Curug Cikoneng

Perjalanan Epik dan Dadakan ke Curug Cikoneng, Bogor

Perjalanan ke Curug Cikoneng beberapa waktu lalu terbilang begitu epik dan dadakan. Berawal dari kegabutan di rumah, rasanya pengen main ke curug-curug di Bogor saat weekend. Namun, karena keasikan baca novel sampai dini hari, bangun kesiangan, tidur lagi, dan kebingungan cari-cari kunci motor, perjalanan itu hampir saja batal. Eh, setelah makan siang, kunci motor yang bagusan ketemu. Akhirnya, baru pukul 1 siang kuputuskan berangkat dari Citayam.

Panas? Ya, panas! Sebenarnya, tujuan ke Cikoneng ini juga belum final. Yang penting, aku mau mengarah ke Leuwiliang. Di sana kan banyak curug. Yang kukunjungi, baru Curug Lontar. Curug-curug lain seperti Curug Muara Kracak, Curug Puraseda belum sempat juga aku kunjungi. Nah, ketika aku googling, di situlah muncul rekomendasi Curug Cikoneng. Kenapa kupilih? Kucari yang paling dekat dengan parkiran, langsung ketemu curugnya.

Lokasi Curug Cikoneng

Curug Cikoneng ini ada di Kampung Cikoneng, Desa Puraseda, Kecamatan Leuwiliang, Bogor.  Rutenya, kalau dari Citayam, aku memutuskan berbelok di Kemang, yang tembusnya ke pertigaan Ciampea. Agak teduh dan nggak kena macet-macetan yang biasanya bermula di Dramaga. Dari pertigaan Ciampea, ke kanan, ke arah Leuwiliang. Ikuti saja penunjuk arah. Terus saja sampai ke Desa Puraseda. Kalau sudah sampai ke desa, yang jalan aspalnya sudah banyak rusak, andalkan Google Mapsmu ya buat ketemu belokan ke arah Kampung Cikoneng.

Sepanjang perjalanan, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan perbukitan dan persawahan. Asli, kalau punya banyak waktu, bawa drone, dan berhenti sejenak di persawahan itu bakalan dapat gambar yang rancak.

Sampai di Curug Cikoneng

Perjalanan kurang lebih 1,5 jam sendirian bermotor Mio itu akhirnya sampai. Curug Cikoneng memang terletak di belakang rumah warga, Gaes. Retribusinya 5000 saja. Ditambah biaya parkir. Fasilitas juga cukup memadai. Toilet ada. Warung makan mie juga ada. Lapar juga aku jadi kupesan semangkuk mie kuah rasa soto sambil memandangi Curug Cikoneng yang ramai banget dipenuhi anak-anak berenang.

Curug Cikoneng

Curug Cikoneng ini terdiri dari 2 tingkat. Kolam di bawahnya tidak terlalu dalam kayaknya. Tapi karena airnya tidak terlalu bening, hijau, jadi nggak kelihatan dasarnya kayak apa.

Sambil makan mie itulah aku ngobrol sama anak-anak mahasiswa yang hobi ngebolang. Mereka bilang, di atas curug ini ada banyak curug lain. Total sekitar ada 4 curug katanya. Tapi harus treking dengan jalur lumayan mendaki sekitar 20 menit.

Lah, 20 menit mereka, buat the gendut traveler macam aku kan bisa setengah jam lebih. PP 1 jam. Mana sempat buat pulang. Kesorean.

Curug Cikoneng

Curug Cikoneng

Selesai mie habis, aku pun menuju tingkat II Curug Cikoneng. Lebih sepi. Banyak yang memanjat sisi bebatuan curug ini. Anak-anak kebanyakan. Lalu pada ketinggian tertentu mereka melompat. Salut. Bukan cuma soal berani melompatnya, tetapi juga berapa pasti kedalaman kolamnya. Apakah tidak ada sisi batunya? Kok bisa melompat begitu saja? Aku pengen juga tapi. ya sadar diri, dengan berat badanku, ketinggian segitu kolamnya harus lebih 2 meter biar aku nggak terantuk dasar.

Nekat ke Atas Curug Cikoneng

Namun, dasar aku, penasaran lebih. Akhirnya dari tingkat II Curug Cikoneng, aku mendaki lagi, memaksa limit waktu, mana tahu dapat spot lain. Dan ya, tepat di atasnya, ada curug lain yang lebih kecil. Kolam di bawahnya lebih asik sebenarnya buat mandi.

Di Atas Curug Cikoneng

Dari atas ini, kita bisa menikmati panorama Kampung Cikoneng lho. Andai punya drone, bakal asik banget.

Di atas aku ketemu dengan beberapa anak kecil. Sepertinya mereka orang kampung sekitar sini. Aku pun ajak mereka mengobrol, dan bertanya tentang curug yang ada di atasnya lagi. Katanya, namanya Curug Bidadari. Perasaan banyak banget deh nama Curug Bidadari ini. Kagak kreatif ya kasih nama.

Mendengar cerita mereka, bagaimana rute ke sana, dan melihat waktu aku pun mengurungkan niatku menjelajah. Pasalnya sendirian. Nggak berani ah. Kalau pulangnya terlalu capek, bahaya.

Benar saja. Baru sampai Kracak, hujan turun, dan rasanya lelah sekali. Bermotor sendirian di bawah hujan sampai ke Bogor itu ah, capek beneran. Akhirnya perjalanan itu pun berakhir, tanpa kembali ke Citayam, tapi nginap di tempat adik di Bogor.

Comments

comments

13 thoughts on “Perjalanan Epik dan Dadakan ke Curug Cikoneng, Bogor”

  1. Curug-curug di Indonesia memanh memesona ya, Mas Pring. Termasuk di Bogor.
    Di Kebumen juga banyak, Mas.
    Hanya sayang saya belum sempat ke sana. Menjelajah pantai dan bukit hehehe.

  2. Sering jalan ke bogor, tapi ga tau kalau banyak curug disana, apalagi yang ada di cikoneng, curugnya cakep banget dan agak ekstrim juga manjat sampe atas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *