Hari #2, UFO

Surat Lia Eden ke Presiden tentang izin pendaratan UFO yang dikendalikan Malaikat Jibril itu mengingatkanku pada penampakan-penampakan UFO yang pernah kulihat.

UFO selalu diidentikkan dengan alien, dengan makhluk luar angkasa. Padahal UFO adalah unidentified flying object, benda terbang yang tak dapat diidentifikasi. Artinya, belum tentu dia alien. Bisa jadi dia pesawat canggih buatan manusia yang tidak diketahui, seperti halnya pesawat raksasa markasnya The Avenger itu toh.

Aku tidak akan membahas UFO itu apa, alien itu apa, hanya saja, ketika pertama aku melihat UFO itu, aku merasa aku adalah manusia spesial. Tidak semua orang pernah melihat UFO. Tidak semua orang diperlihatkan UFO.

Aku punya kebiasaan itu sejak kecil. Aku suka melihat langit. Seringkali aku berbaring di hijaunya rumput Jepang di halaman rumahku atau duduk di ayunan sambil menengadah ke langit. Aku akan melihat birunya langit dan awan-awan putih yang menggumpal di sana. Dari itu, aku akan membayangkan awan-awan itu membentuk sesuatu, kadangkala sesuatu yang kuinginkan ada, maka awan itu akan menjadi apa saja yang kuinginkan itu. Bila malam tiba pun, aku akan senang sekali melihat langit dan menyaksikan bintang jatuh. Saat itu, aku belum berpikir mengenai UFO karena aku belum tahu.

Kejadian pertama adalah ketika aku pulang dari Sastra Reboan. Di taksi kami berlima, aku duduk di samping sopir. Di perjalanan Norman dan teman-teman asik mengobrol, aku asuk melihat bulan di langit. Tak jauh dari bulan itu ada pancaran cahaya. Kukira dia bintang. Tapi kemudian cahayanya semakin besar, memejar, dan ia bergerak sebelum menghilang beberapa detik setelahnya. Aku berteriak. “Hei, kalian lihat itu?” tanyaku pada teman-teman. Mereka heran dengan yang kutanyakan. Sang sopir di sebelahku menjawab, “Saya lihat, Mas.”

Ya, itu UFO. Hal seperti itu beberapa kali kulihat kembali dalam waktu yang berbeda.

Beberapa waktu lalu juga aku membaca sebuah artikel mengenai fenomena hantu yang coba dijelaskan oleh peneliti. Beberapa orang yang skeptis diminta jadi volunteer di tempat-tempat yang dianggap menyeramkan. Awalnya mereka tidak merasakan apa-apa. Ketika para peneliti menambahkan suara berfrekuensi rendah, barulah mereka dapat melihat sesuatu. Dari situ disimpulkan bahwa, frekuensi suara yang rendah dapat mengakibatkan seseorang melihat sesuatu. Ada bagian-bagian otak yang bekerja di sana.

Aku jadi berpikir, segala yang kita lihat, segala yang kita indrai ini sebenarnya hanyalah kerja otak. Kalau otak kita rusak, kita tidak dapat merasakan panas itu panas. Aku bertanya-tenya apakah segala yang kita lihat itu sebenarnya ada. Kita melihat warna laut itu biru karena mata kita melihatnya biru, karena sensor, syaraf dan kerja otak yang melihatnya sebagai warna biru. Apakah laut benar-benar biru?

Dalam konteks yang lebih luas, apakah dunia ini benar-benar ada? Apakah kita ini benar-benar ada? Ataukah kita hanya satu bagian otak, satu kerja sistem, sebuah kesadaran dan realitas yang ada saat ini hanyalah buah kesadaran itu?

Aku tidak tahu, apakah UFO yang kemudian membuatku berpikir bukan tentang apakah kita benar-benar sendirian di alam semesta ini, melainkan apakah kita benar-benar ada atau hanyalah sebuah proyeksi dari kesadaran yang dibuat oleh sesuatu?

Entahlah.

Penerapan Action Control pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara

Isu sumber daya manusia adalah salah satu faktor penting dalam pelaksanaan pengendalian demi mencapai tujuan sebuah entitas/organisasi. Hanya saja, seringkali terdapat perbedaan antara tujuan yang ingin diraih organisasi dengan tindakan yang dilakukan oleh para pegawai. Untuk mengatasi hal tersebut, sebuah organisasi memerlukan sistem pengendalian manajemen.

Setidaknya, ada tiga bentuk pengendalian manajemen yang dilakukan organisasi yakni result control, action control dan personal—cultural control. Ketiganya memiliki pendekatan yang berbeda dalam melakukan pengendalian terhadap para pegawai. Sebuah organisasi yang baik tahu dan dapat mengombinasikan ketiga pengendalian tersebut dalam penerapannya di dalam organisasi.

Begitu juga dalam organisasi pemerintahan, dalam hal ini kami mengambil objek Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara, ketiga bentuk pengendalian tersebut juga diterapkan. Secara jelas, result control bicara mengenai target yang dapat dikuantitatifkan, misalnya target realisasi/penyerapan anggaran yang dilakukan satuan kerja atau target kepatuhan satuan kerja dalam mengirimkan perencanaan kasnya. Sementara personal—cultural control tercermin dalam nilai-nilai Kementerian Keuangan yang harus dijewantahkan oleh setiap pegawai negeri sipil. Begitu pun action control.

Dalam paper ini, secara spesifik, kami akan membahas mengenai action control di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara.

Kontrol tindakan (action control) adalah bentuk yang paling langsung dari pengendalian manajemen karena mereka melibatkan mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa karyawan bertindak sesuai dengan kepentingan terbaik organisasi dengan membuat tindakan mereka sendiri fokus kontrol. kontrol tindakan mengambil salah satu dari empat bentuk dasar: behavioral constraints, preaction review, action acountability, dan redundancy.

Behavior Constrains

Pembatasan perilaku adalah bentuk negatif dari kontrol tindakan. tindakan tersebut membuat tidak mungkin, atau setidaknya lebih sulit, bagi karyawan untuk melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan. Kendala dapat diterapkan secara fisik atau administratif. Sebagian besar perusahaan menggunakan berbagai bentuk kendala fisik, termasuk kunci di meja, password komputer, dan keterbatasan akses ke daerah-daerah di mana persediaan yang berharga dan informasi sensitif disimpan. Beberapa perangkat pembatasan perilaku secara teknis canggih dan seringnya mahal, seperti pembaca kartu identifikasi magnetik dan sidik jari atau pembaca pola bola mata. Dalam situasi di mana tingkat kontrol yang tinggi yang diinginkan, seperti di fasilitas dimana bahan radioaktif diproses, lembaga dinas rahasia di mana informasi rahasia yang dikumpulkan, atau kasino kamar hitung di mana kas ditangani, manfaat kontrol canggih seperti mungkin lebih besar daripada biaya mereka. Kendala administrasi juga dapat digunakan untuk menempatkan batasan pada kemampuan karyawan untuk melakukan semua atau sebagian dari tindakan tertentu. Salah satu bentuk umum dari kontrol administratif melibatkan pembatasan otoritas pengambilan keputusan.

Di KPPN, behavioral constraints diterapkan dalam sistem kehadiran pegawai yang telah menggunakan mesin handkey/sidik jari. Pengisian kehadiran pegawai dilakukan sebanyak dua kali sehari yaitu pada saat masuk kerja dan pulang kerja. Pada saat masuk kerja, para pegawai diwajibkan melakukan pemindaian sidik jari sebagai bukti kehadiran pada waktu yang ditentukan. Waktu kedatangan akan tertera dan menjadi dasar denda (berupa potongan tunjangan kinerja) bila ada keterlambatan. Sama halnya pada saat pulang kerja dengan pengecualian, pegawai yang lupa melakukan absensi saat pulang dapat menggantinya dengan surat keterangan lupa absen dari atasan yang bersangkutan (diatur dalam ketentuan khusus).

Selain itu, behavioral constraints diterapkan juga dalam aksesibilitas sistem manajemen informasi. Pegawai yang bertugas menjadi front officer akan mendapatkan level user yang sesuai dengan pekerjaannya. Di KPPN tipe A2 misalnya, hanya ada 8 user SPAN yang digunakan sesuai dengan levelnya.

Bentuk lain yang umum dari kontrol administratif umumnya disebut sebagai pemisahan tugas. Ini melibatkan membagi tugas yang diperlukan untuk pemenuhan tugas sensitif tertentu, sehingga membuatnya tidak mungkin, atau setidaknya sulit, untuk satu orang untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu saja. Pemisahan tugas datang dalam berbagai bentuk. Salah satu contoh umum melibatkan memastikan karyawan yang membuat entri pembayaran dalam buku besar piutang bukanlah karyawan yang menerima cek. Jika seorang karyawan mengalihkan cek perusahaan ke rekening pribadi hanya memiliki tugas entri untuk pembayaran; yaitu, membuka surat dan daftar, mendukung, dan sejumlah cek yang masuk, pelanggan akan akhirnya mengeluh dan mengklaim tentang tagihan untuk jumlah mereka sudah dibayar. Tapi orang dengan tugas penerima cek dan entri pembayaran bisa mengalihkan cek dan menutupi tindakan dengan membuat entri fiktif pengembalian barang atau, mungkin, penyesuaian harga. Pemisahan tugas digambarkan oleh auditor sebagai salah satu persyaratan dasar apa yang mereka sebut pengendalian internal yang baik.

Di KPPN, pemisahan tugas juga diterapkan baik dalam seksi yang berbeda maupun dalam seksi yang sama. Dalam seksi yang sama, misalnya di Seksi Pencairan Dana, pemisahan tugas dilakukan antara pegawai di front office dengan pegawai di middle office. Pegawai di front office melakukan penerimaan SPM dari satuan kerja, lalu middle officer bertugas memeriksa kembali SPM yang sudah diterima sebelum mencetaknya menjadi konsep SP2D. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada kesalahan dalam pekerjaan atau sebagai check and balance.

Preaction Reviews

Preaction Review melibatkan pengawasan dari rencana aksi karyawan yang sedang dikendalikan. Reviewer dapat menyetujui atau menolak tindakan yang diusulkan, meminta modifikasi, atau meminta rencana yang lebih seksama sebelum memberikan persetujuan akhir. Bentuk umum dari preaction review terjadi selama proses perencanaan dan penganggaran yang ditandai dengan berbagai tingkat review dari tindakan yang direncanakan dan anggaran di tingkat organisasi secara berurutan lebih tinggi.

Di KPPN, para pegawai diizinkan untuk mengusulkan inovasi kegiatan yang dapat meningkatkan pelayanan. Tiap seksi diminta untuk mengusulkan kegiatan yang ingin dilakukan. Para pegawai dapat mengajukan proposal kegiatan seperti sosialiasi dengan segala detilnya mulai dari tema, jumlah peserta, honor, sampai souvenir yang dapat diberikan ke satuan kerja. Hal ini membutuhkan anggaran tertentu dan kemudian proposal tersebut akan direview untuk disetujui atau ditolak.

Action Accountability

Akuntabilitas tindakan (action Accountability) melibatkan mempertahankan karyawan untuk bertanggung jawab atas tindakan yang mereka ambil. Pelaksanaan kontrol akuntabilitas tindakan mensyaratkan: (1) mendefinisikan apa tindakan yang dapat diterima atau tidak dapat diterima, (2) mengkomunikasikan definisi mereka kepada karyawan, (3) mengamati atau pelacakan apa yang terjadi, dan (4) memberikan penghargaan perbuatan baik atau menghukum tindakan yang menyimpang dari diterima.

Tindakan yang karyawan harus bertanggung jawab dapat dikomunikasikan baik secara administratif maupun secara sosial. Mode administrasi komunikasi termasuk penggunaan kerja aturan, kebijakan dan prosedur, ketentuan kontrak, dan kode etik perusahaan. Hal ini sering terjadi pada rantai waralaba makanan cepat saji, seperti McDonald, untuk merumuskan dan mengkomunikasikan secara tertulis, dan memperjelas dan memperkuat melalui pelatihan, bagaimana hampir segala sesuatu harus dilakukan, termasuk bagaimana menangani uang tunai, bagaimana untuk menyewa personil, di mana untuk membeli persediaan, dan apa suhu untuk menjaga minyak saat memasak kentang goreng. Demikian pula perawat menggunakan daftar periksa pra operasi untuk membantu memastikan bahwa mereka mempersiapkan pasien secara menyeluruh untuk operasi. Daftar pembanding ini mengingatkan mereka untuk memeriksa alergi pasien, riwayat obat yang digunakan dan waktu makan terakhir. Personil department store juga umumnya memiliki rangkaian prosedur dimana mereka diharapkan untuk mengikutinya. Pada pengecer besar, manajer toko ditegur jika karton barang dagangan yang kosong belum dirusak sebelum dikirim ke ruang sampah karena karyawan bisa menggunakan karton untuk mencuri barang dagangan.

Tindakan yang diinginkan tidak harus dikomunikasikan dalam bentuk tertulis, namun tindakan tersebut dapat dikomunikasikan secara tatap muka dalam pertemuan atau secara pribadi. Sebagai contoh, Andrew Grove, mantan Chief Executive Officer (CEO) Intel, mengakui bahwa untuk menjaga “jenderal dan pasukannya berbaris ke arah yang sama itu memerlukan membujuk yang konstan dan adanya perselisihan atas dan ke bawah pada peringkat.”

Kadang-kadang tindakan yang diinginkan belum dikomunikasikan secara eksplisit sama sekali. Dalam banyak audit operasional, audit pasca keputusan investasi modal, dan peer review auditor, pengacara, dokter, dan manajer, individu harus bertanggung jawab atas tindakan mereka yang melibatkan pertimbangan profesional. Keinginan tindakan profesional umumnya tidak dapat dengan jelas digambarkan dari penampakan luar Meskipun demikian, orang-orang ini harus bertanggung jawab atas tindakan mereka di bawah premis bahwa mereka harus bertindak secara profesional.
Meskipun kontrol akuntabilitas tindakan yang paling efektif jika tindakan yang diinginkan dikomunikasikan dengan baik, komunikasi tidak cukup dengan sendirinya untuk membuat kontrol ini efektif. individu yang terkena dampak harus memahami apa yang diperlukan dan merasa cukup yakin bahwa tindakan mereka akan diperhatikan dan dihargai atau dihukum dalam beberapa cara yang signifikan.

Tindakan dapat dilacak dalam beberapa cara. Tindakan karyawan dapat diamati secara langsung dan hampir terus menerus seperti yang dilakukan oleh supervisor langsung pada lini produksi. Mereka dapat dilacak secara berkala, seperti toko ritel lakukan ketika mereka menggunakan pembeli misterius untuk mengkritik layanan yang disediakan oleh administrasi toko. Tindakan tersebut juga dapat dilacak dengan memeriksa bukti tindakan yang dilakukan, seperti laporan kegiatan atau dokumentasi atas pengeluaran. Auditor, khususnya auditor internal, menghabiskan banyak waktu mereka memeriksa bukti-bukti tentang kepatuhan terhadap standar tindakan prapembagunan. Akuntabilitas tindakan biasanya dilaksanakan dengan kekuatan negatif. Artinya, tindakan didefinisikan lebih sering dikaitkan dengan hukuman daripada dengan imbalan. Baja Nucor menghubungkan beberapa elemen kontrak untuk tindakan sebagai bagian dari insentif perjanjian kompensasi tenaga kerja produksi ini. Siapapun terlambat untuk shift kehilangan bonus satu hari, dan siapa saja yang melewatkan shift kehilangan bonus untuk mingguan At Home Depot, manajer diminta untuk menggunakan sistem personil screening di rumah ketika merekrut karyawan baru. Namun baru-baru lima manajer gagal untuk menggunakan sistem, dan mereka dipecat.

Di KPPN, dalam kesehariannya, pegawai KPPN dilarang merokok di lingkungan kantor. Hal ini sesuai dengan Surat dari Menteri Keuangan mengenai larangan merokok di seluruh wilayah Kementerian Keuangan. Pegawai KPPN juga tidak boleh menerima telepon ataupun bermain internet saat sedang berhadapan langsung dengan satuan kerja. Hal ini sesuai dengan aturan mengenai Service Excellent di lingkungan KPPN, dimana hal tersebut dikhawatirkan akan mengganggu pelayanan kepada satuan kerja.

Dalam ranah yang lebih luas, action accountability dikembangkan menjadi ‘apa yang harus dikerjakan pegawai apabila mengerjakan suatu pekerjaan tertentu. Dalam melayani satuan kerja, petugas Front Office KPPN diharuskan untuk menerapkan service excellent. Dalam hal ini petugas Front Office KPPN harus memberikan senyum, salam, dan sapa kepada setiap satuan kerja yang dilayaninya. Selain itu, pegawai KPPN dilarang menerima gratifikasi dalam bentuk apapun. Salah satu bentuk pengendalian yang dilakukan oleh KPPN adalah dengan dipasangnya kamera CCTV pada titik-titik tertentu dalam lingkungan kantor. Hal ini dilakukan untuk melihat aktivitas pegawai, baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan aturan dan etos kerja. Kamera CCTV ini dapat berguna untuk memantau aktivitas pegawai di saat jam kerja, bagaimana pelayanan yang dilakukan oleh pegawai KPPN terhadap satuan kerja, dan melihat apakah telah terjadi kecurangan atau penyimpangan yang dilakukan pegawai, seperti menerima gratifikasi.

Redundansi

Redundansi, yang melibatkan menugaskan lebih banyak karyawan (atau mesin) untuk suatu tugas melebihi dari yang dibutuhkan, atau setidaknya memiliki karyawan cadangan (atau mesin) tersedia, juga dapat dianggap sebagai kontrol tindakan karena meningkatkan kemungkinan bahwa tugas akan diselesaikan secara memuaskan . Redundansi adalah umum di fasilitas komputer, fungsi keamanan, dan operasi penting lainnya. Namun, jarang digunakan di daerah lain karena mahal. Selanjutnya, menetapkan lebih dari satu karyawan untuk tugas yang sama biasanya menghasilkan konflik, frustrasi, dan/atau kebosanan.

Di KPPN, penumpukan pekerjaan adalah hal yang biasa terjadi menjelang akhir tahun anggaran. SPM yang biasaya hanya 400 per hari meningkat menjadi 2000 per hari. Hal ini akan meningkatkan beban para pegawai Seksi Pencairan Dana. Karenanya, dilakukan penambahan pegawai yang bertugas di Seksi Pencairan Dana dari seksi-seksi lain. Petugas FO Pencairan Dana yang biasa berjumlah 2 orang di KPPN Tipe A2 ditambah menjadi 3-4 orang agar dapat melayani satuan kerja dengan baik dan tidak menimbulkan antrian yang lama.

Begitu juga dalam penggunaan printer di akhir tahun anggaran. Misalnya di KPPN Sumbawa Besar, dua pegawai FO Pencairan dana hanya menggunakan 1 printer di hari-hari normal. Menjelang akhir tahun anggaran, jumlah printer juga ditambahkan dari seksi yang idle sehingga meminimalisasi terjadinya jamming atau kemacetan pada saat hendak mencetak bukti penerimaan SPM.

ACTION CONTROL DAN CONTROL PROBLEM

Kontrol tindakan bekerja karena, seperti jenis lain dari kontrol, mereka mengatasi salah satu atau lebih dari tiga masalah kontrol dasar. Tabel ini menunjukkan jenis masalah ditangani oleh masing-masing kontrol tindakan. Pembatasan Perilaku (Behavior Constrains) terutama efektif dalam menghilangkan masalah motivasi. Karyawan yang mungkin tergoda untuk terlibat dalam perilaku yang tidak diinginkan dapat dicegah dari melakukannya. Preaction Review dapat mengatasi ketiga masalah kontrol. Karena mereka sering melibatkan komunikasi kepada karyawan tentang apa yang diinginkan, mereka dapat membantu meringankan kurangnya arah. Mereka juga dapat memberikan motivasi, sebagai ketentuan Preaction Review dari sebuah tindakan karyawan biasanya meminta kehati-hatian ekstra dalam penyusunan proposal pengeluaran, anggaran, atau rencana aksi. Preaction Review juga mengurangi dampak berpotensi mahal dari keterbatasan pribadi, karena Pengulas yang baik dapat menambah keahlian jika diperlukan. Review dapat mencegah kesalahan atau tindakan berbahaya lainnya terjadi.

Kontrol akuntabilitas tindakan (Action Accountability) juga dapat mengatasi semua masalah kontrol. Apa yang disampaikan dalam tindakan yang diinginkan dapat membantu memberikan arah dan mengurangi jenis keterbatasan pribadi karena keterampilan yang tidak memadai atau pengalaman. Dan imbalan atau hukuman membantu memberikan motivasi. Redundansi relatif terbatas dalam penerapannya. Hal ini terutama efektif dalam membantu untuk menyelesaikan tugas tertentu jika ada beberapa keraguan apakah karyawan ditugaskan untuk tugas ini baik termotivasi untuk melakukan tugas dengan memuaskan atau mampu melakukannya.

Pada praktiknya, di KPPN, action control tidak serta merta dapat menyelesaikan masalah pengendalian. Pada behavioral contraints, pengisian daftar hadir pegawai dengan handkey tidak menghasilkan kedisiplinan yang memadai. Hal ini masih memunculkan masalah motivasi pegawai. Di KPPN tipe A2, ada sebagian pegawai yang melakukan absensi lebih dulu, kemudian pulang lagi dan kembali datang lewat dari jam masuk yang diberlakukan. Hal ini lolos dan tidak dapat dikendalikan dengan cara ini. Motivasi pegawai untuk melakukan absensi hanya untuk menghindari denda/potongan dan tidak membentuk pribadi yang disiplin dalam mencapai tujuan yang diinginkan organisasi.

Begitu pun dalam pembatasan kewenangan. Beberapa KPPN di daerah mengalami masalah kekurangan sumber daya manusia. Berdasarkan analisis beban kerja, misalnya di suatu KPPN membutuhkan pegawai 20, namun kenyataannya hanya ada 14 pegawai. Hal ini menyebabkan satu orang pegawai dapat bertugas di dua seksi yang berbeda atau ia berada dalam satu seksi, tapi merangkap dua peran di front dan middle office sekaligus. Level user juga bermasalah karena tak jarang semua pegawai di kantor tahu user name dan password yang digunakan oleh setiap komputer dan setiap pegawai.
Dalam preaction review, masalah muncul dengan kecenderungan mencantumkan rincian anggaran dengan batas atas dari setiap detil yang dibutuhkan sehingga yang terjadi adalah pemborosan anggaran dengan dalih penyerapan anggaran.
Dalam action accountability, masalah yang muncul adalah tidak semua pegawai pernah mendapat pelatihan service excellence, sehingga dalam praktiknya juga terjadi bias interpretasi atas pelayanan prima. Larangan merokok di lingkungan kantor juga kerap dilanggar dengan masih merokok di luar kantor yang masih kawasan kantor. Tidak ada sanksi yang tegas yang diterapkan pimpinan dalam hal ini.

Dalam teknologinya, keterbatasan terjadi pada CCTV yang dipasang. Keterbatasan itu ada pada memori yang digunakan sehingga penyimpanan atas kejadian-kejadian yang seharusnya menjadi arsip pun terbatas.
Dalam redundansi, masalah muncul dari kapasitas SDM. Tidak semua pegawai di KPPN memiliki kapasitas yang sama. Penambahan jumlah pegawai pada akhir tahun seringkali berasal dari Subbagian Umum yang tidak punya pengalaman dalam hal teknis pencairan dana. Sehingga yang kerap terjadi adalah bukannya membantu kelancaran pekerjaan, malah terjadi kesalahan dalam penerimaan SPM oleh pegawai tersebut.

Hari #1: Peran

Seorang teman, penulis, menulis sebuah status di Facebooknya, “Adakah satu penulis saja yang kamu percaya sehingga apapun yang ia tulis kamu akan langsung membelinya?”

Jawabanku selalu tidak.

Alasannya sederhana. Seperti halnya iman yang naik turun, semangat yang naik turun, kualitas sebuah tulisan pun naik turun. Terlepas dari sudah beresnya urusan kebahasaa seorang penulis, keistimewaan sebuah gagasan yang ditemukan penulis selalu berbeda. Pringadi Abdi di Dongeng Afrizal tentu berbeda dengan Pringadi Abdi di Simbiosa Alina, apalagi di 4 Musim Cinta. Mereka bukan Pringadi Abdi yang sama. Termasuk Pringadi Abdi yang sedang menulis blog ini sekarang adalah sosok yang sama sekali berbeda. Perbedaan sepersekian detik saja sudah akan menghasilkan sosok yang baru. Sosok yang berbeda.

Tiba-tiba, tentang perbedaan itu, aku mengingat seorang teman. Dia bekerja di Direktorat Jenderal Pajak. Sementara aku bekerja di Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Kantornya bernama KPP. Sementara kantorku bernama KPPN. Yang menarik darinya adalah dia selalu menganggapku benci dengan Ditjen Pajak. Dia merasa aku iri dengan penghasilan yang diterimanya. Tentu saja itu tidak benar.

Pringadi Abdi selaku PNS Kemenkeu menganggap Perpajakan adalah keluarga dari Treasury. Treasury juga bahkan memiliki peranan penting dalam penerimaan negara. Salah satunya adalah memastikan tiap satu rupiah pun masuk ke rekening kas negara. Karena itulah Ditjen Perbendaharaan membuat MPN (Modul Penerimaan Negara) yang kini sudah MPN G2. Tentu temanku itu tak begitu paham tentang MPN G2.

Pringadi Abdi selaku PNS Kemenkeu tentu mengharapkan target penerimaan pajak tercapai. Pringadi Abdi memikirkan negara dapat mampu memenuhi belanjanya. Itu jelas dan tidak terkompromikan.

Tapi Pringadi Abdi juga adalah rakyat. Rakyat membayar pajak. Bukan hanya dari pekerjaannya sebagai PNS, tapi Pringadi Abdi sebagai penulis juga. Sebagai rakyat dan penulis itu, Pringadi Abdi merasa Ditjen Pajak bekerja tak maksimal. Misalnya, belum ada sosialisasi mengenai pajak royalti ke para penulis, atau masih adanya praktik korupsi di instansi tersebut dan itu menimbulkan ketidakpercayaan atas performa Ditjen Pajak.

Ya, aku pikir hal-hal seperti itu wajar.

Soal peran ini juga, aku jadi teringat tentang rokok. Seperti yang kalian tahu, aku tak merokok dan tak suka berada di dekat perokok. Tapi aku harus berinteraksi dengan banyak perokok. Yang jelas, bila ada orang ke rumahku atau ke kosku, dengan tegas akan kukatakan tidak boleh merokok. Tapi kalau aku yang pergi ke rumahnya dan melarang dia merokok kan aku yang keterlaluan. Itu sudah resiko dan peran kita sebagai manusia yang menerima diperlukan. Begitu pun kalau ke kafe, nongkrong, duduk di tempat yang diperbolehkan merokok, ya aku nggak akan melarang dia merokok. Kita cukup sama-sama tahu, dia butuh merokok, dan aku tak suka rokok. Cukup kita atur tempat duduknya agar asap rokok tak mengarah ke aku.

Lomba Menulis Cerpen Rumah Kayu Group

Brosur lomba cerpen mei-juni

Rumahkayu Group mengadakan Lomba Cipta Cerpen Nasional Bertema Bebas, yuk ikuti! GRATIS!!

Penerimaan Naskah dimulai 19 Mei 2015

Deadline: 18 Juni 2015
Pengumuman Pemenang : 09 Juli 2015

Pengumuman Naskah Lolos Seleksi : 02 Juli 2015
Pengumuman Pemenang Lomba : 09 Juli 2015

Cerpen bisa lahir dari mana saja, terutama dari masalah hidup. Banyaknya problematika kehidupan menjadikan hidup itu lebih menarik dan melahirkan banyak ide dan inspirasi. Ini saatnya Anda meramu segala yang ada di sekitar Anda menjadi sebuah karya yang berharga dan bermakna, apakah perkara cinta, keluarga, sekolah, persahabatan, dan sebagainya, apapun itu bisa menjadi ladang subur tempat Anda menggarap ide-ide luar biasa.

Continue reading Lomba Menulis Cerpen Rumah Kayu Group

Katak Bunuh Diri

 

“Katak-katak ini tidak perlu bunuh diri,” ujarku pada Randal Patisamba yang tengah memegang dua mayat katak. Aku tidak berani memegang satu pun dari mereka, apalagi dengan badan sudah acak-acakan begitu. Aku jadi membayangkan jika tubuhku yang terlindas kendaraan yang besarnya jutaan kali lipat, ya, katak-katak itu terlindas kendaraan yang melintas dari dan ke Labangka.

“Kau yakin kalau katak-katak ini bunuh diri?” Randal Patisamba meragukan ucapanku. Dahinya berkerut. Dia sudah seperti petugas otopsi yang menduga bahwa setiap mayat dengan luka memar, usus terburai, adalah buah kejahatan. “Empat ratus mayat katak dalam jarak lima kilometer itu tidak masuk akal. Artinya, setiap dua belas koma lima meter, ada satu mayat katak yang kita temukan,” tambah Randal sambil bersungut-sungut.

“Jadi, apa kamu ingin bilang kalau ada orang, psikopat yang tidak puas pada satu sesi pembedahan katak di pelajaran Biologi yang melakukan ini semua?” Dengan enggan kuingat sesi paling menjijikkan dalam sejarah umat katak itu. Katak-katak dikorbankan, dibelah perutnya, dikeluarkan isinya demi alasan pengetahuan.

“Mungkin.” Jawaban Randal Patisamba menggantung. Mukanya seperti memikirkan sesuatu, seperti ada yang diketahuinya, tapi tak mau dikatakannya.

Aku tak habis pikir pada rombongan yang sudah berjalan lebih dulu di depan. Mereka sama sekali mengabaikan katak-katak ini. Pantai Leppu di Labangka Tiga menjadi tujuan kami. Bersama-sama kami berangkat dari Sumbawa pukul delapan pagi tadi dan di jalan, motor yang kunaiki bersama Randal mengalami pecah ban. Kami tertinggal di belakang. Untungnya Randal bilang dia tahu jalan.

Mulanya aku tak hendak ikut ke Leppu. Aku masih kecewa dengan Nacinta setelah dikatakannya aku terlalu tua untuk jatuh cinta. Daging kambing yang berusia lebih dari tiga bulan itu alot dan berkolesterol, tidak enak dimakan. Aku disamakannya dengan kambing.

Tapi memang perempuan tidak bisa ditebak, pagi-pagi bakda subuh dia mengirimkan pesan singkat, pesan mesra yang tidak bisa ditolak siapa pun, “Mas, ikut ya ke Leppu, Nacinta sedih kalau Mas nggak ada.”  Aku lebih memilih ikut Lucky Prize di Line itu dehketimbang harus menebak apa maunya perempuan.

Satu motor kosong yang tersisa milik Randal Patisamba. Dua orang dengan berat badan lebih dari 70 kilogram akan menaiki motormatic kecil yang seharusnya dinaiki perempuan dengan perut rata dan pinggul seperti angsa. Pecah ban sudah sunatullah. Tidak ada pembenaran untuk menggerutu.

Sebelum berbelok ke Labangka, sebelum Plampang, aku tidak tahu kenapa pandanganku tertuju pada satu titik. Sebuah bukit besar menarik perhatian. Awan-awan bergumul di atasnya. “Apa itu?” Reflek aku bertanya pada Randal. Mataku belum beralih ke mana pun.

“Jaran susang.”

“Jaran susang?”

“Itu tempat tertinggi nomor dua di Sumbawa.”

“Setelah Tambora?”

“Tambora tidak dihitung. Tambora di Dompu.”

“Lalu?”

“Puncak Ngengas.”

“Apalagi itu?”

“Sebaiknya jangan lama-lama kau pandangi dia… tak baik.”

“Kenapa?” Aku makin penasaran dengan jawaban Randal. Tapi sahabatku sejak aku di Sumbawa itu sama sekali tak memberiku jawaban. Motor melaju seadanya. Sesekali ia dapat menyalip mobil-mobil bermuatan besar yang menuju ke Bima. Mobil-mobil dengan kapasitas beban seperti inilah yang menyebabkan jalan dari Poto Tano ke Bima sering rusak setiap tahunnya. Dengan struktur tanah yang tak stabil, anggaran yang terbatas untuk membuat lapisan yang tebal, jalan-jalan di Alas, Utan setiap tahun diperbaiki, dan setiap tahun juga rusak kembali. Terlepas dari itu, barangkali jalan-jalan adalah proyek abadi Kementerian Pekerjaan Umum. Atas nama penyerapan anggaran, terkutuklah mereka yang memakan anggaran demi perutnya sendiri.

Aku memikirkan Jaran Susang kembali ketika Randal dengan tergesa berkata, “Kita harus cepat pergi dari sini, Pring.” Begitu aku sudah bersedia di boncengan, ia melajukan motornya dengan kecepatan tertinggi yang bisa dicapai. Mayat-mayat katak itu ditinggalkan begitu saja tanpa satu pun yang sempat kami kuburkan. Aku merasa berdosa melihat mayat-mayat itu terlantar dan membayangkan bila saja ada ratusan mayat manusia yang terlantar, tak dipedulikan, tak dicatat sejarah seperti itu. Serta merta aku bergidik sebelum kudengar Randal mengatakan sesuatu. Perkataan itu yang membuat bulu romaku tegak seperti kemaluan. “Aku yakin sekali katak-katak itu dibunuh, bukan bunuh diri. Pernah ada cerita di sekitar Labangka…”

Ya, pernah ada cerita di sekitar Labangka. Puluhan ribu hektar ladang jagung yang terbentang di Labangka adalah komoditas utama pertanian di wilayah Sumbawa. “Batang-batang jagung itu tertekuk, Pring… bukan satu, tapi ribuan batang jagung.” Randal diam sejenak sebelum melanjutkan, “Malam sebelum itu terjadi, ada badai hebat. Banyak yang mengira, batang jagung itu tertekuk karena badai, tapi badai tidak mungkin membuat tekukan yang begitu rapi, sama di semua batang. Itu perbuatan seseorang, atau sesuatu….”

“Sesuatu?”

“Tadi aku melarangmu melihat Jaran Susang bukan tanpa alasan. Penduduk setempat meyakini di sana adalah kerajaan ghaib di seluruh tanah Samawa ini, Pring. Kalau sore, perhatikanlah nanti setelah kita pulang, awan-awan yang bergumul itu akan tampak seperti air terjun, awan yang ditumpahkan begitu saja dari ketinggian. Dan kalau ke atas sana, kita lemparkan batu ke sisi satunya, batu itu tidak akan terlempar. Ah, maksudku, batu itu akan seperti terhadang sesuatu. Kau pasti pahamlah maksudku. Mistis, Pring.”

Aku menyimak setiap kata Randal. Jalan aspal telah berakhir. Jalan tanah berbatu menggantikannya. Di sisi kiri dan kanan, di sejauh mata memandang, ladang jagung terbentang. Bongkol-bongkol jagung yang lebih besar dari kemaluan lelaki ada di pinggir-pinggir jalan. Penduduk Labangka baru panen jagung. Jagung-jagung itu akan dikirim ke Mataram, ke Bali, ke Surabaya. Dan lagi-lagi lewat darat. Mau dikata apa, transportasi darat masih lebih murah.

Andai saja orang Sumbawa ini membangun industri hulu. Jagung-jagung itu tidak akan cuma jadi jagung-jagung. Sama halnya juga sapi. Sapi melimpah di Sumbawa. Tapi untuk membawa sapi-sapi itu keluar Sumbawa butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Coba kalau ada industri pengolahan daging sapi, yang dikirim bukan sapi saja, bukan daging potong saja, tapi bisa kornet juga, bisa abon juga.

“Dulu di Labangka pernah dicoba peternakan sapi, Pring…” Randal membuyarkan pikiranku. “Tapi gagal,” lanjutnya. “Sapi-sapi itu, ah, mengerikan…” tambah Randal.

“Mengerikan?”

“Mereka mati. Massal. Seperti katak-katak tadi.”

“Sapi-sapi itu terlindas kendaraan?”

“Tidak, kendaraan apa yang bisa melindas sapi?”

“Lalu?”

“Tapi perut mereka berlubang. Lubang yang sama persis setiap sapinya. Empat belas centi jari-jarinya. Semua isi perutnya kosong dan tidak ada jejak darah sedikit pun.”

“Astaga! Semua sapi mati begitu?”

“Tidak semua sapi, tapi banyak sapi. Para peternak ketakutan membayangkan seseorang atau sesuatu berkeliaran melakukan itu. Mereka berhenti beternak sapi di sini dan pindah ke Utan.”

“Di Utan aman?”

“Ya, kau lihat kan sapi-sapi berkeliaran di sepanjang jalan, bahkan pada malam hari, tidak ada yang mencuri. Soalnya Fahri Hamzah sudah tidak di Utan. Haha…”

“Kamu masih bisa bercanda dalam topik begini? Huh!”

Randal Patisamba tertawa terpingkal-pingkal. Tawanya baru terhenti ketika kami temui tanjakan yang cukup terjal. “Maju, Pring, rapatkan tubuhmu. Lebih rapat lagi!” pinta Randal dengan serius. Begitu triknya naik motor berdua bila harus melewati tanjakan, rapatkan tubuhmu serapat-rapatnya dengan yang di depan. Bila jalan menurun, kebalikannya, taruh pantatmu di ujung motor agar laju motor tidak bertambah. Soalnya ini matic, tidak ada rem gigi yang biasa otomatis menahan kecepatan maksimal sesuai giginya.

Aku penasaran dengan sapi-sapi yang diceritakan Randal. Mutilasi seperti itu tidak masuk akal. Kenapa harus sapi, kenapa sekarang katak, kenapa bukan kambing. Ah, menyebut kambing, aku teringat kembali dengan Nacinta. Di Lapangan Pahlawan tadi, dia bersama Ega. Mereka tampak begitu mesra meski dia bilang tidak punya hubungan apa-apa dengan Ega. Semua hal dimulai dari nol. Semua kepunyaan dimulai dari tidak punya apa-apa. Menyebutku terlalu tua padahal Ega berumur sama denganku adalah penghinaan ketika dia memilih untuk menebeng di belakang Ega. “Uban-ubanmu itu tidak bisa berbohong,” canda Nacinta malam itu. Tapi candaan itu melukai harga diriku, meski memang uban-uban itu seperti amoeba, yang membelah diri dengan cepat. Asal tahu saja, uban-uban itu adalah kaffarat dosa-dosa. Satu uban telah tertutup pula satu pintu dosa. Semakin banyak uban, aku semakin pendosa dan Tuhan semakin sayang kepadaku.

“Ada makhluk-makhluk misterius di Jaran Susang itu, Pring. Beberapa kesaksian menyebutkannya,” ujar Randal melanjutkan cerita. Di sisi kanan, laut lepas di selatan Sumbawa mulai terlihat. Ombaknya menunjukkan ciri khas ombak pantai selatan yang selalu bersemangat. Biru. Aku mengabaikan ucapan Randal itu sejenak dan membayangkan perahu-perahu barangkali pernah berlabuh di pantai dengan ombak seganas itu.

 

Aku masih berpikir bawah katak-katak itu bunuh diri. Hidup setelah reformasi sudah sedemikian kejam. Katak-katak itu pasti juga merasakan betapa peliknya kesenjangan perekonomian, harga-harga yang terus melambung tinggi melampaui angka inflasi di makroekonomi, atau kehidupan percintaan yang tak selalu mulus.

Aku bergidik membayangkan aku juga akan bunuh diri dengan cara yang sama seperti katak-katak itu. Dengan sengaja aku akan berdiri di tengah jalan, menanti mobil berkecepatan tinggi menabrakku, melindasku, dan aku mati. Ya, aku mati. Barangkali kematian lebih indah ketimbang hidup dengan cinta bertepuk sebelah tangan.

“Kita sudah mau sampai,” ujar Randal. Randal membelokkan motor ke kanan di sebuah pertigaan. Jalan kerikil yang baru basah karena hujan semalam digantikan  dengan pasir. Pasir itu membuat roda motor sulit beranjak, ketidaktepatan pengendaraan akan membuat roda semakin terperosok ke kedalaman pasir itu. “Turun, Pring, turun…” pinta Randal Patisamba. Dengan segera aku meloncat dari jok dan motor itu pun dapat bergerak lebih mudah.

Dua buah pohon menarik perhatianku. Banyak kupu-kupu beterbangan di sekitarnya. Randal yang mengetahui ekspresiku segera berkata, “Itu pohon kupu-kupu, Pring. Kau mau jadi kupu-kupu?”

Tak kujawab pertanyaan itu dan tak kubahas lebih jauh maksudnya. Aku mengikuti langkah Randal di jalan setapak dan betapa, pemandangan yang kusaksikan selanjutnya adalah pantai terindah yang pernah kulihat selama hidupku. Hamparan pasir putih, ombak yang menari, dan batu karang mirip-mirip di Uluwatu menjadi lanskap sempurna yang diciptakan Tuhan. Seorang perempuan melambaikan tangan ke arahku. Ia memamerkan senyum bintang lima yang membuat segala kecemasanku menguap dengan segera. Nacinta. Lebih melegakan karena tidak ada laki-laki di sekitarnya.

Nacinta adalah gadis tercantik di grup Adventurous Sumbawa, tapi dia hanya menganggapku sebagai sahabatnya, atau lebih ke kakaknya. Kadang-kadang beginilah nasib hati bila sudah terjebak zona pertemanan. Friend zone. Tak seperti yang pernah diucapkan Shakhrukh Khan di Kuch-kuch Hota Hai, cinta adalah persahabatan.

Ketimbang pantai itu, langkah kakiku bergerak ke arah Nacinta terlebih dahulu. Dia dan beberapa teman perempuan yang lain sedang menyiapkan makan siang buat kami. Inilah menariknya Adventurous Sumbawa. Kami akan makan sama-sama di tempat tujuan sambil menikmati alam.

Beberapa bumbu sudah disiapkan, ikan-ikan yang sudah dibersihkan, kayu bakar yang sudah dikumpulkan, tetapi mataku tertuju pada sesuatu di dalam baskom kecil. Bentuknya lunak dengan sudah dipotong kecil-kecil. Aku penasaran dan bertanya kepada Nacinta, “Yang itu apa, Nacinta?”

“Oh ini, ini daging katak. Belum pernah coba? Enak lho,” jawab Nacinta santai sambil mencelupkan tangannya ke dalam baskom, menaburinya dengan garam, dan menguleninya dengan seksama.

Sesuatu bergerak mendesak dari dalam perutku.

Aku mendadak mual.

Kesedihan

aku akan memulai cerita ini dengan kita

di ruang keluarga, televisi menyala, pembaca berita berkata

pertumbuhan ekonomi indonesia melambat, rakyat

bersedih, pejabat

bersuka cita dan negara dalam angan-angan

memiliki kebebasan berbuat, keadilan

pada titik itu, keadilan tidak menarik

aku menghabiskan dua piring nasi goreng karena

tubuhku yang besar, mandi dengan dua ember air

dan menghabiskan satu sabun dalam seminggu

sementara kau hanya minta setengahnya

keadilan tidak berarti semua orang harus hidup

dan dunia dipenuhi rumah susun, berlantai tiga ratus tiga tujuh

satu keluarga butuh waktu seumur hidup untuk turun tangga;

keluarga kita yang sederhana

memimpikan taman dengan bunga-bunga

tanaman labu siam yang merambat di pagar

semut pekerja yang menunggu mati 45 hari lagi

semua itu hanya ada dalam cerita

dan aku memelukmu, pelukanmu

yang lama tak kukenakan

kesedihanku bermula, berakhir juga dari dirimu

tak dapat memberikan hal paling berharga

sebagai hadiah ulang tahunmu nanti

membuatku patah, ranting kering di musim kemarau kemarin

aku harus katakan, mencintaimu dengan cara ini

adalah satu-satunya

tak akan ada yang bisa menirunya, dan meletakkan namamu

dalam fiksi-fiksi mereka

 

Blog Literatur/ Sastra, Makro Ekonomi, dan Catatan Perjalanan