Puisi Firmansyah Evangelia

Puisi-puisi Firmansyah Evangelia

Mozaik Santri

Bismillah, dengan ucap paling baka
Aku bersaksi: bahwa hikyat tangan-tanganku
Menggenggam kitab-kitab dan peradaban sarung paling hakiki
Lantas, kerap menakdzimi
Wejangan-wejangan suci para kiai

Telah ku tafsir berkali-kali pagar suci
Mengangungkan permata pertaubatan di kesaksian sujud
Hingga ritmis air mata tumpah
Atas kegelapan dari dosa-dosa yang kucipta

Ini kali, ingin kutanam bibit-bibit iman di ladang hati
Kesabarannya menjelma akar-akar kekar
Serta desing gemerlap dzikir
Memancar pula di tangan tuhan

Doa-doa habis kupanjatkan
Huruf-hurufnya mengalir sebagaiamana sungai tak kenal akhir menjumpai hilir
Memalingkan sekujur resah, yang kerap kali berdiam di curam dada
Sebab, salah satu nya jalan berkah
Berhasil mencapai kristal barokah

Khusyu’ tawaduk suntuk tajuk di sepanjang rukuk
Melafalkan sembilan puluh sembilan nama-nama Tuhan
Mentalbiahkan gelora fatihah di otakku
Sembilu meredam nyala angkara murka bara nafsu di dadaku
lepas bujuk dari rencana syetan tak berwujud.

Annuqayah, 2019



 

Kasidah Air Mata

;Teruntuk Neng Ozara

Selamat malam luka, selamat hijrah ke hatiku
Apalagi yang semestinya hendak ku tutupi berkali-kali pada sepi
Bilamana sekuntum mawar di tubuhku, perlahan gugur
Mengering dedaunannya, sebab penindasan kemarau
Tak henti-hentinya kau kirim dari senyummu
Bahkan, seratus duri-durinya
Pasrah menancap di curam dadaku.

Terima kasih luka, perih yang kau wasiatkan padaku
Telah sempurna menjadi riuh dan debur  lautan
Lebih pasang dari riak maritim, menghempas segudang harapan
Serta memecahkan jembatan panjang di otakku.

Sebelum waktu makin berlalu
Aku berharap padamu
Hargailah perasaanku
Sebagaimana kau mengerti perasaanmu sendiri.

Ozara, ini kali aku bersaksi
Bahwa semenjak mencintaimu
Aku lupa cara hidup yang sebenarnya.

Ozara, harus dengan apa pula ku tatap langit di dadamu
Manakala sesal mendung di mataku
Menjelma kemarau paling ganas di kepala.

Ozara, apakah aku harus ingkar pada sunyi
Biar tetas dari ayat-ayat air mata
Mencipta sungai dangkal di matamu
Agar segalanya bisa kau larungkan
Pada resah yang paling rekah di ceruk-ceruk jiwa.

Ozara,aku sempat ingin berlari dari hikayat
Sebab gurindam kata-kataku
Semakin ranggas tak lagi ganas diksi-diksinya.

Ozara, Mungkin begini saja, jalan terbaik di antara kita
Adalah menjauh paling sempurna.
Tapi, ada  kemungkinan lain
Aku terlalau yatim untuk mencintaimu
Sebab ayah dari rasaku
Telah meninggal paling dahulu.

Aku mohon maaf, Ozara
Jika suatu saat, aku pamit meninggalkanmu
Lalu, kuserahkan kado kecil untukmu
Sebagai pemberian terakhir kali dan selama-lamanya.
Tetapi sebelum itu, aku titip sebotol darah padamu

Mungkin engkau akan menyimpan seribu tanda tanya tentang darah itu?

Sebelum kau Tanya, Aku jawab paling dahulu:
darah itu akan menjadi saksi,bahwa aku pernah berjuang mencintaimu,  meski perihal kegagalan yang sempurna kucapai”.

Maka, cukup kuterjemahkan sekarang
Bahwa hakikat musim yang bertahun-tahun kugenggam
Adalah kegagalan mencipta hujan di tubuhmu.

Annuqayah, 2019



 

Rubaiyat Hujan

Neng, kemarilah
Duduk bersamaku, Aku ingin bercerita tentang hujan
Yang bertandang di beranda jiwa paling baka
Bahkan, dengan diam aku belum paham
Bahwa nostalgia bintang di bibirmu, memancar pula di palung sorga.

Sejatinya, ingin ku bangun jembatan panjang di tubuhmu
Melebihi kubangan hutan, tempat teduh meredam waktu paling taji bersamamu, sebelumnya kebisingan mengering mencipta keriangan di curam dada, menghempas segala yang hampir panas, cemas membara tak kunjung ranggas
Hingga kertas-kertas rias, berserakan di pekarangan batinmu
Rapuh makna, lusuh kata-kata yang sempat ku eja,

Dari diksi, majasku tenggelam di dasar neraka.

Neng, pandangilah rumput-rumput yang menari di pulauku mentalbiahkan Madah pada relung jiwamu yang hampir senja.
Neng, Izinkan aku bermain kecipak air di tubuhmu
Menelan asin-tawar kesetiaan, agar buih-buih dari resah tak pernah mampir pada gelisah. Neng, Bolehkah kuterjemahkan emosi gelombang di Jantungmu yang cukup gersang, agar tak pernah ada sebuah pagar, untuk ikan-ikan bermain riang  jumpalitan, sebab bilamana ia tak ada, maka lenyap  pula kisah kesaksian tawa dan air mata diantara kita.

Neng, ingin sekali ku tafsir parau desah ritmis tangis dari kemarau, sekedar meretas gemuruh nyala Angkara Murka di mataku, menebas luka-luka yang berkecamuk di Cakrawala.

Neng, Kini engkau tinggal menunggu, dari perjalanan yang kutempuh, untuk sampai kepelaminanmu.

Annuqayah,2019

 

Bara rindu Di ujung Kelam

;Teruntuk Neng Ozara

“Jika merindukanmu adalah overdosis,
Maka aku adalah orang pertama kali yang akan menderita”

Jujur saja, kasih
Setiap kali kuserap ataupun kunikmati bising sunyi
Di situlah, lahir pula rahim wajahmu
Entah, peristiwa apalagi yang Tuhan haturkan?

Aku masih tetap tak mengerti
Tentang perihal sakral di kedalaman malam.

Mungkin aku sudah benar-benar gila, kasih
Ataukah sebab wajahmu ialah gurindam tunas kata-kata
Tak henti-hentinya menderu di otakku
Terus melaju, hingga sampai nafas waktu
Sesak arah di pertengahan musim.

Pahamilah, kasih
Tentang hikayat kisahku menjadi gila seperti ini
Hanya untuk mencintaimu
Bukan untuk menjadi orang yang paling hina di mata lain.

Annuqayah, 2019

 

 Sebilah  Rindu di pulauku

;Teruntuk Neng Wilda 

“Jika merindukanmu adalah overdosis,
Maka aku adalah orang pertama kali yang akan menderita”

Nona, mengawali segelintir cemas ranggas paling ganas di dadaku
Aku ingin titip perihal pada nyala api yang menari di matamu
Bahwa tragedi paling kukuh:
Adalah tunggalnya kesaksian rindu.

Apalagi yang harus ku katatakan pada langit
Bila mana kebenaran dari rinduku
Tak pernah mengenal proklamasi musim
Keadilan kemarau, juga tetas rinai hujan
yang bertandang di pekarangan rumahmu.

apalagi yang harus ku sampaikan pada tanah
manakala sejatinya resah
telah berpijak, pada kegersangan batin yang tak pernah bengkak
juga, menjadi tulang-belulang harapan
sebagaimana kehendak tuhan
menghadiahkanku tunas kesabaran.

Apalagi yang harus ku titipkan pada angin
Pabila rahim desirnya
Adalah bagian gigil dari tubuhmu.

Apalagi yang harus ku rahasiakan padamu
Pabila hakikat dari bebayang lain
Larut sirna di mataku
Dan hanya kepadamulah
hendak ku persembahkan segala rindu.

Annuqayah, 2019



 

Firmansyah Evangelia.nama pena dari Andre Yansyah , lahir di pulau giliyang , menyukai puisi dan tater sejak aktif di beberapa komunitas , di antaranya:PERSI (penyisir sastra iksabad ), LSA (lesehan sastra annuqayah) , Ngaji puisi, Mangsen puisi , Sanggar kotemang, poar ikstida. Beberapa karyanya pernah di muat di : Radar Madura, Nusantara News,Majalah Sastra Simalaba,Potrey Prairey. Buku puisinya : Duri-duri bunga mawar (FAM publising 2019),Rubaiyat Rindu (JSI,2019) Entah apa yang merasukimu? (JSI,2019 jilid II)pernah dinobatkan sebagai juara 1 Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional di jendela Sastra Indonesia 2019, juara 1 Lomba Cipta Puisi Spontan yang di selenggarakan MA 1 Annuqayah 2019. menjadi penulis kontributor dalam Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional yang di selenggarakan Sanggar Sastra Indonesia 2019.  saat ini sedang nyantri di PP. Annuqayah daerah lubangsa serta menjabat sebagai ketua Persi ( penyisir sastra iksabad) 2019-2020, juga pernah menjuarai lomba teater se- jawa timur di surabaya.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *