Semongkat

Semongkat, Liburan Menikmati Sungai, Hutan, dan Madu Sumbawa

Semongkat, itulah nama bulan madu kami. Beberapa hari setelah menikah, aku ajak istriku ikut penempatan kerja di Sumbawa. Dan tempat pertama yang jadi tempat liburan kami adalah Semongkat.

Semongkat adalah sebuah desa di Kecamatan Batu lanteh yang berjarak kurang lebih sekitar 18 km dari Kota Sumbawa Besar. Semongkat adalah kawasan hijau di Sumbawa dengan lanskap perbukitan. Di tengah hutan yang sejuk nan asri, ada sebuah sungai yang berair jernih. Di sungai inilah, biasanya orang-orang berwisata, karena airnya yang dingin, dan ada spot-spot yang asik diberenangi.

Hanya saja untuk menuju ke sana jalanannya berkelak-kelok. Jadi kalau yang mudah mabuk, harus siap-siap antimo atau kantong plastik.

Sungai semongkat

Semongkat juga jadi salah satu tempat yang digemari pecinta fotografi, karena bentangannya yang akan memanjakan kamera siapa saja. Apalagi di atas sungai yang biasa jadi tempat berenang, ada sebuah pohon melintang. Di sana banyak pengunjung baik lalu melompat. Semongkat adalah tempat yang sangat romantis.

Sungai Semongkat

Saat duduk-duduk menikmati air, aku pun sempat membuat puisi.:


Semongkat, Dua Judul Kecil

I: Waktu, Semongkat

Waktu berjingkat di Semongkat. Suara burung memanggil
ikan, bilamana tak dikacaukan ricik air yang tak bosan
mengalir tanpa alasan—seperti cinta. Selembar daun ingin
gugur dari tangkainya, tapi tak ada angin yang bersiap
menerbangkannya. Kau duduk di atas batu, menekuk
sebelah kakimu. Hulu selalu mengingatkan kita untuk kembali.
Jalan pulang yang lebih panjang dari seribu perjalanan musafir.

II: Batu, Semongkat

Dari batu ke batu, Kau meninggalkan telapak kaki. Ranting
kering menimbulkan pertanyaan, di dekat air tak selamanya
hilang rasa dahaga. Sejenak kita mengambil napas,
mencari udara baru dari para stomata. Kau menunduk,
becermin di atas air. Tiba-tiba ada yang terbersit di pikiran,
bayang bulan semalam yang sendiri, mengumumkan
kesepian yang baka; Aku melarangmu menoleh ke belakang,
kemudian menggamit lenganmu erat dengan hati-hati.


Di dasar sungai, daun-daun busuk sepakat tenggelam



Selain  tempat wisata, sungai di Semongkat juga menjadi mata air yang digunakan perusahaan air di Sumbawa dan  PDAM Sumbawa. Oh iya, kalau ke sini, pada puncak musim hujan, kita harus berhati-hati karena tetap dikhawatirkan ada banjir mendadak dari atas bukit ke aliran sungai.

Bila lelah, jangan khawatir. Di dekat pintu masuk, ada tempat bersantai. Bisa minum olahan minuman madu. Ya, di Semongkat juga jadi sumber utama produsen madu hutan Sumbawa.

Minuman yang dihidangkan bisa kita pilih antara Madu Kunyit atau Madu Jahe. Saat di Sumbawa aku sering meminumnya. Kalau cuaca dingin, sedang hujan, enak sekali minum madu jahe. Sementara madu kunyit bagus buat pencernaan.

Belakangan, setelah kopi luwak populer, kopi luwak khas Sumbawa juga banyak dipasarkan.

Madu Sumbawa sendiri rasanya khas. Kalau kita beli di Jakarta, harganya pasti mahal. Sebab, ya, kualitas madu Sumbawa dianggap sangat baik. Sampai ada tuh, lebih lengkap bila dicampur susu kuda liar. Khasiatnya bisa menambah stamina lelaki.

Jadi, kalau kamu ke Sumbawa, wajib banget main ke Semongkat. Puas menikmati hutan yang asri, air yang sejuk, dan lanskap yang indah, pulangnya beli madu dan produk olahan lainnya untuk dijadikan oleh-oleh. Kuy.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *