Aku Pikir Aku Akan Menulis Sajak Cinta Tetapi Aku Tidak Tahu Cinta Seperti Apa

“Cinta adalah…” Betapa sering sebuah kalimat

dimulai dengan cara menyebut cinta. Setiap orang
dari setiap desa akan mengajukan metafora
yang berbeda. Negara dalam Bhinneka Tunggal Ika
maksudnya, berbeda-beda cara dalam ungkapkan cinta.

Itu juga yang menjadi alasan garuda menengok ke kanan
seekor garuda betina tengah tampil cantik menawan.

Setiap cinta butuh kecantikan. Seseorang rela mati
demi kecantikan. Dan segala seni bicara kecantikan.

“Kamu adalah…” Selanjutnya pasti bicara kamu.

Kata sifat, kata kerja, kata keterangan akan lepas
bila tak ada subjek, tak ada objek.

Aku tidak menganggapmu mati dan tak memiliki kehendak

Sebuah cinta selalu membebaskan diri pencinta
dan juga yang dicintainya untuk saling mencintai
atau justru bertepuk sebelah tangan.

Tepukan seperti itu akan sangat dipahami oleh sunyi
yang piawai membujuk banyak orang menjadi penyair mendadak.

“Cinta adalah kamu…” Itu bagiku.
“Kamu adalah cinta…” Itu bagi cinta.

Aku Menyalakan Lilin Untukmu

aku merindukan mati lampu supaya kita dapat berpelukan
di sekitar lilin yang baru dinyalakan
bersama kita memainkan bayangbayang
dan menyaksikan dinding bak layar bioskop dengan film baru tayang

aku menciptakan seekor elang
yang mengepakkan sayapnya pedih
setelah menghabiskan sekepal daging sidharta
cakarnya yang biasa gigih menjadi letih
kau menyebut cakar itu hatiku
lalu tanganmu menyalak, menjadi anjing penjaga

aku telah lama meninggalkan rumah
kau telah lama menungguku pulang

aku merindukan mati lampu terutama
bila hujan turun di antara dua orang kasmaran
aku akan melihat nyala lilin itu tergoda
melepaskan diri dari sumbu ketimbang selalu disalahkan
di antara kita, siapa saja boleh mengaku salah
juga boleh mengaku saling kasmaran

aku tidak tahu mana yang mendekati kebenaran
aku tidak tahu mana yang benar kurindukan

Sesaat Sebelum Pesawatku Jatuh

aku ingin dibiarkan tenggelam dan menghilang
dimakan ikan-ikan kelaparan
atau membusuk tinggal tulang

sebelumnya aku akan menikmati kisah pi
dalam permainan gelombang laut
yang lebih dahsyat dari gelombang maut
dan menatap langit malam tahun baru
tanpa nyala kembang api yang memencar
ada rasi bintang yang malumalu mengintipku
mereka menahan diri agar
aku tak ingat jalan pulang

kau tak perlu mencariku
dengan menghabiskan uang rakyat bermilyar-milyar
dan lima ribu lima ratus ton bahan bakar
yang dapat menjadi ribuan ton pencacah lapar

aku akan tenang, bila tenggelam dan menghilang
dimakan ikan-ikan kelaparan
atau membusuk tinggal tulang

ini seperti seseorang menghamburkan abuku ke laut
aku menyatu dengan yang menyucikan segala
yang kembali kepadanya

suatu hari bila kau merindukanku pula
kau tak akan perlu meratap di pusara
pura-pura menggenggam tanah basah
tetapi pergilah ke pantai utara
dan berharap satu dari sekian banyak pasir di sana
adalah pecahan tulangku yang terdampar

tidak apa-apa, manusia terbiasa dengan kesedihan
juga perasaan kehilangan

Kumpulan Cerpen Kompas 2014

e-book_kumpulan-cerpen-kompas-2014

Inilah cerpen-cerpen yang dimuat di Kompas sepanjang 2014. Bagi yang ingin mengirimkan karyanya, IsilakanĀ dikirimkan ke opini@kompas.co.id

Terima kasih kepada Ilham Q. Moedding yang telah tulus mendokumentasikan semua cerpen ini.

Kumpulan Cerpen Tempo 2014

Ebook_Kumpulan Cerpen Koran Tempo Minggu 2014

Kumpulan cerita pendek Koran Tempo 2014 dapat diunduh pada link di atas. Terima kasih kepada Ilham Q. Moeddin yang telah bersusah payah mendokumentasikan cerpen-cerpen tersebut. Bagi teman-teman yang ingin mencoba mengirim cerita ke Koran Tempo, dapat mengirimkan karyanya ke ktminggu@tempo.co.id

Tolong Tebak, Ada Apa dalam Kepala 1 Januariku?

aku mencoba menumbuhkan pohon di dalam kepalaku, tetapi
tak ada unsur hara yang memadai.
ada hamparan tanah yang gersang, tak dihuni siapa pun
sebatang rumput yang masih bertahan menyebut dahaga
tetapi itu cara terbaik menguji iman

aku pikir-pikir tak pernah ada yang mondar-mandir
kecuali angin yang sudah milik seseorang

aku tak paham, kapan aku akan milik seseorang?

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan