Simplifikasi Konflik dalam Penceritaan

 

Kenyataan boleh tak masuk akal. Namun, fiksi harus masuk akal.

Salah satu masalah dalam penulisan cerita adalah simplifikasi konflik. Hal ini menjadi fatal karena kekuatan konflik adalah poin paling penting dalam cerita. Kegagalan dalam pembangunan konflik maupun dalam penyelesaian konflik akan merusak semua bangunan penceritaan.

Kekuatan konflik akan tercipta jika ada hubungan sebab-akibat yang jelas dari setiap unsur cerita. Penggerak utamanya adalah karakter. Karakter ini yang akan membuat segalanya mungkin/tidak mungkin.

Prinsip dasarnya, karakter tidak boleh moderat. Karakter harus ekstrem negatif atau ekstrem negatif. Kalau dia kaya, ya harus kaya banget. Dengan cara ini, sang karakter jadi punya jangkauan yang sangat luas tentang kemampuannya bisa ngapain saja. Saya sering mengambil contoh tokoh/karakter di dalam drama-drama Korea. Seringkali sang tokoh adalah anak Chaebol atau konglomerat utama yang hartanya sulit dihitung. Sebaliknya, jika ia kesepian, bikin dia sangat kesepian. Hal ini ada pada tokoh-tokoh Murakami misalnya.

Namun, selama dia berbentuk realisme, sebuah fiksi harus masuk akal. Keekstriman itu tetap harus didukung oleh unsur lainnya seperti latar, baik itu latar tempat, waktu, maupun latar karakter itu sendiri.

Sebelum menulis cerita, hal pertama yang dilakukan seorang penulis, biasanya adalah deskripsi karakter. Si karakter ini bagaimana sih. Sebisa mungkin sangat detail sehingga dapat memandu penulis untuk membuat ceritanya menjadi logis.

Realisme yang baik menuntuk ironi. Peletakan ironi pada karakter bisa berupa limitasi akan kemampuan karakter. Atau bisa juga sifat-sifat yang bertentangan yang seharusnya tidak ada pada dirinya. Fiksi tidak mengenal adanya kesempurnaan. Sebab, manusia pun tidak mengenal adanya kesempurnaan. Fiksi menampilkan dengan baik sisi terang dan sisi gelap sang karakter.

Kita beri contoh karakter Lintang dalam Laskar Pelangi. Andrea Hirata dengan sadar menggunakan teori karakter ekstrem tadi. Ia hadirkan tokoh Lintang, sang jenius kebangetan. Tapi, bagaimana logikanya seorang anak kecil tahu tentang berbagai teori sedangkan pada masa itu tidak ada akses internet, tidak ada akses buku bacaan yang memadai di sana?

Logis dalam fiksi bukan berarti karena memang ada citraan seperti karakter di dunia nyata. Logis dalam fiksi ketika hubungan sebab-akibat dan keterkaitan dengan segala unsur fiksi itu ada.

Mari kita bahas pula karakter yang sering dibicarakan saat ini. Fahri. Apakah karakter Fahri logis?

Fahri dalam Ayat-ayat Cinta yang pertama saya pikir masih logis. Karakternya mengalami perkembangan dari awal cerita hingga ke akhir cerita. Hubungan sebab-akibat di dalam cerita masih bisa diterima. Dan kesempurnaan Fahri pun masih memiliki ironi, yakni ketika Fahri tampak menjadi manusia saat berhadapan dengan Maria.

Namun, Fahri di dalam Ayat-Ayat Cinta 2 bukanlah Fahri dalam Ayat-ayat Cinta 1. Ia berubah. Kita perlu menjelaskan berbagai sisi batin, hubungan sebab-akibat yang jelas sehingga seorang suami bisa tidak mengenali istrinya, lalu bagaimana karakteristik seorang ikhwan yang sangat taat, beristri, berpendidikan dihadapkan pada perempuan-perempuan. Masih banyak hubungan sebab-akibat lain yang perlu diluruskan.

Namun, yang paling fatal adalah mengenai kekayaan Fahri. Kita tidak bisa memberi premis bahwa Fahri saat ini adalah Fahri yang kaya dengan bisnis butik dan minimarket ditambah warisan mertuanya. Bagaimana caranya membangun bisnis di Skotlandia pada era e-commerce? Bagaimana harga-harga properti di sana? Bahkan anak seorang chaebol di dalam drama-drama Korea tidak pernah ditunjukkan dapat membeli properti dengan uang pribadinya! Hal-hal semacam inilah yang perlu dibangun dalam sebuah cerita.

Simplifikasi konflik lain terjadi para karakter yang diperankan Chelsea Islan. Perlu pendalaman karakter untuk dapat mengubah sikap sebuah karakter di dalam penceritaan. Tokoh A melakukan X, tokoh B melakukan Y, bagaimana hubungan A dan B sehingga ada kejadian Z… premis-premis ini harus kuat. Apalagi dalam cerita realisme… segala sesuatunya harus uhhhh. Bukan berarti dalam cerita surealisme tidak perlu hal-hal begini, ya.

Segala itu barulah yang berasal dari karakter. Konflik pun tidak sesederhana berasal dari karakter semata. Karena itulah, jangan pernah percaya dengan orang-orang yang berkata menulis itu mudah. Ah, menulis memang mudah sih… menulis yang bagus itu yang susah.

 

Comments

comments