Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan

Puisi Pablo Neruda

Pablo Neruda (12 Juli 1904- 23 September 1973) adalah nama samaran penulis Chili, Ricardo Eliecer Neftalí Reyes Basoalto. Neruda yang dianggap sebagai salah satu penyair berbahasa Spanyol terbesar pada abad ke-20, adalah seorang penulis yang produktif. Tulisan-tulisannya merentang dari puisi-puisi cinta yang erotik, puisi-puisi yang surealis, epos sejarah, dan puisi-puisi politik, hingga puisi-puisi tentang hal-hal yang biasa, seperti alam dan laut. Novelis Kolombia, Gabriel García Márquez menyebutnya “penyair terbesar abad ke-20 dalam bahasa apapun”. Pada 1971, Neruda dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Sastra.Pada masa hidupnya, Neruda terkenal karena keyakinan-keyakinan politiknya. Sebagai seorangkomunis yang vokal, ia pernah sebentar menjadi senator untuk Partai Komunis Chilidi Kongres Chili sebelum terpaksa mengasingkan diri.

Nama samaran Neruda diambil dari nama penulis dan penyair Cheko, Jan Neruda. Belakangan justru nama ini yang membuatnya tenar dan menjadi nama resminya.

AKU MENGINGATMU SEPERTI DULU

Aku mengingatmu seperti dulu di musim gugur terakhir.
Kau adalah baret abu-abu dan keheningan hati.
Di dalam matamu nyala senja bertahan.
Dan daun-daun jatuh di air jiwamu.

Rangkulan lenganku seperti rambatan tumbuhan
daun-daun menyimpan suaramu, yang lamban dan dalam damai.
Api unggun rasa kagum di mana dahagaku membakar.
Bunga bakung biru manis membelit di atas jiwaku.

Aku merasa matamu melintas, dan musim gugus jauh sekali:
baret abu-abu, suara seekor burung, hati seperti sebuah rumah
menjelang di mana keinginanku yang dalam berpindah tempat
dan ciumanku rubuh, bahagia seperti bara api.

Langit dari sebuah kapal. Bidang dari bukit:
Ingatanmu terbuat dari cahaya, dari asap, dari kolam keheningan!
Di balik matamu, lebih jauh terpasang, malam yang berkobar.
Daun-daun kering musim gugur berpusar dalam jiwamu.

Diterjemahkan oleh Ridha al Qadri dari I Remember You as You Were dalam Pablo Neruda: Twenty Love Poems and a Song of Despair, translated from Spanish by W. S. Mervin, Penguin Books, 1993.

 

Kewajiban seorang penyair

Bagi siapa saja yang tak mendengarkan laut
jumat pagi ini, bagi siapa saja yang terpenjara
di dalam rumah, kantor, pabrik atau perempuan
atau jalanan atau penambangan atau sel yang kering:
baginyalah aku datang dan tanpa berbicara atau memandang
aku tiba dan membukakan pintu penjaranya
dan sebuah getaran dimulai, samar-samar dan tanpa henti,
sebuah gemuruh petir yang panjang menceburkan dirinya
ke tubuh planet dan buih,
sungai-sungai yang mengerang di samudera pasang,
bintang bergetaran cepat dalam lingkarannya
dan laut berdenyut, mati dan terus berdenyut.

Maka seperti tergambar pada takdirku,
tanpa henti-hentinya aku mesti mendengarkan dan menjaga
keluh kesah laut dalam kesadaranku,
mesti merasakan empasan ombak
dan mengumpulkannya dalam gelas abadi
sehingga di mana pun, barangkali yang di dalam penjara,
di mana pun mereka menderita hukuman pada musim gugur,
aku mungkin hadir bersama gelombang pesan,
aku mungkin keluar-masuk melalui jendela
dan karena mendengarkanku, berpasang mata akan mengangkat dirinya
bertanya: bagaimana aku dapat sampai ke laut?
Dan aku akan melintasi mereka tanpa berkata apa-apa
gema yang terang dari gelombang
pemisahan buih dan pasir,
gemersik garam menyeret dirinya sendiri,
tangisan kelabu burung-burung laut di pantai.

Maka, bagiku, kebebasan dan lautan
akan menjawab bagi hati yang tersembunyi.

Kata

Lahirlah
kata dalam darah,
tumbuh dalam tubuh yang tersembunyi, berdenyut,
dan meluncur ke bibir dan mulut.

Lebih jauh dan lebih dekat
tetap saja, tetap saja ia datang
dari mayat para bapa dan dari bangsa-bangsa pengembara,
dari negeri-negeri yang telah menjelma batu,
keletihan negeri-negeri atas kemiskinan bangsanya,
karena kesedihan turun ke jalan-jalan
orang-orang pun berangkat dan tiba
dan menikahi negeri dan air yang baru
untuk menumbuhkan kembali kata-kata mereka.
Maka inilah apa yang ditinggalkan;
inilah gelombang panjang yang menghubungkan kita
dengan orang-orang mati dan permulaan
hidup baru yang belum sampai kepada cahaya.

Tetap saja atmosfer tergetar
oleh kata pertama yang diucapkan
terbungkus
dalam rasa takut dan keluhan.
Ia muncul
dari kegelapan
dan sampai sekarang tak ada petir
yang menggemuruhkan dengan suara baja
kata itu,
kata pertama
yang diucapkan:
barangkali ia hanya riak, sebuah tetesan,
sebelum bular-bularnya yang terjal luruh dan luruh.

Kemudian kata itu dipenuhi dengan makna.
Selalu dengan anak-anak ia dipenuhi kehidupan
Segalanya lahir dan bersuara:
penegasan, kejelasan, kekuatan,
pengingkaran, penghancuran, kematian:
kata kerja mengambil alih seluruh kekuatan
dan keberadaan yang dibungkus kebermaknaan
dalam gerak keanggunan dirinya.

Kata manusia, suku kata, sayap
dari perpanjang cahaya dan perak yang kukuh,
cawan pusaka yang menampung
percakapan-percakapan dengan darah:
di sinilah kesunyian datang bersama-sama dengan
keutuhan kata manusia
dan bagi manusia, tidak berbicara berarti mati:
bahasa memanjang bahkan ke rambut,
mulut berbicara tanpa gerak bibir:
segalanya tiba-tiba, mata adalah kata-kata.

Aku mengambil kata itu dan melesatkannya ke dalam perasaan-perasaanku
meskipun ia tak lebih dari sekedar bentuk kemanusiaan,
susunan-susunannya memesonakanku dan kutemukan jalan
menembus setiap gema dari kata yang diucapkan:
aku mengucapkan dan aku menjadi dan, tanpa berkata-kata, aku mendekat
menyeberangi tepi kata-kata yang membisu.

Aku minum untuk kata yang tumbuh itu
sebuah kata atau sebuah gelas kristal,
di dalamnyalah aku minum
kemurnian anggur bahasa
atau air yang tak pernah habis,
telaga keibuan kata-kata,
dan gelas dan air dan anggur
mengembangkan nyanyianku
karena verba adalah telaga
dan semangat hidup: adalah darah,
darah yang mengungkapkan hakekatnya
dan begitu menentukan istirahatnya sendiri:
kata-kata memberi kristal ke dalam kristal, darah ke dalam darah,
dan hidup ke dalam hidup itu sendiri.

Samudera

Tubuh lebih sempurna ketimbang gelombang,
garam membasuh barisan laut,
dan burung yang berkilau
terbang tanpa sisa tanah.

Air

Segala yang ada di atas bumi tegak, semak
menusuk dan kehijauannya
menggigit, kelopaknya luruh, berjatuhan
hingga satu-satunya bunga menjadi kejatuhan itu sendiri.
Air adalah hal lain,
tak memiliki petunjuk arah tetapi kejernihan geraknya sendiri,
menembus semua warna mimpi,
pelajaran-pelajaran yang jernih
dari batu
dan di dalam kerja besar itu
adalah cita-cita buih yang tak tercapai.

Laut

Sebuah entitas, tetapi bukan darah.
Sebuah pelukan, kematian atau mawar.
Masuklah laut dan mempertemukan hidup kita
dan menyerbu sendirian dan menebarkan tubuhnya dan bernyanyi
pada malam-malam dan hari-hari dan para lelaki dan makhluk-makhluk hidup.
Hakekatnya: api dan dingin: pergesaran.

Lahir

Aku datang kepada tepi
di mana tak ada yang perlu berkata,
segalanya tercerap ke dalam cuaca dan lautan,
dan bulan berenang kembali,
seluruh cahayanya keperakan
dan lagi-lagi kegelapan akan pecah
oleh empasan gelombang
dan setiap hari di atas balkon laut
sayap-sayap mengembang, lahirlah api
dan segalanya kembali biru seperti pagi.

Menara

Barisan laut membasuh dunia
oh, kebaruan yang abadi,
oh, pedang yang sakti:
kautebas
kekacauan,
di mana sebuah kapal karam tertinggal,
di sana sebuah bintang.
dari satu titik ke titik lain ke titik lain lagi
melintaslah sepanjang barisan laut
kemurnian
dan ia tak berubah, ia suasana,
ia dapat diandalkan, ia ketepatan,
ia kukuh, ia bagian yang tegas
sementara udara berubah dan menyeberangi
menara
yang bebas dari geometri.

Planet

Adakah batu-batu air di bulan?
Adakah cairan emas?
Apakah warna musim gugur?
Adakah hari-hari berlarian dari yang satu ke yang lainnya
hingga seperti seikat rambut
mereka terurai? Berapa banyak yang jatuh
–kertas-kertas, anggur, tangan-tangan, mayat-mayat–
dari bumi ke tempat yang jauh itu?

Di sanakah kehidupan terbenam?

 

Yang telanjang

Cahaya ini adalah Matahari yang berlari,
lingkaran ini adalah Timur,
kekacauan buatan angin
di atas pesan-pesannya yang paling jernih
dan tengah hari menjulang seperti
sebuah tiang yang menyangga langit
sementara garis-garis putih terbang
dari kesunyian ke kesunyian sampai mereka menjelma
burung-burung kecil di udara,
garis-garis menuju kebahagiaan.

Di dalam menara

Dalam menara yang suram ini
tak ada perang:
asap, udara, hari
mengepung dan meninggalkannya
dan aku tinggal dengan langit dan kertas,
kesenangan-kesenangan dan dosa-dosa seorang diri.
Menara bumi yang bersih
dengan kebencian dan lautan di kejauhan
bercampur
oleh gelombang di langit.
Berapa banyak suku kata dalam satu baris,
dalam satu kata? Sudahkah aku mengucapkannya?

Keindahan adalah peristiwa embun,
pada permulaan hari ia luruh
memisahkan
malam dari subuh
dan persembahan dinginnya
bertahan
dengan bimbang, menantikan ketajaman matahari
yang akan menggiringnya pada kematian
Sulit dijelaskan
jika kita menutup mata atau jika malam
membukakan di dalam diri kita mata lain yang bercahaya
jika ia menggali ke dalam dinding mimpi kita
hingga suatu pintu terbuka.
Tetapi mimpi
hanyalah pergantian pakaian dalam sekejap:
habis dalam satu debaran
kegelapan
dan jatuh di kaki kita, beranjak
begitu hari membaur dan berlayar bersama kita.

Inilah menara dari mana aku menyaksikan,
antara cahaya dan air yang membisu,
waktu dengan pedangnya,
dan aku mengalir ke dalam hidup,
menghirup seluruh udara,
dipesonakan oleh kesunyian
yang mengukuhkan seluruh kota
dan bicara pada diriku sendiri tanpa tahu siapa diriku
membebaskan daun-daun dari sunyinya
ketinggian.

Burung

Ia dilewati dari satu burung ke burung lainnya
seluruh anugerah hari,
yang beranjak dari galur ke galur sepanjang hari,
yang bersembunyi di antara tumbuhan
dalam terbang yang membuka sebuah lorong,
di mana angin akan melintasi
tempat burung-burung tengah memecahkan
udara yang beku dan biru:
ke sanalah masuknya malam.

Kembali dari begitu banyak perjalanan,
aku tergantung dan hijau
antara matahari dan geografi:
aku melihat bagaimana sayap-sayap bekerja,
bagaimana wewangian diteruskan
oleh telegraf bersayap
dan dari atas aku melihat sebuah jalan,
musim-musim semi dan atap-atap,
para nelayan di pelelangan,
pantalon-pantalon buih,
melihat semuanya dari langit hijauku.
Aku tak punya lebih banyak abjad
dari walet-walet dalam kawanannya,
sepercik air jernih
dari seekor burung di atas api
yang menari di luar serbuk sari

 

Serenada

Dengan tanganku kukumpulkan kekosongan ini,
malam yang menyesatkan, keluarga-keluarga yang bercahaya,
sebuah kidung yang tetap lebih tenang ketimbang kebisuan,
suara bulan, sesuatu rahasia, suatu segitiga,
suatu ukuran keberuntungan.
Inilah malamnya laut, kesunyian ketiga,
sebuah getaran yang membukakan pintu-pintu, sayap-sayap,
penduduk yang tak teraba dan tak sepenuhnya ada
bergetar dan membasuh seluruh nama muara.

Malam, nama dari lautan, tanah air, asal, mawar!

Sang pendiri

Aku memilih bayang-bayangku sendiri,
dari kristal garam kuciptakan persamannya:
kutancapkan waktuku pada deras hujan
dan aku bisa tetap hidup

Memang benar kekuasanku yang panjang
memisahkan mimpi-mimpi
dan di luar sepengetahuanku muncullah di sana
dinding-dinding, perceraian-perceraian, tanpa akhir.

Maka aku beralih ke pantai.

Aku melihat pemberangkatan kapal-kapal
menyentuhnya, lembut bagaikan ikan suci:
menggetarkan serupa citraan Tuhan,
kayu-kayunya bersih,
harum serupa madu.
Dan jika ia tak kembali,
kapal itu tak kembali,
setiap orang tenggelam dalam airmatanya
sementara aku kembali kepada kayu
dengan kapak telanjang bagai bintang.

Kepercayaanku rebah di dalam kapal-kapal itu.

Aku tak punya jalan lain kecuali untuk terus hidup.

Memandikan seorang bocah

Cinta, makhluk tertua di muka bumi
memandikan dan menyisir patung kanak-kanak,
menegakkan kaki-kakinya, lutut-lututnya,
air mengembang, busa-busa sabun merambat,
dan tubuh yang murni muncul untuk menghisap
udara dari bunga-bunga dan ibunya.

Oh perhatian yang tajam !
Oh muslihat yang manis !
Oh perang penuh kasih sayang !

Sekarang rambut itu tinggal segulung kekusutan
dihujani dari sana-sini dengan arang,
dengan tahi kayu dan oli,
jelaga, kawat-kawat, umpatan-umpatan,
sampai dengan kesabarannya
cinta
menyiapkan bak-bak dan kain-kain pembasuh
sisir-sisir dan handuk-handuk,
dan dari gosokan dan sisiran dan cahaya kekuningan,
dari keberatan-keberatan masa lampau dan dari bunga yasmin
muncullah bocah itu lebih bersih dari sebelumnya
melepaskan diri dari lengan-lengan ibunya
untuk merangkak lagi di atas badainya,
untuk mencari lumpur, oli, air kencing, tinta,
untuk melukai dirinya sendiri, berguling-guling di antara bebatuan
Di jalan itulah, dengan kebaruannya, bocah itu melompat ke dalam hidup
untuk kemudian mendapati saat di mana yang terpenting
adalah menjaga kebersihan, meski tak ada kehidupan.

Puji-pujian bagi pakaian yang hendak disetrika

Puisi itu putih :
muncul dari air yang terbungkus bulir-bulirnya
ia kisut dan bertumpuk,
ia mesti dibentangkan menjadi kulitnya planet,
mesti disetrika menjadi putihnya laut,
tangan-tangan terus menggosoknya,
permukaan-permukaannya pun menjadi halus
begitulah segalanya dikerjakan :
tangan-tangan menciptakan dunia setiap hari,
api dikawinkan dengan baja,
kain kanvas, linen dan katun kembali
dari pencucian
dan di luar cahaya seekor burung lahir :
kemurnian yang kembali dari pusaran.

Kelahiran-kelahiran

Kita tak akan pernah punya ingatan tentang sekarat

Kita begitu sabar
dengan kehidupan
mencatat habis
tanggal-tanggal, hari-hari,
tahun-tahun dan bulan-bulan,
helai-helai rambut, mulut-mulut yang kita kecup,
dan detik-detik menuju kematian itu
kita biarkan lewat tanpa tercatat :
kita tinggalkan bagi orang lain sebagai kenangan
atau kepada air begitu saja,
kepada air, kepada udara, kepada waktu.
Kita bahkan tak membawa
kenangan akan kelahiran,
padahal dilahirkan begitu baru dan menggemparkan :
dan kini kau tak mampu mengingat detilnya
tak menyimpan sebuah jejak pun
dari cahaya pertamamu.

Kita tahu kita dilahirkan.

Kita tahu bahwa di dalam kamar
atau di dalam hutan
atau di dalam naungan rumah para nelayan
atau di dalam gemersik kebun-kebun tebu
terdapat kesunyian yang luar biasa,
sebuah saat yang suram dan beku seperti
seorang perempuan yang menyiapkan sebuah kelahiran.

Kita tahu kita semua dilahirkan.

Tetapi dari tafsir yang dangkal itu
dari tidak ada menjadi ada, memiliki tangan,
melihat, memiliki mata,
makan dan menangis dan tumbuh besar
dan mencintai dan mencintai dan menderita dan menderita,
dari transisi atau getaran itu
dari kehadiran yang menggairahkan yang mengangkat
satu tubuh lagi seperti cawan kehidupan,
dan dari perempuan yang meninggalkan kekosongan,
ibu yang tertinggal dalam genangan darah
dan kesempurnaannya yang terkoyak
dari akhir dan awalnya, dan kekacauan
yang menggulingkan urat-uratnya, lantai, selimut-selimutnya
sampai semuanya hadir bersama-sama dan menyumbangkan
satu gerombolan lagi dalam jalinan kehidupan,
tak ada, tak ada yang tersisa dalam ingatanmu
tentang lautan buas yang mengumpulkan gelombang
dan merenggut sebiji apel tersembunyi dari pohon.

Tak ada yang bisa kau ingat kecuali nyawamu.

Kepada mayat lelaki malang

Hari ini kita menguburkan lelaki kita yang malang :
lelaki yang sangat sangat malang.

Dia selalu dalam nasib buruk
bahkan inilah untuk pertamakalinya
manusianya dimanusiakan.

Karena tak punya rumah, tak pula tanah,
tak punya abjad, tak pula kertas-kertas,
tak pula daging panggang,
maka dari satu tempat ke tempat lainnya, di jalan-jalan,
dia berjalan dalam kekurangan,
mati perlahan demi perlahan
begitulah dia semenjak lahirnya.

Mujur dan sangat jaranglah, mereka semua berpendapat sama
dari uskup sampai hakim
dalam menjaminnya masuk surga
dan kini wafatlah dengan hormat lelaki kita yang malang
ai, lelaki kita yang sangat sangat malang
dia tak akan tahu harus berbuat apa dengan begitu banyak langit.
Dapatkah dia mencangkulnya, menyemainya dan menuainya ?

Dia selalu melakukannya, dengan bengisnya
bertarung dengan tanah terjal
dan kini langit dengan leluasa membentangkan diri bagi cangkulnya,
dan kemudian di antara buah-buahan surga
dia akan mendapat bagiannya, dan di mejanya
di ketinggian sana segalanya tersedia
baginya untuk memuaskan hatinya akan surga
lelaki kita yang malang, yang membawa sebagai nasib baiknya
dari bawah, enam puluh tahun rasa lapar
untuk dikenyangkan, akhirnya, secara hormat,
tanpa pukulan-pukulan dari hidupnya lagi,
tanpa teraniaya demi makanan,
aman bagaikan keturunan raja-raja dalam kotak di bawah tanah
kini dia tak lagi berpindah-pindah untuk melindungi dirinya,
kini tak akan berjuang demi upahnya.
Dia tak pernah mengharapkan keadilan, begitulah dia,
tiba-tiba mereka memenuhi cawannya dan bersulang untuknya :
kini dia telah tersungkur dalam kesenangan.

Betapa beratnya dia sekarang, lelaki yang sangat sangat malang itu !
Kemarin dia cuma setumpuk tulang bermata legam
dan kini kita tahu, dari berat tubuhnya seorang,
ai begitu banyak hal yang dulu tak didapatkannya,
jika kekuatan ini terus-menerus,
mencari tanah-tanah tandus, menyusuri batu-batu,
menuai gandum, membasahi tanah liat,
menggiling belerang, mengusung kayu bakar,
jika lelaki yang begitu besar ini tak punya
sepasang sepatu, oh betapa sengsara, jika seluruh diri lelaki tersendiri
yang dipenuhi daging dan otot ini tak pernah mendapatkan
keadilan selama hidupnya dan semua orang memukulnya,
semua orang menjatuhkannya, dan meski demikian
dia terus saja dengan pekerjaannya, kini dengan mengangkat dirinya
dalam peti mati di atas bahu kita,
setidaknya kita tahu berapa banyak yang dulu tak dimilikinya,
bahwa kita tak membantunya selama hidupnya di dunia.

Kini mulai kita tanggung
segala yang tak pernah kita berikan padanya, dan kini sudah terlambat :
dia menindih kita dan kita tak mampu menanggungnya.

Berapa banyak orang yang menindih mayat kita ?

Dia menindih kita dengan seluruh berat dunia, dan kita terus
mengusung mayatnya di bahu kita. Jelas
bahwa surga dipenuhi makan besar.

 

Kepada “La Sebastiana”

Kubangun rumah.

Kubuat ia pertama di udara.
Kemudian kukibarkan benderanya di udara
dan kubiarkan ia membentang
dari cakrawala, dari bintang-bintang, dari
cahaya terang dan dari kegelapan.

Dari semen, besi, kaca,
seperti sebuah dongeng,
lebih berharga ketimbang gandum dan seperti emas,
aku harus mencari dan menjualnya,
dan datanglah sebuah truk :
mengosongkan karung-karung
dan karung-karung lainnya,
menara tertancap di tanah kokoh
–tetapi itu belum cukup, kata sang pendiri,
masih ada semen, kaca, besi, pintu-pintu–,
dan aku tak tidur semalaman.

Tetapi ia tetap tumbuh,
jendela-jendela tumbuh
dan dengan sedikit lagi,
dengan desakan rencana dan kerja
dan bekerja keras dengan lutut dan bahu,
ia tumbuh menjadi ada,
ke tempat yang dapat kaulihat dari jendela,
dan agaknya dengan begitu banyak karung
ia dapat berakar dan berkembang
dan, akhirnya, kokoh menggenggam bendera
yang tetap terbentang di langit dengan warna-warninya.

Kuserahkan diriku bagi pintu-pintu termurah,
pintu-pintu yang telah mati
dan telah dibuang dari rumah mereka,
pintu-pintu tanpa dinding, patah,
bertumpuk di timbunan-timbunan rapuh,
pintu-pintu tanpa kenangan,
tanpa jejak sebuah kunci,
dan aku berkata : “Datanglah
kepadaku, pintu-pintu yang ditinggalkan :
akan kuberi kalian sebuah rumah dan sebuah dinding
juga sekepal tangan untuk mengetuk kalian,
kalian akan bergerak lagi seperti jiwa yang terbuka,
kalian akan menjaga tidur Matilde
dengan sayap-sayap yang sangat berguna itu.”

Kemudian datanglah cat
menjilat pada dinding-dinding
membungkusnya dengan biru langit dan merah mawar
hingga mereka mulai berdansa.
Maka menara menari,
pintu-pintu dan anak-anak tangga bernyanyi,
rumah meninggi hingga menyentuh puncaknya,
tetapi uang itu pendek :
kuku-kuku itu pendek,
pendek pula pengetuk-pengetuk pintu, kunci-kunci, marmer.
Namun, rumah
tetap meninggi
dan sesuatu terjadi, suatu debaran
hadir dalam arterinya :
barangkali sebuah insang yang bergejolak
seperti seekor ikan dalam air mimpi-mimpi
atau palu yang mengetuk
seperti siku kondor yang gesit
di papan-papan cemara kita akan berjalan.

Sesuatu pergi dan hidup terus berlangsung.

Rumah tumbuh dan berbicara,
berdiri di atas kakinya sendiri,
memiliki pakaian yang membungkus kerangkanya,
dan seolah datang dari laut sebuah musim semi
berenang bagai bidadari air
mengecup pasir Valparaíso,

kini kita bisa berhenti berpikir : inilah rumah itu :

kini semua yang sempat hilang kembali biru,

segala yang dibutuhkannya hanyalah bersemi.

Dan itulah karya bagi musim semi.

Selamat tinggal selamat tinggal
Oh selamat tinggal selamat tinggal bagi satu tempat dan tempat lainnya,
kepada setiap mulut, kepada setiap kekecewaan,
kepada bulan yang biadab, kepada minggu-minggu
yang terluka hari-harinya dan menghilang,
selamat tinggal bagi suara ini dan bagi sepercik noda
penuh amaranto, dan selamat tinggal
bagi ranjang dan piring sehari-hari,
bagi semua perangkat selamat tinggal itu sendiri,
bagi kursi yang merupakan bagian dari senja yang sama,
bagi jalan yang dibuat sepatuku.

Kutebarkan diriku, tanpa bertanya,
kuganti seluruh kehidupan,
mengganti kulit, lampu-lampu, kebencian-kebencian,
itulah yang mesti kulakukan
tanpa hukum atau permohonan,
apalagi tindakan berantai,
setiap perjalanan baru menggubahku,
kudapatkan kesenangan di sebuah tempat, semua tempat.

Dan baru saja tiba, dengan hormat kuucapkan selamat tinggal,
dengan keindahan yang baru lahir
seperti jika roti tersedia untuk dibuka dan tiba-tiba
melarikan diri dari dunia meja.
Maka kutinggalkan segala bahasa,
mengulang-ulang selamat tinggal seperti sebuah pintu tua,
mengganti film-film, alasan-alasan, makam-makam,
meninggalkan setiap tempat untuk tempat yang lain lagi,
aku tetap hidup, dan hiduplah terus
setengah tidak bahagia,
pengantin lelaki di antara kesedihan,
tak pernah tahu bagaimana dan kapan
siap kembali, tak pernah kembali.

Kita tahu bahwa dia yang kembali tak pernah pergi,
maka kujejak dan kembali kujejaki hidupku

berganti pakaian dan planet,

selalu tumbuh bagi teman-teman,
bagi badai kencang yang menerpa orang-orang buangan,
bagi kesunyian yang hebat pada gemerincing lonceng.

Kepada semua orang

Aku tak dapat mengatakan kepadamu secara tiba-tiba
apa yang seharusnya kukatakan kepadamu,
kawan, maafkan aku, kau tahu
bahwa sekalipun kau tak mendengarkan kata-kataku
aku tak menangis atau tertidur
bahwa aku bersamamu meski tak melihatmu
untuk saat-saat indah yang panjang dan sampai kapan pun.

Aku tahu bahwa banyak yang bertanya-tanya,
apa yang dikerjakan Pablo ? Aku di sini.
Jika kau mencariku di jalanan ini
kau akan menemukanku bersama biolaku
mempersiapkan sebuah lagu
mempersiapkan kematian.

Tak ada yang dapat kutinggalkan bagi siapa pun
tidak bagi orang-orang lain itu, tak pula bagimu,
dan jika kau sungguh-sungguh mendengarkan, dalam hujan,
kau akan mendengar
bahwa aku datang dan pergi dan berkeliaran.
Dan kau tahu aku harus pergi.

Bahkan jika kata-kataku tak mampu memahami ini,
yakinlah bahwa akulah seseorang yang pergi.
Tak ada kesunyian yang tak berujung.
Ketika saatnya tiba, harapkanlah aku
dan biarkan mereka semua tahu bahwa aku kembali
di jalanan itu, dengan biolaku.
(Diterjemahkan dari bahasa Spanyol oleh Dina Oktavini)

 

Tanganmu
Sajak Pablo Neruda

Ketika tanganmu menyambar
menyergap tanganku, Kasih,
lalu mengambang, apa
dibawanya untukku?
Kenapa tanganmu berhenti
di bibirku, teramat tiba-tiba,
kenapa aku mengenalinya,
seperti sekali sebelumnya,
lalu, sebelum ia ada,
tangan-tanganmu pelesir
ke dahiku, ke pinggangku?

Halusnya tanganmu tiba
mengepak sayap menembusi waktu,
melewati laut dan kabut asap,
melewati Musim Semi,
dan ketika kau rebahkan
tanganmu di dadaku,
aku jadi tahu sayap-sayap ini
adalah sayap emas merpati,
aku jadi tahu liat itu,
aku tahu warna bulir padi.

Tahun-tahun hidupku
adalah jalan panjang pencarian,
pendakian anak-anak tangga,
penyeberangan ke batu-batu karang.
Gerbong kereta melemparkanku ke muka
air menyeruku kembali,
pada kulit buah anggur
seperti aku menyentuhmu.
Hutan, dalam kesekejapan,
membuat persentuhan denganmu,
pohon almon memanggil datang
kelembutanmu tersembunyi,
hingga kedua tanganmu
terkatup di dadaku,
bagai sepasang sayap
menyudahi kepak terbangnya.

Comments

comments



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *