SKP, From Public Goods Until Tax Regime Uncertainity

Public Goods

Barang publik adalah barang yang apabila dikonsumsi oleh individu tertentu tidak akan mengurangi konsumsi orang lain akan barang tersebut dan Barang publik merupakan barang-barang yang tidak dapat dibatasi siapa penggunanya dan sebisa mungkin bahkan seseorang tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mendapatkannya. Contoh: udara, cahaya matahari, papan marka jalan, lampu lalu lintas, pertahanan nasional, pemerintahan.

Secara umum, suatu barang publik mempunyai sifat-sifat berikut:

1. Konsumsi atas barang publik oleh seseorang tidak mempengaruhi penawaran barang publik tersebut untuk dikonsumsi oleh orang lain, atau suatu barang dapat dikonsumsi oleh beberapa orang secara bersama-sama. Sifat barang publik seperti ini disebut non rival consumption.

2. Walaupun penyedia barang menginginkan, setiap anggota masyarakat tidak dapat dibatasi/dilarang untuk mengkonsumsi barang publik atau kegiatan pembatasan tersebut sangat sulit untuk dilakukan. Sifat barang publik seperti ini disebut non exclusion.

3. Walaupun setiap orang mengkonsumsi jumlah yang sama atas barang publik, tidak ada persyaratan bahwa konsumsi ini dinilai atau dihargai oleh semua orang.

Continue reading SKP, From Public Goods Until Tax Regime Uncertainity

Catatan Pinggir Wanna Be?

Aku gelisah, maka aku menulis. Itulah yang melatarbelakangi kelahiran web ini.

Semalam aku mengumumkan keberadaan web ini kepada sejumlah teman di kontak WhatsAppku. Salah seorang teman berkomentar, “Kok gaya-gayanya mirip Catatan Pinggir Goenawan Muhammad ya?”

Soal Catatan Pinggir itu, aku baru mendapatkan empat serinya di International Book Fair lalu. Satu stand milik Tempo menjualnya dengan harga cukup miring. Empat buku tersebut kudapatkan dengan harga Rp185.000,- saja, sementara di stand buku langka, satu serinya saja dijual Rp100.000,-

Ada satu kutipan Dante yang menarik di Catatan Pinggir 1. Katanya, “Mungkin yang kita sebut modern hanyalah apa yang tak berharga untuk tertinggal di hari tua.”

Continue reading Catatan Pinggir Wanna Be?

Belajar dari Bakuman

Tiba-tiba aku teringat manakala aku mengkritik sebuah cerpen di Kompas beberapa waktu lalu. Cerpen itu sangat buruk. Bahkan dari segi kualitas bahasa, cerpen itu tak layak dibaca.

Pada itu, aku juga menyebut-nyebut One Piece sebagai karya monumental. Seorang pembela cerpen tersebut mengatakan betapa bodoh bila kita membandingkan karya sastra dengan komik. Aku tertawa geli mendengarnya, itu pasti karena dia belum pernah baca Bakuman!

Bakuman bercerita tentang dua orang remaja yang bercita-cita menjadi manga artists. Mereka adalah Takagi dan Mashiro. Takagi sendiri adalah siswa terpintar di sekolahnya. Ia juga meraih penghargaan di bidang literature tingkat perfektur dan digadang-gadang akan menjadi penulis besar. Meski tidak bisa menggambar, Takagi tak mengubah niatnya. Karena itulah ia mengajak Mashiro yang sering ia perhatikan tengah menggambar Azuki Miho secara diam-diam.

Mashiro adalah keponakan seorang mangaka bernama Kawaguchi Taro. Pamannya itu meninggal setelah bekerja keras agar karyanya dapat diserialisasi kembali. Mashiro mengira pamannya itu bunuh diri setelah lama karyanya tidak lagi diterbitkan. Karena itu Mashiro tidak mau lagi berniat menjadi manga artist.

Tetapi Takagi terus-menerus membujuknya. Ia tahu Mashiro menyukai Azuki Miho dan begitu pun sebaliknya. Ia pun mendapatkan informasi bahwa Miho bercita-cita ingin menjadi pengisi suara. Dengan info itu ia menyeret Mashiro ke depan rumah Azuki Miho dan mendeklarasikan mimpinya.

Terbakar cinta, Mashiro dengan spontan mengatakan ia juga akan menjadi manga artist dan suatu hari manga karyanya akan diadaptasi menjadi anime. Bila itu terjadi, ia minta Miho menjadi pengisi suaranya dan saat itu ia akan menikahinya.

Janji itu terpatri di dalam diri mereka. Ashirogi Motou. Azuki-Mashiro-Takagi pun menapakkan langkah secara serius mengejar mimpi mereka.

Hal yang menarik pertama adalah salah anggapan komik hanyalah gambar. Komik adalah seni, karya sastra, dan pengerjaannya dilakukan begitu serius dengan membuat name, story board, manuscript, dengan observasi yang begitu ketat. Segala aspek dipertimbangkan, diperhitungkan. Takagi dengan serius meriset banyak hal untuk cerita yang dia buat.

Hal yang menarik kedua adalah betapa untuk menuju cita-cita itu butuh kerja keras. Meskipun kamu memiliki bakat, jenius, jika kamu tak serius untuk meraihnya, kamu akan gagal.

Dan yang ketiga, percayalah pada cinta. Cinta akan selalu menemukan jalan bagi pelakunya. Mengerjakan segala sesuatu dengan cinta, karena cinta, dan untuk cinta adalah hal yang paling bahagia di dunia ini.

Belajar dari Big Hero 6

Ada pelajaran penting dari film Big Hero 6. Bukan karena aku menonton itu bersama Zane, satu kali pergi ke WC, dan berhasil tertawa terbahak-bahak karena humor di dalamnya. Tetapi ketika Tadashi berhasil menggoda Hiro Hamada untuk pergi kuliah bersamanya.

“Apa yang harus kulakukan agar bisa diterima di universitas kutu buku?” tanya Hiro Hamada.

Dengan tersenyum, Tadashi bilang Hiro hanya perlu menunjukkan karyanya di pameran robotik universitas tersebut.

Manusia dihargai dari karyanya. Aku melihat Indonesia belum menghargai karya-karya anak bangsanya. Pendidikan di Indonesia masih berorientasi pada angka. Anak yang pintar yang ulangannya dapat 10, kelulusan dinilai dari ujian, kualifikasi lamaran kerja menyaratkan IPK, dan semacamnya. Alhasil, produk pendidikan itu adalah manusia dengan profil nilai, bukan profil karya.

Kabar baik baru-baru ini, setiap mahasiswa harus menulis jurnal ilmiah sebelum meraih gelar sarjananya. Hal seperti itu harusnya dimulai sejak dini. Setiap seleksi apapun, haruslah menyertakan assignment, tugas, yang merepresentasikan dirinya.

Mau masuk kuliah di jurusan Matematika, ada syarat bikin esai tentang Matematika di dalam hidup. Mau assessment eselon 3 di suatu instansi, juga harus menulis pandangannya tentang instansi dari sudut pandang eselon 3. Dengan cara itu, manusia-manusia Indonesia dituntut berpikir kritis, dan mempunyai cakrawala terhadap bidang yang akan digelutinya.

Nah, sudahkah kamu berkarya, menuliskan pandangan-pandanganmu sesuai bidangmu saat ini?

UFO di Kushiro, Haruki Murakami

LIMA hari berturut-turut perempuan itu menghabiskan waktunya di depan televisi, mengamati reruntuhan bank dan rumah sakit, toko-toko yang terbakar, rel kereta api dan jalan raya yang terhambat. Ia tak mengucapkan satu kata pun. Terbaring di bantal sofa, mulutnya terkatup rapat. Ia tak menjawab ketika Komura mengajaknya bicara. Ia tak menggelengkan kepala ataupun mengangguk. Komura bahkan tak yakin suaranya itu sampai di telinga perempuan itu.

