Sosiologi Sastra dan Cerita di Balik Cerita Otak Ayam

Beberapa waktu lalu, aku ditemui beberapa mahasiswa UNISKA. Mereka sedang membuat tugas sosiologi sastra. Objek yang dipilih adalah novel PHI.

Aku punya buku Sosiologi Sastra karya Pak Sapardi Djoko Damono. Aku menemukan buku itu saat residensi ASEAN Literary Festival 2016 lalu di kediaman Okky Madasari. Salah satu tempat kami berkegiatan memang di kediamannya. Di sana ada rak buku besar sekali. Aku menemukan buku tipis itu dan kupinjam untuk dibaca di penginapan. Sebagai peminjam buku yang baik, aku tak pernah mengembalikan buku yang kupinjam.

Secara sederhana, sosiologi sastra adalah sebuah pendekatan terhadap karya sastra untuk menemukan hubungan dengan kehidupan yang ada di masyarakat melalui latar belakang sang penulis.  Sastra dipandang sebagai gejala/symptom sosial. Seorang pengarang menyalurkan pandangan sosialnya sebagai seorang warga. Lebih lengkapnya bisa baca buku atau googling tentang itu.

Jadi, dalam pertemuan itu, aku banyak ditanya soal siapa diriku, bagaimana pandanganku tentang banyak hal, yang utamanya berkaitan dengan isi novel. Serulah.

Dalam waktu tak berbeda jauh, cerpenku dimuat di Detik. Judulnya OTAK AYAM.

Banyak orang yang membaca tulisanku selalu merasa tulisanku nyata. Mereka tak bisa membedakan yang nyata dan yang fiksi. Ya, itulah ciriku. Sengaja.

Sekarang, aku pengen cerita sedikit tentang yang nyata di cerpen tersebut. Sesuatu yang berasal dari masa kecilku.

Aku memang pernah memelihara banyak ayam. Ayam kampung. Hampir 50 ekor kalau tak salah ingat. Kemudian ayam-ayam itu mati, satu per satu. Penyebabnya flu burung.

Kakekku bahkan punya ayam bangkok. Zaman itu, ayam jago/jantan bangkok yang tajinya bagus bisa dihargai lebih dari 500 ribu rupiah. Ayam-ayam jago punya kakek itu bahkan sering diembung/ditawar untuk dibeli oleh para kolektor ayam bahkan pengadu ayam seharga jutaan rupiah karena memang bagus sekali. Tapi tak pernah dijual karena memang sayang dengan ayam-ayamnya.

Apa nasib ayam-ayam itu? Mati. Dan dipotong.

Flu burung tak pandang bulu. Di kawasan rumah kami, dalam radius beberapa kilometer, memang ada kandang ayam. Flu burung dengan cepat menerjang. Begitu ada beberapa yang mati, sisanya dengan cepat dipotong.

Kokok ayam jago yang sahut-menyahut setiap pagi itu menghilang. Aku kehilangan sebuah makna saat itu. Makna itulah yang kukenang saat aku menulis cerpen Otak Ayam. Tentu ada kritik-kritik lain yang kutulis, meski jauh dari karakter diriku.

Tentang kokok ayam jago ini, juga ada mitosnya. Tapi nanti deh akan kubahas khusus.

(2018)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *