Prospek Kerja dalam Sastra di Era Industri 4.0

Seminar di UNSIKA: Prospek Kerja dalam Dunia Sastra di Era Industri 4.0

Sebuah pesan masuk di Whatsapp. Dia mengenalkan dirinya sebagai mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA). Namanya Nabila. Dia meminta saya mengisi seminar di UNSIKA. Temanya Prospek Kerja dalam Dunia Sastra di Era Industri 4.0.

Mendadak sekali sebenarnya. Dia memberi tahu hanya beberapa hari sebelum acara. Saya tahu artinya, pembicara utama yang disiapkan tidak bisa hadir. Dia sedang mencari pengganti.

Saya tahu rasanya jadi mahasiswa, dan selain karena saya sedang suka bicara, jadi saya terima permintaannya.

Prospek Kerja dalam Sastra di Era Industri 4.0

Sastra dan Revolusi Industri 4.0

Temanya unik sekali. Saya paham, ada pertanyaan besar, ruang kerja seperti apa yang bisa hadir di era Revolusi Industri 4.0 itu. Sebelumnya, mari kita pahami terlebih dahulu, apa sih makna revolusi industri dari 1.0 ke 4.0.

Revolusi industri 1.0 sering disebut ditandai dengan hadirnya mesin uap. Makna revolusi ini adalah beralihnya tenaga manusia ke tenaga mesin.ย  Revolusi industri 2.0 ditandai dengan lahirnya listrik. Revolusi industri 3.0 ditandai dengan adanya otomatisasi. Sedangkan revolusi industri 4.0 adalah internet of things. Lepasnya sekat/batas di era internet, bercampur-baurnya segala hal dalam lautan informasi. Di sinilah kreativitas berlahiran. Orang yang bertahan adalah orang yang kreatif.

 

Bersastra adalah Berkreasi

Dengan definisi di atas seharusnya tidak sulit dong bagi anak-anak sastra bertahan. Sebab, pada dasarnya, sastra juga menciptakan sesuatu yang baru. Invensi-invensi dalam karya sastra menuntut kreativitas.

Dalam kesempatan tersebut, kutekankan betul bahwa pelaku sastra hanya perlu terbuka pada media yang ada. Manfaatkan media sebaik mungkin.

Kata kuncinya hanya tiga, pertama berkarya. Kedua, paham media, dan ketiga adalah sinergi dengan pelaku seni yang lain.

Media tersebut bisa menjadi penghasil uang yang luar biasa. Instagram. Facebook. Youtube. Konversikan karya sastra kita ke dalam ruang media tersebut. Menjadi audio dan video lebih baik.

Prospek kerja tidak melulu konvensional. Tentu, jika tetap ingin sebagai pegawai kantoran, peluang kreator konten dibutuhkan banyak perusahaan. Mereka butuh anak muda yang bukan cuma bisa menulis, tapi kreatif dalam tulisan tersebut.

Prospek Kerja dalam dunia Sastra di Era Industri 4.0

Pertanyaannya, sudah rutin menuliskah kita hari ini?

Aku suka sedih jika ada yang mengaku penulis tapi jangankan menulis, membaca saja jarang sekali. Menjadi kreatif berarti harus memiliki input bacaanย  yang bagus dan banyak juga lho.

Konsistensi dalam berkarya itu juga penting karena membangun personal branding kita. Kita ini dikenal karena karya-karyanya. Maka, konsisten menulis artikel di Kompasiana, Kumparan, Detik, dll menjadi sangat penting.

Kepemilikan blog pribadi juga menjadi kewajiban. Cara-cara inilah yang bisa menjadikan diri kita dikenal.

Karya dan Personal Branding

Menjadi “pemenang” dalam era Revolusi Industri 4.0 adalah menjadi berbeda. Ya, jadilah spesialis. Jadi generalis itu bagus. Tapi kalau mau cepat dikenal, jadilah berbeda, spesifik pada tema tertentu. Menulislah dalam tema dan konsep yang belum pernah atau jarang disentuh oleh penulis sebelumnya.

Dengan cara itu, kerjaan akan mendatangi kita. Era Revolusi Industri 4.0 seharusnya tidak membuat kita sebagai pegawai kantoran, tapi bisa bekerja di rumah atau di mana saja….

Comments

comments

15 thoughts on “Seminar di UNSIKA: Prospek Kerja dalam Dunia Sastra di Era Industri 4.0”

  1. Iya betul kini bekerja tidak harus di kantoran. Kini lebih enak, ada peluang kerja sebagai kreator konten yang memungkinkan siapapun bisa bekerja, termasuk ibu rumah tangga

  2. Saya selalu berusaha menulis setiap hari, meski kadang kudu jungkir balik hahaha.

    Karena saya tahu, konsisten itu segalanya.
    Dan personal branding senjatanya untuk melesatkannya ๐Ÿ™‚

    Senang banget ikutan seminar kayak gini ๐Ÿ™‚

  3. Tersindir nih saya. Minat baca yang menurun, padahal masih sering merasa diri penulis. Hihi. Malu dah. Nulis buat blog juga masih mood moodan. Makasih Mas sentilannya.

  4. Uhuuyy mas sastrawan ๐Ÿ˜€
    Yaaa makanya aku ngeblog ini mas biar bisa tetep menulis haha.
    Setuju banget buat 3 kuncinya, kalau mau jd penulis ya segera mulai nulis, trus pahami media mau nulis dmn, dan tentu aja cari networking yaaaa

  5. Bagus sekali pembahasannya, Mas. Dan saya suka sekali 3 kunci itu. Dan zaman now, kita lebih diuntungkan dengan kehadiran media sosial, jadi harus dimanfaatkan sebagai penunjang. Konsisten menulis juga hal utama agar terus bertahan

  6. Wah..dengan materi ini pasti para mahasiswa mendapat banyak manfaat. Memang peluang akan makin terbuka di era digital ini. Asal mau memanfaatkan dengan baik pasti akan kebagian rejeki.
    Diantaranya sebagai penulis bisa memanfaatkan semua lini untuk menuangkan karya

  7. Aku termasuk yg suka banget dengan era industri 4.0 yg gak perlu ketemu banyak org untuk kerja ๐Ÿ˜†

    Setuju bgt kalo kita harus berbeda dari yg lain. Biar ada nilai jual lebih ๐Ÿ˜

  8. Sastrawan panutan!!

    Udah jadi pembicara dimana-mana. Terima kasih ya mas Pring sudah mencerdaskan kehidupan bangsa melalui ilmu yang disebar saat seminar atau workshop.

    Semoga bermanfaat!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *