Anna, Nova dan Critical In Danger

September lalu, aku mendapatkan kesempatan untuk datang ke Taman Nasional Way Kambas. Saat itu masih musim kemarau dan kabut asap melanda hampir seluruh Sumatra. Lampung belum terimbas karena arah angin lebih mengutara. Sumber kebakaran terparah pun ada di Sumatra Selatan, Jambi, dan Pekanbaru. Meskipun begitu, di beberapa titik di taman nasional, relawan pengawas api berjaga. Setiap ada potensi kebakaran, api kecil yang mulai tersulut, akan segera dipadamkan.

Saya ke Way Kambas bersama dengan Biodiversity Warriors, sebuah kelompok pemuda yang peduli pada keanekaragaman hayati.

Saat membaca Dunia Anna karya Jostein Gaardner, saya teringat mereka. Saya teringat betapa ada anak-anak muda yang hapal nama spesies, hewan dan tumbuhan, dan merasa sangat antusias ketika menemukan spesies-spesies di habitat aslinya. Mereka pun banyak memberikan pencerahan kepada saya tentang spesies dan pentingnya spesies itu.
Saya juga teringat ucapan Einstein yang mengatakan jika lebah menghilang/punah dari muka bumi ini, maka manusia hanya punya waktu dua tahun lagi untuk hidup. Ucapan Einstein itu mengindikasikan tentang peran dan keterkaitan setiap hal yang ada di dunia ini. Punahnya satu hal akan menjadi sebuah efek kepunahan yang lain. Termasuk juga, satu hal yang kamu lakukan di dunia ini, akan memiliki pengaruh pada keseimbangan alam semesta.

Filsafat seperti itu juga yang ada di Dunia Anna. Sesuai dengan subjudul novel ini yang bicara tentang filsafat alam semesta. Sehingga siapapun yang menyadari bahwa manusia hanya hidup di bumi, sebuah bola yang menggantung di tata surya, yang apa saja bisa terjadi kepadanya, seharusnya tidak merasa sombong. Manusia seharusnya tidak merasa bahwa merekalah yang berhak atas segala sesuatu di bumi ini dan tidak menjaga keseimbangan yang ada.
Ketika itu, di TNWK, saya sempat menyambangi sebuah kali yang kering. Tak ada airnya sama sekali. Di sana diletakkan ember-ember yang akan dipenuhi air dua kali seminggu untuk minum para satwa liar. Saya tak tahu, jika generasi saat ini tak merasa bertanggung jawab pada alam, tak peduli pada alam, generasi mendatang akan menjadi satwa-satwa yang tak lagi memiliki kali air.

Oh betapa….

Joeng

I.
Sudah dua kali hari ini, ada orang datang ke kantor kas negara sambil berurai air mata dan terbata-bata berkata, “Bapak, di mana saya bisa meminta uang dari Tuhan?”

II.
Sebenarnya saya terhitung baru bertugas sebagai front office di Seksi Pencairan Dana, kurang lebih 9 bulan. Ibarat janin, saya baru bersiap diri untuk dilahirkan, merancang tangis pertama agar udara berkenan hadir di paru-paru.

Dunia masih hitam putih, Benar dan salah. Saya periksa SPM1 dengan uji substantif dan formal. Jangan macam-macam, satu huruf saja salah, akan saya kembalikan. Ada kalanya ibu-ibu petugas satker2 menangis, memohon supaya SPM itu diloloskan. Tapi apa daya, peraturan berkata tidak. Air mata gombal tidak cukup untuk jadi alasan kebenaran. Macam-macam saja tingkah pola petugas satker. Tapi kali ini tetap yang paling aneh, meminta uang dari Tuhan?

“Bapak dari satker mana ya?” Seseorang berpakaian bebas, memakai kaos dan celana tiga perempat, bersandal jepit dan belum mematikan rokoknya tiba-tiba menyelonong masuk, bertanya, tanpa nomor antrian.
“Satker itu apa?” dia balik bertanya.
“Satuan kerja, Pak. Stakeholder kita dari satuan kerja yang menerima DIPA APBN. Kalau Bapak mau mengajukan SPM ke loket 1, dalam hal ini saya. Kalau mau rekonsiliasi, ke loket 2 di sebelah kiri, Pak.”
“Stikholder itu makanan jenis apa? Daging sapi atau kerbau?”
“Bapak jangan main-main dengan saya!” Saya menggebrak meja, marah. Akhir-akhir ini saya cukup sensitif. Apalagi saya baru saja ditinggal kekasih. Karena tak kuat pacaran jarak jauh, dia bilang tidak cinta lagi. “Maaf kalau saya tidak sopan dengan Bapak, tapi tolong dong, kalau ke kantor itu harus berpakaian minimal celana panjang dan bersepatu!” Nada saya kali ini lebih keras.

Dia tidak menjawab. Tiba-tiba membalikkan badan, dan langsung keluar ruangan. Saya ditinggalkan dengan penuh tanda tanya. Tuhan tampaknya senang sekali memberi tanda tanya, selain tanda seru. Pacar saya itu, sudah sembilan tahun kami pacaran, sudah semua saya berikan, bahkan kejantanan pun sudah rela saya pasrahkan. Beginilah perempuan sekarang—banyak merayu, banyak menipu. Kedok lugu dan imej sebagai korban selalu digembar-gemborkan. Padahal, seringkali perempuanlah yang merusak lelaki, memperkosa kecintabutaan kami pada keindahan perempuan.

Minggu terakhir bulan. Sepi. Saya memandang keluar, tampak pohon perdu menggugurkan daunnya. Jalan muram, tapi tetap harus hati-hati. Tentang sapi dan kerbau, bila orang Mataram berkendaraan diibaratkan sapi, di Sumbawa Besar mereka seperti kerbau. Normalnya, kita bisa memperkirakan laju kendaraan untuk jarak tertentu. Di sini tidak. Bila dari jauhan ada yang bermotor, berjalan lambat, kita tetap harus waspada, karena bisa saja tiba-tiba ia mengebut, menarik putaran gasnya hingga maksimal, menderu-deru, seolah memamerkan diri sebagai orang pertama yang punya motor di muka bumi ini.

Saya jadi merindukan Palembang. Meski tanpa suara ombak, tanpa bunyi printer dot matrix—pencetak SP2D3 yang dalam satu tahun mencapai dua puluh lima ribu lembar. Pagu 900an milyar. Tapi belanja modalnya seperti daging koyor-koyor, gelondongan, menumpuk di akhir tahun anggaran, mepet-mepet dengan batas akhir pengajuan SPM. Padahal Presiden sudah marah-marah. Penyerapan anggaran dengan tren demikian tentu tidak akan berefek pada masyarakat. Alhamdulillah, kadang-kadang Presiden kita itu ada benarnya.

III.
Saya agak sensi sama sekretaris kantor ini. Kemarin saya pergoki dia bikin teh pakai air kamar mandi. Serta merta saya disemprot dan diancam akan dikempesi badan saya yang gemuk ini bila berani-beraninya membocorkan hal itu. Saya ini pintar menyimpan rahasia, jadi saya cukup mengatakannya kepada Pak Slamet sambil berbisik, “Ini rahasia ya, jangan bilang ke siapa-siapa!” Sore harinya saya kena semprot lagi, karena teh di dalam ceret itu sedikit pun tak berkurang. Dia bilang pasti saya telah memprovokasi orang-orang.

Pagi-pagi tidak ada satker. Pukul 11 ke atas mereka baru akan datang sekalian pulang. Pegawai Pemda memang parah-parah. Karena absen tidak handkey, mereka bisa bebas datang jam berapa pun dan pulang bila anak-anak mereka kelar bersekolah. “Sekalian menjemput,” kilahnya.

Asumsi saya pun terbukti. Pukul 12 kurang, nyaris istirahat, seorang petugas satker datang dengan setumpuk SPM dibungkus map di tangannya. Dari seragamnya saya tahu dia dari Badan Pusat Statistik. Saya agak heran sama satker satu ini karena SPM yang setumpuk itu hanya berisi belanja 52 yang berupa honor. Semua kegiatan survey dari a-z diberi honor. Saya pun berseloroh, “Mbak mbak… kalau semua hal dihonorin, jadi tupoksi pekerjaan Mbak di kantor apa sih?”

Yang menjawab malah bukan dia. Pak Slamet menyeringai sinis di samping saya dan berkata, “Tupoksinya ya absen, Pring. Mereka digaji cuma buat absen….”

Di dalam hati saya mengaminkan tetapi tidak ikut menyeringai karena khawatir si mbak makin tersinggung nantinya.

Saya bertanya begitu bukan karena saya marah pernah tidak lulus ujian masuk STIS dan malah diterima di STAN. Tetapi, saya benar-benar peduli pada nasib anggaran belanja negara dan daerah yang sudah mayoritas dihabiskan di belanja pegawai (51) malah ditambah seenaknya di 52 untuk keperluan pegawai. Harusnya, jenis belanja itu digemukkan di 53 alias belanja modal guna pembangunan infrastruktur. Penyerapan anggaran yang ideal tentu harus berporsi demikian agar terasa manfaatnya pada masyarakat sekitar.

Saya periksa SPM pertama, sudah ada yang salah. Klasifikasi anggaran pada SPTB3 tidak ditulis dengan benar. Pasti hasil copy-paste dari lembar SPTB yang lain. Heran saya melihat bendahara-bendahara kadang belum paham dengan penulisan klasifikasi anggaran atau bahkan ada yang mengatakan bahwa ganti uang persediaan hanya dapat diajukan satu bulan sekali secara rutin. Padahal ganti uang persediaan itu bisa dimintakan berkali-kali dalam satu bulan selama pertanggungjawabannya mencapai 75% nilai uang persediaan.

Sedang asik-asiknya saya memeriksa SPM, suara sekretaris yang cempreng itu terdengar lantang mengusir seorang peminta sumbangan. Si Joeng, bahasa Sumbawanya cerewet, menghalang-halangi lelaki tua itu yang hendak memaksa masuk ke ruang kepala kantor. Merasa tidak berhasil, ia balik berlari ke arah saya. Beruntung ia tidak nekat melompati meja loket penerimaan SPM. “Bapak, katakan, harus ke mana lagi saya meminta uang dari Tuhan?”
Dahi saya bekernyit. “Siapa yang bilang kas negara itu tempat meminta uang dari Tuhan?” Nada saya agak tinggi.
“Orang.”
“Orang yang mana?”
“Orang ya orang.”

Hampir habis kesabaran saya, Si Joeng datang dan langsung memegang lengan peminta sumbangan. Dengan paksa, ia menyeretnya keluar. Sementara itu, satpam-satpam yang harusnya berjaga dan yang duduk di dekat pintu masuk, bertugas membukakan pintu bagi setiap tamu yang datang entah sudah menghilang ke mana. Kepala Kantor serba salah dalam hal ini. Pernah saya tanyakan kenapa kita tidak menggunakan tenaga penyedia jasa satpam dan cleaning service seperti halnya kantor pajak. Beliau menjawab tidak mudah untuk “memecat” dan mengganti mereka sebab sudah lama mereka bekerja di sini. “Mengganti mereka bisa saja sama dengan membunuh hidup mereka, Pring….” Saya diam kalau alasannya sudah perasaan.

Perasaan. Ah, perasaan. Saya kembali mengingat Aina. Apa Aina punya perasaan? Kalau tidak, harusnya Aina saja yang jadi kepala kantor. Biar kinerjanya bagus, pegawai tentu harus diperintah seperti robot. Kalau sudah usang, dipensiunkan. Kalau tidak bisa diinstalasi program terbaru, disingkirkan di gudang sampai menunggu penghapusan barang dari KPKNL. Duh.

Saya kemudian menghadap kepala seksi. Bapak satu ini dekat dengan Tuhan. Shalatnya selalu pas setelah adzan. Dia yang pernah bilang, Tuhan selalu mendatangi kita tapi kita tak sedang di rumah. Ah, saya selalu merasa di rumah. Hanya kadang-kadang saya sedang tidur dan tak mendengar ketukan pintu. Selain konsultasi masalah pencairan dana dan peraturan-peraturan terkait, beliau selalu mau mendengarkan keluhan-keluhan saya tentang Tuhan. Tuhan yang satu itu sering bikin saya galau.
“Permisi Pak…”
“Ya, duduk. Ada apa, Mas?”
“Begini, Pak… tadi ada orang datang ke sini…”
“Satker? Pihak ketiga? Kalau pihak ketiga, usir aja… jangan sungkan-sungkan.”
“Bukan. Bukan keduanya. Ini orang, tiba-tiba datang terus bertanya, di mana bisa meminta uang dari Tuhan.” Pak Kepala Seksi malah melongo. “Saya pikir di kantor ini bapak yang paling kenal Tuhan, barangkali bapak tahu di mana tempatnya,” lanjut saya.

Bapak itu tampak berpikir keras. Tetapi tidak ada adegan bola lampu menyala di samping kepalanya. Ia mengetuk-ngetukkan pensil di atas meja lalu berkata, “Ini berat, Mas. Saya tidak tahu caranya meminta uang dari Tuhan, kalau memanjatkan doa saya tahu…”
“Jadi bagaimana harusnya kita memberi jawaban, Pak? Saya tak tega melihat orang-orang itu datang dan penampakannya sangat lusuh sekali. Mungkin mereka benar-benar butuh uang. Sementara negara bukanlah Tuhan yang dapat memberikan uang kepada pihak yang benar-benar membutuhkan.” Saya pun menjadi iba dan prihatin seperti kebiasaan presiden.
“Iya sih… kamu benar. Nanti saya pikirkan sebuah cara,” tukasnya.

KPPN selama ini memang jadi tempat yang dituntut serba tahu. Jadi, kalau tak dapat menjawab saat ditanya, itu adalah aib. Beberapa hari yang lalu ada yang protes karena terdapat selisih antara saldo di aplikasi SAKPA4 dengan aplikasi BMN5. Saya jawab, KPPN tidak mengurusi masalah BMN, itu wewenangnya KPKNL6. “Lho kalian kan sama-sama Kementerian Keuangan, kok tidak tahu menahu sih?!” Dia agak marah. Saya jawab, “Apa Ibu tahu-menahu soal Ditjen Pendidikan Islam di Kementerian Agama, kan sama-sama 025?” Dia pun diam. Tapi itu belum seberapa, ada seorang lagi yang datang saat hujan, membawa mobil, parkir tepat di depan pintu masuk, lalu membawa beberapa perangkat komputer sambil berkata, “Tolong cek komputer saya, apanya yang rusak?” Duh.

IV.
Tepat sebelum istirahat, orang yang kali pertama datang menanyakan uang dari Tuhan itu datang lagi. Pertanyaannya agak berbeda, “Tolong jangan berbohong, saya tahu di sinilah tempat meminta uang dari Tuhan!”

Kami sudah mengantisipasi ini. Pak Kepala Seksi berinisiatif meminta sumbangan sukarela kepada para pegawai dengan dalih untuk membantu fakir miskin. Fakir miskin dan anak terlantar seharusnya dipelihara negara dan kami, para pegawai pemerintah juga harus ikut bertanggung jawab pada mereka. “Ini Pak, semalam Tuhan mengirimkannya diam-diam. Ini untuk semua orang yang meminta uang dari Tuhan.”

“Tuh kan, kalian ini jangan coba-coba menyimpan uang yang bukan hak kalian!” Dia membuka amplop. Saya yang geram. Seenaknya saja menuduh demikian. Biar pun dikata nanti saya masuk neraka, penyebabnya tak akan karena korupsi. “Hah, kok jumlahnya Cuma sembilan ratus lima puluh ribu? Saya mintanya kan satu juta!” tambahnya tak puas.

Karena bingung menjawab apa, saya katakan, “Pajak penghasilan 5%. Dipotong itu.”
“Ooo, memang dasar ya tukang pajak itu, Tuhan saja masih dipotong.” Dia mengangguk-angguk sebelum pergi dan saya harap tak akan pernah kembali.

V.
Saya datang ke KUA. Penjaga di loket pelayanan yang seadanya menyambut saya dengan muka kecut. “Maaf Bapak, ada keperluan apa?” tanyanya.
“Tolong katakan sejujurnya, di mana saya bisa minta istri dari Tuhan?!”

(2012)

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

SAYEMBARA MANUSKRIP BUKU PUISI DEWAN KESENIAN JAKARTA 2015

SAYEMBARA MANUSKRIP BUKU PUISI DEWAN KESENIAN JAKARTA 2015

Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, tahun ini mengadakan Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015. Sayembara ini diadakan untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan puisi. Berikut adalah ketentuan-ketentuannya:

1. KETENTUAN UMUM

Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan fotokopi KTP atau bukti identitas lainnya),
Naskah belum pernah diterbitkan dalam bentuk utuh sebagai buku, baik cetak maupun elektronik
Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa
Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik
Tema bebas
Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya)
Naskah merupakan karya yang ditulis 10 tahun terakhir
2. KETENTUAN KHUSUS

Menggunakan A4, spasi 1, bentuk huruf Times New Roman ukuran 12,
Naskah minimal 50 halaman
Menyerahkan biodata, alamat surat, dan nomor kontak di lembar terpisah
Empat salinan naskah dikirim ke:
Panitia Sayembara Manuskrip Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya No. 73
Jakarta 10330
Batas akhir pengiriman naskah :7 November 2015 (cap pos)
3. LAIN – LAIN

Para pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugrah Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada Desember 2015,
Hak cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis
Naskah pemenang yang diterbitkan menjadi buku harus mencantumkan logo Dewan Kesenian Jakarta dan keterangan bahwa penerbitan buku ini didukung oleh Dewan Kesenian Jakarta
Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat menyurat
Pajak ditanggung Dewan Kesenian Jakarta
Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2013 – 2015 dan keluarga inti Dewan Juri
Maklumat ini bisa diakses di www.dkj.or.id
Dewan Juri terdiri dari sastrawan dan akademisi sastra
4. HADIAH

Pemenang I Rp 15.000.000,-
Pemenang II Rp 10.000.000,-
Pemenang III Rp 7.000.000,-
Masing – masing pemenang mendapatkan subsidi sebesar Rp 10.000.000,- untuk menerbitkan buku, subsidi ini diberikan kepada Penerbit
5. JADWAL

Publikasi maklumat: Agustus 2015
Pengumpulan karya: Agustus-November 2015
Penjurian: November-Desember 2015
Pengumuman pemenang: Desember 2015

Motor Terbang

Baiklah, sekarang aku mengerti bagaimana seharusnya cerita ini dimulai. Percaya atau tidak, itu terserahmu.

Kemarin, aku melihat dua benda melayang di langit Mantar. Ketika semua orang terpaku pada pemandangan puncak Rinjani yang diselimuti cahaya keemasan, aku menoleh ke arah sebaliknya. Di balik bukit, dua benda naik pelan-pelan. Aku pikir ada yang salah dengan mataku. Kupicingkan mata, dan lebih jelas dua benda itu seperti sepeda motor.

Secara literal, melayang berbeda dengan terbang. Aku pernah melakukan percobaan telur melayang di dalam gelas. Mula-mula tuang air hingga setengah penuh, lalu beri garam secukupnya, aduk hingga larut. Tuangkan lagi air hingga memenuhi gelas. Baru masukkan sebutir telur ke dalamnya. Telur akan melayang tepat di tengah gelas. Melayang adalah soal massa jenis. Air garam memiliki massa jenis yang berbeda dengan air biasa. Sementara terbang adalah soal aerodinamika.

Aku ingin teriak, tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Aku menoleh ke arah yang lain, mencari teman-temanku, tetapi aku melihat pemandangan lain yang tak ingin kusaksikan. Nacinta tengah memeluk mesra Pangestu. Masing-masing satu tangan mereka memegang tongsis dan membiarkan latar belakang matahari terbenam mendoakan kisah cinta yang tengah mereka jalin.

Hatiku seperti ditusuk-tusuk cahaya senja membayangkan betapa sebenarnya aku mencintai pacar sahabatku sendiri. Dan rasa sakit itu menyingkirkan ribuan pertanyaan tentang dua benda yang kulihat itu.

“Jangan sampai ada barang yang ketinggalan!” seru Komandan Sajidin.

Aku mengemasi barang-barangku dengan payah. Entahlah, kenapa menyusun baju-baju kotor ke dalam tas selalu lebih sulit. Tas lebih menggelembung dan melihat keadaan itu aku semakin emosi dengan menjejalkan secara paksa segala yang belum kumasukkan.

Nacinta dengan cekatan membantu Pangestu membereskan barang-barangnya. Melihat hal itu, aku semakin cemburu.
Menuju Mantar, kami naik motor beramai-ramai dari Sumbawa Besar, menempuh jarak kurang lebih 120 km. Kemudian motor kami titipkan di rumah warga sebelum menyewa mobil yang secara khusus membawa penumpang naik ke Mantar dengan sudut elevasi jalan lebih dari 45 derajat. Ditambah lagi jalannya tidak mulus, berbatu-batu, dan tidak memiliki pelindung di bahu jalan. Sekali terpeleset, salah mengegas, kita bisa langsung terjun bebas ke jurang-jurang. Sekarang, pulang berarti perjalanan akan begitu menukik. Aku bayangkan kata menukik itu seperti burung elang yang sedang terbang tiba-tiba melihat seekor ayam, kemudian menyambarnya.

“Pernahkah burung-burung terbang bertabrakan?” Tercetus begitu saja pertanyaan itu kepada Randal Patisamba. Randal Patisamba menatapku heran.

“Pernahkah pesawat-pesawat terbang bertabrakan?” Aku ganti pertanyaanku.

“Belum. Belum kudengar tuh pesawat bertabrakan. Kecuali perang… atau pengemudinya mabuk mungkin?” jawab Randal sekenanya.

“Pengemudi? Pilot maksudmu?”
“Ya lah, pengemudi pesawat disebut pilot, pengemudi kapal laut disebut nakhoda, pengemudi kereta disebut masinis, pengemudi mobil disebut sopir. Sama-sama pengemudi.”
“Kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Kenapa pesawat-pesawat tidak bertabrakan?”
“Kenapa ya?” Karena langit luas, pesawat sedikit… mungkin.”
“Bahkan dalam jalan yang sepi, mobil-motor bisa bertabrakan?”
“Nah itu, karena di langit tak ada jalan.”

Di langit tak ada jalan. Jalan-jalan raya di Indonesia kebanyakan tidak layak. Sepanjang Sumbawa Besar-Sumbawa Barat saja jalan-jalan rusak. Padahal setiap tahun ada perbaikan jalan, tetapi setiap tahun pula jalan itu rusak kembali. Aku pernah bertemu seorang kontraktor yang berdalih jalanan rusak karena penganggarannya tidak mencukupi. Jalan di Alas misalnya, sangat tidak stabil dan membutuhkan konstruksi jalan lebih dalam dan hal itu perlu biaya yang lebih. Namun, APBN terbatas dengan target sekian kilometer pengerjaan. Mau tidak mau, para kontraktor menyanggupi dengan pengerjaan yang minimalis.

Jalan-jalan yang rusak itu berbahaya. Jalan-jalan yang bergelombang, apalagi berlubang, tidak bersahabat dengan kecepatan kendaraan. Suatu sore, aku pernah bermotor di Lombok Timur dengan temanku. Hari hujan, kami jalan dengan kecepatan yang cukup hati-hati. Di tengah jalan, kami hampir saja mengalami kecelakaan. Motor yang kami kendarai mengenai lubang sehingga sempat oleng. Apalagi jalanan teramat licin. Untunglah, keseimbangan temanku itu cukup kokoh. Ketika motor hilang keseimbangan, ia tidak panik dan dapat mengendalikannya. Kubayangkan jika aku jatuh, kepalaku akan pecah karena aku tak memakai helm. Syukurlah hal itu tidak terjadi. Hanya ban motor depan yang pecah dan kami harus menuntun motor itu bergantian hinga sampai ke bengkel.

Sejak saat itu aku berjanji akan selalu memakai helm. Aku tak dapat membayangkan lubang-lubang di jalanan dapat dengan mudah mencabut nyawa seseorang.
Sementara lubang di dadaku tidak tahu kapan akan mencabut nyawaku.
“Apa yang kamu pikirkan, Phi?” tanya Randal Patisamba.
“Kau pernah kecelakaan?” tanyaku.
“Ya. Sampai patah rahang.”
“Apakah patah rahang lebih sakit dari patah hati?”
“Aku tidak pernah patah hati. Aku tak mau patah hati. Tapi aku lebih tak ingin patah rahang lagi.”

Aku juga tak bisa membayangkan bagaimana rasanya patah rahang. Dia bercerita panjang lebar mengenai kondisinya saat sebelum operasi dan hal itu membuatku ngilu.

“Yang sulit bukanlah menahan sakit tak terperi dari rahangku… meski itu sangat sakit sekali… melainkan betapa lama aku harus menunggu kejelasan statusku. Bayangkan, pertama, pihak jaminan kesehatan harus mendapat cukup bukti kalau aku benar-benar kecelakaan. Setelah itu, aku harus menunggu dokter spesialis tulang satu-satunya datang untuk menilai kondisiku. Tiga hari aku hanya diberi obat penahan rasa sakit. Tiga hari aku diberi harapan akan segera operasi. Namun, ketika dokter datang, ia menyatakan tak sanggup mengoperasiku. Aku harus dirujuk ke Mataram. Dan aku harus menunggu jadwal ambulans yang bisa mengantarku ke Mataram. Di Mataram pun, rakyat miskin dengan jaminan kesehatan sepertiku harus dibuat menunggu jadwal operasi. Kamu tahu, Phi… perasaan menunggu dan diabaikan itu lebih menyakitkan dari sakit patah rahang ini!”

Aku mencium emosi dari kalimat Randal. Dan tak bisa kubayangkan deritanya.

Kalau aku jadi dia, mungkin aku sudah kapok naik motor. Trauma. Tetapi pekerjaannya sebagai asisten penyuluh pertanian membuatnya harus menjadi biker sejati. Tidak mungkin ke Tepal dengan mobil. Tidak mungkin ke Batu Rotok dengan mobil. Ke Mantar pun aku membonceng Randal. Randal bahkan tidak naik ke Mantar dengan mobil yang disiapkan. Ia mendaki terjal jalan dengan motor kesayangannya sendirian.

Pengalaman seseorang bermotor tidak menjamin keselamatannya di jalan. Ada tangan lain yang berperan. Tangan takdir.
Tangan takdir yang sama membuatku bertanya-tanya tentang cinta. Nacinta mengenalku lebih dulu, menangis di depanku lebih dulu, dan bercerita banyak di depanku lebih dulu, tetapi aku hanya dianggapnya sebagai kakak, tak lebih. Sementara seseorang yang baru datang, tak berinisiatif banyak, dapat langsung meyakinkan dirinya bahwa seseorang itulah yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Kenapa jantung kita dapat berdetak lebih cepat pada beberapa situasi?

Teman-teman Adventurous Sumbawa mulai menaiki mobil berbak terbuka satu per satu. Tampak pemandangan Pangestu menarik tangan Nacinta. Dan itu lebih menyakitkan ketimbang kegagalan untuk menyaksikan pemandangan awan berarak di bawah kami. Ya, dini hari tadi, aku sudah bangun pukul 3 dan memberanikan diri di dalam kepungan dingin demi menanti sensasi berada di atas awan. Begitulah julukan Mantar, Negeri di Atas Awan. Tapi sekitar pukul 4, angin bertiup kencang dan mengusir awan-awan di bawah kami hingga menjauh. Alhasil, ruang di depan kami menjadi hampa dengan beberapa lampu menyala saja. Untungnya, matahari terbit dengan latar Tambora menghasilkan penghiburan yang cukup menyenangkan.

~

Kami bersepakat untuk rehat sejenak di Rhee nanti. Jagung-jagung Rhee yang berwarna putih dan berasa sangat manis menunggu untuk kami santap.

Tidak tahu siapa yang memulai, tiba-tiba saja kami sudah terlibat kebut-kebutan. Randal Patisamba dengan pengalamannya mulai memacu motor dan berhasil mendahului semua motor di depan kami. Aku sebenarnya takut dengan kendaraan yang melaju lebih dari 80 km/jam, tetapi entahlah, aku merasa aman bersama Randal.

Medan di Sumbawa Barat memang sangat indah dan menarik untuk kebut-kebutan. Kalau pemerintah Indonesia hendak mengadakan Moto GP, sirkuitnya akan sangat seru bila di sini. Kubayangkan Valentino Rossi akan menggeber motornya, dengan trek penuh tikungan, itu akan menjadi favorit Rossi. Di Bukit Cinta, pemandangan laut dan pulau-pulau kecil di sekitar Poto Tano menjadi lukisan sempurna yang dilukis Tuhan.

Satu motor kemudian menyalip kami. Aku mengenali mereka, Pangestu dan Nacinta.

Pasti di belakang sana, Komandan Sajidin tengah marah-marah melihat keadaan ini. Ia paling menekankan keselamatan. Di laut, di darat, ia selalu hati-hati, penuh perhitungan, karena rasa tanggung jawabnya sebagai pemimpin rombongan.

Tikungan-tikungan ini mengingatkanku pada Sitinjau Laut. Perjalanan dari Padang menuju Solok selalu harus melalui Sitinjau.

Aku menoleh ke kanan, menengadah, dan tergetar diriku melihat pemandangan yang kusaksikan. Dua benda melayang di langit. Kali ini mereka berada di atas awan.

“UFO!” sontak aku berteriak.

“Cupu!” Satu teriakan lain terdengar sekelebat. Satu motor lain mendahului kami dan mengejar Pangestu.

“UFO siapa yang cupu?” tanya Randal Patisamba yang tak paham situasi. Dia sangat fokus dengan jalanan yang curam dan menikung.

Tak mau mengganggu konsentrasinya, aku cari lagi dua objek melayang tadi. Awan-awan menggumpal di langit. Aku yakin tidak salah lihat dan terus mencari keberadaan mereka.

Memperhatikan lebih seksama, aku melihat keanehan-keanehan lain dari awan yang ada. Aku paham betul mengenai pareidolia, keadaan psikologis seseorang untuk melihat kemiripan sebuah objek berdasarkan preferensi yang dimilikinya. Tetapi ini sungguh aneh untuk disebut kebetulan ataupun pareidolia. Satu awan berbentuk seperti pedang. Satu awan seperti seseorang sedang tertawa. Awan yang lain menampilkan bentuk orang mengenakan jubah. Dan di antara awan-awan itu, dua objek melayang itu kembali terlihat.

“Randal, Randal! Kau lihat itu!?” Randal memperlambat lajunya dan menepi di bahu jalan. “Itu!” tunjukku ke arah langit.
Randal mendongak. “Apa? Awan?”
“Kau tak melihat hal yang aneh dari itu?”
Belum sempat Randal menjawab, terdengar bunyi rem berdecit disusul bunyi benturan keras di sekitar kami. Jalan di bawah-depan kami menampilkan pemandangan yang mengerikan. Dua motor di depan kami terguling. Pangestu membuka helmnya dan berjalan menuju sosok perempuan yang tergeletak tak berdaya. Tak jauh dari situ, sesuatu berwarna merah menggenang di sekitar tubuh seseorang. Aku tahu itu darah.

Di langit, pemandangan benda melayang sudah tak ada. Awan-awan pareidolia menjadi lebih mengerikan. Awan-awan berbentuk makhluk berjubah dan makhluk tertawa itu kini seperti langsung menatap padaku.

Saat kuceritakan hal ini kepadamu, mungkin kau akan menertawaiku, menganggapku gila, tetapi pertimbangkanlah satu hal ini, bahwa barangkali aku dapat melihat pertanda. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini…. ya, alam akan memberi pertanda atasnya.

(2015)

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Hoda Motor dan Nulisbuku.com

Seratus Ribu Anak Panah Cao-Cao

“Kita ingin menyerang pasukan Cao, senjata apakah yang terbaik untuk digunakan bila kita ingin menyerang mereka dari sungai?”

“Busur dan anak panah adalah senjata yang terbaik,” jawab Zhuge Liang.

Zhou Yu berkata, “Benar, apa yang Tuan katakan sama dengan apa yang saya pikirkan. Sekarang pasukan kita kekurangan anak panah, sudilah kiranya Tuan bertanggung jawab untuk segera membuat seratus ribu anak panah.”

Zhuge Liang membalas, “Saya pasti akan memenuhi amanat Anda. Hanya saja saya tidak tahu kapan kiranya seratus ribu anak panah ini digunakan?”.

Zhou Yu bertanya, “Dapatkah Anda membuatnya dalam waktu sepuluh hari?”

Zhuge Liang menjawab, “Tentara Cao akan segera datang, bila pembuatannya baru selesai dalam sepuluh hari, kita pasti menghambat perkara besar.”

Zhou Yu pun kembali bertanya, “Kira-kira Tuan perlu berapa hari untuk dapat menyelesaikannya?”

“Hanya tiga hari,” balas Zhuge Liang.

 

Salah satu adegan paling menarik di dalam film Red Cliff 2 adalah janji Zhuge Liang kepada Zhao Yu untuk mendapatkan 100.000 anak panah dalam waktu tiga hari. Dalam keadaan kekurangan sumber daya untuk menghadapi satu juta pasukan Cao Cao yang sedang berada di sungai Yang Tse, Zhuge Liang melakukan strategi unik dan berani.

Malam itu kabut turun pekat. Zhuge Liang melayarkan kapal-kapal yang dipenuhi dengan jerami. Menyadari musuhnya mengalami kesulitan jarak pandang, Zhuge Liang memainkan lawan dengan menabuh genderang perang dan beberapa anak panah yang dilepaskan dengan sengaja agar lawan mengira mereka sedang diserang.

Merasa sombong dan di atas angin, lawan mereka menembakkan ribuan anak panah ke dalam kabut yang pekat. Zhuge Liang terus menabuh genderang dan lawan semakin geram sehingga ribuan anak panah lain melesat menghujani kapal-kapal jerami.

Anak panah yang dilepaskan lawan menancap di kapal-kapal jerami dan anak-anak panah itulah yang kemudian diserahkan Zhuge Liang kepada Zhao Yu untuk menyerang Cao-Cao.

Zhuge Liang atau juga disebut Naga Tidur merupakan penasehat perang terbaik di masa tiga kerajaan. Zhuge Liang terkenal dengan kemampuannya dalam membaca alam, pintar, dan sering kali menggunakan taktik perang yang didukung oleh alam sehingga dengan prajurit yang terbatas, ia menjadi lebih efektif dan efisien dalam berperang. Sehingga sosoknya menjadi sangat vital bagi negara Shu yang dipimpin oleh Liu Bei. Ia juga pencetus ide pendirian 3 kerajaan untuk menjaga kestabilan negara Han dari rezim Cao-Cao.

Kekuatan utama Zhuge Liang sebagai seorang pemimpin ada pada ciri model the way dan challenge the process.

Zhuge Liang pun paham begitu pentingnya strategi dan perencanaan. Strategi taktis yang diusulkannya mampu mengantarkan pada kemenangan perang. Dalam ilmu manajemen dan kepemimpinan, salah satu pilar penting yang tidak boleh dilupakan adalah perencanaan.

Ia memiliki pembawaan yang tenang dan rendah hati. Tetapi ia memiliki cara yang tidak biasa. Caranya mendapatkan 100.000 anak panah Cao-Cao adalah contohnya. Belum lagi strateginya dalam bertaruh bahwa implikasi dari rangkaian strateginya akan menimbulkan ketidakpercayaan Cao-Cao pada dua laksamana yang paling paham medan. Di sinilah, titik balik kemenangan perang itu terjadi.

Zhuge Liang juga memahami betul filosofi seni. Ia menantang Zhao Yu bermain kecapi untuk mendapatkan kepercayaan Zhao Yu sekaligus saling menilai kapasitas masing-masing.

Zhou Yu adalah penasehat perang yang telah dipercaya 3 generasi klan Sun semenjak diperintah oleh Sun Jian hingga Sun Quan. Zhou Yu merupakan tipikal penasehat perang yang taktis dan sangat menguasai taktik perang di perairan. Zhou Yu juga merangkap sebagai komandan perang. Ia memiliki kemampuan dalam menggerakkan perasaan prajurit hingga menaikkan moral mereka. Tipe lainnya adalah observer. Ia akan menguji kemampuan bawahan dan teman yang menjadi sekutunya hingga ia yakin dan akan terus menjaga keyakinannya.

Sebagai contoh, adanya peristiwa pencurian kerbau penduduk oleh prajuritnya. Prajurit yang mencuri kerbau itu berada di batalionnya Gan Xian dengan ciri kaki yang terkena lumpur. Namun, Zhou Yu tidak langsung menghukum prajurit tersebut. Justru ia membela prajurit tersebut dengan menyuruh prajurit lain menginjak lumpur agar tanda tersamarkan. Gan Xian sebagai pemimpin batalion melihat hal tersebut akhirnya sadar dan meminta maaf langsung kepada petani yang dicuri sapinya hingga membuat para prajurit terharu karena kesalahan prajurit biasa ditanggung oleh jenderal mereka. Hal inilah yang membuat moral prajurit menjadi lebih percaya kepada pemimpin. Filosofi pemimpin ialah membela bawahan bukan langsung menyalahkan karena kesalahan bawahan bisa saja karena kesalahan pemimpin dalam mendidiknya.

Cao cao merupakan perdana menteri dan jenderal utama dari negara Han. Ia adalah pemimpin yang memiliki segalanya, kepintaran dan seni berperang, dukungan politik dan militer, hingga pengalaman perang yang sangat banyak dengan catatan rekor tidak pernah terkalahkan. Tetapi, ketamakan akan kekuasaan yang menjadikan ia jatuh menjadi pemimpin yang dibenci.

Seni berperangnya setingkat Zhou Yu dan Zhuge Liang akan tetapi terkadang ia ceroboh terutama pada godaan wanita yang merupakan sumber peperangan kali ini.

Sebelum berperang masing masing pihak saling menganalisis SWOT. Faktor geomorfologi pegunugan dan perairan dijadikan landasan analisis fisik dasar dan infrastruktur yang menunjang dalam perang seperti kapal perang di area yang dominan perairan.

Pihak aliansi Wu-Shu telah lebih dahulu berbasis di area tebing merah sebelah timur yang telah turun temurun dijadikan benteng alam akan tetapi Cao cao juga bisa membaca dengan menjadikan tebing merah di sebelah barat sebagai benteng alam juga. Sayangnya analisis Cao cao kurang komprehensif sehingga ia tidak mempertimbangkan faktor skenario terburuk dalam perang karena ia belum pernah terkalahkan sekalipun sehingga ia lupa bahwa tebing di sisi barat tidak memiliki area untuk melarikan diri ke arah barat.

Pada awalnya Cao Cao sangat diuntungkan dengan bergabungnya dua laksamana yang menyediakan, dan membangun angkatan laut. Akan tetapi karena perencanaan terstruktur, rapi dan sangat rahasia oleh Zhou Yu dan Zhuge Liang yang menyebabkan Cao Cao membunuh laksamananya sendiri—karena kurangnya kepercayaan Cao Cao yang juga telah membaca bahwa banyak panglima pendukungnya yang kurang loyal.

Faktor lain yaitu perencanaan Demografi atau Manpower. Cao Cao yang memiliki manpower/ prajurit yang banyak sebenarnya sangat beruntung dan menjadi nilai tambahnya. Ia menjaga moral prajuritnya dengan janji-janji berupa pembebasan pajak selama 3 tahun, penaikan pangkat, dan kemenangan. Ini adalah ciri kepemimpinan transaksional. Cao-Cao untungnya juga merupakan motivator yang baik sehingga moral prajuritnya tetap terjaga walaupun tidak diuntungkan secara geografis—prajurit Cao cao tidak terbiasa berperang di atas perairan—dan pada saat wabah menyerang.

Sedangkan pihak Wu dan Shu yang sangat dipercaya oleh prajuritnya memiliki kekurangan dari segi jumlah tetapi lebih merata di bidang kemampuan dalam perang di wilayah perairan di isi oleh pasukan dari Wu dan dalam perang di wilayah darat di isi oleh pasukan Shu.

Faktor iklim dan hidrologi sangat dibutuhkan terutama dalam bersiasat. Sebenarnya Cao Cao telah dapat membaca iklim saat itu sangat membantunya terutama dalam perang besar dengan menggunakan api akan tetapi ia masih kurang pengetahuan terhadap iklim dan hidrologi dibandingkan Zhuge Liang sehingga justru di saat yang tepat malah menjadi kekuatan pembantu pasukan aliansi.

Proses perencanaan berikutnya adalah urutan aplikasi atau kata mudahnya urutan taktik yang akan dijalankan.

Di pertempuran darat yang pertama pasukan aliansi memakai formasi perang kura kura darat dan di kubu Cao Cao mengirim pasukan frontline kavaliernya yang terkenal. Di pertempuran berikutnya Cao Cao mengirimkan penyakit ke kubu pasukan aliansi dengan sangat tidak manusiawi dan dibalas dengan tipu muslihat pengambilan panah oleh Zhuge Liang yang dibutuhkan di perang puncak sebagai alat pelontar api dan muslihat pembunuhan laksamana perang di kubu Cao Cao sebagai penurun moral pasukan Cao Cao.

Di pertempuran puncak yang menjadi kekalahan Cao, adalah keterlambatan dalam penyerangan. Pasukan Cao diserang terlebih dahulu dan berakibat pada turunnya mental pasukan Cao.

Dari film ini, kita dapat melihat betapa ketiga pemimpin ini memiliki kemampuan yang kuat sebagai pemimpin. Meski di film Red Cliff, Cao-Cao kalah, tetapi dalam sejarah kita tahu bahwa Cao-Cao akan kembali dan memenangkan pertempuran. Cao-Cao adalah sosok yang karismatik yang mampu menyatukan Cina daratan. Ia punya visi, yakni mengutuhkan Cina. Ia punya kemampuan memotivasi dan menggerakkan hati pasukannya yang sempat runtuh. Ia juga punya mental untuk menantang setiap proses yang ada.

Zhao Yu tak kalah visionernya. Ia juga mempunyai kemampuan untuk dekat ke bawahannya sehingga mendapatkan hati dan kepercayaan pasukannya.

Sementara Zhuge Liang adalah orang paling berbahaya dari sisi perencanaan dan strategi. Bahkan di akhir cerita, Zhao Yu menyadari bahwa suatu saat ia akan berhadapan dengan Zhuge Liang dan merasa takut padanya.***

 

 

Antara Kapitalisme dan Harga Buku yang Semakin Mahal

20415_10205370497733650_5408135833209091215_n

                Baru-baru ini, beberapa penerbit mengumumkan kenaikan harga buku-bukunya. Kenaikan itu berkisar antara 10-20%. Banyak konsumen/pembaca buku mengeluh karena harga buku makin tinggi dan tak terjangkau.

Di tengah kelesuan ekonomi akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi, penjualan buku mengalami penurunan. Hingga kuarter ketiga tahun 2015, penjualan buku turun hingga 40%. Konsumen buku menjadi sangat selektif karena mereka juga harus mengencangkan ikat pinggang. Barangkali hal ini juga yang menyebabkan banyak penerbit mengobral buku-bukunya sepanjang tahun 2015. Bisa kita lihat di gerai-gerai Carrefour, Giant, Hypermart, dan toko-toko buku, buku-buku dijual mulai harga Rp10.000,-

Lesunya industri buku diperparah dengan penegakan aturan pengenaan PPN 10% untuk setiap buku nonpendidikan. Banyak penerbit kecil gulung tikar akibat penerapan PPN tersebut.

Penerbit-penerbit kecil tidak memiliki percetakan sendiri. Setiap kegiatan yang menghasilkan nilai tambah, dengan entitas berbeda, berarti memunculkan kewajiban pajak. Implikasinya, harga pokok produksi mereka juga naik 10% karena percetakan pun harus melaporkan pajaknya.

Kemudian, setelah buku selesai dicetak, buku didistribusikan ke toko buku. Ada dua pihak lain yang terlibat dalam rantai industri buku, yakni distributor dan toko buku. Pembagian pendapatan dalam rantai tersebut rata-rata adalah 17% distributor, 35% toko buku, 38% untuk penerbit dan 10% untuk penulis. Setelah itu masing-masing pihak juga dikenakan pajak penghasilan.

Pertanyaannya, bagaimana perhitungan dan pembebanan PPN kepada masing-masing pihak?

Ilustrasinya, harga buku dari penerbit Rp100.000,- maka harga jual di toko buku adalah Rp110.000,-

Proporsi pendapatan dari setelah PPN disisihkan terlebih dahulu seharusnya:

  • Penerbit 38% x 100.000 = 38.000
  • Royalti penulis 10% x 100.000 = 10.000
  • Distributor 17% x 100.000 = 17.000
  • Toko buku 35% x 100.000 = 35.000

Secara adil, pembagian pendapatannya harusnya seperti itu.

Namun, per September lalu, secara sepihak, pembagian pendapatannya menjadi 39% toko buku, 17% distributor, 10% penulis dan 34% penerbit. Terjadi pengurangan 4% milik penerbit yang dialokasikan ke toko. Saat saya tanya kenapa demikian, awalnya pihak penerbit mengatakan 4% itu untuk pemerintah. Saya tanya lagi atas dasar aturan apa 4% itu, apakah ia pajak? Kalau pajak, pajak pasal berapa dan ada di PMK(Peraturan Menteri Keuangan) no berapa? Mereka diam.

Jika penerbit hanya mendapatkan 34% dari harga setelah dipotong pajak, dengan harga pokok produksi 25%, maka penerbit hanya mendapat 9% atau Rp9.000,- per buku. Jika oplah minimal 3000 buku, maka modal yang dibutuhkan adalah 75 juta. Maka untuk mencapai BEP, penerbit harus dapat menjual minimal 2250 buku atau 75% dari oplah. Dengan kondisi sekarang, rata-rata buku per judul terjual 250 buku/bulan, berarti aliran kas untuk BEP adalah 9 bulan. Tak heran, jika banyak penerbit gulung tikar.

Dengan enteng kemudian, penerbit diberi solusi oleh mereka untuk menaikkan harga buku 20% agar mendapatkan pendapatan seperti semula. Namun kenaikan harga 20% akan memberatkan konsumen buku.

4% yang diminta pihak toko, usut diusut adalah “kompensasi” PPN yang dibebankan ke penerbit. Atau, pihak toko tidak mau dibebani dengan membayar PPN. Mereka menaikkan tarifnya akibat PPN. Sementara kalau harga dinaikkan, keuntungan yang didapatkan oleh toko akan semakin besar. Inilah benar-benar sifat kapitalis!

Solusinya?

Pertama, pengenaan PPN atas buku menjadi awal kekisruhan ini. Di tengah upaya menggalakkan dunia literasi, kita malah dihadapkan dengan kondisi harga buku yang semakin tinggi. Saya tidak paham kebijakan pemerintah jika memang ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, harusnya memperhatikan industri buku dari hulu ke hilir. Untuk itu, PPN atas buku harus dihapuskan.

Kedua, pihak yang egois adalah pihak toko buku. Hal itu terjadi karena posisi tawar mereka yang kuat dengan memiliki banyak toko buku di Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah dapat melakukan pengelolaan pada gedung-gedung pemerintah, dewan kesenian daerah, perpustakaan daerah, untuk menjadi toko buku dengan pembagian pendapatan yang lebih rendah dari toko buku lain. Di satu sisi, hal ini dapat menjadi PNBP, di satu sisi ini akan membantu persebaran buku.

Pada akhirnya, pemerintah memang bertanggung jawab untuk meningkatkan minat baca rakyat Indonesia sehingga tidak melulu rakyat Indonesia mendapat peringkat rendah dalam kategori minat baca. Bukankah buku adalah jendela dunia?

Wallahualam.

 

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan