Catatan Pringadi

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Tag: alasan menulis

Tak Ada Alasan untuk Tak Menulis

Published / by Pringadi As / 2 Comments on Tak Ada Alasan untuk Tak Menulis

Seperti yang kita ketahui bersama, ada 4 kemampuan berbahasa, yakni menyimak, membaca, menulis, dan berbicara. Keempat hal tersebut seharusnya berurutan. Dua hal pertama adalah dasarnya. Namun, dua hal terakhir kadang terjadi anomali. Ada orang yang mampu lancar berbicara, namun mengaku tak bisa menulis.

Segalanya terkait dengan kebiasaan. Apakah kita sudah membiasakan diri menyimak, membaca, menulis, dan berbicara? Coba tanyakan kepada diri kita masing-masing seberapa sering kita melakukan hal-hal itu?

Eka Kurniawan, penulis Indonesia pertama yang menjadi nominee The Man Booker Prize, pernah menulis di blognya: ia menulis minimal dua jam sehari. Dua jam dalam satu hari itu ia sediakan khusus di depan layar, tidak peduli seberapa banyak ia berhasil menciptakan sesuatu. Kadang satu paragraf, kadang satu kalimat! (Tentu, kenyataannya, boleh saja diselingi sambil meriset secara kualitatif tulisan kita)

Stephen King juga pernah bilang, kalau kita merasa tidak punya waktu untuk membaca, kita juga tak akan punya waktu menulis. Nah, pertanyaannya adalah, pernahkah kita menargetkan diri membaca sekian buku dalam setahun? Saya, ya! Target saya 50 buku dalam setahun. Tentu buku yang tematik. Buku sastra. Buku yang menambah pengetahuan kita. Buku yang sudah difilter. Karena buku seperti makanan. Kalau salah makan, kita bisa sakit perut. Kalau tak bergizi, kita tak akan bertumbuh kembang. Apakah target saya tercapai? Kadang-kadang tidak juga.

Poinnya adalah seangkuh-angkuhnya penulis, ia harus punya kerendahan hati di hadapan ilmu pengetahuan. Sama halnya seperti seorang pencinta alam tidak boleh sombong di hadapan alam. Keinginan untuk belajar dan terus belajar, mencoba sesuatu yang baru itu harus tetap dijaga. Puas dengan karya yang sudah pernah diciptakan sesungguhnya adalah kematian bagi seorang penulis.

Nah, sekarang bagaimana dengan teman kita yang mampu lancar berbicara, namun merasa tidak bisa menulis? Ada caranya.

Pada dasarnya, menulis itu adalah menggambar suara. Saya paling benci dengan banyak teori menulis. Siapa pun seharusnya hanya perlu menyadari suaranya sendiri. Bagaimana kamu bicara dengan orang lain? Atau bagaimana suara hatimu berbisik padamu? Kamu hanya harus mengenali itu. Jika kamu berhasil, kamu akan memiliki gaya ucap yang khas. Caramu menyusun kalimat, menghentikan kalimat akan menjadi caramu. Tinggal nanti kamu perlu mengingat kembali fungsi-fungsi tanda baca, diksi yang tepat, kalimat efektif dan efisien, agar apa yang kamu maksud itu sesuai dengan kaedah bahasa.

Cara mengenali suara itu juga bisa dengan menggunakan alat bantu. Ya, rekam suaramu. Misal, kamu mau menulis mengenai inflasi. Bicaralah dengan kaca atau seseorang sambil merekam ucapanmu sendiri. Lalu, putar rekaman itu, dan tuliskan. Sesederhana itu ‘kan?

Tapi, nanti tulisan saya jelek?

Hal ini paling sering saya dengar dari mereka yang mau menulis. Takut tulisannya jelek. Bro, Sis, sesungguhnya tak ada yang berharap tulisanmu bagus. Jadi, jangan takut jelek.

Saya selalu bilang, setiap tulisan itu bagus. Setidaknya bagus untuk dirinya sendiri. Lama-kelamaan kita akan sadar bagaimana cara memperbaiki tulisan kita. Itu butuh proses.

Seorang bayi tidak serta merta bisa berjalan. Apakah para orang tua mengejek anak mereka karena masih merangkak?

Toh, jelek itu bukan aib. Ingat kata Patrick, “Aku jelek, dan aku bangga!”

 

Sesungguhnya, tak ada alasan untuk tak menulis. Setidaknya, tulislah sebuah status setiap hari.

 

Alasan Menulis

Published / by Pringadi As / 2 Comments on Alasan Menulis

“Jika seorang penulis menulis hanya untuk menghabiskan waktunya, Anda harus mengistirahatkan pena dan membuangnya” – Victor Hugo

Saya begitu terkesan dengan pertarungan antara Luffy Topi Jerami dengan Donquixote Doflamingo. Dua-duanya memiliki HAKI raja, dan punya kekuatan yang hebat.

Doflamingo adalah anak seorang bangsawan. Namun, ayahnya memilih membuang status kebangsawanannya dan menjadi manusia biasa. Hanya saja, masyarakat tidak bisa menerima mereka, mengingat kebiasaan bangsawan yang tiran. Sementara, kaum bangsawan sudah mengucilkan mereka. Doflamingo yang sudah terbiasa hidup mewah dan diagungkan pun marah kepada ayahnya. Ia membunuh keluarganya, dan menjadi salah satu bajak laut paling disegani karena perannya dalam dunia bawah tanah. Ia memanipulasi sebuah bangsa, dan menjadi raja di sana, sambil menikmati statusnya sebagai sichibukai (bajak laut yang berafiliasi dengan angkatan laut).

True evil Doflamingo itu kemudian ditantang Luffy, Bajak Laut Topi Jerami yang bercita-cita ingin menjadi raja bajak laut. Berbeda dengan Doflamingo, bajak laut baginya bukan sebuah kejahatan, melainkan kebebasan. Kebebasan untuk berpetualang dan mencari makna kehidupan di lautan yang begitu luas dan masih menyimpan banyak misteri.

Dalam pertarungan mereka, Doflamingo sebenarnya unggul satu konsep. Yakni, awakening. Pengguna buah setan punya satu konsep awakening, yang dapat mengubah benda di sekelilingnya menjadi bagian dari kekuatannya.

Penulis juga memiliki konsep itu. Saya percaya, hal pertama yang harus dialami oleh seorang penulis bukanlah pengasahan teknik menulis, melainkan kebangkitan di dalam dirinya, yang bisa dimotori oleh motivasi yang kuat untuk melakukan sesuatu. Awakening ini bisa juga disebut bangkitnya kesadaran puitik kita. Tanda-tanda bila kau memiliki itu ialah sensitivitasmu akan bertambah. Kau bisa melihat hal-hal yang tidak bisa awam lihat. Kau memiliki berbagai sudut pandang baru terhadap sesuatu. Dan pada saat itu, meminjam bahasa akuntansi, kau akan menjadi makhluk substance over form.

Saya pribadi punya beberapa tahap dan perubahan sudut pandang, mengapa saya menulis?

Tapi, pada mulanya saya jatuh cinta, dan saya patah hati. Saya pikir kesadaran puitik adalah keseimbangan jatuh cinta dan patah hati sekaligus, bersama-sama, pada banyak hal di dunia ini.

Saya jatuh cinta pada seorang gadis. Saya menulis surat cinta untuknya. Tapi surat itu ia izinkan untuk dibaca oleh orang lain. Ia tidak menjawab suratku. Lalu aku patah hati. Saya jatuh cinta pada Tuhan, dan merasakan kenyamanan tiada tara saat berkhalwat padanya, tapi pada saat yang sama ia menguji kecintaanku kepadaNya, dan aku kalah, dan aku bertanya-tanya, kenapa ketulusan harus diuji? Saya jatuh cinta pada negara, namun penguasa tak bosan mengecewakan rakyatnya.

Saya mengalami proses itu terus-menerus pada kasus yang berbeda-beda. Jatuh cinta, lalu patah hati, jatuh cinta lagi, lalu patah hati lagi.

Menulis bagi saya sama saja dengan bernapas. Ada sesuatu yang saya hirup, ada sesuatu yang saya embus. Hanya akan berhenti kalau saya mati.

Sesuatu yang saya hirup itu adalah pengetahuan. Sastra berarti literatur, bukan? Dan penulis adalah seorang intelektual. Seorang penulis kudu mengonsumsi sesuatu, dan alangkah baiknya bila sesuatu itu bergizi. Penulis yang baik bukanlah penulis yang cuma mampu membaca buku, melainkan penulis yang mampu membaca masalah. Masalah, dalam metode penelitian, berbeda dengan gejala. Bukan cuma fenomena, tapi sebab dari fenomena.

Penulis yang baik kudu punya paru-paru yang baik agar yang ia hirup dapat dimasak terlebih dahulu sebelum diembuskan.

“Penulis bukanlah pembuat manisan, dealer kosmetik, atau penghibur. Dia adalah orang yang telah sadar dan bertanggungjawab menandatangani kontrak dengan-Nya” – Anton Chekhov

Namun, yang lebih penting, cinta dan kebencian yang dimiliki penulis tidak boleh berlebihan. Cinta dan benci yang berlebihan akan mematikan nurani penulis. Lahirlah penulis-penulis yang tendensius, yang idealismenya kebablasan. Hal-hal seperti ini kemudian akan menyesatkan penulis. Dan melupakan diri mereka sendiri.

Bagi saya, pertanyaan terbesar tentang jatuh cinta dan patah hati adalah seberapa cinta saya pada diri sendiri, dan seberapa patah hati saya karenanya?

“Lebih baik menulis untuk diri Anda sendiri dan tidak umum, daripada menulis untuk publik dan tidak memiliki diri” – Cyril Connolly