Tag Archives: aan mansyur

Puisi-puisi Aan Manysur di Kompas

Menyeberang Jembatan

aku ingin menceritakan apa yang mampu aku rasakan

ketika berjalan sendirian di jembatan. ibuku penasaran

kenapa aku senang melakukannya. dia tidak mengerti

waktu aku mengatakan: aku memperoleh kebahagiaan

dari yang getar gemetar di hatiku. seperti jatuh

cinta? tidak, ibu. dia diam dan aku merasa kalah.

perihal membosankan dan percuma selalu lebih mampu

menemukan kata-kata untuk mereka kenakan. bagi yang

setengah-setengah, dan bagi yang berdiri di tengah-

tengah, kata-kata semata jembatan yang seolah-olah ada.

di diriku ada banyak perihal yang terengah-engah tidak

mampu menyeberang ke jantung ibuku, terpaksa menjadi

rahasia, dan aku merasa bersalah.

*

sejak kecil aku sering pergi ke hutan. aku membisikkan

pikiran dan perasaanku yang merahasiakan diri dari tinta

kepada pepohonan, sebelum mereka ditebang dan

berubah menjadi pintu dan jendela, kursi dan meja, atau

buku-buku.

setiap kali ibuku terpekur di hadapan lemari, aku

mungkin ada di sana menemaninya. ketika ibuku

berusaha membuat dirinya cantik sekali lagi, barangkali

rahasiaku yang menggenggam cermin untuknya. jika

ibuku tidur memeluk diriny sendiri, aku berharap ikut

menopang rindu dan rubuhnya yang kesepian.

dan andai dia menerima surat dari suaminya, pikiranku

sungguh ingin bergetar di jari-jarinya, perasaanku

sungguh ingin basah oleh air matanya.

*

ibuku masa lampau. kenangan. dia selalu mampu

mengecup ingatanku, namun ingatanku kening yang

cuma mampu menunggu dikecup. kata-kataku selalu

ingin mampu menyentuh jantungnya, namun mereka

tidak punya jemari.

puisi ini sama belaka. sekumpulan kata, batang-batang

pohon, yang bermimpi menjadi rumah tanpa dinding.

semata memiliki jendela, pintu, dan sesuatu yang

memeluki keduanya. rumah yang menunggu pertanyaan-

pertanyaan ibuku datang memberi penghuni.

2012

Melihat Peta

hari ini kematiaan membisikkan perihal-perihal yang indah.

langit pagi yang perangainya tenang dan hangat telah

ditanggalkan. beruluran jutaan jalan kecil, kaki-kakinya

mekar jadi kembang api yang terbuat dari awan hitam.

aku ingin tiba-tiba seisi tubuhku tercuri. seseorang

menangis memasangkan pakaian berwarna sederhana

dan wewangian sambil membayangkan tuhan

menyambutku dengan riang.

kau, entah di mana, membaa catatan yang aku tulis, aku

kirim, dan terlambat tiba.

hari terakhirku jadi hari pertama bagimu. kesedihanku

terbakar menjadi abu. kau tumbuh menjadi pohon yang

pucuk-pucuknya hendak menyentuh kebiruan angkasa.

*

peta memberitahuku semua harta karun tersimpan di

jantung rahasia hal-hal yang hancur. kau menggantung

seperti sesuatu yang tak mampu aku namai – mimpi atau

kenangan. di kepalaku, kau cahaya yang disaring kaca

jendela berdebu. memasukiku sebagai jiwa yang

kelelahan.

nanti malam, aku tak mampu menutup mata jendela. akan

aku biarkan ia menatap mata bulan, tempat barangkali

kau menitip rahasia.

sementara yang menetap di luar aku, segalanya

dendanmu. memendam dendam, kata ibuku, seperti

meminum segelas racun dengan harapan membunuh

orang lain.

aku tak ingin mendengar kabar pemakamanmu. biar

tubuhku dan seluru isinya yang tercuri. hiduplah kau.

