Lomba Penyusunan E-book Cerita Rakyat Kemendikbud

Lomba Penyusunan Buku Cerita Anak Format E-Book diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan PAUD, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Buku cerita anak format e-book itu akan digunakan sebagai konten di Laman Anggun PAUD agar bisa digunakan oleh masyarakat luas khususnya para pendidik dan pemerhati PAUD.

Tema Lomba Penyusunan Buku Cerita Anak Format E-book
Tema Lomba Konten Anggun PAUD “ Penumbuhan Budi Pekerti Pada Anak Usia Dini”

Ketentuan Lomba Penyusunan Buku Cerita Anak dalam format e-book
1. Fokus pada pengembangan sosial emosional dan bahasa
2. Minimal 10 halaman dengan pewarnaan penuh
3. Ukuran huruf, kosa kata,dan jumlah kalimat per halaman disesuaikan dengan usia sasaran (4-6 tahun)
4. Penokohan dapat manusia atau lainnya (binatang atau tokoh imajiner)
5. Ukuran per halaman A4.

Hadiah Lomba Penyusunan Buku Cerita Anak dalam format e-book
a. 1 orang pemenang pertama dengan hadiah Rp. 17.500.000,-
b. 1 orang pemenang kedua dengan hadiah Rp. 12.500.000,-
c. 1 orang pemenang ke tiga dengan hadiah Rp. 10.000.000,-
d. 15 hadiah hiburan dengan hadiah @ Rp. 5.000.000,-

Persyaratan Lomba Penyusunan Buku Cerita Anak dalam format e-book
1. Peserta
Peserta terbuka untuk umum, kecuali peserta Direktorat Pembinaan PAUD..
2. Naskah/ produk:

Orisinalitas mutlak.
Tidak mengandung unsur kekerasan, pornografi, suku, agama, ras, antar golongan, pelecehan fisik, simbol dan radikalisme.
Penerima manfaat adalah anak usia 4-6 tahun dengan bimbingan orang tua dan guru.
Peserta dapat mengirimkan lebih dari satu naskah dalam jenis (kategori) yang sama atau berbeda
Semua karya yang masuk akan menjadi hak milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan u.p. Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini.

3. Pendaftaran dan Pengiriman
Pendaftaran dan pengiriman hasil karya dimulai tanggal 15 Juni 2016, dan dikirimkan ke alamat :
Direktorat Pembinaan PAUD,
Kompleks Kemdikbud, Gedung E Lt. 7
Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta
Kode Pos 10270
Batas waktu pengiriman paling lambat tanggal 31 Agustus 2016 cap pos.
Semua kontributor dalam penyusunan dan pengembangan produk dicantumkan secara lengkap.
4. Penilaian
Penilaian dilakukan oleh Tim Juri yang berkompeten di bidangnya.
didasarkan pada unsur:

Orisinalitas karya
Kesesuaian dengan tema dan fokus aspek perkembangan
Kesesuaian karya dengan sasaran (pendidik atau anak didik usia 4-6 tahun)
Kejelasan pesan yang disampaikan
Kesantunan bahasa
Keutuhan cerita/karya
Keserasian karya: syair dan notasi, teks dengan ilustrasi, dst.

5. Pengumuman Pemenang
Pemenang diumumkan melalui web http://www.anggunpaud.kemdikbud.go.id atau http://www.paud.kemdikbud.go.id tanggal 13 – 15 September 2016.
6. Penyerahan Hadiah:
Hadiah lomba akan diserahkan bersamaan dengan Hari Anak Universal bulan September 2016.
7. Pemanfaatan E-book
Naskah yang masuk ke Panitia dan dinyatakan menang menjadi hak Panitia dan akan di upload ke laman http://www.anggunpaud.kemdikbud.go.id atau http://www.paud.kemdikbud.go.id
Naskah yang tidak menang tetap menjadi hak penyusun kecuali apabila diserahkan ke Dit. Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini.

Lomba Menulis Cerita Rakyat Kemendikbud

Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengadakan 4 lomba untuk konten (isi) laman Anggun Pendidikan Anak Usia Dini yaitu http://www.anggunpaud.kemdikbud.go.id atau http://www.paud.kemdikbud.go.id. Salah satu lomba tersebut adalah Lomba Penyusunan Cerita Rakyat

Tema Lomba Penyusunan Cerita Rakyat
Kali ini Lomba Konten Anggun PAUD adalah “Penumbuhan Budi Pekerti Pada Anak Usia Dini”

Ketentuan Lomba Penyusunan Cerita Rakyat

Cerita rakyat fokus pada pengembangan Nilai Agama dan Moral dan Bahasa.
Sasaran pengguna cerita rakyat adalah Guru PAUD, Pengelola PAUD.
Cerita rakyat dapat berbentuk;

(1) Fable (cerita binatang)
(2) Legenda (asal-usul terjadinya suatu tempat)
(3) Sage (unsur sebuah sejarah)
(4) Epos (kepahlawanan)
(5) Cerita jenaka.

Cerita disampaikan dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Panjang naskah berada pada kisaran 400 – 600 kata.

