Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Seberapa Penting Matematika?

Apakah 4×6 berbeda dengan 6×4?

Tentu sebagian kita masih mengingat persoalan yang mengemuka beberapa tahun silam di atas. Seorang kakak yang membantu adiknya mengerjakan PR memposting protesnya terhadap guru adiknya karena membedakan 4×6 dengan 6×4.

4+4+4+4+4+4 = 4×6, jawaban tersebut salah. Yang benar adalah 6×4. Meski sama-sama bernilai 24, tetapi ada logika yang berbeda di sana.

Banyak orang tidak sadar, matematika adalah sebuah ekspresi. Matematika sebenarnya adalah persoalan kehidupan, yang kemudian disimbolisasi oleh angka-angka. Badu mengangkat 4 buah batu di tangannya dan bolak-balik selama 6 kali akan berbeda dengan Badu mengangkat 6 buah batu di tangannya dan bolak-balik selama 4 kali. Dua peristiwa ini berbeda.

Matematika sesungguhnya adalah persitiwa alam semesta itu. Setiap hal memiliki filosofinya, yang pada akhirnya akan membentuk struktur berpikir seseorang. Makanya, matematika sering dibilang sebagai dasar dari segala ilmu. Mau tes CPNS, soal-soalnya berupa matematika dasar. Dengan cara itulah, cara berpikir seseorang diuji. Apakah ia mampu berpikir secara strktural, benar, dan cepat pula? Matematika menjadi parameternya.

Mengerjakan soal matematika pun sebenarnya adalah sebuah pemecahan masalah.

Uniknya, matematika tidak mengenal kebenaran. Matematika hanya mengenal kesahihan. Apakah kesahihan itu?

Untuk mendapatkan gambaran yang tepat, saya menyarankan teman-teman menonton film The Man Who Knew Infinity. Film ini mengisahkan tentang seseorang bernama S. Ramanujan. Ia adalah seorang India yang jago matematika secara autodidak. Setiap peristiwa alam semesta ia coba rumuskan, ia bikin persamaannya. Ia menulis pasir, di lantai kuil, sampai bakatnya itu terendus oleh Matematikawan bernama G.H. Hardy di Cambridge yang kemudian menjadi pembimbingnya.

Meski, persamaan-persamaan yang ditulis ia yakini benar, Hardy tak serta merta menerimanya. Hardy mengajarkan kepada Ramanujan untuk membuktikan persamaannya, untuk menurunkan rumus-rumus yang ada sekarang hingga sampai ke rumusnya. Itulah kesahihan. Kesahihan berarti segala sesuatunya bisa dijelaskan, ada sumbernya, ada runutan keilmuannya.

S. Ramanujan sebenarnya dianggap sebagai seseorang yang langka, lebih jenius dari para pendahulunya. Sayangnya, ia lahir dalam waktu yang tidak tepat. Statusnya sebagai India di bawah Inggris membuat ia mengalami diskriminasi, dan dalam keadaan perang dunia I, bakatnya tidak begitu bisa ditampilkan. Hingga ketika Hardy mencari Ramanujan kembali, setelah konflik berlalu, itu telah terlambat. Ramanujan telah meninggal dunia pada usia muda akibat TBC.

Ramanujan meninggalkan catatan berisi rumusan-rumusannya. Dan percayakah Anda, rumusan-rumusan itu benar-benar bisa dibuktikan seabad kemudian, tepatnya pada tahun 2012 lalu. Ramanujan mewarisi ilmu besar bagi dunia matematika. Namanya mock modular forms, mirip fungsi theta. Sifatnya modular seperti fungsi trigonometri yang memiliki sinus dan cosinus. Konsep ini memiliki pola berulang, tapi jauh lebih rumit dari kurva sinus pada umumnya. Rumus Ramanujan ini dapat membantu perhitungan entropi. Entropi adalah keseimbangan termodinamis, terutama mengenai perubahan energi yang hukumnya disebut hukum termodinamika kedua yang menyatakan bahwa semua energi hanya dapat berpindah dari tempat yang mengandung banyak energi ke tempat yang kurang mengandung energi.

Saya rekomendasikan teman-teman menonton film ini!

Jika kembali ke pertanyaan awal, seberapa penting matematika? Tentu jawabannya penting sekali. Matematika bukan sekadar perhitungan, yang berorientasi pada hasil. Pendidikan kita telah banyak keliru memperlakukan matematika selama ini sehingga menghasilkan orang-orang yang berpikiran pragmatis. Matematika adalah sebuah proses berpikir, langkah demi langkah, yang harus dilalui dengan kerendahan hati untuk melihat betapa mengagumkannya alam semesta.

Comments

comments



3 thoughts on “Seberapa Penting Matematika?”

  • Matematika sebenarnya pelajaran dasar yang asik. Aku lebih suka matematika daripada fisika atau kimia, padahal dasarnya juga dari matematika. Tapi jujur, entah itu matematika, fisika, kimia, semua nilaiku jeblok! Hahaha. Salam kenal mas

  • Setuju mas pring..
    Belajar lifeskill dari matematika
    Tetapi sampai saat ini, saya belum menemukan formula yang tepat untuk mengajarkan lifeskill melalui matematika pada siswa saya.
    Terima kasih
    Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *