Puisi | Membaca Koran

Ketika kubaca koran pagi ini, kutemukan tubuhmu terpanggang

di sebuah halaman. Aku tak sanggup terlalu lama memandang

jasadmu yang hangus itu.

Aku hanya bisa menunggu pemadam datang,

memadamkan api yang masih menyala-nyala, dan menghindari orang-orang

yang setia menjadi penonton.

Aku bukanlah seorang penonton yang baik.

Aku tak bisa menangis, tertawa, atau juga bertepuk tangan.

Setelah api bersedia pergi, kau telah sulit dikenali.

Bahkan tanda pengenalmu, yang hanya berupa kertas dilaminating

juga ikut terbakar. Sidik jarimu–

upaya sia-sia untuk mengetahui identitas. Tinggal nanti,

pasti ada yang datang menangis, meraung-raung

menyebut cinta dan harapan yang pernah kau titipkan itu

tidak pernah lebih khianat dari negara yang mengkhianati bangsanya.

 

Ketika kubaca koran pagi ini, aku belum tahu di mana

nanti kau akan dimakamkan.

Barangkali orang-orang yang mengenalmu ingin Kalibata.

Tapi, bahkan tanah pemakaman di Jakarta sulit terbeli.

 

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Warning: Unknown: write failed: Disk quota exceeded (122) in Unknown on line 0

Warning: Unknown: Failed to write session data (files). Please verify that the current setting of session.save_path is correct (/tmp) in Unknown on line 0