Tag Archives: Anastasya Natatel

Memahami Realitas Fiksi dalam Seira dan Tongkat Lumimuut

Saya bersyukur membaca karya Mamih aka Anastasye Natanel. Bersyukur karena saya mendapatkan sudut pandang baru dan penguatan pendekatan terhadap fiksi yang menjadi pemahaman baru bagi saya pribadi.

Pertama kali bertemu Mamih sebenarnya ketika acara Nulisbuku. Saat itu ada lomba menulis cerita dengan tema lingkungan. Kami sama-sama finalis, meski saya yang menang. Uhukuhuk… Sejak itu, saya belum membaca karya Mamih lagi. Baru novel inilah yang saya baca.

Fiksi bagi saya selalu berkaitan dengan world building. Jika ia realisme, dunia yang dibangun adalah dunia yang sesuai dengan kenyataan. Latar, karakter harus menyesuaikan dengan zaman. Jika outlier, ia bisa dijelaskan sebab akibatnya. Jila bukan realisme, fiksi membutuhkan aksioma. Sesuatu yang dijadikan sebab awal dari segala sesuatu yang disepakati kebenarannya.

Dalam kasus kedua, kreativitas penulis sangat menentukan kualitas dunia yang dibangun. Mamih adalah salah satu penulis yang menempuh jalan kedua. Pendekatan yang ia lakukan adalah pendekatan posmo, ketika segala sesuatu di alam semesta bercampur aduk. Kebenaran realitas dan kebenaran fiksi pun bercampur aduk. Kebenaran fiksi dalam kasus kedua yang sifatnya berupa kebenaran aksen menjadi bahan baku yang ngeblended di tangan Mamih.

Dalam Seira dan Tongkat Lumimuut, Mamih membawa bahan baku cerita setempat, realisme magis di wilayah kelahirannya. Mitologi Opo Sembilan Lumut, Lokon yang dipenggal, dan lain sebagainya tidak hanya menjadi eksotisme di dalam cerita, tetapiĀ  menyatu dengan penokohan. Pengaruh modernisme juga kental dalam penceritaan. Mamih membawa gestur-gestur dan gimmick Goblin dan drama-drama Korea lain meski dalam beberapa adegan Mamih terlalu berlebihan. Salah satu yang mengganggu saya adalah kecerewetan 40 Opo di dalam Seira. Mamih belum memberikan aksioma yang cukup untuk menjawab kefasihan para Opo dengan modernisme sehingga ada frasa ataupun kata tertentu sebagai simbol modernisme yang mereka ucapkan seperti yorobun.

Dari segi alur, novel ini cukup rapat. Ia menggoda untuk diselesaikan dalam sekali duduk, meski saya sempat tertunda-tunda menghabiskannya (3 hari) karena kesibukan. Saya pikir Mamih memiliki pengaruh dari drama Signal. Cerita tidak perlu bertele-tele, langsung ke konflik, dan setiap karakter di dalam novel adalah bagian dari konflik. Meski sebenarnya, saya pribadi mengharapkan adanya eksplorasi karakter yang lebih baik pada beberapa karakter… seperti Si Kembar dan Giddy. Endingnya saya pikir, Mamih hendak menyisihkan ruang kosong kepada pembaca untuk berharap akan ada cerita selanjutnya tentang Giddy, karakter yang paling menarik di novel ini.

Dari segi plot, keterburu-buruan Mamih dalam satu sisi baik. Namun, di sisi lain, penyelesaian konfliknya menjadi terlalu sepele. Saya mengerti karena label novel ini adalah Young Adult sehingga ya memang harus seperti itu. Dari awal, kita sudah bisa menebak bahwa Troy akan dijadikan puntirannya.

Oleh karena itulah, saya berharap akan sayang sekali jika Mamih tidak memanfaatkan kemampuan menulisnya untuk menulis sesuatu yang lebih serius dan dewasa, lebih wah dan menggetarkan. Saya pikir Mamih mumpuni untuk melakukannya.