2012

Menonton Film

semesta di mana orang-orang bijak mabuk mengelilingi

meja kayu besi sambil membahas masa depan kita. udara

terbuat dari asap, aku dan kau merangkak di tanah seperti

ular sebelum kaki-kakinya hilang. langit pada musim-

musim tertentu jatuh seperti potongan-potongan jigsaw.

jutaan simbol matematika menggantung di kabel-kabel

telepon dan lampu-lampu jalan. bunga-bunga akan

memberi petunjuk ketika kita kehilanan arah.

semesta di mana waktu hanya ada di cangkir-cangkir teh.

kehidupan nyata ibarat dunia kartun dan kartun terlihat

seperti kehidupan nyata, dan keduanya adalah sepasang

tetangga yang tidak saling percaya. ingatan dikosongkan

setiap pukul 6 sore, seperti matahari tenggelam. untuk

diisi berita malam yang membicarakan keluarga kita.

semesta di mana kau dimakan singan dan aku

menunggumu di mulutnya memegang tanda bertuliskan

nama aslimu yang tidak pernah kautahu sebelumnya.

semesta di mana setiap kali kau menyentuh gelas dengan

tangan kosong kau merasakan bisikan yang

mendesahkan. lengan dan kaku tidak diperlukan

samasekali. kita bercinta dengan menuangkan cahaya ke

mata satu sama lain.

semesta di mana furnitur ia hewan-hewan peliharaan

kesayanganmu. botol-botol anggur diisi dengan kelopak-

kelopak bunga untuk disajikan kepada bayi kita yang

baru lahir.

semesta di mana setiap kali matahari terbit, di kepalamu

tumbuh salur-salur tumbuhan beracun. setiap kali

matamu berkedip, aku seperti mendengar gelegar petir.

semesta serupa yang kita huni kini, tetapi aku tidak

pernah ada di sana.

2012

Mendengar Radiohead

aku ingin belajar menangis tanpa air mata, perasan

perasaan-perasaan yang lembab. aku percaya ada perihal

semacam itu; peri yang memperindah hal-hal perih, batu

yang bertahan di alir sungai, atau badai yang lembut.

aku tahu ketelanjangan tempat bersembunyi bunyi yang

lebih nyaring daripada sunyi.

dan dalam setiap yang pecah ada keindahan, hal-hal yang

berhak dicahayai senyuman; persolin maha yang

membentur lantai ruang tamu, lampu taman yang mati,

daun-daun dan daun jendela yang jatuh, hati yang patah

dan perpisahan, atau rindu bayi-bayi yatim piatu.

aku lahir dari ucapan-ucapan ibu yang lebih banyak ia

kecupan dengan diam; berlari adalah kesunyian,

barjalan adalah kebalikannya. aku bertahan bertahun-

tahun berlari dalam kesunyian menuju kau. aku mau

menemukanmu, agar mampu berjalan menggandeng

tanganmu mengelilingi pagi yang hangat. atau

mengantarmu pulang, menyusuri gelap, dan dengan

sepenuh ketulusan aku ingin menjaga dirimu dari diriku.

ketulusan, panjang dan susah dinikmati sepenuhnya,

seperti musim. kejujuran, singkat dan tidak mudah

diduga, seperti cuaca. namun jika kau menginginkan

jarak, aku akan menjadi ketiadaan yang lengang. sebab

ingatanm sedekat-dekatnya keadaan aku. lebih dekap

dari pelukan sepasang lengan.

kesalahanku padang rumput yang hijau. seperti ternak,

aku ingin makan dan menjadi gemuk. M\menjadi potongan-

potongan daging yang membuatmu enggan tersenyum

seusai makan. menjadi lemak yang kau keluhkan dan

menghabiskan uangmu. sementara kebenaran semata

meseum yang tidak kita sadari. jika ada waktu, kau akan

mengunjunginya. namun kau terlalu sibuk melupakanku.

masing-masing kita adalah kumparan diri sendiri, orang

lain, dan bayangan yang setia. tidak ada kemurnian.

dalam pengingkaranmu akan aku, ada cinta yang akan

membuatmu bersedih suatu kelak.

sementara aku, aku tahu cara mengisi kekosongan adalah

menunggu. dunia ini dipenuhi keseimbangan-

keseimbangan. tepat ketika seorang melihat matahari

sore menutup mata. di tempat lain ada seorang menatap

dari jarak yang tidak kau ketahui. aku tersenyum

menghangatkan kesedihanmu.

2012

M Aan Mansyur lahir di Bone, Sulawesi Selatan 14

Januari 1982. Buku puisinya antara lain Aku Hendak

Pindah Rumah. (2008) dan Cinta yang Marah (2009). Ia

tinggal di Makassar.

PUISI KOMPAS, MINGGU, 6 JANUARI 2013

Sajak Nizar Qabbani, Terjemahan Lepas M. Aan Mansyur

Lari-lari Kecil pada Pagi Hari

Kita memasukkan diri ke dalam barisan

seperti kawanan domba yang hendak disembelih.

Kita berlari, terengah-engah, ingin mencium

sol sepatu para pembunuh.

Mereka menculik anak Maryam

padahal ia masih bayi. Mereka mencuri

dari diri kita ingatan pohon-pohon jeruk,

dan aprikot dan rimbun semak mint,

dan lilin dari masjid-masjid.

Mereka meletakkan di tangan kita

sekaleng sarden bernama Gaza

dan sepotong tulang kering bernama

Yerikho. Mereka membiarkan kita

tumbuh sebagai tubuh tanpa tulang,

sepasang lengan tanpa jemari.

Setelah perselingkuhan rahasia yang basah

di Oslo, kita dilanda kekeringan.

Mereka memberi kita tanah air

yang lebih kecil dari sebiji gandum.

Tanah air yang akan kita telan tanpa air,

seperti sebutir aspirin.

Kita memimpikan perdamaian yang hijau

dan bulan sabit putih

dan laut biru.

Namun, kini, kita menemukan diri kita

cuma seonggok tinja.

*

Tuan Sultan

Jika ada yang menjamin keselamatanku,

jika aku mampu bertemu dengan Sultan,

aku akan mengatakan kepadanya: O Tuanku Sultan!

Anjing Tuan yang rakus merobek-robek jubahku,

mata-mata Tuan mengikutiku sepanjang waktu.

Mata mereka, hidung mereka, kaki-kaki mereka

mengejarku seperti takdir, seperti nasib.

Mereka menginterogasi istriku

dan menulis nama semua sahabatku.

Wahai, Sultan!

Karena aku berani mendekati dindingmu yang tuli,

karena aku mencoba mengungkapkan kesedihan

dan kesusahanku, aku dipukuli

dengan sepatu bututku sendiri.

Wahai, Tuan Sultan!

Engkau telah kalah perang dua kali

karena setengah dari orang-orang kita

tidak memiliki bahkan sepotong lidah.

 

*

 

Bahasa

Ketika seorang lelaki jatuh cinta,

kenapa ia harus memakai kata-kata?

Apakah para wanita mendambakan

kekasih mereka berbaring di dekatnya

sebagai ahli bahasa?

Aku tidak mengucapkan apa pun

kepada wanita yang aku cintai.

Aku memasukkan kamus-kamus

ke dalam koper dan melarikan diri

dari semua bahasa.

*

Percakapan

 

Jangan kausebut cintaku

seikat cincin atau gelang.

Cintaku adalah pengepungan.

Keberanian dan kemauan keras

yang bangkit dari kematian mereka.

Jangan kausebut cintaku

sebagai semata bulan.

Cintaku lebih hebat dari ledakan

cahaya.

