Puisi Pringadi Abdi Surya, Suara Pembaruan

dimuat di Suara Pembaruan, 5 Desember 2010

Di Palembang Square

Dan tak terbaca, yang dulu kukenali
sebagai kota. Perempuan-perempuan muda
memakai hot pants, high heels, dan tanktops seolah udara
telah benar begitu hangat. Duduk di Solaria itu, aku
merinding dan kedinginan. Dinding-dinding terasa
sempit, dan malam yang mengepungku di luar
siap mengubahku jadi kelelawar. Kecuali mawar,
menyelamatkanku dari ketersesatan. Dan
begitu pun kota yang dulu kukenali ini makin tak
terbaca. Mungkin saja mataku yang rabun
dan perlu kaca mata.

Motif, VI

Andai kita berpisah, pastilah karena kematian telah
mengisi rongga dadaku. Sebab di langit manapun kita
berada, bulan masih tetap sama, dan kalender-kalender
yang bertanggalan, seperti helai dedaunan—
terlepas begitu saja dari ranting. Perjalanan seringkali
tampak asing. Jejak sepatu kaca, yang sengaja kau tinggalkan,
kerap tak terbaca. Dan gigil palem, menawarkan kesepian
yang lebih buruk dari cuaca. Aku tahu, aku tahu
keberadaanku yang jauh dari sempurna bikin matamu sakit,
tetapi hatiku yang tak mengenal rasa sakit mencoba tabah
melebihi semua gegabah yang sering kulakukan.
Andai kita berpisah, pastilah karena bulan
di langit sudah tak sama. Angin malam,
gerak bayangan di remang taman, dan
sebuah lampu di tengah kolam melengkapi musim;

Aku tergeletak. dadaku retak.

Motif, IV

Alhamdulillah, kakiku masih menjejak tanah. Aku
layangkan pandanganku ke sekitar, di mana engkau yang berjanji
menyambutku dengan tawa yang lebar? Dan merangkulku
seolah-olah tak akan pernah kau temukan
kehangatan yang sama itu; Langit mendung,
udara menciumi bunga bakung. Aku mengabungkan diri
pada musim ini. Tapi, alhamdulillah,
mataku yang basah tidak begitu perih, selain
sebuah koper yang rahasia, dan kotak mie bekas
berisikan kenangan-kenangan yang tak bisa lepas.
Tinggal menghabiskan sisa kopi kaleng, mengobati tubuhku
yang oleng. Siapa berpikir cinta ini telah selesai,
selama umur belum usai, dan sejarah hidup
begitu masai?

Motif, III

Aku tak terlambat masuk ke ruang tunggu. Sebagian kursi
sudah penuh. Seorang laki-laki sedang menopang dagu,
dan mengosongkan bola matanya yang abu.
Duduk di sebelahnya, aku memikirkan keberangkatan.
Berharap pramugari seksi memberikan kartu
namanya. Dan mengenalkan diri sebagai perempuan yang
sanggup menahan dadaku yang gemetar pada
ketinggian. Tetapi, masih lima belas menit lagi
sebelum semua jelas, apakah benar kematian itu
memang dekat adanya.

Motif, I

Dan barangkali di keningmu, hanya di
keningmu, kutinggalkan sajak cinta paling purba.
Tanpa ada kata-kata, kecuali hening yang
tersisa. Aku mengingat itu di sebuah taman—
sore hari, menaiki ayunan, memandangi langit
yang mulai gelap, seperti halnya kenyataan
—entah di mana terang. Aku, kemudian
berjalan ke arah kolam.
Keruh. Dan daun-daun tenggelam, cokelat
kemerahan, tetapi utuh. Barangkali,
udaralah yang bikin dada semakin busuk.
Sepotong ranting lunglai, lapuk
tergeletak pasrah
menanti sepasang tangan memungutnya
dan barangkali, aku mampu
menggambar keningmu di sana

SALAM KEPADA SISYPHUS

Begitu haus, kerongkongan meminta cium.
Sajak seperti udara, ada tetapi tak bisa
diraba. Begitulah puncak dalam pendakian panjang
itu. Seolah dekat, seolah dekat, padahal kematian
kian akrab. Daun-daun yang gugur diterpa angin
berserak, dan membusuk, entah ke arah lain
hanyut, mengapung,
tenggelam. Dan berabad
nasib telah menjadi sahabat. Di lereng gunung
yang curam, dan terjal. Sementara ajal
mengepung kesepian yang tak pernah habis.
Begitu haus, begitu haus, kerongkongan
akan nafasmu, yang melayang
dan tak pernah
kembali.

Comments

comments