Malaikat Kecil

Sebagian besar orang akan sulit untuk melihat usaha perubahan ke arah kebaikan yang dilakukan oleh seseorang. Yang dilihat dan diingat adalah keburukan-keburukannya, dan mengaitkan segala keburukan itu dengan keburukannya yang lain di masa lalu.

Karena itu, berubah lebih baik seperti memanjat sebuah pohon yang tinggi. Diperlukan stamina, darah, air mata, dan bila perlu, pengabaian pada segala komentar negatif yang menimpanya. Ketimbang berubah menjadi lebih buruk yang hanya seperti terjun bebas dari tempat yang lebih tinggi.

 

Anonim

Lupa

 

Hawa dingin terasa mengepungku. Aku merasa ada sesuatu yang hangat berdersir naik ke kepalaku. Ingin kubuka mata, tetapi kelopak mata terasa seperti berton-ton muatan yang ditimpakan ke atas mata, berat sekali. Aku beralih mencoba menggerakkan kaki dan tangan, tetapi mereka terasa begitu kaku. Segala yang tadinya leluasa kugerakkan tidak merespon kecuali aku masih dapat menggerakkan kepalaku dan menggeliatkan tubuhku dengan payah.

Tiba-tiba aku merasa tubuhku disepak. Sepakannya terdengar begitu keras, tetapi aku tak merasa begitu sakit. Sepakan itu beberapa kali menerpaku. Mulanya ia menyepak kakiku hingga ke sisi-sisi tubuhku. Ia tampak belum puas karena setelah itu ia menampar-nampar pipiku sampai akhirnya aku bisa membuka mata. Seorang lelaki muda, kotor, dan perawakan yang berantakan tampak memandangiku.

“Syukurlah,” katanya, “aku pikir kamu sudah tidak bisa dibangunkan,” lanjutnya sambil memberiku segelas air hangat. Sebelumnya ia membantuku duduk dan kusadari ia telah menyelimutiku dengan banyak kain.

“Kamu bisa saja mati kedinginan tadi…” kata lelaki itu sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. “Tapi untunglah, setelanmu itulah yang mungkin sempat melindungimu…. ngomong-ngomong siapa kamu? Kenapa kamu berada di sini? Apa kamu mabuk semalam, lalu tak sengaja terkapar di sini?” Ia menyerbuku dengan pertanyaan sambil membaui tubuhku yang mungkin meninggalkan bau alkohol.

Aku masih kesulitan dalam mencerna pertanyaan demi pertanyaan itu. Kepalaku masih terasa pusing dan kurasakan masih sedikit tenaga yang berhasil kukumpulkan.

Setelah kusingkap kain-kain yang menutupi tubuhku, aku baru menyadari aku mengenakan setelan yang sungguh mewah. Ini bukan hanya tentang jas dan celana bahan, lengkap dengan dasinya, yang kukenakan. Tapi begitu aku meraba pakaianku, aku tahu bahan yang digunakan untuk membuat pakaian itu bukan bahan yang murah.

Ketika aku berusaha menjawab pertanyaan siapa aku, kepalaku terasa berpusing hebat. Aku tidak bisa menemukan memori itu. Yang ada di kepalaku malah banyak hal lain seperti cerita-cerita di seputar Konferensi Asia Afrika, kemenangan Barcelona atas Juventus di final Liga Champion, disanksinya Indonesia oleh FIFA yang di saat bersamaan terkena skandal dan mengakibatkan Sepp Blatter mengundurkan diri dari Presiden FIFA padahal ia baru saja terpilih. Aku berusaha mengingat diriku, mengingat-ingat hal yang kulakukan semalam sehingga aku bisa berada di sini sekarang. Tapi aku tak bisa menemukannya. Aku tak ingat diriku. Aku bahkan tak ingat namaku!

 

Dia

“Apa? Kau tak ingat? Jangan bilang kau terkena amnesia…” kata lelaki itu. Ia menatapku dengan wajah yang bingung. Kerutan tampak di dahinya.

Suara kendaraan yang melintas mulai sering terdengar. Suara hewan-hewan malam masih ada. Kuperhatikan sekelilingku yang penuh pepohonan dan bangku-bangku. Aku menyadari ini sebuah taman karena bentuknya yang dibuat sedemikian rapi. Lampu-lampu penerang malam dengan cahaya kuning keoranyean juga masih menyala. Kudongakkan kepala, kuperhatikan langit yang berada di balik dedaunan di pucuk-pucuk pepohonan. Aku segera tahu, sebentar lagi pagi akan datang.

Aku masih memegang gelas yang ia berikan. Ada asap yang mengepul di atasnya. Aku mulai menyeruputnya dan sensasi meminum air hangat di suhu udara yang dingin terasa begitu melegakan kerongkongan. Bibir dan lidah yang tadinya kaku dan begitu kering juga terasa lebih baik.

Lelaki itu masih muda. Setidaknya dia tidak mungkin lebih tua dariku. Rambutnya panjang sebahu, hidungnya mancung dan mukanya, meski kotor, tidak menampakkan tanda-tanda penuaan. Dia mengenakan mantel bulu tebal berwarna abu-abu. Aku pikir tidak mungkin mantelnya terbuat dari bulu serigala.

“Aku sudah melihat semua jenis manusia, tapi aku belum pernah melihat manusia hilang ingatan. Ya, kecuali di sinetron. Tapi darimana aku punya televisi, bukan?” katanya lagi sambil terkikik.

“Orang-orang ingin punya rumah, tidur di kasur yang empuk, kalau panas ada AC, kalau dingin bisa pakai penghangat, kau malah tidur di sini,” ocehnya.

Aku tak begitu menggubris ucapannya dan masih berusaha memahami diriku. Yang pertama berusaha kuingat adalah nama. Andi, Rendi, Subandi, ada banyak nama berseliweran di kepalaku, tetapi aku tak merasa dekat dengan nama-nama itu. Aku malah mengingat sebuah ucapan Shakespeare—ah, aku bahkan mengingat Shakespeare! What is in a name? Aku tak tahu kenapa what is diterjemahkan sebagai apalah yang terkesan meremehkan, bukan malah apakah yang membutuhkan jawaban.

Tiba-tiba aku merasakan getaran dari dada kiriku disertai kokok ayam jantan yang makin lama volumenya makin meninggi. Di balik jas, terdapat saku dan aku menemukan sebuah ponsel. Ponsel tersebut tidak terkunci dan hanya menampilkan gambar langit biru sebagai background.

Kugerakkan jariku untuk menghentikan alarm. Segera aku mencoba membuka menu kontak. Dan aku tidak menemukan kontak siapapun yang tersimpan di ponsel itu. Aku coba buka kotak pesan, sama, kosong juga. Galeri juga tidak memuat foto sama sekali. Benar-benar seperti ponsel yang baru dibeli dari toko.

“Ponselmu?” tanya lelaki itu. “Bagus tuh, tampak seperti keluaran terbaru. Aku sih nggak punya ponsel,” lanjutnya.

Aku hanya bisa menggeleng. Aku tak ingat ponsel ini.

“Kau tak ingat ponsel ini?” tanyanya sambil mengernyitkan dahi. Dia dengan cepat merebut ponsel itu dari tanganku. “Sini, coba kulihat…”

Barangkali itu kebiasaannya untuk meminta izin belakangan.

“Hah, kok kosong nggak ada apa-apanya?”

Aku hanya bisa mengangkat bahu. Sama-sama tidak tahu jawabannya.

Dia tampak mengutak-atiknya lalu beberapa kalimat meluncur dari mulutnya. “Waw, pulsamu banyak. Pas seratus ribu. Tapi kok kamu pakai kartu ini sih?” Aku tahu nama provider yang disebutkannya memang sering bermasalah dengan layanan. Tiba-tiba pulsa lenyap, paket internet habis…eh…sebentar…. “Nah ini ketemu, nomor ponselnya ada,” lanjutnya persis seperti yang aku pikirkan..

 

~

 

Aku menemukan beberapa keanehan. Keanehan pertama, bagaimana mungkin sebuah ponsel masih memiliki kapasitas baterai yang penuh setelah lama menyala. Tidak mungkin hanya 1-2 jam aku tidak sadarkan diri. Setidaknya baterai itu tidak menunjukkan angka 100%. Itu angka yang mustahil. Kecuali bila ada seseorang yang sengaja meletakkan aku dan kemudian menaruh ponsel baru itu ke dalam sakuku, hanya beberapa saat sebelum aku sadarkan diri. Keanehan kedua, lelaki gelandangan ini mengaku tak punya televisi dan tak punya ponsel, tetapi ia tahu berita-berita dan begitu fasih memakai ponselku barusan.

“Taman ini jadi nyaman setelah ada walikota baru itu… sudah tidak ada sampah-sampahnya. Aku jadi bisa tidur lebih nyenyak di sini. Semoga saja dia tidak keburu nafsu seperti walikota yang dulu itu. Diliput media, masuk televisi, jadi gubernur, dan sekarang bisa jadi presiden. Aku sih ya, tidak suka durian dikarbit. Durian yang masak di pohon itu lebih enak….” celotehnya sambil memunguti daun-daun kering yang berguguran di sekitar kami. Ia lalu berjalan ke arah tong sampah dan pas memasukkannya ke dalam tong sampah organik.

Aku jadi merasa dia bukan gelandangan sembarangan. Cara bicara dan sikapnya tampak cukup berpendidikan.

“Aku benar-benar bingung harus bagaimana memperlakukanmu. Dengan nomor ponsel itu apa kita seharusnya ke rumah sakit atau ke customer center kartumu? Atau kau mau coba resep jituku? Kalau orang amnesia biasanya sih karena benturan dan perlu benturan lagi untuk mengembalikan ingatan.”

Aku bergidik membayangkan dia akan membenturkan kepalaku ke bangku taman atau ke batang pohon pinus yang diameternya lebih panjang dari lebar tubuhku. Tapi kuraba juga daerah-daerah di kepalaku. Barangkali benar ada benturan. Namun, semua tampak baik-baik saja. Bekas digigit nyamuk pun tidak ada.

Aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Aku bahkan belum tahu siapa namanya. Sementara aku belum berucap satu kata pun sejak aku sadarkan diri tadi.

Bunyi burung-burung semakin ramai. Bunyi kendaraan lebih ramai lagi. Orang-orang lewat juga banyak. Sebagian mereka sedang jogging dan lari pagi. Beberapa sudah masuk ke dalam taman dan duduk-duduk di bangku taman. Orang-orang tua berjalan di track yang sudah disediakan. Kami berdua agak tersembunyi di pojokan di balik semak bunga-bunga. Aku tahu ini Taman Lansia. Dekat dengan Gedung Sate.

“Ini benar-benar aneh. Sampai detik tadi aku masih merasa kau sedang beracting di depanku. Lalu akan ada kamera rahasia di sekitar sini dan muncul kru-kru tivi yang menyatakan aku sedang berada di dalam sebuah reality show. Tapi kau tahu, aku tidak percaya ada orang Indonesia bisa bermain peran dengan sempurna, apalagi untuk adegan lupa ingatan. Kau tampak seperti benar-benar lupa ingatan, mamen….

“Aku benar-benar tidak ingat apa-apa…” akhirnya aku menjawab ucapannya. Dia tampak serius menatapku. Mata kami bertemu. Dia sedang mencoba mencari kebohongan di dalam diriku. Tapi aku tidak menyimpan satu pun rahasia.

“Oke, coba kau berdiri…” Dia segera membantuku berdiri dan tangannya langsung masuk ke dalam kantong belakang celanaku. Cepat sekali seperti seorang copet. Dia telah mengambil dompetku. Astaga, aku baru sadar kalau aku punya dompet. Dengan cepat pula dia membuka dompet itu dan mengeluarkan sesuatu dari sana.

“Astaga… kau betul-betul orang kaya!” serunya sambil mengipas segepok uang ratus ribuan dengan tangan kanannya. “Setidaknya ini lebih dari dua juta. Orang macam apa yang membawa uang tunai sebanyak ini di zaman sekarang? Hah?”

Selamat dari Exchange

Sebelumnya kami memohon maaf atas keterlambatan mengumumkan nama-nama yang beruntung untuk mendapatkan buku-buku dari Exchange. Setelah membaca sekian banyak naskah yang masuk, kami menimbang dan memutuskan, nama-nama berikutlah yang beruntung:

1. Ajeng Maharani dengan cerita http://ajengbundafiqha.blogspot.com/2015/07/mengapa-ada-letupan-kegembiraan-saat.html akan mendapatkan buku berjudul “4 Musim Cinta” dan “Titik Balik”

2. Kazuhana El Ratna dengan cerita http://tulisanelratnakazuhana.blogspot.com/2015/07/unforgettable.html akan mendapatkan buku berjudu’ “Patah Hati Terindah” dan “Tambora”

3. Kayla Mubara dengan cerita http://kaylamubara.blogspot.com/2015/07/wajah-yang-memendam-rindu.html akan mendapatkan buku “Titik Balik” dan “Tambora”.

 

Kepada yang beruntung, diharapkan mengirimkan alamat pengiriman di wilayah Indonesia. Terima kasih.

 

Paket Buku Lebaran dari Penerbit Exchange

Blog Give Away

Kamu punya cerita unik, menarik, dan berkesan selama lebaran? Dan kamu pikir cerita itu sayang jika hanya untuk kamu nikmati sendiri?

Tulis dan bagikan cerita-ceritamu dan dapatkan hadiah berupa paket buku ini dari Penerbit Exchange!

Berikut syarat dan ketentuannya:
1. Cerita bertema lebaran dan ditulis di blog (segala jenis blog termasuk kompasiana) ataupun notes Facebook.
2. Panjang cerita bebas, tidak ada batasan minimal dan maksimal. Kembangkan kenanganmu seekspresif mungkin.
3. Setiap peserta bebas menulis berapa pun cerita.
4. Sertakan foto berikut di postingan kamu dan tuliskan “Exchange, Publisihing Your Idea” di dalam postinganmu.
5. Periode pengiriman tulisan 11-31 Juli 2015 dan link serta tulisan dikirimkan ke fiksiexchange@gmail.com
6. Pengumuman 3 penulis yang beruntung akan diumumkan pada tanggal 7 Agustus 2015

Tidak dipungut biaya sepeser pun!

Bila Gaji Ke-13 Tak Dibayar Lagi

DSC_0699

Setidaknya ada 2 pertanyaan yang berulang yang ditanyakan pegawai satuan kerja setiap awal tahun anggaran:

  1. “Mas, tahun ini ada kenaikan gaji nggak?”
  2. “Mas, tahun ini gaji ke-13 masih dibayar nggak?”

Dengan berlagak presiden, saya pun menjawab pertanyaan itu dengan menunjukkan nilai belanja pegawai terbaru dan membandingkannya dengan nilai belanja pegawai sebelumnya. Bila ada kenaikan lebih dari 6%, besar kemungkinan kedua hal tersebut masih dibayar. Dengan asumsi, tidak ada penambahan jumlah pegawai yang signifikan.

Hari-hari belakangan di media sosial berwara-wiri kekhawatiran orang mengenai kebangkrutan Yunani. Beberapa orang bertanya kepada saya, “Apakah Indonesia bisa bangkrut juga?” Tentu saja bisa. Tidak ada yang tidak mungkin kecuali memasukkan kembali pasta gigi ke dalam kemasannya dengan menggunakan tangan kosong. Bila melihat struktur belanja Yunani sebelum kebangkrutan, kita akan melihat betapa porsi anggaran sangat besar atas belanja pegawai dan pensiun. Demokratisasi Uni Eropa, seperti yang dikatakan Scarpf mengalami defisit demokrasi, dengan masalah kesenjangan dalam penyediaan kesejahteraan sosial. Dalam skala dan situasi yang berbeda, struktur belanja Pemda yang didominasi belanja pegawai, bahkan lebih dari 60% di beberapa daerah, langsung—tidak langsung akan memberatkan pemerintah pusat, terutama dalam tujuan desentralisasi sebagai percepatan pertumbuhan daerah. Sementara bagi pemerintah pusat, dalam struktur APBN kenaikan gaji dan gaji ke-13, untunglah, dalam hemat saya, belum masuk dalam lingkup tersebut.

Seperti yang kita tahu, kenaikan gaji didasarkan pada dua sandaran pokok. Pertama, inflasi. Kedua, growth. Pemerintah hendak mempertahankan daya beli dihadapkan pada inflasi, dan daya beli itu akan menaikkan konsumsi yang akhirnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sementara gaji ke-13 yang diusul kali pertama pada pemerintahan Megawati memiliki filosofi yang berbeda. Dalam struktur penggajian yang umum, gaji/upah dibayarkan harian atau mingguan. Dalam sebulan, ada 4 minggu plus beberapa hari. Dan dalam setahun, ada 52 minggu. Jika gaji hanya dibayarkan 12 kali, maka totalnya hanyalah 48 minggu. Masih ada 4 minggu tersisa yang dijadikan dalih masa kerja pembayaran gaji ke-13.

Tetapi pula, kita harus menunggu aturan yang mendasari itu. Keputusan kenaikan gaji dan gaji ke-13 menunggu tanda tangan presiden dalam PP No. 30 tahun 2015 tentang Kenaikan Gaji dan PP No 38 tahun 2015 tentang Gaji/Tunjangan Ke-13. Pelaksanaan pencairan gaji atau pensiun atau tunjangan ke-13 tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 117/PMK.05/2015 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pemberian Gaji/Pensiun/Tunjangan Bulan Ke-13.

Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) sebagai kuasa Bendahara Umum Negara menjadi corong informasi sekaligus corong pembayaran dana yang berasal dari APBN. Seperti biasa, para petugas satuan kerja kemudian berbondong-bondong mengajukan gaji ke-13 ke KPPN, menyesaki ruang tunggu KPPN ketika informasi pengajuan pembayaran gaji ke-13 sudah bisa dilakukan. Dari pukul 13.00, mereka datang dan mengantri, mengesampingkan haus dan lapar pada bulan puasa dan memaksa para petugas front office di beberapa KPPN sampai harus bergadang hingga tengah malam demi menerima pengajuan pembayaran ke-13.

Di situ saya tak habis pikir, betapa manusia sangat sensitif dengan uang. Padahal kan pengajuan pembayaran bisa dilakukan keesokan harinya juga. Dalam hati, saya mencoba berpikir positif, barangkali semua PNS sekarang sudah belajar time value of money.

 

*Tulisan merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pandangan organisasi.

Jokowi dan One Stop Service

470886_459846127393269_1203137333_o

Jauh sebelum Jokowi meresmikan Layanan Investasi Satu Pintu di Badan Kordinasi Pasar Modal pada Januari lalu, ada sebuah kisah yang menyebabkan Jokowi terinspirasi untuk menerapkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, atau lebih dikenal dengan nama one stop service.

Ketika itu Jokowi masih menjabat sebagai Walikota Solo. Beliau diundang pada acara launching KPPN Percontohan Surakarta. Ketika pemaparan mengenai pola pelayanan di KPPN, beliau ternganga saat mengetahui pola one stop service ini sudah dilakukan oleh KPPN sejak SOP Percontohan dimulai sejak tahun 2009.  Terinspirasi hal itu, Jokowi pun menerapkan pola tersebut pada birokrasi Kota Solo, dan juga dibawa ke Jakarta.

Adanya keinginan dan semangat untuk menyederhanakan proses penyelesaian pekerjaan, serta perubahan kultur dan pola pikir para pegawai menjadi tujuan KPPN Percontohan. Selama ini stigma yang terbentuk di masyarakat adalah layanan publik yang instansi pemerintah terkesan lamban, tidak transparan, bahkan diwarnai dengan pungutan yang tidak resmi. Hal itulah yang ingin diubah Dengan one stop service,  pelayanan menjadi cepat, tepat, transparan, akuntabel dan tidak dipungut biaya. Dipadukan dengan proses bisnis yang sederhana, pemanfaatan teknologi dan SDM yang unggul.

Hal ini membuktikan bahwa sebenarnya Ditjen Perbendaharaan, jika dapat mengomunikasikan dirinya dengan baik, dapat menciptakan momentum perubahan sekaligus trigger/pemicu bagi para stakeholders (dalam arti luas: masyarakat Indonesia). Tidak hanya sebatas dalam pelayanan citra diri, tapi kemudian mentransfer value yang dimiliki ke masyarakat yang lebih luas.

Public trust yang selama ini menjadi isu utama Pegawai Negeri pun dapat meningkat bila prinsip dan hasil kerja, yang kemudian KPPN pernah mendapat nilai tertinggi dalam penilaian pelayanan dan integritas dari berbagai lembaga seperti KPK diketahui oleh masyarakat. 

KPPN Percontohan sebenarnya juga telah menciptakan momentum lain di bidang kepegawaian dengan adanya assessment centre yang menilai jujur kompetensi dan kualitas seorang Pegawai Negeri yang sering dipandang sinis. Boleh diibaratkan, pegawai KPPN yang lulus assessment Percontohan tahap pertama adalah Denjaka-nya aparat negara. Bila 1 orang prajurit Denjaka setara dengan 120 orang TNI biasa, begitu pun 1 pegawai KPPN Percontohan setara dengan 120 PNS biasa. Di sini, kita dapat melihat bahwa untuk mencapai hasil yang diharapkan dari result control, Ditjen Perbendaharaan telah memulainya dengan personel control yang ketat.

Andai Jokowi masih mengingat terus kedua inspirasi yang didapatkan dari KPPN Percontohan, bukan hanya dari sisi pelayanannya, tetapi memulainya dari perekrutan dan penilaian pegawai yang apik, Pemerintah akan menjadi lebih baik.

(2015)

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan