Tokyo. Semua penumpang berhamburan keluar kereta, begitu juga aku. Dengan langkah santai aku menuju ke sebuah bangku yang berada di sudut taman stasiun. Aku duduk sambil menjulurkan kedua kakiku yang terasa sangat penat karena lelah seharian dalam perjalanan panjang dari sebuah tempat terpencil yang tenang bernama Shibuya menuju kota metropolitan Tokyo.

Aku merenung sejenak dan mulai berpikir ke mana selanjutnya akan pergi. “Aku dapat pergi kemana pun aku mau,” ucapku dalam hati. “Sepertinya hari ini cuaca sangat panas. Mungkin aku harus pergi ke pantai atau menemukan sebuah kafe kecil untuk makan siang.” Aku mendongakkan kepala dan memperhatikan peta jalur kereta yang terlihat sangat rumit.

Pada saat itu juga aku menyadari apa yang sedang aku lakukan.

Aku mencoba menggelengkan kepala beberapa kali, namun pikiran-pikiran itu tidak mau pergi dari dalam kepalaku. Mungkin secara tidak sadar aku telah memutuskan untuk melakukannya tepat pada saat aku menaiki kereta di Koenji tadi pagi. Aku mendesah perlahan, lalu bertanya kepada seorang petugas di stasiun agar dapat sampai ke Chikura. Petugas tersebut segera membolak-balikkan halaman buku jadwal kereta yang tebal. Dia menyarankan agar aku mengambil kereta ekspress ke Tateyama yang akan berangkat pada jam 11.30, kemudian transit ke kereta lokal. Dengan begitu aku akan tiba di Chikura sekitar jam dua lewat. Aku membeli tiket pulang-pergi Tokyo-Chikura. Kemudian aku pergi ke restoran di stasiun dan memesan menu makan siang yang sangat sederhana yaitu sepiring nasi kari dan salad.

Mengunjungi ayah adalah sebuah rencana yang tidak menyenangkan bagiku. Hubunganku dengan ayah tidaklah terlalu dekat, dan ayah juga jarang memperlihatkan rasa mencintai layaknya seorang ayah kepada putra semata wayangnya. Dia telah pensiun empat tahun yang lalu, namun saat ini ia masuk ke sanatorium di Chikura yang khusus merawat pasien penderita gangguan kognitif. Selama ini, aku hanya mengunjunginya tidak lebih dari dua kali dalam setahun. Kunjungan pertama adalah pada saat ayah baru masuk ke sana, ketika aku, sebagai satu-satunya anggota keluarga, harus berada di sana untuk mengurus prosedur administrasi. Kunjungan yang kedua juga karena menyangkut masalah administrasi. Hanya dua kali itu saja!

Sanatorium di mana ayah dirawat berdiri pada sebidang tanah yang berada di dekat pinggir pantai kota Chikura. Bagunannya merupakan kombinasi aneh dari bangunan tua elegan yang terbuat dari kayu, dan bangunan tiga tingkat yang terbuat dari beton. Namun udara di sana segar dan selain suara ombak yang menderu-deru, tempat itu selalu sunyi di sepanjang hari.

Barisan pohon pinus yang ditanam di pinggir taman menghalau angin yang menerjang bangunan. Fasilitas kesehatan di sana sangat baik. Dengan asuransi kesehatan, bonus pensiun, tabungan, dan uang pensiun, ayah mungkin dapat menghabiskan seluruh sisa hidupnya di sana dengan nyaman.

Meskipun ayah tidak akan meninggalkan harta warisan yang besar, namun bagiku yang terpenting adalah agar ayah mendapat perawatan yang terbaik. Aku tidak ingin mengambil sedikitpun hartanya, dan aku juga tidak ingin memberikan atau membagi apapun kepadanya. Kami adalah dua manusia yang berbeda, datang dan pergi ke tempat yang berbeda pula. Kami hanya kebetulan saja pernah tinggal bersama dalam satu atap selama beberapa tahun. Hanya itu saja! Sayang sekali kalau akhirnya harus begini, namun sama sekali tidak ada hal yang dapat aku lakukan untuk mengubah ini semua.

Aku membayar makanan kepada kasir dan memberi tips kepada pelayan lalu pergi ke platform untuk menunggu kereta ke Tateyama. Satu-satunya teman seperjalananku kali ini adalah sebuah keluarga bahagia yang akan berlibur selama beberapa hari di pantai.

Kebanyakan orang berpikir bahwa hari Minggu adalah hari untuk beristirahat. Namun selama masa kecilku, aku tidak pernah menganggap hari Minggu sebagai hari yang dapat dinikmati dengan sepuas hati. Bagiku, hari Minggu sama seperti bulan yang hanya menampakkan sisi gelapnya saja. Karena ketika hari Minggu tiba, badan ini mulai terasa lemas dan sakit, serta selera makanku kadang-kadang hilang. Aku bahkan berharap agar hari Minggu tidak akan pernah tiba, namun doaku ini tidak pernah terkabulkan.

Ketika aku masih kecil, ayah bekerja di NHK—sebuah jaringan televisi dan radio pemerintah di Jepang—sebagai penagih biaya langganan. Setiap hari Minggu dia akan mengajakku bersamanya untuk menemaninya menagih pembayaran dari pintu ke pintu. Kami telah berkeliling seperti ini sejak sebelum aku masuk TK dan masih berlanjut saat aku duduk di kelas lima SD. Aku tidak tahu apakah penagih bayaran di NHK memang bekerja setiap hari termasuk hari Minggu, namun seingatku, ayah selalu bekerja seperti itu. Ayah malah bekerja dengan lebih antusias daripada biasanya, karena pada hari Minggu dia dapat menemui orang-orang yang tidak dapat ditemuinya di hari – hari lain.

Ayahku mempunyai beberapa alasan kenapa dia mengajakku. Alasan pertama adalah karena dia tidak ingin meninggalkan aku yang masih kecil sendirian di rumah. Pada hari Sabtu dan hari – hari libur, aku dapat pergi ke sekolah atau ke penitipan anak, namun tempat – tempat ini tutup pada hari Minggu. Alasan yang lain, kata ayah, adalah karena menurutnya seorang ayah harus menunjukkan kepada anaknya pekerjaan macam apa yang dilakukannya. Seorang anak harus mengetahui pekerjaan apa yang menghidupinya selama ini, dan dia juga harus dapat menghargai pentingnya bekerja. Semasa kecilnya, ayah sudah bekerja di ladang milik kakek, bahkan di hari Minggu, begitu juga di hari – hari lain pada waktu libur, dia bahkan harus libur sekolah pada saat – saat yang sibuk seperti sedang musim panen. Kehidupan seperti itu merupakan sebuah anugerah baginya hingga dia tumbuh dewasa.

Alasan ketiga, dan juga yang terakhir, merupakan alasan yang sangat egois, sehingga alasan ini meninggalkan bekas luka yang dalam di hatiku. Sebenarnya ayah sadar bahwa keberadaan anak kecil dapat membuat pekerjaannya menjadi lebih mudah. Bahkan orang yang telah memutuskan untuk tidak akan membayar akhirnya akan merogoh kantongnya jika ditatap oleh seorang anak kecil, oleh karena itulah ayah hanya berkeliling di rute yang sulit di hari minggu.

Aku telah merasa sejak awal bahwa inilah peran yang diinginkan ayah untukku, dan aku amat sangat membenci peran ini. Namun aku juga merasa bahwa aku harus melakukannya dengan secerdik mungkin untuk menyenangkan hatinya. Jika aku bisa membuatnya senang, maka dia akan memperlakukanku dengan baik. Mungkin saja bagi ayah, aku tidak lebih dari sekedar monyet yang terlatih.

Salah satu hal yang membuat hatiku lega adalah daerah di mana kami berkeliling jauh dari rumah. Kami tinggal di daerah pinggir kota Ichikawa, sementara kami selalu berkeliling di pusat kota. Paling tidak dengan cara begini aku tidak akan bertemu dengan orang-orang yang kukenal. Namun tak jarang ketika kami berkeliling di wilayah perbelanjaan, aku akan melihat seorang temanku di sana. Jika ini terjadi, aku selalu bersembunyi di balik punggung ayah agar tidak terlihat oleh temanku.

Pada hari Senin, teman – teman sekolahku akan berbincang dengan semangat tentang apa yang mereka lakukan di hari Minggu. Mereka pergi ke taman hiburan, kebun binatang, dan melihat pertandingan baseball. Di musim panas mereka berenang, dan di musim dingin mereka bermain ski. Tapi tidak ada yang dapat aku ceritakan. Pada hari Minggu, dari pagi sampai malam, aku dan ayah akan membunyikan bel ke rumah orang – orang asing, menundukkan kepala, lalu mengambil uang dari siapapun yang membukakan pintu. Jika ada yang tidak ingin membayar, ayah akan membujuk atau mengancamnya. Jika mereka mengeluarkan banyak alasan, ayah akan meninggikan suaranya. Terkadang dia akan mengucapkan sumpah serapah kepada mereka yang bandel!

Tentu saja pengalaman seperti ini bukanlah hal yang ingin aku ceritakan kepada teman – temanku. Aku merasa seperti orang asing di tengah – tengah masyarakat ekonomi menengah. Aku hidup dengan cara yang berbeda di dunia yang berbeda.

Untungnya nilai – nilai akademik dan olahragaku sangat tinggi. Sehingga, walaupun terlihat berbeda, aku tidak pernah merasa minder. Dalam banyak kesempatan, aku diperlakukan dengan hormat. Namun setiap kali teman – teman mengajakku pergi ke suatu tempat atau mengundangku ke rumah mereka di hari Minggu, aku akan menolak ajakan mereka dengan berbagai alasan. Ini membuat mereka berhenti mengajakku.

Terlahir sebagai putra tunggal di keluarga petani yang tinggal di wilayah Tohoku, ayah terkenal sangat keras, ia senang karena berhasil keluar dari rumahnya secepat mungkin untuk bergabung dengan kelompok perantau dan menempuh perjalanan sampai ke Manchuria pada tahun 1913. Mereka tidak percaya dengan omongan pemerintah yang mengatakan bahwa Manchuria adalah surga dengan tanah yang luas dan subur. Pada saat itu ayah sudah sadar bahwa ‘surga’ itu tidak ada. Keluarga ayah sangatlah miskin, dan tidak jarang dia merasa sangat kelaparan. Kemungkinan terbaik jika dia tetap tinggal di rumahnya adalah hidup menderita dan mati kelaparan. Di Manchuria, ayah dan perantau lainnya diberikan sedikit peralatan untuk bertani, dan mereka bersama – sama bercocok tanam di sana. Tanah di sana keras dan berbatu, dan pada waktu musim dingin semuanya membeku. Terkadang mereka menangkap dan memakan anjing liar. Meski begitu, dengan bantuan pemerintah selama beberapa tahun pertama, mereka berhasil bertahan hidup. Lambat laun kehidupan mereka mulai stabil. Namun semua berubah secara drastis ketika Uni Soviet menginvasi Manchuria dalam skala yang besar pada bulan Agustus 1945. Ayah telah menduga hal ini akan terjadi, karena sebelumnya seorang pejabat pemerintah yang telah menjadi temannya telah memberitahunya. Begitu dia mendengar berita bahwa Soviet telah menerobos perbatasan, dia segera menunggangi kudanya sampai ke stasiun kereta dan menaiki kereta terakhir ke Daien. Dia satu – satunya diantara teman – teman petaninya yang berhasil kembali ke Jepang sebelum akhir tahun.

Setelah perang berakhir, ayah merantau ke Tokyo dan mencoba bekerja sebagai tukang kayu dan penyelundup di pasar gelap. Namun penghasilannya amat sangat minim dan bahkan tidak cukup untuk makan sehari – hari. Saat itu dia sedang bekerja sebagai pengantar di toko minuman alkohol ketika dia bertemu dengan temannya yang dulu menjadi pejabat di Manchuria. Saat dia mengetahui bahwa ayah sulit menemukan pekerjaan dengan penghasilan yang pantas, dia menawarkan diri untuk merekomendasikan ayah pada temannya yang bekerja di bagian pelanggan NHK. Ayah dengan senang hati menyetujuinya. Dia hampir tidak mengetahui apa – apa tentang NHK, namun dia bersedia untuk mencoba apapun yang dapat menjanjikannya penghasilan tetap.

Ayah menjalankan pekerjaannya dengan sangat antusias. Kelebihannya yang paling menonjol adalah kekerasan hatinya di hadapan para saingannya. Bagi seseorang yang telah susah mencari makan semenjak kecil, menagih pembayaran di NHK bukanlah pekerjaan yang menyiksa. Ejekan dan cemooh dari orang lain tidak berarti apa – apa baginya. Terlebih lagi, dia merasa puas karena dapat menjadi bagian dari organisasi penting seperti NHK, walaupun hanya sebagai anggota di tingkat yang paling rendah. Ketekunannya dalam bekerja sangat luar biasa, sehingga setelah satu tahun bekerja sebagai penagih dengan bayaran per komisi, dia segera diangkat menjadi pegawai penuh. Ini merupakan sebuah pencapaian yang belum pernah dicapai oleh siapapun di NHK. Tidak lama setelah itu dia pindah ke apartemen milik perusahaan dan mengambil asuransi kesehatan dari perusahaan. Ini adalah runtutan keberuntungan terbesar yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Ayah jarang mau menyanyikan lagu tidur untukku di masa kecil, dia juga malas membacakan buku untukku saat aku hendak tidur. Malahan, dia sering menceritakan tentang pengalaman hidupnya.

Dia handal dalam bercerita. Pengalaman masa kanak – kanak dan mudanya memang tidak sarat akan makna, namun rincian ceritanya terasa sangat nyata. Ada kisah lucu, mengharukan, namun tak jarang ia gemar menceritakan pengalaman hidupnya yang keras.

Kehidupan ayah sungguh penuh dengan warna. Namun ketika ceritanya sampai ke bagian dimana dia menjadi pegawai di NHK, tiba – tiba ceritanya kehilangan daya tarik. Dia bertemu seorang wanita cantik, menikahinya, lalu mempunyai anak, aku, Tengo Kawana. Beberapa bulan setelah melahirkanku, ibu jatuh sakit lalu meninggal dunia. Sejak saat itu ayah membesarkanku seorang diri sambil bekerja di NHK.

Ayah tidak pernah mau menceritakan tentang bagaimana dia bertemu dan menikahi ibu, wanita seperti apa dia, apa yang menyebabkan kematiannya, atau apakah dia menderita sebelum meninggal atau tidak? Jika aku mencoba menanyakannya, maka ayah akan menghindari pertanyaanku. Sering kali pertanyaan – pertanyaan ini membuat hatinya sangat kesal. Tidak ada satupun foto ibu yang disimpannya.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mempercayai cerita ayah. Dia menyembunyikan cerita bahwa ibu tidak meninggal beberapa bulan setelah aku lahir. Di dalam ingatanku saat masih berumur satu setengah tahun, ibu sedang berdiri di samping tempat tidurku, dan seorang pria yang aku tahu bukan ayah sedang memeluknya dengan penuh hasrat. Pelan – pelan ibu melepaskan blus dan ikatan roknya, lalu membiarkan lelaki yang bukan ayahku itu berbuat sesuka hatinya. Sementara itu aku sedang tidur di samping mereka, dengan napas yang tidak terlalu keras. Namun di saat yang sama, aku tidak tertidur, aku justru sedang memperhatikan ibu dan segala gerak – geriknya.

Itulah gambaran terakhir yang aku rekam. Adegan berdurasi sepuluh detik tersebut telah melekat dengan jelas di dalam kepala. Satu – satunya informasi konkrit yang aku miliki tentang ibuku. Aku dan ibu terhubung oleh ikatan tipis yang terlihat seperti tali pusar seorang bayi. Ayah tidak mengetahui bahwa adegan ini ada dalam ingatanku. Seperti seekor sapi di tengah padang rumput, aku melahap informasi ini bagai rumput yang selanjutnya aku makan mentah – mentah. Ayah dan anak, masing – masing terkurung di dalam kegelapan rahasia mereka sendiri yang gelap dan begitu dalam.

Saat beranjak dewasa, aku sering bertanya – tanya apakah pria yang bukan ayahku itu adalah ayah kandungku. Ini karena aku sama sekali tidak mirip dengan ayahku yang sekarang. Aku memiliki tubuh yang tinggi, kening yang lebar, hidung mancung, dan daun telinga yang bundar. Sedangkan ayah bertubuh pendek, gemuk, dan sama sekali tidak menarik. Dia mempunyai kening kecil, hidung pesek, dan daun telinga yang lancip seperti kuda. Aku selalu bisa terlihat santai dan baik hati, sedangkan ayah cepat cemas dan tidak suka menolong orang. Jika sedang membandingkan kami berdua, orang – orang selalu membicarakan tentang perbedaan di antara kami.

Namun tetap saja, bukan perbedaan dalam hal fisik yang membuat aku sulit untuk menerima ayah, tapi karena perbedaan psikologis. Ayah sama sekali tidak menunjukkan tanda – tanda kecerdasan intelektual. Memang benar, dia terlahir dan hidup dalam kemiskinan sehingga dia tidak pernah mendapatkan pendidikan yang layak. Untuk hal ini, aku merasa sangat bersimpati terhadap keadaannya. Namun hasrat dasar untuk menimba ilmu — yang aku pikir merupakan sifat alamiah manusia — tidak terdapat di dalam dirinya. Dia memiliki pengetahuan praktikal yang membuatnya dapat bertahan hidup, namun aku tidak melihat adanya kemauan dalam diri ayah untuk memperdalam ilmu, dan melihat dunia dengan sudut pandang yang lebih luas.

Meskipun begitu, ayah tidak pernah terlihat menderita karena hidupnya yang sempit dan monoton. Aku tidak pernah melihatnya membaca buku. Dia tidak tertarik dengan musik atau film, dan dia tidak pernah pergi berlibur. Satu – satunya hal yang menarik baginya adalah rute berkelilingnya. Dia akan membuat map area yang akan dilaluinya, menandainya dengan pena warna, dan memeriksanya kapanpun dia ada kesempatan, layaknya seorang ahli biologi yang mempelajari kromosom.

Sebaliknya, aku selalu ingin tahu akan semua hal. Aku mempelajari dan memahami berbagai macam bidang studi dengan baik. Aku telah diakui sebagai murid jenius dalam bidang matematika semenjak usia dini, dan aku dapat menyelesaikan soal matematika untuk tingkat SMA saat aku duduk di kelas tiga SD.

Bagiku, matematika merupakan alat terbaik untuk melarikan diri dari dunia nyata. Dalam dunia matematika, aku dapat berjalan di sepanjang koridor kota, dan membuka pintu – pintu angka. Setiap kali aku menemui soal yang sulit, maka jejak buruk kenyataan dunia akan segera menghilang dari hadapanku. Selama aku bisa membuat diri ini sibuk menjelajahi dunia yang tak terbatas dan konsisten tersebut, aku akan merasa bebas.

Jika matematika merupakan bangunan khayalan yang menakjubkan, maka sastra merupakan hutan luas yang penuh sihir. Matematika menghampar naik ke atas surga, namun cerita sastra terhampar luas di depanku, akar – akarnya menembus jauh ke dalam perut bumi. Tidak ada map maupun pintu di sana. Semakin aku beranjak dewasa, hutan cerita mulai mencengkeram dan menarik hati ini lebih kuat daripada dunia matematika. Tetap saja, membaca novel hanyalah salah satu cara bagiku untuk melarikan diri, karena begitu aku menutup buku, aku segera kembali ke dunia nyata. Namun begitu, aku merasa bahwa kembali ke dunia nyata dari dunia novel tidak terlalu mengecewakan dibanding kembali dari dunia matematika. Kenapa bisa begitu? Setelah berpikir keras, aku mencapai sebuah kesimpulan.

Tidak peduli betapa jelasnya sebuah cerita, namun tidak pernah ada solusi yang jelas di sana, tidak seperti ketika aku menjelajahi dunia matematika. Peran sebuah cerita, dalam istilah yang paling luas, adalah untuk mengubah sebuah masalah ke dalam bentuk yang lain. Sebuah solusi bisa saja dapat ditarik dari naratifnya, tergantung dengan alamiah dan alur masalahnya. Aku selalu kembali ke dunia nyata dengan pemahaman tersebut. Rasanya seperti selembar kertas yang di atasnya tertulis mantra sihir yang tidak dapat dipecahkan. Mantra tersebut tidak mempunyai maksud secara langsung, namun masih mengandung makna terselubung.

Satu – satunya solusi yang mampu aku pecahkan berkat koleksi buku – buku bacaanku adalah; ayahku yang asli pasti berada di suatu tempat. Seperti seorang anak kecil malang di dalam novel Dickens, aku mungkin, entah karena situasi aneh macam apa, akhirnya dibesarkan oleh penipu yang mengaku sebagai ayah. Kemungkinan tersebut terasa seperti mimpi buruk namun juga harapan yang besar. Setelah membaca Oliver Twist, aku mulai membaca seluruh karya Dickens yang dapat aku temukan di perpustakaan. Ketika aku berjalan – jalan untuk mengarungi kisah – kisah dari Charles Dickens, aku mengubah khayalan kehidupanku dan semakin membenci diri sendiri. Khayalan ini tumbuh semakin panjang dan rumit. Khayalan yang tumbuh dengan satu bentuk, namun memiliki variasi yang tak terhingga. Di dalam semua khayalanku, aku meyakinkan diri sendiri bahwa aku hanya sekedar terjebak di dalam rumah ayah saja, dan suatu saat nanti kedua orang tuaku yang asli akan menemukan dan menyelamatkanku. Kemudian aku akan menikmati hari Minggu yang paling indah dan damai.

Ayah selalu bangga dengan nilai – nilai yang berhasil aku capai di sekolah, dan dia selalu menunjukkan nilai hasil ujianku ke para tetangga kami. Namun di saat yang sama, ayah juga menunjukkan tanda – tanda ketidaksenangan terhadap kecerdasan dan bakatku.

Kadang – kadang, ketika aku tengah sibuk belajar di kamar, ayah akan menggangguku, menyuruhku membersihkan rumah, dan mengomeli sikapku yang dianggap lancang terhadapnya. Isi omelan ayah selalu sama, ayah sedang sibuk bekerja keras, menempuh perjalanan yang jauh, dan menahan amarah ketika orang – orang menyumpahinya, sedangkan aku hanya hidup dengan bersantai – santai saja. “Ketika ayah seumuranmu, ayah sudah disuruh bekerja banting tulang. Kakek dan pamanmu selalu memukuli ayah jika ayah bersantai – santai. Mereka tidak pernah memberikan ayah makan yang cukup. Mereka memperlakukan ayah seperti binatang. Ayah tidak mau kau merasa spesial hanya karena nilai – nilaimu tinggi!”

Dia iri denganku, pikirku. Entah dia iri denganku atau dengan kehidupanku. Tapi, apakah seorang ayah memang akan iri dengan anaknya sendiri?

Bukannya aku mau menuduh ayah, tapi aku memang merasakan adanya rasa cemburu dalam perkataan maupun perbuatannya. Ayah tidak membenci kehadiranku, tapi dia lebih sering membenci sesuatu yang ada di dalam diriku, sesuatu yang tidak dapat dimaafkannya.

Ketika kereta yang aku tumpangi bergerak meninggalkan stasiun Tokyo, aku mengeluarkan buku yang aku bawa dari rumah. Buku tersebut merupakan sebuah antologi cerita pendek dengan tema perjalanan, dan di dalamnya terdapat cerita berjudul “Kota Kucing”, sebuah karya fantastis yang ditulis oleh penulis Jerman yang tidak begitu kukenal. Berdasarkan kata pengantar yang ada di halaman depan buku, cerita tersebut ditulis pada periode antara dua Perang Dunia.

Dalam kisah tersebut, seorang pemuda bepergian sendirian tanpa ada tujuan. Dia menumpangi kereta dan turun di pemberhentian manapun yang menarik perhatiannya.
Dia menyewa sebuah kamar, berkeliling menikmati pemandangan, dan tinggal selama yang dia inginkan. Ketika dia sudah merasa puas, dia kembali menaiki kereta lain. Dia sangat menikmati liburannya dengan cara seperti itu.

Suatu hari, dia melihat sebuah sungai yang indah dari jendela kereta. Bukit – bukit hijau berbaris di sepanjang alirannya, dan di kejauhan terlihat sebuah kota kecil yang indah dengan jembatan batu tua. Kereta berhenti di stasiun di kota tersebut, dan dia turun membawa tasnya. Tidak ada penumpang lain yang ikut turun, dan begitu dia turun, kereta segera berangkat kembali.

Tidak ada seorangpun yang bekerja di stasiun. Dia berpikir hal ini mungkin disebabkan karena tidak ada banyak kegiatan di stasiun ini. Sang pemuda menyeberangi jembatan batu dan berjalan menuju kota. Semua toko tutup, dan alun – alun kota terlihat kotor dan telah lama terbengkalai. Hanya ada satu hotel di sana, dan tidak ada orang yang melayani di meja penerima tamu. Tempat itu tampak tidak berpenghuni. Mungkin semua orang sedang tidur siang di suatu tempat. Tapi sekarang baru jam setengah sebelas pagi, masih lama sebelum waktu tidur siang.

Mungkin sesuatu telah terjadi dan membuat semua orang meninggalkan kota ini. Walau bagaimanapun, kereta selanjutnya tidak akan tiba sampai besok pagi, sehingga dia tidak punya pilihan selain bermalam di sana. Dia berjalan berkeliling kota untuk menghabiskan waktu.

Sebenarnya, ini adalah kota kucing. Ketika matahari mulai terbenam, banyak kucing liar — dengan jenis dan warna yang berbeda — menyeberangi jembatan secara bergerombolan. Mereka memiliki ukuran yang lebih besar daripada kucing biasa, namun mereka tetaplah kucing liar. Sang pemuda terkejut melihat pemandangan ini. Dia segera berlari menuju menara lonceng yang terdapat di tengah kota, lalu naik sampai ke puncaknya untuk bersembunyi. Para kucing mulai berkeliaran di sekitar kota.

Ada yang membuka penutup toko, atau pergi ke kantor untuk memulai kerja. Tidak lama berselang, muncul segerombolan kucing lain dalam jumlah yang lebih banyak dan mereka mulai menyeberangi jembatan seperti yang dilakukan oleh kelompok sebelumnya. Mereka masuk ke toko – toko untuk berbelanja, pergi ke kantor pemerintahan untuk menyelesaikan urusan administrasi, makan di restauran hotel, atau meminum bir di kedai dan menyanyikan lagu – lagu kucing dengan semangat. Karena kucing dapat melihat dalam kegelapan, maka mereka hampir tidak membutuhkan lampu sama sekali. Namun khusus malam hari itu, rembulan bersinar terang dan cahayanya menerangi seluruh kota. Sang pemuda dapat melihat kegiatan di kota dengan jelas dari tempat persembunyiannya di menara lonceng. Ketika fajar menyingsing, para kucing menyelesaikan pekerjaan mereka, menutup kembali pintu toko, dan berjalan teratur menyeberangi jembatan.

Saat matahari telah terbit, tidak ada satupun kucing yang terlihat di sana, dan kota tersebut kembali sunyi. Sang pemuda turun dari menara lonceng, lalu tidur di salah satu kamar di hotel. Jika dia merasa lapar, dia memakan roti dan ikan yang tersisa di dapur hotel. Ketika malam mendekat, dia kembali bersembunyi di menara lonceng dan memperhatikan kegiatan para kucing sampai fajar.

Beberapa kali kereta berhenti di stasiun sebelum siang dan sore hari. Tidak ada penumpang yang turun maupun naik ke kereta. Namun tetap saja, kereta selalu berhenti tepat selama satu menit, kemudian kembali berangkat. Dia bisa saja naik ke salah satu kereta, dan meninggalkan kota kucing yang aneh ini. Tapi dia memutuskan untuk tidak melakukannya. Karena dia masih muda, rasa ingin tahunya sangat menggebu – gebu dan dia selalu siap melakukan petualangan apapun. Dia masih ingin melihat peristiwa aneh ini lebih lama. Dia ingin mengetahui sejak kapan dan bagaimana tempat ini berubah menjadi kota kucing.

Pada malam ketiga, sebuah keributan terjadi di alun – alun di bawah menara. “ Hey, apa kau mencium bau manusia? ” tanya seekor kucing.

“Ya, aku rasa memang ada bau aneh beberapa hari ini,” sahut kucing lain sambil mengendus dengan hidungnya. “Aku juga,” jawab yang lain. “Aneh. Padahal tidak ada manusia yang tinggal di sini,” tambah seekor kucing. “Tentu saja tidak. Tidak mungkin ada manusia yang bisa masuk ke kota ini.” “Lalu kenapa ada bau manusia di sini?”

Para kucing mulai menyisir seluruh kota secara berkelompok. Mereka hanya membutuhkan waktu sebentar saja untuk memastikan bahwa menara lonceng merupakan sumber dari bau manusia. Sang pemuda mendengar langkah kaki kucing menaiki tangga. Mereka telah menemukanku! Pikirnya. Sepertinya baunya telah memicu amarah para kucing.

Manusia tidak diperbolehkan memasuki kota tersebut. Para kucing memiliki cakar dan taring yang besar dan tajam. Pemuda itu tidak tahu apa yang akan terjadi padanya jika para kucing berhasil menangkapnya, tapi dia yakin bahwa mereka tidak akan membiarkannya meninggalkan kota dalam keadaan hidup.

Tiga ekor kucing memanjat sampai ke puncak menara dan mengendus udara. “ Aneh, ” ujar seekor kucing dengan kumis bergoyang – goyang, “ Aku mencium bau manusia, tapi tidak ada seorangpun di sini. ” “ Ya, ini aneh, ” sahut kucing lain. “ Tapi memang tidak ada seorangpun di sini. Ayo pergi dan cari di tempat lain. ”

Para kucing memiringkan kepala mereka, kebingungan, kemudian kembali turun ke bawah. Sang pemuda mendengar langkah kaki mereka perlahan menghilang di kegelapan malam. Dia menghembuskan nafas lega, tapi dia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Mereka tidak dapat menemukannya. Tapi entah kenapa, mereka tidak dapat melihatnya. Walau bagaimanapun, dia memutuskan bahwa dia akan segera pergi ke stasiun begitu pagi menjelang dan naik kereta meninggalkan kota. Keberuntungannya tidak akan mungkin bertahan selamanya.

Namun esoknya, tidak ada kereta yang berhenti di stasiun. Semua kereta hanya melaju melewatinya tanpa menurunkan kecepatan.

Begitu juga dengan kereta sore. Dia dapat melihat seorang kondektur di gerbong kendali. Tapi kereta – kereta tersebut tidak menunjukkan tanda – tanda akan berhenti. Seolah tidak ada yang melihat seorang pemuda menunggu di stasiun — atau bahkan stasiun itu sendiri. Ketika kereta sore menghilang di ujung rel, tempat itu menjadi lebih sunyi daripada biasanya. Matahari mulai terbenam. Waktunya bagi para kucing memasuki kota. Sang pemuda sadar bahwa dia telah tersesat. Tempat tersebut merupakan dunia lain yang disiapkan secara khusus untuknya. Dan tidak akan ada lagi kereta yang berhenti di stasiun ini untuk membawanya kembali ke dunia asalnya.

Aku membaca kisah tersebut dua kali. Frasa ‘tempat di mana dia ditakdirkan untuk tersesat’ menarik perhatiannya. Dia menutup bukunya dan membiarkan matanya menerawangi pemandangan area industri yang terlihat dari jendela kereta. Tidak lama kemudian dia tertidur — bukan tidur panjang namun tidur yang sangat dalam. Dia terbangun bersimbah keringat. Kereta sedang berjalan melewati pesisir selatan semenanjung Boso.

Dulu, saat aku duduk di kelas lima, aku memutuskan untuk berhenti berkeliling dengan ayah di hari Minggu. Aku mengatakan pada ayah bahwa aku ingin menghabiskan waktu luang dengan belajar, membaca buku, dan bermain bersama anak – anak yang lain. Aku ingin hidup normal seperti orang lain.

Aku hanya mengatakan apa yang perlu aku katakan dengan ringkas dan mudah dimengerti.

Di luar dugaanku, ayah naik pitam. Dia tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh keluarga lain.

“ Kita punya cara hidup sendiri, nak. Dan jangan kau berani berkata padaku tentang ‘kehidupan normal’, Tuan Sok Tahu. Apa yang kau tahu tentang ‘kehidupan normal’?” Aku sama sekali tidak mencoba membantahnya. Aku hanya balik menatapnya dengan hening, sadar bahwa semua perkataanku tidak akan bisa dimengerti olehnya. Akhirnya, ayah mengatakan bahwa jika aku tetap tidak mau mematuhinya, maka dia akan berhenti memberiku makan. Dengan kata lain, aku harus angkat kaki dari rumah.

Aku mematuhi apa yang dikatakan ayah. Aku telah membulatkan tekad. Daripada takut, aku malah merasa lega, karena akhirnya aku diberikan izin untuk meninggalkan kurungan ini. Namun tidak mungkin seorang anak berusia sepuluh tahun dapat hidup sendiri. Ketika kelas telah berakhir, aku mengungkapkan semua kemalangan yang kualami kepada guruku.

Dia adalah seorang guru wanita berumur tiga puluhan dan hidup lajang. Dia juga guru yang baik hati dan berpikiran terbuka. Dia mendengarkan kisahku dengan penuh simpati. Malam harinya dia berkunjung ke rumah kami untuk berdiskusi dengan ayah.

Aku disuruh meninggalkan ruang tamu, sehingga aku tidak tahu apa yang mereka katakan, namun akhirnya ayah mengalah. Tidak peduli seberapa marahnya dia kepadaku, dia tetap tidak boleh membiarkan anak berumur sepuluh tahun berkeliaran di jalan sendirian. Kewajiban orang tua untuk menghidupi anaknya diatur oleh hukum.

Setelah ibu guru selesai berbicara dengan ayah, aku diizinkan untuk menghabiskan hari Minggu sesuka hati. Ini merupakan hak pertama yang pernah aku peroleh dari ayah. Kini aku telah selangkah lebih jauh menuju kebebasan dan kemerdekaan.

Di meja resepsionis sanatorium, aku memberikan nama dan nama ayah.

Perawat yang kebetulan sedang bekerja saat itu bertanya, “ Apa anda telah memberi tahu bahwa Anda akan berkunjung hari ini? ” suaranya terdengar serak. Perawat tersebut berperawakan kecil, dia mengenakan kacamata dengan bingkai besi, dan rambutnya yang pendek mulai tampak beruban.

“ Tidak, tiba – tiba saja aku ingin berkunjung pagi ini dan segera berangkat dengan kereta, ” jawabku apa adanya.

Sang perawat menatapku dengan ekspresi setengah jijik. Kemudian dia berkata,

“ Pengunjung seharusnya memberi tahu kami terlebih dahulu sebelum menjenguk pasien. Kami mempunyai jadwal sendiri, dan keinginan pasien juga harus dipertimbangkan. ”

“ Maaf, aku tidak tahu. ”

“ Kapan terakhir kali Anda berkunjung ? ”

“ Dua tahun lalu. ”

“ Dua tahun lalu, ” ulangnya sambil memeriksa daftar pengunjung dengan pena di tangannya. “Maksudnya Anda tidak pernah berkunjung sekalipun selama dua tahun ini? ”

“ Benar. ” jawabku.

“ Menurut catatan kami, Anda adalah satu – satunya kerabat Tuan Kawana. ”

“ Ya, benar. ”

Dia melihatku sepintas, tapi tidak mengatakan apa – apa. Dia tidak sedang menghakimiku, dia hanya mengkonfirmasi fakta. Lagipula, kasus seperti keluargaku ini bukanlah yang pertama kali.

“ Saat ini ayah Anda sedang mengikuti kelompok rehabilitasi, dan akan selesai dalam setengah jam. Kemudian barulah anda dapat menemuinya. ”

“ Bagaimana keadaannya? ”

“ Secara fisik, dia sehat. Namun kondisinya yang lain belum stabil, ” jawab sang perawat sambil mengetuk – ngetuk dahinya dengan jari telunjuk.

Aku mengucapkan terima kasih kemudian beranjak pergi dan menunggu di ruang santai yang berada di dekat pintu masuk sambil melanjutkan membaca buku. Angin semilir masuk melalui jendela, membawa terbang aroma laut dan pinus dari luar. Jangkrik musim panas bertengger di pepohonan, mengeluarkan suara sekencang – kencangnya. Musim panas kini sampai pada puncaknya, tapi para jangkrik seolah tahu bahwa musim panas tidak akan bertahan selamanya.

Setelah menunggu cukup lama, seorang perawat berkacamata datang memberitahu bahwa aku dapat menemui ayah sekarang. “ Akan saya tunjukkan kamar ayah Anda, ” ucapnya. Aku berdiri dari sofa, dan ketika aku melewati cermin besar yang digantung di dinding, aku baru sadar betapa semrawut pakaian yang aku kenakan, selembar kaos Tur Jeff Beck yang dibalut kemeja dengan kancing terbuka dan tidak sesuai, celana Chinos dengan noda saos pizza di dekat lutut, dan topi baseball — sungguh pakaian yang tidak mungkin dikenakan oleh putra berumur tiga puluh tahun yang mengunjungi ayahnya untuk pertama kalinya dalam dua tahun belakangan. Ditambah lagi aku tidak membawa apapun yang dapat dijadikan buah tangan untuk ayah. Pantas saja perawat tadi memandangku dengan jijik.

Ayahku berada di dalam kamarnya, dia sedang duduk di kursi dekat jendela yang terbuka dengan tangan di lututnya. Di atas meja di dekatnya terdapat pot bunga yang diisi dengan bunga – bunga indah berwarna kuning. Lantainya dibuat khusus dengan bahan lunak untuk mencegah agar pasien tidak terluka jika terjatuh.

Pada awalnya aku tidak menyadari bahwa lelaki yang duduk di dekat jendela adalah ayah. Dia telah mengecil, atau lebih tepatnya ‘mengerut’. Rambutnya kini lebih pendek dan seputih halaman rumah yang ditutupi salju. Pipinya mencekung, dan mungkin karena itulah bola matanya terlihat lebih besar dibanding dahulu. Tiga garis kerutan terlihat jelas di keningnya. Alis matanya sangat panjang dan tebal, dan daun telinganya lebih lancip daripada sebelumnya sampai terlihat seperti sayap kelelawar. Dari kejauhan dia tidak terlihat seperti manusia, malah dia lebih terlihat seperti makhluk lain, tikus atau tupai — pokoknya makhluk yang terlihat licik. Walau bagaimanapun dia adalah ayahku, atau paling tidak dia adalah versi hancur dari ayahku. Seingatku, ayah selalu terlihat kuat, dan bekerja keras. Introspeksi dan imaginasi merupakan hal yang asing baginya, tapi dia mempunyai aturan moralnya sendiri dan tujuan hidup yang jelas. Lelaki yang kini ada di hadapanku tidak lebih dari sepotong cangkang kepiting yang sudah kosong.

“ Tuan Kawana! ” teriak sang perawat. “ Tuan Kawana! Lihat siapa yang datang! Dia putramu yang datang dari Tokyo! ”

Ayah berbalik memandangku. Matanya yang tidak menunjukkan ekspresi sama sekali membuat aku teringat dengan dua sarang burung kosong yang menggantung di cabang pohon.

“ Hallo, ” sahutku.

Ayah tidak menjawab. Dia malah melihat lurus kepadaku seolah dia sedang membaca majalah yang ditulis dalam bahasa asing.

“ Makan malam akan dihidangkan jam setengah tujuh,” kata sang perawat kepadaku. “ Silahkan mengobrol dengan pasien sampai jam segitu. ”

Aku sedikit ragu – ragu ketika perawat telah meninggalkan ruangan. Pelan – pelan aku memberanikan diri untuk mendekati ayah, aku duduk di kursi di depannya. Mata ayah mengikuti semua gerakanku.

“ Bagaimana keadaan ayah? ” tanyaku.

“ Saya baik-baik saja, ” jawabnya dengan nada resmi.

Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Aku memainkan kancing ketiga di kemejaku sambil mengalihkan perhatian pada pohon – pohon pinus di luar, lalu aku kembali memandangnya.

“ Kau datang dari Tokyo, ya? ” tanya ayah.

“ Ya, dari Tokyo. ”

“ Dengan kereta ekspress? ”

“ Ya, ” jawabku. “ Hanya sampai Tateyama. Setelah itu aku pindah ke kereta lokal sampai ke Chikura. ”

“ Kau datang untuk berenang di sini? ”

“ Aku Tengo, Tengo Kawana. Putramu! ”

Kerutan di wajah ayah mulai menebal. “ Banyak orang berbohong karena mereka tidak mau membayar biaya langganan di NHK. ”

“ Ayah! ” teriakku padanya. Sudah sangat lama aku tidak menyebut kata itu. “ Aku Tengo. Putramu. ”

“ Aku tidak punya anak, ” sahut ayah dengan gamblang.

“ Ayah tidak punya anak, ” ulangku.

Ayah hanya membalas dengan anggukan kepala kecil.

“ Jadi, siapa aku? ” tanyaku.

“ Kau bukan siapa – siapa, ” jawab ayah dengan gelengan kepala.

Aku menghembuskan napas dalam – dalam. Aku tidak tahu harus berkata apa. Ayah juga tidak melanjutkan perkataannya. Kami duduk dengan diam, mencari – cari kata di dalam pikiran yang kusut. Hanya para jangkrik yang dapat bersuara dan bernyanyi dengan kencang.

Mungkin saja dia ingin mengatakan yang sebenarnya, pikirku. Ingatannya mungkin memang telah hancur, namun perkataannya mungkin saja benar.

“ Apa maksud ayah? ” tanyaku.

“ Kau bukan siapa – siapa, ” ulangnya tanpa menunjukkan perasaan apapun. “ Kau tidak pernah menjadi siapapun, dan tidak akan pernah menjadi siapapun. ”

Aku ingin segera bangkit dari kursi, pergi ke stasiun, dan segera kembali ke Tokyo sekarang juga. Tapi aku tidak dapat berdiri. Aku seperti pemuda yang berjalan seorang diri ke kota kucing. Penasaran dan ingin sebuah penjelasan. Tentu saja aku tahu ada bahaya di depanku. Tapi jika aku melepaskan kesempatan ini, maka aku tidak akan pernah tahu rahasia tentang diriku. Aku mulai menjalin kata – kata di kepala. Ini adalah pertanyaan yang dari dulu hendak aku tanyakan padanya, “ Maksud ayah, kau bukanlah ayahku? Dan tidak ada ikatan darah diantara kita, benar begitu? ”

“ Mencuri gelombang radio adalah sebuah kejahatan dan dapat dijerat dengan hukum,” jawab ayah dengan mata tertuju lurus pada mataku. “ Karena tidak ada bedanya dengan mencuri uang atau barang berharga lainnya. ”

“ Mungkin iya, ” aku memutuskan untuk mengikuti pembicaraannya.

“ Gelombang radio tidak jatuh dari langit dengan cuma – cuma seperti hujan atau salju, ” lanjutnya.

Aku menatap tangan ayah. Tangannya yang kecil dan sedikit gelap karena banyak bekerja di luar, berbaris dengan rapi di atas lututnya.

“ Ibu tidak meninggal karena sakit saat aku masih kecil, iya kan ? ” tanyaku dengan perlahan.

Ayah tidak menjawab. Ekspresi wajahnya juga tidak berubah, dan tangannya tidak bergerak sama sekali. Matanya masih berfokus padaku seolah sedang melihat sesuatu yang aneh.

“ Ibu meninggalkanku. Dia pergi dan meninggalkan kita berdua. Dia pergi bersama pria lain. Benar kan? ”

Ayah mengangguk. “ Mencuri gelombang radio adalah perbuatan yang tercela. Kau tidak boleh melakukan hal sesuka hatimu. ”

Dia memahami pertanyaanku dengan jelas. Hanya saja dia tidak mau menjawabnya secara langsung, pikirku.

“ Ayah, ” ujarku. “ Ayah mungkin bukanlah orang tua kandungku, tapi aku akan tetap memanggilmu ayah sementara ini karena aku tidak tahu lagi dengan apa aku harus memanggilmu selain dengan kata ayah. Jujur saja, aku tidak pernah menyukai ayah. Mungkin sepanjang hidupku aku telah membenci ayah. Ayah pasti telah mengetahui ini. Dan walaupun mungkin tidak ada ikatan darah di antara kita, aku tidak lagi punya alasan untuk membenci ayah. Mungkin aku tidak akan pernah menyukai ayah, tapi setidaknya aku ingin dapat lebih memahami ayah sekarang. Aku selalu ingin tahu kebenaran tentang siapa aku dan siapa orang tuaku yang sebenarnya. Hanya itu saja. Jika ayah ingin mengatakannya sekarang, aku akan berhenti membenci ayah. Malah, aku akan senang, karena aku tidak akan lagi mempunyai alasan untuk membenci ayah. ”

Dia masih menatapku dengan tatapan kosong, tapi entah bagaimana, aku merasa melihat ada cahaya kecil yang berkilau jauh di dalam matanya yang tampak seperti sarang burung kosong.

“ Aku memang bukan siapa – siapa, ” lanjutku. “ Ayah benar tentang itu. Aku bagaikan seseorang yang dibuang ke lautan pada malam hari, dan mengambang sendirian. Aku mencoba memanggil seseorang, namun tidak ada siapapun yang menyahut. Aku tidak punya hubungan dengan apapun. Satu – satunya orang yang dapat kuanggap sebagai keluarga, adalah ayah. Tapi ayah lebih memilih untuk menyembunyikan sebuah rahasia dariku. Sementara itu ingatan ayah semakin memburuk, dan sedikit demi sedikit ingatan tentang diriku juga ikut terhapus. Aku bukanlah siapa – siapa, dan tidak akan pernah menjadi siapapun. Ayah juga benar tentang itu.”

“ Pengetahuan adalah harta yang paling berharga, ” jawab ayah dengan nada datar, namun suaranya terdengar lebih pelan daripada sebelumnya, seolah seseorang telah menurunkan volume suaranya. “ Pengetahuan adalah harta yang harus diraih sebanyak – banyaknya, dan digunakan dengan sangat hati – hati. Dan karena alasan itu pulalah NHK membutuhkan biaya langganan dari anda dan — “

Aku dengan cepat menginterupsinya. “ Orang seperti apa ibu? Kemana dia pergi? Apa yang terjadi dengannya? ”

Ayah segera bungkam, dan bibirnya tertutup rapat.

Aku lanjut bertanya dengan nada yang lebih halus, “ Ada sebuah ingatan yang selalu terlintas di benakku. Kurasa itu adalah ingatan tentang apa yang terjadi sebenarnya. Saat itu aku masih berumur satu setengah tahun, dan ibu berdiri di sampingku. Dia dan seorang pemuda sedang berpelukan. Lelaki tersebut bukan ayah. Aku tidak tahu siapa dia, tapi jelas dia bukan ayah. ”

Ayah tetap bungkam, namun matanya jelas sedang melihat sesuatu — sesuatu yang tidak ada di ruangan ini.

“ Bisakah kau membacakan sesuatu untuk ayah?, ” tanyanya dengan nada resmi setelah diam agak lama. “ Mata ayah telah sangat memburuk sampai – sampai ayah tidak lagi dapat membaca. Ada buku di dalam rak di sana. Pilih yang mana saja. ”

Aku berdiri dan melihat – lihat buku yang ada di sana. Kebanyakan buku – buku di sana adalah novel, dan buku sejarah yang berlatar belakang zaman ketika masih ada para samurai. Aku tidak ingin membacakan buku dengan bahasa kuno kepada ayah saat ini.

“ Jika ayah mau, aku akan membacakan cerita tentang kota kucing, ” ujarku. “ Aku membawa bukunya. ”

“ Cerita tentang kota kucing, ” ulang ayah. “ Tolong bacakan itu untuk ayah, jika kau tidak keberatan. ”

Aku melihat jam tangan. “ Tidak sama sekali. Masih ada banyak waktu sebelum keretaku berangkat. Ini adalah kisah yang aneh. Aku tidak tahu apa ayah akan menyukainya atau tidak. ”

Aku mengeluarkan bukuku dan mulai membaca dengan pelan. Suaraku terdengar jelas. Aku memandang wajah ayah di sela-sela jeda membaca, namun wajahnya tidak menunjukkan reaksi apapun. Aku tidak tahu apakah dia menyukai cerita ini atau tidak.

“ Apakah ada TV di kota kucing ? ” tanya ayah ketika aku selesai membaca.

“ Cerita ini ditulis di Jerman sekitar tahun 1930-an. Mereka belum menciptakan TV saat itu. Tapi mereka punya radio. ”

“ Apakah para kucing yang membangun kota tersebut? Atau apakah manusia yang membangunnya sebelum para kucing datang dan tinggal di sana? ” tanya ayah, seolah sedang bertanya pada dirinya sendiri.

“ Entahlah, ” jawabku. “ Tapi sepertinya dibangun oleh manusia. Mungkin entah karena apa manusia meninggalkan kota tersebut — mungkin mereka semua mati karena wabah atau sejenisnya — kemudian para kucing datang dan tinggal di sana. ”

Ayah mengangguk – anggukkan kepala. “ Ketika kehampaan tercipta, harus ada sesuatu yang mengisinya. Itulah yang dilakukan semua orang. ”

“ Benarkah? ”

“Ya. ”

“ Kalau begitu, kehampaan apa yang ayah isi? ”

Ayah terlihat kesal. Kemudian dia berkata dengan nada sarkasme, “Oh, kau tidak tahu?”

“ Aku tidak tahu, ” jawabku.

Ayah menghembuskan napas dengan keras. Satu alisnya sedikit terangkat. “ Jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan. ”

Aku menyipitkan mata, mencoba membaca ekspresi ayah. Ayah tidak pernah sama sekali berkata dengan nada dan bahasa seaneh ini. Dia selalu berbicara secara konkrit dan praktis.

“ Oh, aku mengerti. Ayah mengisi sebuah kehampaan, ” ujarku. “ Baiklah, kalau begitu, siapa yang akan mengisi kehampaan yang ayah tinggalkan? ”

“ Kau, ” kata ayah. Jari telunjuknya menunjuk lurus ke arahku. “ Bukankah itu sudah jelas? Aku telah mengisi kehampaan yang ditinggalkan seseorang, jadi kau akan mengisi kehampaan yang kubuat. ”

“ Seperti ketika para kucing mengisi kota setelah ditinggalkan manusia. ”

“ Benar, ” sahut ayah. Kemudian dia menatap jari telunjuknya sendiri yang menunjuk padaku dengan tatapan kosong seolah melihat benda misterius.

Aku menghela napas. “ Jadi, siapa ayahku yang sebenarnya? ”

“ Hanya ruang hampa. Ibumu menyatukan tubuhnya dengan sebuah kehampaan dan melahirkan dirimu. Dan aku mengisi kehampaan itu. ”

Setelah berkata sebanyak itu, ayah menutup mata dan mulutnya rapat-rapat.

“ Dan ayah membesarkanku setelah ibu pergi. Apa itu maksud ayah? ”

Setelah berdeham – deham yang tampak disengaja, ayah lanjut berkata, seolah mencoba menjelaskan sesuatu yang sederhana pada anak yang berpikir lambat, “ Karena itulah kukatakan tadi, jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan.”

Aku menaruh tangan di atas lutut dan menatap lurus wajahnya. Dia bukan cangkang yang kosong, pikirku. Dia manusia utuh dengan daging dan darah, dan jiwa yang keras. Dia terpaksa harus hidup dengan kehampaan yang perlahan membesar di dalam dirinya. Pada akhirnya nanti, kehampaan tersebut akan menghisap semua ingatan yang tersisa dalam dirinya. Hanya soal waktu saja sampai hal itu terjadi.

Aku berpamitan dengan ayah tepat sebelum jam enam sore. Sambil menunggu taxi, kami duduk berseberangan di dekat jendela tanpa berkata apa – apa. Masih banyak yang ingin aku tanyakan, tapi aku sadar bahwa aku tidak akan mendapatkan jawaban apapun karena aku melihat bibir ayah telah tertutup rapat. Seperti yang telah dikatakannya, tadi, “ Jika kau tidak dapat memahaminya tanpa penjelasan, maka kau tetap tidak akan dapat memahaminya walau dengan penjelasan. ”

Ketika hampir tiba waktunya untuk berangkat, aku berkata, “ Banyak yang ayah katakan padaku hari ini. Semuanya dikatakan secara tidak langsung dan kadang sulit untuk dimengerti, tapi mungkin ayah mengatakan dengan sejujur – jujurnya. Terima kasih. ”

Ayah masih saja bungkam, matanya terpaku melihat pemandangan luas, seperti seorang prajurit yang sedang berjaga dan tidak ingin melewatkan sinyal api yang dikirimkan oleh suku liar di kejauhan. Aku mencoba melihat ke arah yang sedang dilihat ayah, tapi di sana hanya ada deretan pohon pinus yang dibayangi oleh cahaya matahari yang mulai terbenam.

“ Maaf karena telah berkata seperti itu, tapi memang tidak ada yang dapat aku lakukan untuk ayah selain berharap proses penghampaan di dalam diri ayah tidak menyakitkan. Aku yakin ayah telah banyak menderita. Ayah juga pasti sangat mencintai ibu. Tapi dia sudah pergi, dan kepergiannya pasti menyakitkan bagi ayah —seperti hidup di kota kosong. Namun ayah tetap membesarkanku di kota kosong itu. ”

Sekumpulan burung gagak terbang melintasi cakrawala, dan menggaok – gaok di kejauhan. Aku pun berdiri, berjalan mendekati ayah, dan menaruh kedua tanganku di pundak ayah. “ Selamat tinggal, ayah. Nanti aku akan datang lagi. ”

Dengan tangan berada di gagang pintu, aku berbalik untuk terakhir kalinya dan terkejut mendapati ada air mata di kedua pipi ayah. Air matanya bersinar dengan warna keperakan. Air mata itu perlahan membasahi pipinya dan jatuh ke pangkuannya. Aku membuka pintu dan meninggalkan kamar ayah. Aku naik taksi menuju stasiun dan menumpangi kereta untuk kembali ke dunia asalku.

Sumber: http://cerpenterjemahan.wordpress.com

APA YANG DIPIKIRKAN OLEH RYUNOSUKE AKUTAGAWA 5 DETIK SEBELUM BUNUH DIRI?

                Aku pikir alasan seseorang menemui ajalnya adalah karena ia sudah tidak berguna lagi di dunia. Ia sudah melakukan hal yang besar lalu tugasnya selesai atau sebaliknya, ia baru menyadari tidak ada apapun yang dapat ia lakukan.

Hidup seperti itu, tanpa tahu harus berbuat apa lebih menyakitkan ketimbang disakiti oleh orang lain. Toh dengan disakiti, mana tahu kita membuat orang yang menyakiti kita bahagia. Hidup selalu begitu ‘kan? Kebahagiaan seseorang seringkali berada di atas penderitaan orang lain.