Perempuan itu berasal dari utara jauh di Yamagata dan, sejauh yang Komura tahu, istrinya itu tak punya keluarga atau kerabat yang mungkin menjadi salah satu korban gempa bumi di Kobe. Meskipun begitu, perempuan itu terus berada di depan televisi dari pagi hingga malam. Dalam pengamatan Komura, perempuan itu tak meminum atau memakan apa pun selama itu, dan tak juga beranjak ke kamar mandi. Kecuali untuk mengambil remote dan memindahkan channel, ia nyaris tak bergerak sedikit pun. Komura sendiri mulai terbiasa menyiapkan kopi dan roti bakarnya sendiri sebelum berangkat ke kantor. Setibanya di rumah malam harinya, ia akan mengatasi rasa laparnya dengan camilan yang ia temukan di lemari es; memakannya sendiri. Istrinya itu masih saja mengamati berita-berita di televisi ketika Komura memasuki kamar dan memutuskan untuk tidur. Sebuah dinding sunyi yang tinggi seperti mengelilingi perempuan itu, dan Komura akhirnya menyerah untuk merobohkan dinding tersebut.

Ketika ia tiba di rumah sehabis kerja pada hari Minggu itu, hari ketujuh, istrinya menghilang.

KOMURA adalah seorang salesman di salah satu toko peralatan elektronik tertua di “Kota Elektronik” Akihabara, Tokyo. Ia menangani barang-barang paling mahal dan mendapatkan komisi yang sangat lumayan setiap kali ia berhasil menjual salah satunya. Kebanyakan kliennya adalah dokter, pebisnis kaya, dan pegawai pemerintahan. Ia telah melakukan hal ini selama delapan tahun dan memiliki pendapatan yang baik dari sejak ia memulainya. Perekonomian sendiri memang sedang bagus; harga-harga real-estate meningkat dan Jepang sedang kelebihan uang. Dompet orang-orang dipenuhi lembaran puluhan ribu Yen, dan mereka gemas sekali untuk segera membelanjakannya. Barang paling mahal jadi barang pertama yang habis terjual.

Komura orang yang tinggi-langsing dan ia seseorang yang peduli pada penampilannya. Interaksinya baik dengan orang-orang di sekitarnya. Di masa lajangnya ia bahkan berkencan dengan banyak perempuan. Namun sehabis menikah, pada usia dua puluh enam, ia menemukan bahwa hasratnya akan petualangan seksual seperti itu secara misterius lenyap. Begitu saja lenyap. Ia tak pernah tidur dengan perempuan mana pun selain istrinya selama lima tahun pernikahan mereka. Bukan berarti kesempatan itu tak pernah ada, namun memang yang dirasakan Komura adalah lenyapnya hasratnya itu. Ia tak lagi tertarik pada hubungan singkat dan seks-semalam. Ia lebih memilih untuk pulang cepat, makan dengan santai bersama istrinya, berbicara dengan perempuan itu beberapa lama ketika mereka berada di sofa, lalu masuk ke kamar dan bercinta. Semua itu telah memuaskannya.

Teman-teman Komura dibuat bingung oleh pernikahannya itu. Dibandingkan dengan sosoknya yang bersih dan menarik, istrinya justru biasa-biasa saja. Perempuan itu pendek dengan lengan agak besar, dan penampilannya tidak menggairahkan. Dan bukan hanya secara fisik: tak ada juga yang menarik dari kepribadiannya. Perempuan itu jarang bicara dan selalu menunjukkan raut muka masam.

Meskipun begitu, entah bagaimana menjelaskannya, Komura selalu merasa gairahnya meluap saat ia sedang menghabiskan waktu bersama istrinya di rumah; itu adalah satu-satunya saat di mana ia bisa benar-benar merasa rileks. Tidurnya lelap ketika ia bersamanya, tak terusik oleh mimpi aneh yang pernah membuatnya kesulitan di masa silam. Ereksinya sendiri bagus; kehidupan seksnya hangat. Ia tak lagi mencemaskan kematian atau penyakit kelamin atau luasnya alam semesta.

Istrinya, di sisi lain, tidak menyukai keramaian Tokyo dan merindukan Yamagata. Ia merindukan orang tua dan dua kakak perempuannya, dan ia akan pergi mengunjungi mereka kapan pun ia merasa membutuhkannya. Orangtuanya sukses mengelola sebuah penginapan, di mana dengan itulah kondisi keuangan mereka nyaman-nyaman saja. Ayahnya sangat menyukai anak perempuan terkecilnya itu dan dengan senang hati membayarkannya uang perjalanan pulang-pergi. Beberapa kali, Komura tiba di rumah sehabis kerja dan menemukan istrinya itu tak ada dan sebuah memo diletakkan istrinya itu di meja dapur, memberitahunya bahwa istrinya itu sedang mengunjungi orangtuanya untuk beberapa lama. Ia tak pernah menentang apa yang dilakukan istrinya itu. Ia hanya menunggu perempuan itu kembali, dan selalu, setelah seminggu atau sepuluh hari, perempuan itu kembali, dengan suasana hati yang baik.

Tapi memo yang ditinggalkan istrinya ketika perempuan itu lenyap lima hari setelah gempa bumi itu berbeda: Aku tak akan kembali, tulisnya, lalu beralih ke penjelasan, sederhana tapi jelas, mengapa ia tak ingin lagi hidup bersamanya.

Continue reading UFO di Kushiro, Haruki Murakami

Fairy Tail dan Omong Kosong Power Up


Aku tidak tahu apakah ada orang lain di dunia yang juga membayangkan dirinya tiba-tiba dapat power up secara tiba-tiba. Aku sering membayangkan hal demikian. Tiba-tiba aku mendapatkan kekuatan mahadahsyat. Aku bisa terbang, aku bisa mengeluarkan bola energi dari tangan, aku bisa memegang pedang dan satu kali tebasan pedangku memiliki kekuatan penghancur seperti Roronoa Zoro. Aku pun berandai-andai menggunakan kekuatan itu untuk pergi ke Palestina dan sendiri aku menghadang pasukan Israel, menghadang tank-tank, menebas pesawat-pesawat tempur dengan begitu heroiknya.

Sampai juga perandaian itu terbawa-bawa ke dalam mimpi.

Semalam aku baru memimpikan hal itu. Aku punya kekuatan seperti Son Go Ku, tapi anehnya aku lupa cara mengeluarkan kamehameha. Padahal musuh di depan mata. Alhasil aku dihajar habis-habisan. Ketika sadar, aku terbangun dan jam menunjukkan pukul 06.30. Ada 2 panggilan tak terjawab dari Bapak. Aku sadar aku belum shalat Subuh.

Hidup tentu tidak seomong kosong komik-komik seperti Fairy Tail, yang tokoh-tokohnya bisa mendadak hebat, meningkatkan kekuatan untuk mengalahkan musuh bahkan dalam satu serangan mutlak.

Kebanyakan komik memang menyaratkan itu. Dihajar berkali-kali, sang tokoh baik tidak juga kalah, namun dalam satu pukulan balasan, musuh yang harusnya begitu kuat langsung KO seketika. Sebagai pembaca serius, aku tak menyukai hal seperti itu. Aku menyukai komik-komik yang sedikit realistis.

Sebab ada satu hal yang membedakan fiksi dari kenyataan, yakni fiksi harus masuk akal.

Karena itulah aku menyukai Hanamichi Sakuragi dalam komik Slam Dunk. Selain dia pernah dipecundangi Sendoh, kalah dari Kainan Daifozoku, Sakuragi kemudian membawa kemenangan tak terduga melawan juara bertahan Sannoh Kogyo dengan sebelumnya melakukan latihan yang amat keras. Bukan hanya itu, kemenangan itu diraih dengan pengorbanan. Sakuragi cedera parah. Sohoku habis-habisan dan tersingkir di pertandingan berikutnya.

Cerita seperti itu sangat manusiawi dan tidak mungkin kulupakan seumur hidupku.

Kata kuncinya adalah usaha dan kerja keras. Tidak mungkin dalam hidup ini kita meraih hal yang instan. Aku meyakini itu dan percaya, aku tak boleh takut gagal. Aku harus menghabiskan satu per satu stok gagal selagi muda biar nanti kutuai hasil keberhasilannya.

Kamu, apakah kamu takut gagal?