*

 

Surat dari Bawah Laut

 

Jika engkau sahabatku,

bantu aku menanggalkanmu.

Atau, jika engkau kekasihku,

bantu aku menyembuhkan diri darimu.

Andai aku tahu lautan sedalam ini,

aku tidak akan menceburkan diri,

Andai aku tahu bagaimana aku berakhir,

aku tidak akan pernah memulai.

Aku mendambakanmu, maka ajari aku ketidakinginan.

Ajari aku mencabut akar cintamu dari kedalaman.

Ajari aku memadamkan kesedihan di mata

hingga cinta memutuskan bunuh diri.

Jika engkau seorang nabi,

bersihkan aku dari kutukan ini,

bebaskan aku dari ketiadaan iman.

Mencintaimu ibarat tak memeluk satu agama pun,

maka sucikan aku dari kehampaan ini.

Jika engkau kuat,

angkat aku dari dasar laut ini

karena aku tidak tahu berenang.

Ombak biru di sepasang matamu

menarikku ke palung paling dalam

biru

biru

seluruh biru

dan aku tidak memiliki pengalaman

mencintai dan tidak ada perahu

sama sekali.

Jika engkau mengasihiku

ulurkan lenganmu, rengkuh aku,

sebab aku dipenuhi nafsu

dari rambut hingga kuku-kuku

kakiku.

Aku bernapas dari sini, di bawah laut.

Aku tenggelam,

tenggelam,

tenggelam.

Cahaya Lebih Penting daripada Lampu

Cahaya lebih penting daripada lampu,

puisi lebih penting daripada buku catatan,

dan ciuman lebih penting daripada sepasang bibir.

Surat-suratku kepadamu

lebih agung dan lebih penting daripada kita berdua.

Lembaran-lembaran itu satu-satunya dokumen

di mana orang-orang kelak menemukan

kecantikanmu

dan kegilaanku.

*

Wahai,Kekasihku

Wahai, Kekasihku,

jika kau berada di sini, di puncak kegilaanku,

kau akan menyingkirkan semua perhiasanmu,

kau akan menjual habis gelang-gelangmu,

dan pulas tertidur di mataku.

*

Tentang Menyelami Lautan

 

Cinta, pada akhirnya, tiba juga

dan kita memasuki surga,

menyelusup

di bawah kulit air

seperti ikan.

Kita melihat mutiara laut berkilau

dan mata kita dipenuhi kekaguman.

Cinta, pada akhirnya, menimpa kita juga,

tanpa paksaan, dengan keinginan yang setara,

sebesar yang kuberi, sebesar yang kauberi,

dan kita merasa sama adil.

Cinta menyerahkan diri, pasrah,

seperti mata air yang terbit begitu saja

dari balik tanah.

 

*

 

Coretan-coretan Anak Kecil

 

Kesalahanku, kesalahan terbesarku,

Duhai, Putri bermata laut,

adalah mencintaimu

seperti seorang anak kecil mencintai.

Namun, kekasih paling mulia,

sesungguhnya, adalah anak kecil.

Kesalahan pertamaku

dan bukan yang terakhir

adalah hidup

di pusat keingintahuan

selalu siap terkesiap

bahkan oleh peralihan sederhana

kelam dan terang. Malam dan siang.

Dan menyediakan diri kepada setiap perempuan

yang aku cintai untuk memecahkan diriku

menjadikanku ribuan serpihan,

mengubahku jadi kota terbuka dan terluka,

dan meninggalkanku di balik punggungnya

sebagai kepulan debu.

Kelemahanku adalah melihat dunia

dengan pikiran anak kecil.

Dan, sungguh, kesalahanku adalah menyeret cinta

keluar dari gua, melepaskannya ke udara,

memugar dadaku jadi gereja

yang menerima semua pecinta.

*

Cintamu adalah Sekolahku

Cintamu mengajariku bagaimana cara berduka,

dan selama berabad-abad yang sungguh kucari

adalah perempuan yang mampu membuatku bersedih.

Aku membutuhkan seorang perempuan

yang membuatku menangis di bahunya seperti seekor burung.

Aku membutuhkan perempuan yang mau mengumpulkan

serpihan diriku seperti mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.

Cintamu, Duhai Perempuanku, mengenalkanku kebiasaan buruk

paling buruk, mengajariku meminum ribuan gelas kopi setiap malam,

mengajakku ke laboratorium mengamati bahan-bahan kimia,

memaksaku mengunjungi dokter dan para peramal,

Cintamu mengajariku meninggalkan rumah

menelusuri ruas-ruas jalan, mencari wajahmu

di benang-benang hujan dan lampu-lampu kendaraan,

mengamati pakaianmu di tubuh orang-orang yang tak kukenal,

mencari senyummu di poster-poster dan iklan-iklan koran.

Cintamu mengajariku mengembara, mencari model rambut

yang membuat semua perempuan gipsi cemburu, mencari

wajah dan suara yang lebih indah dari seluruh wajah dan suara.

Cintamu, Perempuanku, memasukkanku ke dalam kesedihan,

kota yang tidak pernah kudatangi sebelum menemukanmu.

Aku tidak tahu, kesedihan adalah manusia itu sendiri.

Tanpa air mata, manusia hanya kenangan.

Bayangan belaka.

Cintamu mengajariku menggambar wajahmu dengan kapur

seperti seorang anak kecil. Di tembok-tembok kota, di dinding

perahu para nelayan, di lonceng-lonceng geraja, di patung-patung

Yesus.

Cintamu mengajariku bahwa cinta mampu mengubah peta waktu.

Cintamu mengajariku bahwa jika aku mencintai, bumi akan tertegun

dan lupa bagaimana cara perputar.

Cintamu mengajarkan kepadaku hal-hal yang tak masuk akal.

Aku membaca buku-buku dongeng. Aku memasuki kastil

para peri. Aku bermimpi mereka akan menikahkan aku

dengan putri Sultan. Duhai, sepasang mata itu, lebih bening

daripada mata air, lebih segar dari buah-buah delima.

Aku bermimpi jadi seorang pangeran dan menculiknya.

Dan aku bermimpi memberikannya seuntai kalung mutiara.

Cintamu, Wahai Perempuanku, mengajariku arti hayalan

dan kegilaan. Mengajariku bahwa hidup akan baik-baik saja

meskipun putri Sultan tidak pernah datang. Mengajariku

menemukan dan mencintaimu dalam hal-hal sederhana.

Di pohon-pohon musim gugur yang telanjang, di daun-daun

kering yang jatuh, di butiran-butiran hujan, di ketenangan kuil,

di tengah riuh kafe tempat orang mabuk, dalam malam-malam

senyap, dalam bergelas-gelas kopi hitam.

Cintamu mengungsikanku di kamar-kamar hotel murah tak bernama,

di gereja-gereja tak bernama, di rumah-rumah kopi tak bernama.

Cintamu mengajariku bagaimana malam dipenuhi kesedihan

orang-orang asing. Mengajariku melihat Beirut sebagai perempuan,

kekejaman godaan sebagai perempuan, memasangkan gaun

paling indah yang dia punya ke tubuh setiap malam,

dan menumpahkan parfum ke dadanya.

Cintamu mengajariku menangis tanpa air mata.

Mengajariku menidurkan kesedihan, seperti anak kecil

dan kakinya yang kelelahan berjalan dari Rouche ke Hamra.

Cintamu mengajariku bagaimana cara berduka,

dan selama berabad-abad yang sungguh kucari

adalah perempuan yang mampu membuatku bersedih.

Aku membutuhkan seorang perempuan

untuk membuatku menangis di bahunya seperti seekor burung.

Aku membutuhkan perempuan yang mau mengumpulkan

serpihan diriku seperti mengumpulkan pecahan-pecahan kaca.

*

Ketika Aku Mencintai

 

Ketika aku mencintai,

aku merasa akulah penguasa waktu,

aku pemilik bumi dan segala sesuatu di atasnya,

dan aku menunggang kuda dan melaju

menuju matahari.

Ketika aku mencintai,

aku adalah lelehan cahaya,

kasat mata, dan puisi di buku catatanku

tumbuh jadi taman bunga paling indah.

Ketika aku mencintai,

air mengalir dari sela jari-jariku,

rumput tumbuh di lidahku,

Ketika aku mencintai,

aku menjadi waktu di luar seluruh waktu .

Ketika aku mencintai seorang wanita,

semua pohon, tanpa alas kaki,

berjalan ke arahku.

*

Ketika Aku Mencintaimu

Ketika aku mencintaimu,

bahasa baru terbit seperti mata air,

kota baru, negara-negara baru, ditemukan .

Jam dinding bernapas seperti anak-anak anjing.

Gandum tumbuh di halaman-halaman buku.

Burung-burung berlepasan dari matamu

seperti lelehan madu. Serombongan kafilah

datang dari dadamu membawa ramuan India.

Buah-buah mangga berjatuhan dari dahan,

hutan terbakar, dan gendang-gendang Nubia

tak henti menyeru para penari.

Ketika aku mencintaimu,

sepasang payudaramu melepaskan rasa malu,

berubah menjadi petir dan gelegar guntur,

sebilah pedang, dan badai pasir yang hebat .

Ketika aku mencintaimu,

kota-kota Arab bangkit dan meneriakkan

perlawanan terhadap zaman penindasan,

menumpahkan kemarahan kepada hukum

yang menganiaya suku-suku tertentu.

Dan aku, ketika aku mencintaimu,

aku ikut berbaris melawan semua kejahatan,

melawan pengusaha yang menimbun garam,

melawan penguasa yang mengubah gurun

jadi kebun sendiri.

Dan aku akan terus mencintaimu

hingga banjir bandang itu datang,

Aku akan terus mencintaimu

hingga banjir bandang itu datang

menghapus dunia.

*

Pada Musim Panas

Pada musim panas,

kubawa diriku ke pantai

berbaring dan memikirkanmu.

Kutumpahkan ke dada laut

seluruh perasaanku kepadamu.

Laut akan menanggalkan pantai,

meninggalkan karang-karang,

kerang-kerang, juga ikan-ikan,

dan berjalan mengikutiku pulang.

 

*

 

Kekasihku Bertanya Kepadaku

Kekasihku bertanya kepadaku:

“Apa bedanya aku dengan langit?”

Perbedaannya, Sayang,

adalah jika kau tertawa,

aku lupa apa itu langit.

*

Puisi tentang Laut

Di pelabuhan biru matamu

berembus hujan dan kilau suar

ibarat suara-suara yang merdu.

Matahari gemetar dan layar

melukis perjalanan mereka

ke keabadian.

Di pelabuhan biru matamu

lautan terbuka seperti jendela.

Burung-burung datang dari jauh,

mencari pulau-pulau yang tiada

dalam peta.

Di pelabuhan biru matamu

salju jatuh menyelimuti bulan Juli.

Kapal sarat dengan bebatuan mulia

tumpah ke laut dan tidak tenggelam.

Di pelabuhan biru matamu

aku menyusur pantai bagai anak kecil.

Menghirupembuskan aroma garam

dan memulangkan burung-burung

yang kelelahan ke sarang.

Di pelabuhan biru matamu

karang bersenandung pada malam hari.

Siapa gerangan yang menyembunyikan ribuan puisi

ke dalam lembaran buku tertutup di matamu?

Andai saja, andai saja aku seorang pelaut,

andai saja ada seorang memberiku perahu,

aku akan menggulung layarku setiap malam

dan bersandar di pelabuhan biru

matamu.