Hadiah Lomba Penyusunan Cerita Rakyat

1 orang pemenang pertama dengan hadiah Rp. 15.000.000,-
1 orang pemenang kedua dengan hadiah Rp. 10.000.000,-
1 orang pemenang ketiga dengan hadiah Rp. 7.500.000,-
10 hadiah hiburan dengan hadiah @Rp. 5.000.000

Persyaratan Lomba Penyusunan Cerita Rakyat
1. Peserta terbuka untuk umum, kecuali peserta Direktorat Pembinaan PAUD..
2. Naslah Orisinalitas mutlak (maknanya, naskah harus karangan kita sendiri)
3. Tidak mengandung unsur kekerasan, pornografi, suku, agama, ras, antar golongan, pelecehan fisik, simbol dan radikalisme.
4. Penerima manfaat cerita rakyat adalah anak PAUD usia di bawah bimbingan orang tua dan guru.
5. Peserta dapat mengirimkan lebih dari satu naskah.
6. Semua karya yang masuk akan menjadi hak milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan u.p. Direktorat Pembinaan Anak Usia Dini.

Pengiriman Lomba Penyusunan Cerita Rakyat

Pengiriman hasil karya dimulai tanggal 15 Juni 2016, dan dikirimkan ke alamat :
Direktorat Pembinaan PAUD,
Kompleks Kemdikbud, Gedung E Lt. 7
Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta
Kode Pos 10270
Batas waktu pengiriman paling lambat tanggal 31 Agustus 2016 cap pos.
Semua kontributor dalam penyusunan dan pengembangan produk dicantumkan secara lengkap.

Penilaian Lomba Penyusunan Cerita Rakyat
Penilaian dilakukan oleh Tim Juri yang berkompeten di bidangnya berdasarkan kriteria berikut ini :

Orisinalitas karya
Kesesuaian dengan tema dan fokus aspek perkembangan
Kesesuaian karya dengan sasaran (pendidik atau anak didik usia 4-6 tahun)
Kejelasan pesan yang disampaikan
Kesantunan bahasa
Keutuhan cerita/karya
Keserasian karya: syair dan notasi, teks dengan ilustrasi, dst.

Pengumuman Pemenang Lomba Penyusunan Cerita Rakyat
Pemenang diumumkan melalui web http://www.anggunpaud.kemdikbud.go.id atau http://www.paud.kemdikbud.go.id tanggal 13 – 15 September 2016.

Penyerahan Hadiah Lomba Penyusunan Cerita Rakyat
Hadiah lomba akan diserahkan bersamaan dengan Hari Anak Universal bulan September 2016.

Pemanfaatan Naskah Lomba Penyusunan Cerita Rakyat
Naskah yang masuk ke Panitia dan dinyatakan menang menjadi hak Panitia dan akan di upload ke laman http://www.anggunpaud.kemdikbud.go.id atau http://www.paud.kemdikbud.go.id

Naskah yang tidak menang tetap menjadi hak penyusun kecuali apabila diserahkan ke Dit. Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini.

Dia yang Sempurna, Haruki Murakami

Haruki Murakami diterjemahkan oleh Maggie Tiojakin

Suatu pagi yang cerah di bulan April, di pinggiran jalan sempit di Harajuku, sebuah area perbelanjaan di Tokyo, aku berjalan melewati seorang gadis yang 100% sempurna.

Sejujurnya, dia tidak terlalu cantik. Dia juga tidak terlalu menyolok. Pakaian yang dikenakannya tidak terlalu spesial. Dan rambutnya masih menyisakan jejak ranjang seolah tak disisir merata. Dia juga tidak terlalu muda—kuperkirakan usianya sekitar 30 tahun, dan sebenarnya tidak cocok dipanggil dengan kata ‘gadis’. Meski begitu, aku tahu saat melihatnya dari kejauhan 0.05 kilometer: bahwa dia adalah gadis yang 100% sempurna untukku. Begitu aku melihatnya, ada gemuruh yang timbul di dadaku, lalu mulutku mendadak kering seperti padang pasir.

Mungkin Anda punya tipe gadis favorit—dan dia mungkin memiliki pergelangan kaki yang ramping, atau sepasang mata yang besar, atau jemari yang lentik, atau Anda menyukai seorang gadis yang selalu menghabiskan waktu lama sekali untuk bersantap, entah kenapa. Aku juga punya tipeku sendiri. Sesekali, saat aku ada di sebuah restoran, aku sering curi-curi pandang ke arah gadis yang duduk di meja sebelahku hanya gara-gara aku menyukai bentuk hidungnya.

Namun bagi seorang laki-laki yang hatinya telah kepincut, maka gadis yang 100% sempurna itu takkan ada tandingannya. Walau aku suka memperhatikan bentuk hidung orang, namun aku tidak ingat bentuk hidung gadis yang sempurna itu—atau apakah dia punya hidung sama sekali. Yang kuingat dengan pasti adalah gadis itu bukan gadis tercantik sedunia. Aneh, kan?

“Kemarin, di jalan, aku melewati seorang gadis yang 100% sempurna,” ujarku pada seseorang.

“Masa?” sahut orang itu. “Cantik?”

“Tidak juga.”

“Kalau gitu dia tipe kesukaanmu?”

“Entahlah. Aku bahkan tidak ingat terlalu banyak hal tentang dia—seperti bentuk matanya atau ukuran dadanya.”

“Aneh.”

“Aneh sekali.”

“Lantas,” tutur lawan bicaraku yang mulai bosan. “Apa yang kau lakukan? Menyapanya? Atau membuntutinya?”

“Tidak. Aku hanya numpang lewat di hadapannya.”

Gadis itu berjalan dari arah timur ke barat, sedangkan aku dari barat ke timur. Sungguh pagi yang cerah di bulan April.

Seandainya saja aku bisa menyapa dia. Aku hanya butuh setengah jam: untuk bertanya tentang siapa dia, lalu aku kan memberitahukan siapa aku, dan—yang sangat ingin kulakukan—menjelaskan kepadanya tentang betapa rumitnya cara kerja takdir untuk mempertemukan aku dan dia di pinggiran jalan di area Harajuku di sebuah pagi yang cerah di bulan April tahun 1981. Kejadian ini tentunya melibatkan banyak rahasia yang tidak kita ketahui; seperti jam antik yang dibuat saat perang dunia usai.

Setelah mengajaknya bicara, kami akan pergi makan siang bersama, lalu menonton film besutan Woody Allen di bioskop, dan dilanjutkan dengan acara minum-minum di bar hotel. Bila keberuntungan ada di pihakku, kami akan mengakhiri kebersamaan ini di atas ranjang.

Kemungkinan-kemungkinan yang belum terjamah itu mengetuk pintu hatiku.

Sekarang jarak di antara kami menyempit jadi 0.013 kilometer.

Bagaimana sebaiknya aku mendekati dia? Apa yang harus kukatakan?

“Selamat pagi, nona. Maukah kau menyisihkan waktu selama setengah jam untuk berbincang?”

Konyol. Aku terdengar seperti salesman asuransi.

“Permisi, apakah kau tahu tempat cuci baju yang buka sepanjang malam di sekitar sini?”

Tidak, sama saja konyolnya. Aku juga tidak bawa baju kotor. Siapa yang akan percaya?

Mungkin aku harus jujur. “Selamat pagi. Kau adalah gadis yang 100% sempurna untukku.”

Tidak, dia takkan percaya. Atau bila dia percaya, dia mungkin takkan mau berbincang denganku. Maaf, dia akan berkata padaku, aku mungkin gadis yang 100% sempurna untukmu, tapi kau bukan pemuda yang 100% sempurna untukku. Bisa saja kan? Dan jika aku berada dalam situasi itu, hatiku pasti hancur. Aku takkan pernah bisa mengatasinya. Usiaku 32 tahun—dan di usia sepertiku seharusnya aku bisa menerima penolakan dengan dada lapang.

Kami melewati sebuah toko bunga. Udara pagi berembus ringan dan membelai kulitku dengan kehangatan. Lapisan aspal di bawah kakiku tampak lembap dan aku mencium sekelebat wangi bunga. Aku tidak berani menyapa gadis itu. Ia mengenakan sebuah sweater berwarna putih dan di tangan kanannya ada secarik amplop putih yang hanya butuh perangko saja untuk diposkan. Jadi: gadis itu sudah menulis surat untuk seseorang, mungkin menghabiskan waktu semalaman menulisnya, apalagi melihat matanya yang berat karena kantuk. Di dalam amplop itu mungkin saja terselip seluruh rahasia hidupnya.

Aku mengambil beberapa langkah ke depan, lalu membalikkan badan: gadis itu menghilang di tengah keramaian.

*

Sekarang aku baru tahu bagaimana seharusnya aku menyapa gadis itu. Tentunya aku harus memberikan pidato panjang; terlalu panjang untuk kusampaikan dengan baik. Semua ide yang ada di kepalaku memang tidak ada yang praktis.

Oh well. Tadinya aku akan memulai pidato itu dengan kalimat “Pada suatu hari” dan diakhiri dengan “Cerita yang sedih, bukan?”

*

Pada suatu hari, hiduplah seorang pemuda dan seorang gadis. Usia pemuda itu delapan belas tahun; dan gadis itu enam belas tahun. Pemuda itu tidak terlalu tampan, dan gadis itu tidak terlalu cantik. Mereka adalah muda-mudi yang seperti pada umumnya cenderung kesepian. Namun mereka percaya sepenuh hati bahwa di dunia ini ada pasangan hidup yang 100% sempurna untuk mereka. Ya, mereka percaya pada mukjizat. Dan bahwa mukjizat bukanlah hal yang mustahil.

Suatu hari, si pemuda dan gadis itu tak sengaja berjumpa di ujung jalan.

“Luar biasa,” ujar si pemuda. “Aku sudah mencarimu seumur hidupku. Kau mungkin tidak mempercayai ini, tapi kau adalah gadis yang 100% sempurna untukku.”

“Dan kau,” balas gadis itu. “Kau adalah pemuda yang 100% sempurna untukku, persis seperti pemuda yang kubayangkan selama ini. Seperti mimpi rasanya.”

Mereka duduk di atas kursi taman, berpegangan tangan, dan menceritakan kisah hidup mereka masing-masing selama berjam-jam. Mereka tidak lagi kesepian. Mereka telah menemukan dan ditemukan oleh pasangan masing-masing yang 100% sempurna untuk mereka. Betapa indahnya menemukan dan ditemukan oleh pasangan yang 100% sempurna untuk kita. Sebuah mukjizat, sebuah pertanda.

Namun, saat mereka duduk dan berbincang, masih ada sedikit rasa ragu yang menggantung di dada: apa mungkin impian seseorang terkabul begitu saja dengan mudahnya?

Maka, ketika keduanya terdiam, si pemuda mengambil kesempatan untuk berkata kepada gadis itu: “Mari kita uji diri kita—sekali ini saja. Jika kita memang pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain, maka di suatu saat, di suatu hari, kita pasti berjumpa lagi. Dan ketika itu terjadi, dan kita tahu bahwa kita adalah pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain, maka kita akan menikah saat itu juga. Bagaimana?”

“Ya,” kata si gadis. “Itu yang harus kita lakukan.”

Kemudian mereka berpisah. Si gadis melangkah ke arah timur, sementara si pemuda ke arah barat.

Meski begitu, proses uji itu sebenarnya tidak perlu mereka lakukan, karena mereka memang benar pasangan yang 100% sempurna untuk satu sama lain—dan pertemuan awal mereka adalah sebuah mukjizat. Tapi mereka tak mungkin mengetahui semua ini di usia belia. Gelombang takdir yang dingin dan tak pandang bulu terus membuat mereka terombang-ambing tanpa akhir.

Pada suatu musim dingin, si pemuda dan si gadis menderita sakit flu yang terjangkit di mana-mana. Setelah dua minggu terkapar tanpa daya, mereka pun lupa terhadap tahun-tahun remaja mereka. Ketika mereka tersadar, ingatan mereka sama kosongnya seperti celengan baru.

Keduanya adalah individu yang cerdas dan ambisius; dan dengan usaha keras mereka berhasil membangun hidup mereka hingga menjadi sosok terpandang di masyarakat. Syukurlah, mereka juga menjadi warga yang taat peraturan dan tahu caranya naik kereta bawah tanah tanpa tersesat; yang sanggup mengirimkan surat dengan status kilat di kantor pos. Dan mereka juga sanggup jatuh cinta, terkadang cinta itu mengisi hati mereka sampai 75% atau bahkan 80%.

Waktu berlalu dengan kecepatan tak terduga; mendadak si pemuda telah berusia 32 tahun dan si gadis 30 tahun.

Di suatu pagi yang cerah di bulan April, dalam perjalanan untuk membeli secangkir kopi, si pemuda melangkah dari arah barat ke timur, sementara si gadis, dalam perjalanan ke kantor pos, melangkah dari arah timur ke barat. Keduanya menelusuri pinggiran jalan yang memanjang di sebuah area pusat perbelanjaan di Tokyo yang bernama Harajuku. Mereka saling melewati satu sama lain tepat di tengah jalan. Ingatan mereka kembali samar-samar dan untuk sesaat hati mereka bergetar. Masing-masing merasakan gemuruh yang mendesak dada. Dan mereka tahu:

Dia adalah gadis yang 100% sempurna untukku.

Dia adalah pemuda yang 100% sempurna untukku.

Namun, sayang, gema ingatan mereka terlalu lemah; dan pikiran mereka tak lagi jernih seperti empat belas tahun lalu saat pertama kali berjumpa. Tanpa mengutarakan sepatah kata pun, mereka melewati satu sama lain begitu saja, hilang di tengah keramaian. Selamanya.

Cerita yang sedih, bukan?

*

Ya, itu dia. Seharusnya itu yang kukatakan padanya. FL

2013 © Hak Cipta. Fiksi Lotus dan Haruki Murakami. Tidak untuk dijual, digandakan ataupun ditukar.

—————-

# CATATAN:

> Cerpen ini berjudul On Seeing the 100% Perfect Girl One Beautiful April Morning karya HARUKI MURAKAMI dan disertakan dalam koleksi cerita pendek berjudul The Elephant Vanishes (Random House, 1993).

>> HARUKI MURAKAMI adalah seorang penulis dan penerjemah asal Jepang yang telah menerbitkan sejumlah novel, koleksi cerita pendek dan esai. Beberapa karyanya yang telah mendunia, termasuk di antaranya: Kafka on the Shore, The Wind-Up Bird Chronicle, Norwegian Wood, dan—yang terakhir—IQ84. Karya non-fiksi yang ia terbitkan termasuk di antaranya: Underground: The Tokyo Gas Attack and the Japanese Psyche dan What I Talk About When I Talk About Running.

Puisi-puisi Aan Manysur di Kompas

Menyeberang Jembatan

aku ingin menceritakan apa yang mampu aku rasakan

ketika berjalan sendirian di jembatan. ibuku penasaran

kenapa aku senang melakukannya. dia tidak mengerti

waktu aku mengatakan: aku memperoleh kebahagiaan

dari yang getar gemetar di hatiku. seperti jatuh

cinta? tidak, ibu. dia diam dan aku merasa kalah.

perihal membosankan dan percuma selalu lebih mampu

menemukan kata-kata untuk mereka kenakan. bagi yang

setengah-setengah, dan bagi yang berdiri di tengah-

tengah, kata-kata semata jembatan yang seolah-olah ada.

di diriku ada banyak perihal yang terengah-engah tidak

mampu menyeberang ke jantung ibuku, terpaksa menjadi

rahasia, dan aku merasa bersalah.

*

sejak kecil aku sering pergi ke hutan. aku membisikkan

pikiran dan perasaanku yang merahasiakan diri dari tinta

kepada pepohonan, sebelum mereka ditebang dan

berubah menjadi pintu dan jendela, kursi dan meja, atau

buku-buku.

setiap kali ibuku terpekur di hadapan lemari, aku

mungkin ada di sana menemaninya. ketika ibuku

berusaha membuat dirinya cantik sekali lagi, barangkali

rahasiaku yang menggenggam cermin untuknya. jika

ibuku tidur memeluk diriny sendiri, aku berharap ikut

menopang rindu dan rubuhnya yang kesepian.

dan andai dia menerima surat dari suaminya, pikiranku

sungguh ingin bergetar di jari-jarinya, perasaanku

sungguh ingin basah oleh air matanya.

*

ibuku masa lampau. kenangan. dia selalu mampu

mengecup ingatanku, namun ingatanku kening yang

cuma mampu menunggu dikecup. kata-kataku selalu

ingin mampu menyentuh jantungnya, namun mereka

tidak punya jemari.

puisi ini sama belaka. sekumpulan kata, batang-batang

pohon, yang bermimpi menjadi rumah tanpa dinding.

semata memiliki jendela, pintu, dan sesuatu yang

memeluki keduanya. rumah yang menunggu pertanyaan-

pertanyaan ibuku datang memberi penghuni.

2012

Melihat Peta

hari ini kematiaan membisikkan perihal-perihal yang indah.

langit pagi yang perangainya tenang dan hangat telah

ditanggalkan. beruluran jutaan jalan kecil, kaki-kakinya

mekar jadi kembang api yang terbuat dari awan hitam.

aku ingin tiba-tiba seisi tubuhku tercuri. seseorang

menangis memasangkan pakaian berwarna sederhana

dan wewangian sambil membayangkan tuhan

menyambutku dengan riang.

kau, entah di mana, membaa catatan yang aku tulis, aku

kirim, dan terlambat tiba.

hari terakhirku jadi hari pertama bagimu. kesedihanku

terbakar menjadi abu. kau tumbuh menjadi pohon yang

pucuk-pucuknya hendak menyentuh kebiruan angkasa.

*

peta memberitahuku semua harta karun tersimpan di

jantung rahasia hal-hal yang hancur. kau menggantung

seperti sesuatu yang tak mampu aku namai – mimpi atau

kenangan. di kepalaku, kau cahaya yang disaring kaca

jendela berdebu. memasukiku sebagai jiwa yang

kelelahan.

nanti malam, aku tak mampu menutup mata jendela. akan

aku biarkan ia menatap mata bulan, tempat barangkali

kau menitip rahasia.

sementara yang menetap di luar aku, segalanya

dendanmu. memendam dendam, kata ibuku, seperti

meminum segelas racun dengan harapan membunuh

orang lain.

aku tak ingin mendengar kabar pemakamanmu. biar

tubuhku dan seluru isinya yang tercuri. hiduplah kau.

2012

Menonton Film

semesta di mana orang-orang bijak mabuk mengelilingi

meja kayu besi sambil membahas masa depan kita. udara

terbuat dari asap, aku dan kau merangkak di tanah seperti

ular sebelum kaki-kakinya hilang. langit pada musim-

musim tertentu jatuh seperti potongan-potongan jigsaw.

jutaan simbol matematika menggantung di kabel-kabel

telepon dan lampu-lampu jalan. bunga-bunga akan

memberi petunjuk ketika kita kehilanan arah.

semesta di mana waktu hanya ada di cangkir-cangkir teh.

kehidupan nyata ibarat dunia kartun dan kartun terlihat

seperti kehidupan nyata, dan keduanya adalah sepasang

tetangga yang tidak saling percaya. ingatan dikosongkan

setiap pukul 6 sore, seperti matahari tenggelam. untuk

diisi berita malam yang membicarakan keluarga kita.

semesta di mana kau dimakan singan dan aku

menunggumu di mulutnya memegang tanda bertuliskan

nama aslimu yang tidak pernah kautahu sebelumnya.

semesta di mana setiap kali kau menyentuh gelas dengan

tangan kosong kau merasakan bisikan yang

mendesahkan. lengan dan kaku tidak diperlukan

samasekali. kita bercinta dengan menuangkan cahaya ke

mata satu sama lain.

semesta di mana furnitur ia hewan-hewan peliharaan

kesayanganmu. botol-botol anggur diisi dengan kelopak-

kelopak bunga untuk disajikan kepada bayi kita yang

baru lahir.

semesta di mana setiap kali matahari terbit, di kepalamu

tumbuh salur-salur tumbuhan beracun. setiap kali

matamu berkedip, aku seperti mendengar gelegar petir.

semesta serupa yang kita huni kini, tetapi aku tidak

pernah ada di sana.

2012

Mendengar Radiohead

aku ingin belajar menangis tanpa air mata, perasan

perasaan-perasaan yang lembab. aku percaya ada perihal

semacam itu; peri yang memperindah hal-hal perih, batu

yang bertahan di alir sungai, atau badai yang lembut.

aku tahu ketelanjangan tempat bersembunyi bunyi yang

lebih nyaring daripada sunyi.

dan dalam setiap yang pecah ada keindahan, hal-hal yang

berhak dicahayai senyuman; persolin maha yang

membentur lantai ruang tamu, lampu taman yang mati,

daun-daun dan daun jendela yang jatuh, hati yang patah

dan perpisahan, atau rindu bayi-bayi yatim piatu.

aku lahir dari ucapan-ucapan ibu yang lebih banyak ia

kecupan dengan diam; berlari adalah kesunyian,

barjalan adalah kebalikannya. aku bertahan bertahun-

tahun berlari dalam kesunyian menuju kau. aku mau

menemukanmu, agar mampu berjalan menggandeng

tanganmu mengelilingi pagi yang hangat. atau

mengantarmu pulang, menyusuri gelap, dan dengan

sepenuh ketulusan aku ingin menjaga dirimu dari diriku.

ketulusan, panjang dan susah dinikmati sepenuhnya,

seperti musim. kejujuran, singkat dan tidak mudah

diduga, seperti cuaca. namun jika kau menginginkan

jarak, aku akan menjadi ketiadaan yang lengang. sebab

ingatanm sedekat-dekatnya keadaan aku. lebih dekap

dari pelukan sepasang lengan.

kesalahanku padang rumput yang hijau. seperti ternak,

aku ingin makan dan menjadi gemuk. M\menjadi potongan-

potongan daging yang membuatmu enggan tersenyum

seusai makan. menjadi lemak yang kau keluhkan dan

menghabiskan uangmu. sementara kebenaran semata

meseum yang tidak kita sadari. jika ada waktu, kau akan

mengunjunginya. namun kau terlalu sibuk melupakanku.

masing-masing kita adalah kumparan diri sendiri, orang

lain, dan bayangan yang setia. tidak ada kemurnian.

dalam pengingkaranmu akan aku, ada cinta yang akan

membuatmu bersedih suatu kelak.

sementara aku, aku tahu cara mengisi kekosongan adalah

menunggu. dunia ini dipenuhi keseimbangan-

keseimbangan. tepat ketika seorang melihat matahari

sore menutup mata. di tempat lain ada seorang menatap

dari jarak yang tidak kau ketahui. aku tersenyum

menghangatkan kesedihanmu.

2012

M Aan Mansyur lahir di Bone, Sulawesi Selatan 14

Januari 1982. Buku puisinya antara lain Aku Hendak

Pindah Rumah. (2008) dan Cinta yang Marah (2009). Ia

tinggal di Makassar.

PUISI KOMPAS, MINGGU, 6 JANUARI 2013

Kata Mutiara dalam Seni Perang Sun Tzu

“Seni tertinggi perang adalah untuk menaklukkan musuh tanpa pertempuran.”
– Sun Tzu , The Art of War

”Tampak lemah ketika kamu kuat dan kuat ketika Anda lemah. ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Jika Anda tahu musuh dan mengenal diri sendiri, Anda tidak perlu takut hasil dari seratus pertempuran. Jika Anda mengenal diri sendiri, tapi bukan musuh, untuk setiap kemenangan yang diperoleh Anda juga akan menderita kekalahan. Jika Anda tidak tahu akan musuh maupun diri sendiri, Anda akan menyerah dalam setiap pertempuran . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Keunggulan Agung terdiri dari memecah perlawanan musuh tanpa pertempuran. ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Prajurit Jaya kemenangan pertama dan kemudian pergi berperang , sementara prajurit mengalahkan pergi berperang pertama dan kemudian berusaha untuk menang”
– Sun Tzu , The Art of War

” Semua perang didasarkan pada tipu daya . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Biarkan rencana Anda menjadi gelap dan tak tertembus sebagai malam , dan ketika Anda bergerak , jatuh seperti petir . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Terus teman dekat, dan musuh Anda lebih dekat ”
– Sun Tzu

” Seorang pemimpin memimpin dengan contoh , bukan dengan kekuatan ”
– Sun Tzu

” Untuk mengetahui Musuh Anda , Anda harus menjadi Musuh Anda . ”
– Sun Tzu , The Art of Wari

” Bisakah Anda bayangkan apa yang akan saya lakukan jika saya bisa melakukan semua yang saya bisa? ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Peluang kalikan karena mereka disita . ”
– Sun Tzu

” Bahkan pedang terbaik jatuh ke air garam pada akhirnya akan berkarat . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Dengan demikian kita akan mengetahui bahwa ada lima hal penting untuk kemenangan :
1 Dia akan menang yang tahu kapan harus melawan dan kapan tidak melawan.
2 Dia akan menang yang tahu bagaimana menangani keduanya kekuatan superior dan inferior .
3 Dia akan menang yang tentara yang dijiwai oleh semangat yang sama di seluruh jajarannya .
4 Ia akan menang siapa , mempersiapkan dirinya , menunggu untuk mengambil musuh tidak siap .
5 Dia akan menang yang memiliki kapasitas militer dan tidak diganggu oleh penguasa . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Strategi tanpa taktik adalah rute paling lambat menuju kemenangan . Taktik tanpa strategi adalah suara sebelum kekalahan . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Libatkan orang dengan apa yang mereka harapkan , itu adalah apa yang mereka mampu untuk membedakan dan menegaskan proyeksi mereka . Mengendap menjadi pola diprediksi respon , menempati pikiran mereka sementara Anda menunggu saat yang luar biasa – apa yang mereka tidak bisa mengantisipasi ” .
– Sun Tzu , The Art of War

” Ketika kuat , menghindari mereka . Jika semangat kerja yang tinggi , menekan mereka. Tampak sederhana untuk mengisinya dengan kesombongan . Jika nyaman , knalpot mereka. Jika bersatu , memisahkan mereka. Serangan kelemahan mereka . Emerge untuk mengejutkan mereka . ”
– Sun Tzu

” Mengenal diri sendiri dan Anda akan memenangkan semua pertempuran ”
– Sun Tzu

” Ketika musuh santai , membuat mereka bekerja keras . Ketika penuh, kelaparan mereka . Bila menetap , membuat mereka bergerak .”
– Sun Tzu , The Art of War

” Pindah cepat seperti angin dan erat – terbentuk sebagai Wood . Serangan seperti Fire dan akan tetap seperti gunung . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Semua perang didasarkan pada tipu daya . Oleh karena itu , ketika mampu menyerang , kita harus tampak tidak mampu ketika menggunakan kekuatan kita , kita harus tampak tidak aktif , ketika kita dekat , kita harus membuat musuh percaya kita jauh , ketika jauh , kita harus membuat dia percaya kita dekat . ”
– Sun Tzu , The Art of Warfare

“Tidak ada contoh dari negara yang telah memperoleh manfaat dari perang berkepanjangan . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Membangun lawan jembatan emas untuk mundur di . ”
– Sun Tzu

” Anda harus percaya pada diri sendiri . ”
– Sun Tzu

” Jika musuh Anda aman di semua titik , akan disiapkan untuknya . Jika dia berada dalam kekuatan yang unggul , menghindari dia . Jika lawan temperamental , berusaha untuk mengganggu dia . Berpura-pura menjadi lemah , bahwa ia dapat tumbuh arogan . Jika dia mengambil kemudahan nya , memberinya tanpa istirahat. Jika pasukannya bersatu , memisahkan mereka. Jika berdaulat dan subjek yang sesuai , menempatkan pembagian antara mereka. Menyerangnya di mana dia tidak siap , muncul dimana Anda tidak diharapkan . ”
– Sun Tzu

” Jadilah sangat halus bahkan sampai tak berbentuk . Jadilah sangat misterius bahkan sampai soundlessness . Dengan demikian Anda bisa menjadi direktur nasib lawan s . ​​”
– Sun Tzu

” Jika pikiran bersedia , daging bisa terus dan terus tanpa banyak hal .”
– Sun Tzu

“Ada tidak lebih dari lima catatan musik , namun kombinasi dari lima menimbulkan lebih melodi dari sebelumnya dapat didengar .

Ada tidak lebih dari lima warna primer , namun dalam kombinasi
mereka menghasilkan lebih warna daripada yang bisa pernah dilihat .

Ada tidak lebih dari lima rasa kardinal , namun kombinasi
mereka menghasilkan rasa lebih dari sebelumnya bisa dicicipi . ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Kemenangan terbesar adalah bahwa yang tidak memerlukan pertempuran. ”
– Sun Tzu , The Art of War

” Orang mungkin tahu bagaimana menaklukkan tanpa bisa melakukannya . ”

 

 

Memainkan Seni Peran dalam Perubahan

IMG-20160726-WA0024
Tak ada yang mengira, Selasa (26/07) lalu, Bambang Brodjonegoro menyempatkan diri untuk menyapa para Duta Transformasi Kelembagaan di Keuangan. Pada kesempatan itu beliau seakan mengaminkan Sun Tzu yang mengatakan kekalahan perang bisa terjadi karena satu paku kecil. Karena satu paku kecil tanggal, tapal terlepas. Karena tapal terlepas, kuda tak bisa berlari. Karena kuda tak bisa berlari, pesan tak bisa dikirimkan. Pesan tak terkirim itulah yang kemudian menyebabkan kekalahan peperangan. “Perubahan dimulai dari sesuatu yang sederhana dan membutuhkan detail,” ujar beliau. Tak ada yang menyangka pula bahwa hari itulah hari terakhir Pak Bambang menyapa kami karena keesokan harinya, Sri Mulyani kembali ke Indonesia dan menggantikan beliau sebagai Menteri Keuangan.

Transformasi Kelembagaan adalah suatu keniscayaan. Organisasi butuh berubah untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para pemangku kepentingan, terutama masyarakat. Ada 5 hal yang menjadi acuan dalam perubahan ini, yakni:
1. Memperkuat budaya akuntabilitas yang berorientasi outcome
2. Merevisi model operasional, merampingkan proses bisnis, mempercepat digitalisasi pada skala besar.
3. Membuat struktur organisasi lebih fit and purpose dan lebih efektif.
4. Menghargai, mengembangkan dan memberdayakan SDM.
5. Menjadi lebih proaktif dalam menciptakan terobosan nasional.

Tentu, kelima hal tersebut bukan hal yang serta-merta dapat diwujudkan. Setiap perubahan kerap membutuhkan pengorbanan dan akan terjadi penolakan-penolakan.

Mengingat Mary Parker Follet, manajemen adalah seni. Perubahan membutuhkan manajemen perubahan—yang diartikan sebagai upaya mengelola akibat-akibat yang ditimbulkan dari proses penyesuaian yang berkelanjutan antara organisasi dengan pemangku kepentingan. Hal ini dilakukan akan pengorbanan dan segala eksternalitas yang negatif dapat diminimalisasi.

Peran duta sendiri dari asal katanya dikaitkan dengan kata duty yang berarti kewajiban. Dalam perannya, duta direlevansikan dengan kata messenger atau pembawa pesan. Di dalam analogi Sun Tzu, para duta adalah penunggang kuda yang mengirimkan pesan. Tak cukup hanya itu, penunggang kuda harus memeriksa kudanya, bahkan paku di tapal kudanya. Kata messenger juga dapat ditautkan kepada kenabian. Ia menyampaikan wahyu sekaligus menjadi role model dari hal yang ia sampaikan. Sebelum itu, ia sudah lebih dulu menganalisis kondisi sosial-kemasyarakatan dan memprediksi akibat dari yang ia sampaikan.

Maksudnya adalah tugas seorang duta yang pertama adalah mengenali masalah. Duta memahami proses bisnis dan mengidentifikasi masalah-masalah yang ada di dalamnya. Barulah kemudian memikirkan solusi untuk mengatasi masalah tersebut.

Kritik yang terjadi atas duta selama ini adalah duta tampak hanya bersifat seremonial. Perubahan yang didengung-dengungkan organisasi pemerintah juga demikian. Begitu peresmian dilakukan, selesai. Di lapangan kita banyak menyaksikan hal demikian seperti rencana pemindahan terminal untuk mengurai kemacetan, malah terminal yang baru dibangun ditinggalkan oleh angkutan umum. Atau adanya ide untuk memperbaharui konsep rumah pemotongan hewan—sudah dibangun tempatnya, tapi malah tidak digunakan, padahal sudah diresmikan.

Itulah yang dimaksud dengan akuntabilitasi berorientasi outcome. Perubahan yang dilakukan Kementerian Keuangan menghasilkan manfaat bahkan dampak yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

IMG_20160726_095407

Selama Transformasi Kelembagaan berjalan, sudah banyak perubahan yang dilakukan yang mempunyai outcome itu. Salah seorang duta, Andika Prasetya, di tengah keterbatasannya di kota kecil bernama Pelaihari, memikirkan cara untuk berbagi informasi ke satuan kerja. Ia membuat sebuah web tutorial peraturan hingga aplikasi terkait pekerjaan yang kemudian diakses oleh seluruh satuan kerja di Indonesia. Kantor Bea Cukai di Sabang juga melakukan perubahan dalam menyederhanakan proses pelayanannya. Mereka mampu memangkas proses izin bersandar dari yang tadinya 1-2 hari menjadi 60 menit. Hal ini menggali potensi penerimaan negara dari kapal-kapal yang akan bersandar di Sabang. Sebelumnya, hanya 15 kapal per tahun dari total 50.000 lebih kapal yang melalui Selat Malaka. Kini, angka itu sudah meningkat menjadi lebih dari 60 kapal di semester I.

Untuk skala besar, inisiatif-inisiatif perubahan pun telah dilakukan oleh tiap-tiap eselon 1 di Kementerian Keuangan. Di Bea Cukai, telah dilaksankan Lab Stakeholder eksternal untuk mengurangi waktu impor. Desember 2014, dwelling time 5,69 hari turun menjadi 4,29 hari per Februari 2016. Pengelolaan kas dengan Treasury Dealing Room di Perbendaharaan telah menghasilkan sekitar 33,4 M hanya dalam waktu 4 bulan. Di Perpajakan, implementasi E-Filling telah mencapai target lebih dari 7 juta pengguna dalam tahun pertama.

Perubahan-perubahan yang dilakukan itu nyata dan memberikan manfaat. Pun secara aktif, Kemenkeu terus melakukan terobosan-terobosan baru yang akan memacu perubahan-perubahan lain yang dilakukan oleh Kementerian Lembaga yang lain. Dengan demikian, wajah birokrasi yang kerap dinilai negatif oleh masyarakat itu dapat berubah menjadi baik. Hanya dengan kebaikan birokrasilah, negara dapat menjalankan pemerintahan untuk mencapai tujuan-tujuan negara.

(2016)

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan